Senin, 06 Maret 2006

MASTALGIA
Nyeri pada payudara ....
Cek apakah ada hubungannya dengan siklus menstruasi ?
Apakah ada benjolan ? teraba benjolan ? abses ?
Jika tidak teraba benjolan, mamografi atau USG bisa dipakai untuk menentukan tindakan lebih lanjut ...
Pemberian analgetik dengan pola tertentu dapat membantu menghilangkan mastalgia ..
Ada juga yang berkurang dengan pemberian obat anti estrogen .. tentunya pemberian obat hormonal ini harus mendapat pengawasan yang lebih serius. Klik
http://lakshminawasasi.blogspot.com/2006/01/mamografi-adalah-suatu-pemeriksaan.html

Pernah selama sebulan praktek di sebuah RS swasta di Bekasi, pasien yang datang hampir semua ibu-ibu dengan keluhan mastalgia ....
Ingin berbagi soal mastalgia ? pengalaman ?

Senin, 20 Februari 2006

DVT ... ??
DEEP VEIN THROMBOSIS / DVT
Adanya bekuan darah / thrombus dalam pembuluh darah balik / vena terutama pada kaki.
Dapat terjadi karena pembuluh vena mengalami kerusakan sehingga alirannya terhambat atau adanya kelainan pada aliran vena menjadi melambat atau berhenti sama sekali, atau adanya kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan perubahan pada darah (terkena kanker atau dampak dari pengobatan yang diberikan).
Intinya adalah aliran darah menjadi melambat sehingga menimbulkan bekuan darah.
Dapat menyebabkan rasa nyeri (dapat timbul saat istirahat atau sedang beraktifitas), pembengkakan tungkai, kemerahan pada tempat yang terkena dan timbulnya luka/sores pada kaki. Selain itu dapat menimbulkan komplikasi lain yang serius.
Trombus dapat terbawa aliran darah menuju paru dan dapat menimbulkan emboli paru.
Faktor resiko terjadinya DVT :
- imobilitas (istirahat yang lama di tempat tidur / prolonged bed rest)
- obesitas
- usia lebih dari 40 tahun
- pembedahan, terutama yang melibatkan kaki dan pelvis/panggul
- kanker dan pengobatannya
- perjalanan yang jauh yang menyebabkan imobilitas
- kehamilan dan proses kelahiran
- terapi hormon

Terapi ditujukan agar bekuan darah tidak menjadi lebih besar, menghambat aliran thrombus menuju organ penting (paru), mencegah pembentukan bekuan darah baru, mencegah terbentuknya sindroma post trombotik

Terapi dengan memberikan obat-obatan antikoagulan, kompresi dengan stoking khusus,
Edukasi berupa a.l :
- Latihan untuk kaki, jalan kaki selama 30 menit setiap hari
- Pertahankan BB normal
- Jangan duduk atau berbaring dalam waktu yang lama tanpa menggerakkan kaki
- Hati-hati penggunaan pil kontrasepsi
Tindakan pembedahan (thrombektomi) diperlukan mutlak bila bekuan darah sedemikian amat besar sehingga menghambat total aliran darah.
Meskipun demikian, tindakan pembedahan juga dapat menimbulkan resiko baru untuk mendapatkan DVT kembali.
Komentar seputar Deep vein Thrombosis (dikutip dari MLDI) - sedikit di edit (tanpa mengurangi isi/makna tulisan yang sebenarnya)
Ada info ttg Herbal. Nama produknya Venosmil yang berisi Hidrosmin.
Tersedia dalam bentuk oral dan salep.
Keterangan lengkap dari produsennya :
Hidrosmin bisa membantu karena mempunyai 3 mekanisme kerja yang bersifat sinergis
1. Memperbaiki aliran darah dan cairan limfa (sirkulasi mikro) 2. Memperbaiki hemorological dalam hal ini elastisitas dinding eritrosit, mengurangi trombosit yang menyebabkan sumbatan
3. Meningkatkan tonus vena sehingga aliran darah lancar dan tidak menumpuk di perifer.
Intinya adalah memperbaiki aliran darah yang ada hambatan sehingga sirkulasi menjadi lancar sehingga keluhan yang diakibatkan DVT (nyeri,berat di tungkai dan adanya rasa suatu desakan dari pembuluh darah yang tersumbat) dapat dikurangi.
Tersedia dalam bentuk kapsul dan juga ada gel yang dioles, sebaiknya dikombinasi.
Tentunya perlu diketahui juga seberapa berat kerusakan pada daerah tsb,disamping itu adakah kerusakan pada katup vena untuk mengetahui itu hal itu coba periksa ke dokter penyakit dalam yang berkaitan dengan darah, atau juga bisa ke dokter bedah vaskuler, yang ini mungkin hanya terdapat di RS yang besar seperti rumah sakit pendidikan (RSCM, Sutomo, Kariadi, Hasan Sadikin). Bila dioperasi biasanya membaik.
Ibu Janti SW, atnis@cbn.net.id
....... pernah dengar tentang KombuCha ? Juga Aloe Vera? saya rasa keduanya bisa membantu 'mencairkan'bekuan darah di vena; resep2nya untuk bisa lebih dinikmati sebagai pemanja lidah bisa dikreasikan sendiri; misalnya: KombuCha dibikin sorbet dan dicampur dengan selei jeruk songkit (berikut kulitnya) bisa jadi minuman yang asyik dan segar sekali; begitu pula Aloe Vera (Lidah Buaya) dibikin koktil dicampur dengan kelapa muda dan biji selasih. Namun, makanan/minuman apapun yang bermanfaat bagi tubuh kita kalo dikonsumsi hanya sesekali saja, dan tetap amburadul pola makan/minum sehari-harinya, ya jangan diharapkan bisa terasa manfaatnya

Kamis, 02 Februari 2006

A Day in The Life (It’s an Ordinary Day… just Like Any Other Days)

I read the news today oh boy,

about a kucky man who made the grade,

and though the news was rather sad,

well I just had to laugh,

I saw the photograph…


Woke up, fell out of bed,

dragged a comb across my head,

found my way downstairs and drank a cup,

and looking up I noticed I was late…


Potongan syair lagu The Beatles, yang menginspirasi judul di atas.


