Tampilkan postingan dengan label kedokteran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kedokteran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juni 2012

Kedokteran : Bersakit-Sakit Dahulu, Sulit Kemudian.

Aku masih ingat betul, dulu untuk berada di jalan ini, setidaknya aku harus menyisihkan 50 orang lebih, bahkan diantaranya adalah teman dekatku sendiri, rekan seperjuangan. Pasalnya hanya sekitar 100 kursi yang tersedia dari 5000 orang lebih yang mendaftar di fakultas yang kata kebanyakan orang 'bergengsi' ini, Fakultas Kedokteran. Dengan otak dan kemampuan ekonomi yang pas-pasan, berjibaku di pertarungan ujian ini bagiku sangat melelahkan. Palpitasi, keringat dingin, khawatir berlebih terkadang membersamai moment-moment pra maupun pasca ujian saringan masuk perguruan tinggi ini. Satu awalan sulit, yang akhirnya telah kulewati.

Euphoria akhirnya sempat kurasakan tatkala perjuangan ini membuahkan hasil. 260143 muncul dilayar monitor komputer tanda kelulusan ku di ujian saringan masuk Fakultas Kedokteran yang aku pilih. Euphoria menjadi mahasiswa baru kedokteran, namun sayang tak berlangsung lama. Aku masih ingat betul, hari-hari ku kemudian ditemani textbooks tebal berbahasa inggris, yang terkadang isinya pun sulit aku pahami. Learning issue hampir 3 kali seminggu menghidupkan suasana kamar ku tiap malam nya. Modul-modul laboratorium dan skill lab berbahasa inggris selalu minta dipahami. Belum lagi soal ujian berbahasa inggris nya ditiap 3 bulan dan 6 bulan sekali. Tak tanggung-tanggung, bisa sampai 200 soal berbahasa inggris dikeluarkan, hanya diberi waktu 1 menit aku mengerjakan setiap soalnya. Pantas saja ujian TOEFL diatas 550 menjadi syarat wajib kenaikan tingkatku. Untung saja di ujian ke 3 aku bisa lulus dulu.

Satu lagi yang aku masih ingat betul, ujian lisan. Hampir sekitar 36 kasus yang dipelajari selama satu tahun diujikan dalam waktu 20 menit oleh dua dokter penguji. Dan yang membuat mahasiswa di angkatanku hampir depresi adalah ketika kami harus menghadapi kenyataan, bahwa 50 % nilai kami di tahun itu ditentukan oleh ujian tersebut. Belum lagi ujian praktik yang harus dihadapi, hampir 36 keterampilan klinis yang dipelajari selama setahun, diujikan di 15 stasiun dan harus lulus semua. Gagal di ujian ini setelah satu kali kesempatan remedial membuat kami tak bisa naik ke tingkat selanjutnya. Berbeda dengan fakultas lain, jika kau tak lulus satu mata kuliah, bukan hanya mata kuliah itu saja yang kau ulang, melainkan seluruh mata kuliah. Ibarat tak naik kelas saja ketika masa SMA dulu.

Ada lagi yang masih aku ingat betul, menjadi mahasiswa tingkat akhir. Mungkin kau tahu, di fakultas lain mahasiswa tingkat akhir tentunya akan fokus dengan tugas akhir atau skripsinya. Begitupun dengan kami, hanya saja beda nya, ketika mahasiswa fakultas lain sudah tak ada mata kuliah yang diambil, aku dan kawan-kawan ku masih ada kuliah, tugas, maupun ujian. Belum lagi bulak-balik Bandung-Jatinangor untuk bimbingan berasa jadi warna yang semakin melengkapi. Semacam tingkat terjenuh dalam hidup dihadapi disini.

Sulit kedua aku temui, tentang bagaimana bertahan menjalani proses pendidikan, apalagi untuk mendapatkan hasil memuaskan, "dengan pujian" di wisuda Sarjana Kedokteran.

Masih ada yang aku ingat betul, kali ini tentang aktivitas sosial dan jadwal liburan. Serempak hampir sama kawan-kawan ku di fakultas maupun universitas lain memasuki jadwal libur, rencana backpaker-an, reuni, atau sekadar jalan-jalan banyak mereka persiapkan. Giliran aku mendapat ajakan, kedokteran sedang memasuki fase ujian. Akhirnya hanya bisa berujar selamat jalan dan mengucap salam, cukup menyedihkan memang. Giliran aku libur, waktunya mereka untuk kembali memulai masa perkuliahan, nasib memang. Belum lagi dilema yang dihadapi ketika diamanahi jabatan kemahasiswaan di tingkat Universitas, terkadang rapat ditemani bahan ujian, atau bahkan harus mendelegasikan tugas untuk advokasi ke pihak rektorat karena harus ujian. Ada lagi yang juga aku ingat betul, tentang izin meninggalkan perkuliahan. Hanya 80 % dengan alasan sakit yang disertai surat dokter, acara keluarga, atau ditugaskan pihak Fakultas. Lebih dari itu, atau izin melanggar syarat tersebut, silahkan untuk tak diperkenankan mengikuti ujian, dan kembali mengulang tahun depan.

Sulit selanjutnya yang aku temui, tentang bagaimana menjaga performa sebagai makhluk sosial, bersinergi dengan yang lain, dan menjaga keseimbangan antara akademik dengan aktivitas kemahasiswaan.

Sulit memang, namun bukan berarti tak bisa dilewati. Gelar Sarjana Kedokteran yang membersamai namaku seolah menjadi bukti kesungguhan, bahwa sulitnya proses pendidikan bisa diselesaikan. Euphoria kembali dirasakan, Graha Sanusi seolah jadi saksi bisu perayaan aku dan ratusan wisudawan lain nya . Ucapan selamat dari belasan rekan yang sengaja hadir, dan rangkaian bunga yang juga kuterima semakin membuat khidmat suasana. Terlihat di wajah rekan dari fakultas lain binar mata menjemput masa depan, melanjutkan sekolah S2 atau mencari pekerjaan. Sementara tak lama kemudian, aku harus kembali menghadapi kenyataan, untuk menjadi relawan kemanusiaan, dalam misi pendidikan. (baca: koas, atau dokter muda.)

Masih aku ingat betul, tak lama setelah prosesi wisuda, satu per satu rekan satu angkatan dari fakultas lain sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan beberapa diantaranya sudah memberikan undangan pernikahan. Harus gigit jari, berkaca pada diri yang masih disubsidi penuh oleh keluarga. Sulit lain yang kemudian dirasakan, ketika materi masih jadi bahan pertimbangan utama dalam berkegiatan, ketika membahagiakan orang tua masih jadi harap dan doa terbesar yang masih aku janjikan , ketika harus bersabar untuk melamar gadis yang disukai, atau bahkan mungkin contoh ekstremnya ketika harus merelakan seseorang yang kita harapkan didahului dilamar orang.

Akupun masih ingat betul, dengan peran dokter muda yang dijalankan, tanggung jawab semakin besar harus ditunaikan. Follow Up pasien, ikut operasi, ikut jaga poliklinik, belum lagi bed site teaching, ngerjain laporan kasus, bikin referat, kuliah, dan masih tetap ada ujian. Nilai minimum harus B, kurang dari itu, silahkan mengulang. Belum lagi ada jaga malam IGD maupun Ruangan, masuk koas biasa jam 7 sampai jam 4 sore, lanjut jaga malam dari jam 4 sore sampai jam 6 pagi esoknya, kemudian lanjut aktivitas esoknya sampai jam 4 sore lagi. Begitu ritme hidup ku ketika memasuki jadwal jaga, ibarat jadi zombie keesokan nya. Belum lagi ketika harus ditempatkan di jejaring, bisa di Cibabat, Ujung Berung, Garut, Sumedang, Majalaya, Subang, bahkan mungkin nanti sampai Rancabuaya.

Akupun masih ingat betul, bahwa libur jadi barang langka disini. Tanggal merah, atau weekend bisa kita nikmati jika tak ada jadwal jaga. Libur hanya seminggu setiap 6 bulan sekali, itupun jika tak ada remedial ataupun prolong karena terkena hukuman. Belum lagi izin, tak diperkenankan izin disini, bahkan sakit lebih dari 3 hari dengan surat sakit dari rumah sakit pendidikan yang bersangkutan pun membuat kita harus kembali mengulang bagian yang ditinggalkan.

Sulit yang lain kembali ditemukan, solusi paling tepat tak lain dan tak bukan semata menjaga keseimbangan fisik, mental, pikiran, dan rohani aku pikir.

Akupun masih ingat betul, dengan cerita yang kudengar dan kubaca ketika menjadi dokter kelak. Gaji dokter umum yang dibilang minim, seolah tak sebanding dengan beban kerja yang dipikulnya. Belum lagi jika kita bandingkan dengan gaji para insinyur teknik yang mungkin besarnya bisa berapa kali lipatnya, apalagi jika dibandingkan dengan pengusaha.

Untuk dokter yang ke daerah, aku pun pernah mendengar beberapa kisah nyata yang dialami para pendahulu. Salah seorang alumnus almamater ku di Papua, di daerah konflik, pernah disuguhi tombak oleh penduduk sekitar ketika menjalankan misi pengabdian nya. Berawal dari salah seorang anggota suku yang bertikai, ketika ia terluka terkena parang, secara beramai-ramai ia dibawa ke dokter tersebut. Sambil membawa anggota nya yang terluka, salah seorang anggota suku lain sempat berujar seperti ini ke dokter tersebut, "Jika teman saya mati, dokter tak bisa menolong, maka dokter pun harus mati!". Anggota lain sudah bersiap dengan tombaknya di sekeliling dokter tersebut. Peralatan medis disana terbatas, apalagi ketika didatangi ke rumah seperti itu. Akhirnya, sambil menangis sang dokter mempersiapkan alat seadanya, jarum jahit pakaian, benang jahit pakaian, air hangat, dan api. Sambil berderai air mata, sang dokter memanaskan jarum jahit itu ke api, memasukan benang ke air hangat, lalu mulai membersihkan dan menjahit luka orang yang terluka tersebut menggunakan alat seadanya, jarum dan benang jahit pakaian. Alhamdulillah orang yang terluka tadi selamat, dan dokter itu pun selamat.

Tak usah jauh-jauh ke Papua, di daerah Jawa Barat saja, Sumedang. Aku mendengar cerita langsung dari seorang dokter yang mengalami kejadian ini. Bertugas di sebuah pedalaman, hutan di Sumedang. Pada saat itu sedang santer-santer nya isu terkait dukun "teluh", atau dalam bahasa Indonesia nya dukun santet. Tak ada seorang pun yang berani pada dukun "teluh" saat itu, bahkan kapolsek atau camat setempat pun. Sampai akhirnya suatu ketika, terdapat kejadian salah seorang yang dianggap dukun santet meninggal, ditusuk menggunakan linggis di daerah wajahnya. Tak ayal, tengah malam, sang dokter dibawa ke tengah hutan untuk memeriksa jenazah korban, sendirian. Karena warga sekitar tak ada yang berani menghampiri dukun "teluh" itu, walau hanya sekadar mendekati jenazahnya.

Aku pun masih ingat betul, kejadian akhir-kahir ini, terkait seorang dokter spesialis, konsultan, di sebuah kota besar dan rumah sakit pendidikan pula. Operasi usus buntu seorang artis, pemain band, yang berujung tuntutan mal praktik karena mungkin ada sedikit kekeliruan dalam hal komunikasi. Ini mungkin salah satu cerita dari sekian banyak kejadian yang terjadi.

Entahlah, jika kembali ditelaah, ditelusuri dan dipikirkan. Proses menjadi dokter selalu tak luput dari kesulitan, dimulai dari sulit untuk bisa masuk Fakultas Kedokteran, sulit untuk belajar ketika menjalani proses pendidikan S1 nya, sulit ketika menghadapi program profesi dokter, sulit ketika menjadi dokter umum, baik itu di daerah, maupun di kota besar, bahkan sulit ditemukan walaupun sudah menjadi seorang dokter konsulen. Sulit memang.Bahkan untuk sekadar membayangkan nya pun, aku yakin sebagian dari kita memiliki kesulitan.

Tapi ingatlah kawan, bahwa sulit tak selamanya sulit, sebagaimana mudah tak selamanya mudah. Hanya saja yang dikhawatirkan kesulitan punya nafas lebih panjang dibandingkan semangat kita untuk mengalahkan nya. Sadari benar bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al Insyiraah ayat 6 yang artinya:

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Menjadi hamba Allah adalah suatu kepastian. Menjadi mahasiswa kedokteran, dokter muda, atau menjadi dokter adalah pilihan hidup untuk menjemput takdir sejarah kita. Menjadi aktivis, giat berkontribusi untuk umat adalah saringan alami untuk membuktikan pada dunia bahwa kita adalah hamba yang berbeda dari kebanyakan hamba yang Allah ciptakan. Seperti yang dikatakan Shalahudin al-Ayubi, memang bukan kita yang memilih takdir. Takdirlah yang memilih kita. Tapi bagaimanapun, takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkannya di saat yang paling tepat. Jangan sampai takdir hidup kita tak pernah sampai pada tujuan, jangan sampai mimpi kita terlalu sederhana, dan perjalanan cita-cita sangat lamban dan tidak menghantarkan. Cita-cita punya syarat penuainya, begitupun harapan dan keinginan punya harga amalnya. Kesungguhan mutlak jadi penuainya, dan tekad adalah pengantarnya. Karena ketika pikiran memberikan kita arah, tekadlah yang mendorong kita untuk melangkah, ketika pikiran menerangi jalan kehidupan kita, tekadlah yang meringankan kaki kita menjalaninya. Menjadi apapun kita saat ini, mulai awali dengan tekad untuk mencapainya.

Kesulitan, jenuh, dan menghadapi berbagai permasalahan itu fitrah. Menghadapi kenyataan pahit itu perlu. Karena terkadang manis itu dilalui setelah pahit kita lewati. Menghadapi kenyataan pahit saat ini bisa jadi sebuah pembelajaran, seolah menjadi jeda, untuk kita berbenah, untuk kita mengambil hikmah. Ibarat hujan, akan ada pelangi indah yang kita nantikan. Dan yakinlah kawan, bahwa pertolongan Allah itu hadir sesuai dengan kadar ujian yang Ia berikan.
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya pertolongan itu datang dari Allah SWT pada seorang hamba sesuai dengan kadar ujiannya dan kesabaran itu diberikan oleh Allah SWT kepada seorang hamba sesuai dengan musibahnya."
—HR. Baihaqi
Kesulitan seolah menjadi teman yang membersamai proses menjemput takdir sejarah dokter kita. Untuk itu, keberaniaan nampak menjadi penawarnya. Jangan sampai kesulitan membuat kita patah karena lelah. Akan tetapi, tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri. Risiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus-menerus. Di dalam kesabaran terdapat banyak kebaikan, dibalik kesabaran ada kemenangan.

