Senin, 03 Desember 2012
Bahagia Itu Sederhana ??
Banyak orang berkata bahwa bahagia itu sederhana. Ya sederhana, karena bahagia itu terkadang memang bukan melulu tentang kita yang mengalami, begitu pikirku. Bahagia bisa dengan melihat orang lain senang atas apa yang kita berikan kepadanya. Pemberian bukan untuk mendapatkan imbalan selanjutnya. Tapi untuk membuktikan bahwa hati ini terikat. Terikat perasaan karena pertemanan, persahabatan, atau kekeluargaan. Bahkan ukuran bahagia bagi salah seorang teman yang sudah menikah jauh lebih sederhana, sesederhana ia menyentuh tangan pasangannya tanpa harus membatalkan wudhunya, begitu katanya. Ini hanya sekadar contoh, tak usahlah menjadi galau setelahnya.
Sengaja aku ambil contoh ekstrem, karena aku yakin semua orang punya definisi bahagianya sendiri. Tak selalu orang kaya itu jauh lebih bahagia dibandingkan dengan orang miskin. Dan bisa jadi, justru saudara-saudara kita di Palestina lebih bahagia dibanding kita yang berada di Indonesia. Menjadi bahagia, bukanlah karena sikap orang lain yang menyenangkan atau menyakiti kita. Tetapi menjadi bahagia adalah karena pilihan kita sendiri untuk menjadi bahagia. Semua ingin bahagia, namun tidak semuanya berusaha melakukan sebab-sebab bagi tercapainya bahagia. Sesungguhnya ada banyak kunci menuju bahagia. Belajar berbahagia, ini yang ingin sama-sama aku pelajari bersamamu. Ada banyak jalan manjadikan sisa usia kita selalu berbahagia.
Mengenal Allah (Ma'rifatullah)
Menurut Imam Al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma'rifatullah", telah mengenal Allah SWT. Imam All-Ghazali menyatakan:
"...kebahagiaan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kebahagiaan telinga mendengar suara yang merdu, adapun kebahagiaan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan seorang pejabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan dengan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden. Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. "
Ma'rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan, bahwa tiada Tuhan selain Allah. Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Yuk sama-sama belajar! :)
Iman Kepada Allah dan Beramal Shaleh
Allah berfirman “Siapa saja yg beramal kebajikan baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman maka Aku akan hidupkan mereka dalam kehidupan yg baik.” “Siapa saja beriman kepada Allah dan hari Akhir serta beramal shaleh mereka tidak pernah takut dan tidak pernah bersedih.” . Abu Yahya Shuhaib bin Sinan Ra. meriwayatkan Rasulullah Saw. bersabda “Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya segala urusannya baginya memberikan kebaikan hal ini tidak dimiliki oleh seorangpun melainkan oleh seorang mukmin. Bila mendapatkan harta atau kesuksesan selalu bersyukur maka jadilah itu kebaikan baginya dan bila mendapatkan kesengsaraan dia selalu bersabar dan itupun menjadikan kebaikan baginya.”
Seolah normatif memang, namun coba kita sedikit telaah cerita tentang Ibnu Taimiyah. Ketika diinterogtasi di Damaskus dengan berbagai bentuk penyiksaan yang keji, Ibnu Taimiyah Rahimahullah malah mengatakan “Apa yg diperbuat musuh-musuhku itulah surgaku, penjara bagiku adalah tempatku menyepi, dan penyiksaan terhadapku itulah syahadahku, sedang pengusiran terhadapku itulah tamasyaku.” Ucapan ini tentu tak akan keluar kecuali dari seorang yang benar-benar telah menghujam kuat imannya di dalam dada.
Atau cerita lain, mengenai Bilal bin Rabah yang merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan. Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu.
Beriman kepada Qadha dan Qadar
Musibah, rezeki, jodoh, semua adalah ketetapan Nya. Baik dan buruk, semua adalah kehendak Nya. Bayangkan, akan menjadi setertekan apa ketika setiap kita tidak mengimani Qadha dan Qadar, mengingkari bahwasanya semua adalah ketetapan Nya. Orang yang bahagia itu bukanlah orang yang selalu mendapatkan kesenangan, sebaliknya orang yang celaka itu bukanlah orang yang selalu dirundung duka. Namun, orang yang berbahagia itu adalah orang yang mampu menyikapi berbagai hal yang menimpanya, baik itu kesenangan maupun duka nestapa dengan sikap diri yang penuh husnuzan (baik sangka) kepada Allah. Percaya bahwa semua adalah ketetapan Nya, dan hal tersebut yang terbaik bagi kita. Artinya, kalaupun ditimpa musibah yang besar, ia akan merasakan kebahagiaan karena ia meyakini bahwa musibah ini adalah sebagai bentuk dari kasih sayang Allah dengan memberikan satu peringatan kepadanya, menjadi jalan penggugur atas dosa-dosanya.
Oleh karena itu, dengan mendidik, membersihkan dan menyucikan jiwa akan menjadikan kita mengetahui apa yang harus dilakukan ketika mencari sesuatu yang diinginkannya dan mengetahui sikap apa yang harus dilakukannya dalam menyikapi hasil yang diperolehnya. Dengan demikian, sikapnya selalu sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
" Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Yakinlah apa saja yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva, dengan demikian disana kan kau temukan bahagia.
Banyak Dzikir dan membaca Al Qur’an
Allah berfirman “Ketahuilah dengan dzikir kepada Allah hati menjadi tenteram.” Orang yg selalu dzikir dan ingat kepada Allah akan bahagia dan tenang hatinya. Sedangkan orang yang berpaling dari ingat kepada Allah maka ia akan hidup dalam kesusahan dan kesedihan. “Dan siapa saja yang berpaling dari ingat kepada Tuhan yang Pemurah niscaya kami tentukan baginya setan, maka jadilah ia teman yang tidak terpisah baginya.” “Dan siapa saja yg berpaling dari dzikir kepada Aku maka adalah baginya penghidupan yang sempit dan kami akan kumpulkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” “Maka kecelakaan bagi mereka yang beku hatinya dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Az Zumar 220)
Terkait dengan mengingat Allah dan ketenteraman hati, sudah pernah kubuat kajiannya dengan pendekatan psikomedis, silakan kembali lihat catatannya :). Kelapangan dada dan mencarinya termasuk tanda-tanda kebahagiaan dan sifat orang-orang yg berbahagia.
Berbagi, Berbuat Baik kepada Manusia
Nampaknya menjadi sebuah fakta yang tak berlebihan jika orang yang suka berbuat baik kepada manusia menjadi orang yang banyak berbahagia serta diterima hidupnya di atas bumi. Kebahagiaan adalah ketika ketika kita dapat melakukan lebih banyak hal untuk lebih banyak kebahagiaan orang lain, bahkan saat diri ini tidak lagi dapat membahagiakan dirinya sendiri.
Lihatlah jiwa- jiwa yang ikhlas itu, yang diciptakan Allah di dunia seperti pabrik kebahagiaan yang siap disebar luaskan untuk mendamaikan hati, dan meluaskan dada sesamanya yang terasa sempit karena cobaan hidup. Dalam hati mereka pun berbisik, tak apa jika mereka menghabiskan banyak waktu mengurus kepentingan demi kebahagiaan orang lain, dan Insya Allah sebagai balasannya, Allah yang akan mengurus kepentingan dan membahagiakan mereka.
Kebahagiaan adalah kepuasan batin atas tercukupinya kedamaian bagi orang lain. Dan ketika kita mencoba mendamaikan orang lain, bukankah dengan terlebih dahulu kita mengkondisikan hati dan pikiran kita agar terlebih dahulu terkondisikan? Dan setelah itu, bukankah juga kedamaian akan menjadi hak kita?