Ya… itu memang satu hari yang biasa saja dalam hidupku. Bangun pagi, belum sempat menikmati istirahat panjang setelah pulang agak larut, kemudian pagi harinya diminta menggantikan dinas teman sejawat. Untungnya tidak perlu waktu lama untuk menerobos Pasar Ciputat yang belum begitu macet. Kadang stres juga menyetir sendirian melewati jalanan ini.


Hari bergulir agak siang. Seorang ibu berumur 38 tahun masuk ruang periksa. Senyum kecil merekah di wajahnya yang terbalut kerudung. Ia mengenaliku, begitupun sebaliknya. Berarti dalam satu kunjungan, aku yang memeriksanya, mungkin. Kupastikan melalui layar monitor mencari namaku dalam kunjungan terdahulu.


“Ada keluhan apa, Bu?” kata-kata sakti pembuka anamnesis* terucap.

Kepalanya sakit. Kuminta perawat untuk memeriksa tekanan darahnya: 110/70. Normal. Kubaca catatan rekam mediknya di komputer: tidak ada riwayat hipertensi. Apakah ibu pakai kacamata, tanyaku. Tidak, jawabnya.

“Mungkin saya masih sedih setelah anak laki-laki saya meninggal,” ujarnya. Ekspresi wajahnya mulai berubah. Tampak beberapa tahun lebih tua.

“O, ya?” nada bertanya yang kadang terdengar agak melecehkan.

“Iya, Dok, yang meninggal di LKC tiga bulan yang lalu.”

Aku berpikir keras, berusaha mengingat-ingat. Kutunjukkan ekspresi wajah seolah-olah aku ingat, padahal tidak. Siapa ya? Aku familiar sekali dengan wajah sang ibu. Tapi… sudahlah.

“Sekarang anaknya yang ada berapa?”

“Dua. Laki-laki semua.”

“Tuh, alhamdulillah masih ada dua, laki semua pula,” maksudku untuk menghiburnya.

Kuberi saran bahwa keluhan nyeri kepalanya adalah akibat stres pikiran, dan untuk meredakannya adalah dengan menenangkan pikirannya yang masih bersedih, sambil menyerahkan kertas resep berisi obat pereda nyeri yang diminum jika perlu saja. Yee… itu sih semua orang juga tahu, batinku.


Aku bermaksud memanggil pasien berikutnya. Catatan rekam mediknya belum terdokumentasi dalam sistem jaringan komputer, masih tertulis di kertas status pasien biasa.

“Suami saya, Dok. Dia sakit kepala, tapi tidak bisa datang,” ibu di hadapanku otomatis menyahut, seolah-olah tahu aku akan memanggil nama suaminya.

Aku agak kecewa, karena ada riwayat hipertensi tertulis di rekam mediknya. Seharusnya ia datang untuk memeriksakan tekanan darahnya. Bisa saja nyerinya berhubungan dengan tekanan darahnya.

“Dia sakit sekali, sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saya nggak bisa membawanya. Boleh minta obatnya kan, Dok?” si Ibu memohon.

Sebenarnya aku tidak setuju. Menurutku jika hanya sekedar sakit kepala, setelah minum obat pereda nyeri, ia pasti dapat memaksakan diri untuk datang ke LKC.

“Ongkosnya mahal, Dok,” lagi-lagi si Ibu mampu menebak isi kepalaku. “Dari rumah ke sini naik angkot Rp 2500. Pulang-pergi Rp 5000. Belum ongkos ojeknya. Dari rumah ke luar harus naik ojek, karena agak jauh.”

Aku kembali tertegun. Ini hal yang biasa, sebenarnya. Banyak orang yang sakit (bukan sekdar batuk-pilek, atau nyeri kepala biasa) dan harus memeriksakan diri ke Puskesmas atau layanan kesehatan lainnya, namun dengan alasan tidak punya ongkos, mereka datang dalam keadaan penyakit lanjut.

“Kasihan, Dok. Bapaknya sakit. Siapa yang cari uang dalam keadaan seperti ini. Cobaan apa lagi yang saya terima ini…” Bulir-bulir air mata mengalir turun dari kedua kelopak matanya. Suaranya bergetar.


Duh… jangan sampai ibu ini menyesali nasibnya. Hidup dalam kemiskinan, ditinggal mati anak laki-laki tertuanya, plus kepala keluarga yang tidak produktif dalam mencari nafkah akibat sakit.

Jangan nangis ya, Bu. Sabar ya, Bu. Kutunjukkan empatiku padanya. Banyak orang yang sama susahnya dengan ibu, batinku. Ibu tidak sendirian. Malah ada yang lebih susah dari ibu. Tentu saja ini tidak kuucapkan. Kuakhiri dialog dengan memberikan resep juga untuk suaminya.


Hari yang biasa bagiku di sini. Berhadapan dengan kaum dhu’afa dengan segala persoalan hidupnya. Mungkin sebuah acara di Trans TV yang judulnya menurutku amat berkesan tidak mensyukuri nikmat akan berucap: “Kejamnya Dunia”.


Tidak sampai selang sejam, seorang ibu berusia awal tiga puluhan masuk menggendong seorang bayi, dan anak perempuan berumur empat tahun berjalan lincah di sisinya.

