Tampilkan postingan dengan label MEDIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MEDIS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juni 2011

Isi Rekam Medis Pasien Jiwa

Isi Rekam Medis / Kesehatan Jiwa
Rekam Medis / kesehatan psikiatri atau rekam kesehatan jiwa (mental) dikenal sebagai rekam medis perilaku (behavioral health records). Di dalamnya terdapat data diagnostik dan penilaian terhadap informasi psikologi dan pelayanan psikiatri. Data yang terdapat di dalamnya meliputi diagnosis waktu masuk, alasan pasien masuk rawatan dan nama-nama yang membuat keputusan agar pasien dirawat. Selain itu rencana tujuan perawatan (goal oriented) juga harus ditegakkan. Informasi yang diperoleh dari keluarga dan lingkungan juga harus disertakan dalam rekaman. Persyaratan lain seperti evaluasi psikiatri termasuk riwayat masa lalu, status kejiwaan, riwayat penyakit sekarang, kecerdasan dan fungsi memori.
Catatan perkembangan (CP) juga harus mencatat setidaknya setiap minggu selama dua bulan pertama dan setidaknya sekali sebulan sesudahnya. Harus dibuat ringkasan riwayat pulang (resume) di akhir perawatan. Perlu perhatian khusus terhadap upaya penahanan pasien gaduh gelisah yang membahayakan dirinya sehingga bila perlu dilakukan fiksasi dan isolasi maupun penggunaan terapi lain (misalnya elektrokonvulsif). Fasilitas psikiatri juga menangani kasus kecanduan alkohol, NAPZA. Perhatian akan kerahasiaan (konfidensial) harus benar-benar ditegakkan dalam menangani berkas rekam medis kesehatan jiwa.

Sabtu, 28 Mei 2011

Riwayat Medis Yang Lalu

Riwayat Medis Masa Lalu
Berisi ringkasan latar belakang penyakit terdahulu yang perlu diketahui dokter dan cendrung dijawab oleh pasien secara subjektif meliputi komponen :
  • Keluhan Utama : Gambaran subjektif yang mempertegas alasan diperlukannya pengobatan medis.
  • Penyakit saat ini : Gambaran subjektif tentang penyakit pasien.
  • Riwayat sakit terdahulu : Gambaran subjektif tentang penyakit sebelumnya.
  • Data sosial dan riwayat pribadi : Gambaran subjektif tentang pekerjaan, status pernikahan, kebiasaa, cara dan gaya hidup.
  • Riwayat sakit keluarga : Gambaran subjektif tentang penyakit yang pernah diderita di antara anggota keluarga terdekat.
  • Telaah sistem tubuh : Gambaran subjektif tentang gejala lain atau penyakit yang terdapat pada sistem tubuh.
Pemeriksaan Fisik
Sesudah pasien memberikan masukan yang bersifat subjektif tentang riwayat medisnya, dokter akan memeriksa keadaan fisik pasien secara objektif. Informasi pemeriksaan fisik yang objektif ini harus tersedia dala rekam kesehatan / medis pasien dalam waktu 24 jam sejak pasien terdaftar sebagai pasien masuk, tanpa informasi ini pembedahan tidak dapat terlaksana. Bila dalam 30 hari sesudah pasien pulang ternyata pasien kembali masuk rawat inap dengan kondisi yang sama, pada instansi pelayanan kesehatan yang sama maka dokter yang menerima cukup memberikan catatan interval dalam rekam medis pasien sebagai pengganti catatan tentang riwayat dan pemeriksaan fisik pasien. Dengan demikian pasien tidak dianggap sebagai pasien awal.
Catatan interval tersebut di atas berisi informasi tentang keluhan pasien dan hal hal lain yang memperngaruhi kesehatan sekrang maupun tentang temuan pemeriksaan baru. namun bila perawatan ulang yang terjadi dalam 30 hari tersebut diakibatkan oleh kondisi yang berbeda dengan rawatan terakhir, maka riwayat dan laporan pemeriksaan fisik yang lengkap harus segera dibuat. Berarti tidak menggunakan catatan riwayat interval.

