Senin, 29 April 2013

Pengobatan Kanker

Beragam macam jenis pengobatan kanker memang banyak. Karena memang banyak alternatif dalam pengobatan dan perawatan kanker selain medis. Banyak juga jenis pemgobatan alamiah atau pun sekarang kita mengenalnya dengan pengobatan kanker dengan herbal. Diantara jenis pengobatan kanker secara medis antara lain adalah pembedahan (operasi), radiasi, Immunoterapi, dan juga secara kemoterapi.

Dan pengobatan baru serta perawatan kanker terbaru dalam dunia medis kedokteran adalah dengan menggunakan apa yang disebut dengan TACI (Trans Arterial Chemo Infusion). Teknologi pengobatan medis ini adalah pemberian obat pembunuh kanker (lebih mudah dikenali dengan kemoterapi) langsung ke target tumornya melalui pembukuh darah yang memasok logistik ke tumor (feeding artery). Itulah yang dimaksud dengan TACI obat kanker tersebut.

Karena selama ini efek samping kemoterapi karena langsung ke dalam sistemik peredaran darah banyak juga ditakuti oleh banyak pasien. Karena obat yang ditujukan untuk membasmi sel kanker akan diinfuskan langsung ke pembuluh darah dan langsung menyebar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tidak hanya sel kanker yang terbasmi, sel sehat pun ikut rusak. Maka kita bisa lihat bahwa pasien dengan melakukan perawatan kemoterapi rambutnya akan rontok, nyeri, mual, dan muntah juga menambah penderitaan pasien yang mengalami efek samping obat kanker.

Pengobatan Kanker

Sedangkan metoda TACI ini maka pemberian obat kemoterapi secara langsung ke dalam pembuluh arteri, maka konsentrasi obat yang menuju target tumor akan optimal sehingga dapat secara efektif membunuh sel-sel kanker tanpa menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Kualitas hidup pasien dapat tetap terjaga dan meningkat, tanpa efek samping diare, rambut rontok dan mual muntah yang hebat. Selain itu dosis obat yang diberikan pun jauh lebih sedikit dibanding dengan kemoterapi konvensional. Ini adalah keunggulan metoda pengobatan kanker TACI dibanding kemoterapi konvensional lainnya.

Ada beberapa jenis pengobatan kanker yang bisa dilakukan dengan TACI ini adalah :
Kanker payudara, kanker hati, kanker leher rahim, kanker indung telur, kanker paru, kanker tulang, kanker mulut, kanker usus, kanker pankreas, kanker jaringan lunak, kanker leher, kanker lidah.
Selain jenis kanker di atas, ada beberapa jenis kanker yang tidak bisa dilakukan tindakan Trans Arterial Chemo Infusion yaitu kanker darah (leukimia), kanker saluran getah bening, kanker dengan anak sebar seluruh tubuh, kondisi pasien yang tidak memungkinkan (pasien gagal ginjal, gagal jantung / hati/ paru).

Tindakan ini bisa dilakukan di Rumah Sakit Permata Medika Semarang yang beralamat di jalan Moch. Ichsan No. 93-97 Ngaliyan Semarang. Ada beberapa persiapan sebelum melakukan tindakan ini diantaranya yaitu konsultasi dengan dokter spesialis yang merawat pasien secara komprehensif, kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang baik radiologi, patologi anatomi dan laboratorium darah. Pasien juga dianjurkan untuk berpuasa selama 6 jam sebelum tindakan.

Keberhasilan pengobatan kanker menggunakan metoda ini dari beberapa tulisan serta penelitian di luar negeri, tindakan TACI menunjukkan angka keberhasilan yang cukup tinggi dan signifikan dan bila dikombinasikan dengan tindakan pengobatan kanker lainnya seperti halnya dengan operasi pembedahan dan juga radioterapi untuk kanker.

Prosedur pemeriksaan TACI ini adalah dengan menggunakan alat radiologi Angiography, sama halnya dengan pemeriksaan jantung kateterisasi jantung (angiography koroner). Tindakan dilakukan oleh seorang dokter dan dibantu beberapa asisten dokter. Pasien hanya memerlukan anestesi atau bius lokal saja di daerah paha atas karena irisan yang dibutuhkan hanya selebar kurang lebih 3mm.

Pasien dalam keadaan sadar dan tidak merasakan sakit saat dilakukan prosedur medis ini. Dari irisan 3mm tersebut, dokter akan memasukkan selang kecil berukuran kurang dari 2mm ke pembuluh darah dan akan mencari lokasi tumor berada. Dan setelah itu dosis ditentukan dan obat diberikan.