Pemandangannya tidak biasa. Si bayi tergeletak lemah dengan selang tipis menjulur keluar dari salah satu sisi lubang hidungnya. Namanya naso gastric tube (NGT) atau “pipa” hidung-lambung, sebuah selang elastis yang dimasukkan dari lubang hidung terus mencapai lambung. Fungsi utamanya untuk memasukkan makanan cair atau obat pada pasien yang kesadarannya menurun, dapat juga menguji adanya perdarahan atau zat racun dalam saluran cerna dan “membilasnya”.

Aku membaca catatan rekam medik, yang terakhir menunjukkan “datang untuk mengganti NGT”. Ternyata balita yang sudah berumur 14 bulan ini didiagnosis oleh dokter anak “mengalami” ensefalitis (aku tidak boleh menuliskan “menderita”, karena akan dimarahi jika ketahuan seorang dosen Ilmu kedokteran komunitas masa kuliah dulu), suatu peradangan dalam jaringan otak, dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau penyebab lainnya. Tidak ditulis dalam statusnya. Yang jelas kesadarannya tidak membaik sampai saat ini, sehingga si anak tidak mampu menerima respon dari lingkungan luar, sekalipun untuk refleks sederhana seperti menelan makanan atau minum melalui mulutnya. Itu alasan NGT senantiasa terpasang, dan diganti setiap dua minggu sekali, menghindari kolonisasi bakteri penyebab penyakit dalam selangnya.

Jujur saja, aku yang sudah terbiasa melihat pasien sakit berat, masih merasa kasihan melihatnya. Kuminta ia bergeser ke meja tindakan, dengan bantuan seorang perawat, selang hidung-lambungnya diganti dengan yang baru. Si anak menangis karena merasa tidak nyaman. Refleks nyerinya masih bekerja dengan baik. Agak sulit juga memasang NGT pada batita yang kesadarannya sukar diuji. Kekhawatiran terbesar adalah selang salah masuk ke batang paru-parunya, dan mampu menyebabkan kekurangan oksigen berujung pada kematian. Tetapi ada prosedur yang dapat mencegah kesalahan ini.

“Anaknya masih belum bisa apa-apa ya, Bu?” tatapku pada si ibu yang tingginya kira-kira sepuluh sentimeter lebih rendah. “Maksudnya jika dimasukkan makan ke dalam mulutnya, ia akan mengecap-ngecap merasakan ada sesuatu.”

“Kadang-kadang bisa,” jawabnya singkat sambil menunduk, terus menatap anaknya. Melihat ukuran sang anak, lebih kecil dari batita seusianya.

“Dapatnya susu apa, Bu?”

“LLM,” lagi-lagi masih menundukkan kepalanya, tidak menatapku.

“Ibu tolong lihat saya dong, kok nunduk terus,” ucapku halus. Maksudku ingin menangkap perasaan si ibu secara penuh. Jika dia mengalami suatu masalah dengan si anak, keluarkanlah semuanya saat ini juga. Aku ingin menangani semua kasus yang kuhadapi secara menyeluruh. Apakah ibu ini memang pemalu.


Ternyata si anak pernah dirawat sampai satu bulan di sebuah RS swasta dan pemerintah. Tidak ada perkembangan yang berarti selama perawatan, hanya saja kesadarannya sedikit lebih membaik. Ia boleh dibawa pulang dengan NGT senantiasa terpasang untuk memastikan asupan makanan terus masuk. Berat badannya hanya 5,6 kg dengan umur 1 tahun 2 bulan. Gizi buruk tentunya.

Aku penasaran dan memeriksa beberapa refleks lainnya. Kuarahkan lampu senter menyorot kedua bola matanya secara bergantian. Negatif. Tidak ada refleks cahaya sama sekali. Pupilnya tidak mengecil. Kemungkinan besar si anak juga mengalami kebutaan.

“Bu, anaknya bisa mendengar suara ibu, tidak? Misalnya kalau dipanggil ia akan merespon.” Aku tidak langsung menyampaikan hasil pemeriksaanku barusan, melainkan mengajukan pertanyaan lain.

Sang ibu—masih menundukkan kepalanya—tampak ragu-ragu. “Kadang-kadang bisa,” jawabnya. Ia tampaknya ingin menanyakan maksud pertanyaanku.

“Bu, sepertinya anaknya juga tidak bisa melihat. Barusan saya tes pakai cahaya, tidak ada responnya.”

Deg, kata-kata ini meluncur begitu saja dari mulutku. Sudah menjadi kebiasaanku menyampaikan keadaan pasien sejelas mungkin pada dirinya atau keluarganya, tentu dengan cara sehalus mungkin, melihat situasi dan kondisi. Aku berasumsi si ibu sudah tahu keadaan anaknya sejak dirawat sebulan lamanya dari dokter-dokter spesialis anaknya, termasuk kemungkinan buta dan tulinya. Seharusnya dokter yang dulu merawat sudah menyampaikannya.


“Bener, Dok?” suaranya bergetar. Kali ini menatapku. Matanya merah, seolah-olah mulai meleleh, dan mengalirlah air matanya. Hidungnya pun memerah. Ia kembali menunduk, dan mengeratkan dekapannya pada si anak. Seolah-olah sang anak akan pergi meninggalkannya.


Oh, tidak, lagi-lagi aku membuat dua orang menangis hari ini. My fault, yes, it’s my fault. But she should’ve known this from her paediatricians. How come they didn’t tell her before? Or maybe she has already known, but my statement emphasized her worriness. Her belief for so long, that her daughter would be just fine.


Sudahlah, sekalian saja kusampaikan semuanya.

“Bu, dulu kata dokter anaknya, dia dapat pulih seperti sediakala tidak?”

