Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2012

Kita dan Rasa Sepi Seorang Ibu

Mengambil hikmah di seberang waduk Jatiluhur, Purwakarta. Berkisah tentang perburuan janda jompo di Parang Gombong, untuk disantuni, diperiksa kesehatannya dan diobati. Menjajal malam dari rumah ke rumah, satu jompo ke jompo lainnya. Belajar tentang rindu, itu salah satu makna yang bisa kuikat malam itu.

Berawal dari pertemuanku dengan (sebut saja namanya) Nenek Ucuk, salah satu janda jompo yang kutemui dari 8 orang yang akan dikunjungi. Kediamannya hanyalah rumah panggung, kecil, berbentuk satu kamar, dengan penerangan luar yang tak terlalu terang. Tak pernah kubayangkan sebelumnya respon yang muncul dari beliau saat aku ketuk pintu rumahnya. Dengan tubuhnya yang renta, saat beliau keluar dan melihat kami, ia langsung menangis. Teriak, menangis histeris, haru. Tak pernah sebelumnya ada yang mau peduli dengannya, mengunjunginya, bertatap dengannya, bahkan sekadar duduk di teras rumahnya. Begitu tutur beliau sambil sesekali memeluk, merangkul, dan menggengam tangan kami disela-sela cerita dan tangisnya.

Nenek Ucuk, seorang yang hidup lebih dari 75 tahun ini masih sempat merasakan masa penjajahan Belanda dan Jepang. Ia masih sempat menyaksikan banyak penyembelihan kepala manusia pada masanya. Ia yang pernah menyembunyikan anak-anak laki-laki seusiaku dulu dari kejaran penjajah di rumahnya. Kini hidup seorang diri, walaupun ia punya beberapa anak dan cucu. Kesehariannya hanya makan nasi dan kecap dua kali sehari, dan minum dengan air teh manis. Pekerjaannya, hanyalah pengumpul karung-karung bekas. Yang tak kalah menyedihkannya adalah ketika warga sekitar melarang anak-anak kecil mereka bermain di sekitaran rumah Nenek Ucuk ini. Selalu mereka ditakut-takuti bahwa rumah Nenek Ucuk ini adalah 'Sarang Babi'.

Menyaksikan rasa sepi seorang ibu. Itu yang pertama terlintas di benakku saat melihat sang Nenek menangis ketika kami kunjungi, ketika ia sadar bahwa masih ada yang peduli. Berpisah dengan anak, keluarga saja sudah meninggalkan rasa sepi yang gersang pikirku, apalagi jika ditambah harus dikucilkan dari lingkungan. Aku bisa merasakan refleksi yang serupa, akan perasaan mendasar tentang rindu seorang ibu akan anaknya, keluarganya malam itu. Rasa sepi ibu itu naluri yang sangat khas.

Melihat realita tersebut, ditengah padatnya rutinitas yang sering menguasai diri kita, kita perlu sejenak berbicara dengan hati sendiri tentang seperti apakah kiranya hari ini keadaan ibu kita. Rasanya tak berlebihan bila sejenak kita perlu berbicara dengan perasaan kita, adakah rasa sepi kiranya tengah bergelayut di hati ibu kita??

Suatu waktu dalam hidup kita, ibu kita pun adalah ibu yang kesepian. Merindukan kita yang mulai asyik dengan diri kita sendiri. Kita mulai membangun cara pandang berbeda, cita rasa berbeda, dan bahkan mencari alasan yang terlalu rumit untuk merasa tidak bisa memahami seorang ibu secara apa adanya. Di usia kita yang belum terlalu tegak menjadi lelaki atau perempuan dewasa, ibu kita masih dan akan selalu berkata, "Hati-hati nak." Dan terkadang kita banyak menjawabnya dengan " Sudah mengerti bu, aku sudah besar."

Kita dan orang tua memang ditakdirkan lahir di generasi yang berbeda, menghuni zaman yang tak serupa, mengalami perubahan-perubahan budaya yang tak sama, sehingga terkadang muncul perbedaan-perbedaan yang membuat komunikasi orang tua dan anak tak sepaham, kehendak yang tak seiring, dan pikiran yang tak sejalan. Kondisi seperti ini seringkali mewariskan rasa sepi di kehidupan orang tua. Bukan karena mereka ditinggalkan, tapi karena ada keinginan yang tak dapat dipahami oleh anaknya. Ibu kita yang umumnya lebih banyak menghabiskan hari-harinya di rumah memang kadang gagal menangkap dan memahami perubahan yang terjadi pada pribadi dan lingkungan anaknya, perubahan yang tidak disertai kedewasaan dan kemampuan menghormati sebagaimana seharusnya.

Suatu masa dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang menahan rindu. Menanti bertemu dengan anak-anak yang mulai terasa tak lagi membersamainya. Jangankan  bagi yang tak serumah karena harus merantau belajar, bahkan sebagian kita yang tinggal satu atap dengannya tak jarang seperti hidup dalam dunia yang berbeda. Kita dekat tetapi jauh.

Suatu ketika dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang mencintai kita dengan segenap perasaannya yang dulu, tidak berubah. Sama kuatnya, sama tulusnya. Suatu saat dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang tak lelah berharap dan berdoa untuk kita. Bahkan bila pun kita menganggap diri kita telah menjadi sesuatu. Sementara kita terkadang tumbuh dalam keangkuhan-keangkuhan, yang bersama itu mungkin cara kita memahami perasaan ibu kita pun sering berubah.

Sadarilah, bahwa sepi adalah jejak waktu yang tentu saja tak memberi rasa nyaman. Apalagi kita tak bisa tahu kapan ia akan berakhir. Dan seorang ibu adalah sosok yang mungkin sangat sering mengalami itu dalam hidupnya, meski mungkin kita kadang tak menyadari itu sebagai seorang anaknya. Sekali lagi, mari sejenak kita coba renungkan, bicara soal keadaan orang tua. Soal rasa sepi yang seringkali menerpa hidupnya. Saat kita masih punya kesempatan untuk membalas budi mereka, melakukan yang terbaik untuknya. Untuk ibu yang pengorbanannya tak terhingga. Agar jangan sampai ada kata "menyesal" di kemudian hari.

Mungkin kita juga adalah salah seorang anak yang telah membuat ibu merasa sepi, karena meninggalkannya untuk sementara, demi mengejar cita-cita. Hari ini, entah dimanapun setiap kita berada, mari sejenak bicara tentang rasa sepi ibu yang terus menyimpan cinta dan kasihnya pada kita sampai kapan pun. Mari sejenak kita merenungkan keadaannya, di kala kita sedang jauh dari sisinya. Apakah yang sedang dia lakukan kini?? Sesekali obati rasa sepinya dengan rela meninggalkan kesibukkan untuk sesaat pulang menemuinya, mencium tangannya. Atau terkadang, cukup dengan suara saja ibu telah merasa puas. Sebab terkadang dengan sepatah kata sapaan dari kita yang terdengar dari ujung telepon, telah membuatnya bahagia yang tak terkira.

Ibu memang selalu merindukan kita. Sangat merindukan kita. Sampai kapan pun. Gambar wajah kita selalu hadir di benaknya, bermain-main di pelupuk matanya. Dia selalu melempar ingatannya ke masa-masa lalu yang indah ketika kita masih bersamanya, mengenang segala tingkah lucu kita yang menggores kesan indah di hatinya. 

Sukses seorang anak tentunya memberi rasa bangga dan puas di hati seorang ibu. Kelelahan selama bertahun-tahun yang dia alami, akan berakhir tanpa bekas manakala dia melihat anak-anak yang dibesarkannya dengan penuh cinta hidup dalam kemudahan dan keadaan yang lebih baik dari kehidupannya sendiri.

Tetapi tentu bukan hal itu yang paling membahagiakan seorang ibu. Selain kesuksesan dan keberhasilan, seorang ibu sangatlah ingin melihat anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang shalih, berbakti dan berakhlak mulia. Itulah yang paling membahagiakan orang tua. Tak ada yang paling menyenangkan hatinya dan menentramkan jiwanya selain melihat mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah swt. Terlebih ketika mereka telah berada di usia yang semakin senja, selalu ada harapan agar anaknya kelak tetap mengenangnya setelah kepergiannya, dalam doa dan munajatnya, memohonkan ampun untuknya.

Rasa sepi yang paling dahsyat akan dirasakan seorang ibu ketika ia tak menemukan keshalihan pada diri anak-anaknya. Saat beribadah tak ada yang menemani. Ketika berdoa tak ada yang mengamini. Di kala sakit tak ada yang mendoakan. Akhir hidupnya dihantui rasa takut akan kegagalan menuai pahala anak-anaknya.

Rasa sepi yang dialami oleh ibu tentu tak cukup hanya kita bicarakan. Sebab bicara tak akan memberi manfaat untuknya, kecuali agar ada kesadaran yang muncul dari diri kita, untuk mengenali dan mengetahui kondisi itu. Bicara tak akan mengobati rasa sepi itu. Bicara tak akan mengurangi kesendirian dan kerinduan ibu. Yang harus kita lakukan kemudian adalah merenungi apa yang telah kita berikan kepada ibu. Merenungi adalah untuk mengukur kadar perhatian kita kepadanya, agar kita bisa memberinya lebih banyak lagi, dalam hal apapun.

Selalu taatlah kepadanya, jagalah hubungan baik dengannya, hindari hal-hal yang tidak disukainya. Ajaran agama tak memberi kita ruang untuk menolak apapun perintahnya, kecuali jika perintah itu menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya. Tunjukanlah selalu ketaatan kepada mereka, berikanlah bakti kita kepadanya.

"Tidak ada dosa yang dipercepat adzab kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat selain (dua hal), yang pertama berlaku zhalim, dan kedua memutus silaturrahim (dengan orang tua)" HR. Bukhari
 

"Telah berkata Rasulullah saw, ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat: anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan kepala rumah tangga yang membiarkan ada kejelekan (zina) dalam rumah tangganya" HR. Hakim

Maksimalkanlah kekuatan doanya, kejarlah doanya yang tak terhijab, mintalah ketulusannya, dan rengkuhlah ridhanya.
 

" Tiga doa yang mustajab, yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya: Doa orang yang terdzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk anaknya " HR. Tirmidzi
 
Sepenggal kisah pertemuan dengan Nenek Ucuk di Parang Gombong ini, sekali lagi bisa menjadi sebuah refleksi mendalam bagi kita, untuk sejenak bicara tentang rasa sepi seorang ibu. Yang ditengah kesepiannya itu, ia masih senantiasa melantunkan doa bagi anak-anaknya, maupun alm orang tuanya yang sudah lama meninggal. Menjadi sebuah refleksi bagi kita yang masih diberi kesempatan hidup, di masa usia yang masih terbilang 'muda.'

*sebuah catatan pasca Bakti Sosial Parang Gombong, Purwakarta, 23 September 2012*

Selasa, 19 Juni 2012

Kedokteran : Bersakit-Sakit Dahulu, Sulit Kemudian.

Aku masih ingat betul, dulu untuk berada di jalan ini, setidaknya aku harus menyisihkan 50 orang lebih, bahkan diantaranya adalah teman dekatku sendiri, rekan seperjuangan. Pasalnya hanya sekitar 100 kursi yang tersedia dari 5000 orang lebih yang mendaftar di fakultas yang kata kebanyakan orang 'bergengsi' ini, Fakultas Kedokteran. Dengan otak dan kemampuan ekonomi yang pas-pasan, berjibaku di pertarungan ujian ini bagiku sangat melelahkan. Palpitasi, keringat dingin, khawatir berlebih terkadang membersamai moment-moment pra maupun pasca ujian saringan masuk perguruan tinggi ini. Satu awalan sulit, yang akhirnya telah kulewati.

Euphoria akhirnya sempat kurasakan tatkala perjuangan ini membuahkan hasil. 260143 muncul dilayar monitor komputer tanda kelulusan ku di ujian saringan masuk Fakultas Kedokteran yang aku pilih. Euphoria menjadi mahasiswa baru kedokteran, namun sayang tak berlangsung lama. Aku masih ingat betul, hari-hari ku kemudian ditemani textbooks tebal berbahasa inggris, yang terkadang isinya pun sulit aku pahami. Learning issue hampir 3 kali seminggu menghidupkan suasana kamar ku tiap malam nya. Modul-modul laboratorium dan skill lab berbahasa inggris selalu minta dipahami. Belum lagi soal ujian berbahasa inggris nya ditiap 3 bulan dan 6 bulan sekali. Tak tanggung-tanggung, bisa sampai 200 soal berbahasa inggris dikeluarkan, hanya diberi waktu 1 menit aku mengerjakan setiap soalnya. Pantas saja ujian TOEFL diatas 550 menjadi syarat wajib kenaikan tingkatku. Untung saja di ujian ke 3 aku bisa lulus dulu.

Satu lagi yang aku masih ingat betul, ujian lisan. Hampir sekitar 36 kasus yang dipelajari selama satu tahun diujikan dalam waktu 20 menit oleh dua dokter penguji. Dan yang membuat mahasiswa di angkatanku hampir depresi adalah ketika kami harus menghadapi kenyataan, bahwa 50 % nilai kami di tahun itu ditentukan oleh ujian tersebut. Belum lagi ujian praktik yang harus dihadapi, hampir 36 keterampilan klinis yang dipelajari selama setahun, diujikan di 15 stasiun dan harus lulus semua. Gagal di ujian ini setelah satu kali kesempatan remedial membuat kami tak bisa naik ke tingkat selanjutnya. Berbeda dengan fakultas lain, jika kau tak lulus satu mata kuliah, bukan hanya mata kuliah itu saja yang kau ulang, melainkan seluruh mata kuliah. Ibarat tak naik kelas saja ketika masa SMA dulu.

Ada lagi yang masih aku ingat betul, menjadi mahasiswa tingkat akhir. Mungkin kau tahu, di fakultas lain mahasiswa tingkat akhir tentunya akan fokus dengan tugas akhir atau skripsinya. Begitupun dengan kami, hanya saja beda nya, ketika mahasiswa fakultas lain sudah tak ada mata kuliah yang diambil, aku dan kawan-kawan ku masih ada kuliah, tugas, maupun ujian. Belum lagi bulak-balik Bandung-Jatinangor untuk bimbingan berasa jadi warna yang semakin melengkapi. Semacam tingkat terjenuh dalam hidup dihadapi disini.

Sulit kedua aku temui, tentang bagaimana bertahan menjalani proses pendidikan, apalagi untuk mendapatkan hasil memuaskan, "dengan pujian" di wisuda Sarjana Kedokteran.