Memandang Urusan Dunia Lebih Rendah Daripada Urusan Akhirat
Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda “Lihatlah orang-orang yang di bawah kamu dan janganlah kamu melihat kepada orang yang lebih tinggi dari kamu. Maka hal itu akan lebih pasti untuk meremehkan nikmat Allah.” . Ini adalah dalam urusan keduniaan karena bila kita ingat ada orang yang lebih rendah dari kita maka kita akan mengetahui betapa besar nikmat Allah yg diberikan kepada kita.
Adapun dalam urusan akhirat, maka hendaknya kita melihat kepada orang-orang yang lebih tinggi dari kita agar kita sadar akan kelemahan dan kekurangan kita. Jangan kita melihat orang yang hancur dan sebab-sebab kehancurannya tetapi lihatlah orang yang selamat dan bagaimana keselamatan itu diraih. Dengan ini kita akan selalu berbenah, bertumbuh, menjadi lebih baik.
Bersabahat dengan Orang Shalih
Memilih sahabat menentukan kebahagiaan, ilmu dan masa depan. Karena dari mereka kita bisa dapatkan kebaikan atau keburukan. Memilih sahabat yang shalih, aku yakin akan senantiasa membawa kebaikan. Memilih sahabat yang shalih, bagiku itu menenteramkan, membawa ketenangan, menumbuhkan, dan membawa kebahagiaan.
Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang shalih. Orang-orang yang shalih akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang shalih adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang shalih.
Mampu Memaafkan
Ibrahim Ataimi berkata “Sesungguhnya ada seorang laki-laki mendzhalimiku maka aku mengasihinya.” Diriwayatkan juga ada beberapa ulama dan juga banyak orang yang berbuat jahat kepada Ibnu Taimiyah sehingga beliau dipenjarakan di iskandariyah. Setelah keluar dari penjara ada yg bertanya adakah kamu ingin membalas orang yang berbuat jahat padamu? Beliau menjawab, "aku bebaskan siapa saja yang telah berbuat zhalim kepadaku dan aku maafkan." Ibnu Taimiyah telah membebaskan semuanya karena beliau tahu hal itu akan membuatnya bahagia di dunia dan akhirat.
Atau cerita lain, seorang sahabat Rasul mendengar ada seorang yang ghibah atas dirinya. Maka sahabat tadi memilih suatu hadiah yang menarik, ia kemudian pergi kepada orang yang berbuat ghibah itu dan diberikannya hadiah tadi. Ketika ditanya tentang sebab pemberian hadiah itu ia menjawab, Rasulullah Saw. bersabda “Siapa saja yang berbuat kebajikan atasmu maka berilah dia imbalan." Sesungguhnya anda telah memberikan hadiah kepadaku dari kebajikanmu sedangkan aku tidak punya kebajikan yang dapat aku berikan padamu kecuali kebaikan dunia. Maha Suci Allah.
Selalu Kembali Kepada Allah dan Berdo’a Kepada Nya
Rasulullah Saw. telah meneladankan semua itu, diantaranya beliau berdo’a “ Ya Allah perbaikilah aku dalam beragama karena dengan agama itu menjadi ishmah bagi segala urusanku, perbaikilah pula duniaku yg merupakan penghidupanku. Perbaiki pula akhiratku yang akan menjadi tempat kembaliku, jadikanlah hidup ini tambahan bagiku dengan berbagai kebaikan serta jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala keburukan.” Beliau juga senantiasa berdo’a “ Ya Allah rahmat Mu aku harapkan. Janganlah Engkau tanggungkan kepada diriku sendiri meski hanya sejenak dan perbaikilah seluruh keadaanku semuanya, tidak ada Tuhan yg berhak disembah kecuali Engkau.”
Hanya Allah lah tempat bergantung, tempat kembali, maka mohonlah kepada Nya, berdoalah kepada Nya, karena Ia akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepada Nya, Ia dekat kepada siapa yang mendekatkan diri kepada Nya. Jangan sampai diri ini teramat sombong, merasa menemukan kebahagiaan tanpa senantiasa kembali pada Nya. Dengan kehendak Nya, Allah mampu mencabut atau menambah nikmat dan kebahagiaan yang kita rasakan dengan mudahnya. Maka, senantiasalah kembali dan berdoa pada Nya. Mudah-mudahan kita mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya bukan angan-angan juga bukan sekedar pembicaraan. Dan kepada Allah lah segala urusan kita kembalikan.
Dalam kondisi apa pun, maka " bahagiakanlah hatimu! " Jangan pernah bersedih. Jika engkau kaya, bahagiakanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu. Dan jika engkau fakir miskin, bahagiakan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Bahagiakanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu. Jika engkau dilupakan orang, kurang masyhur, bahagiakan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu. Mudah-mudahan. Allah mengkaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Aamin.
Kesederhanaan bahagia, kemudian disimpulkan dalam kata 'syukur'. Seseorang bahagia bukan karena selalu mendapatkan yang terbaik di hidupnya, tapi karena selalu bersyukur atas apa yang hadir di hidupnya. Syukur itu, bukan tentang seringnya bernasib baik. Syukur itu tentang berbaik sangka kepada Allah.
Bersamamu, mari kita jemput keutamaan bahagia pada sisa usia kita. Menterjemahkan hal-hal sederhana kedalam bingkai bahagia, dengan selalu menghadirkan kebersamaan Sang Pencipta Bahagia dalam keutuhan makna. :)
Rabu, 06 Juni 2012
Benarkah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram?
“…Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar Ra’d, 13:28).
Sangat miris, ketika ayat diatas seolah normatif bagi kebanyakan kita, padahal itulah janji Allah. Ya sekali lagi memang nampak normatif ketika kita mencoba memberi solusi kepada diri maupun orang lain yang kita pedulikan atas kecemasan, kekhawatiran atau ketakutan akan masalah yang mereka hadapi dengan ayat tersebut.
Ingin rasanya aku tunjukkan fakta-fakta dari dunia medis maupun psikologis tentang kebenaran janji Allah pada ayat tersebut. Agar kemudian ini tak hanya menjadi wacana normatif saja.
Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.
Menurut penelitian lain, yang dikemukakan oleh David B Larson dan timnya dari The American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah.
Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard juga telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah.
Patrick Glynn juga mengungkapkan bahwa penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan.
Mungkin bahasan diatas nampak masih general dan superficial, seolah menunjukkan bahwa dengan beragama apapun, asalkan kita beragama kita akan memperoleh ketenangan. Aku ingin ambikan contoh seperti ini, seseorang akan bersih jika ia rutin berwudhu (bersuci dari hadas kecil), kendatipun ia bukan muslim benar? Demikian pula ia akan meraih kebaikan jika ia praktekkan perilaku-perilaku ibadah seperti berfikir, khusyuk dan merenung, karena ia mengoperasikan pusat-pusat yang mirip dengan pusat-pusat keimanan dalam otak yang bekerja untuk rileksasi dan terlepas dari perasaan-perasaan negatif seperti ketakutan, kegelisahan, dan stress. Saat itulah seseorang berpindah dari kondisi keterasingan dan kesendirian kepada kondisi rileks dan tenang, kendatipun ia tidak mendapatkan jatah akhirat (karena tidak beriman kepada Allah swt).
Perlu digaris bawahi disini yang pertama adalah bahwa mereka tidak mendapatkan jatah akhirat (karena tidak beriman kepada Allah swt) dan bahwa mereka melakukan perilaku-perilaku ibadah seperti berfikir, khusyuk dan merenung, untuk mengoperasikan pusat-pusat yang mirip dengan pusat-pusat keimanan dalam otak. Sekali lagi, mirip dengan pusat keimanan dalam otak. Kenapa aku berkata demikian, karena ada sebuah kesimpulan dari penelitian ilmiah yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2001 dari hasil penggunaan teknologi baru scanning terhadap otak yang dilakukan oleh sebuah tim ilmiah yang dipimpin DR. Andrew Newberg, professor Radiology pada Fakultas Kedokteran Universitas Philadelphia, USA ialah : kepercayaan kepada Allah adalah desain dasar (design in built) yang sudah ada dalam otak.