Karena jenis pengobatan tumor ini diberikan langsung, obat bekerja pada lini pertama, dosis obat kanker yang diberikan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pemberian secara infus sehingga memberikan efek terapi yang besar pada tumornya sedangkan efek samping sistemiknya terjadi minimal. Lama perawatan kanker di Rumah Sakit pun bisa lebih singkat dan pasien dapat segera pulang ke rumahnya.

Jumat, 26 April 2013

Adab Islami Menjenguk Orang Sakit

Adab-adab Islami begitu indah dan banyak manfaat keutamaan di balik adab yang telah Allah ajarkan melalui Rasulullah SAW dan Al-Qur'an. Termasuk di dalamnya adalah adab menjenguk orang sakit. Tidak dapat dipungkiri bahwasannya sehat dan sakit tentunya akan bisa terjadi pada diri setiap manusia demikian pula dengan Nabi Rasulullah shallallahu a'alaihi wa sallam yang juga mengalami sakit sebelum beliau meninggal dunia.

Menjenguk saudara, keluarga, menengok tetangga yang sakit dan terbaring di Rumah Sakit adalah bagian dari kehidupan kita sebagai manusia dan makhluk sosial yang tidak terlepaskan. Untuk itulah Islam juga mengajarkan bagaimana etika menengok orang sakit yang dijabarkan begitu indah dalam ajaran dan tuntunannya. Dan juga beberapa sunnah ketika menengok orang sakit yang kita sebagai umat Islam harus bisa mengamalkannya.

Mengunjungi, menjenguk dan membesuk orang sakit merupakan kewajiban kita juga sebagai seorang muslim terhadap saudaranya muslim lainnya serta juga hak-hak orang Islam. Di dalam ajaran Islam, menjenguk orang sakit adalah di antara amal saleh yang paling utama yang dapat mendekatkan kita kepada Allah Ta'ala, kepada ampunan, rahmat, serta juga surgaNya.

Adab Menjenguk Orang Sakit

Berikut adalah dalil mengenai hak orang muslim terhadap muslim lainnya dari hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang terdapat dalam sebuah hadist riwayat Muslim no 2162 :
"Hak seorang muslim atas muslim yang lainnya ada enam.” Kemudian ditanyakan, “Apa saja itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, "Jika bertemu ucapkanlah salam, jika diundang maka penuhilah, jika dimintai nasehat maka berilah nasehat, jika bersin lalu memuji Allah maka doakanlah, jika sakit maka jenguklah dan jika meninggal maka ikutilah penguburannya."
Ada beberapa adab etika menengok orang sakit yaitu diantaranya :
  1. Meniatkan ketika menengok orang yang dalam keadaan kurang sehat untuk meniatkan amalan tersebut karena Allah subhanahu wa ta’ala dan meneladani baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk bersilaturahmi dan bukan atas dasar tujuan duniawi semata.
  2. Menghibur orang sakit dan memberikan semangat dan motivasi untuk bersabar dan bersemangat untuk segera sembuh atas ijin Allah. Menghibur orang sakit dengan menggambarkan akan banyaknya hikmah sakit dalam Islam dan. Ini adalah merupakan bagian dari tuntunan Islam menengok orang sakit yang harus kita jalani.
  3. Berdoa untuk kesembuhan pasien sendiri. Ada banyak doa untuk orang sakit dalam Islam dan yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam. Ini adalah bagian dari sunnah Rasulullah ketika mengunjungi dan menengok orang sakit.
  4. Berkunjung dalam waktu kunjungan pasien yang telah diatur oleh masing-masing instansi atau pun rumah sakit tempat pasien dirawat dan diberikan pengobatan. Jangan mengunjungi dalam jam waktu istirahat karena hal tersebut justru akan mengganggu pasien sendiri. Karena pasien juga memiliki hak dan kewajiban pasien yang harus dipenuhi pula. termasuk dalam hal jam kunjung.
Selain dari beberapa etika dalam mengunjungi dan menengok orang yang sedang sakit ada juga beberapa hikmah keutamaan menjenguk orang sakit itu sendiri yang dalam Islam juga mengajarkan akan hal tersebut.