Masih ada yang aku ingat betul, kali ini tentang aktivitas sosial dan jadwal liburan. Serempak hampir sama kawan-kawan ku di fakultas maupun universitas lain memasuki jadwal libur, rencana backpaker-an, reuni, atau sekadar jalan-jalan banyak mereka persiapkan. Giliran aku mendapat ajakan, kedokteran sedang memasuki fase ujian. Akhirnya hanya bisa berujar selamat jalan dan mengucap salam, cukup menyedihkan memang. Giliran aku libur, waktunya mereka untuk kembali memulai masa perkuliahan, nasib memang. Belum lagi dilema yang dihadapi ketika diamanahi jabatan kemahasiswaan di tingkat Universitas, terkadang rapat ditemani bahan ujian, atau bahkan harus mendelegasikan tugas untuk advokasi ke pihak rektorat karena harus ujian. Ada lagi yang juga aku ingat betul, tentang izin meninggalkan perkuliahan. Hanya 80 % dengan alasan sakit yang disertai surat dokter, acara keluarga, atau ditugaskan pihak Fakultas. Lebih dari itu, atau izin melanggar syarat tersebut, silahkan untuk tak diperkenankan mengikuti ujian, dan kembali mengulang tahun depan.

Sulit selanjutnya yang aku temui, tentang bagaimana menjaga performa sebagai makhluk sosial, bersinergi dengan yang lain, dan menjaga keseimbangan antara akademik dengan aktivitas kemahasiswaan.

Sulit memang, namun bukan berarti tak bisa dilewati. Gelar Sarjana Kedokteran yang membersamai namaku seolah menjadi bukti kesungguhan, bahwa sulitnya proses pendidikan bisa diselesaikan. Euphoria kembali dirasakan, Graha Sanusi seolah jadi saksi bisu perayaan aku dan ratusan wisudawan lain nya . Ucapan selamat dari belasan rekan yang sengaja hadir, dan rangkaian bunga yang juga kuterima semakin membuat khidmat suasana. Terlihat di wajah rekan dari fakultas lain binar mata menjemput masa depan, melanjutkan sekolah S2 atau mencari pekerjaan. Sementara tak lama kemudian, aku harus kembali menghadapi kenyataan, untuk menjadi relawan kemanusiaan, dalam misi pendidikan. (baca: koas, atau dokter muda.)

Masih aku ingat betul, tak lama setelah prosesi wisuda, satu per satu rekan satu angkatan dari fakultas lain sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan beberapa diantaranya sudah memberikan undangan pernikahan. Harus gigit jari, berkaca pada diri yang masih disubsidi penuh oleh keluarga. Sulit lain yang kemudian dirasakan, ketika materi masih jadi bahan pertimbangan utama dalam berkegiatan, ketika membahagiakan orang tua masih jadi harap dan doa terbesar yang masih aku janjikan , ketika harus bersabar untuk melamar gadis yang disukai, atau bahkan mungkin contoh ekstremnya ketika harus merelakan seseorang yang kita harapkan didahului dilamar orang.

Akupun masih ingat betul, dengan peran dokter muda yang dijalankan, tanggung jawab semakin besar harus ditunaikan. Follow Up pasien, ikut operasi, ikut jaga poliklinik, belum lagi bed site teaching, ngerjain laporan kasus, bikin referat, kuliah, dan masih tetap ada ujian. Nilai minimum harus B, kurang dari itu, silahkan mengulang. Belum lagi ada jaga malam IGD maupun Ruangan, masuk koas biasa jam 7 sampai jam 4 sore, lanjut jaga malam dari jam 4 sore sampai jam 6 pagi esoknya, kemudian lanjut aktivitas esoknya sampai jam 4 sore lagi. Begitu ritme hidup ku ketika memasuki jadwal jaga, ibarat jadi zombie keesokan nya. Belum lagi ketika harus ditempatkan di jejaring, bisa di Cibabat, Ujung Berung, Garut, Sumedang, Majalaya, Subang, bahkan mungkin nanti sampai Rancabuaya.

Akupun masih ingat betul, bahwa libur jadi barang langka disini. Tanggal merah, atau weekend bisa kita nikmati jika tak ada jadwal jaga. Libur hanya seminggu setiap 6 bulan sekali, itupun jika tak ada remedial ataupun prolong karena terkena hukuman. Belum lagi izin, tak diperkenankan izin disini, bahkan sakit lebih dari 3 hari dengan surat sakit dari rumah sakit pendidikan yang bersangkutan pun membuat kita harus kembali mengulang bagian yang ditinggalkan.

Sulit yang lain kembali ditemukan, solusi paling tepat tak lain dan tak bukan semata menjaga keseimbangan fisik, mental, pikiran, dan rohani aku pikir.

Akupun masih ingat betul, dengan cerita yang kudengar dan kubaca ketika menjadi dokter kelak. Gaji dokter umum yang dibilang minim, seolah tak sebanding dengan beban kerja yang dipikulnya. Belum lagi jika kita bandingkan dengan gaji para insinyur teknik yang mungkin besarnya bisa berapa kali lipatnya, apalagi jika dibandingkan dengan pengusaha.

Untuk dokter yang ke daerah, aku pun pernah mendengar beberapa kisah nyata yang dialami para pendahulu. Salah seorang alumnus almamater ku di Papua, di daerah konflik, pernah disuguhi tombak oleh penduduk sekitar ketika menjalankan misi pengabdian nya. Berawal dari salah seorang anggota suku yang bertikai, ketika ia terluka terkena parang, secara beramai-ramai ia dibawa ke dokter tersebut. Sambil membawa anggota nya yang terluka, salah seorang anggota suku lain sempat berujar seperti ini ke dokter tersebut, "Jika teman saya mati, dokter tak bisa menolong, maka dokter pun harus mati!". Anggota lain sudah bersiap dengan tombaknya di sekeliling dokter tersebut. Peralatan medis disana terbatas, apalagi ketika didatangi ke rumah seperti itu. Akhirnya, sambil menangis sang dokter mempersiapkan alat seadanya, jarum jahit pakaian, benang jahit pakaian, air hangat, dan api. Sambil berderai air mata, sang dokter memanaskan jarum jahit itu ke api, memasukan benang ke air hangat, lalu mulai membersihkan dan menjahit luka orang yang terluka tersebut menggunakan alat seadanya, jarum dan benang jahit pakaian. Alhamdulillah orang yang terluka tadi selamat, dan dokter itu pun selamat.

Tak usah jauh-jauh ke Papua, di daerah Jawa Barat saja, Sumedang. Aku mendengar cerita langsung dari seorang dokter yang mengalami kejadian ini. Bertugas di sebuah pedalaman, hutan di Sumedang. Pada saat itu sedang santer-santer nya isu terkait dukun "teluh", atau dalam bahasa Indonesia nya dukun santet. Tak ada seorang pun yang berani pada dukun "teluh" saat itu, bahkan kapolsek atau camat setempat pun. Sampai akhirnya suatu ketika, terdapat kejadian salah seorang yang dianggap dukun santet meninggal, ditusuk menggunakan linggis di daerah wajahnya. Tak ayal, tengah malam, sang dokter dibawa ke tengah hutan untuk memeriksa jenazah korban, sendirian. Karena warga sekitar tak ada yang berani menghampiri dukun "teluh" itu, walau hanya sekadar mendekati jenazahnya.

Aku pun masih ingat betul, kejadian akhir-kahir ini, terkait seorang dokter spesialis, konsultan, di sebuah kota besar dan rumah sakit pendidikan pula. Operasi usus buntu seorang artis, pemain band, yang berujung tuntutan mal praktik karena mungkin ada sedikit kekeliruan dalam hal komunikasi. Ini mungkin salah satu cerita dari sekian banyak kejadian yang terjadi.

Entahlah, jika kembali ditelaah, ditelusuri dan dipikirkan. Proses menjadi dokter selalu tak luput dari kesulitan, dimulai dari sulit untuk bisa masuk Fakultas Kedokteran, sulit untuk belajar ketika menjalani proses pendidikan S1 nya, sulit ketika menghadapi program profesi dokter, sulit ketika menjadi dokter umum, baik itu di daerah, maupun di kota besar, bahkan sulit ditemukan walaupun sudah menjadi seorang dokter konsulen. Sulit memang.Bahkan untuk sekadar membayangkan nya pun, aku yakin sebagian dari kita memiliki kesulitan.

Tapi ingatlah kawan, bahwa sulit tak selamanya sulit, sebagaimana mudah tak selamanya mudah. Hanya saja yang dikhawatirkan kesulitan punya nafas lebih panjang dibandingkan semangat kita untuk mengalahkan nya. Sadari benar bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al Insyiraah ayat 6 yang artinya:

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Menjadi hamba Allah adalah suatu kepastian. Menjadi mahasiswa kedokteran, dokter muda, atau menjadi dokter adalah pilihan hidup untuk menjemput takdir sejarah kita. Menjadi aktivis, giat berkontribusi untuk umat adalah saringan alami untuk membuktikan pada dunia bahwa kita adalah hamba yang berbeda dari kebanyakan hamba yang Allah ciptakan. Seperti yang dikatakan Shalahudin al-Ayubi, memang bukan kita yang memilih takdir. Takdirlah yang memilih kita. Tapi bagaimanapun, takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat. Jangan sampai takdir hidup kita tak pernah sampai pada tujuan, jangan sampai mimpi kita terlalu sederhana, dan perjalanan cita-cita sangat lamban dan tidak menghantarkan. Cita-cita punya syarat penuainya, begitupun harapan dan keinginan punya harga amalnya. Kesungguhan mutlak jadi penuainya, dan tekad adalah pengantarnya. Karena ketika pikiran memberikan kita arah, tekadlah yang mendorong kita untuk melangkah, ketika pikiran menerangi jalan kehidupan kita, tekadlah yang meringankan kaki kita menjalaninya. Menjadi apapun kita saat ini, mulai awali dengan tekad untuk mencapainya.

Kesulitan, jenuh, dan menghadapi berbagai permasalahan itu fitrah. Menghadapi kenyataan pahit itu perlu. Karena terkadang manis itu dilalui setelah pahit kita lewati. Menghadapi kenyataan pahit saat ini bisa jadi sebuah pembelajaran, seolah menjadi jeda, untuk kita berbenah, untuk kita mengambil hikmah. Ibarat hujan, akan ada pelangi indah yang kita nantikan. Dan yakinlah kawan, bahwa pertolongan Allah itu hadir sesuai dengan kadar ujian yang Ia berikan.
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya pertolongan itu datang dari Allah SWT pada seorang hamba sesuai dengan kadar ujiannya dan kesabaran itu diberikan oleh Allah SWT kepada seorang hamba sesuai dengan musibahnya."
—HR. Baihaqi
Kesulitan seolah menjadi teman yang membersamai proses menjemput takdir sejarah dokter kita. Untuk itu, keberaniaan nampak menjadi penawarnya. Jangan sampai kesulitan membuat kita patah karena lelah. Akan tetapi, tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri. Risiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus-menerus. Di dalam kesabaran terdapat banyak kebaikan, dibalik kesabaran ada kemenangan.

Kesulitan yang senantiasa membersamai ini seolah menjadi tantangan yang perlu dilewati untuk kemudian kita nikmati ganjaran nya sesuai dengan kadar lelah yang sudah kita kerjakan. Alasan yang membuatku bertahan di jalan ini hingga kini adalah karena disini aku temukan banyak jalan untuk berbagi. Semangat berbagi ini adalah bukti keluhuran jiwa. Konteksnya bukan lagi memenuhi kewajiban, melainkan diatas itu, berbagi lebih mencerminkan rasa syukur, semangat berbakti, dan semangat untuk tidak menjadi mercusuar di tengah kondisi kurang beruntung yang dialami orang lain.

Berada di jalan ini, sampai saat ini telah memberikan kesempatan bagiku bersama beberapa rekan dan mitra lain nya untuk memberikan pengobatan gratis untuk ribuan orang di berbagai tempat, memberikan bantuan medis dalam fase tanggap bencana hampir di setiap bencana yang terjadi terutama di wilayah Jawa Barat, juga menjalankan recovery dan rehabilitasi setelahnya. Selain itu berbagai upaya promotif preventif berupa edukasi kesehatan melalui penyuluhan telah dilakukan untuk ribuan orang di berbagai tempat dan berbagai kalangan, mulai dari murid TK hingga masyarakat lanjut usia. Pendampingan medis untuk berbagai lembaga, organisasi, dan kegiatan atau acara kerap dilakukan. Pembinaan kesehatan menjadi agenda yang diperhatikan, pembuatan kurikulum kesehatan dan monitoring kesehatan ratusan anak jalanan, hingga pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi kader telah dilakukan. Pelatihan kesehatan pun telah dilakukan untuk ribuan orang dari berbagai kalangan di berbagai kegiatan, dengan beragam materi kesehatan. Memeriksa kesehatan ribuan orang, mulai dari kalangan siswa pendidikan anak usia dini (PAUD), pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat lansia juga telah dilakukan, dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk ribuan murid PAUD hingga siswa SD menjadi agenda yang masih dilakukan hingga kini. Berada di jalan ini bagiku memberi kesempatan untuk bisa menciptakan senyum, menjawab harap, dan menghadirkan doa pada ribuan masyarakat di Indonesia.

Selalu ada kemudahan dibalik kesulitan, selalu ada kelapangan dibalik kesusahan, selalu ada ganjaran atas setiap kadar lelah yang dilakukan, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, dan selalu ada bahagia dibalik syukur dan sabar yang dihadirkan.

Dunia kedokteran, ibarat bersakit-sakit dahulu, sulit kemudian. Tapi sekali lagi yakinlah, bahwa ganjaranmu tergantung kadar lelahmu. Ada ganjaran dari setiap sakit dan sulit yang dilewati. Semakin tinggi resiko dan tingkat kesulitan nya, semakin banyak hikmah dan berkah yang kita peroleh di dalamnya. Ingatlah bahwa segala puncak prestasi harus teruji, begitupun menjadi ahli surga harus terbukti di dalam kesungguhan dan kesabaran menghadapi ujian hidup di Jalan Nya. Pahala Allah tidak pernah salah, bagaimanapun niat dan langkah untuk beramal Islami, selalu ada surga dibalik itu.

Selamat menjalankan sisa usia, menjemput keberkahan dalam setiap kesulitan yang dihadapi. Selamat menyehatkan bangsa dengan sehat seutuhnya, terciptanya kondisi fisik, mental, dan ruhani yang baik, yang mampu produktif secara ekonomi maupun sosial. Dan seperti yang dikatakan (alm) KH Rahmat Abdullah, teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.

Rabu, 06 Juni 2012

Benarkah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram?

“…Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar Ra’d, 13:28).

Sangat miris, ketika ayat diatas seolah normatif bagi kebanyakan kita, padahal itulah janji Allah. Ya sekali lagi memang nampak normatif ketika kita mencoba memberi solusi kepada diri maupun orang lain yang kita pedulikan atas kecemasan, kekhawatiran atau ketakutan akan masalah yang mereka hadapi dengan ayat tersebut.