“Saya nggak nanya,” jawabnya.

“Iya, Bu, kalau menurut saya, sepertinya akan sangat sulit untuk kembali pulih seperti anak-anak sehat lainnya,” jelasku jujur. Ia harus tahu sejak saat ini, daripada kesedihan berlarut di kemudian hari. “Tapi lebih pastinya, ibu konsultasi saja dengan dokter spesialis anaknya,” seraya kubuatkan lembar konsultasi bagi relawan dokter spesialis anak di sini, “ini saya buatkan pengantarnya. Yang penting untuk saat ini, dia mendapatkan makanan cukup, dijaga kesehatannya jangan sampai sakit. Perkiraan saya tadi belum tentu benar, lho. Anak-anak ibu yang lain tidak ada yang mengalami sakit seperti ini kan?”

Ternyata tidak ada riwayat penyakit serupa pada kakak-kakaknya. Balita dengan ensefalitis (aku kurang yakin juga dengan diagnosisnya) ini adalah anak ketiga, dengan dua anak pertama yang sehat-sehat.


Selanjutnya si anak dipindahkan ke meja konsultasi gizi, mengingat adanya penyerta gizi buruk, yang perlu mendapatkan penanganan tersendiri. Dari anamnesis dengan ibu ahli gizi kami, diketahui bahwa suaminya adalah sopir pribadi. Selama ini susu masih mampu terbeli dari penghasilan suaminya.


Bandingkan saja dengan pasien berikutnya hari itu. Seorang ibu yang mengeluh panas-dingin sehabis kehujanan, ketika sedang mencari kayu. Ya, mencari kayu bakar. Ia bekerja sebagai seorang pencari kayu bakar. Inilah member LKC, dengan segala kedhu’afan yang dimilikinya. Wajar saja ia diterima sebagai anggota dan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis 100% jika sakit (ongkos transportasi ke rumah tidak ditanggung).


Menjelang waktu dzuhur, seorang bayi lain datang dengan sumbing bibir dan langit-langit (labiopalatoschizis). Ia member baru, belum pernah memeriksakan diri sebelumnya ke LKC. Apa lagi maksud kedatangannya selain meminta bantuan untuk operasi bibir sumbing gratis.


Bayi berusia 7 bulan ini mempunyai berat badan bagus, bahkan cenderung agak obese. Anaknya pun sangat ceria, dan kooperatif saat diperiksa. Aku menjelaskan untuk operasi, dokter bedah plastik di sini mensyaratkan berat badan minimal 10 kg. Artinya kurang empat kilogram lagi untuk si kecil. Masalah yang ada sekarang adalah: si bayi menghabiskan cukup banyak susu bubuk SGM 2. Satu kotak bisa ludes dalam dua hari saja. Penghasilan si ayah berbadan lebih tinggi dan lebih besar dariku yang berprofesi sebagai satpam di sebuah yayasan Islam terkemuka di Jakarta Selatan sebesar Rp 300 per bulan tidak mampu menanaggungnya (ini kalimat majemuk banget ya, tidak mengikuti kaidah ekonomi kata!). Dengan berat hati aku menyampaikan bahwa LKC tidak mampu menanggung semua biaya member, misalnya dalam pengusahaan susu. Kasus yang lebih umum, jika tidak ada ASKES GAKIN dan SKTM, LKC tidak akan mampu membiayai operasi seluruh member-nya di RS rujukan. Sayang sekali dulu si ibu yang sempat mampu memerah susunya untuk ditampung dalam botol dengan dot khusus ini sudah ‘kering’ ASI-nya. Padahal menurutku, ASI yang berdasarkan pada prinsip ‘on-demand’ ini tidak akan kering selama ibu rajin memerah dengan teknik yang benar, sepenuh hati. Ya, bandingkan saja dengan gaji si ayah yang habis untuk membelikan susu salah satu anaknya, dari empat anak yang dimilikinya.


There are times I find it hard to sleep at night
We are living through such troubled times
And every
child that reaches out for someone to hold
For one moment they become my own


And how can I pretend that I don't know what's going on?
When every second, and every minute another soul is gone?
And I believe that in my life I will see (oh yea) an end to hopelessness, of giving up, of suffering


If we all stand together this one time
Then no one wil be left behind
Stand up for life
Stand up and hear me sing
Stand up for love


Aku cukup terkesan dengan lagu hits yang dinyanyikan Destiny’s Child ini. Pertama kali melihat klip videonya sebagai lagu tema “Peduli Kasih Indosiar”. Setiap menyaksikan di TV, atau mendengar lantunan syair dan iramanya di radio dalam mobil, aku terbayang pada pasien-pasien kecilku di LKC yang bernasib kurang-lebih sama dengan mereka yang ditayangkan dalam video tema.


Yeah… if we all stand up together for love, then no one will be left behind. I’ve passed so many ordinary days with hopeless and suffered people, so that I’m afraid I’ll lose my empathy, and judge those as ordinary things not to be worried. Too many poor people in this country. Too many hopelessness and suffering around me. But the deepest side of my heart isn’t dead already.


It’s just a day in the life. And I’ll still go through these days. With love and care to others. Hopefully.


Menulis dalam mood sehabis bertemu lagi dengan kasus bayi dengan bibir sumbing yang menderita bronkopneumonia berulang, kemarin lusa. Menyaksikan ekspresi kesedihan dari sang ibu, serta kasih sayang tulus dari sang ayah mengajak komunikasi anaknya yang cacat, memberikan perasaan syukur atas nikmat Alloh yang luar biasa.


There are places I remember, all my life

Though some have changed

Some forever not for better

Some have gone, and some remain…


Though I know I’ll never lose affection

For people and things that went before

I know I’ll often stop and think about them

In My Life.. I Love Them All (The Beatles).