Kesulitan yang senantiasa membersamai ini seolah menjadi tantangan yang perlu dilewati untuk kemudian kita nikmati ganjaran nya sesuai dengan kadar lelah yang sudah kita kerjakan. Alasan yang membuatku bertahan di jalan ini hingga kini adalah karena disini aku temukan banyak jalan untuk berbagi. Semangat berbagi ini adalah bukti keluhuran jiwa. Konteksnya bukan lagi memenuhi kewajiban, melainkan diatas itu, berbagi lebih mencerminkan rasa syukur, semangat berbakti, dan semangat untuk tidak menjadi mercusuar di tengah kondisi kurang beruntung yang dialami orang lain.

Berada di jalan ini, sampai saat ini telah memberikan kesempatan bagiku bersama beberapa rekan dan mitra lain nya untuk memberikan pengobatan gratis untuk ribuan orang di berbagai tempat, memberikan bantuan medis dalam fase tanggap bencana hampir di setiap bencana yang terjadi terutama di wilayah Jawa Barat, juga menjalankan recovery dan rehabilitasi setelahnya. Selain itu berbagai upaya promotif preventif berupa edukasi kesehatan melalui penyuluhan telah dilakukan untuk ribuan orang di berbagai tempat dan berbagai kalangan, mulai dari murid TK hingga masyarakat lanjut usia. Pendampingan medis untuk berbagai lembaga, organisasi, dan kegiatan atau acara kerap dilakukan. Pembinaan kesehatan menjadi agenda yang diperhatikan, pembuatan kurikulum kesehatan dan monitoring kesehatan ratusan anak jalanan, hingga pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi kader telah dilakukan. Pelatihan kesehatan pun telah dilakukan untuk ribuan orang dari berbagai kalangan di berbagai kegiatan, dengan beragam materi kesehatan. Memeriksa kesehatan ribuan orang, mulai dari kalangan siswa pendidikan anak usia dini (PAUD), pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat lansia juga telah dilakukan, dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk ribuan murid PAUD hingga siswa SD menjadi agenda yang masih dilakukan hingga kini. Berada di jalan ini bagiku memberi kesempatan untuk bisa menciptakan senyum, menjawab harap, dan menghadirkan doa pada ribuan masyarakat di Indonesia.

Selalu ada kemudahan dibalik kesulitan, selalu ada kelapangan dibalik kesusahan, selalu ada ganjaran atas setiap kadar lelah yang dilakukan, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, dan selalu ada bahagia dibalik syukur dan sabar yang dihadirkan.

Dunia kedokteran, ibarat bersakit-sakit dahulu, sulit kemudian. Tapi sekali lagi yakinlah, bahwa ganjaranmu tergantung kadar lelahmu. Ada ganjaran dari setiap sakit dan sulit yang dilewati. Semakin tinggi resiko dan tingkat kesulitan nya, semakin banyak hikmah dan berkah yang kita peroleh di dalamnya. Ingatlah bahwa segala puncak prestasi harus teruji, begitupun menjadi ahli surga harus terbukti di dalam kesungguhan dan kesabaran menghadapi ujian hidup di Jalan Nya. Pahala Allah tidak pernah salah, bagaimanapun niat dan langkah untuk beramal Islami, selalu ada surga dibalik itu.

Selamat menjalankan sisa usia, menjemput keberkahan dalam setiap kesulitan yang dihadapi. Selamat menyehatkan bangsa dengan sehat seutuhnya, terciptanya kondisi fisik, mental, dan ruhani yang baik, yang mampu produktif secara ekonomi maupun sosial. Dan seperti yang dikatakan (alm) KH Rahmat Abdullah, teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.

Rabu, 06 Juni 2012

Benarkah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram?

“…Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar Ra’d, 13:28).

Sangat miris, ketika ayat diatas seolah normatif bagi kebanyakan kita, padahal itulah janji Allah. Ya sekali lagi memang nampak normatif ketika kita mencoba memberi solusi kepada diri maupun orang lain yang kita pedulikan atas kecemasan, kekhawatiran atau ketakutan akan masalah yang mereka hadapi dengan ayat tersebut.

Ingin rasanya aku tunjukkan fakta-fakta dari dunia medis maupun psikologis tentang kebenaran janji Allah pada ayat tersebut. Agar kemudian ini tak hanya menjadi wacana normatif saja.

Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.

Menurut penelitian lain, yang dikemukakan oleh David B Larson dan timnya dari The American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah.

Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard juga telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah.

Patrick Glynn juga mengungkapkan bahwa penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan.

Mungkin bahasan diatas nampak masih general dan superficial, seolah menunjukkan bahwa dengan beragama apapun, asalkan kita beragama kita akan memperoleh ketenangan. Aku ingin ambikan contoh seperti ini, seseorang akan bersih jika ia rutin berwudhu (bersuci dari hadas kecil), kendatipun ia bukan muslim benar? Demikian pula ia akan meraih kebaikan jika ia praktekkan perilaku-perilaku ibadah seperti berfikir, khusyuk dan merenung, karena ia mengoperasikan pusat-pusat yang mirip dengan pusat-pusat keimanan dalam otak yang bekerja untuk rileksasi dan terlepas dari perasaan-perasaan negatif seperti ketakutan, kegelisahan, dan stress. Saat itulah seseorang berpindah dari kondisi keterasingan dan kesendirian kepada kondisi rileks dan tenang, kendatipun ia tidak mendapatkan jatah akhirat (karena tidak beriman kepada Allah swt).

Perlu digaris bawahi disini yang pertama adalah bahwa mereka tidak mendapatkan jatah akhirat (karena tidak beriman kepada Allah swt) dan bahwa mereka melakukan perilaku-perilaku ibadah seperti berfikir, khusyuk dan merenung, untuk mengoperasikan pusat-pusat yang mirip dengan pusat-pusat keimanan dalam otak. Sekali lagi, mirip dengan pusat keimanan dalam otak. Kenapa aku berkata demikian, karena ada sebuah kesimpulan dari penelitian ilmiah yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2001 dari hasil penggunaan teknologi baru scanning terhadap otak yang dilakukan oleh sebuah tim ilmiah yang dipimpin DR. Andrew Newberg, professor Radiology pada Fakultas Kedokteran Universitas Philadelphia, USA ialah : kepercayaan kepada Allah adalah desain dasar (design in built) yang sudah ada dalam otak.

Sebab itu, iman kepada Allah dalam penelitian-penelitian ilmiah moderen bukanlah seperti filsafat dan khayalan masyarakat sebagaimana yang didengung-dengunkan oleh kalangan atheist (kaum darwinis evolutionist dan komunis) yang tidak ada sandaran ilmiahnya pada awal abad 20. Dugaan mereka telah nyata kegagalannya di mana mereka menduga bahwa manusialah yang menciptakan agama mereka sendiri, khususnya setelah ditemukannya fakta ilmiah di atas bahwa manusia telah Allah ciptakan beragama secara alami dan memberi mereka kekuatan/ kemampuan untuk mengenal dan beribadah kepada-Nya.

Sebenarnya telah diterbitkan beberapa studi ilmiah yang menjelaskan bagaimana iman kepada Allah merupakan fitrah yang tertanam dalam diri manusia dan mengoperasikan mekanismenya dengan ibadah adalah jalan menuju sehat dan bahagia. Di antaranya buku : Iman Kepada Allah Tertanam Dengan Kuat dalam Diri Kita, karya Dean H. Hamer, 2005, dan buku : Iman dan Kesehatan, karya Jeff Levin Ph.D, dan buku : Iman, Kesehatan dan Kesuksesan, karya Andrew Perriman.

Namun jika kita ingin telaah lebih mendalam lagi dan lebih spesifik, mengingat Allah dalam tatanan Islam bisa kita lihat dari dzikir. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa mengingat Allah dengan cara Islam ini terbukti mengembalikan produksi endorphin di dalam otak. Zat endorphin yaitu suatu zat yang memberikan efek menenangkan yang disebut endogegonius morphin. Kelenjar endorfina dan enkefalina yang dihasilkan oleh kelenjar pituitarin di otak ternyata mempunyai efek mirip dengan opiat (candu) yang memiliki fungsi menimbulkan kenikmatan (Pleasure principle), sehingga disebut opiate endogen. Oleh karena itulah dzikir atau mengingat Allah itu dapat menghasilkan ketenangan.

Selain itu, orang yang sering berdzikir mengingat Allah, tinggi pula gelombang alfa di otaknya. Ini yang membuat hidup menjadi lebih tenang, sekali pun badai kecemasan, ketakutan, dan kepanikan terus menerjang tanpa perlu minum obat atau minta bantuan dukun. Dengan demikian risiko terkena stroke, jantung koroner, sakit jiwa, dan kanker menjadi lebih kecil.

Menurut Dr. R. H. Su’dan M.D, S.K.M, penyimpangan seks seperti hiperseks, lesbian, homoseks, masochisme dan lain sebagainya juga dapat sembuh dengan dzikrulloh (mengingat Allah). Juga penyimpangan jiwa lainnya seperti psychopatia semacam kleptomania atau suka mencuri, penyakit jiwa karena stress atau ketegangan hidup yang berlebihan. Apalagi kalau hanya penyakit psikosomatik, mudah sekali ditanggulangi dengan dzikrulloh. Bahkan penyakit jiwa yang sebenarnya seperti psychosis pun dapat diselesaikan dengan dzikrulloh pula. Bahkan menurut Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater (Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Doktor di bidang NAZA), beliau mengatakan bahwa selain terapi medis, sholat, berdoa dan berdzikir dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus HIV/AIDS.

Hal ini tentunya yang memperkuat kajian-kajian sebelumnya, bahwa dengan mengingat Allah, berdzikir, mampu meningkatkan kualitas sehat, baik secara fisik maupun mental, membuka cakrawala perasaan ketinggian dan memberikan bantuan untuk terlepas dari berbagai kepediahan dan tekanan jiwa serta kesembuhan dari berbagai kegoncangan seperti kegelisahan, stress, depresi dengan berbagai efek fisik lainnya.

Ketika temuan ilmiah ini pun menjadi sebagian bukti dari kebenaran ayat Tuhan mu yang menciptakan, adakah kita masih menganggap “dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” itu sebuah solusi normatif? Yang jadi tantangan nya kini adalah, sekonsisten apa kita coba untuk mengaplikasikan hal ini dalam hidup keseharian??

Senin, 04 Juni 2012

Bosan Aku Bicara Tentang Rokok yang Hampir (Selalu) Tidak Dipedulikan, Lalu Haruskah Diam Jadi Pilihan?

Bosan! sungguh aku bosan, bahkan enggan sebenarnya untuk membahas satu topik yang sudah sangat ramai dibicarakan orang ini, tentang rokok. Melihat berbagai respon dari permasalahan ini, apakah dengan kita melarang merokok,edukasi bahaya rokok, menghujat para perokok, bahkan sampai demo dan kampanye anti rokok pun, toh perusahaan rokok dan jenis rokok sampai peredaran nya tetap menjamur, berkembang, dan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Dampak Produk Tembakau hingga saat ini tak pernah disahkan, lalu apa guna nya?

Skeptis memang. Namun sampai kapan? Sampai kapan karena kita bosan kemudian menjadi diam? Akan tetap diam saat kau tahu bahwa prevalensi remaja (15-19 tahun) perokok terus meningkat, lebih dari 2 kali lipat? Bahkan 20,3 persen pelajar SMP sudah merokok berdasarkan survey dari Global Youth Tobacco Survey. Miris, padahal merekalah yang sering kita gelari tunas masa depan bangsa. Atau coba kau lihat juga kondisi bangsa ini kawan, dari sekitar 240 juta jiwa penduduk di Indonesia, 65 juta merupakan pecandu rokok, dan yang membuat lebih prihatin adalah, dari data tersebut 500 ribu pecandu ternyata masih anak-anak.

Kemudian berbicara tentang perokok pasif, sekitar 92 persen para perokok merokok di rumah, sehingga menciptakan perokok pasif yakni 65 juta perempuan dan 43 juta anak-anak dalam usia 0-14 tahun. Setelah itu, ketika kita berbicara tentang kematian, kematian akibat rokok sudah mencapai angka 400 ribu.

Melihat angka-angka tadi mengingatkan ku pada seorang pasien yang sempat kukunjungi rumahnya ketika aku sedang bertugas di salah satu Puskesmas di Bandung. Seorang bayi tepatnya, yang kukunjungi karena mengalami gangguang pernafasan berat. Rumah keluarga tersebut sangat sederhana, sangat kecil dengan satu ruangan untuk melakukan berbagai aktifitas yang dihuni oleh 5 orang. Aku cukup dibuat kaget ketika mendengar penjelasan bahwa 3 dari 5 orang penghuni rumah tadi sering merokok di dalam rumah itu padahal ada seorang anak bayi disana. Bayangkan ruangan sekecil itu, dengan asap rokok yang menyesaki seisi ruangan. Prihatin, itu yang kurasakan. Setelah kuberikan obat dan disarankan untuk kontrol ke Puskesmas aku pamit dari rumah itu. Hari itu menjadi hari terakhirku mengunjungi rumah pasien tersebut, karena waktu bertugasku di puskesmas tersebut sudah habis dan harus kembali bertugas ke Rumah Sakit untuk kedepan nya. Seminggu kemudian, aku mendapat pesan masuk di handphone ku, dari ayah bayi tersebut. Tersentak, berita duka yang kudapat, bayi tersebut akhirnya meninggal karena penyakit pernafasan yang dideritanya. Sedih sekaligus miris memang.

Bisa kubilang rokok ibarat mesin pembunuh. Di dunia diperkirakan jumlah kematian itu dapat meningkat menjadi 5,4 juta kematian per tahun atau 1 kematian tiap 6,5 detik. Lebih banyak jika dibandingkan jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas aku pikir.

Lebih dari 80 persen perokok ada di negara sedang berkembang seperti Indonesia memang. Namun tetap bagiku ini tak dapat terus dibiarkan. Penyumbang rokok terbesar adalah dari Asia, dan tertinggi adalah di Indonesia. Apakah ini menjadi kebanggaan? Prevalensi perokok di Indonesia masih cukup besar, sekitar 34,7 persen. Dan sungguh memprihatinkan, perlu juga untuk kau tahu kawan, bahwa 70 persen dari perokok aktif ini adalah orang miskin dan 71 persen keluarga di Indonesia memiliki pengeluaran untuk rokok.