Ingin rasanya aku tunjukkan fakta-fakta dari dunia medis maupun psikologis tentang kebenaran janji Allah pada ayat tersebut. Agar kemudian ini tak hanya menjadi wacana normatif saja.

Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.

Menurut penelitian lain, yang dikemukakan oleh David B Larson dan timnya dari The American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah.

Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard juga telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah.

Patrick Glynn juga mengungkapkan bahwa penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan.

Mungkin bahasan diatas nampak masih general dan superficial, seolah menunjukkan bahwa dengan beragama apapun, asalkan kita beragama kita akan memperoleh ketenangan. Aku ingin ambikan contoh seperti ini, seseorang akan bersih jika ia rutin berwudhu (bersuci dari hadas kecil), kendatipun ia bukan muslim benar? Demikian pula ia akan meraih kebaikan jika ia praktekkan perilaku-perilaku ibadah seperti berfikir, khusyuk dan merenung, karena ia mengoperasikan pusat-pusat yang mirip dengan pusat-pusat keimanan dalam otak yang bekerja untuk rileksasi dan terlepas dari perasaan-perasaan negatif seperti ketakutan, kegelisahan, dan stress. Saat itulah seseorang berpindah dari kondisi keterasingan dan kesendirian kepada kondisi rileks dan tenang, kendatipun ia tidak mendapatkan jatah akhirat (karena tidak beriman kepada Allah swt).

Perlu digaris bawahi disini yang pertama adalah bahwa mereka tidak mendapatkan jatah akhirat (karena tidak beriman kepada Allah swt) dan bahwa mereka melakukan perilaku-perilaku ibadah seperti berfikir, khusyuk dan merenung, untuk mengoperasikan pusat-pusat yang mirip dengan pusat-pusat keimanan dalam otak. Sekali lagi, mirip dengan pusat keimanan dalam otak. Kenapa aku berkata demikian, karena ada sebuah kesimpulan dari penelitian ilmiah yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2001 dari hasil penggunaan teknologi baru scanning terhadap otak yang dilakukan oleh sebuah tim ilmiah yang dipimpin DR. Andrew Newberg, professor Radiology pada Fakultas Kedokteran Universitas Philadelphia, USA ialah : kepercayaan kepada Allah adalah desain dasar (design in built) yang sudah ada dalam otak.

Sebab itu, iman kepada Allah dalam penelitian-penelitian ilmiah moderen bukanlah seperti filsafat dan khayalan masyarakat sebagaimana yang didengung-dengunkan oleh kalangan atheist (kaum darwinis evolutionist dan komunis) yang tidak ada sandaran ilmiahnya pada awal abad 20. Dugaan mereka telah nyata kegagalannya di mana mereka menduga bahwa manusialah yang menciptakan agama mereka sendiri, khususnya setelah ditemukannya fakta ilmiah di atas bahwa manusia telah Allah ciptakan beragama secara alami dan memberi mereka kekuatan/ kemampuan untuk mengenal dan beribadah kepada-Nya.

Sebenarnya telah diterbitkan beberapa studi ilmiah yang menjelaskan bagaimana iman kepada Allah merupakan fitrah yang tertanam dalam diri manusia dan mengoperasikan mekanismenya dengan ibadah adalah jalan menuju sehat dan bahagia. Di antaranya buku : Iman Kepada Allah Tertanam Dengan Kuat dalam Diri Kita, karya Dean H. Hamer, 2005, dan buku : Iman dan Kesehatan, karya Jeff Levin Ph.D, dan buku : Iman, Kesehatan dan Kesuksesan, karya Andrew Perriman.

Namun jika kita ingin telaah lebih mendalam lagi dan lebih spesifik, mengingat Allah dalam tatanan Islam bisa kita lihat dari dzikir. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa mengingat Allah dengan cara Islam ini terbukti mengembalikan produksi endorphin di dalam otak. Zat endorphin yaitu suatu zat yang memberikan efek menenangkan yang disebut endogegonius morphin. Kelenjar endorfina dan enkefalina yang dihasilkan oleh kelenjar pituitarin di otak ternyata mempunyai efek mirip dengan opiat (candu) yang memiliki fungsi menimbulkan kenikmatan (Pleasure principle), sehingga disebut opiate endogen. Oleh karena itulah dzikir atau mengingat Allah itu dapat menghasilkan ketenangan.

Selain itu, orang yang sering berdzikir mengingat Allah, tinggi pula gelombang alfa di otaknya. Ini yang membuat hidup menjadi lebih tenang, sekali pun badai kecemasan, ketakutan, dan kepanikan terus menerjang tanpa perlu minum obat atau minta bantuan dukun. Dengan demikian risiko terkena stroke, jantung koroner, sakit jiwa, dan kanker menjadi lebih kecil.

Menurut Dr. R. H. Su’dan M.D, S.K.M, penyimpangan seks seperti hiperseks, lesbian, homoseks, masochisme dan lain sebagainya juga dapat sembuh dengan dzikrulloh (mengingat Allah). Juga penyimpangan jiwa lainnya seperti psychopatia semacam kleptomania atau suka mencuri, penyakit jiwa karena stress atau ketegangan hidup yang berlebihan. Apalagi kalau hanya penyakit psikosomatik, mudah sekali ditanggulangi dengan dzikrulloh. Bahkan penyakit jiwa yang sebenarnya seperti psychosis pun dapat diselesaikan dengan dzikrulloh pula. Bahkan menurut Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater (Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Doktor di bidang NAZA), beliau mengatakan bahwa selain terapi medis, sholat, berdoa dan berdzikir dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus HIV/AIDS.

Hal ini tentunya yang memperkuat kajian-kajian sebelumnya, bahwa dengan mengingat Allah, berdzikir, mampu meningkatkan kualitas sehat, baik secara fisik maupun mental, membuka cakrawala perasaan ketinggian dan memberikan bantuan untuk terlepas dari berbagai kepediahan dan tekanan jiwa serta kesembuhan dari berbagai kegoncangan seperti kegelisahan, stress, depresi dengan berbagai efek fisik lainnya.

Ketika temuan ilmiah ini pun menjadi sebagian bukti dari kebenaran ayat Tuhan mu yang menciptakan, adakah kita masih menganggap “dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” itu sebuah solusi normatif? Yang jadi tantangan nya kini adalah, sekonsisten apa kita coba untuk mengaplikasikan hal ini dalam hidup keseharian??

Kamis, 24 Mei 2012

Mengingat Istiqamah dari IGD Bedah

Siapa yang akan menyangka, ibu berusia 50 tahunan ini tertabrak mobil saat akan menyebrang jalan, dan terseret dikolong mobil itu sampai sejauh 5 meter. Hilang kesadaran, cedera kepala berat, multiple fracture, dan spinal cord injury. Mungkin memang masih bisa diselamatkan, namun komplikasi lumpuh bisa jadi ancaman akibat cedera pada tulang belakang nya ini.

Juga siapa yang akan mengira, seorang bapak selepas mencari kayu bakar ini juga terhantam truk saat menyebrang jalan. Hilang kesadaran, cedera kepala berat, dan patah tulang panggul. Patah tulang panggul ini bisa mengakibatkan pendarahan dalam, kehilangan sekitar 2 sampai 3 liter darah dari total 5 liter darah yang mengalir di tubuhnya.

Seorang bapak usia 40 tahunan ini juga tak akan mengira, di siang bolong kepalanya dihantam batu oleh orang tak dikenal. Luka di kepala jelas jadi keluhan, lebih dari itu, multiple open fracture depressed pada tulang tengkorak nya menjadikan nya harus masuk ruang operasi untuk dilakukan pembedahan dan perbaikan pada tulang tengkorak nya.

Satu keluarga lain pun tak pernah mengira akan musibah yang di deritanya. Rumah nya yang beratap bambu ini habis terbakar akibat terjatuhnya lilin disaat terjadinya pemadaman listrik pada malam hari. Sayangnya tak hanya rumah yang terbakar, penghuni rumah pun ikut terbakar. Seorang ibu dan seorang anak yang coba ia selamatkan mengalami luka bakar hebat. Lebih dari 50 % tubuhnya habis terbakar, mulai dari kepala, muka, badan hingga tangan dan kaki mereka.

Seorang pekerja pun tak pernah mengira akan kecelakaan kerja yang ia alami. Jari manis nya tertimpa tabung oksigen besar saat ia hendak memindahkan tabung oksigen tersebut bersama rekan nya. Alhasil, jari manis tersebut remuk, habis. Ia harus kehilangan jari manis nya.

Seorang bapak 30 tahunan ini pun tak pernah mengira akan sebuah kejadian di malam itu, ketika ia membawa sepeda motor, melaju dengan kecepatan rendah saat melewati perlintasan kereta api. Disana, tiba-tiba seorang tak dikenal menghampiri, mengalungkan pisau pada lehernya, lalu menusuk bapak tersebut di beberapa bagian tubuhnya.

Atau seorang remaja yang juga tak pernah mengira bahwa ia akan terjatuh dari sepeda motor nya. Pengalaman nya bertahun-tahun membawa sepeda motor tak jadi jaminan bahwa ia tak akan pernah jatuh. Sekali nya jatuh, mengakibatkan kondisi parah pada remaja itu. Cedera kepala sedang, patah tulang hidung, dan robek nya bibir bagian atas, juga hidung nya. Bahkan kulit hidung nya sudah terlepas entah kemana saat ia terjatuh, ditambah lagi luka-luka di sekujur tubuh nya.

Itu hanya sekelumit kecil cerita dari pasien-pasien yang aku hadapi saat sedang dinas jaga di instalasi gawat darurat bedah sebuah rumah sakit. Banyak kejadian yang kita semua tak pernah mengira atau bahkan sekedar menduga sebelumnya, tentang musibah, ujian, yang bisa kapan saja dan menimpa siapa saja pada setiap makhluk Nya yang hidup di muka bumi ini.

Terkadang sesuatu yang berharga baru kita sadari setelah kita kehilangan, tentang kesehatan, kesadaran, penglihatan, badan, tangan, kaki, hidung, jari tangan, atau bahkan rasa yang kita miliki. Beryukur, jangan sampai kita lalai dan baru tersadar bahwa begitu banyak nikmat yang Allah berikan setelah kita kehilangan. Gunakan apa yang Ia berikan untuk kebaikan.

Allah dengan mudah mencabut sebagimana Ia begitu mudah memberi. Semua yang terjadi di setiap putaran hidup adalah kehendak Nya. Maka bersyukurlah, niscaya Allah tambahkan nikmat bagi setiap kita.

“Barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)

Rahasia Allah bukan saja bicara tentang jodoh seperti yang ramai dibicarakan orang. Rahasia Allah juga tentang nikmat, musibah, berbagai ujian, hingga kematian. Semua kejadian adalah rahasia Nya, semua ada pada kehendak Nya. Tentang waktu, tak ada satupun yang tahu, bahkan mampu memprediksikan nya. Disinilah hakikatnya setiap kita harus totalitas dalam berjuang, harus menghadirkan syukur dan sabar dalam setiap kejadian, dan istiqamah jadi satu hal yang senantiasa membersamai keduanya.

Berbicara tentang musibah dan kematian, sudah siapkah setiap kita menghadapi nya sebagimana kita menghadapi nikmat yang Allah berikan? Apa yang terjadi jika cuplikan kisah diawal terjadi pada diri kita, ataupun keluarga kita, terlebih jika kisahnya berujung pada kematian??

Setiap kita pasti pernah melakukan kemaksiatan dan kesalahan, padahal kita tidak tahu kapankah nyawa kita dicabut. Tidak ada yang pernah tahu, sampai dibatas usia mana kita hidup.

Allah swt berfirman: “ Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Luqman: 34)

Oleh karena itu hendaklah kita berhati-hati jangan sampai nyawa kita dicabut saat kita sedang berlumur keburukan. Hendaklah kita segera bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt, mengganti segala kemaksiatan ini dengan ibadah-ibadah yang diperintahkan oleh Allah, hingga kita meraih satu kemenangan husnul khatimah (akhir yang baik).

Ada harga yang harus dibayar untuk setiap pencapaian, begitupun untuk meraih kemenangan husnul khatimah, harus istiqamah dalam kebaikan. Istiqamah, pelaksanaan nya memang tak semudah ketika kita ucapkan. Namun, begitulah fitrah nya. Sebagaimana segala puncak prestasi harus teruji, begitupun menjadi ahli surga harus terbukti di dalam keistiqamahan hidup dalam menjalankan kebaikan. Sulit memang,namun ada beberapa hal yang menjadikan setiap kita mampu mempertahankan keistiqamahan dalam hidup, bahkan mampu meningkatkan kualitasnya.

Merasa diri selalu diawasi

Hadirkan perasaan akan kontrol ilahiah dan kedekatan diri kepada Allah. Hal ini diimplementasikan dengan mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya, serta memiliki rasa malu dan takut, apabila menjalankan hidup tidak sesuai dengan syariat-Nya.

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadiid (57) : 4)

Rasulullah saw. bersabda-ketika ditanya tentang ihsan, “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” (HR al-Bukhari)

Memiliki janji atau komitmen

Sadari benar dan hadirkan tekad dalam diri bahwa setiap kita memiliki komitmen dan janji untuk senantiasa berbenah, memperbaiki diri. Memiliki janji dengan manusia saja harus ditepati, bagaimana ketika kita berjanji dengan Tuhan kita bukan??

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (an-Nahl (16) : 91)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (al-Anfaal (8) : 27)

Evaluasi diri

Evaluasi diri, baik sebelum maupun sesudah melakukan perbuatan perlu dilakukan. Evaluasi diri menjadi salah satu jalan agar hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al-Hasyr (59) : 18)

“Orang yang cerdas (kuat) adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari kematiannya. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengekor pada hawa nafsu dan berangan-angan pada Allah.” (HR. Ahmad)

Umar bin Khattab ra berkata, “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang ….”

Mari kita biasakan, menyediakan waktu setiap harinya, beberapa menit sebelum tidur, untuk mengevaluasi diri. Merefleksikan diri atas apa yang diperbuat seharian, memohon ampun atas mudharat yang dilakukan dari setiap perbuatan kita, dan mendoakan orang-orang yang mungkin hati nya tersakiti karena tingkah laku kita.

Memberi sanksi atas kelalaian

Menghadirkan efek jera dari setiap kelalaian yang kita perbuat. Belajar dari para sahabat Rasul, aku pernah mendengar sebuah riwayat bahwa Umar bin Khathab ra pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan Shalat Ashar. Maka beliau berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin”. Juga cerita tentang Abu Thalhah. Ketika Abu Thalhah sedang shalat, di depannya lewat seekor burung, lalu beliau pun melihatnya dan lalai dari shalatnya sehingga lupa sudah berapa rakaat beliau shalat. Karena kejadian tersebut, beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang-orang miskin, sebagai sanksi atas kelalaian dan ketidak khusyuannya.