Sebab itu, iman kepada Allah dalam penelitian-penelitian ilmiah moderen bukanlah seperti filsafat dan khayalan masyarakat sebagaimana yang didengung-dengunkan oleh kalangan atheist (kaum darwinis evolutionist dan komunis) yang tidak ada sandaran ilmiahnya pada awal abad 20. Dugaan mereka telah nyata kegagalannya di mana mereka menduga bahwa manusialah yang menciptakan agama mereka sendiri, khususnya setelah ditemukannya fakta ilmiah di atas bahwa manusia telah Allah ciptakan beragama secara alami dan memberi mereka kekuatan/ kemampuan untuk mengenal dan beribadah kepada-Nya.
Sebenarnya telah diterbitkan beberapa studi ilmiah yang menjelaskan bagaimana iman kepada Allah merupakan fitrah yang tertanam dalam diri manusia dan mengoperasikan mekanismenya dengan ibadah adalah jalan menuju sehat dan bahagia. Di antaranya buku : Iman Kepada Allah Tertanam Dengan Kuat dalam Diri Kita, karya Dean H. Hamer, 2005, dan buku : Iman dan Kesehatan, karya Jeff Levin Ph.D, dan buku : Iman, Kesehatan dan Kesuksesan, karya Andrew Perriman.
Namun jika kita ingin telaah lebih mendalam lagi dan lebih spesifik, mengingat Allah dalam tatanan Islam bisa kita lihat dari dzikir. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa mengingat Allah dengan cara Islam ini terbukti mengembalikan produksi endorphin di dalam otak. Zat endorphin yaitu suatu zat yang memberikan efek menenangkan yang disebut endogegonius morphin. Kelenjar endorfina dan enkefalina yang dihasilkan oleh kelenjar pituitarin di otak ternyata mempunyai efek mirip dengan opiat (candu) yang memiliki fungsi menimbulkan kenikmatan (Pleasure principle), sehingga disebut opiate endogen. Oleh karena itulah dzikir atau mengingat Allah itu dapat menghasilkan ketenangan.
Selain itu, orang yang sering berdzikir mengingat Allah, tinggi pula gelombang alfa di otaknya. Ini yang membuat hidup menjadi lebih tenang, sekali pun badai kecemasan, ketakutan, dan kepanikan terus menerjang tanpa perlu minum obat atau minta bantuan dukun. Dengan demikian risiko terkena stroke, jantung koroner, sakit jiwa, dan kanker menjadi lebih kecil.
Menurut Dr. R. H. Su’dan M.D, S.K.M, penyimpangan seks seperti hiperseks, lesbian, homoseks, masochisme dan lain sebagainya juga dapat sembuh dengan dzikrulloh (mengingat Allah). Juga penyimpangan jiwa lainnya seperti psychopatia semacam kleptomania atau suka mencuri, penyakit jiwa karena stress atau ketegangan hidup yang berlebihan. Apalagi kalau hanya penyakit psikosomatik, mudah sekali ditanggulangi dengan dzikrulloh. Bahkan penyakit jiwa yang sebenarnya seperti psychosis pun dapat diselesaikan dengan dzikrulloh pula. Bahkan menurut Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater (Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Doktor di bidang NAZA), beliau mengatakan bahwa selain terapi medis, sholat, berdoa dan berdzikir dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus HIV/AIDS.
Hal ini tentunya yang memperkuat kajian-kajian sebelumnya, bahwa dengan mengingat Allah, berdzikir, mampu meningkatkan kualitas sehat, baik secara fisik maupun mental, membuka cakrawala perasaan ketinggian dan memberikan bantuan untuk terlepas dari berbagai kepediahan dan tekanan jiwa serta kesembuhan dari berbagai kegoncangan seperti kegelisahan, stress, depresi dengan berbagai efek fisik lainnya.
Ketika temuan ilmiah ini pun menjadi sebagian bukti dari kebenaran ayat Tuhan mu yang menciptakan, adakah kita masih menganggap “dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” itu sebuah solusi normatif? Yang jadi tantangan nya kini adalah, sekonsisten apa kita coba untuk mengaplikasikan hal ini dalam hidup keseharian??
Kamis, 24 Mei 2012
Mengingat Istiqamah dari IGD Bedah
Siapa yang akan menyangka, ibu berusia 50 tahunan ini tertabrak mobil saat akan menyebrang jalan, dan terseret dikolong mobil itu sampai sejauh 5 meter. Hilang kesadaran, cedera kepala berat, multiple fracture, dan spinal cord injury. Mungkin memang masih bisa diselamatkan, namun komplikasi lumpuh bisa jadi ancaman akibat cedera pada tulang belakang nya ini.
Juga siapa yang akan mengira, seorang bapak selepas mencari kayu bakar ini juga terhantam truk saat menyebrang jalan. Hilang kesadaran, cedera kepala berat, dan patah tulang panggul. Patah tulang panggul ini bisa mengakibatkan pendarahan dalam, kehilangan sekitar 2 sampai 3 liter darah dari total 5 liter darah yang mengalir di tubuhnya.
Seorang bapak usia 40 tahunan ini juga tak akan mengira, di siang bolong kepalanya dihantam batu oleh orang tak dikenal. Luka di kepala jelas jadi keluhan, lebih dari itu, multiple open fracture depressed pada tulang tengkorak nya menjadikan nya harus masuk ruang operasi untuk dilakukan pembedahan dan perbaikan pada tulang tengkorak nya.
Satu keluarga lain pun tak pernah mengira akan musibah yang di deritanya. Rumah nya yang beratap bambu ini habis terbakar akibat terjatuhnya lilin disaat terjadinya pemadaman listrik pada malam hari. Sayangnya tak hanya rumah yang terbakar, penghuni rumah pun ikut terbakar. Seorang ibu dan seorang anak yang coba ia selamatkan mengalami luka bakar hebat. Lebih dari 50 % tubuhnya habis terbakar, mulai dari kepala, muka, badan hingga tangan dan kaki mereka.
Seorang pekerja pun tak pernah mengira akan kecelakaan kerja yang ia alami. Jari manis nya tertimpa tabung oksigen besar saat ia hendak memindahkan tabung oksigen tersebut bersama rekan nya. Alhasil, jari manis tersebut remuk, habis. Ia harus kehilangan jari manis nya.
Seorang bapak 30 tahunan ini pun tak pernah mengira akan sebuah kejadian di malam itu, ketika ia membawa sepeda motor, melaju dengan kecepatan rendah saat melewati perlintasan kereta api. Disana, tiba-tiba seorang tak dikenal menghampiri, mengalungkan pisau pada lehernya, lalu menusuk bapak tersebut di beberapa bagian tubuhnya.
Atau seorang remaja yang juga tak pernah mengira bahwa ia akan terjatuh dari sepeda motor nya. Pengalaman nya bertahun-tahun membawa sepeda motor tak jadi jaminan bahwa ia tak akan pernah jatuh. Sekali nya jatuh, mengakibatkan kondisi parah pada remaja itu. Cedera kepala sedang, patah tulang hidung, dan robek nya bibir bagian atas, juga hidung nya. Bahkan kulit hidung nya sudah terlepas entah kemana saat ia terjatuh, ditambah lagi luka-luka di sekujur tubuh nya.
Itu hanya sekelumit kecil cerita dari pasien-pasien yang aku hadapi saat sedang dinas jaga di instalasi gawat darurat bedah sebuah rumah sakit. Banyak kejadian yang kita semua tak pernah mengira atau bahkan sekedar menduga sebelumnya, tentang musibah, ujian, yang bisa kapan saja dan menimpa siapa saja pada setiap makhluk Nya yang hidup di muka bumi ini.
Terkadang sesuatu yang berharga baru kita sadari setelah kita kehilangan, tentang kesehatan, kesadaran, penglihatan, badan, tangan, kaki, hidung, jari tangan, atau bahkan rasa yang kita miliki. Beryukur, jangan sampai kita lalai dan baru tersadar bahwa begitu banyak nikmat yang Allah berikan setelah kita kehilangan. Gunakan apa yang Ia berikan untuk kebaikan.
