Kamis, 28 Juli 2011

Efek buruk Halothane

Halothane adalah obat anestesi inhalasi berbentuk cairan bening, tak berwarana, mudah menguap dan berbau harum.

Pemberian halothane biasanya dengan oksigen atau nitrous okside 70% serta menggunakan vaporizer yang khusus dikalibrasi agar konsentrasi uap yang dihasilkan akurat dan mudah dikendalikan. Halothane dikemas dalam botol berwarna gelap dan mengandung 0,01 % timol sebagai bahan stabilisasi.



Halothane diperkenalkan pada tahun 1956 hingga 1980-an, diberikan kepada jutaan orang dewasa dan anak-anak di seluruh dunia. Halothane tidak bisa diberikan pada pasien depresi jantung, sebab depresi jantungnya akan bertambah parah dan berakhir gagal jantung atau kematian. Halotan juga tidak bisa diberikan pada pasien rentan terhadap aritmia jantung.

Efek buruk yang dihasilkan Halothane adalah penyekit hepatitis , sindrom hepatitis memiliki angka kematian sebesar 30% sampai 70%. perkiraan hasil dari metabolisme halotan menjadi asam trifluoroacetic melalui reaksi oksidatif dalam hati. Sekitar 20% Halothane yang dihirup akan dimetabolisme oleh hati dan produk-produk tersebut akan dikeluarkan dalam urin.

Kepedulian untuk mencegah hepatitis, menarik perhatian praktisi kesehatan, terutama Anestesiologi, sehingga mereka membatasi penggunaan halothane, penggunaanya diganti pada tahun 1980 dengan enfluran dan isoflurane.

Pada tahun 2005 obat anestesi inhalasi yang paling umum digunakan adalah isoflurane, sevofluran, dan desflurane
Sunber berita

spinal anestesi (2)

Spinal Anestesi pertama kali ditemukan pada tahun 1885 oleh Leonard Corning, seorang ahli saraf di New York. Beliau bereksperimen dengan memasukan kokain pada saraf tulang belakang Anjing, kemudian ia melihat Anjing tersebut kehilangan rasa sakit, meskipun disayat dengan pisau.

Eksperimen awal Leonard Corning, membawa perubahan penting di bidang Kedokteran Anestesi dan sampai saat ini teknik Spinal Anestesi sangat bermamfaat di dunia kesehatan untuk menolong pasien di kamar operasi.

Spinal Anestesi itu Apa?

Spinal Anestesi adalah pembiusan dengan memasukan obat berupa suntikan jarum halus melalui tulang belakang (tulang punggung) sehingga pasien tidak mengalami rasa nyeri ketika di sayat dengan pisau, namun pasien tetap sadar dan bisa bicara dengan petugas dan mengetahui bahwa dia sedang menjalani operasi.


Apa mamfaat Spinal Anestesi bagi dunia kesehatan ?
Teknik Spinal Anestesi sangat berguna pada pasien yang tidak bisa dilakukan pembiusan umum dengan teknik Intubasi endotrakeal, seperti pasien yang mengalami gangguan saluran napas, yaitu asma bronkial, bronkitis alergi dan kelainan anatomi saluran nafas.
( Intubasi endotrakeal adalah salah satu tindakan untuk pembiusan umum)

Jadi dengan adanya teknik Spinal Anestesi, pembiusan tetap dapat dilakukan tanpa pembiusan umum pada pasien yang mengalami gangguan saluran pernafasan.

Apa Tujuan Spinal Anestesi ?

Spinal Anestesi bertujuan untuk menghilangkan rasa nyeri pada daerah pinggang atas sampai ujung jari kaki, jika diberi perlakuan atau rangsangan nyeri, pasien tidak akan merasakan sakit, sebab persyarafan sebagai pengantar rasa sakit telah diblok dengan obat bius pada daerah punggung.

Kasus apa saja yang bisa di lakukan Spinal Anestesi?

Spinal Anestesi dapat dilakukan pada tindakan Sectio Caesaria, pasien dengan Hernia, pasien yang akan di operasi dengan patah tulang kaki dan Amputasi anggota gerak bawah.

Apa saja efek negatif atau Komplikasi dari Spinal Anestesi?
Dapat secara luas diklasifikasikan sebagai berikut, yaitu Komplikasi langsung (di meja operasi), seperti terjadinya Shock Spinal, Cauda equina cedera, pendarahan, hematoma dan jarum patah saat melakukan penusukan.

Kemudian komplikasi tidak langsung (di unit perawatan pasca operasi), yaitu berlangsung dalam waktu enam jam setelah Anestesi Spinal, dimana pasien akan mengalami sakit kepala dan sakit tulang belakang.

Terakhir, Komplikasi lanjut, yaitu terjadinya Infeksi, seperti meningitis.
Sumber berita

Spinal Anestesi

SubArachnoid Blok merupakan salah satu teknik anestesi regional dengan cara penyuntikan obat anestesi local ke dalam ruang subarahnoid dengan tujuan untuk mendapatkan analgesi setinggi dermatom tertentu dan relaksasi otot rangka


ANATOMI
• Kolumna vertebralis terdiri dari 7 vertebra servikalis, 12 V thorakalis, 5 V lumbal, 5 V sacral dan 4 V coccygeus
Disatukan oleh ligamentum vertebralis membentuk kanalis spinalis dimana medulla spinalis terdapat didalamnya
• Kanalis spinalis terisi oleh medulla spinalis dan pembungkusnya (meningen), jaringan lemak, dan pleksus venosus
• Sebagian besar vertebra memiliki corpus vertebra, 2 pedikel dan 2 lamina
• Kolumna vertebralis bila dilihat dari lateral berbentuk seperti kurva, pada posisi supine titik tertinggi terletak pada V C5 dan V L4-5 sedangkan terendah pada V Th5 dan V S2

Kolumna vertebralis dibagi menjadi tiga bagian
1. Kolumna vertebralis anterior, dibentuk oleh
• Ligamentum longitudinalis anterior
• Annulus fibrosus discus intervertebralis anterior
• Corpus vertebralis bagian anterior
2. Kolumna vertebralis media, dibentuk oleh
• Ligamentum longitudinalis posterior
• Anulus fibrosus discus intervertebralis posterior
• Corpus vertebralis bagian media
3. Kolumna vertebralis posterior, dibentuk oleh
• Arcus posterior
• Ligamentum supraspinosum (ligamentum nuchae pada vertebra servikalis)
• Ligamentum interspinosum
• Ligamentum flavum