Kadar kelalaian kita tentunya berbeda dengan para sahabat Rasul, begitupun kadar kemampuan kita dalam memberikan iqab (sanksi) terhadap kelalaian kita tersebut. Saat kita memberikan sanksi terhadap diri tentulah harus sesuai kapasitas nya masing-masing, dan sanksi yang diberikan pun tentunya bukan yang mendzalimi diri dan ada manfaat nya baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Totalitas

Totalitas, sungguh-sungguh, optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan adalah keharusan. Totalitas, suatu keikhlasan yang mendalam akan seni peran yang sedang dan harus dijalani, keterlibatan yang penuh, hati yang tanpa batas untuk menyelesaikannya, tanpa pamrih, tanpa mengharapkan prasyarat apapun. Totalitas, pengabdian akan karya, bukan permintaan atas sesuatu hasil atau upah.

Totalitas membidani lahirnya konsistensi,tidak bersifat temporer, melainkan konsisten akan tujuan yang kita miliki, menjaga semangat, dan niat baik agar senantiasa konstan. Totalitas juga berbuah fokus, harus berpusat pada satu tujuan. konsekuensi lain dari totalitas ialah pengorbanan, kesadaran bahwa beberapa hal yang tidak lebih penting dan atau menjadi penghambat dari tujuan utama yang ingin dicapai haruslah dikorbankan. Skala prioritas menjadi sebuah tolak ukur yang sangat penting, karena seringkali terjadi pertentangan antara kebutuhan dan keinginan. Berbicara totalitas juga bicara tentang harmonisasi, harmonisasi dengan orang-orang di sekitar kita, karena sering kali totalitas kita akan suatu hal menjauhkan kita dengan beberapa orang di sekitar kita, atau tak jarang pula keputusan untuk memiliki totalitas dalam kehidupan mengakibatkan pertentangan dengan orang-orang.

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syetan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu" (Q.S. Al Baqarah ayat 208)

Kaffah mempunyai arti keseluruhan atau totalitas. Islam adalah nafas setiap perbuatan dan kehidupan seorang muslim. Oleh karena itu, ayat di atas memiliki maksud: dalam setiap perbuatan, lakukanlah secara totalitas.

”Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang dari kamu jika mengerjakan sesuatu dikerjakan dengan itqan (sungguh-sungguh).” (HR. Ath-Thabrani, Al-Haitsami dan As-Suyuthi).

Menjadikan diri ini istiqamah dalam kebaikan, tentunya harus diwarnai dengan kesungguhan, optimalisasi, totalitas.

Istiqamah, adalah kata kunci meraih kemenangan. Selama setiap kita istiqamah dalam kebaikan, ketika kelak Allah tutup usia kita di episode waktu manapun, kita akan meninggal dengan akhir yang baik (husnul khatimah). Namun, saat kita thughyan (menyimpangan atau melampaui batas), lawan dari istiqamah, saat Allah tutup usia kita disaat iman kita sedang kumuh, atau sedang berlaku maksiat, maka suul khatimah (akhir yang buruk) yang akan kita dapati.

Semoga Allah SWT menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqamah, menjadi model-model muslim ideal yang dijanjikan surga-Nya kelak. Amin.

Minggu, 15 April 2012

Dua Tiga Kontemplasi

Simbol kemenangan sang juara

Dua puluh tiga tahun plus sembilan bulan silam. Satu diantara kurang lebih dua ratus juta yang Allah takdirkan tuk diciptakan. Bertualang, sungguh-sungguh bertahan, untuk mencapai tujuan.Ingin sedikit aku ceritakan tentang perjalanan, bagaimana sebelum menjadi aku yang sekarang. Ini tentang proses pembuahan, proses awal manusia diciptakan, juga tentang kesungguhan, dan kemampuan bertahan untuk mencapai tujuan.

Begitu ditakdirkan untuk diciptakan, perjuangan dikobarkan. Mencari aliran lendir alami untuk membawa ke mulut rahim, kemudian berenang di dalam rahim sampai ke muara saluran telur. Dari sekitar 200 juta tak semua bertahan, hanya yang kuat yang masih mampu bertahan. Untuk sisa yang bertahan, mengambil keputusan menjadi tantangan. Umumnya hanya sebutir telur yang dihasilkan, tidak tentu saluran mana yang berisi telur matang itu. Maka soal saluran kiri atau kanan yang harus kuambil merupakan keputusan yang menentukan. Memilih saluran yang salah berarti menyia-nyiakan perjalanan. Energi yang kita miliki hanya cukup untuk menjelajah satu saluran.

Bersyukur aku berada pada pilihan yang benar. Kuat dan juga tepat mengambil keputusan yang membuat ku bertahan. Perjuangan belum padam, kini saatnya aku bersama sisa yang bertahan berenang melawan arus, karena sel-sel pada dinding saluran pelan-pelan mendorong telur menuju ke rahim. Dalam situasi ini, ada yang menjadi bingung dan mulai berenang berputar-putar tanpa tujuan. Bersyukur aku masih diprogram dengan baik sehingga tahu arah dan tujuan.

Akhirnya, aku dan kurang lebih 300 sisa yang bertahan dari 200 juta yang memperoleh takdir diciptakan berjumpa dengan telur yang sedang dalam perjalanan, hampir sampai ke garis finish. Sebesar apapun kegembiraan yang kita rasakan, kita masih harus menembus dinding telur. Aku dan kawan-kawan yang berkumpul di sekitar telur mulai membentur-benturkan diri ke kulit luar sel telur. Akhirnya, hanya SATU di antara 300 yang berhasil menembus dinding akan diterima untuk membuahi telur. Dan bersyukur, aku menjadi satu yang Allah takdirkan itu. :')

Menjadi yang terpilih adalah bukti kesungguhan, bukti kekuatan untuk bertahan, sampai akhirnya bisa mencapai tujuan. Ini bukan sekedar romantisme di tingkat sel, melainkan sebuah pemantik diri agar punya keistiqamahan dalam berjuang. Kembali pada fitrah seperti proses awal penciptaan, bahwa hidup sejatinya adalah totalitas dalam perjuangan, senantiasa berusaha menjadi yang terbaik dalam bertahan mencapai tujuan.

Buah cinta dan kasih sayang

Ketika dua insan berpadu menjadi satu. Ketika cinta menjadi pemersatu, dan kasih sayang menjadi yang membersamai.Hadirku menjadi buah cinta dan kasih sayang yang bersatu padu, dari dua insan yang menyatu.Menjadi katalisator cinta dan kasih sayang, juga melengkapi kebahagiaan, begitu lahirku.

Aku harap rasa ini masih membersamai dengan hadirku saat ini. Karena hadirku tak akan terlepas dari dua insan yang bersatu itu, Ibu dan Bapak. Bagaimanapun keadaanku, aku adalah bagian dari diri keduanya. Aku adalah buah cinta dan kasih sayang keduanya. Rahim ibu adalah tempat buaianku yang pertama di dunia ini. Air susunya menjadi sumber makanan yang menumbuhkan jasad. Kasih sayang ibu adalah ketenangan yang selalu aku rindukan. Kerelaan ibu untuk berjaga membuat nyenyak tidurku. Timangan Bapak dirasakan sebagai kekokohan. Perasan keringatnya memberikan rasa kenyang dan hangat bagi diri. Didikan nya, menghadirkan kekuatan hingga kini. Doa-doa yang mereka panjatkan menjadi sebab segala kebaikan yang didapatiku. Tak terhingga dengan hitungan jemari untuk merunut kembali segala kebaikan yang mereka curahkan untuk ku.

Izin dan kasih sayang mereka tak kan pernah putus untuk menopang semangat juang ku hingga kini. Tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang aku lakukan. Karena tanpa ridhamu, mustahil kuperoleh ridhaNya. Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya, begitupun pertemuan dengan mu. Hingga tutup usia aku yakin takkan pernah bisa membalas jasamu. Bayaran jasamu hanya surga. Doakan aku menjadi anak shaleh, istiqamah menabung amal guna membawa Ibu-Bapak ke surga Nya kelak :')

Tentang tulang rusuk yang tak akan pernah tertukar

Bicara tentang hal ini aku yakin tak akan ada habisnya. 95% doa yang masuk sebelumnya semua ada unsur terkait ini, jodoh. Tak heran sebenarnya, sejak menginjak tahun kedua anak-anak memang sudah ramai membicarakan topik ini. Ketika aku tanyakan pada beberapa, mengapa mereka getol bicara tentang ini, alasan nya beragam.

"Supaya gk timbul fitnah dan, jadi pemimpin kan pasti banyak interaksi,termasuk sama cewek juga,hehe"

" Supaya ada yang nenangin pas lagi ada masalah atau nerima amanah gede dan, Rasul juga dulu waktu ketakutan nerima wahyu ada Khadijah yg nenangin, nyelimutin "

" Klo anak-anak ada masalah kan pasti jadi pikiran kamu, nah kamu ntar sharing ke siapa coba? apalagi klo yg punya masalahnya kamu, ibarat teko, kamu gk diisi sama masalah aja, tapi harus ada penyaluran nya juga"

" Biar gak nambah yang ngarepin kamu dan, dan biar sekarang yang pada ngarep jadi berhenti lagi berharap, haha "

" Biar gk galau lagi dan! hehe"

" Penasaran aja sih dan, wanita seperti apa yang bakal kamu pilih dari sekian banyak wanita yang ada di dunia "

" Ya seneng aja godain kamu sama hal kayak ginian, haha "

" Biar kayak Habibie dan, di setiap aktivitas kamu ada yg nemenin! "

" Dibalik pria hebat ada wanita hebat yg nemenin nya kan ya dan? Supaya kamu tambah besar, kan ntar manfaat nya kita juga yg ngerasain, he "

" Penasaran aja gwa, dari sekian banyak sinyal kenapa gk ada yang lo respon, mau yang kayak gimana sih dan? he "

" Ya pokoknya mah pengen ibu angkatan aja! "

" Penasaran aja, bertahun-tahun kok sendirian terus, he "

" Berlomba-lomba dalam kebaikan, menyempurnakan setengah agama. "

Begitulah kurang lebih nya, padahal beberapa alasan gak masuk akal aku pikir. Sejak tahun kedua saja isu-isu kayak gini sudah banyak dibicarakan, apalagi sekarang, melewati sarjana kedokteran, dan usia 23 tahun. Jadi wajar. Aku aminkan semuanya sebagai doa :)

Sempat ditanya, pernah jatuh cinta? Bagiku, aku tak ingin jatuh cinta. Mengapa? karena aku ingin membangun cinta, membangun bangunan yang tinggi untuk kelak mencapai surga Nya. Dengan siapa? Wallahu'alam. Kelak semoga Allah mempertemukan ku dengan ia yang selalu menghadirkan ku dalam doa nya, kelak semoga Allah mempertemukan dengan ia yang sungguh-sungguh, totalitas menjaga hatinya untuk ku :). Bukan dengan yang sempurna, bagiku cukup dengan orang yang 'tepat'. Ia yang taat pada Allah dan taat pada suaminya, ia yang selalu bersyukur dan merasa beruntung bersanding dengan berbagai kekurangan yang juga melekat dalam diri ini, untuk kemudian menjadi partner yang membangun, saling melengkapi.

Ah, galau kan jadinya. Bahasan ini lebih baik di-skip, kita sudahi. :). Kita yakini saja bahwa memang tulang rusuk itu tak akan pernah tertukar. Semua akan indah pada waktunya, jika tidak indah, bukan akhir berarti. Jodoh itu tidak bodoh, jadi tidak usah heboh untuk urusan ini bagiku :). Doakan saja agar segera menemukan yang tepat, dan diberi kemudahan serta kemampuan dalam menyempurnakan nya.

Kontribusi dan takdir sejarah

Besar harapku untuk menjadi pribadi yang menghidupkan kemanfaatan diri lebih panjang dari usia biologis yang ada kelak. Namun, merefleksikan diri di usia emas pemuda ini, nampak belum banyak yang bisa kulakukan dibanding cerita-cerita para pemuda lain yang kontribusi nya jauh lebih banyak meledakkan kemanfaatan. Ini menjadi pemantik bagiku untuk terus berlomba dalam kebaikan, menjemput takdir sejarah yang telah Allah tuliskan.

Aktivitas kerelawanan, politik, dan keprofesian, semoga ini tetap istiqamah kulakukan dalam membawa kemanfaatan untuk umat. Wilayahku hanya sampai totalitas dalam berjuang, selebihnya biar Allah yang menjadi sebaik-baiknya pemberi ganjaran dan keputusan.

5 April 2012, semoga tak hanya bertambah bilangan angka, tapi juga nilai makna. Mohon maaf jika selama ini ada yang masih suka terdzalimi, belum tertunaikan hak nya, belum memenuhi janji, dan menjadi pemimpin yang masih banyak kekurangan dalam menjaga dan melayani. Perbaikan setelah ini menjadi keharusan, mohon doa :)

~ sebuah tulisan yang ingin dirampungkan 10 hari yang lalu, namun baru terealisasi sekarang karena baru menemukan waktu yang tepat, pada saat ini :)

Sabtu, 04 Februari 2012

Mengubah Paradigma Keliru

" Aku berjanji nak, kelak akan selalu ada waktu, bukan hanya untuk mendengar ceritamu di hari ini, lebih dari itu, aku akan mendidikmu banyak hal, terlepas dari seberapa lelah dan sesibuk apa aku hari ini."

Ini tak sekedar janjiku padamu nak, lebih dari itu. Ini adalah bukti kesungguhan akan kewajiban yang Allah perintahkan. Ingin aku tunjukkan pada dunia, bahwa masih ada pria di jaman kini yang menjalankan peran fitrah yang Allah telah perintahkan.

Nanti engkau akan lihat sekitar, seberapa banyak pria hebat diluar sana yang sukses dengan karirnya, berhasil dalam menafkahi keluarganya, namun terkadang tak punya banyak waktu berkualitas untuk keluarganya, terlebih untuk mendidik anak-anak nya. Tanggung jawab ini kerap ditangguhkan, lantas didelegasikan kepada sosok wanita dengan peran ibu. Dan yang lebih miris dari itu, terkadang amanah Allah ini kerap dilimpahkan kepada orang lain, baik itu guru ngaji, sekolah, hingga pengasuh anak.

Ketahuilah nak, bahwa sudah menjadi persepsi umum di masyarakat kita, bahwa amanah mendidik seolah ada di tangan ibu. Wanita yang kini kebanyakan kita 'judge' punya tanggung jawab mendidik dan membentuk generasi penerus bangsa ini. Mereka yang kemudian banyak disalahkan ketika kita melihat seseorang melakukan kesalahan.