*dialog antara dokter dengan pasien untuk mengeksplorasi keluhan dan mencapai suatu kesimpulan diagnosis

Selasa, 24 Januari 2006

Mamografi
adalah suatu pemeriksaan untuk mammae (payudara) dengan menggunakan sinar x-ray dosis rendah.
Dipakai untuk mendeteksi dini tumor payudara pada wanita, tanpa disertai keluhan atau yang disertai keluhan. Keluhan seperti adanya benjolan pada payudara, cairan yang tidak normal keluar dari puting payudara atau adanya nyeri pada payudara (sebelum atau sesudah menstruasi - untuk menyingkirkan bahwa nyeri yang ditimbulkan bukan dikarenakan sindroma pre menstrual).
Skrining mamografi biasanya direkomendasi untuk setiap wanita diatas 40 tahun atau dibawah usia 40 tahun jika mempunyai faktor resiko terkena kanker payudara.

Beberapa faktor resiko kanker payudara adalah :

1. Usia lebih dari 30 tahun
2. Tidak / belum menikah lebih dari 30 tahun
3. Tidak mempunyai anak
4. Tidak menyusui anak selama 2 tahun (ASI eksklusif)
5. Menstruasi pertama pada usia yang lebih lambat dari normal
6. Menopause pada usia lebih awal dari normal
7. Pernah ada riwayat memakai obat hormonal
8. Mempunyai keluarga yang pernah mengalami kanker payudara atau kanker di bagian tubuh yang lain
9. Pernah operasi payudara atau tumor didaerah kandungan
10. Pernah mendapat pengobatan dengan jalan radiasi di daerah dada

Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan mamografi tidak selamanya tepat dan akurat seringkali justru pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter Bedah atau pasien sendiri (SADARI = perikSA payuDAra sendiRI) hasilnya lebih tepat.

Pada waktu melakukan mamografi :

1. Jangan memakai deodorant pada ketiak, talk / bedak pada ketiak atau payudara dan sekitarnya.
Karena dapat mengaburkan hasil pemeriksaan, berupa spots / bintik Kalsium
2. Beritahu semua keluhan / gejala yang dirasakan pada ahli yang melakukan mamografi
3. Tanyakan dengan jelas apa yang didapat dari hasil pemeriksaan mamografi
4. Jangan memakai perhiasan atau baju diatas pinggang, Pasien akan mengenakan pakaian khusus yang telah disediakan

Keuntungan Mamografi :

1. Pemeriksaan mamografi tergantung pada operator / ahli yang melakukan pemeriksaan. Apakah bisa mendeteksi tumor payudara yang kecil tergantung dari kemampuan operator. Idealnya yang melakukan pemeriksaan mamografi adalah dokter yang sebelumnya telah melakukan pemeriksaan terhadap payudara pasien sehingga hasilnya lebih akurat.
2. Jika pemeriksaan mamografi di lakukan oleh yang benar-benar ahli, maka mamografi dapat mendeteksi adanya jenis tumor ductal carcinoma in situ (DCIS) - jenis tumor yang paling tidak membahayakan , yang pada pemeriksaan fisik tidak akan bisa terdeteksi.

Kerugian Mamografi :

1. Tidak boleh dilakukan jika hamil
2. Banyak yang mengalami false positive, artinya pada pemeriksaan mamografi hasilnya positif (berarti pasien yang bersangkutan mengidap kanker), ternyata pada pemeriksaan lanjutan yaitu biopsi (pemeriksaan dengan mengambil sedikit jaringan tersangka kanker untuk diperiksa di Lab.Patologi Anatomi) hasilnya negatif (pasien yang bersangkutan tadi tidak mengidap kanker payudara). Biopsi ini adalah pemeriksaan invasif yang termasuk gold standard untuk pemeriksaan tumor payudara (dilakukan dengan jalan melakukan tindakan / operasi)
Kejadian false positif (hasil mamografi positif kanker tapi ternyata pada akhirnya tidak terbukti ganas), pada usia 40 - 49 tahun sebesar 30 % , sedangkan diatas usia 50 tahun, sebanyak 25 % . (sumber : American College of Radiology)
3. Tidak semua kanker payudara dapat tervisualisasi dengan baik lewat pemeriksaan Mamografi
4. Pemeriksaan mamografi dilakukan dengan cara menekan payudara. Untuk sebagian pasien, penekanan payudara dirasa sesuatu yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan terutama bagi mereka yang sebelumnya mempunyai gejala nyeri pada payudara.
5. Hati-hati bagi pengguna payudara implant.
Bagi wanita yang telah menjalani operasi implant payudara terbuat dari silikon atau salin, maka jaringan payudara yang abnormal bisa tidak terdeteksi kalau jaringan implant tadi di letakkan diatas / di permukaan jaringan payudara tersangka kanker.
Bahkan dengan metode menekan payudara pada pemeriksaan mamografi ini dapat mengakibatkan ruptur / pecahnya implant payudara yang terbuat dari silikon atau salin.
Sehingga bagi wanita pemakai implant, harap memberitahu sebelumnya kepada operator yang melakukan mamografi.

Akhirnya, mengingat keterbatasan dari pemeriksaan mamografi ini maka tidak setiap wanita wajib melakukan mamografi.

MAMOGRAFI DILAKUKAN BILA ADA INDIKASI, sebagai berikut :

1. Skrining pada wanita yang mempunyai faktor resiko tinggi untuk mendapat kanker payudara (ada 10 faktor resiko, lihat pembahasan diatas)
2. Jika massa / benjolan yang teraba pada payudara tidak jelas.
3. Jika dokter meraba adanya benjolan pada kelenjar getah bening aksila (ketiak) dan supra klavikula (diatas tulang klavikula / leher) walaupun tidak disertai terabanya massa / benjolan pada payudara
4. Untuk usia 40 - 50 tahun dilakukan 2 tahun sekali, sedangkan lebih dai 50 tahun dilakukan setahun sekali.
Lihat juga obrolan soal Mastalgia ....

