Jumat, 02 Maret 2012

dr. Hananto Adriantoro SpJP, FICA

Putera seorang atase militer RI yang lahir di Beijing, 4 November 1957, ini tertarik pada dunia kedokteran sejak masih kecil. Ketika tinggal di komplek tentara Cijantung, Jakarta Timur, persis di sebelah rumahnya tinggal seorang dokter tentara yang menjabat pimpinan rumah sakit. "Ketika itu, umur saya sekitar 2-3 tahun. Saya sering melihat, tetangga sebelah sudah pake seragam tentara masih memakai jas putih dinas dokter. Kelihatannya keren sekali," ungkap dr. Hananto Adriantoro SpJP, FICA (Fellow of International Colege of Angiology).
            Ia sempat menjadi mahasiswa  Institut Teknologi Surabaya, mengambil jurusan Teknik Elektronika (1977). Tahun berikutnya, ia  memutuskan untuk menjadi mahasiswa kedokteran di FKUI. Ternyata, untuk menjadi dokter tidaklah mudah. Perjuangannya sangat berat. Ia belajar dan harus terus belajar, untuk bisa meraih cita-citanya. Ia sempat menjadi guru les privat untuk anak SMA, untuk bisa membeli buku dan mencukupi biaya kuliah. "Orang mungkin hanya melihat setelah saya berhasil sekarang ini, sebagai dokter, menjadi pembicara, menulis. Jarang yang tahu, bagaimana perjuangan saya dulu," papar dokter yang tugas di RS. Harapan Kita, Jakarta.
            Dokter bertubuh tinggi besar ini adalah atlet tolak peluru. Pada PON IX 1977, ia meraih mendali perak. Ia juga atlet angkat besi junior kelas 82,5 kg. Olahraga baginya merupakan hal yang penting, yang selalu ia tanamkan dalam kehidupan keluarga. Ayah dua anak laki-laki (Cahyo Baskoro dan Aji Nugroho) dan istri drg. Yulidar Nur Adinda, Mkes ini tak ingin anaknya nanti berbadan besar. Dia mewajibkan anaknya untuk olahraga terutama lari dan berenang.
            ”Dalam menangani pasien diperlukan kejujuran, komunikasi yang baik, rasa hormat dan berbagai macam komponen soft skill lain,” katanya.

Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SpJP (K)

“Virus avian influenza telah memakan banyak korban di Indonesia. Semestinya, negara maju tidak mengambil keuntungan dengan menjual vaksin ke negara berkembang seperti Indonesia, dengan harga yang sangat mahal,” ujar Menteri Kesehatan RI Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SpJP(K).
Pernyataannya pada diskusi “Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung”, 5 September 2008, di Universitas Paramadina, Jakarta, itu mendapat applaus meriah. Menkes menyatakan adanya konspirasi negara adidaya dengan WHO, dalam memanfaatkan virus flu burung Avian Influenza (H5N1). Bukunya berjudul It’s Time for the World to Change, telah membukakan mata  banyak pihak bahwa selama ini negara-negara berkembang seperti Indonesia, selalu dalam posisi yang dirugikan.
Dalam kasus flu burung, Indonsia diminta untuk mengirimkan sample virus ke WHO. “Permintaan itu ternyata dasarnya tidak begitu jelas. Hanya dikatakan bahwa Indonesia tidak akan mampu membuat vaksin flu burung, karena tidak punya peralatan dan sebagainya,” ujar Menkes. Ternyata, kiriman virus flu burung dari Indonesia itu dikomersialkan. Bahkan, sample virus dimaksud sudah sampai ke Los Alamos, tempat pembuatan bom atom.
 Indonesia, sebagai “penyumbang” virus flu burung, tidak memperoleh apa pun. Bila membutuhkan vaksin flu burung, kita harus membeli dengan harga yang mahal. “Saya pikir, perlu tatanan dan aturan main yang lebih adil, bagi semua pihak,” kata ibu 3 anak ini.
Sebelum menjadi Menteri Kesehatan RI, ia dosen tamu Fakultas Kesehatan Masyarakat dan di Pasca Sarjana Jurusan Epidemilogi Universitas Indonesia. Ia juga  pengajar di Departemen Jantung, Pembuluh Darah Pusat Jantung Nasional Harapan Kita.
Berbagai prestasi telah diraihnya. Saah satu karya ilmiahnya tentang omega-3 di Texas, AS, dianugrahi The Best Investigator Award (1994) dan Anthony Mason Award dari Universitas South Wales (1997).
Pada 20 Oktober 2004, istri Ir. Muhamad Supari ini sempat terkejut ketika ditunjuk menjadi Menkes dalam Kabinet Indonesia Bersatu, menggantikan Prof. Dr. Achmad Sujudi. “Saya akan berusaha agar Indonesia dapat memroduksi vaksin flu burung sendiri,” ujarnya.