Entah dari mana mulanya, dunia kini seolah menekankan pada kita bahwa seorang pria kelak akan menjadi ayah dan punya kewajiban memimpin dan menafkahi keluarganya, sibuk dengan urusan nya diluar rumah, sementara seorang wanita kelak akan menjadi ibu dan punya beban dengan semua urusan anak-anak.

Padahal tahu kah kau nak, bahwa hingga saat ini aku tak pernah menemukan satu ayat pun yang memotret momen pendidikan dari para ibu, kecuali adanya perintah menyusui (tanpa menafikan tugas amar ma’ruf nahi mungkar yang sifatnya umum, baik untuk laki-laki maupun perempuan). Praktik pendidikan kaum muslimin dan para ulama pendahulu kita, seperti yang aku temukan di Qur'an, Hadist, maupun kisah ulama-ulama selalu menempatkan peran mendidik ini pada sosok pria, seorang ayah.

Ingin aku ceritakan padamu tentang Luqman Al-Hakim, dia bukan seorang Nabi atau Rasul, bukan seorang Mujahid yang waktunya dihabiskan di medan peperangan membela agama Allah, bukan pula ulama besar, dia hanyalah seorang lelaki Habsiy yang berkulit hitam dan berprofesi sebagai An-Najjar (tukang kayu) tapi subhanallah derajatnya sungguh mulia di sisi Allah sehingga namanya di abadikan dalam Kitab suci Al-Qur’an menjadi nama dari surah yang ke 31, salah satu yang paling menonjol dari seorang Luqman Al-Hakim adalah nasehat-nasehatnya yang penuh hikmah yang dia tujukan khusus kepada anak lelakinya.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." QS. Luqman (31) ayat 13

Ayat ini, bersama dengan ayat-ayat serupa (al-Baqarah 132, Yusuf 67) bercerita tentang para ayah (Luqman, Nabi Ya’kub, dan Nabi Ibrahim) yang sedang mendidik anak-anaknya. Sekali lagi, ternyata proses pendidikan (dalam keluarga) yang digambarkan melalui al-Qur’an dilakukan oleh para ayah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa’ di jalan Allah.” Bahkan Nabi pun mencontohkan, bahkan ketika beliau sedang disibukkan dengan urusan menghadap Allah SWT (shalat), beliau tidak menyuruh orang lain (atau kaum perempuan) untuk menjaga kedua cucunya yang masih kanak-kanak, Hasan dan Husain. Bagi Nabi, setiap waktu yang dilalui bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendidik, termasuk ketika beliau sedang shalat.

Banyak juga contoh bagaimana para ulama kita menyediakan waktu untuk pendidikan putri-putrinya sebagaimana mereka meluangkan waktu untuk tugas-tugas lainnya. Ingin aku ambilkan beberapa contoh. Didapati dari riwayat pakar pendidikan Islam Ibnu Sahnun (256H). Disebutkannya, Hakim Isa bin Miskin selalu memanggil dua putrinya setelah shalat Ashar untuk diajari al-Qur’an dan ilmu pengetahuan lainnya. Demikian pula dengan Asad bin al-Furat, panglima perang yang menaklukkan kota Sicily, ternyata juga mendidik sendiri putrinya. Syaikhul Islam Abu Abbas Ahmad bin Abdillah al-Maghribi al-Fasi (560 H) juga tercatat mengajari putrinya 7 (tujuh) cara baca al-Qur’an, serta buku-buku hadits seperti Bukhari dan Muslim.

Dari beberapa contoh di atas bisa kita lihat, bahkan untuk pendidikan anak perempuan sekalipun, para ulama tidak melemparkan tanggung jawab kepada istri-istrinya. Begitu intensifnya peran ayah dalam pendidikan anak-anaknya, hingga tatkala menjelang sakaratul maut pun, seorang ayah yang baik memastikan sejauh mana keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya dengan bertanya kepada mereka, "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" (maa ta'buduuna min ba'dii, al-Baqarah 133).

Aku fikir, mungkin saja jika kenakalan remaja dan kerusakan generasi di masa kini menjadi kian parah, sebab, para ayah hebat kita—pengacara terkenal, hakim agung, pengusaha sukses, dokter handal, termasuk beberapa ustadz yang luar biasa dalam dakwah—terlalu sibuk mendidik orang lain dan menyepelekan kewajiban untuk mendidik anak-anaknya.

Dan untuk itu nak, kelak walau aku menjadi seorang dokter yang sangat sibuk, sibuk mendidik para mahasiswa kedokteran dan bahkan berceramah keliling nusantara, sibuk mengerjakan dan memegang amanah negara, sibuk mengabdikan diri untuk bangsa dan masyarakat ini, semoga kelak tak membuat diri ini begitu loyo dan beralasan tidak punya waktu ketika harus mendidik anak-anak ku sendiri.

Berbincang dengan mu, memunculkan semangat baru bagiku untuk menjalani hari esok, dengan mengajari mu, membuatku terus mempelajari ilmu dan berintegritas atas apa yang aku sampaikan. Dengan mendengar aktifitas mu hari ini dan bercerita padamu tentang aktifitasku, kelak bisa menumbukan inspirasi bagimu untuk bisa jadi jauh lebih baik dari ku kelak.

Mengapa aku sampaikan ini padamu? Untuk mengubah paradigma keliru, bahwa sejatinya mendidikmu adalah tanggung jawab ku, ayah dari anak yang dilahirkan oleh istriku, ibumu.

#sebuah pemikiran random

(tiba-tiba ingin nulis tentang ini)

Dani Ferdian

Bandung, 29 Januari 2012 22:50

Rabu, 01 Februari 2012

Maafkan Aku Dinda, Namun Karena Ini Aku Mengerti dan Semakin Memahami.

Dinda, ada yang ingin aku ungkap, walau entah darimana aku harus memulai menceritakan kisah ini kepadamu. Lidah ini nampak kelu, malu. Aku hanya mampu berujar maaf. Maaf, jika engkau bukanlah wanita yang pertama. Ya, bukan wanita pertama yang sengaja aku sentuh selain ibu dan adik perempuanku.

Sengaja menyaksikan dan menyentuh bagian paling terlarang wanita, lebih dari satu kali, pada orang yang berbeda pula. Tak usah kau bayangkan, karena aku pun tak ingin membayangkan nya lagi, bahkan hanya untuk sekadar bercerita padamu aku tak kuasa. Namun bagiku, berkata jujur padamu adalah sebuah keutamaan.

Tapi percayalah dinda,bahwa sengaja bukan berarti sebuah kemauan. Tuhan kita yang menyaksikan. Seandainya dinding Rumah Sakit ini pun mampu berucap, pasti ia ceritakan. Sengaja demi pendidikan, memenuhi sebuah tuntutan, dan kebutuhan akan sebuah misi kemanusiaan. Melewati keadaan seperti ini adalah keniscayaan,agar aku mampu menanggung beban kehidupan, dan tanggung jawab kepemimpinan kemudian.

Namun justru karena keadaan ini lah yang akhirnya membuat aku sadar akan sebuah kenyataan. Bahwa menjadi dirimu tak semudah yang aku bayangkan. Menjadi ibu dari anak-anakku adalah ketulusan yang mengharukan. Sakit yang tiada terperikan seolah tergantikan dengan harapan kehadiran anak yang kau nantikan. Sungguh, surga bagimu tiada tergantikan.

Kesakitan, linangan air mata, tetesan keringat seolah menemani jihadmu dalam persalinan. Deraian darah menjadi satu hal yang tak mungkin dielakkan dan taruhan dengan kematian senantiasa menjadi momok yang menakutkan, namun itulah kenyataan. Rasa sakit yang tak tertahankan kala persalinan tak pernah kau sesalkan.

Dinda, barulah aku paham, menjadi wanita sepertimu adalah kemuliaan. Itulah mengapa saat wanita hamil, ia mendapatkan pahala puasa disiang hari dan pahala ibadah dimalam hari, serta ganjaran 2 rakaat shalat wanita yang hamil lebih baik dari 80 rakaat shalat wanita yang tidak hamil.

Begitupun ketika persalinan, wanita yang bersalin mendapat pahala 70 tahun shalat dan puasa, serta setiap kesakitan pada satu syarafnya, Allah memberi satu pahala haji. Sekiranya wanita meninggal dunia dalam masa 40 hari selepas bersalin ia dikira sebagai mati syahid.

Dinda, sadarkah juga selama dua tahun engkau menyusui, selama itu juga kebaikan mengalir untuk dirimu? Wanita yang menyusui anaknya akan mendapatkan 1 pahala dari setiap tetes susu yang diberikannya. Wanita yang menyusui anaknya yang menangis maka Allah memberi pahala satu tahun pahala shalat dan puasa. Jika wanita menyusui anaknya hingga 2. 5 thn, maka malaikat dilangit mengabarkan berita bahwa syurga wajib baginya.

Belum lagi untuk tidurmu yang terganggu saat engkau merawat anak kita. Seorang ibu yang menghabiskan waktu malamnya dengan tidur yang tidak selesai karena menjaga anaknya yang sakit, mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anaknya yang sakit akan di ampunkan oleh Allah seluruh dosanya dan bila dia menghibur hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadah.

Aku memang belum mempelajari benar tentang hadist diatas dinda, siapa perawi nya, dan bagaimana keshahihan nya. Namun tak berlebihan rasanya ganjaran seperti itu, untuk wanita sepertimu.

Dinda, sungguh aku bangga, di masa kekinian masih ada wanita sepertimu, menjadi wanita yang hanya bercita-cita menjadi istri dan ibu yang baik. Kau relakan masa keemasan dan karir cemerlang, hanya untuk kedekatan dan madrasah terbaik untuk anak-anakku. Kau buat mereka tak pernah merasa kehilangan, perhatian, kasih sayang, pendidikan (tarbiyah), dan senyuman yang senantiasa menyimpul di gurat wajah bahagia mereka. Dari rahim mu, kita hasilkan generasi terbaik penerus bangsa ini.

Dinda, melihat sosok dirimu bagiku engkau adalah bukti kesungguhan, bukti pengorbanan, dan wujud kesetiaan.

Dan membagi peran bersama mu, adalah sebuah kebahagiaan :)

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “(mereka; maksudnya, Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik).

(QS An-Nisaa’/ 4:34).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi S.A.W. bersabda : "Sebaik-baik wanita adalah apabila engkau pandang dia maka dia menggembirakan, bila engkau perintah dia taat, bila engkau tiada dia menjaga hartamu dan menjaga pula kehormatan dirinya. "

Sekali lagi, maafkan aku dinda, jika seandainya kau bukan wanita pertama yang sengaja aku sentuh, namun tetap bersyukurlah, karena setelah melewati fase ini, aku semakin mengerti, bahwa menjadi dirimu tak semudah yang aku bayangkan, bahwa menjadi dirimu adalah kemuliaan, dan hidup bersamamu adalah sebuah kebahagiaan :')

* tulisan random dokter muda Obgyn (obstetric & gynaecology)/Kebidanan. Mencoba mencari hikmah dari setiap kejadian. Untuk ibu, calon ibu, dan partner hidup mereka, semoga bisa semakin memaknai. Hanya ingin menjerat hikmah, dalam format dan gaya berbeda. Semoga tidak memantik sebuah rasa yang populer dikenal dengan kata "galau" kemudian. :D

-sebuah catatan pasca stase RSKIA Astana Anyar, 7 Januari 2012-

semoga bisa banyak mengambil hikmah lain nya pada 8 minggu selanjutnya di RSHS dan RS Jejaring lain nya.

*kalo ada orang yg gk terlalu suka bidang obgyn seperti saya,maka kejar hikmah kehidupan sebanyak-banyak nya dalam pembelajaran tentang kehidupan di bagian ini :) *

Minggu, 29 Januari 2012

Pemuda dan Takdir Sejarah

"Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia" (Bung Karno)

Logika ku berfikir, entah bagaimana caranya seorang pemuda bisa mengguncangkan dunia, juga sempat terfikir, apakah ini hanya sekedar kata, realita, atau sekadar harap. Entah, aku pun jadinya tak yakin, mengguncang dunia dengan kebaikan, atau malah keburukan.

Tapi nurani ku masih berujar, bahwa ucap yang keluar dari pemimpin besar sejati nya kebaikan. Maka, tak ayal mengguncang dunia pun tentunya dengan kebaikan. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana caranya melakukan itu di era kekinian?

Usiaku kini menginjak 22 tahun lebih, begitu pun dengan kawan-kawan di sekitarku. Usia matang seorang pemuda rasa-rasanya, bagiku ini momentum emas seseorang menjemput takdir sejarah dalam hidup. Itu idealnya. Namun terkadang banyak yang membuat idealisme dan harapan ku akan pemuda bangsa ini gentar.

Lihatlah di sekeliling mu wahai pemuda, dan jujurlah pada hati nurani dan Tuhan mu. Seberapa banyak diantara kita yang punya keegoisan tinggi untuk dirinya. Masih banyak diantara kita yang keseharian nya fokus pada dirinya, hanya memikirkan esok akan makan apa, berpakaian bagaimana, dan hendak beraktivitas apa, begitu seterusnya. Juga lihatlah, seberapa banyak diantara kita yang khawatir dengan masa depan nya, mencari pendidikan setinggi dan sebaik mungkin, mencari pekerjaan sebaik, seenak dan semenyenangkan mungkin, mencari kekayaan sebanyak-banyak nya, kejaran nya hanya materi. Atau coba kita lihat para aktivis itu, aktif di berbagai organisasi kepemudaan, lantang meneriakkan tentang rakyat dan kebenaran, namun linear dengan motivasi kepopuleran nya. Atau lihatlah juga, mereka yang aktif dan punya ketulusan, namun banyak terhenti dalam pewacanaan, alasan klasik, karena keterbatasan.

Sementara aku pernah diceritakan, tentang para pemuda muslim yang ceritanya mengguncangkan. Saád bin Abi Waqash yang pada usia 16 tahun sudah turut serta dalam perang uhud, dia tercatat sebagai darah pertama yang mengalir dalam perang itu. Atau Zaid bin Tsabit, anak kecil ini merengek ingin ikut dalam perang badar, namun tidak diizinkan oleh Rasulullah SAW karena usianya waktu itu masih 12 tahun. Atau lihat juga kisah Muhammad Al-Fatih, kisah yang melegenda ini adalah contoh dari seorang pemuda berusia 23 tahun, namun berhasil menaklukkan negara adidaya waktu itu yaitu Konstantinopel. Ini hanya beberapa contoh, dari kisah kepemudaan yang mengguncangkan.