Senin, 23 Januari 2006

Complications: A Surgeon's Notes on an Imperfect Science by Atul Gawande

This is the BEST non-fiction book I've ever read!!

Inilah buku yang menjelaskan sisi-sisi manusiawi kehidupan seorang dokter (ya.. Dokter juga Manusia :-) Bahwa dokter adalah manusia biasa yang bisa berbuat kesalahan, segala keterampilan yang Dokter peroleh adalah melalui pengulangan yang membutuhkan jam terbang, dan 'lahan berlatih' seorang dokter adalah Manusia juga! Inilah yang membedakan profesi dokter dari lainnya. Namun tidak berarti buku yang ditulis oleh seorang dokter ini lantas membenarkan tindakan malpraktik. Enaknya, aku akan mulai mengutip beberapa isi buku yang sangat menarik ini.

Atul Gawande adalah seorang dokter bedah umum (general surgeon) berkebangsaan Amrik, juga seorang penulis di majalah kenamaan "The New Yorker". Jika sempat membuka situs majalah internet Slate.Com, Anda juga akan menemukan beberapa tulisannya. Berbekal pengalaman sehari-harinya, khususnya pada masa-masa residensi (sekolah spesialisasi), ia banyak memaparkan ilustrasi dari kasus-kasus bedah.

Membaca Pendahuluan-nya saja, Anda akan langsung tertarik untuk tidak menghentikan membaca buku ini. Penulis memulai cerita dengan satu kasus bedah yang ia dapatkan di masa residensinya. Dan ia menulis, "Aku sadar, ilmu kedokteran merupakan sesuatu yang aneh yang kadang merisaukan. Taruhannya begitu tinggi, kewenangan yang diambil begitu besar. Kami cekoki orang dengan obat, kami masukkan jarum dan slang ke tubuh mereka, kami kutak-katik mereka secara fisik, biologis, dan kimiawi, kami buat mereka berbaring tak sadar, lalu membukakan tubuhnya untuk dilihat semua orang.... maka akan tampak betapa kacau, tak pasti, dan juga mencengangkannya ilmu kedokteran itu."

Dan Atul Gawande meneruskannya dengan ilutrasi kasus seorang anak dengan massa tumor di daerah dada yang membuatnya sesak napas, dan para dokter menghadapi dilema pilihan tindakan apa yang akan dikerjakannya. Ya: DILEMA. Suatu hal yang jamak dalam dunia mayoritas abu-abu ini (bukan hitam-putih).

Bagian 1 buku ini (judul besarnya: "Kekhilafian") menggambarkan betapa mudah seorang dokter berbuat salah, dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, tak lupa kisah nyata yang bisa diambil pelajarannya.

Dr Atul Gawande menceritakan pengalaman pertamanya memasang infus vena sentral pada seorang pasien, mulai dari tidak bisa menemukan bagian ini, sampai ia menjadi demikian mahir dan harus mengajarkan pada orang lain. Ia menulis: "ada yang berbeda di kedokteran: orang berlatih dengan manusia!" Bagi Anda yang kebetulan pernah menjalani masa-masa pendidikan kedokteran, pastinya kadang Anda akan tersenyum sendiri, mengingat-ingat pengalaman pertama mengerjakan suatu tindakan pada pasien, atau bagaimana teknik berbicara dengan mereka.

Pernahkah Anda berobat ke sebuah RS, dan harus menghadapi kenyataan yang melayani Anda adalah seorang ko ass (mahasiswa kedokteran), atau seorang residen (bukannya dang dokter spesialis senior)? Betapa kecewanya Anda. Sudah membayar mahal untuk sebuah layanan kesehatan bermutu, dihadapkan pada sebuah tindakan 'eksperimental'. Apa-apaan ini?

Lagi-lagi Dr Gawande memberikan argumentasinya yang sangat tajam: "Inilah kenyataan yang tidak enak tentang pengajaran... hak pasien untuk mendapatkan layanan yang terbaik harus diutamakan di atas tujuan mendidik para calon ahli. Kita menginginkan layanan yang sempurna tanpa latihan. Tetapi, setiap orang akan menghadapi bahaya bila tak ada seorang pun dilatih untuk jadi ahli di masa depan. Maka, pembelajaran berlangsung secara sembunyi-sembunyi,..."

Masih banyak argumen telak lain yang disampaikan Dokter Spesialis Bedah sekaligus peneliti di Brigham Women Hospital ini. Namun tidak berarti isi buku ini melulu 'membela' dokter. Dr Gawande juga memaparkan kisah beberapa sejawatnya yang tidak boleh ditolerir kesalahannya. Dalam hal ini, pembaca akan melihat dalam proses penulisan buku, Atul Gawande mengadakan interaksi langsung dengan tokoh-tokoh yang disebutkannya, dan mengadakan pembicaraan intim dengan mereka.

Penulis juga memaparkan mengenai malpraktik. Ia punya argumentasi menarik akan dampak tuntutan malpraktik: "Masalah yang lebih berat tentang tuntutan malpraktik adalah bahwa dengan memerkarakan kesalahan ini, para dokter menjadi enggan membuka diri kepada publik. Sistem yang menyimpang ini membuat pasien dan dokter berada pada sisi yang berlawanan, dan mendorong kedua pihak untuk mengajukan pandangan yang semakin saling menjauh tentang suatu kejadian. Dengan demikian, bila terjadi sesuatu yang buruk, hampir mustahil dokter akan bicara kepada pasien dengan jujur tentang kesalahannya."