Entah, sampai saat ini aku heran, apa menariknya barang satu ini yang kita kenal dengan sebutan rokok. Padahal waktu engkau menghisap rokok, sejatinya kau menghisap sekitar 4000 bahan kimia termasuk beberapa racun yang kita kenal seperti penghapus cat (acetone, napthylamine), bahan bakar roket (methanol, pyrene, dimethylnitrosamine), kapur barus (naphthalene), accu mobil (cadmium), gas beracun yang keluar dari knalpot (carbon monoxide, benzopyrene), bahan plastic PVC (vynil chloride), racun yang digunakan untuk hukuman mati (hydrogen cyanide, toluidine), pembersih lantai (ammonia, urethane), pelarut industri (toluene), racun semut putih (arsenic, dibenzacridine, phenol), bahan bakar korek api (butane, polonium-210), hingga racun yang paling berbahaya nikotin, TAR, dan karbon monoksida. Luar biasa bukan kandungan nya? Apakah yang menghisapnya juga berhak kita bilang luar biasa?

Aku yakin benar, jika bicara tentang dampak kesehatan yang ditimbulkan setiap kita pasti tahu, toh di bungkus rokok, iklan televisi maupun reklame-reklame tentang rokok selalu dicantumkan bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, stroke, gangguan pernafasan, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Kurang lengkap sebenarnya, bagiku masih banyak yang bisa ditambahkan, namun jika aku paparkan disini beserta alasan mengapa penyakit itu muncul, bisa jadi tulisanku ini menjadi makalah kedokteran.

Banyak mitos yang sering dijadikan pembenaran, alasan yang membuat banyak perokok hingga kini bertahan. Katanya merokok menenangkan pikiran dan meningkatkan daya konsentrasi? Asal kau tahu kawan, perokok pemula itu merasa mual, pusing, batuk dan mulut tak enak. Jika kau tak percaya silahkan tanyakan, asal jangan kau praktikkan. Pengaruh nikotin yang akhirnya membuat kecanduan. Jika sudah kecanduan, pecandu rokok jadi gelisah, berkeringat dingin, dan sakit perut bila tidak merokok. Saat menghisap rokok dan nikotin menyentuh otaknya lagi, pecandu baru akan merasa tenang dan bisa berkonsentrasi lagi, itu faktanya.

Katanya juga, polusi udara oleh asap mobil lebih berbahaya dari asap rokok? Begini kawan, cobalah berpikir, bahwa asap knalpot mobil itu menyebar di udara terbuka, sementara asap rokok sepenuhnya masuk ke paru-paru perokok dan orang di dekatnya. Ada 4000 bahan kimia di asap rokok, 69 diantaranya karsinogenik, sedangkan zat racun seperti nikotin, arsen, dan ammonia tak ada di asap mobil.

Banyak juga pernyataan pintar yang dilontarkan, seolah rokok memberikan sumbangsih untuk bangsa. Benarkah industri rokok telah berjasa terhadap pendapatan negara melalui cukai rokok? Jangan sampai salah kawan, yang membayar cukai rokok adalah konsumen atau perokok, bukan industri rokok. Lalu benarkah katanya industri rokok memberikan sumbangan besar pada penerimaan pemerintah? Kenyataan nya, hanya sekitar 40 triliun hingga Rp 50 triliun yang dihasilakan, atau hanya 7-10 persen dari APBN saja, jauh dibawah penerimaan dari Pajak Bumi dan Bangunan maupun Pajak Penghasilan.

Kemudian jika konsumsi rokok dikendalikan pemerintah dengan menaikkan cukai nya, bukankah itu akan mengurangi pendapatan negara dari cukai rokok itu sendiri? Sadarilah kawan, bila cukai dinaikkan, penerimaan pun justru akan naik karena rokok itu produk in-elastis dan adiktif, akan terus dibeli bila harganya terjangkau. Bila harganya tinggi, pendapatan cukai naik dan penduduk miskin mengurangi konsumsi. Jika cukai rokok naik 10 % saja, volume penjualan akan berkurang 0,9-3%, dan penerimaan cukai akan bertambah sekitar 29-59 triliun. Berkurangnya konsumsi rokok pun tentunya akan mengurangi pengeluaran negara dan rakyat untuk mengobati penyakit akibat rokok. Pada tahun 2005 kita bisa melihat bahwa penerimaan negara dari cukai sebesar 32,6 triliun, sementara pengeluaran akibat penyakitnya sebesar 167 triliun.

Lalu apakah benar pengendalian tembakau akan menghilangkan kerja di pertanian tembakau dan industri rokok juga akan mematikan petani tembakau? Setahuku peringkat industri dan pertanian tembakau tahun 2003 diantara 66 sektor hanya menempati peringkat 30-an. Bila kebutuhan industri rokok akan tembakau berkurang, yang terkena dampaknya adalah importir tembakau. Indonesia mengimpor tembakau dari banyak negara seperti Amerika, China dan Singapura. Data Ditjen Pertanian 2005 menunjukkan bahwa nilai impor tembakau lebih besar dari nilai ekspornya, negara merugi sekitar 35 juta dolar pertahun nya.

Pertanyaan yang seolah konyol pun terkadang muncul, bukankah dengan menaikkan harga rokok akan membebani penduduk miskin? Justru perilaku merokolah yang membuat orang miskin terperangkap dalam kemiskinan. Peningkatan harga rokok akan mengalihkan uangnya untuk membeli hal lain yang lebih berguna bagi anak dan keluarganya. Jika mau dipetakan, kebutuhan masyarakat Indonesia adalah 72 persen kebutuhan pokok atau beras; 11,5 persen rokok; 11 persen ikan, daging, susu, dan sejenisnya; pendidikan 3,2 persen; dan kesehatan 2,3 persen. Artinya, ikan, daging, susu, pendidikan, dan kesehatan masih kalah penting daripada rokok.

Agama yang kemudian dijadikan benteng terakhir. Ditengah masyarakat kita telah tersebar dan terbentuk opini bahwa hukum rokok adalah makruh. Keyakinan ini membuat para perokok seakan mendapat jastifikasi dari agama bahwa merokok diperbolehkan oleh islam, bukan haram. Tapi cobalah tengok dan kembali telaah sebagian negara yang para ulamanya telah memberi fatwa dengan terang-terangan bahwa rokok adalah haram, seperti di Malaysia, Brunei, dan kebanyakan negara Timur Tengah. Walaupun memang, di negara-negara tersebut juga masih banyak dijumpai para perokok.

Secara tekstual di Qur’an memang tak ada ayat yang menyatakan hukum tentang merokok, akan tetapi, kita harus tahu bahwa tidak semuanya disebutkan satu per satu namanya di dalam Al-Qur’an. Allah adakalanya menyebutkan sesuatu dengan namanya namun adakalanya hanya menyebutkan sesuatu dengan sifatnya. Adapun rokok maka termasuk yang disebut oleh Allah dengan sifatnya. Andaikan semuanya yang halal dan haram harus disebut namanya, maka berapa jilid kah diperlukan untuk menyebutkannnya? Ini lah hikmah Al-Qur’an, sehingga kitab Al-Qur’an tetap simpel dan tipis tetapi mencakup seluruh problematika manusia. Dengan ukuran yang kecil dan tipis ini maka Al-Qur’an mudah untuk dipelajari.
Bagiku, rokok adalah sesuatu yang buruk dan sama sekali bukanlah sesuatu yang baik. Dan setahuku agama Islam mengharamkan segala yang buruk. Seperti firman Allah swt:

“…Dan (Rosul) itu menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan segala yang buruk …”.
(QS. Al-A’rof : 157).

Siapa pun yang berakal dan mau jujur, jika ditanyakan apakah rokok termasuk sesuatu yang baik atau tidak, pasti mereka menjawab: “Tidak, bahkan rokok adalah sesuatu yang buruk.” Buruknya rokok juga bisa dilihat dari adanya larangan merokok di sana-sini, seperti di tempat umum, gedung-gedung pertemuan, masjid-masjid, sekolahan apalagi di tempat-tempat yang harus terbebas dari sesuatu yang mengganggu seperti rumah sakit. Atau cobalah kita lihat, dari sekian banyak perokok yang ada, nampaknya tidak satu pun dari perokok yang mengajari anak-anaknya agar pandai merokok seperti dirinya, bahkan mungkin melarang anaknya untuk merokok karena tahu dampak buruk yang mungkin bisa ditimbulkannya. Bahkan keburukan rokok terbukti dengan pernyataan pabrik rokok sendiri yang menyatatakan dalam iklan maupun bungkus rokoknya dengan tulisan “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”. Lalu apakah para perokok menutup mata atau pura-pura buta dengan membeli sesuatu yang jelas-jelas disepakati tentang bahayanya? Lucu bukan? Menurutku manfaat rokok hanyalah klaim dan pembelaan dari perokok belaka tanpa ditunjang dalil dan bukti.

Dalam kaidah fiqih disebutkan ”Mencegah kerusakan/bahaya lebih didahulukan daripada mengambil manfaat”. Maka seharusnya kita mendahulukan mecegah diri kita dari bahaya rokok dengan tidak merokok dari pada mengambil manfaat menkonsumsi rokok yang hanya isapan jempol belaka. Agama Islam pun melarang melakukan perbuatan yang membahayakan diri dan orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

”Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.”
(HR. Baihaqi dan al-Hakim dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Adakah yang masih yakin bahwa rokok tidak membahayakan diri dan orang lain? Bukankah asap rokok pun juga membahayakan para perokok pasif?

Allah pun melarang pemborosan dan menyia-nyiakan harta, sebagaimana firman-Nya:

”… Dan janganlah kalian menghamburkan hartumu dengan boros, karena pemboros itu adalah saudaranya setan…” (AS. Al-Isro’: 26-27).

Orang yang merokok menurutku menghamburkan hartanya dengan sia-sia bahkan mereka rela membeli rokok padahal ada kebutuhan yang lebih penting dan bermanfaat. Di Indonesia, pengeluaran untuk rokok pada rumah tangga termiskin 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur & susu, serta 11 kali untuk daging.

"Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeming pada hari kiamat nanti sebelum ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang tubuhnya tubuhnya untuk apa dia gunakan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan kemana ia membelanjakannya, serta tentang ilmunya untuk apa dia gunakan.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).

Apa jawaban seorang perokok bila ditanya di Hari Kiamat nanti tentang umurnya yang dihabiskan untuk menghisap rokok, ilmunya yang ia mengetahui rokok itu tidak baik, akan tetapi masih terus menerus menghisapnya, hartanya yang dia hamburkan untuk sesuatu yang tidak berguna dan tubuhnya yang ia telah persembahkan kepada bahaya dan penyakit?

Mungkin akan ada yang berkata bahwa bukankah merokok sudah menjadi kebiasaan sebagian besar manusia? Sadari benar bahwa kebiasaan yang berjalan ditengah masyarakat bukan dalil untuk membolehkan kebiasaan tersebut, karena banyak sekali hal-hal yang haram telah menjadi kebiasaan yang berjalan di tengah masyarakat, seperti tersebarnya riba, minuman keras, zina, kebiasaan mempertontonkan aurat, menggunjing sesama muslim dan lain sebagainya. Apakah ini juga akan kita diamkan?

Untuk sebagian orang, mungkin ada yang mengatakan bahwa dirinya sudah bertahun-tahun bergaul dengan rokok sehingga tidak mungkin dapat dipisahkan antara dirinya dengan rokok yang telah menjadi teman setia dalam hidupnya. Tapi sadarkah kita bahwa ini semua dapat dilakukan jika pelakunya mempunyai niatan ikhlas karena Allah swt? Buktinya ketika berpuasa di siang hari mereka mampu meninggalkan rokok bukan? Oleh karena itu, tinggalkan rokok hanya karena Allah bukan karena yang lain.

Terkadang muncul juga pernyataan konyol, bahwa katanya rokok adalah simbol kejantanan sejati, menurut mereka laki-laki tidak lengkap kalau tidak menghisap rokok. Sungguh sangat keliru menurutku, yang pertama, apakah benar orang yang melanggar larangan Allah adalah orang yang jantan? Selanjutnya, dari segi kedokteran bukankah jelas peringatan bahwa merokok bisa menimbulkan impotensi, disfungsi ereksi, infertilitas pria? Masih cocok kah dibilang jantan?

Terkadang juga muncul pernyataan dengan sikap fanatiknya: ”Guru dan kyai saya juga merokok, bahkan dokter juga ada yang merokok.” Kalau sudah jelas dalil bahwa rokok itu tidak baik dan sudah banyak kenyataan bahwa rokok berbahaya, maka wajib bagi kita mengikuti dalil, bukan mengikuti manusia walaupun dia adalah seorang guru, kyai, maupun dokter karena semua manusia pasti pernah dan bisa bersalah dan keliru karena mereka tidak ma’shum (terjaga dari kesalahan) bukan??

Ada juga yang dengan yakin nya berkata, “mereka yang merokok toh bisa berumur panjang dan sehat tidak merasakan bahaya merokok??” Ya kalaupun rokok memang belum membahayakan jiwa mereka, bagiku setidaknya rokok telah membahayakan harta mereka, akhlak mereka, agama dan masyarakat mereka. Jika engkau yakin dengan pernyataan tadi, aku ingin balik bertanya, apakah kau rela bila anak-anak mu merokok? Kan umur ditangan Allah dan toh ada juga perokok yang umurnya panjang??

Pil pahit yang harus ditelan kita sebagai umat Islam jika kita membiarkan fenomena rokok ini terus berkembang. Perlu kita tahu bahwa jumlah total penduduk dunia berkisar sekitar 6.5 Milyar, total Muslim dunia sekitar 1.3 Milyar, dan total perokok di dunia sekitar 1.15 Milyar. Dan tahukah kita bahwa total Muslim yang merokok tidak kurang dari 400 juta orang dan 140 juta orang adalah kaum Muslimin di Indonesia? Dan perlu kita ketahui bersama juga, bahwa produser rokok terbesar di dunia adalah Phillip Morris. Donasi Phillip Morris kepada Israel adalah 12% dari profit yang mereka raih. Jika saja kaum Muslimin yang merokok menghabiskan satu bungkus/hari, berarti mereka membakar 400 juta bungkus rokok/hari. Jika saja harga rokok rata-rata $ 1.00/bungkus, berarti konsumsi mereka untuk rokok $ 400 juta/hari. Jika 50% kaum Muslimin yang merokok itu membeli produk Philip Morris, berarti mereka menghisap 200 juta bungkus rokok produk Philip Morris/hari. Sehingga total dana kaum Muslim yang masuk ke Morris sekitar $200 juta/hari. Dengan rata-rata keuntungan rokok produk Philip Morris : 10% /bungkus, berarti profit Philip Morris dari belanja rokok kaum Muslimin $ 20 juta/hari. Dengan demikian, kamu Muslim yang merokok menyumbang ke Israel $ 2.4 juta/hari dan $ 28.8 juta/tahun atau $ 288 juta/10 tahun. Sungguh kenyataan yang sangat pahit.