Walau dengan kondisi kekinian, aku masih punya keyakinan, bahwa di Indonesia pun masih ada pemuda dengan cerita mengguncangkan, bahkan kelak akan melegenda dan menjadi tumpuan harapan. Begitupun dengan kalian, semoga masih muncul harapan, untuk mewujudkan impian. Impian dalam menunaikan hak bangsa yang ada pada diri setiap kita. Jangan hanya menunggu kesempatan, tapi cobalah kalahkan keterbatasan. Jangan patah karena lelah, dengan ini kau akan tetap bertahan. Ingatlah kawan, hanya yang kuat yang akan bertahan, dan hanya yang bertahan yang akan sampai tujuan. Juga ingatlah, bahwa realita ada tanpa diminta, sementara idealisme ada karena diperjuangkan.

Refleksikan dalam diri, bahwa ada hak umat dalam diri yang harus ditunaikan. Hilangkan keegoisan, dan tumbuhkan kesungguhan untuk senantiasa memenuhi kebutuhan. Selalu ada yang bisa kita berikan dengan kapasitas kita yang membanggakan. Hal kecil yang dilakukan secara konsisten, itupun membanggakan. Bergabunglah dalam barisan orang-orang muda yang punya impian dan kesungguhan, walau mungkin jumlah mereka tidak seperti kebanyakan orang, inilah kenyataan, kenyataan yang membanggakan.

Masih ingatkah sebuah perkataan, bahwa kenyataan hari ini adalah hasil impian kita di masa lalu, dan kenyataan masa depan adalah buah impian kita di masa kini? Jangan takut untuk bermimpi besar, sekalipun kelak pencapaian mu kecil, tetapi setidaknya kau pernah bermimpi besar.

Ingatlah perkataan ku kawan, bahwa impian harus disertai kesungguhan, totalitas. Jika ini kau tinggalkan, impian akan berakhir pada keterbatasan. Pemikiran hanya terwujud dalam proses pewacanaan, dan kenyataan tinggalah angan-angan.

Satu hal yang perlu mendapat perhatian, impian tak hanya untuk semangat kebangsaan saja. Ada hal mendasar yang pemenuhan nya harus didahulukan, semangat ketuhanan. Karena sejatinya, kontribusi untuk bangsamu ialah sarana menjemput amal unggulan untuk kelak menjadi bekal menghadap Tuhan mu yang menciptakan.

Kemudian yang jadi pertanyaan, sekarang apa yang akan kita kerjakan dalam memenuhi peran kepemudaan kita untuk menjemput takdir sejarah demi kemanfaatan umat ini?

konkret, tak sekadar wacana, walau kecil, jika itu konsisten dilakukan, bagiku itu membanggakan :)

-sebuah refleksi malam-

RSUD Majalaya, 17 Januari 2012, 23.10

Rabu, 12 Oktober 2011

kedokteran, satu langkah pasti!

Kembali merefleksikan diri, mengapa menjadikan dunia kedokteran sebagai satu langkah pasti.

Teringat salah satu pertanyaan Imam Ghazali, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Tak sedikit memang yang menjawab orang tua, guru, teman atau kerabat, ya, semuanya memang benar, namun satu yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Sebab kematian adalah janji Allah, seperti yang tertuang dalam firman Nya "Setiap yang bernyawa (pasti) akan merasakan mati." (QS Ali Imran [3]: 185).

Waktu terus berputar, hidup terus berlangsung, detik demi detik bergulir, semakin mendekatkan diri pada kematian. Tak pernah ada yang tau kapan masa itu muncul, boleh jadi kita masih bisa tersenyum hari ini, namun tidak untuk esok. Tak ada yang menjamin esok raga ini masih bernyawa. Paling dekat, sekaligus menjadi yang paling ditakuti dan dihindari kebanyakan orang. Pikiran lebih banyak terjejali dengan urusan hidup, berfikir tentang di mana kita akan kuliah, dimana kita akan bekerja, baju apa yang akan kita gunakan esok pagi, apa yang akan dimakan hari ini, dsb. Pikiran-pikiran seperti ini yang terkadang lebih sering dijadikan prioritas.

Terlintas di pikiran tentang kematian ketika sakit mulai mendera, musibah mulai menimpa, kecelakaan, penganiayaan, upaya pembunuhan terjadi dsb. Kematian linear dengan ketakutan untuk kebanyakan orang, dan disaat itulah fitrah nya mereka mencari penolong dari rasa takut yang mereka alami. Mereka rela menanggalkan harta,tahta, dan berbagai kepentingan lain untuk mempertahankan kehidupan.

Proses kematian banyak didahului dengan kesakitan, paling dekat kaitan nya dengan dunia kesehatan, kedokteran. Menjadi logis ketika akhirnya harapan akan hidup digantungkan kepada para pejuang kesehatan, terutama dokter sebagai pemegang tanggung jawab dan pengambil keputusan terbesar.
Menjadi seorang dokter berarti menghalalkan diri untuk menjadi tumpuan harapan di dunia akan ketakutan terbesar dalam hidup, yakni kematian. Pengejawantahan bentuk tawakal dan penyerahan diri sepenuhnya pada Allah swt. Menolong dan menjawab harapan orang-orang yang berada dalam ketakutan adalah sebuah kemuliaan. Kemuliaan itu terletak pada doa, dalam HR. Ibnu Majah dikatakan bahwa doa orang sakit makhbul seperti doanya malaikat. Doa itulah yang membesarkan para dokter, sederhana, dari ketulusan yang menumbuhkan. Ukuran nya bukan materi.

Kesakitan dan kematian, salah satu mozaik perenungan yang amat nyata bagi kita yang masih diberikan kesempatan hidup. Menjadi dokter sejatinya selalu diingatkan, bahwa dunia ini hakikatnya hanya tempat persinggahan, hanya sementara.

Tak hanya merefleksikan kematian, menjadi dokter sejatinya secara holistik mempelajari makna dan hakikat kehidupan. Belajar kompleksitas kehidupan, dari tataran sel, organ, tubuh, hingga sosial. Mengaplikasikan nya dalam pengenalan dan penjagaan diri, hingga manusia sekitar. Bicara ilmu kedokteran berarti bicara juga tentang perlindungan kehidupan. Mencoba mempertahankan kualitas kehidupan yang tinggi sampai waktu kematian yang ditentukan datang.

Mempelajari kehidupan, sejatinya menjadikan diri lebih mengenal Sang Pencipta kehidupan. Bergelut di dunia kedokteran, idealnya menjadikan diri semakin mengenal dan dekat dengan Allah swt, Sang Pencipta kehidupan, itu yang terpenting.

Tak hanya memberikan perlindungan kehidupan, ilmu kedokteran juga memberikan perlindungan keturunan, perlindungan pikiran, perlindungan kekayaan, dan lebih luas lagi perlindungan agama. Menjadi bagian dari dunia kedokteran berarti mewakafkan diri untuk senantiasa memberikan kebermanfaatan dalam berbagai aspek tersebut. Sungguh beruntung setiap kita yang dapat memberikan manfaat, seperti sabda Rasulullah saw yang tertuang dalam HR. Bukhari bahwa sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Profesi kedokteran membutuhkan kompetensi yang terintegrasi, mengkolaborasikan ilmu, seni, dan norma kemanusiaan secara proporsional. Menjadikan insan abdi di dalamnya harus memiliki dasar berpikir yang baik, sistematis, intuitif dan memiliki pendekatan sosial yang baik. Tak hanya concern dalam aspek fisik saja, namun mental dan sosial secara holistik menjadi keharusan yang perlu diperhatikan. Profesi kedokteran memang dapat memberikan kebahagiaan yang sangat bagi mereka yang berhasil diperbaiki kualitas hidup nya, namun tak jarang ketika akhirnya harus berteman dengan kesedihan, tatkala penurunan kualitas hidup, atau bahkan kematian. Kemampuan menyentuh hati adalah sebuah keniscayaan. Komunikasi hati ke hati, empati, penyamaan frekuensi pikiran diperlukan dalam setiap tahapan profesi ini, mulai dari penegakkan diagnosis, treatment, hingga penyikapan dari output perawatan dan pengobatan yang dilakukan. Cure and care dalam profesi ini menjadi sebuah keharusan.

Profesi kedokteran adalah profesi kebersamaan, baik dari segi kerja maupun figuritas performance setiap individu yang ada di dalamnya. Kebaikan dan keteladanan diri diperlukan, sebab kelalaian yang dilakukan personal dapat menimbulkan stigma profesi secara keseluruhan. Kebersamaan dalam kesejawatan menjadikan setiap kita terikat dalam satu kesatuan yang saling menumbuhkan idealnya.

Tak hanya sebagai agen penyembuh semata, dokter juga memiliki peran strategis sebagai agen pengubah dan agen pengembang bangsa ini. Peningkatan daya saing bangsa melalui intervensi terhadap sumber daya manusia nya, karena sehat tak hanya terbebas dari penyakit dan kelemahan saja, melainkan juga sempurna baik secara fisik, mental, maupun rohani yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Merefleksikan diri dan dunia kedokteran berarti merefleksikan kehidupan dan kematian, merefleksikan kedekatan dengan Sang Pencipta, merefleksikan keunggulan komparasi melalui kompetensi integratif yang harus dimiliki, dan merefleksikan soliditas ikatan melalui kebersamaan dalam kesejawatan, serta merefleksikan kontribusi untuk bangsa.

Memilih kedokteran sebagai langkah pasti, idealnya berarti menjemput takdir sejarah melalui amal unggulan dan keutamaan dunia dan akhirat yang bisa kita peroleh di dalamnya.

• Teruntuk rekan seperjuangan, para dokter muda, proses yang telah dan sedang kita lalui memang panjang, jalani itu dengan sabar dan rasa syukur, kembali refleksikan diri bahwa jalan yang kita ambil penuh dengan kemuliaan :) , tetap semangat menjadi relawan kemanusiaan dalam misi pendidikan
• Teruntuk adik-adik yang sedang menjalankan pembelajaran pre klinik, nikmati prosesnya, dan siapkan bekal ilmu terbaik untuk diabdikan pada masyarakat, dan temukan berbagai bukti kebesaran Tuhan mu yang menciptakan dari setiap ilmu yang dipelajari.
• Teruntuk calon rekan sejawat, guru dan teladan kami, para dokter yang telah mengabdikan diri untuk bangsa. Jaga terus idealisme dan semangat memberi untuk umat, biarkan kami terus belajar dari keteladanan. Jemput keutamaan dunia dan akhirat yang terhampar.

Kamis, 26 Mei 2011

Sebuah refleksi tentang tujuan pembelajaran ilmu kedokteran :)

tiba2 dapet sms dari seorang adik kelas, ia bertanya tentang tujuan ilmu kedokteran.
ingin rasanya langsung dijawab, tapi rasanya tak puas dengan balasan sms yang terbatas karakter. ingin rasanya berdiskusi, tapi terbatas ruang dan waktu. ingin rasanya menelepon juga, tapi rasanya terbatas oleh pulsa :p

karena itu tulisan ini hadir sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan tadi :)

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara tentang beberapa hal.

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara tentang perlindungan agama, hifdh ad ddin, dalam kaitan nya dengan kesehatan fisik maupun mental. Perlindungan agama intinya adalah ibadah dalam arti luas, bahwa setiap usaha manusia adalah sebuah bentuk ibadah. Pengobatan medis mempunyai sumbangan langsung kepada ibadah dengan melindungi dan mempromosikan kesehatan yang baik, sehingga para pemeluk agama akan mempunyai kekuatan fisik dan mental untuk menanggung tanggung jawab ibadah. Seorang yang sakit atau tubuhnya lemah tetap bisa melaksanakannya dengan baik. Kesehatan mental yang seimbang diperlukan untuk memahami akidah dan menghindari ajaran-ajaran yang melanggar akidah karena akidah adalah dasar agama.

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara tentang perlindungan kehidupan, hifdh al nafs, tujuan primer kedokteran. Ilmu kedokteran tidak bisa menghindari atau menunda kematian karena hal-hal seperti itu berada di tangan Allah sendiri. Pengobatan hanya mencoba untuk mempertahankan kualitas kehidupan yang tinggi sampai waktu kematian yang ditentukan datang. Dunia kedokteran ikut menyumbang pemeliharan dan kelanjutan hidup dengan memastikan bahwa fungsi-fungsi fisiologis dipertahankan dengan baik. Juga melepaskan tekanan patofisiologi dengan pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi.

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara tentang perlindungan keturunan, hifdh al nasl. Ilmu kedokteran menyokong pemenuhan fungsi ini dengan memastikan bahwa anak-anak dirawat dengan baik sehingga mereka tumbuh menjadi seorang dewasa yang dapat memelihara anak. Ilmu kedokteran juga memberi perhatian kepada pengobatan laki-laki dan wanita untuk memastikan reproduksi yang berhasil. Juga pada perawatan wanita hamil, pengobatan perinatal, dan pengobatan anak-anak untuk memastikan bahwa anak-anak dilahirkan dan tumbuh secara sehat.

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara tentang perlindungan pikiran, hifdh al ’aql. Pengobatan medis memainkan peran yang sangat penting dalam perlindungan pikiran. Pengobatan penyakit-penyakit fisik akan menghilangkan tekanan mental. Pengobatan neurosis dan psikosis mengembalikan fungsi emosi dan intelektualnya. Pengobatan medis terhadap alkohol dan penyalahgunaan obat akan mencegah penghancuran intelektual.

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara juga tentang perlindungan terhadap kekayan, hifdh al maal. Kekayaan setiap masyarakat tergantung aktivitas produktif dari warganya yang sehat. Ilmu kedokteran mendukung pemeliharan kekayaan dengan mencegah penyakit, mempromosikan kesehatan, dan pengobatan tiap penyakit dan squellenya. Masyarakat dengan kesehatan umum yang rendah kurang produktif dibanding masyarakat yang sehat dan semangat. Prinsip perlindungan kehidupan dan perlindungan kekayaan bisa saling bertentangan pada kasus-kasus penyakit terminal. Perawatan untuk penyakit terminal menghabiskan banyak kekayaan yang bisa digunakan untuk mengobati orang lain dengan kondisi yang masih bisa diobati. Jalan keluar hal yang kontras seperti di atas membutuhkan prinsip-prinsip Hukum, qawa’id al shari’at.

