Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2012

Kita dan Rasa Sepi Seorang Ibu

Mengambil hikmah di seberang waduk Jatiluhur, Purwakarta. Berkisah tentang perburuan janda jompo di Parang Gombong, untuk disantuni, diperiksa kesehatannya dan diobati. Menjajal malam dari rumah ke rumah, satu jompo ke jompo lainnya. Belajar tentang rindu, itu salah satu makna yang bisa kuikat malam itu.

Berawal dari pertemuanku dengan (sebut saja namanya) Nenek Ucuk, salah satu janda jompo yang kutemui dari 8 orang yang akan dikunjungi. Kediamannya hanyalah rumah panggung, kecil, berbentuk satu kamar, dengan penerangan luar yang tak terlalu terang. Tak pernah kubayangkan sebelumnya respon yang muncul dari beliau saat aku ketuk pintu rumahnya. Dengan tubuhnya yang renta, saat beliau keluar dan melihat kami, ia langsung menangis. Teriak, menangis histeris, haru. Tak pernah sebelumnya ada yang mau peduli dengannya, mengunjunginya, bertatap dengannya, bahkan sekadar duduk di teras rumahnya. Begitu tutur beliau sambil sesekali memeluk, merangkul, dan menggengam tangan kami disela-sela cerita dan tangisnya.

Nenek Ucuk, seorang yang hidup lebih dari 75 tahun ini masih sempat merasakan masa penjajahan Belanda dan Jepang. Ia masih sempat menyaksikan banyak penyembelihan kepala manusia pada masanya. Ia yang pernah menyembunyikan anak-anak laki-laki seusiaku dulu dari kejaran penjajah di rumahnya. Kini hidup seorang diri, walaupun ia punya beberapa anak dan cucu. Kesehariannya hanya makan nasi dan kecap dua kali sehari, dan minum dengan air teh manis. Pekerjaannya, hanyalah pengumpul karung-karung bekas. Yang tak kalah menyedihkannya adalah ketika warga sekitar melarang anak-anak kecil mereka bermain di sekitaran rumah Nenek Ucuk ini. Selalu mereka ditakut-takuti bahwa rumah Nenek Ucuk ini adalah 'Sarang Babi'.

Menyaksikan rasa sepi seorang ibu. Itu yang pertama terlintas di benakku saat melihat sang Nenek menangis ketika kami kunjungi, ketika ia sadar bahwa masih ada yang peduli. Berpisah dengan anak, keluarga saja sudah meninggalkan rasa sepi yang gersang pikirku, apalagi jika ditambah harus dikucilkan dari lingkungan. Aku bisa merasakan refleksi yang serupa, akan perasaan mendasar tentang rindu seorang ibu akan anaknya, keluarganya malam itu. Rasa sepi ibu itu naluri yang sangat khas.

Melihat realita tersebut, ditengah padatnya rutinitas yang sering menguasai diri kita, kita perlu sejenak berbicara dengan hati sendiri tentang seperti apakah kiranya hari ini keadaan ibu kita. Rasanya tak berlebihan bila sejenak kita perlu berbicara dengan perasaan kita, adakah rasa sepi kiranya tengah bergelayut di hati ibu kita??

Suatu waktu dalam hidup kita, ibu kita pun adalah ibu yang kesepian. Merindukan kita yang mulai asyik dengan diri kita sendiri. Kita mulai membangun cara pandang berbeda, cita rasa berbeda, dan bahkan mencari alasan yang terlalu rumit untuk merasa tidak bisa memahami seorang ibu secara apa adanya. Di usia kita yang belum terlalu tegak menjadi lelaki atau perempuan dewasa, ibu kita masih dan akan selalu berkata, "Hati-hati nak." Dan terkadang kita banyak menjawabnya dengan " Sudah mengerti bu, aku sudah besar."

Kita dan orang tua memang ditakdirkan lahir di generasi yang berbeda, menghuni zaman yang tak serupa, mengalami perubahan-perubahan budaya yang tak sama, sehingga terkadang muncul perbedaan-perbedaan yang membuat komunikasi orang tua dan anak tak sepaham, kehendak yang tak seiring, dan pikiran yang tak sejalan. Kondisi seperti ini seringkali mewariskan rasa sepi di kehidupan orang tua. Bukan karena mereka ditinggalkan, tapi karena ada keinginan yang tak dapat dipahami oleh anaknya. Ibu kita yang umumnya lebih banyak menghabiskan hari-harinya di rumah memang kadang gagal menangkap dan memahami perubahan yang terjadi pada pribadi dan lingkungan anaknya, perubahan yang tidak disertai kedewasaan dan kemampuan menghormati sebagaimana seharusnya.