Diantara keutamaan menjenguk orang sakit adalah :
  • Mendapatkan doa dari para malaikat. Berikut adalah dalil dari hal ini yaitu :"Barang siapa yang mendatangi saudaranya muslim (yang sakit) untuk menjenguknya, ia berjalan di atas kebun surga hingga ia duduk. Apabila ia duduk, rahmat (Allah) akan menyelimutinya. Bila waktu itu pagi hari, tujuh puluh ribu malaikat akan bersalawat kepadanya hingga sore hari, dan bila ia melakukannya di sore hari, tujuh puluh ribu malaikat tersebut akan bersalawat kepadanya hingga pagi hari. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Syaikh al-Albani berkata: Hadis sahih).
  • Mendapatkan banyak kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim yang artinya :"Barangsiapa yang menjenguk orang yang sakit, maka orang itu senantiasa berada dlm khurfah surga." Beliau ditanya, “Apa itu khurfah surga wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kebun yang penuh dgn buah-buahan yang dapat dipetiknya.”.
  • Mengunjungi orang sakit adalah salah satu menuju jalan ke surga seperti yang terdapat dalam sebuah hadist yang artinya sebagai berikut :"Barangsiapa yang membesuk orang sakit atau saudaranya karena Allah, niscaya ada penyeru yang berseru, “Kamu sungguh baik, dan sungguh baik perjalananmu, dan kamu telah menempatkan diri di suatu tempat di surga.” (HR Muslim)
Demikian tadi beberapa hal yang berkaitan adab dalam mengunjungi dan menengok orang sakit yang diajarkan dalam Islam. Dan juga beberapa doa bagi orang sakit yang bisa kita jadikan sunnah dalam hal ini.

Diantara doa yang disunnahkan oleh Rasulullah ketika mengunjungi orang sakit adalah seperti yang terdapat dalam sebuah hadist yang berbunyi :
"Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakitnya, sembukanlah ia. (hanya) Engkaulah yang dapat menyembuhkannya, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak kambuh lagi." ( HR. Bukhari Muslim)

Kamis, 25 April 2013

dr. Doni Firman, SpJP(K)

dr. Doni Firman, SpJP(K)
Indragiri Hilir tak akan pernah dilupakan oleh dr. Doni Firman, SpJP(K), yang kini menetap di Jakarta. Di kabupaten yang masuk wilayah Provinsi Riau itu, ia memulai karir sebagai wajib kerja sarjana (WKS).
Bukan sekali dua ia kejatuhan ular dari pohon yang tumbuh di tepi sungai, “Padahal, saya paling takut melihat ular.“ Ular umumnya kecil saja, tapi menurut penduduk setempat, “Jenis ularnya ada yang berbisa.”
Selain takut ular, ia tidak bisa berenang. Sedangkan, wilayah Kabupaten Indragiri Hilir berupa perairan dan hanya sedikit daratannya. Pernah, ia dipanggil warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Dalam perjalanan, perahu yang ia tumpangi hampir tenggelam.
“Saya panik setengah mati. Untung orang yang menjemput sangat cekatan. Kapal yang kemasukan air bisa di pinggirkan dan akhirnya menepi ke daratan” jelasnya.
Puskesmas tempatnya bertugas, saat itu memang sangat terisolir. Dari Kota Pekanbaru, harus naik mobil selama 8 jam, disambung naik kapal selama 7 jam baru sampai di Kabupaten. Menginap satu malam, esoknya naik speed boat selama 3 jam, “Barulah sampai ke Puskesmas.”
Bertahan 3 tahun di Indragiri Hilir, selain karena masih bujangan, ia senang makan sea food. Itu klop dengan masyarakat di sana, yang mata pencahariannya sebagai nelayan. Harga udang dan ketam (kepiting besar) relatif murah, dan tidak jarang ia mendapatkannya sebagai imbalan atas pelayanan kesehatan yang diberikan. Usai bertugas di Puskemasnya jam 07.30-14.00, hari Senin hingga Sabtu, ia buka praktek. Selain udang dan kepiting, “Kadang saya diberi ayam.”
Tahun-tahun itu, 1994-1997, air bersih sulit didapat karena tanahnya gambut. Untuk air minum, memasak dan mandi, warga memasang drum besar di luar rumah untuk menampung air hujan. “Drumnya bisa setinggi rumah, supaya air yang ditampung banyak. Air lalu disaring, supaya lebih bersih, untuk kemudian dikonsumsi sebagai air minum.”
Dari kawasan yang terpencil, tak terduga pada tahun 1997 ia diundang ke istana oleh  Presiden Soeharto, karena terpilih menjadi dokter teladan nasional. Sekaligus, ia diangkat menjadi pegawai negeri atas prestasinya membangun fasilitas dan sistim kesehatan di Indragiri Hilir. “Itu  kebanggaan tersendiri bagi saya,” paparnya.(ant)