Ya, inilah ilmu kedokteran. Berbicara tentang kedokteran berarti berbicara tentang kebermanfaatan, begitulah ideal nya. Dan Rasulullah sawa pernah bersabda, bahwa
" sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat......."

jadi beruntunglah setiap kita yang berada di jalan ini, menjalankan peran yang tak mudah, tapi memiliki peluang kebermaknaan yang begitu besar. selamat menebar manfaat.
belajar, berjuang, bermanfaat.

semoga menjawab pertanyaan nya dik! :)

Minggu, 01 Mei 2011

Olymphiart; Romantisme dan Pembelajaran

Ini kali keempat kami, ini tahun terakhir kami mengikuti gelaran akbar tahunan yang selalu meramaikan dan ‘menghangatkan’ kehidupan kampus Fakultas Kedokteran Unpad. Gelaran yang memberikan warna tegas dan rasa berbeda dari sekadar berkutat dengan text books, learning issues, skripsi, puluhan kasus untuk OSCE dan SOOCA - yang tinggal hitungan hari -, rapat rutin, kumpul bersama teman satu fraksi, atau mengautis diri dengan kegiatan-kegiatan pribadi setiap kita. Jelas berbeda. Tekad dan antusiasme kumulatif seakan mengesampingkan warna pribadi untuk kemudian lebur membentuk atmosfer FK Unpad yang dinamis, energik, dan ambisius. 

Itulah Olymphiart, gelaran yang tiap tahun nya ‘dikultuskan’ sebagai akselerator kekeluargaan bagi mahasiswa 4 angkatan di FK Unpad. Sekilas tampak bias, bagaimana mencapai kekeluargaan 4 angkatan yang dikemas dalam wujud kompetisi antar keempat angkatan tersebut. Namun, ketika kompetisi dan kekeluargaan itu seolah ditabrakan, masih ada hal yang bisa menjembatani keduanya, yakni pembelajaran. Tiap tahun yang pernah kami lewati, masing-masing memberikan warna yang berbeda. Selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian tiap tahun nya.

Olymphiart 2008: Inisiasi sinergisitas, Pengenalan karakter, dan Harmonisasi

Angkatan baru dengan semangat baru, itulah kami. Belajar mengenal karakter, potensi, menumbuhkan kemauan, dan mengelola keragaman. Polos tanpa beban. Meraba dan mengenal medan, sambil berharap mendapat kedekatan intern maupun ekstern angkatan. Sesekali coba memaknai integritas dalam kapasitas kami yang masih belajar. Mulai belajar berkorban, saling menguatkan, mencoba komposisi terbaik dan menjaga harmoni dari hal baik yang sudah terbentuk.

Olymphiart 2009: Melayani, Profesional, Tegas!

Tanggung jawab ada di pundak kami, panitia olymphiart 2009. Berfikir dan bergerak tak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk kebermanfaatan orang banyak. Beberapa konsepan dan kebijakan serta bentuk acara baru kami coba munculkan sebagai inovasi atas kekurangan yang kami analisis dari permasalahan sebelumnya. Belajar melayani dengan hati, belajar memberi. Berusaha memberi yang terbaik untuk angkatan lain sebagaimana untuk angkatan sendiri, profesional memberikan layanan terbaik untuk kepentingan orang banyak. Tahun ini mencoba memutus permasalahan klasik yang sering terjadi tiap tahun nya, konflik, pemakluman, dan kompromi. Ketegasan atas hal yang disepakati bersama dan atas peraturan tertulis mutlak kami lakukan. Ancaman, tuduhan, tekanan, dan kekerasan tak ayal jadi konsekuensi yang kami terima. Air mata pun terkadang jadi pelepas beban ketika dirasa tak ada lagi tempat untuk bergantung. Cobaan menjadikan kami semakin tangguh dan semakin solid, inilah hikmah langsung yang kami dapat dari menegakkan kebenaran dan mewujudkan kedisiplinan.

Olymphiart 2010: Ambisius dan mematangkan kedewasaan

Kemenangan itu penting, tapi kebersamaan JAUH lebih penting! Potensi sudah tergali, beberapa komposisi terbaik sudah muncul, dan keseungguhan serta kemauan hadir dalam dada mayoritas kita. Kali ini kami punya target, tapi tak ada beban. Menang adalah harapan, tapi bukan keharusan. Ambisius, ya kami punya keinginan keras mencapai harapan itu, namun tetap pada jalur, meminimalisir konflik, dan terkadang mengalah demi sebuah integritas dan sebagai bentuk penghormatan. Disini kami belajar kedewasaan. Bertambah tua itu adalah keniscayaan, tapi kedewasaan itu pilihan, bagaimana kita bersikap, respect, berbesar hati dan bijak dalam menghadapi permasalahan, serta bisa memposisikan diri sesuai dengan peran kita masing-masing. Belajar untuk tidak mudah terluka karena masalah yang amat kecil, belajar memperhatikan perasaan orang lain dan melihat suatu masalah tidak dari satu sudut pandang saja, belajar sabar, mengendalikan jiwa dan emosi serta menenangkan hati. Ya, ini yang kami dapat di 2010.

Olymphiart 2011: TOTALITAS dan Idealis menjaga nilai

Berbuat sebaik dan selurus mungkin dan melakukan apa yang paling mendekati ideal , melakukan yang terbaik dalam setiap hal yang hadir; olymphiart, skripsi, SOOCA, OSCE, MDE, sidang, itulah komitmen yang coba kami munculkan di tahun ini. Fokus, berkorban, dan konsisten untuk mencapai tujuan, tapi tetap menjaga harmonisasi. Menang bukan lagi sebagai kejaran utama, tapi jadi konsekuensi logis atas totalitas yang kami lakukan. Menjadi mahasiswa tingkat akhir mengingatkan sebuah simbol tanggung jawab keutuhan, menjadi penjaga nilai. Membimbing, meluruskan, membantu dan mengingatkan adik-adik angkatan menjadi hak dan tanggung jawab kami, begitulah sejatinya seorang kakak. Belajar menjadi teladan yang baik, dan menjaga atmosfer agar saling menghormati dan menghargai itu tetap terjaga.

Berorientasi menang itu boleh, bahkan harus, tapi jangan sekadar menang! Dan hanya pembelajar lah yang akan menjadi pemenang, karena sejatinya hanya yang bertransformasi kearah yang lebih baik dari sebelumnya lah yang menjadi pemenang, bukan progresivitas kita dalam hal perolehan medali saja, tapi juga progresivitas pendalaman makna akan esensi yang didapat. Esensi tentang totalitas perjuangan, pengorbanan, kedewasaaan, juga integritas dan kebersamaan. Itulah mengapa pembelajaran dapat menjembatani kompetisi untuk dapat mewujudkan kekeluargaan. :)

Kulminasi pelalaian nilai : Efek domino !

“ Jangan sampai panitia mau di brain wash sama salah satu angkatan!”
“ Kami merasa diintimidasi!”
“ Jangan cuma mau menang dan ngehalalin segala cara! "



Nampak tersirat untaian kata itu muncul. Entah darimana awalnya, entah karena apa sebab nya. Muncul dari mulut ke mulut, masuk ke lintasan pemikiran, lebih jauh dari itu melahirkan persepsi. Lebih dari satu kepala, lebih dari satu hati, ya, lebih dari satu yang akhirnya terjebak dalam lubang itu, prasangka. Olymphiart berhasil membidani lahirnya atmosfer seperti ini muncul di kampus kita, FK Unpad. Ironis memang, miris, gelaran bergengsi tahunan yang digadai untuk membentuk kekeluargaan ini malah menghasilkan percikan kebencian.

Api tak bisa dilawan api. Secara jeli penjaga nilai (baca:steering committee) paham ini. SC melalui forum rabu malam nya menjadi agen kuratif dan pencegah komplikasi dari kondisi patologis pre Olymphiart ini, mencoba mengurai benang kusut aksi-reaksi-aksi-reaksi dst. Hati, perasaan dan emosi dipertemukan dengan akal, pemikiran dan logika yang dituangkan dalam sebuah perbincangan dan pembahasan hangat antar elemen. Mulai dari penyampaian maksud implisit hingga uraian air mata. Nampak berlebihan memang, tapi seperti itulah kenyataan nya. Terkadang tampak bias antara idealisme, realita dan harga diri yang seakan berdesakan hadir di forum itu.

Menikmati proses dengan kesungguhan, dan keterbukaan. Akhirnya sang etiologi ditemukan, ini semata tentang yang namanya NILAI, pelalaian nilai tepatnya. Nampak normatif memang, namun ketika dijabarkan kita akan memahami itu secara realita. Pelalaian nilai dalam tataran teknis-konsep, dan pelalaian nilai dalam tataran idealisme.

Pelalaian nilai dalam tataran teknis-konsep
Terkadang sang pendahulu sungkan untuk berbagi, mungkin bukan sungkan lebih tepatnya, melainkan kehati-hatian akan sebuah persepsi yang disebut intervensi. Begitupun generasi muda pelaksana, terkadang terlalu yakin dengan ide-ide dan pemikiran ideal nya disertai rasa segan untuk berdiskusi dengan sang pendahulu. Kemauan dan Komunikasi sejatinya yang bisa menjembatani kedua gap tadi untuk akhirnya bertemu membentuk transfer nilai. Menjaga kontinuitas nilai, berbagi pengalaman, belajar dari kekurangan dan mewujudkan apa yang perlu diperbaiki pada masa sebelumnya. Organizing committee, disciplinary committee, steering committee mutlak untuk melakukan proses ini. Banyak permasalahan berulang yang muncul, baik itu dalam proses pengambilan keputusan, maupun dalam menjalankan nya, yang seharusnya permasalahan seperti ini bisa diputus ketika transfer nilai ini berjalan, sehingga konflik terminimalisir. Dan secara tidak langsung, silaturahim-kekeluargaan dapat muncul antar elemen yang melakukan proses ini.

Pelalaian nilai dalam tataran idealisme
Meraih hasil optimal merupakan sebuah keharusan, menjadi pemenang adalah kemauan setiap orang. Tapi jangan sampai ambisi menang menafikan kebersamaan, kekeluargaan. Ubah paradigma menang-kalah menjadi menang-menang dalam sebuah kebersamaan. Bagaimana setiap kita mau membuka hati, mata dan telinga kita bahwa kebersamaan jauh lebih penting dibanding kemenangan semata. Jangan sampai ada hati yang tersakiti, jangan sampai hal yang kita lakukan merusak integritas. Jangan berprasangka buruk, inilah tingkatan awal yang harus dilalui dalam kekeluargaan. Tidak berprasangka buruk merupakan tingkatan terendah dari kekeluargaan sebelum mencapai tingkatan tertinggi nya yakni mendahulukan kepentingan keluarga nya. Muhasabah, evaluasi diri menjadi hal penting dalam mengakselerasi proses ini. Bisa jadi ada sikap, ada hal yang memang salah dari diri setiap kita yang memunculkan prasangka dari orang, cobalah terbuka dan merefleksikan diri. Mulailah dari individu, karena kumulatif individu akan ter-representasi menjadi warna kelompok, angkatan. Ubah paradigma – Muhasabah, evaluasi – Berbenah jadi lebih baik – Minimalisir prasangka – Kekeluargaan.

Adik sayang kakak, kakak sayang adik. Katanya ini FK banget. Semoga tidak hanya jadi sekadar slogan atau jargon. Mungkin saya membahasakan nya dengan yang lebih tua menghargai yang lebih muda, yang lebih muda menghormati yang lebih tua. Perwujudan paling sederhana nya ada dalam sebuah bentuk komunikasi. Jangan sampai menunggu efek bola salju, jangan sampai efek domino konflik itu muncul. Tanggung jawab setiap kita yang mengerti lah, untuk menjaga ‘nilai’ baik itu tetap hidup dan terjaga di lingkungan kita, baik itu intra maupun ekstra angkatan.

Selasa, 23 Februari 2010

Bantu saya mendirikan shalat yang baik kawan..



Kembali teringatkan. Cukup tertegur, tertampar mungkin, ketika sebuah masukan, sindiran halus, bahan intropeksi yang walau pelan ucapnya, dalam maknanya. Disuatu sore dalam kajian ilmu, ta'lim rutin.

Mengenai shalat (walau saat itu kajian utamanya tentang Al Qur'an). Ditanya tentang amalan pertama yang akan dihisab. Jelas lah jawaban nya adalah shalat. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadist rasul:

“Amal yang pertama kali dihisab bagi seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya yang lain. Dan jika shalatnya rusak maka rusaklah seluruh amalnya yang lain.” (HR. Ath-Thabrani)

Lalu shalat seperti apakah yang baik itu?? sempat terfikir saat itu ialah shalat yang khusyuk, dengan memahami bacaan shalat salah satunya. Ya, memahami bacaan shalat. Cukup terhentak ketika kembali mengingat akan hal itu. Pasalnya, hampir 21 tahun saya terlahir kedunia, dan mulai dari usia sekitar 5 tahunan orang tua saya mengajarkan saya mengenal Allah dengan shalat, tapi tak semua bacaan shalat saya pahami sampai sekarang.. T_T, astaghfirullah..., ya Allah.., ampuni hamba yang lemah, yang kecil ini.. T_T (kembali mengingatkan hal yang sempat terlupakan untuk selalu diperbaharui lebih baik)

Memang, jika kita hanya menilai dari pertimbangan fiqih semata, setau saya arti bacaan shalat tidak termasuk rukun shalat, tidak termasuk syarat sahnya shalat, juga tidak termasuk kewajiban shalat, bahkan sunnah-sunnah shalat pun tidak. Sehingga bila ada seorang yang shalat tanpa pernah paham apa yang diucapkannya, asalkan bacaannya benar, tentu shalatnya sudah sah secara fiqih. Dan konsekuensinya, kewajiban shalat atasnya telah gugur, sehingga dia tidak perlu melakukan shalat lagi.
(tolong koreksi jika saya salah... ^^')

Namun coba kita sama-sama telaah dari sisi lain,secara pendekatan maknawi sungguh sangat merugi dan terasing orang yang shalat tapi tidak paham apa yang dibacanya. Pasalnya, shalat ialah dialog antara seorang hamba dengan tuhannya. Secara bahasa, shalat adalah doa. Dan doa itu adalah lafaz yang diucapkan untuk meminta sesuatu. Bisakah kita membayangkan tentang seseorang yang berdoa memohon sesuatu,namun dia tidak pernah mengerti apa yang diucapkan, aneh bukan?

Selama belum bisa memahami bacaan shalat seutuhnya, bagaimana ketika kita melafazkan bacaan shalat kita benar-benar menghadirkan makna bacaan itu sepenuh kesadaran??

Ya Allah, lagi-lagi ampuni hamba yang lalai ini,yang mungkin sering menyia-nyiakan shalat, satu waktu dimana kita langsung menghadap Allah, satu waktu dimana seharusnya kita benar-benar menundukkan diri sambil memuji keagunganNya dan merasa semakin hina dan tak berdaya di hadapanNya, sementara Allah menatap langsung ke hadapan wajah kita. Satu waktu dimana seharusnya kita memohon ampun di setiap bungkuk, sujud dan duduk bersimpuh, berserah diri. Sudahkah shalat kita seperti ini??
Ampunilah kami yang belajar dan mencoba menumbuhkan semangat untuk terus berbenah ini, mencoba meningkatkan kualitas shalat kami.

