Senin, 02 Agustus 2010
TENAGA KESEHATAN BERWAWASAN LINGKUNGAN
Dalam konteks dunia kesehatan, lingkungan berperan penting pada hampir semua permasalahan kesehatan yang terjadi di masyarakat. Sanitasi yang buruk, sistem pengolahan limbah yang tidak sesuai prosedur, pengolahan pangan yang tidak aman merupakan beberapa contoh dari banyak contoh penyebab dari munculnya berbagai macam penyakit yang terjadi di masyarakat.
Fenomena-fenomena kesehatan tersebut seakan menuntut dimunculkannya istilah baru dalam dunia kesehatan yaitu Tenaga Kesehatan Berwawasan Lingkungan. Wacana ini dimaksudkan untuk bisa memaksimalkan tenaga kesehatan bukan hanya sebagai “pemadam kebakaran” tetapi juga berperan dalam mencegah “kebakaran” itu terjadi. Menggalakan kegiatan yang bersifat preventif untuk bisa mewujudkan kesehatan masyarakat secara menyeluruh bukan dengan menunggu dan kemudian mengobati korban yang berjatuhan atau tindakan kuratif.
Sebenarnya seberapa pentingkah peran tenaga kesehatan berwawasan lingkungan itu? Bisa dikatakan sangat penting tapi sering kali dilupakan. Itulah realitanya. Epidemi beberapa penyakit menular yang setiap tahun selalu berulang merupakan wujud pengesampingan lingkungan sebagai salah satu aktor dalam usaha penyehatan masyarkat. Demam berdarah tidak akan mewabah jika dokter di lingkungan tersebut tidak hanya sebagai pemadam kebakaran alias hanya mengobati orang yang sakit tapi juga memberikan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat untuk peduli lingkungan. Limbah-limbah medis jika tidak ditangani dengan baik terutama untuk dokter-dokter praktik pribadi justru akan semakin memperburuk keadaan kesehatan masyarakat. Penyakit menular banyak yang ditularkan melalui limbah medik yang sering kita lupakan manajemen pengelolaannya. Dan masih banyak contoh-contoh fakta lain yang menunjukkan betapa pentingnya tenaga kesehatan yang berwawasan lingkungan itu.
Kesadaran bagi para pekerja di dunia kesehatan entah itu dokter,ahli gizi,atau perawat, dan semua orang yang terlibat dalam aktivitas kontak dengan pasien harus ditanamkan sejak dini. Pendidikan memegang peran kunci dalam terwujudnya tenaga kesehatan berwawasan lingkungan. Pendidikan yang dimaksudkan disini bukanlah dengan menambahkan suatu materi khusus dalam kegiatan perkuliahan. Namun, dikurikulumnya untuk semua mata pelajaran hendaknya include tentang materi lingkungan. Di setiap mata kuliah hendaknya dikaitkan dengan education for sustainable development. Contoh cara menyuntik, bagaimana jarum suntik ini harus dibuang setelah dipakai atau perban yang sudah terpakai dimana harus dibuang atau yang lebih sederhana yaitu makanan bekas pasien rawat inap bagaimana mengelolanya itu penting untuk diajarkan oleh para instruktur.
Solusi pendidikan tersebut merupakan salah satu perwujudan program Education for Sustainable Development. Suatu program dari UNESCO yang mencoba untuk mengintegrasikan antara pendidikan dengan usaha untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Lingkungan sebagai salah satu tergetnya menjadi hal yang harus juga dipelihara untuk generasi mendatang.
Dalam konteks pelayanan kesehatan,lingkungan sekali lagi menjadi hal yang tidak boleh dikesampingkan. Karena walaupun tempat pelayanan kesehatan yang di satu sisi dibutuhkan oleh masyarakat tapi dalam aktivitasnya juga menghasilkan limbah atau bahan sisa yang jika tidak menjadi perhatian dan dikelola secara asal-asalan akan tercampur dengan limbah domestik yang tentunya berbahaya bagi penduduk sipil maupun tenaga kesehatan itu sendiri.
Mahasiswa sebagai agen-agen perubahan hendaknya memiliki kesadaran untuk peduli pada lingkungan. Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan mulai dari diri sendiri kemudian disebarkan ke komunitasnya dan begitu seterusnya terutama mahasiswa calon tenaga kesehatan harus bisa menjadi pioneer di lingkungannya sendiri. Kemudian karena masyarakat Indonesia itu paternalis,yang berarti apa yang dilakukan seniornya maka akan ditiru oleh juniornya. Maka dosen, pegawai dan dekanat harusnya bisa menjadi contoh yang baik bagi mahasiswa untuk bersikap ramah dan peduli terhadap lingkungan. Saling mengingatkan dengan bahasa yang mudah dipahami dan memberikan sarana untuk peduli terhadap lingkungan.
Mungkin sebagai sebuah gerakan kecil yang bisa kita mulai adalah dengan tidak memakai minuman dalam kemasan gelas plastik pada acara-acara rapat ataupun yang lainnya. Bisa pakai gelas kaca yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Supaya tidak membeban lingkungan tentunya. Save the Earth for the Next Generation.