Prof. Dr. dr. Idrus Alwi SpPD, KKV, FACC, FESC, FAPSIC

Prof. Idrus Alwi SpPD
Angka kejadian hipertensi dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kenapa? “Ada perubahan life style di masyarakat. Seperti, pola makan yang kebarat-baratan, banyak mengonsumsi fast food serta kurang makan sayur, buah dan olahraga,” ujar  Prof. Dr. dr. Idrus Alwi SpPD, KKV, FACC, FESC, FAPSIC,
Di Indonesia, data terakhir menunjukkan prevalensi hipertensi mencapai 32%.  Komplikasi hipertensi bisa ke semua organ, mulai dari pembuluh darah di otak, stroke, dan jantung yang mengakibatkan gagal jantung atau penyakit jantung koroner. Juga pada ginjal yang bisa menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronik, yang membuat pasien harus cuci darah. Dan kalau pada mata, dapat mengakibatkan kebutaan.
Dengan segala risiko komplikasi yang dapat terjadi, PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia) berupaya mengedukasi masyarakat, mengenai hipertensi. Menurut Ketua Umum PAPDI ini, ”Hipertensi sering datang tanpa gejala sehingga disebut the silent killer, maka harus diwaspadai.” Kewaspadaan dituangkan dengan melakukan kegiatan simposium awam, yang dilakukan serentak di 36 cabang PAPDI di Indonesia, mulai Aceh hingga Papua.
Menurut Prof. Idrus, PAPDI tidak hanya penting untuk anggotanya, tetapi juga bagi masyarakat. “Sehingga masyarakat akan menyadari bahwa PAPDI bermanfat bagi mereka,” jelasnya. Sementara bagi kalangan sejawat, PAPDI berkewajiban meningkatkan kompetensi dan skill anggotanya. “Ini sudah rutin dilakukan.”
Sebagai Ketua PAPDI yang baru, Prof. Idrus ingin membawa PAPDI menjadi lebih baik. Dalam hal ini, meningkatkan dan memelihara kompetensi dokter spesialis penyakit dalam di seluruh Indonesia. “Terutama dokter di daerah terpencil, yang susah  mendapat akses ke Jakarta,” paparnya. PAPDI juga turut mensukseskan program pemerintah terkait pembangunan di bidang kesehatan, seperti program SJSN (Sistim Jaminan Sosial Nasional) yang akan di berlakukan 1 Januari 2014.
PAPDI juga bekerja sama dengan International Society of Internal Medicine. Lewat kerjasama ini, PAPDI dipercaya menjadi tuan rumah acara World Congress of Internal Medicine (WCIM) 2016. “Kegiatan akan dilangsungkan di Pulau Dewata, Bali.”(ant)