Suatu masa dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang menahan rindu. Menanti bertemu dengan anak-anak yang mulai terasa tak lagi membersamainya. Jangankan  bagi yang tak serumah karena harus merantau belajar, bahkan sebagian kita yang tinggal satu atap dengannya tak jarang seperti hidup dalam dunia yang berbeda. Kita dekat tetapi jauh.

Suatu ketika dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang mencintai kita dengan segenap perasaannya yang dulu, tidak berubah. Sama kuatnya, sama tulusnya. Suatu saat dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang tak lelah berharap dan berdoa untuk kita. Bahkan bila pun kita menganggap diri kita telah menjadi sesuatu. Sementara kita terkadang tumbuh dalam keangkuhan-keangkuhan, yang bersama itu mungkin cara kita memahami perasaan ibu kita pun sering berubah.

Sadarilah, bahwa sepi adalah jejak waktu yang tentu saja tak memberi rasa nyaman. Apalagi kita tak bisa tahu kapan ia akan berakhir. Dan seorang ibu adalah sosok yang mungkin sangat sering mengalami itu dalam hidupnya, meski mungkin kita kadang tak menyadari itu sebagai seorang anaknya. Sekali lagi, mari sejenak kita coba renungkan, bicara soal keadaan orang tua. Soal rasa sepi yang seringkali menerpa hidupnya. Saat kita masih punya kesempatan untuk membalas budi mereka, melakukan yang terbaik untuknya. Untuk ibu yang pengorbanannya tak terhingga. Agar jangan sampai ada kata "menyesal" di kemudian hari.

Mungkin kita juga adalah salah seorang anak yang telah membuat ibu merasa sepi, karena meninggalkannya untuk sementara, demi mengejar cita-cita. Hari ini, entah dimanapun setiap kita berada, mari sejenak bicara tentang rasa sepi ibu yang terus menyimpan cinta dan kasihnya pada kita sampai kapan pun. Mari sejenak kita merenungkan keadaannya, di kala kita sedang jauh dari sisinya. Apakah yang sedang dia lakukan kini?? Sesekali obati rasa sepinya dengan rela meninggalkan kesibukkan untuk sesaat pulang menemuinya, mencium tangannya. Atau terkadang, cukup dengan suara saja ibu telah merasa puas. Sebab terkadang dengan sepatah kata sapaan dari kita yang terdengar dari ujung telepon, telah membuatnya bahagia yang tak terkira.

Ibu memang selalu merindukan kita. Sangat merindukan kita. Sampai kapan pun. Gambar wajah kita selalu hadir di benaknya, bermain-main di pelupuk matanya. Dia selalu melempar ingatannya ke masa-masa lalu yang indah ketika kita masih bersamanya, mengenang segala tingkah lucu kita yang menggores kesan indah di hatinya. 

Sukses seorang anak tentunya memberi rasa bangga dan puas di hati seorang ibu. Kelelahan selama bertahun-tahun yang dia alami, akan berakhir tanpa bekas manakala dia melihat anak-anak yang dibesarkannya dengan penuh cinta hidup dalam kemudahan dan keadaan yang lebih baik dari kehidupannya sendiri.

Tetapi tentu bukan hal itu yang paling membahagiakan seorang ibu. Selain kesuksesan dan keberhasilan, seorang ibu sangatlah ingin melihat anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang shalih, berbakti dan berakhlak mulia. Itulah yang paling membahagiakan orang tua. Tak ada yang paling menyenangkan hatinya dan menentramkan jiwanya selain melihat mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah swt. Terlebih ketika mereka telah berada di usia yang semakin senja, selalu ada harapan agar anaknya kelak tetap mengenangnya setelah kepergiannya, dalam doa dan munajatnya, memohonkan ampun untuknya.