Bayangkan, mereka membakar uang sebanyak $ 400 juta/hari, sambil merusak diri sendiri (kesehatan sendiri) serta menyumbang pula ke Israel. Padahal menurut para Mujahidin Palestina, untuk memerdekakan Palestina dan Masjid Aqsha dari penjajahan bangsa yahudi diperlukan dana $ 500 juta/tahun. Sedangkan mereka menghabiskan untuk belanja rokok saja $ 400 juta/hari, atau sekitar $ 4.8 Milyar / tahun? Apakah ini perbuatan yang bisa diterima akal sehat? Apakah perbuatan ini tidak akan memancing murka Allah?

Lebih baik dana yang dihabiskan untuk merokok ini digunakan kepada hal-hal yang bermanfaat lainnya; di antaranya tabungan untuk menunaikan ibadah haji misalnya. Jika kita menabung setiap hari senilai satu bungkus rokok, atau sekitar Rp 10.000 maka uang akan terkumpul sebanyak Rp 300.000/bulan, atau sekitar Rp 3.6 juta pertahun. Dalam sepuluh tahun mungkin akan mampu menunaikan ibadah Haji. Jika berhenti merokok selam 30 tahun, berarti mampu berangkat haji dan dengan dua orang anggota keluarga yang lain.

Janganlah dengan sengaja setiap hari nya membakar sebagian rezeki yang Allah berikan itu dan digunakan untuk merusak diri sendiri, dan orang-orang lain di sekitar kita. Lebih miris lagi, secara tidak sadar menyumbang kepada Israel yang sedang mencaplok dan setiap hari membunuh saudara-saudara kitadi Palestina.

Bagaimanapun juga, sebosan apapun kita, permasalahan seperti ini tetap harus jadi salah satu aspek yang kita perjuangkan. Komplikasi dari permasalahan ini akan terus bertambah jika pemerintah tidak segera membuat kebijakan tegas untuk mengatur peredaran rokok di Indonesia. Di UU Kesehatan, pasal 113 sebenarnya telah diatur mengenai pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif dan pasal 114 tentang peringatan kesehatan dan pasal 115 mengenai kawasan tanpa rokok. Namun peraturan pemerintah pendukungnya yaitu RPP Pengendalian Dampak Produk Tembakau yang telah dibahas sejak munculnya UU tersebut hingga kini belum juga disahkan oleh Presiden.

Tanpa harus menunggu itu, hal yang bisa dilakukan oleh setiap kita secara individu dalam mengurangi dampak dari berbagai permasalahan tersebut adalah mencoba berhenti merokok bagi yang merokok, dan bantu orang lain untuk bisa berhenti merokok, apakah dengan tulisan seperti yang aku lakukan sekarang, dengan ajakan, atau selemah-lemahnya dengan doa.

Untuk engkau yang mulai berfikir untuk berhenti merokok, lakukanlah dan sungguh-sungguh dalam bertahan. Caranya bisa kau langsung berhenti seketika, menunda atau mengurangi jumlah rokok yang kau hisap hingga akhirnya bisa berhenti sama sekali. Secara medis, kelak ketika kau mulai berhenti merokok, akan ada beberapa hal yang mungkin terjadi, seperti batuk, karena hal ini menandakan mekanisme pembersihan saluran pernafasan berfungsi kembali, sakit kepala yang terjadi karena tekanan darah kembali normal, mudah marah atau tersinggung, sampai mungkin sulit berkonsentrasi.

Tapi sadari benar banyak keuntungan yang bisa kau peloreh setelahnya. 6 jam pertama sesudah berhenti merokok, denyut nadi dan tekanan darah kembali normal. 12 jam setelah berhenti merokok, karbon monoksida meninggalkan sistem peredaran darah dan pernafasan. 1 hari setelah berhenti merokok, tekanan darah lebih rendah dan kegiatan jantung jauh lebih kuat. 1 tahun setelah berhenti merokok, resiko serangan jantung menurun sampai setengah dibandingkan dengan perokok aktif. 5 tahun setelah berhenti merokok, resiko stroke menurun sampai tingkat bukan perokok. 10 tahun setelah berhenti merokok, resiko kanker paru menurun sampai setengah dibandingkan dengan perokok aktif. Dan 15 tahun setelah berhenti merokok, resiko serangan jantung menurun sampai tingkat bukan perokok jika berhenti sebelum timbul penyakit.

Lalu, tunggu apalagi? Kau bisa berkontribusi untuk bangsa, salah satunya dengan cara ini kawan!

#make every day world no tobacco day

Dani Ferdian
Sebatas kajian pribadi singkat, Kamis malam, 31 mei 2012.
Semoga bisa menjadi jejak, dari usia yang ingin punya arti.

Rabu, 12 Oktober 2011

kedokteran, satu langkah pasti!

Kembali merefleksikan diri, mengapa menjadikan dunia kedokteran sebagai satu langkah pasti.

Teringat salah satu pertanyaan Imam Ghazali, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Tak sedikit memang yang menjawab orang tua, guru, teman atau kerabat, ya, semuanya memang benar, namun satu yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Sebab kematian adalah janji Allah, seperti yang tertuang dalam firman Nya "Setiap yang bernyawa (pasti) akan merasakan mati." (QS Ali Imran [3]: 185).

Waktu terus berputar, hidup terus berlangsung, detik demi detik bergulir, semakin mendekatkan diri pada kematian. Tak pernah ada yang tau kapan masa itu muncul, boleh jadi kita masih bisa tersenyum hari ini, namun tidak untuk esok. Tak ada yang menjamin esok raga ini masih bernyawa. Paling dekat, sekaligus menjadi yang paling ditakuti dan dihindari kebanyakan orang. Pikiran lebih banyak terjejali dengan urusan hidup, berfikir tentang di mana kita akan kuliah, dimana kita akan bekerja, baju apa yang akan kita gunakan esok pagi, apa yang akan dimakan hari ini, dsb. Pikiran-pikiran seperti ini yang terkadang lebih sering dijadikan prioritas.

Terlintas di pikiran tentang kematian ketika sakit mulai mendera, musibah mulai menimpa, kecelakaan, penganiayaan, upaya pembunuhan terjadi dsb. Kematian linear dengan ketakutan untuk kebanyakan orang, dan disaat itulah fitrah nya mereka mencari penolong dari rasa takut yang mereka alami. Mereka rela menanggalkan harta,tahta, dan berbagai kepentingan lain untuk mempertahankan kehidupan.

Proses kematian banyak didahului dengan kesakitan, paling dekat kaitan nya dengan dunia kesehatan, kedokteran. Menjadi logis ketika akhirnya harapan akan hidup digantungkan kepada para pejuang kesehatan, terutama dokter sebagai pemegang tanggung jawab dan pengambil keputusan terbesar.
Menjadi seorang dokter berarti menghalalkan diri untuk menjadi tumpuan harapan di dunia akan ketakutan terbesar dalam hidup, yakni kematian. Pengejawantahan bentuk tawakal dan penyerahan diri sepenuhnya pada Allah swt. Menolong dan menjawab harapan orang-orang yang berada dalam ketakutan adalah sebuah kemuliaan. Kemuliaan itu terletak pada doa, dalam HR. Ibnu Majah dikatakan bahwa doa orang sakit makhbul seperti doanya malaikat. Doa itulah yang membesarkan para dokter, sederhana, dari ketulusan yang menumbuhkan. Ukuran nya bukan materi.

Kesakitan dan kematian, salah satu mozaik perenungan yang amat nyata bagi kita yang masih diberikan kesempatan hidup. Menjadi dokter sejatinya selalu diingatkan, bahwa dunia ini hakikatnya hanya tempat persinggahan, hanya sementara.

Tak hanya merefleksikan kematian, menjadi dokter sejatinya secara holistik mempelajari makna dan hakikat kehidupan. Belajar kompleksitas kehidupan, dari tataran sel, organ, tubuh, hingga sosial. Mengaplikasikan nya dalam pengenalan dan penjagaan diri, hingga manusia sekitar. Bicara ilmu kedokteran berarti bicara juga tentang perlindungan kehidupan. Mencoba mempertahankan kualitas kehidupan yang tinggi sampai waktu kematian yang ditentukan datang.

Mempelajari kehidupan, sejatinya menjadikan diri lebih mengenal Sang Pencipta kehidupan. Bergelut di dunia kedokteran, idealnya menjadikan diri semakin mengenal dan dekat dengan Allah swt, Sang Pencipta kehidupan, itu yang terpenting.

Tak hanya memberikan perlindungan kehidupan, ilmu kedokteran juga memberikan perlindungan keturunan, perlindungan pikiran, perlindungan kekayaan, dan lebih luas lagi perlindungan agama. Menjadi bagian dari dunia kedokteran berarti mewakafkan diri untuk senantiasa memberikan kebermanfaatan dalam berbagai aspek tersebut. Sungguh beruntung setiap kita yang dapat memberikan manfaat, seperti sabda Rasulullah saw yang tertuang dalam HR. Bukhari bahwa sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Profesi kedokteran membutuhkan kompetensi yang terintegrasi, mengkolaborasikan ilmu, seni, dan norma kemanusiaan secara proporsional. Menjadikan insan abdi di dalamnya harus memiliki dasar berpikir yang baik, sistematis, intuitif dan memiliki pendekatan sosial yang baik. Tak hanya concern dalam aspek fisik saja, namun mental dan sosial secara holistik menjadi keharusan yang perlu diperhatikan. Profesi kedokteran memang dapat memberikan kebahagiaan yang sangat bagi mereka yang berhasil diperbaiki kualitas hidup nya, namun tak jarang ketika akhirnya harus berteman dengan kesedihan, tatkala penurunan kualitas hidup, atau bahkan kematian. Kemampuan menyentuh hati adalah sebuah keniscayaan. Komunikasi hati ke hati, empati, penyamaan frekuensi pikiran diperlukan dalam setiap tahapan profesi ini, mulai dari penegakkan diagnosis, treatment, hingga penyikapan dari output perawatan dan pengobatan yang dilakukan. Cure and care dalam profesi ini menjadi sebuah keharusan.

Profesi kedokteran adalah profesi kebersamaan, baik dari segi kerja maupun figuritas performance setiap individu yang ada di dalamnya. Kebaikan dan keteladanan diri diperlukan, sebab kelalaian yang dilakukan personal dapat menimbulkan stigma profesi secara keseluruhan. Kebersamaan dalam kesejawatan menjadikan setiap kita terikat dalam satu kesatuan yang saling menumbuhkan idealnya.

Tak hanya sebagai agen penyembuh semata, dokter juga memiliki peran strategis sebagai agen pengubah dan agen pengembang bangsa ini. Peningkatan daya saing bangsa melalui intervensi terhadap sumber daya manusia nya, karena sehat tak hanya terbebas dari penyakit dan kelemahan saja, melainkan juga sempurna baik secara fisik, mental, maupun rohani yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Merefleksikan diri dan dunia kedokteran berarti merefleksikan kehidupan dan kematian, merefleksikan kedekatan dengan Sang Pencipta, merefleksikan keunggulan komparasi melalui kompetensi integratif yang harus dimiliki, dan merefleksikan soliditas ikatan melalui kebersamaan dalam kesejawatan, serta merefleksikan kontribusi untuk bangsa.

Memilih kedokteran sebagai langkah pasti, idealnya berarti menjemput takdir sejarah melalui amal unggulan dan keutamaan dunia dan akhirat yang bisa kita peroleh di dalamnya.

• Teruntuk rekan seperjuangan, para dokter muda, proses yang telah dan sedang kita lalui memang panjang, jalani itu dengan sabar dan rasa syukur, kembali refleksikan diri bahwa jalan yang kita ambil penuh dengan kemuliaan :) , tetap semangat menjadi relawan kemanusiaan dalam misi pendidikan
• Teruntuk adik-adik yang sedang menjalankan pembelajaran pre klinik, nikmati prosesnya, dan siapkan bekal ilmu terbaik untuk diabdikan pada masyarakat, dan temukan berbagai bukti kebesaran Tuhan mu yang menciptakan dari setiap ilmu yang dipelajari.
• Teruntuk calon rekan sejawat, guru dan teladan kami, para dokter yang telah mengabdikan diri untuk bangsa. Jaga terus idealisme dan semangat memberi untuk umat, biarkan kami terus belajar dari keteladanan. Jemput keutamaan dunia dan akhirat yang terhampar.

Kamis, 26 Mei 2011

Sebuah refleksi tentang tujuan pembelajaran ilmu kedokteran :)

tiba2 dapet sms dari seorang adik kelas, ia bertanya tentang tujuan ilmu kedokteran.
ingin rasanya langsung dijawab, tapi rasanya tak puas dengan balasan sms yang terbatas karakter. ingin rasanya berdiskusi, tapi terbatas ruang dan waktu. ingin rasanya menelepon juga, tapi rasanya terbatas oleh pulsa :p

karena itu tulisan ini hadir sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan tadi :)

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara tentang beberapa hal.

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara tentang perlindungan agama, hifdh ad ddin, dalam kaitan nya dengan kesehatan fisik maupun mental. Perlindungan agama intinya adalah ibadah dalam arti luas, bahwa setiap usaha manusia adalah sebuah bentuk ibadah. Pengobatan medis mempunyai sumbangan langsung kepada ibadah dengan melindungi dan mempromosikan kesehatan yang baik, sehingga para pemeluk agama akan mempunyai kekuatan fisik dan mental untuk menanggung tanggung jawab ibadah. Seorang yang sakit atau tubuhnya lemah tetap bisa melaksanakannya dengan baik. Kesehatan mental yang seimbang diperlukan untuk memahami akidah dan menghindari ajaran-ajaran yang melanggar akidah karena akidah adalah dasar agama.

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara tentang perlindungan kehidupan, hifdh al nafs, tujuan primer kedokteran. Ilmu kedokteran tidak bisa menghindari atau menunda kematian karena hal-hal seperti itu berada di tangan Allah sendiri. Pengobatan hanya mencoba untuk mempertahankan kualitas kehidupan yang tinggi sampai waktu kematian yang ditentukan datang. Dunia kedokteran ikut menyumbang pemeliharan dan kelanjutan hidup dengan memastikan bahwa fungsi-fungsi fisiologis dipertahankan dengan baik. Juga melepaskan tekanan patofisiologi dengan pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi.