dr. Eka Ginanjar, SpPD, FINASIM

“Saya termasuk yang optimistis menghadapi SJSN (Sistim Jaminan Sosial Nasional) tahun 2014,” ujar dr. Eka Ginanjar, SpPD, FINASIM. Hanya dengan sedikit pembenahkanmanajemen, pelayanan kesehatan di Indonesia akan menjadi lebih baik, karena, “Dari sisi fasilitas, Indonesia tidak kalah dengan Malaysia.”
Kelahiran 30 Desember 1977 dan ayah 2 anak, hampir 3, ini pernah studi kardiologi intervensi di Malaysia selama 1,5 tahun. Ia menilai, sistim kesehatan di Malaysia sudah lebih maju. Misalnya, sistim pembiayaan kesehatan. Setiap mau berobat, pasien harus melalui layanan primer. Tanpa rujukan dari layanan primer, pasien tidak bisa mendapat layanan di tahap yang lebih tinggi.
Dengan iuran 1 ringgit/bulan atau sekitar Rp. 3000, pasien bisa mendapat pelayanan kesehatan dasar secara cuma-cuma. “Layanan primer ditangani dokter umum, yang dikomandani seorang dokter spesialis family medicineatau dokter keluarga,” jelasnya.
Jika pasien tidak dapat ditangani, baru dirujuk ke rumah sakit terdekat. Rumah sakit di Malaysia juga memiliki spesifikasi keahlian sendiri-sendiri. Itu mungkin yang membedakan dengan rumah sakit di Indonesia. Menariknya lagi, di Malaysia dokter dibayar bukan dengan fee for service tetapi dibayar fix salary. “Jadi, dokter di sana tidak mencari pasien sebanyak-banyaknya, hingga pelayanan terhadap pasien menjadi lebih baik.”
Konsep itu yang mulai 1 Januari 2014 nanti akan diterapkan di Indonesia. Dalam  5 tahun (sampai 2019) diperkirakan semua warga Negara Indonesia, tanpa kecuali, sudah dapat menikmati pelayanan kesehatan. Bagi dr. Eka, hal itu memang sudah semestinya. Bagi lulusan FKUI (2003) dan spesialis penyakit dalam (2009) ini, mempelajari manusia secara keseluruhan adalah hal yang menyenangkan. Baginya, “Jika ingin mendalami spesialisasi tertentu lebih dalam lagi, lebih dulu harus tahu secara menyeluruh tubuh manusia.” Itu sebabnya ia menjadi spesialis peyakit dalam, dan kemudian mengambil sub-spesialisasi kardiovascular.  
Ia sering dikirim ke daerah, karena concern terhadap penanggulangan bencana. “Saya aktif di organisasi PAPDI Medical Relief, Bulan Sabit Merah Indonesia, dan Mercy,” jelasnya. Ia juga aktif di IMANI (Islamic Medical Association and Network Indonesia). Ia memelihara jenggot, semata untuk mengikuti sunah Nabi. (ant)

dr. Rocksy Fransisca Vidiaty Situmeang, SpS

dr. Rocksy FV Situmeang, SpS
Ia ikut mendirikan Yayasan Peduli Parkinson Indonesia, karena, “Saya tertarik dan sayang pada orang tua,” ujar dr. Rocksy Fransisca Vidiaty Situmeang, SpS, kelahiran Dumai, 18 Mei 1977. Pasien parkinson umumnya memang orang tua. Mereka mengalami gangguan gerak dan akan dialami seumur hidup.
Pasien parkinson sudah mencapai 10 besar jumlah kunjungan di poli saraf RSCM. ”Mereka sudah didiagnosis cukup lama menderita parkinson, jadi banyak yang kondisinya sudah buruk. Timbul keinginan untuk men-support mereka, di luar profesi kami sebagai dokter,” ujarnya.
Dengan adanya yayasan, pasien parkinson bisa berkumpul. Organisasi ini sebagai wadah untuk mendapat informasi yang benar, mengenai penyakit parkinson. Diharapkan, mereka bisa mendapat dukungan sehingga tetap semangat dalam menjalani kehidupan.”
Mengapa menjadi spesialis syaraf, karena ada joke dari seniornya yang menyatakan: penyakit saraf itu datangnya lumpuh, pulangnya meninggal, karena tidak ada obatnya.
Ia ingat, sekitar tahun 1990-an, Presiden AS Bill Clinton mendeklarasikan brain of decade/decade of brain. Maksudnya, otak penting dalam kehidupan manusia, baik dalam bidang kesehatan atau lainnya. Pekerjaan dokter saraf adalah mengurusi otak, organ yang paling rumit dan vital. Sulit tapi merupakan tantangan tersendiri. “Neurologi sangat menarik untuk dipelajari,” katanya.
Sampai saat ini, dokter saraf masih langka, belum sampai 1/5 dari jumlah dokter spesialis penyakit dalam di Indonesia. Padahal, kebutuhannya cukup besar. “Untuk mendirikan rumah sakit tipe B, misalnya, harus ada dokter spesialis saraf,” ujar dr. Rocksy yang bertugas di RS Siloam, Karawaci, Tangerang.
Menurutnya, para penderita parkinson harus tetap beraktifitas. Mereka harus percaya diri, tetap semangat dan aktif secara sosial mau pun fisik. “Pokoknya, parkinson siapa takut!” jelasnya.
Ia sempat ketar ketir karena obat Levodopa original sempat menghilang di pasaran. Pasiennya pontang panting, SMS, telepon, bahkan ada yang pergi ke Hongkong untuk mendapatkan Levodopa original. Memang ada Levodopa me too, “Tapi, efeknya bisa sama sekali berbeda.”
Beruntung, kini obat original itu sudah ada lagi,  bahkan sudah masuk program Jamkesmas, Askes, dan in-health.(ant)