 Untuk menjaga dan mempertahankan medulla spinalis seluruh vertebra dilapisi oleh beberapa ligamentum
 Tiga ligamentum yang akan dilalui pada prosedur spinal anestesi teknik midline adalah ligamentuim supraspinosum, ligamentum interspinosum dan ligamentum flavum
 Ligamentum interspinosum bersifat elastis, pada L3-4, panjangnya sekitar 6 mm dan pada posisi fleksi maksimal menjadi 12 mm
 Ligamentum flavum merupakan ligamentum terkuat dan tebal, diservikal tebalnya sekitar 1,5-3 mm, thorakal 3-6 mm sedangkan daerah lumbal sekitar5-6 mm
 Medulla spinalis dibungkus oleh tiga jaringan ikat yaitu durameter, arakhnoid, dan piameter yang membentuk tiga ruangan yaitu ; ruang epidural, sudural dan subarakhnoid
 Ruang subarakhnoid adalah ruang yang terletak antara arakhnoid dan piameter
 Ruang subarakhnoid terdiri dari trabekel, saraf spinalis, dan cairan serebrospinal
 Ruang subdural merupakan suatu ruangan yang batasnya tidak jelas, yaitu ruangan potensial yang terletak antara dura dan membrane arakhnoid
 Ruang epidural didefinisikan sebagai ruangan potensial yang dibatasi oleh durameter dan ligamentum flavum
 Medulla spinalis secara normal hanya sampai level vertebra L1 atau L2 pada orang dewasa. Pada anak-anak medulla spinalis berakhir pada lvel L3
 Dibawah level ini elemen saraf berupa akar-akar saraf yang keluar dari conus medularis yang sering disebut dengan cauda equine terendam dalam cairan serebrospinal
 Spinal anestesi biasanya diinjeksikan pada level yang lebih rendah dari L2 untuk menghindari trauma pada medulla spinalis
 Pada level dibawah L2 serabut saraf lebih mobile, melayang-layang sehingga terhindar dari trauma jarum spinal
 Sacus dura, ruang subarakhnoid dan subdural biasanya mencapai S2 pada dewasa dan sering sampai S3 pada anak-anak


Blood Suply
• Medulla spinalis mendapat suplai darah dari A. vertebral, a. servikal, a. interkostal dan a. lumbal
• Cabang spinal ini terbagi ke dalam a. radikularis posterior dan anterior yang berjalan sepanjang saraf menjangkau medulla dan membentuk pleksus arteri di dalam piameter


Spinal Nervus
• Saraf spinalis ada 31 pasang yaitu 8 servikal, 12 thorakal, 5 lumbal, 5 sakral dan 1 koksigeal
• Pada spinal anestesi, paralysis motorik mempengaruhi gerakan bermacam sendi dan otot
• Persarafan segmental ini digambarkan sebagai berikut :
a. Bahu C6-8
b. Siku C5-8
c. Pergelangan tangan C6-7
d. Tangan dan jari C7-8, T1
e. Interkostal T1-11
f. Diafragma C3-5
g. Abdominal T7-12
h. Pinggul, pangkal paha fleksi L1-3
i. Pinggul, pangkal paha ekstensi L5, S1
j. Lutut fleksi L5, S1
k. Lutut ekstensi L3-4
l. Pergelangan kaki fleksi L4-5
m. Pergelangan kaki ekstensi S1-2
Sistem saraf otonom
1. System saraf simpatis
 Mesrabut saraf pregamglion meninggalkan medulla spinalis melalui radiks saraf ventralis T1-L2
 Pada bagian servikal kumpulan ganglia ini menyusun ganglia servikalis superior, media dan stellat ganglia
 Pada thorak, rangkaian simpatis ini membentuk saraf splanknikus yang menembus diafragma untuk mencapai ganglia dalam pleksus koeliak dan pleksus oartikorenal
 Didalam abdomen rangkaian simpatis ini berhubunagn dengan pleksus koeliak, pleksus aorta dan pleksus hypogastrik. Rangkaian ini berakhir dipelvis pada permukaan anterior sacrum
 Serabut-serabut saraf post ganglionik yang tidak bermielin terdistribusi luas pada seluruh organ yang menerima suplai saraf simpatis
 Daerah viscera menerima serabut postganglionic sebagian besar langsubg melalui cabang yang meninggalkan pleksus-pleksus besar
 Distribusi segmental saraf simpatis visceral :
a. Kepala, leher dan anggota badan atas T1-5
b. Jantung T1-5
c. Paru-paru T2-4
d. Oesofagus T5-6
e. Lambung T6-10
f. Usus halus T9-10
g. Usus besar T11-12
h. Kandung empedu dan hati T7-9
i. Pankreas dan lein T6-10
j. Ginjal dan uereter T10-12
k. Kelenjar adrenal T8-L1
l. Testis dan ovarium T10-L1
m. Kandung kemih T11-L2
n. Prostate T11-L1
o. Uterus T10-L1
2. System saraf parasimpatis
 Saraf eferen dan aferen dari system saraf simpatis berjalan melalui nervus intracranial dan nervus sakralis ke 2,3,4
 Nervus vagus merupakan saraf cranial paling penting yang membawa saraf eferen parasimpatis
 Mereka dirangsanga dengan sensasi seperti lapar, mual, distensi vesika, kontraksi uterus. Berbagai macam nyeri disalurkan melalui saraf ini seperti kolik atau nyeri melahirkan
 Nervus vagus menginervasi jantung, paru, esophagus dan traktus gastrointestinal bagian bawah sampai ke kolon tranversum. Saraf simpatis sacral bersama saraf simpatis didistribusikan pada usus bagian bawah kolon transversum, vesika urinaria, spincter dan organ reproduksi


Blokade somatic
 Dengan menghambat transmisi impuls nyeri dan menghilangkan tonus otot rangka
 Blok sensoris mengkambat stimulus nyeri somatic atau visceral sementara blok motorik menyebabkan relaksasi otot
 Efek enstetik local pada serabut asaraf bervariasi tergantung dari ukuran serabut saraf tersebut dan apakah serabut tersebut bermielin atau tidak serta konsentrasi obat dan lamanya kontak


Blokade Otonom
 Hambatan pada serabut eferen transmisi ototnom pada akar saraf spinal menimbulkan blockade simpatis dan beberapa blok parasimpatis
 Simpatis outflow berasal dari segmen thorakolumbal sedangkan parasimpatis dari craniosacral
 Serabut saraf simpatis preganglion terdapat dari T1 sampai L2 sedangkan serabut parasimpatis preganglion keluar dari medulla spinalis melalui serabut cranial dan sacral
 Perlu diperhatikan bahwa blok subarachnoid tidak memblok serabut saraf vagal. Selian itu blok simpatis mengakibatkan ketidakseimbangan otonom dimana parasimpatis menjadi lebih dominant
 Beberapa laporan menyebutkan bahwa bias terjadi aritmia sampai cardiac arrest selama anestesi spinal. Hal ini terjadi karena vagotonia yaitu peningkatan tonus parasimpatis nervus vagus