Allah dengan mudah mencabut sebagimana Ia begitu mudah memberi. Semua yang terjadi di setiap putaran hidup adalah kehendak Nya. Maka bersyukurlah, niscaya Allah tambahkan nikmat bagi setiap kita.
“Barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)
Rahasia Allah bukan saja bicara tentang jodoh seperti yang ramai dibicarakan orang. Rahasia Allah juga tentang nikmat, musibah, berbagai ujian, hingga kematian. Semua kejadian adalah rahasia Nya, semua ada pada kehendak Nya. Tentang waktu, tak ada satupun yang tahu, bahkan mampu memprediksikan nya. Disinilah hakikatnya setiap kita harus totalitas dalam berjuang, harus menghadirkan syukur dan sabar dalam setiap kejadian, dan istiqamah jadi satu hal yang senantiasa membersamai keduanya.
Berbicara tentang musibah dan kematian, sudah siapkah setiap kita menghadapi nya sebagimana kita menghadapi nikmat yang Allah berikan? Apa yang terjadi jika cuplikan kisah diawal terjadi pada diri kita, ataupun keluarga kita, terlebih jika kisahnya berujung pada kematian??
Setiap kita pasti pernah melakukan kemaksiatan dan kesalahan, padahal kita tidak tahu kapankah nyawa kita dicabut. Tidak ada yang pernah tahu, sampai dibatas usia mana kita hidup.
Allah swt berfirman: “ Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Luqman: 34)
Oleh karena itu hendaklah kita berhati-hati jangan sampai nyawa kita dicabut saat kita sedang berlumur keburukan. Hendaklah kita segera bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt, mengganti segala kemaksiatan ini dengan ibadah-ibadah yang diperintahkan oleh Allah, hingga kita meraih satu kemenangan husnul khatimah (akhir yang baik).
Ada harga yang harus dibayar untuk setiap pencapaian, begitupun untuk meraih kemenangan husnul khatimah, harus istiqamah dalam kebaikan. Istiqamah, pelaksanaan nya memang tak semudah ketika kita ucapkan. Namun, begitulah fitrah nya. Sebagaimana segala puncak prestasi harus teruji, begitupun menjadi ahli surga harus terbukti di dalam keistiqamahan hidup dalam menjalankan kebaikan. Sulit memang,namun ada beberapa hal yang menjadikan setiap kita mampu mempertahankan keistiqamahan dalam hidup, bahkan mampu meningkatkan kualitasnya.
Merasa diri selalu diawasi
Hadirkan perasaan akan kontrol ilahiah dan kedekatan diri kepada Allah. Hal ini diimplementasikan dengan mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya, serta memiliki rasa malu dan takut, apabila menjalankan hidup tidak sesuai dengan syariat-Nya.
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadiid (57) : 4)
Rasulullah saw. bersabda-ketika ditanya tentang ihsan, “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” (HR al-Bukhari)
Memiliki janji atau komitmen
Sadari benar dan hadirkan tekad dalam diri bahwa setiap kita memiliki komitmen dan janji untuk senantiasa berbenah, memperbaiki diri. Memiliki janji dengan manusia saja harus ditepati, bagaimana ketika kita berjanji dengan Tuhan kita bukan??
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (an-Nahl (16) : 91)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (al-Anfaal (8) : 27)
Evaluasi diri
Evaluasi diri, baik sebelum maupun sesudah melakukan perbuatan perlu dilakukan. Evaluasi diri menjadi salah satu jalan agar hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al-Hasyr (59) : 18)
“Orang yang cerdas (kuat) adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari kematiannya. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengekor pada hawa nafsu dan berangan-angan pada Allah.” (HR. Ahmad)
Umar bin Khattab ra berkata, “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang ….”
Mari kita biasakan, menyediakan waktu setiap harinya, beberapa menit sebelum tidur, untuk mengevaluasi diri. Merefleksikan diri atas apa yang diperbuat seharian, memohon ampun atas mudharat yang dilakukan dari setiap perbuatan kita, dan mendoakan orang-orang yang mungkin hati nya tersakiti karena tingkah laku kita.
Memberi sanksi atas kelalaian
Menghadirkan efek jera dari setiap kelalaian yang kita perbuat. Belajar dari para sahabat Rasul, aku pernah mendengar sebuah riwayat bahwa Umar bin Khathab ra pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan Shalat Ashar. Maka beliau berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin”. Juga cerita tentang Abu Thalhah. Ketika Abu Thalhah sedang shalat, di depannya lewat seekor burung, lalu beliau pun melihatnya dan lalai dari shalatnya sehingga lupa sudah berapa rakaat beliau shalat. Karena kejadian tersebut, beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang-orang miskin, sebagai sanksi atas kelalaian dan ketidak khusyuannya.
Kadar kelalaian kita tentunya berbeda dengan para sahabat Rasul, begitupun kadar kemampuan kita dalam memberikan iqab (sanksi) terhadap kelalaian kita tersebut. Saat kita memberikan sanksi terhadap diri tentulah harus sesuai kapasitas nya masing-masing, dan sanksi yang diberikan pun tentunya bukan yang mendzalimi diri dan ada manfaat nya baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Totalitas
Totalitas, sungguh-sungguh, optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan adalah keharusan. Totalitas, suatu keikhlasan yang mendalam akan seni peran yang sedang dan harus dijalani, keterlibatan yang penuh, hati yang tanpa batas untuk menyelesaikannya, tanpa pamrih, tanpa mengharapkan prasyarat apapun. Totalitas, pengabdian akan karya, bukan permintaan atas sesuatu hasil atau upah.
Totalitas membidani lahirnya konsistensi,tidak bersifat temporer, melainkan konsisten akan tujuan yang kita miliki, menjaga semangat, dan niat baik agar senantiasa konstan. Totalitas juga berbuah fokus, harus berpusat pada satu tujuan. konsekuensi lain dari totalitas ialah pengorbanan, kesadaran bahwa beberapa hal yang tidak lebih penting dan atau menjadi penghambat dari tujuan utama yang ingin dicapai haruslah dikorbankan. Skala prioritas menjadi sebuah tolak ukur yang sangat penting, karena seringkali terjadi pertentangan antara kebutuhan dan keinginan. Berbicara totalitas juga bicara tentang harmonisasi, harmonisasi dengan orang-orang di sekitar kita, karena sering kali totalitas kita akan suatu hal menjauhkan kita dengan beberapa orang di sekitar kita, atau tak jarang pula keputusan untuk memiliki totalitas dalam kehidupan mengakibatkan pertentangan dengan orang-orang.
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syetan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu" (Q.S. Al Baqarah ayat 208)
Kaffah mempunyai arti keseluruhan atau totalitas. Islam adalah nafas setiap perbuatan dan kehidupan seorang muslim. Oleh karena itu, ayat di atas memiliki maksud: dalam setiap perbuatan, lakukanlah secara totalitas.
”Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang dari kamu jika mengerjakan sesuatu dikerjakan dengan itqan (sungguh-sungguh).” (HR. Ath-Thabrani, Al-Haitsami dan As-Suyuthi).
Menjadikan diri ini istiqamah dalam kebaikan, tentunya harus diwarnai dengan kesungguhan, optimalisasi, totalitas.
Istiqamah, adalah kata kunci meraih kemenangan. Selama setiap kita istiqamah dalam kebaikan, ketika kelak Allah tutup usia kita di episode waktu manapun, kita akan meninggal dengan akhir yang baik (husnul khatimah). Namun, saat kita thughyan (menyimpangan atau melampaui batas), lawan dari istiqamah, saat Allah tutup usia kita disaat iman kita sedang kumuh, atau sedang berlaku maksiat, maka suul khatimah (akhir yang buruk) yang akan kita dapati.