Rasa sepi yang paling dahsyat akan dirasakan seorang ibu ketika ia tak menemukan keshalihan pada diri anak-anaknya. Saat beribadah tak ada yang menemani. Ketika berdoa tak ada yang mengamini. Di kala sakit tak ada yang mendoakan. Akhir hidupnya dihantui rasa takut akan kegagalan menuai pahala anak-anaknya.

Rasa sepi yang dialami oleh ibu tentu tak cukup hanya kita bicarakan. Sebab bicara tak akan memberi manfaat untuknya, kecuali agar ada kesadaran yang muncul dari diri kita, untuk mengenali dan mengetahui kondisi itu. Bicara tak akan mengobati rasa sepi itu. Bicara tak akan mengurangi kesendirian dan kerinduan ibu. Yang harus kita lakukan kemudian adalah merenungi apa yang telah kita berikan kepada ibu. Merenungi adalah untuk mengukur kadar perhatian kita kepadanya, agar kita bisa memberinya lebih banyak lagi, dalam hal apapun.

Selalu taatlah kepadanya, jagalah hubungan baik dengannya, hindari hal-hal yang tidak disukainya. Ajaran agama tak memberi kita ruang untuk menolak apapun perintahnya, kecuali jika perintah itu menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya. Tunjukanlah selalu ketaatan kepada mereka, berikanlah bakti kita kepadanya.

"Tidak ada dosa yang dipercepat adzab kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat selain (dua hal), yang pertama berlaku zhalim, dan kedua memutus silaturrahim (dengan orang tua)" HR. Bukhari
 

"Telah berkata Rasulullah saw, ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat: anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan kepala rumah tangga yang membiarkan ada kejelekan (zina) dalam rumah tangganya" HR. Hakim

Maksimalkanlah kekuatan doanya, kejarlah doanya yang tak terhijab, mintalah ketulusannya, dan rengkuhlah ridhanya.
 

" Tiga doa yang mustajab, yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya: Doa orang yang terdzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk anaknya " HR. Tirmidzi
 
Sepenggal kisah pertemuan dengan Nenek Ucuk di Parang Gombong ini, sekali lagi bisa menjadi sebuah refleksi mendalam bagi kita, untuk sejenak bicara tentang rasa sepi seorang ibu. Yang ditengah kesepiannya itu, ia masih senantiasa melantunkan doa bagi anak-anaknya, maupun alm orang tuanya yang sudah lama meninggal. Menjadi sebuah refleksi bagi kita yang masih diberi kesempatan hidup, di masa usia yang masih terbilang 'muda.'

*sebuah catatan pasca Bakti Sosial Parang Gombong, Purwakarta, 23 September 2012*

Minggu, 15 April 2012

Dua Tiga Kontemplasi

Simbol kemenangan sang juara

Dua puluh tiga tahun plus sembilan bulan silam. Satu diantara kurang lebih dua ratus juta yang Allah takdirkan tuk diciptakan. Bertualang, sungguh-sungguh bertahan, untuk mencapai tujuan.Ingin sedikit aku ceritakan tentang perjalanan, bagaimana sebelum menjadi aku yang sekarang. Ini tentang proses pembuahan, proses awal manusia diciptakan, juga tentang kesungguhan, dan kemampuan bertahan untuk mencapai tujuan.

Begitu ditakdirkan untuk diciptakan, perjuangan dikobarkan. Mencari aliran lendir alami untuk membawa ke mulut rahim, kemudian berenang di dalam rahim sampai ke muara saluran telur. Dari sekitar 200 juta tak semua bertahan, hanya yang kuat yang masih mampu bertahan. Untuk sisa yang bertahan, mengambil keputusan menjadi tantangan. Umumnya hanya sebutir telur yang dihasilkan, tidak tentu saluran mana yang berisi telur matang itu. Maka soal saluran kiri atau kanan yang harus kuambil merupakan keputusan yang menentukan. Memilih saluran yang salah berarti menyia-nyiakan perjalanan. Energi yang kita miliki hanya cukup untuk menjelajah satu saluran.

Bersyukur aku berada pada pilihan yang benar. Kuat dan juga tepat mengambil keputusan yang membuat ku bertahan. Perjuangan belum padam, kini saatnya aku bersama sisa yang bertahan berenang melawan arus, karena sel-sel pada dinding saluran pelan-pelan mendorong telur menuju ke rahim. Dalam situasi ini, ada yang menjadi bingung dan mulai berenang berputar-putar tanpa tujuan. Bersyukur aku masih diprogram dengan baik sehingga tahu arah dan tujuan.