Cerebrospinal Fluid
 Serabut saraf maupun medulla spinalis terendam dalam LCS yang merupakan hasil ulktrafiltrasi dari darah dan diekskresi oleh pleksusu choroideus pada ventrikel lateral, ventrikel III dan ventrikel IV
 Produksinya konstan rata-rata 500 ml/hari tetapi sebanding dengan absorpsinya
 Volume total LCS sekitar 130-150 ml, terdiri dari 60-75 ml di ventrikewl, 35-40 ml sebagai cadangan otak dan 25-30 ml di ruang subarakhnoid


Mekanisme Nyeri
 Tujuan utama pada SAB adalah bebas nyeri dengan cara memblok penjalaran impuls nyeri pada tingkat transmisi sehingga tidak terjadi persepsi nyeri di otak
 Nyeri timbul sebagai akibat serangkaian peristiwa yang terjadi di nosiseptor atau diserabut saraf perifer atau sentral
 Nyeri dapat ditimbulkan karena danya stimulus baaik itu fisik, thermal, atau kimia
 Perjalanan nyeri atau nosisepsi terdiri dari 4 elemen yaitu :
1. tranduksi
2. tranmisi
3. modulasi
4. persepsi
Efek terhadap kardiovaskuler
 tonus vasomotor dipengaruhi oleh serabut simpatis dari T5 sampai L1 yang mensarafi otot polos arteri dan vena
 penurunan tekanan darah, penurunan detak jantung dan konstraktilitas jantung
 efek ini proporsional dengan derajat simpatektomi
 efek kardiovaskuler dari neuroaxial blok ini mirip dengan efek yang dihasilkan dari kombinasi alfa 1 bloker dan beta bloker dimana detak jantung dan tekanan darah turun
 efek dari vasodilatasi arterial dapat diminimalisasi oleh kompensasi vasokonstriksi diatas level dari blok
 efek kardiovaskuler yang merugikan ini dapat diantisipasi dengan memberikan loading cairan kristaloid 10-12 ml/KgBB
 vasopresor efedrin yang memiliki efek langsung beta adrenergic dapat diberikan untuk meningkatkan denyut jantung, kontraktilitas serta efek tidak langsung dengan menyebabkan vasokonstriksi

KOMPLIKASI SPINAL ANESTESI
Komplikasi dini
1. hipotensi
2. blok spinal tinggi /total
3. mual dan muntah
4. penurunan panas tubuh

Komplikasi lanjut
1. Post dural Puncture Headache (PDPH)
2. nyeri punggung (Backache)
3. cauda equine sindrom
4. meningitis
5. retensi urine
6. spinal hematom
7. kehilangan penglihatan pasca operasi


HIPOTENSI
 paling sering terjadi dengan derajat bervariasi dan bersifat individual
 mungkin akan lebih berta pada pasien dengan hipovolemia
 biasanya terjadi pada menit ke 20 setelah injeksi obat local anestesi
 derajat hipotensi berhubungan dengan kecepatan masuknya obat local anestesi ke dalam ruang sub arakhnoid dan meluasnya blok simpatis

Hipovolemia
 dapat menyebabkan depresi serius system kardiovaskuler selama spinal anestesi karena pada hipovolemia tekanan darah dipelihara dengan peningkatan simpatis yang menyebabkan vasokonstriksi perifer
 merupakan kontraindikasi relative anestesi spinal, tetapi jika normovolemi dapat dicapai dengan penggantian volume cairan maka spinal anestesi bias dikerjakan


Pasien hamil
 sensitive terhadap blockade simpatis dan hipotensi, hal ini karena obstruksi mekanis venous return sehingga pasien hamil harus ditempatkan pada posisi miring lateral segere setelah spinal anestesi untuk mencegah kompresi vena cava


Pasien tua
Dengan hipovolemi dan iskemi jantung lebih sering terjadi hipotensi disbanding dengan pasien muda


Pencegahan
 pemberian cairan RL 500-1000 ml secara intravena sebelum anestesi spinal dapat menurunkan insidensi hipotensi atau preloading dengan 1-5 L cairan elektrolit atau koloid digunakan secara luas untuk mencegah hipotensi


Terapi
 autotransfusi dengan posisi head down dapat menambah kecepatan pemberian preload
 bradikardi yang berat dapat diberikan antikolinergik
 jika hipotensi tetap terjadi setelah pemberian cairan, maka vasopresor langsung atau tidak langsung dapat diberikan seperti efedrin dengan dosis 5-10 mg bolus iv
 efedrin merupakan vasopresor tidak langsung, meningkatkan kontraksi otot jantung (efek sentral) dan vasokonstriktor (efek perifer)


Blokade total spinal
 total spinal : blockade medulla spinalis smapai ke servikal oleh suatu obat local anestesi
 factor pencetus : pasien menghejan, dosis obat local anestesi yang digunakan, posisi pasien terutama bila menggunakan obat hiperbarik
 sesak napas dan sukar bernapas merupakan gejala utama dari blok spinal tinggi
 sering disertai mual,muntah, precordial discomfort dan gelisah
 apabila blok semakin tinggi penderita menjadi apnea, kesadaran menurun disertai hipotensi yang berat dan jika tidak ditolong akan terjadi henti jantung

Penanganan
 usahakan jalan napas tetap bebas, kadang diperlukan bantuan napas lewat face mask
 jika depresi pernapasan makin beratperlu segera dilakukan intubasi endotrakeal dan control ventilasi untuk menjamin oksigenasi yang adekuat
 bantuan sirkulasi dengan dekompresi jantung luar diperlukan bila terjadi henti jantung
 pemberian cairan kristaloid 10-20 ml/kgBB diperlukan untuk mencegah hipotensi
 jika hipotensi tetap terjadi atau jika pemberian cairan yang agresif harus dihindari maka pemberian vasopresor merupakan pilihan seperti adrenalin dan sulfas atropin


Mual Muntah, terjadi karena
 hiotensi
 adanya aktifitas parasimpatis yang menyebabkan peningkatan peristalyik usus
 tarikan nervus dan pleksus khususnya N vagus
 adanya empedu dalam lambungoleh karena relaksasi pylorus dan spincter ductus biliaris
 factor psikologis
 hipoksia