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara tentang perlindungan keturunan, hifdh al nasl. Ilmu kedokteran menyokong pemenuhan fungsi ini dengan memastikan bahwa anak-anak dirawat dengan baik sehingga mereka tumbuh menjadi seorang dewasa yang dapat memelihara anak. Ilmu kedokteran juga memberi perhatian kepada pengobatan laki-laki dan wanita untuk memastikan reproduksi yang berhasil. Juga pada perawatan wanita hamil, pengobatan perinatal, dan pengobatan anak-anak untuk memastikan bahwa anak-anak dilahirkan dan tumbuh secara sehat.

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara tentang perlindungan pikiran, hifdh al ’aql. Pengobatan medis memainkan peran yang sangat penting dalam perlindungan pikiran. Pengobatan penyakit-penyakit fisik akan menghilangkan tekanan mental. Pengobatan neurosis dan psikosis mengembalikan fungsi emosi dan intelektualnya. Pengobatan medis terhadap alkohol dan penyalahgunaan obat akan mencegah penghancuran intelektual.

Berbicara tentang tujuan ilmu kedokteran berarti berbicara juga tentang perlindungan terhadap kekayan, hifdh al maal. Kekayaan setiap masyarakat tergantung aktivitas produktif dari warganya yang sehat. Ilmu kedokteran mendukung pemeliharan kekayaan dengan mencegah penyakit, mempromosikan kesehatan, dan pengobatan tiap penyakit dan squellenya. Masyarakat dengan kesehatan umum yang rendah kurang produktif dibanding masyarakat yang sehat dan semangat. Prinsip perlindungan kehidupan dan perlindungan kekayaan bisa saling bertentangan pada kasus-kasus penyakit terminal. Perawatan untuk penyakit terminal menghabiskan banyak kekayaan yang bisa digunakan untuk mengobati orang lain dengan kondisi yang masih bisa diobati. Jalan keluar hal yang kontras seperti di atas membutuhkan prinsip-prinsip Hukum, qawa’id al shari’at.

Ya, inilah ilmu kedokteran. Berbicara tentang kedokteran berarti berbicara tentang kebermanfaatan, begitulah ideal nya. Dan Rasulullah sawa pernah bersabda, bahwa
" sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat......."

jadi beruntunglah setiap kita yang berada di jalan ini, menjalankan peran yang tak mudah, tapi memiliki peluang kebermaknaan yang begitu besar. selamat menebar manfaat.
belajar, berjuang, bermanfaat.

semoga menjawab pertanyaan nya dik! :)

Selasa, 28 Juli 2009

“ Basic Soft Skill Mahasiswa Kedokteran “

Dokter adalah seorang cendikiawan yang dalam menjalankan profesinya langsung berhadapan atau berada di tengah masyarakat. Dalam menjalankan profesinya ini, dokter dibekali nilai profesi yang menjadi arahan dalam melakukan segala tindakannya. . Nilai profesi itu antara lain adalah kemanusiaan (humanism), etika (ethics) dan kompetensi (competence).

WHO sendiri pada tahun 1994 telah memperkenalkan konsep dokter ideal yang dikenal dengan five stars doctor atau dokter berbintang lima. Dalam dunia militer saja, kita ketahui bahwa pangkat tertinggi adalah jenderal berbintang empat. Maka konsep five stars doctor sebenarnya ingin menunjukan bahwa dokter harus memiliki kualifikasi dengan standar tinggi melebihi profesi lain karena tanggung jawabnya yang sangat berat.

Konsep five stars doctor mencakup kriteria dokter sebagai health provider, decision maker, community leader, manager dan communicator. Untuk mewujudkan kriteria-kriteria tersebut, selain diperlukannya kemampuan analitis (hard skill) yang didapat dari ruang kuliah, diperlukan juga kemampuan interaksi sosial (soft skill ), yaitu kemampuan-kemampuan tak terlihat yang juga diperlukan untuk meraih kesuksesan.

Adapun soft skill yang perlu dimiliki mahasiswa kedokteran untuk mencapai hal tersebut , diantaranya ialah komunikasi, karena pada umumnya orang yang kita hadapi tidak mempunyai kemampuan telepati. Jadi, mereka tidak bisa membaca apa yang ada di pikiran kita. Maka diperlukan komunikasi untuk menyampaikan pendapat, juga untuk mengerti apa yang diinginkan oleh orang lain. Komunikasi adalah kebutuhan mutlak dalam setiap sisi kehidupan. Profesi apapun, pasti membutuhkan komunikasi dengan orang lain, terutama dokter. Komunikasi penting untuk memberikan informasi kepada pasien, memberikan instruksi kepada perawat, mengurangi ketidakpuasan & stress pasien, serta memberikan emotional support kepada pasien. Dengan terciptanya komunikasi yang baik, maka akan menguntungkan kedua belah pihak. Kemampuan berkomunikasi yang diperlukan tidak hanya komunikasi verbal saja, melainkan dalam bentuk tertulis juga. Di bangku perkuliahan ada beberapa soal dalam bentuk esai, dan kita dituntut pula untuk menulis tugas akhir. Dalam dunia kerja, resep adalah salah satu bentuk komunikasi tertulis bagi seorang dokter.

Berfikir logis, adalah soft skill lain yang harus dimiliki karena untuk menyelesaikan masalah diperlukan kemampuan logika yang baik. Permasalahan (kasus) yang dihadapi di dunia nyata, berbeda dengan soal perkuliahan. Hal ini bukan berarti perkuliahan bukan bagian dari dunia nyata, namun perlu disadari bahwa soal-soal dalam perkuliahan telah di desain untuk belajar. Bobotnya telah ditentukan dalam kurikulum. Sedangkan permasalahan yang nanti dihadapi di dunia kerja cenderung lebih kompleks dan tidak terduga.

Kemampuan bekerja sama, juga diperlukan. Dalam dunia nyata, kita akan sangat sering dituntut untuk bekerja sama.Kerja sama antara dokter dan perawat, serta petugas kesehatan lain, serta kerja sama dalam sebuah tim operasi contohnya. Bekerja sama dengan orang lain tidaklah sederhana, amat penting bagi kita untuk belajar bersinergi dengan orang lain.

Etika adalah hal lain yang diperlukan. Etika adalah belajar membedakan yang benar dan salah, lalu melakukan apa yang benar. Etika kerja adalah keyakinan, nilai dan prinsip yang akan membimbing individu berinteraksi dalam kaitannya dengan pekerjaan dan tanggung jawab akan suatu tugas, yang akan membimbing bagaimana berprilaku. Di dunia kedokteran sendiri ada yang dinamakan kode etik kedokteran.

Kemampuan organisasi pun perlu dimiliki oleh mahasiswa kedokteran, dimulai dari manajemen waktu (karena terlambat beberapa menit saja, nyawa seseorang sudah tidak dapat diselamatkan) hingga kepemimpinan. Kepemimpinan mampu menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling ketergantungan dengan membangkitkan motivasi dan inspirasi. Kepemimpinan menyelaraskan gerak, agar semua potensi berintegrasi, menyatu menuju satu arah dengan komitmen yang tinggi.

Dunia kedokteran adalah dunia yang berubah dengan cepat, tak jarang seorang dokter dituntut untuk menyelesaikan banyak hal dalam waktu yang sebenarnya nyaris mustahil mencukupi. Oleh karena itu mahasiswa kedokteran dituntut untuk memiliki ketahanan menghadapi tekanan. Ilmu kedokteran yang terus berkembang menuntut seorang dokter untuk melakukan pembelajaran seumur hidupnya. Dalam bidang apapun seseorang berkarir , sedikit banyak akan ada hal yang harus dipelajari. Oleh karena itu kemampuan & kemauan belajar harus dimiliki mahasiswa kedokteran.

Dua komponen penting sebenarnya yang mendasari pencapaian karakter tersebut yang dapat mengarahkan pada nilai profesi, yaitu profesionalisme dan kepemimpinan atau manajerial. Profesionalisme menuntut terpenuhinya pelayanan kedokteran yang sesuai dengan standar operating prosedur atau standar pelayanan medis dan standar etika profesi sedangkan kepemimpinan menuntut kemampuan dokter dalam mempengaruhi klien (individu atau komunitas) dengan komunikasi efektif supaya bisa bekerja sama dalam program promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Dengan tercapainya hal diatas, maka diharapkan seorang lulusan fakultas kedokteran memiliki kompetensi mampu berfikir analitis, berkomunikasi tertulis, bekerja dalam tim, berfikir logis, berkomunikasi lisan, bekerja mandiri, serta memiliki ilmu pengetahuan & teknologi. Yang dengan kompetensi yang dimilikinya itu diharapkan seorang dokter selain melakukan intervensi fisik, juga harus berperan dalam intervensi mental dan sosial di tengah masyarakat. Dokter dalam kiprahnya seyogianya menerapkan trias peran dokter: sebagai agent of treatment, agent of change dan agent of development.


Dani Ferdian
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

(sebuah essay untuk seleksi Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa tingkat wilayah Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia Wilayah 2)





* The First Generation, ONE BIG TEAM !!!



* gara2 LKMM 2nd generation..
teringat kembali kenangan bersama 1st generation..
bangga menjadi bagian dari kalian...

Rabu, 24 Juni 2009

Pengabdian, ”persembahan dari hati yang tak mati....”

” Universitas kita
Padjadjaran tempat bernaung
INSAN ABDI MASYARAKAT
Pembina nusa bangsa
......................................... ”
( Hymne Universitas Padjadjaran )

Sebuah potongan bait hymne Unpad (yg secara tak sadar kadang kita lupa merupakan bagian darinya) diatas secara gamblang maupun tersirat menyatakan bahwa kita (yg kini berstatus sbagai seorang mahasiswa Unpad) merupakan INSAN ABDI MASYARAKAT.

Dunia kedokteran, terutama sebagai dokter yang nanti akan kita geluti pun sangat erat kaitan nya dengan pengabdian, sesuai hakikatnya sebagai insan abdi masyarakat. Dokter bukanlah merupakan tugas profesi, melainkan sebuah tugas suci karena jiwa mengabdi yg tampak di dalamnya, memberikan manfaat yg sebesar-besarnya kepada masyarakat begitu mendominasi, dan justru itulah yang menjadi feel nya.

Pengabdian, satu kata yg mewakili apa yg telah sy sampaikan diatas perlu kita pahami dan kita laksanakan, apalagi keterkaitan kita sebagai seorang mahasiswa fakultas kedokteran. Lalu pengabdian seperti apa???

Mengabdi kepada masyarakat, kelak memang akan ada masa nya ketika kita menjadi seorang dokter, tapi apakah kita harus menunggu sampai masa itu tiba?? Dan apa yg bisa kita lakukan kini sebagai seorang mahasiswa??

Walaupun memang akan ada masa nya kelak kita akan mengabdi kepada masyarakat, tapi sebenarnya jiwa itu bisa kita latih dari sekarang, secara SADAR dan SENGAJA. Balai Pengobatan, bakti sosial, dan kegiatan2 lain yg berhubungan dengan masyarakat memang merupakan sebuah bentuk pengabdian, tetapi luang lingkup pengabdian tidak terbatas pada masyarakat saja, luang lingkup dan proses serta cara nya sangat luas sekali. Sebagai seorang hamba Allah, tentunya pengabdian yg pertama dan utama ialah terhadap Allah swt dengan jalan ibadah kepada –Nya. Sebagai seorang individu, pengabdian bisa kita lakukan untuk diri sendiri, dengan menghargai diri sendiri, mengerjakan tugas pokok, dan terus meningkatkan kualitas diri. Sebagai seorang anak, pengabdian bisa dilakukan dengan menjga perasaan kedua orang tua kita, menjaga amanah keduanya, dan membuat bangga mereka. Sebagai makhluk sosial, dalam lingkup yg paling kecil, pengabdian bisa dilakukan dengan membantu teman yg mengalami kesulitan (apakah itu karena pelajaran, pergaulan dsb.), mulai dari orang2 yg berada di lingkungan terdekat di FK (teman2, karyawan, dosen), masyarakat Unpad, masyarakat Jatinangor, dan lebih luasnya lagi masyarakat Indonesia bahkan dunia. Sebagai bagian dari tatanan kehidupan, menghargai waktu (dengan datang tepat waktu) itu pun merupakan bagian dari pengabdian, karena waktu adalah lingkaran dimana kehidupan kita berjalan, kita atur waktu untuk mengatur kehidupan. Pengabdian bisa dilakukan dari hal yg terkecil, bisa kita lakukan dimana saja, dan bisa dimulai saat ini, sekarang!! Kualitas pengabdian kita merupakan bekal untuk dihisab kelak ketika maut menjemput kita.

Pengabdian adalah REALITA, bukan DOGMATIS, maka perlu diamalkan tidak cukup dengan dipahami saja. Lalu apa yg akan kita dapatkan dengan melakukan pengabdian tersebut?? Selain pahala (insya Allah..), semakin banyak kita memberikan sesuatu kepada orang lain, semakin banyak pula kita akan mendapatkan sesuatu (paradox of sharing). Pengabdian bukanlah PENGORBANAN, melainkan KEHORMATAN.

Dan bagi saya, PENGABDIAN ADALAH PERSEMBAHAN DARI HATI YANG TAK MATI....