Wawancara dengan Dr. Eko Sugiharto,Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM
dimuat di majalah efkagama FK UGM,
Jumat, 19 Februari 2010
"I'm a Nurse" NOT "I'm Just a Nurse"

Minggu, 28 Desember 2008
perbedaan pandangan


...apakah yang anda lihat seorang wanita tua atau seorang gadis??dan pada gambar kedua seekor bebek atau kelinci??..
pertama kali saya melihatnya waktu Latihan kader HMI,saya jadi tersenyum juga ternyata dari gambar itu saja persepsi kita bisa berbeda...jadi seandainya ada teman kita yang berbeda pandangan dengan kita ..saya pikir itu adalah suatu hal yang lumrah..tergantung dari pengalaman hidup,cara berpikir dan tujuan hidup kita...nah semua tergantung pada diri kita sendiri dalam menyikapi hal itu...
seandainya mau merenung ,kita yang masih gemar bertengkar, saling memaki, saling mengkafirkan, saling membid’ahkan bahkan unjuk kekerasan dengan orang lain yang kita anggap “berbeda”.
Bahwa perbedaan itu sunnatullah dan manusia hidup dalam keriuhan perbedaan, semua orang telah tahu. Namun, bahwa manusia bisa menghargai dan menerima perbedaan? Nah, yang terakhir ini banyak orang yang tidak mampu atau pura-pura kurang memahaminya.
Padahal, kita sendiri lahir dan besar dalam atmosfir perbedaan. Ayah dan ibu kita jelas saling berbeda: jenis kelamin, watak, emosi, perilaku, hobi, dan lain-lain. Lalu, semua perbedaan keduanya berkumpul di dalam diri kita. Sehingga kalau kita marah ada orang berkata, “kamu mirip ayahmu“. Ketika sedang tertawa terkadang orang berkata, “senyummu itu mengingatkanku pada ibumu“.
Mengapa orang tidak bisa menerima dan menghargai perbedaan? Salah satu sebabnya adalah sempitnya ilmu dan pengetahuan. Sehingga seseorang melihat lalu menghakimi orang lain berdasarkan keterbatasan ilmu yang dimilikinya.
Ketidaksiapan menerima pendapat yang berbeda dari orang lain biasanya muncul dari sifat egosentris yang berlebihan, dalam istilah akhlak dinamakan sebagai sifat ananiyah. Pada akhirnya, sifat ini hanya akan mengarahkan kita pada keangkuhan yang membawa bencana -jangan lupa bahwa Allah mengutuk siapa saja yang berjalan di muka bumi ini dengan penuh keangkuhan-.
Barangkali kita masih ingat kisah 3 orang buta dengan seekor gajah. Konon, salah seorang dari mereka mengajak yang lain untuk mengenali bentuk gajah. Orang buta pertama maju dan memegang kaki gajah. Dia bilang, “gajah itu bulat dan keras seperti batang pohon”. Orang kedua maju dan memegang belalainya. Dia sampaikan, “gajah itu bulat dan panjang seperti ular”. Lalu, orang ketiga maju dan memegang kupingnya. Ia berteriak, “gajah itu tipis seperti kipas!”Tentu saja, bagi orang kebanyakan ketiga pandangan mereka itu ‘keliru’ (sebenarnya lebih tepat bila disebut tidak lengkap). Hanya saja, haruskah mereka disalahkan? Kita hanya harus memaklumi karena sebatas itulah kemampuan mereka untuk melakukan exposure . Jika saja mereka bisa melihat, tentu pendapat mereka tidak seperti itu. Akan tetapi, bayangkan bila 3 orang buta itu kemudian duduk bersama dan mendiskusikan temuan masing-masing dalam suasana keterbukaan. Saya yakin akhirnya mereka sanggup mendeskripsikan bentuk gajah secara tepat. Justru dengan adanya perbedaaan persepsi, ilmu dan pengetahuan akan terus berkembang.
Mari kita mengingat kembali hadist Rasulullah, “Perbedaan di kalangan ummatku adalah rahmat”. Tidak layak bukan, bila rahmat tidak disyukuri? kita malah menolaknya sambil berharap macam-macam perbedaan itu hilang.
semoga kita bisa menjadi seseorang yang mampu menerima perbedaan pandangan..karena itu adalah satu hal yang wajar.........
Selasa, 24 Juni 2008
“Menara Gading” Profesi Kedokteran: Antara Harapan dan Realita
Harapan dan Cita-Cita Kita Sebenarnya
Secara umum citra profesi ini masih berada dalam kelompok profesi yang mempunyai citra yang tidak jatuh begitu dalam dimata masyarakat. Namun profesi ini juga telah menjadi sorotan miring dan negative.
Fakultas Kedokteran sebagai suatu institusi, sesungguhnya mempunyai tujuan dan jati diri yang luhur. Fakultas Kedokteran lahir sebagai tuntutan kondisi masyarakat yang yang masih bertumpuknya masalah kesehatan. Ia hadir untuk ikut langsung menuntaskan masalah-masalah penyakit infeksi yang tak kunjung selesai serta penyakit kronik degeneratif yang mulai menggunung. Sehingga secara tertulis dan teoritis, Fakultas Kedokteran bertujuan untuk melahirkan dokter yang mempunayi ilmu dan skill medis dan klinis yang baik, bermoral dan ber-etika serta berwawasan luas. Idealis memang, namun begitukah cita-cita luhur hadirnya, dan harapan setiap lulusannya. Dengan istilah yang lebih popular dalam pendidikan kedokteran, Fakultas kedokteran bertujuan melahirkan dokter yang “Professionally Qualified, Socially and culturally acceptable.”
Saat ini, juga....(Selanjutnya baca disini...)
-----------------------------------