Semoga Allah SWT menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqamah, menjadi model-model muslim ideal yang dijanjikan surga-Nya kelak. Amin.
Sabtu, 04 Februari 2012
Mengubah Paradigma Keliru
" Aku berjanji nak, kelak akan selalu ada waktu, bukan hanya untuk mendengar ceritamu di hari ini, lebih dari itu, aku akan mendidikmu banyak hal, terlepas dari seberapa lelah dan sesibuk apa aku hari ini."
Ini tak sekedar janjiku padamu nak, lebih dari itu. Ini adalah bukti kesungguhan akan kewajiban yang Allah perintahkan. Ingin aku tunjukkan pada dunia, bahwa masih ada pria di jaman kini yang menjalankan peran fitrah yang Allah telah perintahkan.
Nanti engkau akan lihat sekitar, seberapa banyak pria hebat diluar sana yang sukses dengan karirnya, berhasil dalam menafkahi keluarganya, namun terkadang tak punya banyak waktu berkualitas untuk keluarganya, terlebih untuk mendidik anak-anak nya. Tanggung jawab ini kerap ditangguhkan, lantas didelegasikan kepada sosok wanita dengan peran ibu. Dan yang lebih miris dari itu, terkadang amanah Allah ini kerap dilimpahkan kepada orang lain, baik itu guru ngaji, sekolah, hingga pengasuh anak.
Ketahuilah nak, bahwa sudah menjadi persepsi umum di masyarakat kita, bahwa amanah mendidik seolah ada di tangan ibu. Wanita yang kini kebanyakan kita 'judge' punya tanggung jawab mendidik dan membentuk generasi penerus bangsa ini. Mereka yang kemudian banyak disalahkan ketika kita melihat seseorang melakukan kesalahan.
Entah dari mana mulanya, dunia kini seolah menekankan pada kita bahwa seorang pria kelak akan menjadi ayah dan punya kewajiban memimpin dan menafkahi keluarganya, sibuk dengan urusan nya diluar rumah, sementara seorang wanita kelak akan menjadi ibu dan punya beban dengan semua urusan anak-anak.
Padahal tahu kah kau nak, bahwa hingga saat ini aku tak pernah menemukan satu ayat pun yang memotret momen pendidikan dari para ibu, kecuali adanya perintah menyusui (tanpa menafikan tugas amar ma’ruf nahi mungkar yang sifatnya umum, baik untuk laki-laki maupun perempuan). Praktik pendidikan kaum muslimin dan para ulama pendahulu kita, seperti yang aku temukan di Qur'an, Hadist, maupun kisah ulama-ulama selalu menempatkan peran mendidik ini pada sosok pria, seorang ayah.
Ingin aku ceritakan padamu tentang Luqman Al-Hakim, dia bukan seorang Nabi atau Rasul, bukan seorang Mujahid yang waktunya dihabiskan di medan peperangan membela agama Allah, bukan pula ulama besar, dia hanyalah seorang lelaki Habsiy yang berkulit hitam dan berprofesi sebagai An-Najjar (tukang kayu) tapi subhanallah derajatnya sungguh mulia di sisi Allah sehingga namanya di abadikan dalam Kitab suci Al-Qur’an menjadi nama dari surah yang ke 31, salah satu yang paling menonjol dari seorang Luqman Al-Hakim adalah nasehat-nasehatnya yang penuh hikmah yang dia tujukan khusus kepada anak lelakinya.
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." QS. Luqman (31) ayat 13
Ayat ini, bersama dengan ayat-ayat serupa (al-Baqarah 132, Yusuf 67) bercerita tentang para ayah (Luqman, Nabi Ya’kub, dan Nabi Ibrahim) yang sedang mendidik anak-anaknya. Sekali lagi, ternyata proses pendidikan (dalam keluarga) yang digambarkan melalui al-Qur’an dilakukan oleh para ayah.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa’ di jalan Allah.” Bahkan Nabi pun mencontohkan, bahkan ketika beliau sedang disibukkan dengan urusan menghadap Allah SWT (shalat), beliau tidak menyuruh orang lain (atau kaum perempuan) untuk menjaga kedua cucunya yang masih kanak-kanak, Hasan dan Husain. Bagi Nabi, setiap waktu yang dilalui bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendidik, termasuk ketika beliau sedang shalat.
Banyak juga contoh bagaimana para ulama kita menyediakan waktu untuk pendidikan putri-putrinya sebagaimana mereka meluangkan waktu untuk tugas-tugas lainnya. Ingin aku ambilkan beberapa contoh. Didapati dari riwayat pakar pendidikan Islam Ibnu Sahnun (256H). Disebutkannya, Hakim Isa bin Miskin selalu memanggil dua putrinya setelah shalat Ashar untuk diajari al-Qur’an dan ilmu pengetahuan lainnya. Demikian pula dengan Asad bin al-Furat, panglima perang yang menaklukkan kota Sicily, ternyata juga mendidik sendiri putrinya. Syaikhul Islam Abu Abbas Ahmad bin Abdillah al-Maghribi al-Fasi (560 H) juga tercatat mengajari putrinya 7 (tujuh) cara baca al-Qur’an, serta buku-buku hadits seperti Bukhari dan Muslim.
Dari beberapa contoh di atas bisa kita lihat, bahkan untuk pendidikan anak perempuan sekalipun, para ulama tidak melemparkan tanggung jawab kepada istri-istrinya. Begitu intensifnya peran ayah dalam pendidikan anak-anaknya, hingga tatkala menjelang sakaratul maut pun, seorang ayah yang baik memastikan sejauh mana keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya dengan bertanya kepada mereka, "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" (maa ta'buduuna min ba'dii, al-Baqarah 133).
Aku fikir, mungkin saja jika kenakalan remaja dan kerusakan generasi di masa kini menjadi kian parah, sebab, para ayah hebat kita—pengacara terkenal, hakim agung, pengusaha sukses, dokter handal, termasuk beberapa ustadz yang luar biasa dalam dakwah—terlalu sibuk mendidik orang lain dan menyepelekan kewajiban untuk mendidik anak-anaknya.
Dan untuk itu nak, kelak walau aku menjadi seorang dokter yang sangat sibuk, sibuk mendidik para mahasiswa kedokteran dan bahkan berceramah keliling nusantara, sibuk mengerjakan dan memegang amanah negara, sibuk mengabdikan diri untuk bangsa dan masyarakat ini, semoga kelak tak membuat diri ini begitu loyo dan beralasan tidak punya waktu ketika harus mendidik anak-anak ku sendiri.
Berbincang dengan mu, memunculkan semangat baru bagiku untuk menjalani hari esok, dengan mengajari mu, membuatku terus mempelajari ilmu dan berintegritas atas apa yang aku sampaikan. Dengan mendengar aktifitas mu hari ini dan bercerita padamu tentang aktifitasku, kelak bisa menumbukan inspirasi bagimu untuk bisa jadi jauh lebih baik dari ku kelak.
Mengapa aku sampaikan ini padamu? Untuk mengubah paradigma keliru, bahwa sejatinya mendidikmu adalah tanggung jawab ku, ayah dari anak yang dilahirkan oleh istriku, ibumu.
#sebuah pemikiran random
(tiba-tiba ingin nulis tentang ini)
Dani Ferdian
Bandung, 29 Januari 2012 22:50
Rabu, 01 Februari 2012
Maafkan Aku Dinda, Namun Karena Ini Aku Mengerti dan Semakin Memahami.
Dinda, ada yang ingin aku ungkap, walau entah darimana aku harus memulai menceritakan kisah ini kepadamu. Lidah ini nampak kelu, malu. Aku hanya mampu berujar maaf. Maaf, jika engkau bukanlah wanita yang pertama. Ya, bukan wanita pertama yang sengaja aku sentuh selain ibu dan adik perempuanku.