Hampir 21 tahun, sudah cukup terlambat memang, tapi tak ada kata terlambat untuk berbenah. Semoga anak-anak saya kelak sudah diajarkan ini sejak dini, oleh ibunya paling tidak, mengenal Allah, mendekatkan diri pada Nya, lewat shalat dan pemahaman akan bacaan nya. Mungkin, seandainya saya belum hapal dan paham akan arti bacaan shalat, generasi penerus saya yang mungkin nanti akan dengan fasih dan cerdas nya melantunkan ini pada guru ngajinya. Semoga, jadikan ini doa ya Allah.

Kita harus belajar! ya, berbenah, meningkatkan kualitas itu. Menjadikan shalat sangat berarti dengan memahami maknanya dan khusyu' menjalankannya.

Memulai dengan belajar untuk mengerti kata demi kata lafaz bacaan shalat. Mulai dari takbiratul ihram, doa istiftah (iftitah), bacaan surat Al-Fatihah, bacaan ayat-ayat Al-Quran setelah surat Al-Fatihah, lafaz bacaan tatkala ruku', i'tidal, sujud, duduk antara dua sujud, tahiyat awal dan tahiyat akhir. Dan semoga media tulisan ini menjadi pelipatganda, media pencerahan, pengingat, intropeksi dan akselerasi setiap kita yang ingin sama-sama belajar. Semoga bisa menjadi sarana itu.

Mari kita mulai... :D (dengan semangat tinggi hanya karena Allah.. ^^, bismillah, insya Allah..)

Takbiratul Ihram ---> ALLAAHU AKBAR (Allah Maha Besar)

Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila.
(Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi, dan petang).

Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin.
(Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik)

Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil 'aalamiin.
(Sesungguhnya shalatku, dan ibadah qurbanku, dan hidupku, dan matiku, hanya untuk Allaah Rabb Semesta Alam).

Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin.
(Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu)

Surah Al- Faatihah.
Adapun Rasulullaah ketika membaca surah Al-Faatihah senantiasa satu napas per satu ayatnya, tidak terburu-buru, dan benar-benar memaknainya. Surah ini memiliki khasiat yang sangat tinggi sekali. Bahkan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah sampai menuliskan makna iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin, dalam satu kitabnya yang berjudul Madarijus Saalikin, dimana beliau bercerita ketika di suatu kota ia menderita sakit, maka ia membacanya per ayat dengan sungguh-sungguh, dan ia rasakan bahwa setiap selesai satu ayat dibacanya, terasa berguguran sakit yang dirasakannya.
Subhaanallaah.

Bismillaah, arrahmaan, arrahiim (Bismillaahirrahmaanirrahiim)
(Dengan nama Allaah, Maha Pengasih, Maha Penyayang)

Alhamdulillaah, Rabbil 'aalamiin
(Segala puji hanya milik Allaah, Rabb semesta 'alam)

Arrahmaan, Arrahiim
(Maha Pengasih, Maha Penyayang)

Maaliki, yaumiddiin
(Penguasa, Hari Pembalasan/Hari Tempat Kembali)

Iyyaaka, na'budu, wa iyyaaka, nasta'iin
(KepadaMulah, kami menyembah, dan kepadaMulah, kami mohon pertolongan)

Ihdina, asshiraathal, mustaqiim ---> berharaplah dengan penuh harap ketika membacanya.
(Tunjuki kami, jalan, golongan orang-orang yang lurus)

Shiraath, alladziina, an'am, ta 'alayhim
(Jalan, yang, telah Engkau beri ni'mat, kepada mereka)

Ghayril maghduubi 'alaihim, wa laddhaaaalliiin.
(Bukan/Selain, (jalan) orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat)

Lalu ruku', dimana ketika ruku' ini beliau mengucapkan bermacam-macam dzikir dan do'a. Kadangkala beliau mengucapkan yang ini dan kadangkala mengucapkan yang itu :

1. Subhaana, rabbiyal, 'adzhiimi.
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Agung)
---> dzikir ini diucapkan beliau sebanyak tiga kali.
(Hadits riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Ad-Daaruquthni, Al-Bazaar, dan Ath-Thabarani)
---> kadangkala juga beliau membacanya berulang-ulang lebih banyak dari tiga kali, dan sesekali beliau berlebihan dalam mengulanginya ketika shalat lail (malam), sehingga lama ruku'nya hampir mendekati lama berdirinya.

2. Subbuuhun, qudduus, rabbul malaaikati, warruuh.
(Maha Suci Engkau ya Allaah, Pemberi berkah, Tuhan malaikat, dan ruh)
--> Riwayat Muslim

3. Allaahumma, laka raka'at, wa aamantu, wa laka aslamtu,
(Yaa Allaah, kepadaMu, kuserahkan ruku'ku, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku Islam (menyerahkan diri).)
anta rabbiiy, khasa'a laka sam'iiy, wa bashariy, wa mukhyii, wa 'adzhomii, wa fii riwaayah
(Engkau Tuhanku, KepadaMulah pendengaran, penglihatan, otak, tulang, dan syarafku tunduk)
wa mastaqallat bihi, qadamii, lillaah, rabbil 'aalamiin.
(Dan apa yang dibawa kakiku, kuserahkan, kepada Allaah, Tuhan semesta alam)
(HR. Ad-Dharuquthni)

Lalu I'tidal.
Rasululullaah Sallaahu 'alayhi wa sallaam mengangkat punggungnya dari ruku' sambil mengucapkan,
"Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya".
(Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim)

Maka ketika kita i'tidal atau bangkit dari ruku, sambil mengangkat kedua tangan sejajar bahu ataupun sejajar telinga, maka kita mengucapkan :

Sami'allaahu, li, man, hamida, hu
(Mudah-mudahan mendengar Allah, kepada, sesiapa yang, memuji, Nya)

Sesungguhnya imam itu dijadikan hanya untuk diikuti. Oleh karena itu, apabila ia mengucapkan "sami'allaahu liman hamidah", maka ucapkanlah "rabbanaa lakal hamdu", niscaya Allah memperhatikan kamu.

Maka mari kita baca :
Rabbanaa, lakal, hamdu
(Yaa Tuhan kami, bagiMulah, segala puji)

Kadangkala lafadzh diatas beliau tambahkan seperti :
mil assamaawaati, wa mil al ardhi, wa mil a maa shikta, min shai in, ba'du
(Sepenuh langit, dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki, dari sesuatu, sesudahnya)
Kalimat diatas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu 'Uwanah)

Lalu sujud.
Ketika kita sujud, maka dengan tenang hendaknya kita mengucapkan do'a-do'a sujud seperti yang telah dicontohkan Rasulullaah Sallallaahu 'alayhi wa sallaam.

1. Subhaana, rabbiyal, a'laa
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur)
Dzikir ini beliau ucapkan sebanyak tiga kali, dan kadangkala beliau mengulang-ulanginya lebih daripada itu.

2. Subhaana, rabbiyal, a'laa, wa, bihamdi, hi
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan, aku memuji, Nya)

3. Subbuuhun, qudduusun, rabbul malaaikati, warruuh
(Maha Suci, Pemberi Berkat, Tuhan malaikat, dan ruh)

Duduk antara dua Sujud.
Ketika kita bangun dari sujud, maka hendaklah kita berdo'a sepertinya do'anya Rasulullaah, dan bacalah do'a tersebuh dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan, dan penuh pengharapan kepada Allah Subhaana wa Ta'ala.

Di dalam duduk ini, Rasulullaah Sallallaahu 'alayhi wa sallaam mengucapkan :
Allaahummaghfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa'nii, wahdinii, wa 'aafinii, warzuqnii
(Ya Allaah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku)

At-Tasyaahud.

Attahiyyaatulillaah, wasshalawatu, watthayyibaat.
Segala ucapan selamat adalah bagi Allaah, dan kebahagiaan, dan kebaikan.

Assalaamu 'alayka * , ayyuhannabiyyu, warahmatullaah, wa barakaatuh.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu *, wahai Nabi, dan beserta rahmat Allaah, dan berkatNya.

Assalaamu 'alaynaa, wa 'alaa, 'ibaadillaahisshaalihiiin.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula, dan kepada sekalian hamba-hambanya yang shaleh.

Asyhadu, allaa, ilaaha, illallaah.
Aku bersaksi, bahwa tiada, Tuhan, kecuali Allaah.

Wa asyhadu, anna muhammadan, 'abduhu, wa rasuluhu.
Dan aku bersaksi, bahwa muhammad, hambaNya, dan RasulNya.
(dalam riwayat lain: Wa asyhadu annaa muhammadarrasuulullaah)

ada yang mengatakan, karena beliau telah wafat, maka para shahabat mengucapkan :
Assalaamu 'alannabiy.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi.

Rasulullaah saw. mengucapkan shalawat atas dirinya sendiri di dalam tasyahhud pertama dan lainnya. Yang demikian itu beliau syari'atkan kepada umatnya, yakni beliau memerintahkan kepada mereka untuk mengucapkan shalawat atasnya setelah mengucapkan salam kepadanya dan beliau mengajar mereka macam-macam bacaan salawat kepadanya.

Berikut kita ambil sebuah hadits yang sudah umum di kita, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Al-Humaidi, dan Ibnu Mandah.

Allaahumma, shalli 'alaa muhammad, wa 'alaa, aali muhammad.
Ya Allaah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada, keluarga Muhammad

Kamaa, shallayta, 'alaa ibrahiim, wa 'alaa, aali ibraahiim.
Sebagaimana, Engkau telah memberikan kebahagiaan, kepada Ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim.

Allaahumma, baarik, 'alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad.
Ya Allaah, berikanlah berkah, kepada Muhammad, dan kepada, keluarga Muhammad

Kamaa, baarakta, 'ala ibraahiim, wa 'alaa, aali ibraahiiim.
Sebagaimana, Engkau telah memberikan berkah, kepada ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim.

Innaka, hamiidummajiid.
Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Cara Mengucapkan Salam.
Mari kita simak hadits berikut, yang diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasa'i, dan Tirmidzi serta dishahihkan olehnya.

"Rasulullaah saw. mengucapkan salam ke sebelah kanannya : Assalaamu 'alaykum warahmatullaahi wa barakaatuh (Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allaah, serta berkatNya), sehingga tampaklah putih pipinya sebelah kanan. Dan ke sebelah kiri beliau mengucapkan : Assalaamu 'alaykum warahmatullaah (Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allaah), sehingga tampaklah putih pipinya yang sebelah kiri."

Perhatikanlah, bahwa ternyata ucapan kita ketika menoleh ke kanan (salam yang pertama) lebih banyak daripada ucapan kita ketika menoleh ke kiri (salam yang kedua).

Atau dalam riwayat lain, ketika salam yang pertama beliau mengucapkan :
Assalaamu 'alaykum warahmatullaah, dan pada salam yang kedua beliau mengucapkan : Assalaamu 'alaykum.

Ya inilah, salah satu upaya. Jalan kemudahan bagi kita di dalam berusaha khusyuk dan memahami setiap gerakan yang kita lakukan, sehingga benar-benar memiliki ruh dan nilai yang sulit bagi kita untuk menuangkannya dalam kata-kata, karena begitu nikmatnya shalat itu.

Ya, inilah shalat, amalan pertama yang dihisab kelak. Yang perintahnya telah Allah tunjukkan dalam firman Nya.

Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thahaa : 20)

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.” (QS. Al-Baqarah : 43)

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu. Sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj : 77)

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153)

Dalam hadist pun Rasulullah bersabda:
“Allah telah mewajibkan atas umatku pada malam isra’ mi’raj 50 kali shalat, maka aku selalu kembali menghadap-Nya dan memohon keringanan sehingga dijadikan kewajiban shalat 5 waktu dalam sehari semalam.”
(HR. Bukhari dan Muslim, Shahih)

Itulah shalat, yang harus didirikan dalam kondisi ringan maupun berat.
Tak dibenarkan setiap kita meninggalkan shalat, sebab syari’ah tidaklah mempersulit umat islam untuk melaksanakan ibadah pada Tuhannya. Sebagaimana firman Allah sebagai berikut.

Allah berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. AL-Baqarah : 2). Dan, “Allah tidak hendak menyulitkanmu.” (QS Al-Maaidah : 6)

Ya, itulah shalat, disanalah nilainya sebagai pembeda, sebagai ciri orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah:
“Kitab (Al-qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Yaitu mereka yang beriman pada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kpd ereka.” (QS. Al-Baqarah : 2-3)

Jika ada sarana pembersih diri, penghapus dosa, maka salah satunya ialah dengan shalat.

Sebagaimana hadits: dari Abi Hurairah ra. Rasulullah bersabda: “Shalat lima waktu dan shalat jumat, dari shalat yang satu ke shalat yang lainnya, adalah sebagai penghapus dosa yang terjadi di waktu antara keduanya, kecuali dosa besar.”

Shalat pun mencegah dari hal yang keji lagi munkar, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ankabut : 45
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu,, yaitu Al-kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar”.

Orang yang senantiasa menjaga shalatnya, insy Allah dapat menumbuhkan rasa cinta, takut dan malu kepada Allah, sehingga dapat mencegah diri dari dosa.

Sifat kikir dan keluh kesah, itupun dapat kita hindari dengan mendirikan shalat. Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat Al-ma’arij : 19-23:

“Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakannya”.

Itulah sarana yang Allah sediakan bagi hambaNya untuk mendekatkan diri kepadaNya. Itulah obat hati, yang dapat menyinari hati, menyucikan diri, melapangkan hati, mendatangkan ketenangan dan ketentraman dalam hati, serta keselamatan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mendirikan nya. Ya, itulah shalat!

Shalat. Sarana penempa,pembangun dan pelatih kedisiplinan diri, menumbuhkan ketaatan dan ketundukkan dalam hati serta meningkatkan ketakwaan.

Sebagai seorang mahasiswa kedokteran, tentunya kita pun tahu, bahwasanya shalat juga mempunyai manfaat bagi tubuh secara medis. Jadi selain bermanfaat untuk bathin, shalat juga baik bagi tubuh.

Namun, sudahkah kita sungguh-sungguh mendirikan shalat kita??

Bantu saya mendirikan shalat yang baik kawan..
Bantu saya memperbaharui iman saya yang kumuh ini....

Semoga Allah memberikan kita hidayah dan menjadikan kita orang-orang yang beribadah kepada-Nya dengan sepenuh penjiwaan...


* shalat dzuhur berjamaah @ masjid Asy Syifaa' FK Unpad..


* ayo para ustadz, ajari saya untuk terus memperbaiki diri..^^
// danfer] http://frinholictea.blogspot.com/