Akhirnya, aku dan kurang lebih 300 sisa yang bertahan dari 200 juta yang memperoleh takdir diciptakan berjumpa dengan telur yang sedang dalam perjalanan, hampir sampai ke garis finish. Sebesar apapun kegembiraan yang kita rasakan, kita masih harus menembus dinding telur. Aku dan kawan-kawan yang berkumpul di sekitar telur mulai membentur-benturkan diri ke kulit luar sel telur. Akhirnya, hanya SATU di antara 300 yang berhasil menembus dinding akan diterima untuk membuahi telur. Dan bersyukur, aku menjadi satu yang Allah takdirkan itu. :')

Menjadi yang terpilih adalah bukti kesungguhan, bukti kekuatan untuk bertahan, sampai akhirnya bisa mencapai tujuan. Ini bukan sekedar romantisme di tingkat sel, melainkan sebuah pemantik diri agar punya keistiqamahan dalam berjuang. Kembali pada fitrah seperti proses awal penciptaan, bahwa hidup sejatinya adalah totalitas dalam perjuangan, senantiasa berusaha menjadi yang terbaik dalam bertahan mencapai tujuan.

Buah cinta dan kasih sayang

Ketika dua insan berpadu menjadi satu. Ketika cinta menjadi pemersatu, dan kasih sayang menjadi yang membersamai.Hadirku menjadi buah cinta dan kasih sayang yang bersatu padu, dari dua insan yang menyatu.Menjadi katalisator cinta dan kasih sayang, juga melengkapi kebahagiaan, begitu lahirku.

Aku harap rasa ini masih membersamai dengan hadirku saat ini. Karena hadirku tak akan terlepas dari dua insan yang bersatu itu, Ibu dan Bapak. Bagaimanapun keadaanku, aku adalah bagian dari diri keduanya. Aku adalah buah cinta dan kasih sayang keduanya. Rahim ibu adalah tempat buaianku yang pertama di dunia ini. Air susunya menjadi sumber makanan yang menumbuhkan jasad. Kasih sayang ibu adalah ketenangan yang selalu aku rindukan. Kerelaan ibu untuk berjaga membuat nyenyak tidurku. Timangan Bapak dirasakan sebagai kekokohan. Perasan keringatnya memberikan rasa kenyang dan hangat bagi diri. Didikan nya, menghadirkan kekuatan hingga kini. Doa-doa yang mereka panjatkan menjadi sebab segala kebaikan yang didapatiku. Tak terhingga dengan hitungan jemari untuk merunut kembali segala kebaikan yang mereka curahkan untuk ku.

Izin dan kasih sayang mereka tak kan pernah putus untuk menopang semangat juang ku hingga kini. Tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang aku lakukan. Karena tanpa ridhamu, mustahil kuperoleh ridhaNya. Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya, begitupun pertemuan dengan mu. Hingga tutup usia aku yakin takkan pernah bisa membalas jasamu. Bayaran jasamu hanya surga. Doakan aku menjadi anak shaleh, istiqamah menabung amal guna membawa Ibu-Bapak ke surga Nya kelak :')

Tentang tulang rusuk yang tak akan pernah tertukar

Bicara tentang hal ini aku yakin tak akan ada habisnya. 95% doa yang masuk sebelumnya semua ada unsur terkait ini, jodoh. Tak heran sebenarnya, sejak menginjak tahun kedua anak-anak memang sudah ramai membicarakan topik ini. Ketika aku tanyakan pada beberapa, mengapa mereka getol bicara tentang ini, alasan nya beragam.

"Supaya gk timbul fitnah dan, jadi pemimpin kan pasti banyak interaksi,termasuk sama cewek juga,hehe"

" Supaya ada yang nenangin pas lagi ada masalah atau nerima amanah gede dan, Rasul juga dulu waktu ketakutan nerima wahyu ada Khadijah yg nenangin, nyelimutin "

" Klo anak-anak ada masalah kan pasti jadi pikiran kamu, nah kamu ntar sharing ke siapa coba? apalagi klo yg punya masalahnya kamu, ibarat teko, kamu gk diisi sama masalah aja, tapi harus ada penyaluran nya juga"