Penanganan
 untuk menangani hipotensi : loading cairan 10-20 ml?kgBB kristaloid atau
 pemberian bolus efedrin 5-10 mg iv
 oksigenasi yang adekuat untuk mengatasi hipoksia
 dapat juga diberikan anti emetik


Shivering (penurunan panas tubuh)
 sekresi katekolamin ditekan sehingga produksi panas oleh metabolisme berkurang
 vasodilatasi pada anggota tubuh bawah merupakan predisposisi terjadinya hipotermi

Penanganan
Pemberian suhu panas dari luar dengan alat pemanas



PDPH
 disebabkan adanya kebocoran LCS akibat tindakan penusukan jaringan spinal yang menyebabkan penurunan tekanan LCS
 akibatnya terjadi ketidakseimbangan pada volume LCS dimana penurunan volume LCS melebihi kecepatan produksi
 LCS diproduksi oleh pleksus choroideus yang terdapat dalam system ventrikel sebanyak 20 ml per jam
 Kondisi ini akan menyebabkan tarikan pada struktur intracranial yang sangat peka terhadap nyeri yaitu pembuiluh darah, saraf, falk serebri dan meningen dimana nyeri akan timbul setelah kehilangan LCS sekitar 20 ml
 Nyeri akan meningkat pada posisi tegak dan akan berkurang bila berbaring, hal ini disebabkan pada saat berdiri LCS dari otak mengalir ke bawah dan saat berbaring LCS mengalir kembali ke rongga tengkorak dan akan melindungi otak sehingga nyeri berkurang

PDPH ditandai dengan
 Nyeri kepala yang hebat
 Pandangan kabur dan diplopia
 Mual dan muntah
 Penurunan tekanan darah
 Onset terjadinya adalah 12-48 jam setelah prosedur spinal anestesi

Pencegahan dan Penanganan
 Hidrasi dengan cairan yang kuat
 Gunakan jarum sekecil mungkin (dianjurkan < 24) dan menggunakan jarum non cutting pencil point
 Hindari penusukan jarum yang berulang-ulang
 Tusukan jarum dengan bevel sejajar serabut longitudinal durameter
 Mobilisasi seawall mungkin
 Gunakan pendekatan paramedian
 Jika nyeri kepala tidak berat dan tidak mengganggu aktivitas maka hanya diperlukan terapi konservatif yaitu bedrest dengan posisi supine, pemberian cairan intravena maupun oral, oksigenasi adekuat
 Pemberian sedasi atau analgesi yang meliputi pemberian kafein 300 mg peroral atau kafein benzoate 500 mg iv atau im, asetaminofen atau NSAID
 Hidrasi dan pemberian kafein membantu menstimulasi pembenntukan LCS
 Jika neyri kepala menghebat dilakukan prosedur khusus Epidural Blood Patch
a. Baringkan pasien seperti prosedur epidural
b. Ambil darah vena antecubiti 10-15 ml
c. Dilakukan pungsi epidural kemudian masukan darah secara pelan-pelan
d. Pasien diposisikan supine selama 1 jam kemudian boleh melakukan gerakan dan mobilisasi
e. Selama prosedur pasien tidak boleh batuk dan menghejan


Nyeri punggung
 Tusukan jarum yang mengenaikulit, otot dan ligamentum dapat menyebabkan nyeri punggung
 Nyeri ini tidak berbeda dengan nyeri yang menyertai anestesi umum, biasnya bersifat ringan sehingga analgetik post operatif biasanya bias menutup nyeri ini.
 Relaksasi otot yang berlebih pada posisi litotomi dapat menyebabkan ketegangan ligamentum lumbal selama spinal anestesi
 Rasa sakit punggung setelah spinal anestesi sering terjadi tiba-tiba dan sembuh dengan sendirinya setelah 48 jam atau dengan terapi konservatif
 Adakalanya spasme otot paraspinosusmenjadi penyebab

Penanganan
Dapat diberikan penanganan dengan istirahat, psikologis, kompres panas pada daerah nyeri dan analgetik antiinflamasi yang diberikan dengan benzodiazepine akan sangat berguna

Cauda Equina Sindrom
 Terjadi ketika cauda equine terluka atau tertekan
 Tanda-tanda meliputi
 Penyebab adalah traum adan toksisitas. Ketika terjadi injeksi yang traumatic intraneural, diasumsikan bahwa obat yang diinjeksikan telah memasuki LCS, bahan-bahan ini bias menjadi kontaminan sepeti deterjen atau antiseptic atau bahan pengawet yang berlebihan


Penanganan
Penggunaan obat anestesi local yang tidak neurotoksik terhadap cauda equine merupakan salah satu pencegahan terhadap sindroma tersebut selain menghindari trauma pada cauda equine waktu melakukan penusukan jarum spinal
Retensi urin
 Blockade sentral menyebbkan atonia vesika urinaria sehinggga volume urine di vesika urinaria jadi banyak
 Blockade simpatis eferen (T5-L1)menyebabkan kenaikan tonus sfingter yang menghasilkan retensi urin
 Spinal anestesi menurunkan 5 -10% filtrasi glomerulus, perubahan ini sangat tampak pada pasien hipovolemia
 Retensi post spinal anestesi mungkin secara moderat diperpanjang karena S@ dan S3 berisi serabut-serabut ototnomik kecil dan paralisisnya lebih lama daripada serabut-serabut yang lebih besar


Meningitis
 Munculnya bakteri pada ruang subarakhnoid tidak mungkin terjadi jika penanganan klinis dilakukan dengan baik
 Meningitis aseptic mungkin berhubungan dengan injeksi iritan kimiawi dan telah dideskripsikan tetapi jarang terjadi dengan peralatan sekali pakai dan jumlah larutan anestesi murni local yang memadai

Pencegahan
 Dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat dan obat-obatan yang betul-betul steril
 Menggunakan jarum spional sekali pakai
 Pengobatan dengan pemberian antibiotika yang spesifik