Sengaja menyaksikan dan menyentuh bagian paling terlarang wanita, lebih dari satu kali, pada orang yang berbeda pula. Tak usah kau bayangkan, karena aku pun tak ingin membayangkan nya lagi, bahkan hanya untuk sekadar bercerita padamu aku tak kuasa. Namun bagiku, berkata jujur padamu adalah sebuah keutamaan.
Tapi percayalah dinda,bahwa sengaja bukan berarti sebuah kemauan. Tuhan kita yang menyaksikan. Seandainya dinding Rumah Sakit ini pun mampu berucap, pasti ia ceritakan. Sengaja demi pendidikan, memenuhi sebuah tuntutan, dan kebutuhan akan sebuah misi kemanusiaan. Melewati keadaan seperti ini adalah keniscayaan,agar aku mampu menanggung beban kehidupan, dan tanggung jawab kepemimpinan kemudian.
Namun justru karena keadaan ini lah yang akhirnya membuat aku sadar akan sebuah kenyataan. Bahwa menjadi dirimu tak semudah yang aku bayangkan. Menjadi ibu dari anak-anakku adalah ketulusan yang mengharukan. Sakit yang tiada terperikan seolah tergantikan dengan harapan kehadiran anak yang kau nantikan. Sungguh, surga bagimu tiada tergantikan.
Kesakitan, linangan air mata, tetesan keringat seolah menemani jihadmu dalam persalinan. Deraian darah menjadi satu hal yang tak mungkin dielakkan dan taruhan dengan kematian senantiasa menjadi momok yang menakutkan, namun itulah kenyataan. Rasa sakit yang tak tertahankan kala persalinan tak pernah kau sesalkan.
Dinda, barulah aku paham, menjadi wanita sepertimu adalah kemuliaan. Itulah mengapa saat wanita hamil, ia mendapatkan pahala puasa disiang hari dan pahala ibadah dimalam hari, serta ganjaran 2 rakaat shalat wanita yang hamil lebih baik dari 80 rakaat shalat wanita yang tidak hamil.
Begitupun ketika persalinan, wanita yang bersalin mendapat pahala 70 tahun shalat dan puasa, serta setiap kesakitan pada satu syarafnya, Allah memberi satu pahala haji. Sekiranya wanita meninggal dunia dalam masa 40 hari selepas bersalin ia dikira sebagai mati syahid.
Dinda, sadarkah juga selama dua tahun engkau menyusui, selama itu juga kebaikan mengalir untuk dirimu? Wanita yang menyusui anaknya akan mendapatkan 1 pahala dari setiap tetes susu yang diberikannya. Wanita yang menyusui anaknya yang menangis maka Allah memberi pahala satu tahun pahala shalat dan puasa. Jika wanita menyusui anaknya hingga 2. 5 thn, maka malaikat dilangit mengabarkan berita bahwa syurga wajib baginya.
Belum lagi untuk tidurmu yang terganggu saat engkau merawat anak kita. Seorang ibu yang menghabiskan waktu malamnya dengan tidur yang tidak selesai karena menjaga anaknya yang sakit, mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anaknya yang sakit akan di ampunkan oleh Allah seluruh dosanya dan bila dia menghibur hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadah.
Aku memang belum mempelajari benar tentang hadist diatas dinda, siapa perawi nya, dan bagaimana keshahihan nya. Namun tak berlebihan rasanya ganjaran seperti itu, untuk wanita sepertimu.
Dinda, sungguh aku bangga, di masa kekinian masih ada wanita sepertimu, menjadi wanita yang hanya bercita-cita menjadi istri dan ibu yang baik. Kau relakan masa keemasan dan karir cemerlang, hanya untuk kedekatan dan madrasah terbaik untuk anak-anakku. Kau buat mereka tak pernah merasa kehilangan, perhatian, kasih sayang, pendidikan (tarbiyah), dan senyuman yang senantiasa menyimpul di gurat wajah bahagia mereka. Dari rahim mu, kita hasilkan generasi terbaik penerus bangsa ini.
Dinda, melihat sosok dirimu bagiku engkau adalah bukti kesungguhan, bukti pengorbanan, dan wujud kesetiaan.
Dan membagi peran bersama mu, adalah sebuah kebahagiaan :)
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “(mereka; maksudnya, Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik).
(QS An-Nisaa’/ 4:34).
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi S.A.W. bersabda : "Sebaik-baik wanita adalah apabila engkau pandang dia maka dia menggembirakan, bila engkau perintah dia taat, bila engkau tiada dia menjaga hartamu dan menjaga pula kehormatan dirinya. "
Sekali lagi, maafkan aku dinda, jika seandainya kau bukan wanita pertama yang sengaja aku sentuh, namun tetap bersyukurlah, karena setelah melewati fase ini, aku semakin mengerti, bahwa menjadi dirimu tak semudah yang aku bayangkan, bahwa menjadi dirimu adalah kemuliaan, dan hidup bersamamu adalah sebuah kebahagiaan :')
* tulisan random dokter muda Obgyn (obstetric & gynaecology)/Kebidanan. Mencoba mencari hikmah dari setiap kejadian. Untuk ibu, calon ibu, dan partner hidup mereka, semoga bisa semakin memaknai. Hanya ingin menjerat hikmah, dalam format dan gaya berbeda. Semoga tidak memantik sebuah rasa yang populer dikenal dengan kata "galau" kemudian. :D
-sebuah catatan pasca stase RSKIA Astana Anyar, 7 Januari 2012-
semoga bisa banyak mengambil hikmah lain nya pada 8 minggu selanjutnya di RSHS dan RS Jejaring lain nya.
*kalo ada orang yg gk terlalu suka bidang obgyn seperti saya,maka kejar hikmah kehidupan sebanyak-banyak nya dalam pembelajaran tentang kehidupan di bagian ini :) *
Rabu, 18 Januari 2012
Menjadi Dirimu
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau
Kalau engkau tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul di pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dirimu sendiri
(Kerendahan Hati - Iwan Abdurrahman)
Setiap orang punya kekhasan, punya keunikan , punya potensi nya masing-masing. Ada kelebihan dan kekurangan nya masing-masing. Ada karakter tersendiri dari tiap individu. Para sahabat Rasulullah pun tetap pada keunikan nya masing-masing. Abu Bakar as, Umar bin Khathab as, Ustman bin Afan as, dan Ali as pun memiliki keunikan masing-masing. Begitupun dengan istri-istri Rasulullah saw, Siti Khadijah, Siti Aisyah, mereka pun hadir dengan keunikan nya masing-masing. Potensi yang bisa digunakan untuk meraih sukses pun sesuai dengan keunikan kita masing-masing. Kita tidak pernah tahu sampai dimana potensi diri kita. Namun sejauh manapun kita mengoptimalkan potensi diri saat ini, kita masih bisa terus meningkatkan nya. Kita masih bisa lebih baik dari saat ini, sesukes apapun kita saat ini. Tidak ada yang namanya pencapaian puncak dunia ini, yang ada nanti saat di akhirat sebelum bertemu Allah swt.
Jadi selama di dunia, kita masih bisa memperbaiki diri kita. Kita jadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan menjadikan hari esok lebih baik dari hari ini. “ Barangsiapa yang hari ini sama dengan kemarin, merugilah dia. Jika hari ini lebih buruk dari kemarin, dia celaka. Dan beruntunglah bila hari ini lebih baik dari kemarin” (HR. Bukhari)
Jangan salah kaprah. Menjadi diri sendiri bukan berarti menjadi kita semau diri kita sendiri. Menjadi diri sendiri sejatinya menjemput cahaya kebaikan yang pedoman nya sudah digariskan dalam Al Qur’an dan Hadist. Menjadi diri sendiri sama sekali bukan berarti tidak meneladani seseorang atau meningkatkan kualitas diri sendiri. Sebagai seorang muslim, menjadi diri sendiri pun harus punya acuan agar diri ini tetap pada jalur kebaikan. Menjadi pribadi muslim sejatinya menjadikan Rasulullah Saw, para sahabat nya, istri-istri nya sebagai role model dalam menjalani kehidupan. Menjadi pribadi muslim idealnya mengetahui sebagai apa dan untuk apa ia diciptakan, untuk kemudian dengan keunikan dirinya yang mengacu pada pedoman Islam melakukan amal unggulan. Menjadi dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri, semata-mata untuk menjalankan ibadah kepada Nya, guna mendapatkan ridha dan rahmat Nya kelak.