Buku ini juga menyimpulkan penulis seorang dokter yang cerdas dan banyak membaca. Banyak sekali kutipan dari jurnal-jurnal kedokteran bergengsi, dipaparkan dengan bahasa yang memudahkan semua orang memahaminya. Referensinya sangat kuat dan mampu membuat hubungan antara satu sumber dengan sumber lainnya dalam membahas sesuatu. Tidak sedikit hal baru yang aku dapatkan setelah membaca buku ini. Misalnya teknik kolesistektomi (tidak penting bagi seorang dokter (umum) untuk mengetahui teknik ini, lagipula aku tidak pernah ikut operasinya di masa ko asistensi dulu), ilmu terkini mengenai nyeri (pain), rasa mual (nausea), wajah merona (blushing), dan operasi pintas lambung (mungkin teknik ini sampai sekarang belum dilakukan di Indonesia). Beberapa yang kusebutkan terakhir terdapat di Bagian 2: Misteri. Di sini penulis menjelaskan beberapa hal yang sampai saat ini masih menjadi misteri dalam ilmu kedokteran, namun upaya mengatasinya dan penelitiannya masih terus berlangsung. Inilah kehebatan ilmu pengetahuan yang tak pernah berhenti mencari dan mencari. Dan kita akan dihadapkan dengan susunan kalimat yang sangat enak dibaca, menceritakan keterbatasan dokter dalam mengatasi misteri-misteri ini. Pembaca pun akan menjadi maklum dengan keterbatasan dokter, sekaligus menghargai upaya mereka.

Bagian ketiga (terakhir) berjudul: Ketidakpastian. Pembaca akan mendapatkan kisah sesungguhnya akan autopsi mayat (membuatku ingin menuliskan blog tentang autopsi di Indonesia), pilihan akan suatu tindakan yang diserahkan pada pasien (baca: informed consent--maksudnya pasien diberikan penjelasan akan suatu tindakan medis yang akan dilakukan, dan setelah pasien paham, ia punya kebebasan untuk menerima atau menolaknya), dan kasus fasiitis nekrotikans yang tidak pernah terlintas di pikiranku (sebagai diagnosis banding selulitis). Dan membuatku ingin membaca bukunya Jay Katz: "The Silent World of Doctor and Patient" (kalau pasien berhadapan denganku, mereka akan menemukan dokter yang sama sekali tidak silent, alias cerewet! Hehehe

Inilah bagian penutup yang cantik. Betapa penulis sangat piawai dalam menentukan urutan-urutan isi bukunya. Bagian ini membuatku--sebagai seorang dokter--berpikir, bahwa di jaman perlindungan hak konsumen, mudahnya tuntutan malpraktik, tidak sedikitnya dokter yang belum memahami pentingnya komunikasi dengan pasien, serta pasien yang diberi kebebasan untuk memilih, Dokter tetap punya hak untuk 'memaksa' pasien, memilihkan tindakan yang terbaik baginya, pada kasus-kasus yang sangat dilematis dan dapat mengancam hidup pasien, meskipun pasien mempunyai pilihan yang lain.

Masih banyak hal menarik lain yang bisa diungkapkan, namun tidak akan utuh jika tidak membaca langsung buku ini dari awal sampai akhir.

Image hosting by Photobucket

Bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat indah. Pilihan katanya baik, enak dibaca, mudah dipahami, meskipun harus menjelaskan permasalahan dalam kedokteran yang mengandung banyak istilah asing. Tampak sekali Dr. Gawande adalah seorang penulis piawai. Meskipun buku yang kubaca ini adalah edisi terjemahan berjudul: "Komplikasi, Drama di Ujung Pisau Bedah: Sebuah Catatan tentang Ilmu yang tak Sempurna", terbitan Penerbit Serambi (www.serambi.co.id).

Sebuah buku terjemahan yang enak dibaca memang tak lepas dari kemahiran penerjemahnya, ialah dr. Zunilda Sadikin Bustami, MS, SpFK, dosen Farmakologi-ku di FKUI.

Tidak sabar rasanya menunggu Atul Gawande menuliskan buku lanjutannya (meskipun ini bukan buku yang dirancang berseri). Atau kapan akan terbit buku serupa yang relevan dengan kondisi Indonesia. Ada yang mau mulai menulisnya?

PS: Penerbit sama sekali tidak membayarku untuk menulis resensi ini

Sabtu, 07 Januari 2006

Voltus V dan Kecepatan Warp

Tatoe arashi ga futou tomo.. Tatoe oo nami ateru tomo.. Kogida sou tatakai no umi he.. Tobikomou tatakaino uzu he..

Belum mengenal potongan syair lagu di atas? Bagaimana dengan ini:

“Voltus Lima sahabat kita semua.. Lima pemuda yang gagah perkasa.. Sangat disukai anak-anak semua.. Dengan robot tempur perkasa Voltus Lima..”

Beberapa dari kita pasti pernah familiar dengan kalimat-kalimat tersebut. Lets say.. sekitar 20 tahun yang lalu. Dinyanyikan oleh Sanggar Cerita Shangrila dalam kaset-kaset cerita anak-anaknya. Dan kita lebih ingat lagi dengan tokoh yang dimaksudkan: Voltus V (baca: voltus five). Robot raksasa bentukan dari lima pesawat tempur, dengan lima orang jagoan berkostum merah-biru-hijau-kuning-pink. Khas Jepang banget deh.

Image hosted by Photobucket.com

Bukan itu yang demikian berkesan buatku. Tapi kenangan masa kecilnya. Inilah sesuatu yang berharga. Kadang manusia membayar harga mahal untuk sebuah kenangan.