Prof. Dr. dr. Arif Adimoelja, MSc, SpAnd, FSS (Be)

Ketertarikannya pada bidang andrologi, muncul secara kebetulan. Lulus dari FK Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Prof. Dr. dr. Arif Adimoelja, MSc, SpAnd, FSS (Be), mendalami spermatologi dan reproduksi manusia di FK Universitas Indonesia, Jakarta. Kembali ke Surabaya, ia mendirikan laboratorium sperma di FK Unair. Lalu bagai pucuk dicinta ulam tiba, datang tawaran dari WHO. “Penawaran beasiswa itu sebenarnya ditujukan bagi siapa saja yang ingin belajar spermatologi mewakili Indonesia. Karena tidak ada yang mau, ya akhirnya saya mau saja,” ujarnya.
Setelah menerima tawaran belajar di Universitas Louvaine, Belgia, ia bingung hendak menekuni bidang yang mana, spermatologi atau andrologi. “Saat itu andrologi baru ada di tiga negara, yaitu Jerman, Belgia dan Belanda. Baru kemudian disusul Amerika Serikat dan Spanyol. Dosen saya menganjurkan agar saya mengambil program andrologi. Itu karena untuk spermatologi, siapa pun bisa mendalaminya, tidak harus seorang dokter,” tutur kelahiran Wonosobo ini.
Baginya, bidang andrologi tidak hanya studi tentang laki-laki. Sekarang, andrologi berkembang menjadi kesehatan laki-laki, meliputi sistem reproduksi maupun seksologi. “Pria yang sehat tidak hanya sehat tubuhnya. Penampilannya juga harus keren. Karena itu, penurunan kadar testosteron pada pria harus diatasi. Usia boleh tua, tetapi badan harus tetap sehat,” katanya.
Peran hormon pada tubuh manusia harus dilihat secara holistik, tidak bisa dilihat satu hormon saja. “Testosteron penting bagi kelangsungan metabolisme tubuh pria, tapi bukan yang terpenting,” ujarnya. Banyak hormon lain yang juga berperan dalam proses faal. Namun, berdasarkan banyak penelitian, testosteron seperti master hormon. “Dikatakan demikian, karena dengan pemberian testosteron menunjukkan perbaikan dari berbagai gejala akibat defisiensi testosteron, seperti metabolik sindrom dan disfungsi ereksi,” katanya.

dr. Nugroho Setiawan, SpAnd

Andropause pada pria, sama halnya dengan menopause pada wanita. Hanya saja pada wanita, muncul gejala yang nyata yaitu berhentinya menstruasi, di mana terjadi penurunan kadar estrogen yang drastis. Pada pria, penurunan kadar testosteron berlangsung secara bertahap. “Hal ini sering mengakibatkan banyak pria menganggap, kemunduran metabolisme tubuh atau terjadinya berbagai penyakit seiring berjalannya usia adalah hal yang wajar. Padahal tidak seperti itu. Walaupun usia tua, raga bisa tetap sehat kok,” ujar dr. Nugroho Setiawan, SpAnd.
            Banyak hal yang mempercepat proses penuaan pada pria. “Terutama adalah life style seperti merokok, alkohol, kurang olahraga, diet tinggi lemak, dsb,” kata dokter kelahiran Yogyakarta ini.  Berbagai gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat life style yang buruk di antaranya obesitas sentral, resistensi insulin, hipertensi, dislipidemia dan glukosa puasa tinggi, yang terangkum dengan apa yang disebut sindrom metabolik. Yang paling ditakutkan kaum pria adalah disfungsi ereksi karena terjadinya penurunan kadar testosteron, juga akibat life style yang buruk.
            Tak bisa dipungkiri, aktivitas seksual yang baik akan meningkatkan kualitas hidup seseorang. Disfungsi ereksi memang tidak menyebabkan kematian secara langsung. Namun, akibatnya dapat membuat pria depresi, malu dan sebagainya, yang bisa memunculkan keinginan bunuh diri. “Paling tidak, bisa berdampak pada ketidakharmonisan dengan pasangan,” ia tertawa.
            Defisiensi testosteron yang dialami pria, sebaiknya diatasi dengan penambahan testosteron eksogen untuk meningkatkan kualitas hidup. Tentunya tidak hanya testosteron yang dibutuhkan, tapi juga hormon lain. Yang tidak kalah pentingnya adalah perubahan gaya hidup. “Percuma mengonsumsi obat, kalau life stylenya tetap buruk,” kata alumni spesialis andrologi FK Universitas Airlangga ini.