Kata syukur menjadi kata kunci untuk menjadi diri sendiri. Di antara cara syukur kita sebagai seorang Muslim adalah menunjukkan identitas kemusliman kita, nilai-nilai kita dan gaya hidup kita yang berbeda dengan gaya hidup yang lain. Menjadi diri seorang muslim, berarti menjadi individu yang mewarnai, bukan terwarnai. Kita yang seharusnya mewarnai lingkungan, bukan lingkungan yang kemudian mengubah karakter dan mematikan nilai-nilai kebaikan dalam diri kita.
Terkadang, tak bisa dipungkiri memang bahwa sesekali kita ‘kalah’. Tanpa disadari kemudian kita meninggalkan jati diri kita sebagai seorang muslim. Tanpa disadari kita akhirnya lupa bahwa diri kita adalah da’i sebelum segala sesuatu nya. Terkadang kita yang akhirnya terwarnai, bukan yang mewarnai. Jangan sampai kemudian kita terjerumus dalam banyak pembenaran, pemakluman dan kemudian nyaman berada dalam suasana seperti itu. Rasulullah saw menegaskan, “Man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhu, Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.”
Menjadi diri sendiri dengan gaun terbaik seorang insan (ketakwaan dan amal shalih) tak kan bertentangan dengan penerimaan diri kita dalam suatu lingkungan. Membangun jembatan hubungan dengan sesama, dimulai dengan membeli hati. Menyentuh hati diawali dengan penerimaan dan cinta, yang keduanya adalah bagian dari rahasia dan karunia yang tidak seorang pun memiliki selain Allah swt. Bagi orang-orang yang lekat dengan ketakwaan, mereka akan mudah dicintai dan diterima khalayak. Hal yang lumrah terjadi, jika manusia akan terpanah hatinya saat melihat keluhuran budi pekerti seseorang. Mengenakan pakaian keshalihan , setiap kita akan akan dengan mudah memasuki hati setiap insan tanpa harus menunggu izin mereka, sebab ia telah mendapat izin Allah swt, Allah swt yang telah membukakan setiap gembok yang mengunci hati.
Menunjukkan jati diri sebagai seorang muslim yang baik tak kan jadi penghalang kita untuk berbaur. Akhlak, budi pekerti, kebajikan dan ketakwaan, kesemuanya itu tak hanya mendatangkan penerimaan, melainkan juga panutan dan penjagaan dari lingkungan sekitar. Takwa adalah syiar (panji). Siapa saja yang mengangkatnya tinggi-tinggi, dialah orang yang paling berhak menjadi pembawa kebenaran, kekuatan, dan kebebasan. Ketika itu, khalayak akan berbondong-bondong menghampiri dan menjadi pendukung setia dibawah panji yang dikibarkan.
“Cintailah Allah, niscaya dia mencintaimu, membukakan hati penduduk langit dan bumi untuk mencintaimu.”
Menjadi diri sendiri. Itulah yang membedakan diri kita dengan orang lain, terlebih dengan kapasitas ilmu yang kita miliki, terutama ilmu agama. Tak bisa dipungkiri bahwa disekitar kita pastilah ada pribadi-pribadi yang jika dilihat dari sikap dan keseharian nya jauh dari kebaikan. Tapi cobalah perhatikan mereka, jangan-jangan mereka berbuat seperti itu karena mereka memang tidak tahu ilmu nya. Jangan sampai diri kita yang seringkali sadar hal-hal yang dilarang Allah untuk kita lakukan, kita yang punya ilmunya, kita yang tahu ilmunya, tapi selanjutnya, kita melanggarnya.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang apabila melakukan sesuatu, dia melakukan dengan sebaik-baiknya.”(HR. Baihaqi)
Berbuat yang terbaik adalah cermin syamilnya pemahaman seseorang terhadap Islam, karena kita sudah terlanjur digelari oleh Allah sebagai umat yang terbaik (Q.S. 3:110) . Umat yang terbaik tidak akan berpikir, bersikap dan bertindak yang bernilai rendah, namun sebaliknya, akan selalu memberikan yang terbaik bagi ummat dan agamanya. Untuk menjadi yang terbaik, perlu ada kesungguhan yang muncul dalam dirinya. Kesungguhan untuk berubah dan meninggalkan perbuatan buruknya, kesungguhan untuk seringkali memberikannya contoh, kesungguhan untuk istiqamah mewarnai dan mendoakan lingkungan serta orang-orang disekitarnya, kesungguhan untuk meraih ridha dan rahmat Nya .
Ketika kita mampu berkontribusi dengan amal unggulan kita dan memperoleh keutamaan nya, mengapa kita terkadang puas dengan amal kita yang kecil, atau bahkan cenderung merasa nyaman dengan keburukan-keburukan yang kita lakukan?
Tidak mudah memang, fitrah nya memang seperti itu, tapi disanalah nilai perjuangan nya. Segala puncak prestasi harus teruji, begitupun menjadi ahli surga harus terbukti di dalam kesungguhan dan kesabaran menghadapi ujian hidup di jalan Nya.
Regards,
Dani Ferdian
Bandung, 3 Januari 2012
Selasa, 17 Januari 2012
Ridha Allah, Satu Langkah Pasti !!
Berbicara tentang surga dan amal shaleh, juga tentang keadilan akan takdir seorang hamba untuk kemudian dimasukan ke dalam surga atau neraka, semacam berbicara tentang husnul khatimah (akhir yang baik) atau suul khatimah (akhir yang buruk). Manusia pasti mengalami mati, sebagaimana firman Nya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kan dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan“. (QS. Al-Anbiya [21]: 35).
Proses sakaratul maut bisa menjadi parameter baik atau buruk kehidupan manusia diakhirat. Sehingga timbullah anggapan pada pihak yang menyaksikan kematian seseorang, bila menghembuskan nafas terakhir dengan baik dan tenang, akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Sedangkan ketika menghadapi sakaratul maut dengan histeris dan kesakitan yang luar biasa pertanda akan menghadapi siksaan di hari kemudian. Allah SWT berfirman,”…Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orangyang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): ‘ Keluarkanlah nyawamu’. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya“. (QS. Al-An’aam [6]: 93).
Husnul khatimah adalah dambaan setiap muslim karena mampu mengendalikan diri dari dosa dan dapat mendatangkan kebahagiaan, seperti firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu’ “. (QS. Fushshilat [41 ]: 30). Inilah contoh dari husnul khatimah, dalam situasi sekarat, datang berita akan memperoleh surga. Masya Allah, apalagi di akhir hidup ini yang kita harapkan. Tentulah husnul khatimah yang utama paling didambakan.
Tak cukup dengan hanya mengucapkan “Tuhan kami ialah Allah“ untuk mendapatkan husnul khatimah,karena hakikat dari ucapan itu, adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seperti firman Allah SWT, “Hai orang-arang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu“. (QS. Al-Baqarah[2]:208). Bertolak dari dua kalimat syahadat, maka empat hal lagi dalam rukun Islam harus kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan kesanggupan kita dalam melaksanakannya.