" Biar gak nambah yang ngarepin kamu dan, dan biar sekarang yang pada ngarep jadi berhenti lagi berharap, haha "

" Biar gk galau lagi dan! hehe"

" Penasaran aja sih dan, wanita seperti apa yang bakal kamu pilih dari sekian banyak wanita yang ada di dunia "

" Ya seneng aja godain kamu sama hal kayak ginian, haha "

" Biar kayak Habibie dan, di setiap aktivitas kamu ada yg nemenin! "

" Dibalik pria hebat ada wanita hebat yg nemenin nya kan ya dan? Supaya kamu tambah besar, kan ntar manfaat nya kita juga yg ngerasain, he "

" Penasaran aja gwa, dari sekian banyak sinyal kenapa gk ada yang lo respon, mau yang kayak gimana sih dan? he "

" Ya pokoknya mah pengen ibu angkatan aja! "

" Penasaran aja, bertahun-tahun kok sendirian terus, he "

" Berlomba-lomba dalam kebaikan, menyempurnakan setengah agama. "

Begitulah kurang lebih nya, padahal beberapa alasan gak masuk akal aku pikir. Sejak tahun kedua saja isu-isu kayak gini sudah banyak dibicarakan, apalagi sekarang, melewati sarjana kedokteran, dan usia 23 tahun. Jadi wajar. Aku aminkan semuanya sebagai doa :)

Sempat ditanya, pernah jatuh cinta? Bagiku, aku tak ingin jatuh cinta. Mengapa? karena aku ingin membangun cinta, membangun bangunan yang tinggi untuk kelak mencapai surga Nya. Dengan siapa? Wallahu'alam. Kelak semoga Allah mempertemukan ku dengan ia yang selalu menghadirkan ku dalam doa nya, kelak semoga Allah mempertemukan dengan ia yang sungguh-sungguh, totalitas menjaga hatinya untuk ku :). Bukan dengan yang sempurna, bagiku cukup dengan orang yang 'tepat'. Ia yang taat pada Allah dan taat pada suaminya, ia yang selalu bersyukur dan merasa beruntung bersanding dengan berbagai kekurangan yang juga melekat dalam diri ini, untuk kemudian menjadi partner yang membangun, saling melengkapi.

Ah, galau kan jadinya. Bahasan ini lebih baik di-skip, kita sudahi. :). Kita yakini saja bahwa memang tulang rusuk itu tak akan pernah tertukar. Semua akan indah pada waktunya, jika tidak indah, bukan akhir berarti. Jodoh itu tidak bodoh, jadi tidak usah heboh untuk urusan ini bagiku :). Doakan saja agar segera menemukan yang tepat, dan diberi kemudahan serta kemampuan dalam menyempurnakan nya.

Kontribusi dan takdir sejarah

Besar harapku untuk menjadi pribadi yang menghidupkan kemanfaatan diri lebih panjang dari usia biologis yang ada kelak. Namun, merefleksikan diri di usia emas pemuda ini, nampak belum banyak yang bisa kulakukan dibanding cerita-cerita para pemuda lain yang kontribusi nya jauh lebih banyak meledakkan kemanfaatan. Ini menjadi pemantik bagiku untuk terus berlomba dalam kebaikan, menjemput takdir sejarah yang telah Allah tuliskan.

Aktivitas kerelawanan, politik, dan keprofesian, semoga ini tetap istiqamah kulakukan dalam membawa kemanfaatan untuk umat. Wilayahku hanya sampai totalitas dalam berjuang, selebihnya biar Allah yang menjadi sebaik-baiknya pemberi ganjaran dan keputusan.

5 April 2012, semoga tak hanya bertambah bilangan angka, tapi juga nilai makna. Mohon maaf jika selama ini ada yang masih suka terdzalimi, belum tertunaikan hak nya, belum memenuhi janji, dan menjadi pemimpin yang masih banyak kekurangan dalam menjaga dan melayani. Perbaikan setelah ini menjadi keharusan, mohon doa :)

~ sebuah tulisan yang ingin dirampungkan 10 hari yang lalu, namun baru terealisasi sekarang karena baru menemukan waktu yang tepat, pada saat ini :)