Spinal hematom
 Meski angka kejadiannnya kecil, spinal hematom merupakan bahaya besar bagi klinis karena sering tidak mengetahui sampai terjadi kelainan neurologist yang membahayakan
 Terjadi akibat trauma jarum spinal pada pembuluh darah di medulla spinali
 Dapat secara spontan atau ada hubungannnya dengan kelainan neoplastik
 Hematom yang berkembang di kanalis spinalis dapat menyebabkan penekanan medulla spinalis yang menyebabkan iskemik neurologist dan paraplegi
 Tanda dan gejala tergantung pada level yang terkena, umumnya meliputi :
1. mati rasa
2. kelemahan otot
3. kelainan BAB
4. kellainan sfingter kandung kemih
5. sakit pinggang yang berat
 Factor resiko : abnormalitas medulla spinalis, kerusakan hemostasis, kateter spinal yang tidak tepat posisinya, kelainan vesikuler, penusukan berulang-ulang
 Apabila ada kecurigaan maka pemeriksaan MRI, myelografi harus segera dilakukan dan dikonsultasikan ke ahli saraf
 Banyak perbaikan neurologist pada pasien spinal hematomyang segera mendapatkan dekompresi pembedahan (laminektomi) dalam waktu 8-12 jam
Kehilangan penglihatan pasca operasi
 Neuropati optic iskemik anterior (NOIA)
Penyebabnya karena proses infark pada watershed zone diantara daerah yang mendapat distribusi darah dari cabang kecil arteri sailiaris posterior brefis dalam koric kapiler
 Neuropati optic iskemik posterior (NOIP)
Penyebabnya gangguan suplai oksigen pada posterior dari n. optikus diantara foramen optikumpada apeks orbita dan pada tempat masuknya arteri retina sentralis dimana n. optikus sangat rentan terhadap iskemi
 Buta kortikal
Terjadi karena emboli atau proses obstruksi yang berlangsung lambat, hipotensi berat, antijantung yang akan berakibat infark pada watershed zone parietal dan oksipital
 Oklusi arteri sentralis (CRAO)
Sering disebabkan oleh emboli yang terbentuk dan plak aterosklerotik yang berulserasi pada arteri karotis ipsilateral
 Obstruksi vena optalmika sentralis (CRVO)
Dapat terjadi pada intraoperatif jika posisi pasien akan menyebabkan penekanan pada bagian luar mata

Pencegahan
 Mencegah penekanan pada bola mata selama intaroperatif
 Meminimalkan terjadinya mikro dan makro emboli selama cardiopulmonary bypass
 Mempertahankan nilai hematokrit pada batas normal
 Menjaga tekanan darah agar stabil

SPINAL ANESTESI PADA HISTEREKTOMI

Abstrak :
Analgesia atau anestesia regional adalah tindakan analgesia yang dilakukan dengan cara menyuntikkan obat anestetika lokal pada lokasi serat saraf yang menginervasi regio tertentu, yang menyebabkan hambatan konduksi impuls aferen yang bersifat temporer. Jenis analgesia regional yang digunakan dalam kasus ini adalah spinal anestesi. Hal ini disebabkan adanya pertimbangan bahwa operasi yang akan dilakukan berada pada bagian abdominal bawah yang sesuai dengan indikasi dari spinal anestesi. Keuntungan dari penggunan regional anestesi yaitu biaya relatif lebih murah, relatif aman bagi pasien, tidak ada komplikasi jalan nafas dan respirasi, tidak terdapat polusi kamar operasi oleh gas anestesi dan perawatan post operasi lebih ringan.
Pada kasus ini, penggunaan regional anestesi dengan spinal anestesi dapat diterapkan karena tidak ditemukan adanya kontraindikasi penggunaan teknik anestesi tersebut


History :
            Seorang wanita usia 45 tahun datang ke IGD RSUD Setjonegoro Wonosobo dengan keluhan timbul benjolan diperut sejak 1 tahun yll, pasien mengatakan mula-mula benjolan kecil, namun sekitar 1 bulan yang lalu benjolan membesar kira-kira sebesar kepalan tangan orang dewasa. Selain itu pasien juga mengalami perdarahan sejak 1 minggu SMRS, darah yang keluar banyak, berwarna hitam dan juga prongkol-prongkol. Pasien juga mengeluh perut terasa sakit, namun tidak pusing, mual maupun muntah. Pasien pernah berobat si Sp. OG dan dinyatakan bahwa pasien menderita Mioma Uteri. Makan dan minum terakhir pukul 23.00 WIB (semalam sebelum operasi). Riwayat penyakit asma, hipertensi, kencing manis, penyakit jantung, alergi obat disangkal. Belum pernah mengalami operasi sebelumnya. Pasien juga bukan seorang perokok, pasien tidak memakai gigi palsu. Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai keluhan dan penyakit serupa dengan pasien. Riwayat penyakit asma, jantung, hipertensi, DM pada keluarga disangkal.
            Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sedang dengan kesadaran compos mentis, tekanan darah 120/80 mmHg,  nadi 80 x/menit, respirasi rate 20 x/menit, suhu 36,7 oC. Pada pemeriksaan abdomen terlihat gambaran massa sebesar kepalan tangan orang dewasa setinggi pusat. Auskultasi :  peristaltik (+) normal, Perkusi:  timpani (+), redup (+) pada daerah massa. Palpasi : supel, nyeri tekan (-), teraba massa, keras,  batas tegas, permukaan halus, mobile, nyeri tekan (-), batas atas setinggi pusat, batas kanan pada linea mid clavicularis kanan, batas kiri pada linea midclavicularis kiri, batas bawah kesan masuk panggul. Dari pemeriksaan laboratorium diketahui Hb 10,4 g/dl setelah diberikan transfusi PRC 5 kolf dari Hb sebelumnya 5,3g/dl, hasil laboratorium lain dalam batas normal.

Diagnosis kerja :
Mioma Uteri pro histerektomi dengan regional anestesi ASA I

Pengananan anestesi :
Premedikasi : Ondancentron HCL 4 mg intravena, Ketorolac tromethamine 30 mg intravena.
Induksi anestesi : Dilakukan spinal anestesi dengan menggunakan jarum spinal no.27 pada kanalis spinalis region antara lumbal 2-3, setelah LCS tampak keluar melalui jarum (LCS jernih) maka disuntikkan Bupivakain 20 mg ditambah clonidin 75 mcg, lalu jarum dicabut, luka ditutup menggunakan kassa yang diberi betadine kemudian diplester. Setelah pasien tidak memberikan respon (terutama sensorik), maka histerektomi dapat dilakukan.
Maintenance : O2 3 liter/menit, midazolam 2 mg intravena, Efedrin HCL 20 mg intravena, dibagi dalam dua dosis pemberian masing-masing 10 mg
Recovery room
Pindah bangsal rawat inap.