Dani Ferdian
Kasie. Pengabdian Kepada Masyarakat
Senat Mahasiswa FK UNPAD

(tulisan untuk buletin PKM FK dan buletin Media Informasi FK)


* para pengabdi masyarakat fakultas kedokteran universitas padjadjaran
pikiranmu, hatimu, jiwamu, semangatmu, ragamu, jadikan itu sebuah bentuk ketulusan dalam memberikan pelayanan sebagai bentuk syukur dan penghambaan pada Nya..
SEMANGAT !!! semoga Allah selalu mempersatukan hati2 kita.., dan selalu menghidupkan hati kita untuk peka dlm memegang amanah Nya.. :)


* Ayo kita tuntaskan semua program kita.. :)
// danfer] http://frinholictea.blogspot.com/


Kamis, 12 Maret 2009

JOGJA PART VII : MUNAS, MUKERNAS, dan SEMNAS....(semuanya berakhiran –nas...^^)

Awalnya, sya dan satu orang teman saya yg lain diminta untuk mengikuti musyawarah nasional ikatan senat mahasiswa kedokteran Indonesia (MUNAS ISMKI) untuk mewakili ketua senat terpilih yang berhalangan hadir karena sedang ujian.., namun karena proses lobbying & memang karena yg boleh ikut munas terbatas hanya 2 orang per institusi, akhirnya sya pun diijinkan untuk mengikuti workshop badan kelengkapan terlebih dahulu..Mendengar cerita dari yg lain, seperti biasa munas diwarnai dengan adu pendapat, perdebatan yg cukup alot, dan cukup panas (namun munas kali ini lebih mending dari yg sebelumnya di makassar, yg katanya sempat terjadi insidensi pemukulan juga...), 3 hari berturut-turut dari pagi sampai pertengahan malem.., bahkan bisa sampai pagi lagi.., mulai dari LPJ Sekretaris Jendral ISMKI kemarin (mas Fadnan) yg cukup mendapat serangan dari beberapa pihak.., pembahasan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, pemilihan sekretaris jendral terpilih ISMKI periode 2010, yg dilakukan cukup alot, sehingga tercipta 2 kali proses pemilihan, pemilihan pertama ialah antara Prima dari Udayana melawan kotak kosong, kerena calonnya cuma ada 1 pada saat itu.., yg hasilnya lebih banyak memilih kotak kosong, sehingga dilakukan proses pemilihan lagi dan didapat 3 calon, Prima dari Udayana, Topan dari Makassar, dan Fajar dari UII, yang akhirnya terpilih Fajar dari UII sebagai sekjen terpilih 2010, semoga hasilnya yg terbaik karena dilakukan mlalui proses musyawarah sebelumnya..


Senam, menjadi olah raga rutin peserta Munas tiap pagi nya...

Senam, menjadi olah raga rutin peserta Munas tiap pagi nya...terakhir munas, membahas mengenai platform gerakan ISMKI kedepannya, beserta kebijakan2 yg akan diambil.., dan kebetulan sya diikutsertakan dalam munas hari terakhir ini (sesuai kesepakatan sebelumnya ternyata..^^), dipimpin oleh Mas Aan selaku Sekjen ISMKI sekarang yg menggantikan Mas Fadnan, dengan nama Generasi Harapan, ISMKI periode ini memutuskan platform gerakan kedepannya ialah “Revitalisasi Wadah Pergerakan Mahasiswa Kedokteran”, sesuai dengan platform itu, maka arahan sebagi bentuk revitalisasi wadah pergerakan mahasiswa kedokteran tersebut ialah semangat kebersamaan, eksistensi (kepemilikan-kebersamaan) dan aktifitas nyata. Munas ini pun menghasilkan kebijakan2 yg harus dilakukan di tiap institusi lokal, ada kebijakan internal dan kebijakan eksternal. Kebijakan internal pertama ialah pengakaran pergerakan ISMKI di institusi lokal, yg caranya sesuai dengan kondisi objektif masing2 universitas, bisa berupa logo, simbol, pin, mading dsb.., kebijakan internal kedua ialah komitmen mendukung semua program dan kebijakan2 lain yg ditetapkan ISMKI. Sedangkan untuk kebijakan eksternal nya ialah mengenai equality antara ISMKI dan “organisasi rekan sejawat”.


Munas & mukernas gk bwt kita lupa makan kok..^^

Penetapan kebijakan tadi menandakan berakhirnya munas.., setelah munas selesai, dilanjutkan oleh Musyawarah Kerja Nasional (MUKERNAS) ISMKI yg diikuti oleh semua delegasi dari seluruh universitas di Indonesia. Pembahasan pertama ialah mengenai Visi ISMKI “Generasi Harapan” sebagai poros pergerakan, yang peka, kritis dan solutif sehingga memberikan kontribusi positif..(begitu kurang lebihnya..), dan untuk mencapai visi tersebut maka dibuatlah misi yakni kaderisasi, advokasi kebijakan strategis, alur & pola pencitraan sistematis, dan iklim kelembagaan yang solid dan dinamis. Semuanya itu berdasarkan platform tadi, yakni Eksistensi & aktifitas nyata... Setelah pembahasan Visi & Misi tadi, dilanjutkan penjelasan mengenai struktur yg berhubungan dengan fungsinya di ISMKI, sekaligus pelantikan Pengurus Harian Nasional..Setelah itu maka dilakukan rapat kerja per bidang, dibagi kedalam bidang pendidikan & profesi, pengabdian kepada masyarakat, kajian strategis, PSDMO, presiden meeting, dan sisanya gabungan dari beberapa bidang..



Presiden meeting ato rapat senat ya?? Kok isinya kang harry, teh putnad, ama teh avi lagi??

Sya sendiri diminta untuk ikut presiden meeting..,yang dihadiri oleh ketua2 senat fakultas kedokteran se-Indonesia (kurang lebih sekitar 34 institusi yg hadir pada saat itu..), smentara sy sendiri bukan ktua senat pada saat itu.., he.. Diawali dengan pembahasan internal, mengenai problem/ masalah2 yang dihadapi tiap institusi dan sharing mengenai solusi dari permasalahan tersebut..(kuliah kedokteran menuntut kita berfikir sistematis yg bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.., dimulai dari masalah, berupa tanda & gejala / keluhan.., menentukan hipotesis dari masalah yg ditemukan, mencari informasi dalam menegakkan diagnosis, menentukan mekanisme terjadinya, dan memberikan treatmen berdasarkan etiologi yang ada..). Dari permasalahan yg dikemukakan itu.., didapat beberapa poin yg sama, diantaranya ialah lembaga eksekutif (dalam hal ini senat..) tidak diakui, ada beberapa Fakultas Kedokteran yg di dalamnya mencakup program studi lain (seperti keperawatan, ilmu gizi, dsb) atau bahkan kedokteran itu sendiri yg tergabung ke fakultas lain (contohnya tergabung ke FMIPA), ISMKI/BEM/Senat gerakannya tidak nyata, dan adanya saingan dari organisasi lain, baik itu intra maupun ekstra kampus. Melihat dari permasalahan itu, sebenarnya ada benang merah yg bisa ditarik, yakni bahwa permasalahan2 tersebut timbul karena masing2 institusi belum merefleksikan fungsi dan peran lembaga eksekutif dalam memenuhi kebutuhan mahasiswa.., oleh karena itu, perlu dikembalikan legitimasi senat, sehingga permasalahan2 tersebut bisa diatasi. Intinya, PENUHI KEBUTUHAN MAHASISWA.., itu aja dulu..!! Solusi2 lain hanya tambahan saja seperti bakal diadakannya pertemuan ISMKI (ikatan senat mahasiswa kedokteran Indonesia) & AIPKI ( klo ini ikatan dekan fakultas kedokteran Indonesia..) yg gosipnya bakal diselenggarakan di UNPAD, dan solusi2 lainnya... Setelah pembahasan internal dianggap selesai, diadakan pembahasan external yg cukup panjang (sampai beberapa ronde..^^), cukup panas memang.., dan hasilnya tidak perlu sy kemukakan disini karena menyangkut kepentingan banyak pihak.., dan cukup sensitif.. ^^Setelah rapat kerja per bidang, maka hasil dari rapat tersebut disosialisasikan ke seluruh peserta mukernas.., karena waktunya kemaleman (gara2 presiden meeting kelamaan nih..,he..), maka tiap presentasi dibatasi 10 menit, tanpa tanya jawab..(ini yg bwt gk efektif.., ditambah orang2 nya pada kecapean, ngantuk...)Keesokan harinya, mukernas dilanjutkan setelah selesai seminar nasional, agendanya ialah pengambilan tender program ke tiap institusi.., dan UNPAD beserta institusi lain di wilayah 2, memenangkan tender Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa Nasional, yg tempatnya di Jatinangor, tepatnya di bale padjadjaran.., dan satu lagi tender yg sya tau ialah Bakti Sosial Nasional yg dimenangkan oleh Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan (semoga sya bisa diberangkatkan kesana.., he..), juga Munas & Mukernas taun depan yg diadakan di Bali (dimenangkan universitas Udayana..), dari sekian banyak tender yg diajukan, sy cuma tau 3 aja dimenangin sama siapa nya..(parah kan..??? abisnya gk kondusif sih..). Mukernas ini diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama..




Salah satu suasana evaluasi internal institusi..

Dalam munas & mukernas ini saya cuma banyak mendengarkan, tanpa banyak bicara.., sya ingin belajar sebanyak-banyaknya dengan mencoba mendengarkan sebanyak-banyaknya.., dari sini sya mulai tau bagaimana pola pikir orang lain, arahan nya kemana, kondisi tiap institusi, serta proses munas & mukernas itu sendiri.., mungkin taun depan sya coba bicara.. (itupun klo memang diperlukan..^^)Selain munas & mukernas, disanapun diselenggarakan seminar nasional mengenai kesiapan sistem & kompetensi tenaga medis menghadapi globalisasi dengan semangat kebangkitan nasional , yg narasumber nya ialah dosen fakultas ekonomi UGM, Sri Sultan Hamengkubuwono (yg lagi2 diwakili oleh kepala dinkes Jogja), dan terakhir yg sangat dinantikan ialah Ibu Mentri Kesehatan Republik Indonesia.Materi pertama yg disampaikan dosen fakultas ekonomi lebih bercerita tentang sejarah, globalisasi jasa (agak berbau ekonomi sih), agak gk ngerti.., tanpi intinya kita bisa menghadapi globalisasi dengan menciptakan barrier terhadap globalisasi, dsb.. (lupa sya..^^).Materi kedua disampaikan oleh kepala dinkes Jogja (ngantuk bgt sya pas materi ini, kadang gak sadar, abisnya beliau membacakan materi sultan, bukan menjelaskan..), tapi intinya yg sy tangkap ialah bahwa kearifan lokal ialah salah satu hal yg menciptakan barrier terhadap globalisasi..Dan materi terakhir yg dibawakan bu menkes (walopun agak ngantuk pas dengernya.., mungkin gara2 evaluasi malemnya yg sampe jam 2.., tapi lumayan bisa fokus lah..) tentang kesehatan Indonesia dalam ruang globalisasi cukup menarik..., dimulai dari pemaparan visi, yakni masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat.. (begitu kurang lebih intinya..), kemudian tentang globalisasi yg cross border, consumption abroad, comersial presence, dan movement of natural person ini akan mempengaruhi perekonomian (terutama globalisasi liberal) yg akan menciptakan kebebasan pasar untuk memperdagangkan barang & jasa (kesehatan termasuk jasa bukan..??)



Menkes kita.....


Beliau pun memaparkan ketidaksetujuannya terhadap Asean Charter (yg dulu disetujui DPR RI..), yg berisi poin2 diantaranya single market, effective facilitatory, force flow, profesional, and free flow of capital..Dan untuk menghadapi era globalisasi tersebut, ada prinsip dasar yg harus diperhatikan, menurut beliau ialah harus melindungi kepentingan rakyat, meningkatkan daya saing, dan mengoptimalkan potensi.., dan yg harus dipikirkan bukan teknis, tapi politis, mengenai prinsip dan strategis.., begitu kurang lebih kata beliau..Yang menjadi musuh bukan globalisasi, tapi liberalisasi, karena dengan liberalisasi berarti kehancuran.., begitu tambah beliau.., bagaimanapun tetap harus ada kontrol masyarakat...Dan yg ditekankan oleh Ibu Menkes ini adalah bahwa beliau TIDAK SETUJU dengan pasar bebas nanti.., karena bagaimanapun juga kita belum siap menghadapi itu.. (lalu sistem dokter keluarga bisa jadi solusi gk ya???bingung sya...), dengan sikap tegasnya itu, pantas lah Menkes RI dapat penghargaan sebagai Menkes terbaik..^^Menkes pun sempat mengomentari tema yg diberikan panitia yang isinya kurang lebih seprti ini “kesiapan sistem & kompetensi tenaga medis menghadapi globalisasi dengan semangat kebangkitan nasional”, di satu sisi, tema tersebut GAGAH, tapi di satu sisi seperti BANCI..., mengapa demikian??? Begini uraiannya..., semangat kebangkitan nasional (ini yg beliau bilang gagah..) intinya ialah untuk MIKIRIN BANGSA, bukan untuk suatu golongan tertentu saja (contoh yg dlm tema ini ialah tenaga medis.., dan ini yg katanya banci...), cukup pelan..., tapi menusuk dalam...^^, dijadikan sebuah bahan pelajaran...Banyak yg sya dapat disini..., thanks Allah....




Delegasi dari tiap institusi...

Jumat, 02 Januari 2009

JOGJA part IV : workshop " Social Service Center.."

Gedung Ismangoen lantai 3.., itulah tempat kejadian perkara workshop ini.., langsung dilatih oleh sang ahli.., para pembimbing dari MER-C (Medical Emergency & Rescue Committee, klo gk salah kepanjangan nya ini..^^) dan orang2 ahli terkait di bidangnya.., kami mendapatkan berbagai materi tentang penanggulangan bencana alam.., mulai dari yang inspiratif, aplikatif, dan bernilai untuk masa depan..

Gedung ismangoen, tempat sy dan tman2 lain menimba ilmu di workshop ini..

LSM kemanusiaan yg bergerak dlm bidang penanggulangan bencana, sebagai narasumber..

Diawali pemaparan materi oleh Sri Aminah dr SpA, seorang dosen dari FK UGM yang sekaligus sebagai Pembina MER-C Yogyakarta, tentang Peran Mahasiswa dalam Tanggap Bencana..(walaupun pada kenyataannya pembahasan beliau sangat sedikit sekali yg relevan dengan judul, malah lebih ke cerita tentang pengalaman beliau dan pemikiran2 nya.., tapi itulah yang malah jadi inspiratif.., dan memberikan nilai moral..), penjelasan beliau diawali dari hal yang sangat dasar.., mulai dari definisi mahasiswa, definisi bencana & contoh2 nya (seperti cyclone, gempa bumi, tsunami, banjir, bom, perang, longsor, gunung meletus, kegagalan teknologi, konflik, dsb., yang disertai dengan permasalahan yang menyertainya, baik itu untuk korban, maupun tim penanggulangan bencana..,)skema penanggulangan bencana (overview saja..), dan pemetaan daerah2 yang rawan bencana.. (dan ternyata, dari semua pulau yang ada di Indonesia, Kalimantan masih tetap jadi pulau teraman dari bencana.., ada yg mau pindah kesana???). Selain itu, beliau juga memaparkan badan/lembaga yg bisa diajak koordinasi dalam hal penanggulangan bencana, seperti Satkorlak, pemerintah, organisasi non pemerintah, militer, universitas, underground.., dsb…Dan untuk menjadi relawan, sebenarnya ada hal2 penting, mendasar, tapi tidak tertulis yang seharusnya dimiliki individu tersebut, yaitu NIAT YG LURUS (IKHLAS), keterpanggilan, rela menemui kesulitan, rela bekerja sama, netral, berani, suka bertualang, dan suka menulis..,begitu tutur beliau…



Banjir, bencana yg sering terjadi di Indonesia..