Minggu, 01 Mei 2011

Olymphiart; Romantisme dan Pembelajaran

Ini kali keempat kami, ini tahun terakhir kami mengikuti gelaran akbar tahunan yang selalu meramaikan dan ‘menghangatkan’ kehidupan kampus Fakultas Kedokteran Unpad. Gelaran yang memberikan warna tegas dan rasa berbeda dari sekadar berkutat dengan text books, learning issues, skripsi, puluhan kasus untuk OSCE dan SOOCA - yang tinggal hitungan hari -, rapat rutin, kumpul bersama teman satu fraksi, atau mengautis diri dengan kegiatan-kegiatan pribadi setiap kita. Jelas berbeda. Tekad dan antusiasme kumulatif seakan mengesampingkan warna pribadi untuk kemudian lebur membentuk atmosfer FK Unpad yang dinamis, energik, dan ambisius. 

Itulah Olymphiart, gelaran yang tiap tahun nya ‘dikultuskan’ sebagai akselerator kekeluargaan bagi mahasiswa 4 angkatan di FK Unpad. Sekilas tampak bias, bagaimana mencapai kekeluargaan 4 angkatan yang dikemas dalam wujud kompetisi antar keempat angkatan tersebut. Namun, ketika kompetisi dan kekeluargaan itu seolah ditabrakan, masih ada hal yang bisa menjembatani keduanya, yakni pembelajaran. Tiap tahun yang pernah kami lewati, masing-masing memberikan warna yang berbeda. Selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian tiap tahun nya.

Olymphiart 2008: Inisiasi sinergisitas, Pengenalan karakter, dan Harmonisasi

Angkatan baru dengan semangat baru, itulah kami. Belajar mengenal karakter, potensi, menumbuhkan kemauan, dan mengelola keragaman. Polos tanpa beban. Meraba dan mengenal medan, sambil berharap mendapat kedekatan intern maupun ekstern angkatan. Sesekali coba memaknai integritas dalam kapasitas kami yang masih belajar. Mulai belajar berkorban, saling menguatkan, mencoba komposisi terbaik dan menjaga harmoni dari hal baik yang sudah terbentuk.

Olymphiart 2009: Melayani, Profesional, Tegas!

Tanggung jawab ada di pundak kami, panitia olymphiart 2009. Berfikir dan bergerak tak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk kebermanfaatan orang banyak. Beberapa konsepan dan kebijakan serta bentuk acara baru kami coba munculkan sebagai inovasi atas kekurangan yang kami analisis dari permasalahan sebelumnya. Belajar melayani dengan hati, belajar memberi. Berusaha memberi yang terbaik untuk angkatan lain sebagaimana untuk angkatan sendiri, profesional memberikan layanan terbaik untuk kepentingan orang banyak. Tahun ini mencoba memutus permasalahan klasik yang sering terjadi tiap tahun nya, konflik, pemakluman, dan kompromi. Ketegasan atas hal yang disepakati bersama dan atas peraturan tertulis mutlak kami lakukan. Ancaman, tuduhan, tekanan, dan kekerasan tak ayal jadi konsekuensi yang kami terima. Air mata pun terkadang jadi pelepas beban ketika dirasa tak ada lagi tempat untuk bergantung. Cobaan menjadikan kami semakin tangguh dan semakin solid, inilah hikmah langsung yang kami dapat dari menegakkan kebenaran dan mewujudkan kedisiplinan.

Olymphiart 2010: Ambisius dan mematangkan kedewasaan

Kemenangan itu penting, tapi kebersamaan JAUH lebih penting! Potensi sudah tergali, beberapa komposisi terbaik sudah muncul, dan keseungguhan serta kemauan hadir dalam dada mayoritas kita. Kali ini kami punya target, tapi tak ada beban. Menang adalah harapan, tapi bukan keharusan. Ambisius, ya kami punya keinginan keras mencapai harapan itu, namun tetap pada jalur, meminimalisir konflik, dan terkadang mengalah demi sebuah integritas dan sebagai bentuk penghormatan. Disini kami belajar kedewasaan. Bertambah tua itu adalah keniscayaan, tapi kedewasaan itu pilihan, bagaimana kita bersikap, respect, berbesar hati dan bijak dalam menghadapi permasalahan, serta bisa memposisikan diri sesuai dengan peran kita masing-masing. Belajar untuk tidak mudah terluka karena masalah yang amat kecil, belajar memperhatikan perasaan orang lain dan melihat suatu masalah tidak dari satu sudut pandang saja, belajar sabar, mengendalikan jiwa dan emosi serta menenangkan hati. Ya, ini yang kami dapat di 2010.