Diskusi :
            Pada kasus ini, pasien mengeluh terdapat benjolan pada perutnya sejak 1 tahun yang lalu yang semakin lama semakin membesar. Oleh dokter spesialis kandungan didiagnosis sebagai mioma uteri dan direncanakan untuk dilakukan histerektomi. Pasien mendapatkan tindakan regional anestesi dengan spinal anestesi untuk operasinya.
            Pada anestesi regional terjadi hambatan impuls nyeri suatu bagian tubuh sementara pada impuls saraf sensorik, sehingga impuls nyeri dari suatu bagian tubuh diblokir untuk sementara. Fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau seluruhnya, namun pasien tetap sadar.
            Indikasi penggunaan regional anestesi dengan spinal anestesi antara lain :    bedah ekstremitas bawah, bedah panggul, tindakan sekitar rektum-perineum, bedah obstetri dan ginekologi, bedah urologi, dan bedah abdomen baeah.
            Kontra indikasi regional anestesi dengan spinal anestesi yaitu terdapat kontraindikasi relatif dankontraindikasi absolut. Kontra indikasi absolut antara lain : pasien menolak untuk dilakukan anestesi spinal, terdapat infeksi pada tempat suntikan, hipovolemi berat sampai syok, menderita koagulopati dan sedang mendapat terapi antikoagulan, tekanan intrakranial meningkat, fasilitas untuk melakukan resusitasi minim dan kurang berpengalaman atau tanpa konsultan anestesi. Sedangkan kontra indikasi relatif dari spinal anestesi adalah : menderita infeksi sistemik (septik, bakteremi), terdapat infeksi disekitar suntikan, kelainan neurologis, kelainan psikis, bedah lama, menderita penyakit jantung,hipovolemia, dan nyeri punggung kronis.
            Keuntungan anestesi spinal dibandingkan anestesi epidural antara lain : obat anastesi lokal lebih sedikit, onset lebih singkat, level anestesi lebih pasti dan teknik lebih mudah. Sedangkan keuntungan dari anestesi regional antara lain : alat minim dan teknik relatif sederhana sehingga biaya relatif murah, relatif aman untuk pasien yang tidak puasa (operasi emergency, lambung penuh) karena penderita sadar, tidak ada komplikasi jalan nafas dan respirasi, tidak ada polusi kamar operasi oleh gas anestesi dan perawatan post operasi lebih ringan.
            Sedangkan kerugian dari anestesi regional antara lain : tidak semua penderita mau dilakukan anestesi secara regional, membutuhkan kerjasama pasien yang kooperatif, sulit diterapkan pada anak-anak, tidak semua ahli bedah menyukai anestesi regional dan terdapat kemungkinan kegagalan pada teknik anestesi regional.
            Pada kasus ini, pasien adalah seorang wanita berumur 45 tahun yang didiagnosis dengan Mioma Uteri dan akan dilakukan tindakan Histerektomi. Jenis anestesi yang digunakan adalah regional anestesi dengan spinal anestesi. Pemilihan teknik anestesi ini, dengan pertimbangan segi-segi keamanan dan kenyamanan pasien. Selain itu juga pemilihan teknik anestesi ini juga berdasarkan pada faktor-faktor seperti usia, status fisik, jenis dan lokasi operasi, keterampilan ahli bedah, keterampilan ahli anestesi dan keinginan pasien. Teknik spinal anestesi ini dipilih sesuai indikasi yaitu bedah abdomen bawah serta tidak ada kontra indikasi baik absolut maupun relatif. Prosedur tindakan anestesi regional ini sudah dilakukan dengan tepat. Setelah tindakan anestesi selesai, pada pemeriksaan tidak ditemukan adakan komplikasi dari tindakan anestesi.

Kesimpulan :
Pemilihan jenis anestesi pada kasus ini sudah tepat, hal ini didasarkan oleh tidak terdapatnya kontra indikasi pada penggunaan teknik tersebut pada pasien tersebut. Selain itu penggunaan regional anestesi juga mempunyai banyak keuntungan seperti biaya relatif lebih murah, relatif aman bagi pasien, tidak ada komplikasi jalan nafas dan respirasi, tidak terdapat polusi kamar operasi oleh gas anestesi dan perawatan post operasi lebih ringan.

Referensi :

1.       Desai,Arjun M.2010. Anestesi. Stanford University School of Medicine. Diakses dari: http://emedicine.medcape.com
2.       Latief, Said A, Kartini A. Suryadi dan M. Ruswan Dachlan. 2001. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-UI: Jakarta.
3.       Muhiman. M, Thaib. R, Sunatrio. S, Dahlan. R. 1989. Anestesiologi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta
4.       Mangku. G, Senapati. T.G.A. 2000.  Buku Ajar Ilmu Dasar Anestesi dan Reanimasi. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana : Denpasar


Penulis
Indhah Puspita Wardhani, Bagian Ilmu Anestesiologi dan Reanimasi, RSUD Setjonegoro Wonosobo, Jawa Tengah
Sumber berita 

Rabu, 27 Juli 2011

GENERAL ANESTESI DENGAN TOTAL INTRAVENA ANESTESI (TIVA) PADA PASIEN DENGAN CA MAMMAE RESIDIF

 ABSTRAK


TIVA (Total Intravenous Anesthesia) merupakan salah satu jenis anestesi umum yang meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversible. Anestetik intravena selain untuk induksi juga dapat digunakan untuk rumatan anestesia,  tambahan   pada   analgesia   regional   atau   untuk   membantu   prosedur diagnostik  misalnya thiopental, ketamin, dan propofol. Seorang wanita 42 tahun dengan diagnosis tumor payudara sinistra curiga ganas pro biopsy  dengan status ASA I dilakukan biopsy eksisi benjolan payudara sinistra dengan general anestesi intravena, intermitten balance, tanpa intubasi, napas spontan dengan bantuan kanul oksigen.


KASUS
Wanita 42 tahun mengeluh adanya benjolan sebesar kelereng Ø 2 cm tunggal didaerah payudara sinistra, lokasi di kuadran kiri atas, dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu, awalnya kecil makin lama makin membesar, benjolan padat, terfiksir, tidak nyeri dan tidak dipengaruhi oleh siklus menstruasi, riwayat benjolan serupa dipayudara sinistra ± 2 tahun yang lalu dengan hasil PA Ca mammae dan telah dilakukan radical mastektomi mammae sinistra dengan anestesi GA, riwayat asma (-), alergi makanan (-), obat (-), hipertensi (-), penyakit jantung (-), DM (-)
Pada pemeriksaan fisik kesadaran umum baik, CM, tekanan darah 120/90 mmHg, HR 85x/menit, RR 22x/menit, kepala CA (-/-), SI (-/-), tidak menggunakan gigi palsu, torak dan abdomen dalam batas normal, ekstremitas hangat, edema (-/-). Hasil pemeriksaan darah rutin, CT, BT, EKG dalam batas normal.

