Jumat, 26 September 2008

Waktu yang hilang…….

Seorang Bapak pulang ke rumah dlm keadaan letih disambut oleh anak lelakinya
yg berusia 7 tahun dimuka pintu.
Anak: Ayah, boleh nggak Amin bertanya?

Ayah: "Ya...nak tanya apa?"
Anak: "Berapa pendapatan ayah sejam?"
Ayah: "Itu bukan urusan kamu, buat apa kamu sibuk tanya?" si ayah mulai
marah karena merasa lelah.
Anak: "Amin tidak tahu ayah. Tolonglah bagitahu berapa ayah dapat sejam
bekerja di kantor?" si anak mulai merayu.
Ayah: "Rp 10.000 sejam, memang kenapa?"
Anak: "Oh..." si anak menjawab sambil tunduk ke bawah. Kemudian memandang
wajah ayahnya sambil bertanya, "Ayah....boleh nggak Amin pinjam Rp 5000
dari ayah?".
Si Ayah mulai menjadi berang dan berkata, " oh, itu sebabnya kamu tanya
berapa pendapatan ayah, untuk apa uang sebanyak 5000 ? nak
beli barang mainan lagi? Jangan mubazir. Ayah kerja capek-capek bukan
untuk buang duit sebarangan. Sekarang pergi balik ke kamar dan tidur, dah lewat
jam tidur nih..."
Kanak-kanak 7 tahun itu terdiam dan perlahan-lahan melangkah kembali ke
kamar tidurnya.

Si ayah duduk di atas sofa dan mula memikirkan mengapa anaknya yg sekecil itu memerlukan duit sebanyak itu.

Kira-kira dua jam kemudian si ayah kembali tenang dan terfikir kemungkinan anaknya benar-benar memerlukan uang untuk keperluan di sekolahnya kerana anaknya tidak pernah meminta uang sebanyak itu sebelumnya.
Dengan perasaan bersalah si ayah melangkah menuju kamar anaknya dan membuka
pintu. Didapati anaknya masih belum tidur.
"Kalau kamu betul-betul perlu uang, nah ambillah Rp 5000 ini",
kata si ayah.
Amin segera bangun dan tersenyum girang. "Terimakasih banyak ayah", katanya begitu gembira. Kemudian dia mencari-cari sesuatu di bawah bantalnya dan mengeluarkan selembar lima ribuan yg sudah kusut.

Saat di lihat uang itu oleh ayahnya, si ayah kembali marah. "kenapa kamu minta duit lagi sedangkan kamu sudah ada uang sebanyak itu? Dan dari mana kamu dapat uang di bawah bantal itu?" bentak si ayah.
Si anak tunduk tidak berani menatap wajah ayahnya. "uang ini Amin kumpul
dari belanja sekolah yang ayah beri tiap hari. Amin minta lagi 5 ribu
dari ayah sebab uang yang Amin ada sekarang tidak cukup", jawab si anak
perlahan.
"Tak cukup untuk beli apa??", si ayah bertanya balik.
"Ayah, sekarang Amin sudah punya 10 ribu. Ayah ambil uang ini. Amin mau beli
sejam waktu dari masa ayah. Amin ingin, ayah balik kerja lebih awal besok. Amin rindu mau makan malam bersama ayah. ", jawab si anak tanpa berani memandang wajah
ayahnya. Terdiam dan hanya merasakan air bening jatuh dari matanya.

Sepenggal kisah diatas mengingatkan kembali saat aku masih kuliah dulu kebetulan lagi dinas luar di bengkulu..salah seorang konsulen di sana menceritakan pengalaman hidupnya..bob..ntar kalo udah jadi SpOG jangan lupa tujuan kita sebenarnya yah...dulu saya praktek,operasi dari pagi-sampe paginya..waktu mau berangkat kerja anak-anak masih tidur pas pulang kerja mereka udah tidur .....kerjaan kita sebagai spesialis kandungan gak mengenal hari libur..waktu itu secara materi saya merasa berhasil....kemaren pas anak saya mau nikah saya tersentak..ni anak kapan gedenya udah mo nikah aja.....saya merasa menyesal telah kehilangan waktu yang berharga itu...sejak itu saya membatasi waktu praktek dan lebih banyak mencurahkan untuk keluarga...
sebelum masuk PPDS OBGYN aku juga udah diwanti-wanti sama salah seorang konsulen..yakinkan dulu mau masuk OBGYN ini 70 % dari waktu kalian akan habis disana.....Dipikir-pikir Akhir-akhir ini aku lumayan sibuk ..tiba-tiba fatur anakku yang paling kecil,protes..papa jangan operasi-operasi terus ya..adek mau main sama papa...aku jadi teringat lagi kisah itu...Sebenarnya kita harus mengingat lagi tujuan hidup kita ..."Tidaklah AKU menjadikan jin dan manusia selain untuk beribadah kepadaku"..........Mencari nafkah untuk keluarga di jalan Allah adalah salah satu ibadah..tetapi keluarga juga membutuhkan perhatian..apalagi anak-anak
sebagai seorang ayah dan suami kita berkewajiban untuk mencukupi kebutuhan mereka tetapi kebutuhan itu bukan hanya materi..mereka juga butuh perhatian dan kasih sayang..semua harus di seimbangkan..antara dunia dan akhirat ... Bertanggung jawab terhadap diri sendiri sekaligus keluarga bukanlah hal yang mudah..sebagai seorang ayah kita bertanggung jawab terhadap tarbiyah dalam keluarga...Setiap lelaki bisa menjadi seorang ayah dan suami.tetapi tidak semuanya sanggup menjadi imam yang baik....karena itu aku gak mau menyesal ..semoga aku dapat mengikuti perkembangan mereka sebagai orang tua .....dapat menjadikan diriku tempat mereka bertanya dan mengadu..dan membimbing mereka di jalan Allah....

"Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;penjaganya malaikat yang keras dan tidak mendurharkai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahnya" (QS.At Tahrim : 6)

" Ya Allah letakanlah dunia di tanganku..jangan Engkau letakan di hati ku"..

Semoga Allah selalu membimbingku.............