Tidak ada jaminan jika orang yang tekun beribadah itu pasti masuk surga. Orang bisa masuk surga bukan di tentukan dengan melihat amal ibadahnya, tetapi karena memperoleh rahmat dan ridha Allah. Rahmat dan ridha Allah ini diraih dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
Rasulullah pun tidak berani menjamin seseorang masuk surga. Sebab yang menentukan orang itu bisa masuk surga atau neraka adalah Allah. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada seorang pun dari kalian yang amalnya bisa menyelamatkan dirinya”. Lantas para sahabat bertanya: “Termasuk engkau juga tidak bisa menyelamatkan?”. Beliau menjawab: “Aku juga tidak bisa menyelamatkan, kecuali bila Allah melimpahkan ampunan dan rahmatNya”. Abdurrahman bin Auf mendapat hadist dari Aisyah r.a.istri Nabi saw, ia berkata: Rasulullah saw pernah bersabda: "Istiqomahlah kalian, bertaqarrublah kalian dan bergembiralah kalian, sesungguhnya tidak ada amal seorang pun yang bisa menyebabkan masuk surga”. Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau juga tidak bisa Ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Aku pun tidak bisa, kecuali bila Allah melimpahkan rahmatNya. Karena itu beramallah kalian, sesungguhnya amal yang paling disukai Allah adalah yang langgeng meskipun sedkit”.
Dengan demikian, seseorang tidak bisa mengandalkan amal ibadahnya sebagai jaminan bahwa dirinya nanti pasti masuk surga. Hanya rahmat dan ridha Allah-lah yang bisa memasukkannya ke surga. Oleh karena itu, dalam setiap menjalankan amal ibadah perlu didasari keikhlasan, semata-mata mencari ridha Allah, tidak karena yang lain. Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Bahwa perbuatan baik (akhlak) dan ibadah kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan tiket ke surga. Hanya karena rahmat-Nya lah kita bisa ke surga. Akhlak dan amal ibadah juga tidak cukup menjamin kita terbebas dari api neraka, hanya ampunan-Nya lah yang bisa membuat kita terbebas dari api neraka. Karena itu kita diminta banyak memohon rahmat dan ampunan Allah.
Tidak semua orang diberi rahmat surga, dan tidak semua orang diberi ampunan dari ancaman neraka. Karena itu Allah menentukan syarat utamanya adalah beriman kepada-Nya dan rasul-Nya (melalui syahadat). Ia harus memiliki aqidah yang benar, memahami siapa Tuhan yang disembahnya dengan benar, apa yang dimaui-Nya, bagaimana cara mencintai-Nya. Inilah syarat utama agar permohonan rahmat dan ampunan kita bisa diterima.
Ibarat seorang pembantu yang bekerja keras pada majikannya, setiap hari ia bangun pagi membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu halaman, menjaga keselamatan anak majikan selama majikan bekerja diluar. Namun sang pembantu yang rajin ini ternyata tidak sopan dalam kata dan perilaku, Sang pembantu tidak mau berusaha memperbaiki sikapnya ini pada atasannya, karena ia mempunyai pendapat sendiri tak mungkin majikan akan memecatnya karena ia sudah bekerja sangat keras dan merawat anak-anak majikannya dengan baik. Ia tidak juga berusaha mencari tahu apa yang diinginkan sang majikan. Padahal jelas sang majikan sudah menulis tatatertib dan uraian kerja pembantu rumah tangga, diantaranya disebutkan bahwa kesopanan adalah syarat terpenting bekerja di rumah majikan tersebut. Bahkan terkadang ia sombong dan keras hati serta menyimpulkan sendiri bahwa sebagai orang yang berintelektual tinggi seharusnya majikannya bisa menerima kekurangan sang pembantu. Iapun kaget ketika di akhir bulan, sang majikan memecatnya dengan alasan tidak sopan. Ia protes tapi majikannya punya hak.
Analogi sederhana ini, menyiratkan bahwa agar doa, ampunan, amal dan ibadah kita bisa diterima Allah hendaknya kita mengenal Allah secara baik, melalui perenungan dan makrifatullah. Kitapun sebagai hamba Allah perlu mencari tahu apa sebenarnya syarat utama yang diinginkan Allah agar segala amal ibadah dan akhlak baik kita diterima Allah. Tidak susah mengenal Allah karena karya-Nya ada disekeliling kita, yaitu alam semesta ini, bahkan Ia telah memperkenalkan diri-Nya pada manusia melalui kitab-kitab suci dan ajaran nabi-Nya. Dengan mengenal Allah secara baik kita akan tahu bahwa Allah sangatlah penyayang, demikian sabar dengan kelemahan manusia, terlalu banyak kesalahan kita yang dimaafkan-Nya, bahkan kita akan tahu bahwa terlalu berlebihan kalau keimanan, amal ibadah dan kebaikan kita dibalas dengan surga yang luar biasa nikmatnya. Dengan hati yang bersih dan ilmu yang cukup juga akan memudahkan kita memahami mengapa Allah mengancam orang-orang tidak beriman dan yang buruk akhlaknya dengan neraka.
Memahami Allah dengan menggunakan kemampuan akal manusia adalah sia-sia, karena hakikat sifat-sifat Allah tidak dicerna oleh akal manusia, tapi oleh hati manusia. Hati manusia akan membantu kita memahami Allah, karena didalam hati bersemayam fitrah manusia yang salah satunya memiliki sifat-sifat cinta kepada Allah. Hatipun perlu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran (sifat sombong, dengki, kikir, dsbnya) agar fitrah manusia bisa diaktifkan untuk memahami sifat-sifat Allah dengan baik.
Melalui pengenalan yang baik terhadap Allah melalui cara-cara yang diatur dalam Qur'an dan hadits, akan kita temukan bahwa Allah mensyaratkan aqidah Islam yang benar sebelum segala amal ibadahnya diterima. Aqidah adalah hal yang pokok yang membedakan Islam dengan agama lainnya. Aqidah adalah fondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah) adalah dinding bangunan seorang Muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa fondasi maka ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang Muslim, tanpa aqidah yang benar dan lurus iapun tidak pantas disebut seorang Muslim. Tanpa ibadah yang sesuai syariah Islam, iapun belum sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah bangunan yang bernama Muslim. Demikian pula, tanpa Atap yang bernama akhlak, bangunan yang bernama Muslim ini belum utuh dan akan mudah rusak oleh hujan dan panas.
Muslim yang baik wajib memiliki ketiga syarat ini (aqidah, ibadah dan akhlak) secara lengkap, tidak kurang satupun, dan harus sempurna. Bila aqidahnya salah, maka kekal lah ia di neraka, bila ibadah dan akhlak buruk maka ia 'mungkin' masih berpeluang masuk surga setelah di 'cuci' dulu di neraka. Semoga kita tidak termasuk sebagai orang yang di'cuci' dulu, apalagi kekal, di neraka. Selagi kita masih hidup di dunia ini, semoga kita diberi ilmu oleh Allah SWT mengenai kedahsyatan akhirat dan neraka, supaya kita tidak menggampangkan diri untuk menganggap bahwa di'cuci' di neraka adalah bukan masalah besar. Tidak untuk sedetikpun !
Setiap orang pasti pernah melakukan kemaksiatan dan kesalahan, padahal kita tidak tahu kapankah nyawa kita dicabut, oleh karena itu hendaklah kita berhati-hati jangan sampai nyawa kita dicabut saat kita sedang berlumur keburukan. Hendaklah kita segera bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt, mengganti segala kemaksiatan ini dengan ibadah-ibadah yang diperintahkan oleh Allah, hingga kita meraih satu kemenangan husnul khatimah. Insya Allah.
Allah swt berfirman: “ Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Luqman: 34)
Bagaimanapun juga, setiap ketetapan Allah pastilah yang terbaik, semua ada pada kadar yang tepat dengan takaran yang sesuai, setiap skenario itu indah dengan jalan nya masing-masing, setiap ganjaran linear dengan kadar lelah dan kesungguhan yang menyertainya, karena sejatinya Allah swt adalah Sang Maha Adil.
Wallahu’alam. Semoga bisa menjadi pemantik atas ketidakpuasaanmu terhadap pertanyaan yang dulu sempat ditanyakan, untuk kemudian mencari ilmu lagi atas pertanyaan ini J
Regards,
Dani Ferdian
Bandung, 29 Desember 2011