Olymphiart 2011: TOTALITAS dan Idealis menjaga nilai

Berbuat sebaik dan selurus mungkin dan melakukan apa yang paling mendekati ideal , melakukan yang terbaik dalam setiap hal yang hadir; olymphiart, skripsi, SOOCA, OSCE, MDE, sidang, itulah komitmen yang coba kami munculkan di tahun ini. Fokus, berkorban, dan konsisten untuk mencapai tujuan, tapi tetap menjaga harmonisasi. Menang bukan lagi sebagai kejaran utama, tapi jadi konsekuensi logis atas totalitas yang kami lakukan. Menjadi mahasiswa tingkat akhir mengingatkan sebuah simbol tanggung jawab keutuhan, menjadi penjaga nilai. Membimbing, meluruskan, membantu dan mengingatkan adik-adik angkatan menjadi hak dan tanggung jawab kami, begitulah sejatinya seorang kakak. Belajar menjadi teladan yang baik, dan menjaga atmosfer agar saling menghormati dan menghargai itu tetap terjaga.

Berorientasi menang itu boleh, bahkan harus, tapi jangan sekadar menang! Dan hanya pembelajar lah yang akan menjadi pemenang, karena sejatinya hanya yang bertransformasi kearah yang lebih baik dari sebelumnya lah yang menjadi pemenang, bukan progresivitas kita dalam hal perolehan medali saja, tapi juga progresivitas pendalaman makna akan esensi yang didapat. Esensi tentang totalitas perjuangan, pengorbanan, kedewasaaan, juga integritas dan kebersamaan. Itulah mengapa pembelajaran dapat menjembatani kompetisi untuk dapat mewujudkan kekeluargaan. :)

Jumat, 12 Februari 2010

KONTEMPLASI KERIANGAN

bulir-bulir keceriaan yang mengalir
senyuman yang merekah
canda yang mewarnai
tawa yang membuncah
disertai semangat yang terus menggeliat

sinergis dalam sebuah formulasi
kristalisasi amanah
daur ulang energi
beternak mimpi, gagasan, harapan, asa
bertumbuh, dengan memberi

mencelup sebuah catatan kusam
tetesan keringat
api amarah
benang kusut kesalahan
serta benteng keangkuhan

menjadi tetes air ditengah ketandusan
sepoi angin dalam kegersangan
titik cahaya yang mewarnai hitam kelam kegelapan
maaf

melantun pada sebuah melodi
dalam anggukan hangat
binar mata ikhlas
getar hati yang memendam
syukur
terima kasih

ada hati
ada kehidupan
ada kontribusi

mahkota kehormatan
persembahan dari hati yang tak mati
pengabdian

bukan ritual
bukan ceremonial
matikan harapan untuk kata perpisahan
lupakan romantisme pelepasan

sejatinya ini bukan akhir dari ikatan
tapi euphoria penyambutan

untuk
teman
sahabat
calon rekan sejawat
keluarga

karena ini bukanlah akhir,
tapi awal dari perjuangan bersama
sebuah kontemplasi keriangan
yang pernah dan akan kita rasakan

rasa yang tersipu malu
yang menemani
dimanapun kita

-untuk kalian yang mengubah kerut dahi menjadi lipatan senyum-
(berbagi gambar untuk berbagi keriangan)


* gerakan bawah tanah kita sebelum staffing... :P

* forming, kumpul perdana di kosan galon (yang kini ditempati bagus), masih ingatkah?? ^^

* sebuah deklarasi... ^^

* proker perdana H + beberapa menit setelah dilantik, sekaligus pemasukan uang kas perdana saat itu.. :)

* simulasi BLS @ dept anastesi RSHS.., gaya ya.. :P

* open house kemahasiswaan 1.. (loh kok ada foto ayu ya... ^^'), si bro yang punya hajat saat itu... :)

* contoh foto sesaat setelah penyuluhan.. :P

* buka puasa bersama... ^^

* ke kosan galon lagi setelah buka bareng.. ^^'

* rencana naik kereta domba buat bantu korban gempa sumbar malah nyasar di stasion Bandung.., he..he... ^^'




* jalan-jalan (dalam arti yang sesungguhnya jalan) keliling Bandung.. ^^'

* foto dengan muka kusam setelah lelah seharian jalan... -_-


* open house kemahasiswaan 2...