Masih ingat dengan Tsunami Aceh???


Dan untuk seorang dokter yang turun ke tempat kejadian, maka banyak hal yang menuntut nya untuk bekerja tidak selalu degan kompetensi profesi yang dia miliki pada saat itu.., contohnya, seorang dokter di tempat penanggulangan bisa menjadi bagian pengambil kebijakan tim, Penyelenggara poliklinik anak harian RS, Menggantikan peran Sp OG, Sp PD, asisten Sp B, Sp KJ, Dokter IGD, Penataan Manajemen RS, Menyususun Standar Pelayanan Minimal, Penyelenggara pelatihan kegawat-daruratan, Penyelenggara pelatihan penatalaksanaan bayi baru lahir, Bedside Teaching Perawat RS, bahkan bisa menjadi editor berita dan media lain, editor pidato Pangdam, Juru Bicara Tim Kesehatan RS, pencari logistik, bahkan sampai menjadi Bintang Iklan Layanan Kesehatan Masyarakat di TV, begitu tambah beliau..Sisanya, beliau menceritakan tentang pengalaman nya mulai dari Indonesia hingga ke Iran, dan cukup tertarik saya dengan system manajemen bencana di Iran yg rapih, yakni daerah bencana dibagi 28 sektor, tiap sektor menjadi tanggung jawab 1 propinsi yang tidak terkena bencana, kedaulatan negara terjaga…Beberapa hal yg beliau sampaikan yg masih saya ingat adalah ketika beliau mengatakan bahwa mahasiswa adalah “fasilitator perdamaian”, menekankan agar kita HARUS BERMANFAAT (belajar, berjuang, bermanfaat…, he..), jangan takut mati karena kematian adalah takdir, dan dalam memberikan pertolongan pun jangan membeda-bedakan ras, agama, dsb.., karena ISLAM rahmatan lil alamin bukan..??, beliau pun menekankan kita agar YAKIN!! Karena semuanya sudah ditentukan Allah , teguhkan hati, dan tanyakan nurani setiap kali kita melakukan sesuatu…, dan tidak lupa restu tentunya…Luar biasa.., seorang dosen, seorang ibu, seorang istri, yang walaupun punya kekurangan (akibat kerusakan salah satu fungsi organ tubuhnya), beliau tetap punya semangat berkontribusi dalam memberikan manfaat pada sesama..(walaupun ada beberapa kejadian yg sempat mengancam nyawanya..), mulai dari mahasiswa hingga kini.., dengan tetap memegang prinsip, dan menjaga batasan sesuai syariat agamanya…Cukup menginspirasi dan menambah semangat saya beberapa grade dibanding sebelumnya…^^Materi selanjutnya diberikan oleh dr.Jufan mengenai initial assessment , dibuka dengan sebuah gambar seperti ini:



Contoh pasien yg menderita trauma akibat kecelakaan...

“Apa yg harus kita lakukan terhadap pasien yg menderita trauma akibat kecelakaan seperti ini??”, begitu tanya beliau.., dalam hati sya cuma menjawab..”Ya berdoa saja dok…”, ternyata selain berdoa ada hal lain yg bisa dilakukan sebagai tindakan pertama yg bisa kita lakukan sebagai mahasiswa kedokteran, yaitu initial assessment yaitu penilaian awal yg harus dilakukan secara cepat, holistik berdasarkan prinsip primary survey dan secondary survey. Untuk menghilangkan kegawatan yang mengancam pasien, hal-hal yang potensial mengancam kematian dan perkiraan langkah selanjutnya.Adapun primary survey adalah hal-hal yang dapat mengancam kematian pasien dengan segera seperti Airway-Breathing-Circulation. Dan untuk melakukan primary survey, hendaknya kita menggunakan proteksi diri seperti sarung tangan, kaca mata, sepatu dll. Primary survey ini dikerjakan berurutan atau simultan.Untuk menilai airway, maka hal yg bisa dilakukan ialah bertanya, seperti “Apakah anda baik2 saja..?”, klo bisa menjawab, berarti airway nya bagus, klo gk menjawab maka ditepuk-tepuk ringan, bila tidak berespon juga dapat dengan rangsang nyeri. HATI-HATI dengan cedera cervical, karena itu pada pasien dengan cedera diatas clavicula, gangguan kesadaran, dan trauma kepala, harus dipasang collar neck untuk immobilisasi. Untuk menilai secara pasti keadaan pasien maka dapat dilakukan penilaian secara objektif yaitu dengan pola LOOK – LISTEN – FEEL. LOOK, melihat kondisi pasien, apakah ada sianosis pada bibir atau akral (menandakan oksigenisasi jaringan yang berkurang), Penggunaan otot nafas tambahan, Retraksi dinding dada, Adanya pergerakan nafas yang cepat.LISTEN, mendengarkan suara nafas tambahan (wheezing, ronkhi), suara nafas di thoraks (vesikuler), dan sumbatan parsial bisa diketahui dari suara nafas yg dihasilkan, suara seperti orang yang kumur-kumur (gurgling) menandakan adanya sumbatan berupa cairan, contohnya bila pasien tersebut muntah, Mendengkur (snorring) yang menandakan adanya sumbatan oleh jaringan lunak seperti lidah, dan bersiul (crowing).FEEL, apakah terasa hembusan nafas di pipi?dan trakea berada di tengah?Smua proses, look, listen, dan feel dilakukan secara bersamaan.




Look, Listen, and Feel


Selain airway, primary survey yang lain ialah breathing. Proses bernafas seperti yang telah kita ktahui bersama adalah proses untuk mengambil oksigen dan mengeluarkan carbondioksida. Dengan jalan nafas yang baik dan paten belum tentu oksigen dapat masuk dan karbondioksida dapat keluar. Adapun komponen proses nafas adalah dada, paru-paru, dan diafragma. Untuk menilai breathing bisa dilakukan dengan pemeriksaan fisik, yaitu dengan INSPEKSI (memperhatikan gerak nafasnya, simetris ato gak, dan menilai apakah ada jejas dan trauma), PALPASI (meraba adanya kelainan dinding dada), PERKUSI (Sonor, menandakan normal, redup menandakan ada darah, hipersonor menandakan adanya udara), AUSKULTASI (Menilai vesikuler dan suara tambahan nafas).Untuk pengelolaan Airway dan Breathing, hal yang dilakukan ialah pentingnya menjaga kesegarisan (in line immobilitation) dengan menggunakan collar neck atau tidak mengerjakan ekstensi leher, berikan suplementasi oksigen baik dengan kanul nasal atau dengan mask,buka jalan nafas dengan memasukkan jari ke dalam mulut satu kali sapu, Jaw thrust dan chin lift, Orofaringeal atau nasofaringeal airway, dan untuk airway definitif maka dilakukan krikotiroidotomi dan endotracheal/orotracheal tube .





Cara membuka jalan nafas…


Selanjutnya ialah menilai circulation dan bleeding control, bila kurang baik maka dilakukan resusitasi cairan, Hentikan perdarahan external, Pasang infus dengan jarum besar .Dan terakhir ialah menilai disability, dengan memeriksa AVPU: Alert, respon thdp Verbal, respon thdp Pain, UnresponsivenessAdapun secondary survey adalah pemeriksaan yang dilakukan lebih teliti untuk menghilangkan gangguan-gangguan yang potensial dapat menyebabkan kematian. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan anamnesis, baru kemudian pemeriksaan fisik. Dilakukan dari ujung rambut ke ujung kaki, disertai pemeriksaan setiap lubang dari tubuh pasien, lalu dilakukan re-evaluasi.Primary and secondary survey harus dikerjakan karena semua kegawatan dan potensi kegawatan akan dapat diidentifikasi dan ditangani dengan cepat.Masih ingat dengan gambar wanita yg mengalami trauma tadi?? (klo lupa, silahkan scroll mouse nya keatas lagi..), setelah dilakukan initial assessment yang tepat, disertai penanganan oleh dokter ahli dengan kompetensi yg dimilikinya, maka 10 bulan kemudian hasilnya seperti ini (dengan tetap dibantu doa tentunya..^^):



10 bulan kemudian (masih inget dengan trauma tadi kan??)......

Disini kita juga diajarakan tentang Triase, yaitu pemilahan pasien berdasarkan kegawatan secara efisien dan sistematis untuk penanganan pasien yang baik. Dibagi kedalam beberapa warna (berdasarkan prioritas) , yakni merah (gawat dan mendesak), kuning (gawat tapi tidak mendesak), hijau (korban masih bisa jalan), hitam (korban meninggal).Intinya dari materi ini ialah, ketika kita temukan korban dengan kondisi apapun, maka hal yg harus dilakukan pertama kali sebelum melakukan tindakan yg lain ialah initial assessment, yg langkah2 nya telah dijelaskan diatas. Setelah initial assessment, kita diajarkan tentang Fraktur, Dislokasi, dan Immobilisasi oleh dr.Kismi (klo gk salah namanya itu..). Begini ulasan nya...Trauma muskuloskletal sering sekali terjadi pada keadaan gawat darurat dan yang paling sering terjadi adalah patah tulang atau fraktur. Patah tulang ini akan terlihat sangat dramatis, tetapi sebenarnya jarang yang mengancam nyawa tetapi justru sering mengancam anggota gerak. Definisi fraktur itu sendiri ialah terputusnya kontinuitas dari korteks tulang, tulang rawan dan epifisis, sedangkan dislokasi adalah keluarnya atau bergesernya bonggol sendi dari kapsul sendi. Gejala klinis nya ialah deformitas, bengkak, nyeri, luka. Fraktur dapat dibedakan sebagai fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur tertutup adalah terjadinya diskontinuitas korteks tulang tanpa disertai adanya hubungan dengan dunia luar, sedangkan fraktur terbuka adalah terjadinya diskontinuitas korteks dengan hubungan dengan dunia luar.




Contoh fraktur terbuka...


Adapun untuk mendiagnosis fraktur (klo tadi untuk menilai airway ialah look, listen, feel) maka untuk fraktur ialah LOOK, FEEL, and MOVE..LOOK, melihat adanya Deformitas (angulasi, pemendekan, rotasi), Luka, dan warna kulit (pucat, kebiruan).FEEL, meraba dengan diberi sedikit penekanan pada tulang-tulang yang kemungkinan patah, meraba permukaan kulit, rasakan dingin ato hangat. Pulsasi nadi juga harus diperiksa, hitung frekuensi dan isinya. SELALU, bandingkan kiri dan kanan, proksimal (dekat) dan distal (jauh) bagian yang cedera. Lakukan pemeriksaan pengisian kapiler dengan menekan kuku distal dari daerah yang cedera, waktu normal pengisian kapiler adalah <>

Contoh sindroma kompartemen…

Pada fraktur panggul biasanya tidak terjadi perdarahan yang tampak dari luar tetapi justru pasien akan jatuh pada keadaan syok karena terjadi internal bleeding. Keadaan ini sangat potensial dalam menyebabkan kematian.Selain diberi penjelasan mengenai fraktur, dislokasi, dan Immobilisasi, dr. Kismi juga mengajarkan kita tentang pembidaian, yang memiliki fungsi immobilisasi (untuk mencegah pergerakan tulang yang patah agar tidak terjadi kerusakan jaringan lebih lanjut, mengurangi rasa sakit atau nyeri pada tulang), mencegah infeksi, dan menghentikan pendarahan.Prinsip immobilisasi dengan bidai ialah: membuka semua pakaian yang mengganggudalam penegakan diagnostik tetapi jangan lupa untuk melakukan pencegahan terhadap hipotermi, memeriksa keadaan neurovaskular sebelum memasang bidai, menutup luka dengan kassa steril, memilih ukuran bidai yang akan digunakan yg disesuaikan dengan trauma yang terjadi pada ekstremitas. Bidai HARUS MENCAKUP 2 SENDI, sendi distal dan proksimal cedera, dilakukan PADA POSISI ANATOMIS. Bila ditemukan dalam posisi belum lurus dapat dilakukan pelurusan deformitas, tidak boleh terlalu kencang/ketat mengikat karena akan merusak jaringan tubuh, bila pulsasi tidak ditemukan coba lakukan pelurusan ekstremitas, tahan secara hati-hati hingga bidai terpasang, pelurusan ekstremitas jangan dilakukan secara paksa, bila kesulitan atau tidak mampu meluruskan biarkan saja, pasang bidai pada keadaan ditemukan.


Contoh pembidaian yang salah...


Pembidaian yang benar...

Pada penderita dengan trauma multipel dan dicurigai adanya trauma spinal dan fraktur cervikal segera lakukan pemasangan long spine board dan collar neck. Collar neck harus segera dipasang pada pasien dengan cedera diatas clavikula, trauma kepala dengan penurunan kesadaran dan multiple trauma. Collar neck tidak akan menyebabkan kematian karena itu jangan ragu untuk memasangnya.Pada pemasangan long spine board hati-hati kemungkinan terjadinya dekubitus (busuk jaringan tubuh akibat kurang lancarnya peredaran darah) pada beberapa tempat seperti belakang kepala, bokong dan tumit karena itu perlu adanya bantalan atau tempat yang lebih lembut dengan scoop strecher. Kemudian lakukan log rolling per dua jam.



membusuknya jaringan tubuh....


Materi berikutnya ialah mengenai luka & shock yang disampaikan oleh sorang residen spesialis bedah FK UGM (yg sya lupa namanya.., he..)..., materi ini diberikan karena kasus-kasus trauma menyebabkan terjadinya perlukaan dan perlukaan yang terjadi dapat menimbulkan Eskoriasi ringan hingga kematian akibat shock (hilangnya cairan tubuh).Luka dan perdarahan itu sendiri dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, sperti ada yang dinamakan perdarahan luar (perdarahan arteri, perdarahan vena, perdarahan kapiler), perdarahan dalam (perut/dada, panggul, paha), luka pada kulit dan jaringan (avulsi: jaringan tubuh robek/terkoyak, luka tusuk: kecil tetapi dalam, abrasi: luka seret / terkikis dan mudah terkena infeksi, Laserasi : luka terkena benda tajam).Dan untuk penanganan luka tersebut, hal yang perlu dilakukan ialah menghentikan perdarahan, menjaga luka agar tetap bersih, mengenali penyebabnya, mencegah infeksi dan menutup luka. Untuk mengontrol perdarahan bisa dilakukan dengan segera menekan perdarahan dan atau meninggikan luka. ’




Untuk mengontrol perdarahan...