Sebagai seorang anak kecil yang dibesarkan di sebuah sudut Jakarta di awal tahun ’80-an, menonton film-film kartun Jepang adalah kebiasaan sehari-hari. Pulang sekolah (baca: TK), ganti baju, pergi ke rumah teman, putar video-nya. Hari ini episode 1, besok episode 2, dan seterusnya sampai habis. Voltus Five adalah salah satu yang paling berkesan buatku. Mengapa? Karena ia termasuk yang paling awal kulihat, paling banyak episodenya, ditonton beramai-ramai, dan warna-warni kostum serta imajinasinya itu yang membuatku sedemikian membekas. Aku bahkan masih menyimpan poster kertasnya, bonus dari majalah Bobo.

Kini dua puluh tahun berselang, aku membangkitkan kenangan masa kecilku ini. Aku membeli satu keping DVD yang berisi 40 episodenya sekitar enam bulan lalu (thanks to DivX technology that compressed all the episodes to one single DVD) via internet seharga Rp 40 ribu. Perasaan yang membuncah ketika mendengar Kenichi berseru: “V TOGETHER.. LET’S VOLT IN,” sambil menekankan telunjuknya pada tombol panel, dan seketika itu kelima pesawat tempur membentuk formasi, dan siap menyatu menjadi tubuh raksasa mecha Voltus V.

Film yang diputar di stasiun TV Jepang pada 1977-78 ini banyak dipuji karena isi ceritanya yang ‘agak’ berbobot. Bukan melulu perang-perangan antara robot jagoan dan monster, terus si jagoan mengeluarkan senjata pamungkas ‘TENKUU KEN’, dan monsternya hancur berkeping-keping. Tapi ada kisah persahabatan dan kasih ayah pada anak-anaknya yang mengharukan. Pada episode-episode awal, kita bisa melihat konflik yang terjadi antara dua tokoh utama, kemudian episode-episode yang menceritakan masing-masing karakter, sampai pada episode-episode akhir yang menunjukkan film ini dibuat dengan pengetahuan teknik cukup memadai. Inilah yang sedikit aku tekankan dalam resensi ini.

Image hosted by Photobucket.com

Voltus V menceritakan planet rekaan bernama Boazan dengan jarak 14 ribu tahun cahaya dari bumi (bayangkan saja, sudah dipikirkan sampai sini). Dengan kecepatan maksimal Mach 20, tentu saja Voltus V tidak akan mencapai planet ini di akhir episodenya. Untungnya ada Solar Bird yang bisa melakukan kecepatan Warp untuk mencapai Boazan. Aha, pastinya pencipta kisah ini penggemar berat Star Trek juga. Menggunakan konsep Einstein mengenai kesatuan ruang-waktu, dengan cara menyatukan dua titik yang terpisah di dalam kesatuan dimensi ini, melalui lubang cacing (wormhole) Voltus V bisa mencapai Boazan dalam hitungan menit dengan selamat. Tidak hancur berkeping-keping setelah melewati Lubang Hitam (Black Hole). Meski konsep milik Stephen Hawking ini sudah dibantah tahun lalu melalui penelitian terbaru. Andaikan pengarang buku The Physics of Star Trek menyaksikan anime ini, pastinya dia akan menambahkan daftar kritikan atas kesalahan-kesalahan teknis konsep fisika yang dibuat.

Yaa… tentu saja, Prof. Lawrence M. Krauss tidak setuju laser yang ditembakkan oleh phaser milik Kenichi dkk bisa terlihat mata, kecuali melalui medium ruang gelap tanpa cahaya.

Bagaimanapun, tayangan yang membangkitkan kenangan masa kecil ini tetap tidak tertandingi untukku.

Image hosted by Photobucket.com

Minggu, 01 Januari 2006

Mempersiapkan Anak menjalani Operasi
Ada beberapa langkah yang dilakukan jika Anak Anda harus dioperasi
1. Usahakan Anak harus mengenali dokter Bedahnya dengan baik ...
2. Waktu operasi harus pagi hari dan mendapat giliran pertama, supaya anak tidak lama untuk berpuasa.
3. Premedikasi (a.l pemberian obat penenang/penghilang rasa sakit) dilakukan di ruangan rawat inap. Hal ini mengurangi rasa takut yang dirasakan anak, karena di ruang rawat inap, si anak masih ditemani oleh orang tuanya. Setelah agak tertidur, anak baru dibawa ke ruang operasi tanpa ditemani oleh orang tuanya.
4. Setelah pasien sadar, usahakan Ibu dan Ayah serta orang-orang yang dekat dengan si Anak berada di sampingnya. Jangan memperlihatkan wajah ketakutan atau khawatir, jadi biasaaaa aja seperti tidak terjadi apa-apa, sikap seperti itu akan membuat si Anak juga tenang.
5. Usahakan membawa mainan si anak yang paling ia sukai. Letakkan pada tempat tidurnya atau di lemari kecil di samping tempat tidur. Sprei dan bantal kesayangan si Anak bisa juga di bawa untuk menggantikan sprei / bantal yang di siapkan RS.
6. Jika Dana untuk perawatan mencukupi, minimal pesan ruang di kelas VIP yang hanya satu tempat tidur dilengkapi dengan TV , sofa dll sehingga si Anak betul-betul merasakan seperti suasana di rumah sendiri.
Mungkin ada yang pernah mengalami hal ini ? Anak anda pernah menjalani operasi ? Anak tetangga mungkin .... atau mungkin ada keluhan untuk dokter bedahnya pada saat Anak atau anak tetangga menjalani operasi ? Atau mungkin ada saran/ide apa lagi yang dipersiapkan orangtua jika Anak menjalani operasi ?
Bagi-bagi pengalaman dan ceritanya ya ....