* berbagi di panti tuna grahita @ magang day.. :)


* kita dan balai pengobatan ciwidey.. :D



* untuk buku kenangan senat, dan untuk kenangan kita kawan.. :D

* makan di salman...

* menghabiskan uang kas untuk es krim...


* es teler 77... (bukan es teler 24 kan, he.. :P )


* dan berakhir tuntas di rumah nenek, hampir tepat menghabiskan 1 juta.., heu.. ^^', hedon pisan.. :P



* pembagian sertifikat, sekaligus serah terima jabatan.. berakhirnya kekuasaan PKM 2009, dan dimulainya kekuasaan swasta 2010.., he.. :p

* pembubaran senat mahasiswa 2009.. :D


*selamat menyatukan kekuatan saudaraku.. :)
// danfer] http://frinholictea.blogspot.com/


Senin, 15 Juni 2009

JOGJA PART VIII : City Tour.. (Tamat, -akhirnya..^^)

Akhirnya.., bisa juga nulis tentang jogja part terakhir.., walaupun udah beberapa bulan yg lalu sebenernya sya harusnya ceritain ini.., tapi gk jelas ceritanya klo akhirnya cerita tentang jogja ini gk ditutup.., he..^^

Setelah Munas & Mukernas.., kini saatnya bagi kami semua untuk mentadaburi tempat pariwisata di jogja.., daripada banyak cerita..., biarlah foto-foto ini yg kembali mengurai kenangan indah yg kita lalui bersama.. :)

1.Keraton Jogja..
ketika yg lain asyik mendengarkan penjelasan dari tour guide tentang sejarah dan bla..bla..bla.. sya memilih keluar dari rombongan dan berburu foto disana.. :), waktu terbatas soalnya.., he..




* di museum kereta keraton Jogja..



* coba tebak.., ngeliat keatas pada ngeliatin apaan ya?? ^^



* inilah jawaban untuk pertanyaan diatas.. :)






* di keraton Jogja...



* cocok gak ya jadi pengawal kerajaan?? ^^



* para abdi keraton..



* gak tau nih patung apaan.., yg pasti pas di foto disini, kami diingetin sama LO kami.., katanya jangan foto di patung ini, klo mau fotonya di patung yg sebelah kanan, karena bawa sial.., iya gitu?? :)


2.Candi Borobudur..
pernah jadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia yg ada di Indonesia..,ketika dulu katanya
tiap batu itu dilekatkan dengan putih telur..,waktu kita kesana..,sedang ada renovasi candi
borobudur..(lucu ya..),tapi buat saya tetep bersejarah.., setidaknya menggoreskan sejarah
kehidupan bersama teman2 lain yg sama2 kesana.. :)





* memenuhi permintaan turis dari Jepang untuk berfoto bersama.. :)



* pas di foto disini.., kita diteriaki dari pengeras suara.., katanya " untuk yg duduk atau menaiki candi.., silahkan segera turun..", jadi malu.., he..he...










* Borobudur.., kembali menjadi sejarah.., paling tidak bagi kami.. :)


Seminggu mengukir sesuatu yg indah bernama kenangan bersama kalian :)
Teringat kata sultan hamengkubuwono, di sini kita berhasil mendapatkan 3 hal tentang jogja, yakni pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata !!
cukup puas seminggu di Jogja..
bertemu di munas yg akan datang di Bali.. ;), atau ketika pengabdian kepada masyarakat nasioanal di Kalimantan.., he.. (ngarep diberangkatin gini..^^)







*temen sekamar saya.. :), sampai bertemu lagi di Bali !! :)



Nb : untuk ke depan nya.., semua tulisan tentang perjalanan hidup.., tentang haha hihi..., atau hal-hal yg ringan lain nya, akan saya posting di http://frinholictea.blogspot.com/ , selanjutnya blog ini akan saya isi posting dengan tulisan2 saya.., pemikiran.., hikmah.., dan hal-hal yg tidak ringan, dan bersifat membangun.., insya Allah...
Silahkan nikmati kedua nya... :)

(maaf klo postingan di bawah posting ini gk rapih.., korban dari kerusakan blog sya yg sebelumnya.., he..^^)