Sabtu, 24 Maret 2012

dr. RMW Kaligis, SpJP(K), FIHA

“Penyakit stroke bisa pulih dengan semangat tinggi, memiliki niat untuk melatih organ-organ tubuh dan jangan malas, itu intinya. Yang tak kalah  penting yaitu dukungan dari orang-orang terdekat agar pasien tidak putus harapan,” ujar dr. RMW Kaligis, SpJP(K), FIHA., dari Rumah Sakit Pusat Nasional Jantung Harapan Kita, Jakarta.

Dia salut pada seorang pasien yang meski stroke dan lumpuh, semangatnya sangat besar. “Waktu periksa ke saya, dia masih menggunakan brankar. Karena hobi tennis, setiap kali datang selalu mengatakan ‘dok, saya ingin main tennis lagi’. Semangatnya luar biasa, dia latihan terus, dan terakhir datang dia sudah menggunakan kursi roda,” kata Sekjen PERKI ini.
Yang lebih mengagetkan saat pasien itu berkata, “Target saya awalnya tennis, tapi saya ingin menyetir mobil lagi, dok.” Beberapa bulan kemudian ternyata benar, saat bertemu di Pondok Indah Mall, dia sudah memakai tongkat dan menyetir mobil. Melihat pasiennya menyetir mobil, dokter yang hobi main tenis ini sama sekali tidak khawatir. Sayangnya, pasien yang seperti itu masih bisa dihitung dengan jari. Pastinya dia bangga, karena semangat pasiennya memberikan keberhasilan. Meski tidak sempurna, tapi dari lumpuh berat bisa menjadi lebih baik, “Itu luar biasa.”
            Yang membuatnya khawatir, justru saat berkendaraan. Meski ada supir pribadi bukan berati bisa santai, menyaksikan banyaknya sepeda motor. Sepertinya, hanya tunggu waktu untuk menyerepet atau diserempet. “Pemerintah mestinya menyediakan jalurnya. Di Beijing, ada zona dan waktu khusus untuk motor,” terangnya.
       Sebelum tenis, dia senang main bola. Karena pernah cedera berat, membuatnya berhenti main bola.”Ketika di depan gawang dan beberapa meter lagi menjebol gawang, tiba-tiba datang bek dengan gagahnya men-tackle kaki saya. Sendi saya pecah. Karena sendi tidak bisa diperbaiki, saya dibawa ke Sydney untuk operasi penyambungan dengan pen. Efeknya, pergerakan menjadi kaku,” ujar alumni FK Universitas Padjadjaran, Bandung.
            Dari kejadian tersebut, dia mengerti bahwa cedera pemain bola seperti pada Van Basten dan Rooney, karena memang sengaja dihantam lutut atau kakinya. “Itu resiko pemain bola. Karena itu kaki mereka diasuransikan. Kalau kaki saya diasuransi mana laku, ha ha ha.”