DIAGNOSIS
TUMOR PAYUDARA SINISTRA CURIGA GANAS PRO BIOPSI EKSISI STATUS ASA I



PENATALAKSANAAN


Pada pasien dilakukan biopsy eksisi benjolan payudara sinistra dengan general anestesi intravena, intermitten balance, tanpa intubasi, napas spontan dengan bantuan kanul oksigen. Pasien diberi premedikasi SA (Sulfas Atropin) 0,25mg dan Sedacum (midazolam) 1mg. Induksi dengan ketamin 50mg IV. Maintenance dengan O2 3 L/menit, ketamin 25mg IV, sedacum 1mg. Intruksi post operasi yaitu pemberian O2 2L/menit, awasi KU(Keadaan Umum) dan TTV (Tanda-tanda vital) tiap 15 menit, Injeksi ketorolac 30mg tiap 8-12 jam, pasien dapat  makan minum bila telah sadar penuh.

DISKUSI
TIVA (Total Intravenous Anesthesia) merupakan salah satu jenis anestesi umum yang meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversible. Anestetik intravena selain untuk induksi juga dapat digunakan untuk rumatan anestesi tambahan pada analgesia atau   untuk   membantu   prosedur diagnostic misalnya thiopental, ketamin, dan propofol. TIVA digunakan buat mencapai 4 komponen penting dalam anestesi yang menurut Woodbridge (1957) yaitu blok mental, refleks, sensoris dan motorik. Atau trias A (3 A) dalam anestesi yaitu  Amnesia, Arefleksia otonomik, Analgesik, relaksasi otot. Jika keempat komponen tadi perlu dipenuhi, maka kita membutuhkan kombinasi dari obat-obatan intravena yang dapat melengkapi keempat komponen tersebut. Kebanyakan obat anestesi intravena hanya memenuhi 1 atau 2 komponen di atas kecuali ketamin yang mempunyai efek 3 A menjadikan ketamin sebagai agen anestesi intravena yang paling lengkap. Kelebihan TIVA yaitu kombinasi obat-obat intravena secara terpisah dapat di titrasi dalam dosis yang lebih akurat sesuai yang dibutuhkan, tidak menganggu jalan nafas dan pernafasan pasien terutama pada operasi sekitar jalan nafas atau paru-paru dan anestesi yang mudah dan tidak memerlukan alat-alat atau mesin yang khusus.
Pada pasien diatas pembedahan dilakukan dengan general anestesi intravena, intermitten balance, tanpa intubasi, napas spontan dengan bantuan kanul oksigen. pemilihan jenis anestesi ini didasarkan dari kelebihan TIVA seperti diatas, selain itu operasi ini juga tidak memakan waktu yang lama sehingha tidak dibutuhkan intubasi selama anestesi. Penilaian dan persiapan pra operasi adalah suatu tindakan yang penting untuk mnengetahui keadaan pasien, dimana letak operasi yang akan dilakukan dan macam operasinya. Sehingga kita bisa menentukan jenis anastesi yang akan dilakukan. Persiapan yang dilakukan meliputi kunjungan pra anastesi sehingga diketahui status fisik ASA pasien, lalu pemilihan untuk premedikasi, induksi dan maintenance yang sesuai dengan keadaan pasien.

KESIMPULAN
TIVA (Total Intravenous Anesthesia) merupakan salah satu jenis anestesi umum yang meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversible. Pada pasien diatas pembedahan dilakukan dengan general anestesi intravena, intermitten balance, tanpa intubasi, napas spontan dengan bantuan kanul oksigen. Induksi dengan ketamin karena ketamin yang mempunyai efek 3 A menjadikan ketamin sebagai agen anestesi intravena yang paling lengkap.

DAFTAR PUSTAKA
1. Latief, dkk.2001.Petunjuk Praktis Anestesiologi. Ed.II. Penerbit FK UI : Jakarta
2. Gordon, G. 2003. TIVA - General  Consideratin disadur dari





3Morgan, G. Edward, Jr., Maged S. Mikhail, Michael J. Murray. 2007. Clinical Anesthesiology. 4th edition. The McGraw-Hill Companies: Philadelphia
4. Rasad, dkk.1989. Anestesiologi. CV Infomedika : Jakarta

PENULIS
Diah Anggraini - Bagian Anesthesiology dan Reanimasi RSUD Salatiga
Sumber berita 

LAPORAN KASUS General Anestesi Pada Sectio Cesaria Atas Indikasi Perdarahan Antepartum

ABSTRAK
Dalam persiapan operasi, sebelum general anestesi dilakukan, dilakukan evaluasi dan persiapan. untuk mengetahui status fisik pasien praoperatif, mengetahui dan menganalisis jenis operasi, memilih jenis atau teknik anestesi yang sesuai, dan meramalkan penyulit yang mungkin akan terjadi selama operasi dan atau pasca bedah, serta mempersiapkan obat/alat guna menanggulangi penyulit yang diramalkan. Setelah dilakukan langkah-langkah diatas, hasil evaluasi kemudian disimpulkan untuk menentukan prognosis pasien perioperatif. The American Society of Anesthesiologists (ASA). Premedikasi ialah pemberian obat sebelum induksi anestesi dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi. Induksi anestesi adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar, sehingga memungkinkan untuk dimulainya anestesi dan pembedahan. Selama proses anestesi berlangsung, status anestesi dijaga agar anestesi tidak terlalu dalam atau terlalu dangkal unuk mempermudah jalannya operasi.


KASUS
Seorang wanita G3P1A0 32 tahun datang diantar bidan dengan keterangan perdarahan antepartum suspek Placenta Previa Totalis. Pasien mengeluh keluar darah dari jalan lahir sejak 5 jam yang lalu,. pasien merasa hamil 8 bulan kenceng-kenceng teratur belum dirasakan, air ketuban belum dirasa keluar. Riwayat ANC di bidan. Vital Sign: TD: 120/80, Nadi : 80x/menit, RR: 20x/menit, t: 36,5 C Pemeriksaan Obstetri: Perut membesar sesuai kehamilan. Palpasi: Teraba janin tunggal, memanjang, preskep, puka, kepala belum masuk PAP, his (-). DJJ (+) 146 x/menit Pemeriksaan Dalam: Tidak dilakukan
Pemeriksaan Laboratorium: Hb 7,0 . Pasien akan dilakukan Sectio Cesaria Emergency