Untuk mempertahankan keadaan asepsis dan sebagai penekan untuk menghentikan perdarahan, maka dapat dilakukan pembalutan. Prinsip balutan itu sendiri ialah harus rapih, menutup luka, dipasang tidak terlalu longgar/erat, Bagian distal anggota tubuh hendaknya terbuka, mengunakan simpul yang rata dan tidak atas bagian yang sakit. Dan untuk prinsip balut tekan (Untuk melakukan penekanan lokal terhadap pembuluh darah yang cedera) ialah dengan menggunakan kassa yang digumpalkan sehingga menjadi padat (bulky), dan menekan selama 3-6 menit berdasarkan bleeding time dan clothing time. Biasanya pembalutan luka terdiri dari 3 lapis, lapisan I yang kontak dengan luka, lapisan II sebagai penyerap luka, dan lapisan 3 sebagai lapisan luar, dan hindari penggunaan kapas.Semua luka dalam atau yang dicurigai luka dalam tidak boleh dianggap ringan, perlu diperhatikan tanda & gejalanya (ada perdarahan atau cairan dari telinga, hidung, anus atau muntahan darah segar atau berwarna gelap, Luka memar (biru-hitam) tanda pada kulit khususnya pada dinding perut atau dada, Perut keras dan sulit bernapas), dan diberikan perawatan dengan membaringkan korban, melonggarkan pakaian yang ketat, JANGAN memberikan apapun melalui mulut apabila terjadi penurunan kesadaran, menjaga agar korban tetap hangat, menenangkan korban, melakukan perawatan untuk SHOCK, dan meminta BANTUAN. Dan untuk menghentikan perdarahan dalam di bagian Toraks/abdomen : mungkin operasi, Pelvis :pelvic sling, Tulang panjang : bidai, traksi ringan.Untuk menangani luka yang diakibatkan oleh tertancapnya benda tajam pada bagian tubuh, misalkan dada, hal yg harus dilakukan ialah mengontrol pendarahan dan menstabilisasikan benda tajam yang tertancap, JANGAN DICABUT! Penanganan seperti gambar berikut:



Untuk menghentikan perdarahan dalam di bagian Toraks/abdomen...


Untuk benda tajam yang tertancap pada mata, maka yang harus dilakukan ialah memotong ditengah balutan dengan hati-hati melewati benda dengan teliti, memasang cangkir yang dapat dibuang (disposible cup)/kertas kerucut(paper cone) melewati benda tajam dan istirahatkan pada bantalan balutan. JANGAN perbolehkan untuk menyentuh benda. Melilitkan pembalut pada gelas yang menutupi tempat yang luka. Membalut mata yang tidak luka untuk mengurangi pergerakan mata. Menenangkan korban. Kurang lebih seperti gambar berikut:




benda tajam yang tertancap pada mata...


Dan untuk menangani luka pada perut, maka gunakan penutup luka yang menyumbat perdarahan, dan lindungi penutup luka yang menyumbat untuk mempertahankan kehangatan, seperti gambar berikut:



untuk menangani luka pada perut......


Setelah mempelajari luka, kita pun diberi penjelasan mengenai shock, dimulai dari definisi shock yakni Kegagalan fungsi Kardiovaskuler , sehingga mengakibatkan gangguan perfusi organ & oksigenasi jaringan. Dan untuk prinsip penanganan shock, kita harus tahu akan 3 hal, mengenali shock, mengetahui sebab shock, dan terapi.Shock bisa dikenali dengan ciri-ciri seperti Takikardia, > 100 bpm, Akral dingin, pucat, basah, Kesadaran menurun, gelisah, coma, Takipnea / nafas cepat, Tensi menurun, Produksi urin.

Begitu mungkin kurang lebih hal yang disampaikan mengenai luka & shock,dan belum berhenti sampai disitu ternyata, masih ada materi lain yang disampaikan oleh dr... (yg sya lupa namanya..), yaitu tentang transportasi & evakuasi... (banyak bgt ya materi workshopnya..., tapi gk apa2 lah.., alhamdulillah.., jadinya saya bisa banyak belajar.., dengan demikian sya bisa banyak berbagi juga dengan yang lain..., iya kan??he...)
Hal yang pertama ditanyakan ialah apa perbedaan antara evakuasi dan transportasi?? Menurut saya, evakuasi berarti proses memindahkan seseorang dari tempat bahaya ke tempat yg lebih aman, dan proses berikutnya setelah evakuasi adalah transportasi, yaitu proses membawa pasien dari suatu tempat ke tempat lain untuk dilakukan tindakan tambahan atau definitive. Prinsip2 utama dalam transportasi ialah Do no further harm, Don’t move casualty unless absolutely necessary, Don’t endanger yourself, Explain clearly, Never move alone, and One commands.

do not further harm!!..


Dan disini kita pun diberi penjelasan mengenai beberapa teknik dalam transportasi pasien, yaitu Human crutch, Pick a bag, Drag method, Cradle method, Two handed seat, Fore and aft carry, Carry chair.. (mungkin gk kan saya jelasin satu2.., ntar aja sya praktekin di pelatihan P3K yg bakal diadain sama PKM FK, Ok..??)

Selain penjelasan mengenai transportasi korban, dijelaskan pula mengenai transport bagian tubuh yang putus, yaitu dengan memasukkan potongan tubuh dalam plastik dan meletakkan nya bersama es batu, Jangan menggunakan dry ice, Jangan memasukkan potongan tubuh langsung ke dalam es, Jangan dibungkus dengan kain lembab. Dan jika tidak ada es batu, tutup plastik agar kelembaban alami tidak hilang karena penguapan
Kita pun diberi penjelasan mengenai evakuasi dengan helicopter, dan ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti area pendaratan yg harus dikosongkan 50 m jari-jari dengan titik pusat tempat pendaratan, Semua rokok harus dimatikan, Jangan mendekat atau bergerak mendekati heli, tunggu sampai crew man mendekat. Berkumpul dengan berjongkok pada posisi jam dua dari hidung heli, jangan sekali-kali dibelakang heli. Jika diperintahkan mendekat maka berjalanlah dengan perlahan, rendahkan kepala dan bergerak mendekati dari arah samping. Mengapa ini harus dilakukan secara hati2, karena Heli bergerak tidak dalam keadaan tegak lurus tapi sedikit mendengak. (dari sini saya jadi tau sedikit tentang anatomi helicopter.., he..)

daerah bahaya helikopter...

Dan materi terakhir yang disampaikan di workshop ini (yang dengan setengah sadar saya ikuti.., cz ngantuk bgt.., kecapean kali..) ialah tentang system koordinasi terpadu antara tim tanggap bencana yang disampaikan oleh Bpk Rusdiyanto (Kepala Bidang Linmas Dinas Trantib Provinsi DIY), dibuka dengan sebuah gambar kuda dan katak sebagai bahan ice breaking tetap tdak menghilangkan kantuk saya…

siklus penanganan bencana...


Beliau menjelaskan mulai dari bencana.., tapi yg sya coba fokus perhatikan ialah dari penjelasan konsep penanggulangan bencana sampai selesai.. Dimulai dari Manajemen Penanggulangan Bencana, yang merupakan segala upaya atau kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan berkaitan dengan bencana yang dilakukan sebelum, pada saat dan setelah bencana. Pra Bencana (before) bertujuan supaya MASYARAKAT AGAR SIAP SIAGA ( TO PREPARED) Dengan cara : Dilatih, Diberi Pemahaman, Disiapkan Alat Dan Sarana, Saat Bencana (during) bertujuan supaya MASYARAKAT DAPAT MENOLONG DIRI SENDIRI ( TO HELP THEM SELF ) Dengan cara : Menetapkan Pola Tindakan, Menentukan Prioritas Kebutuhan, dan pasca bencana (after) bertujuan supaya MASYARAKAT MEMPERBAIKI SENDIRI ( TO IMPROVE ) Dengan cara :Mempercepat proses pemulihan. Sehingga dari orientasi intervensi pada saat before, during, dan after bencana tadi menghasilakn community based disaster management. Konsep penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan pendekatan integratif, multi hazards, dan komprehensif.




langkah-langkah tanggap darurat...

Sebelum kita berbicara dari konsep ke operasionalisasi, sebaiknya kita tahu hakikat penanggulangan bencana sebagai Upaya melindungi masyarakat, Tanggung jawab bersama Pemerintah dan masyarakat, Titik berat pada pencegahan, dan Penanggulangan bencana bagian dari pembangunan, sehingga harus ada korelasi yg komprehensif antara pemerintah, stakeholder, perencana & pelaksana pengembangan daerah, dan masyarakat, dalam tahap operasionalisasinya.


prinsip pemberian bantuan kesehatan dalam bencana...



Relief distribusi Aktivitas Pelayanan Sesuai Rencana Operasional : SHELTER / PENAMPUNGAN, WATER SANITASI

Logistik…


Evakuasi…



brainstorming...

Selain mendapatkan materi berupa teori, kita pun diajarkan proses aplikatifnya dalam bentuk simulasi, mulai dari initial assessment sampai transportasi dan evakuasi, mulai dari menggunakan mannequin hingga menggunakan manusia sebagai probandus/korban sebagai ajang simulasi, dengan perlengkapan yg sudah disediakan (mulai dari perban sampai ambulance, dan itu semua benar2 dioperasikan, sayang aja gak ada helikopter.., he...) dan kasus yang telah dibuat untuk menguji kompetensi kita.., cukup merepotkan memang, tapi seru lah.., aplikatif..., setidaknya ketika nanti sya liat kecelakaan di jalan, sya gak cuma diam dan berdoa saja.., tapi ada sesuatu hal yg bisa saya lakukan dari ilmu yg sya dapat disini..., terakhir dari workshop ini adalah kompetisi dari kompetensi yg kita miliki dalam simulasi tanggap bencana..



Anak UI yang ditumbalkan jadi kelinci percobaan..., padahal emang dasar dia nya aja pengen tidur..



Tenda yang digunakan simulasi sebagai rumah sakit sementara (darurat)...

Selain disuguhi dengan materi2 yang sangat lezat, kita pun diberi hidangan penutup berupa film tg bencana, yang isinya terdiri dari semua genre film, mulai dari yg romantis, politik, perpisahan, kepemimpinan, pengorbanan, tanggung jawab, pengabdian pokoknya lengkap dah.., dan film ini yg membuat kita cukup membendung air mata jadinya...(padahal saya termasuk orang yg gak suka nonton loh..), dan disuguhi pula oleh film dokumenter penanggulangan bencana + penanganan medis di suatu daerah (lupa sya namanya...) yg pada saat itu sedang terjadi bencana.., benar2 hidup filmnya, unsensored !! dan disini saya melihat tangan orang digergaji untuk amputasi karena sudah busuk, dengan peralatan dan kondisi seadanya..., banyak cerita lain sebenarnya di film itu.., cukup ngeri ngeliatnya, tapi luar biasa lah..!!!!
Cukup kenyang saya selama 3 hari berturut-turut mengikuti workshop ini, disuguhi dengan hal-hal bergizi, selain dapet ilmu baru, saya pun dapat keluarga baru disini, kini saatnya mengalirkan apa yg sy dapat ke lingkungan saya.., bagaimana caranya?? Salah satunya ialah sya tuangkan ke dalam tulisan yg sangat begitu panjang ini sebagai konsumsi publik melalui blog ini, selanjutnya apa yg sudah saya dapat di workshop ini menjadi bekal dalam mengadakan platihan P3K untuk warga FK kedepannya..., dan tentunya menginisiasi pembentukan crisis center di fakultas saya (karena kebetulan di kampus sya gk ada badan yg bergerak secara khusus di bidang penanggulangan bencana..) jadi bersiap-siaplah untuk teman2 AMP, Tim Medis Asy Syifaa’ dan SCORP dan teman2 FK lainnya untuk bersinergis ke dalam 1 wadah untuk membawa nama FK UNPAD kelak di setiap kontribusinya & lebih terkoordinasi..., semoga itu dapat terwujud...,mungkin di beberapa universitas lain sudah ada yg dinamakan TBMM (tim bantuan medis mahasiswa yg bergerak di bidang penanggulangan bencana..), seperti TBMM FK UGM yg dengan senang hati menerima kunjungan studi komparasi kami yg mendadak..(terima kasih juga data yg diberikannya...), dan yg tak kalah pentingnya ialah saya siap mengaplikasikan ilmu yg sy dapat ini kelak jika ada kondisi yg membutuhkan...,he....
Akhirnya workshop badan kelengkapan ISMKI ditutup dengan penampilan akustik FK UGM 07, tarian... (apa namanya sya lupa..., tari bebek ato apa gitu..., lupa.., he...), wejangan & kata2 dari ktua pelaksana workshop, ada kata2 lebay yg sya inget sampai saat ini, bunyinya kurang lebih seperti ini “Jika bisa saya berikan nyawa ini sebagai ucapan terima kasih.., maka akan saya berikan untuk kalian...,” ada2 saja..., dan masih inget tentang kompetisi simulasi penanggulangan bencana?? Tanpa diindikasikan sebelumnya, kelompok saya jadi juaranya.., lumayan dapet mug munas & mukernas, tapi sayang pecah gara2 tas saya jatuh waktu moving pas mau balik ke bandung dulu.., takdir2....



Akustik FK UGM 2007..., gak kalah kerennya lah sama angkatan saya..., he...^^


Akustik FK UGM 2007..., gak kalah kerennya lah sama angkatan saya..., he...^^


Deret anak2 SSC yang hadir pada saat itu, dan tetap didominasi UGM...



Juara simulasi penanggulangan bencana..., HORE!!!

Secara overall asyik lah.., rame, dan beresensi..., thanks God atas kesempatan yg diberikan...Pasti capek kan baca tulisan sepanjang ini?? (harusnya masuk MURI nih blog dengan artikel terpanjang..., he..), nah untuk merefresh lagi.., saya hadiahkan foto2 segar ini....




Kelompok BK SSC saya....

Waktu coffe break....

sebelum mulai workshop...(dengan peserta dari badan kelengkapan yg lain..)

Kedua anak UI (Cepi & Fakhrie) yg suka ngerepotin sya di workshop.., he..., piss brother...


Peserta & panitia BK SSC yg hadir pas penutupan...



Inilah kami..., semua delegasi seluruh Indonesia yang menghadiri workshop badan kelengkapan ISMKI....