Prof. dr. Menaldi Rasmin, SpP (K) FCCP

Memilih kado ulang tahun bagi seseorang yang disayangi, susah susah gampang. Menyesuaikan dengan hobi atau kebutuhan si penerima, terkadang perlu dilakukan. Prof. dr. Menaldi Rasmin, Sp.P (K), FCCP, punya kiat khusus. “Setiap ada teman, keluarga atau kita sendiri yang ulang tahun, sebaiknya berikan kado istimewa untuk paru-paru kita. Buat foto rontgen keadaan paru kita,” paparnya usai pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi di FKUI, 23 Februari 2008.
            Kesehatan paru sangat penting untuk dijaga. Menurut Dekan FKUI ini, menjaga kesehatan paru merupakan langkah awal untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Dengan mengetahui keadaan paru, minimal setahun sekali, dapat menghindari terjadinya berbagai penyakit paru yang ada. “Dengan selembar foto rontgen, kita berinvestasi besar terhadap kesehatan kita dikemudian hari,” ungkapnya sambil tersenyum.
            Menjaga kesehatan paru, tidak akan berhasil tanpa didukung kebersihan udara. Kualitas udara yang buruk, merupakan salah satu faktor utama pencetus timbulnya berbagai macam penyakit paru. “Makanan-makanan yang tidak sehat, dapat kita hindari dengan berpuasa dan lain-lain. Tapi, untuk urusan bernafas, kita tidak mungkin berpuasa, walau udara di sekitar kita sangat buruk,” paparnya.
            Sebab itulah, suami dr. Sri Linuwih S.W, Sp.KK (K) ini begitu khawatir dengan menurunnya kualitas kebersihan udara di kota-kota besar saat ini. Dengan menjaga udara tetap bersih, selain dapat mencegah terjadinya berbagai penyakit paru, juga berdampak positif pada produktivitas seseorang. “Kalau kualitas udara bisa dijaga, mungkin kita bisa memotong lebih 70% hal-hal yang seharusnya tidak perlu terjadi seperti asma, bronchitis dan pneumonia,” ujarprofesor yang murah senyum ini.
            Udara bersih adalah tanggung jawab semua pihak, baik masyarakat, pelaku industri serta pemerintah. Namun, banyak yang kurang memerhatikan betapa pentingnya udara bersih. “Di beberapa lokasi di Jakarta, dipasang alat pengukur kadar kualitas udara secara realtime oleh pemerintah.Namun, terpulang pada masyarakat, apakah akan menjaga udara bersih dengan, misalnya, tidak merokok atau justru menambah tingkat polusi yang ada,” katanya.

   


Jadwal Jaga Bedah FKUI Maret 2012

Kamis, 01 Maret 2012

Open House FK UNUD (24 Februari 2012)



Open House FK UNUD adalah kegiatan tahunan fakultas untuk memperkenalkan FK UNUD kepada masyarakat umum. Tahun ini, Open House diselenggarakan pada tanggal 24 Februari 2012 dan BSO Tim Bantuan Medis Janar Dūta ikut mengambil bagian di dalamnya.


Pukul 06.30 WITA, para Anggota Muda dan beberapa senior telah berkumpul di kampus untuk mempersiapkan stand TBM Janar Dūta. Kami memperkenalkan BSO TBM melalui majalah dinding, alat-alat alam yang dipajang, pelayanan pemeriksaan tekanan darah, BFS, dan gula darah gratis. Khusus untuk pemeriksaan gula darah, dihandle oleh Senior angkatan 20.

AM yang bertugas dibagi dalam dua shift. Shift pertama dari pukul 08.00-12.00 dan shift kedua pukul 12.00-16.00. Kegiatan pada pagi hingga siang hari itu berjalan lancar namun kegiatan berakhir lebih awal, pukul 14.00, dikarenakan pengunjung open house yang mulai sepi.