DISKUSI
Pada kasus ini seorang wanita usia 32 tahun dilakukan operasi Sectio Cesaria emergency atas indikasi perdarahan antepartum oleh karena Placenta Previa Totalis. Teknik anestesi yang dilakukan adalah anastesi umum (general anestesia) dengan metode semi-closed intubation menggunakan pipa endotrakeal nomor 7. Pipa endotrakeal digunakan (ET) digunakan agar dapat mempertahankan bebasnya jalan nafas.
Dari anamnesis didapatkan pasien mengeluh keluar darah dari jalan lahir. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya tanda-tanda anemis, denyut jantung janin masih baik, presentasi kepala, dan karena curiga placenta previa maka tidak dilakukan pemeriksaan dalam. Dari pemeriksaan penunjang didapatkan adanya penurunan Hb pasien.) Pada pasien ini dikarenakan adanya penurunan nilai hasil laboratorium pada Hb, maka status anestesi pasien adalah ASA 2 E(Pasien dengan penyakit bedah disertai dengan penyakit sistemik ringan sampai sedang)
Pada pasien dilakukan general anestesi, tidak dilakukan regional anestesi karena pada pasien ini dilakukan operasi SC emergency dengan Hb yang rendah, bila menggunakan regional anestesi akan terjadi vasodilatasi pembuluh darah sehingga perdarahan yang terjadi akan lebih banyak dan akan memperparah kondisi pasien, regional anestesi juga dapat menyebabkan hipotensi padahal dengan Hb yang rendah tubuh membutuhkan Oksigen lebih banyak untuk dialirkan ke seluruh tubuh, hipotensi ini juga menyebabkan penurunan perfusi plasenta sehingga ada kemungkinan janin mengalami hipoksia walau sesaat, tapi akan menentukan APGAR scorenya, selain itu bila menggunakan GA, anestesinya bisa lebih diperpanjang daripada teknik SAB sehingga bisa digunakan pada operasi dengan durasi yang lama. 
Sebelum dilakukan operasi, pasien diminta untuk puasa 6 jam sebelumnya untuk mencegah terjadinya regurgitasi lambung saat dilakukan operasi. Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam.
            Pramedikasi yang digunakan pada pasien adalah Odancentron 4 mg IV, Ketorolac 30 mg, dan Sulfas Atropin 0,25 mg.
Ondansetron ialah suatu antagonis 5-HT3 yang sangat selektif yang dapat menekan mual dan muntah.
            Ketorolac merupakan analgetika non opioid yang selain bersifat analgetik juga bersifat antiinflamasi, antipiretik dan anti pembekuan darah. Dosis awal 10-30 mg dan dapat diulang sesuai kebutuhan, namun penggunaannya dibatasi untuk 5 hari.
            Sulfas atropine pada dosis kecil (0,25 mg) diperlukan untuk menekan sekresi saliva, mukus bronkus dan keringat. Sulfas atropine merupakan antimuskarinik  yang bekerja pada alat yang dipersarafi serabut pascaganglion kolinergik.
            Induksi anestesi yang digunakan pada pasien ini adalah propofol.. Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan untuk anestesi intravena 4-12 mg/kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0,2 mg/kg.
            Muscle relaxant yang digunakan adalah Scolin 60 mg intravena. Suksinilkolin merupakan muscle relaxant depolarisasi. Dosisnya 1 mg/kg. pemberiannya untuk memudahkan pemasangan endotrakeal.
      Maintenance yang digunakan adalah inhalasi dengan Enflurane 2 vol%, dan O2 2 liter / menit. Enflurane merupakan halogenasi eter dan cepat populer setelah ada kecurigaan gangguan fungsi hepar pada penggunaan Halotan. Enflurane hanya dimetabolisme 2-8% oleh hepar menjadi produk nonvolatil yang dikeluarkan lewat urin. Sisanya dikeluarkan lewat paru dalam bentuk asli.
      N2O 2 liter / menit diberikan setelah bayi dilahirkan. Pemberian anesthesia dengan N2O harus disertai O2 minimal 25 %. Gas ini bersifat anestetik lemah, tetapi analgesinya kuat
      Tracrium (atrakurium besilat/ tramus) merupakan pelumpuh otot sintetik dengan masa kerja sedang. Obat ini menghambat transmisi neurumuskuler sehingga menimbulkan kelumpuhan pada otot rangka. Kegunaannya dalam pembedahan adalah sebagai adjuvant dalam anesthesia untuk mendapatkan relaksasi otot rangka terutama pada dinding abdomen sehingga manipulasi bedah lebih mudah dilakukan.
            Ketika bayi telah dilahirkan, kemudian dimasukkan midazolam 2 mg intravena dan N2O 2 vol %. Midazolam merupakan sedatif golongan benzodiazepine. Selain sedasi, juga berefek hypnosis, pengurangan terhadap rangsangan emosi/ansietas, relaksasi otot dan antikonvulsi. Dosis sedasi yang diberikan secara IV = 0,025-0,1 mg/kgBB. Midazolam tidak digunakan sebagai premedikasi pada pasien hamil, namun digunakan sebagai sisipan setelah bayi lahir, karena bila digunakan sebagai premedikasi dapat menyebabkan bayi tertidur (sleeping baby) yang menyebabkan nilai APGAR pada bayi menjadi jelek, Oxitocyn dan  methergin dimasukkan setelah bayi dilahirkan untuk merangsang kontraksi uterus agar tidak terjadi perdarahan..

KESIMPULAN
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang maka:
Diagnosis Pre Operatif            : Perdarahan antepartum suspek plasenta previa totalis, Sekundigravida, hamil aterm, belum dalam persalinan.
Status Operatif            : ASA 2 (Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang)
Jenis Operasi   : Sectio Cesaria

DAFTAR PUSTAKA
1.      Boulton, Thomas dkk. 1994. Anestesiologi edisi 10. EGC: Jakarta
2.      Latief, Said. 2004. Anestesiologi. EGC: Jakarta
PENULIS
Adhita Kartyanto (20040310010). Bagian Anestesiologi dan Reanimasi. RSUD Setjonegoro, Kab. Wonosobo, Jawa Tengah
Narasumber 

Selasa, 26 Juli 2011

Susunan Acara CITY TOUR MUNAS IX JAMNAS XV

SUSUNAN ACARA CITY TOUR

MUNAS IX JAMNAS XV

Jumat, 29 Juli 2011

Pin munas jamnas bali 2011

No.

Waktu

Durasi

Acara

1.

04.30-07.30

3 jam

perjalanan dari Negara menuju Denpasar

2.

07.30-09.00

1.5 jam

city tour I (denpasar menuju water blow, nusa dua)

sarapan di bus

3.

09.00-10.30

1.5 jam

acara bebas di water blow

4.

10.30-11.00

30’

perjalanan menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK)

5.

11.00-13.00

2 jam

acara bebas di GWK + makan siang

6.

13.00-13.45

45’

perjalanan ke pusat Oleh-olhe Bali

7.

13.45-16.15

2.5 jam

saatnya berbelanja

8.

16.15-17.00

45’

perjalanan menuju hotel

9.

17.00-18.00

1 jam

MCK + persiapan closing

10.

18.00

go to FK Unud