Jumat, 06 Mei 2011

Isi dan Struktur Rekam Medis

Isi Rekam Kesehatan / Rekam Medis
Hippocrates (460—377 SM) yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran memperkenalkan keenam doktrinnya yang dikenal sebagai Sumpah Hippocrates, yaitu berbuat baik, jangan melakukan hal merugikan pasien,hormati kehidupan manusia, sadari keterbatasan kemampuan kita, berakhlak dan berbudi luhur dan jaga kerahasiaan pasien.Sumpah Hippocrates ini sekaligus mengharuskan diperlukannya alat bukti berupa rekaman kesehatan / medis sebagai sarana untuk memantau praktek kesehatan, khususnya untuk mengetahui sejauh mana praktisi yang terlibat dalam pelayanan kesehatan telah berbuat baik dan layak dalam pemeriksaannya?
apakah praktek kedokteran telah merugikan pasien?, apakah praktisi pelayanan kesehatan telah menghormati kehidupan pasien?,apakah praktisi telah menjalankan praktek sebatas kemampuan yang bersangkutan dan menjalankan profesi dengan berakhlak dan berbudi luhur serta melindungi hak asasi pasien dengan menjaga kerahasiaannya? Semua jawaban di atas harus terdapat dalam isi rekam kesehatan.
Dalam perkembangannya rekam kesehatan / medis terbagi dalam dua jenis praktek. Pada praktek rekaman tradisional, bentuk rekaman dilaksanakan melalui media ‘kertas’ sedangkan pada praktek modern (Abad ke 21) orientasi pengelolaan berbasis pada informasi yang dilakukan melalui komputer dan disebut manajemen informasi kesehatan (MIK) Dalam praktek manajemen rekam kesehatan secara tradisional pengumpulan data dilakukan melalui format kertas serta disimpan dalam map (folder). Sementara, praktek profesi di era modern mengumpulkan, menyimpan dan menganalisis data/informasi melalui sistem rekam kesehatan elektronik (RKE) yang interakif.
Dalam ‘rekaman kertas’ ataupun ‘komputerisasi’, isi rekam kesehatan/medis dibagi dalam data administratif dan data klinis, sedangkan isi (data/informasi) rekam kesehatan dipengaruhi oleh bentuk pelayanan kesehatan (pelayanan rumah sakit atau pusat kesehatan masyarakat) bentuk klasifikasi jenis pelayanan (umum atau khusus); serta bentuk status kepemilikan sarana pelayanan kesehatan (swasta atau pemerintah pusat/daerah).

isi / struktur rekam kesehatan / medis dibagi menjadi dua :
  • Data administratif
  • Data Klinis

DATA ADMINISTRATIF
Data administratif mencakup data demografi, keuangan (financial) disamping tentang informasi lain yang berhubungan dengan pasien, seperti data yang terdapat pada beragam izin (consent), pada lembaran hak kuasa (otorisasi) untuk Kepentingan pelayanan kesehatan dan dalam penanganan informasi konfidensial pasien.
Dalam pelayanan kesehatan, informasi demografi diperlukan dalam mengisi informasi dasar identitas diri pasien. Informasi ini dicatat dalam lembaran pertama rekam kesehatan rawat inap yang disebut Ringkasan Masuk dan Keluar maupun pada lembar pertama rawat jalan yang dikenal dengan nama Ringkasan Riwayat Klinik Isi data demografi bersifat permanen (kekal) dan setidaknya mencakup informasi tentang:
  • Nama lengkap (nama sendiri dan nama keluarga yaitu nama ayah/suarni/marga/ she). Tuliskan nama keluarga, beri tanda koma, baru nama sendiri. Artinya, semua nama di muka tanda koma adalah nama keluarga. Tulisan demikian untuk menyamarkan identitas pasien dan pihak yang tidak berwenang namun saat memanggil nama pasien disesuaikan dengan kebiasaan yang diinginkan.
  • Nomor rekam kesehatan / Rekam Medis pasien dan nomor identitas lain (asuransi).
  • Alamat lengkap pasien (nama jalan/gang, nomor rumah, wilayah, kota yang dihuni saat ini dan kode pos bila diketahui).
  • Tanggal lahir pasien (tanggal, bulan, tahun) dan kota tempat kelahiran. Jenis kelamin (perempuan atau laki-laki).
  • Status pernikahan (sendiri, janda, duda, cerai).
  • Nama dan alamat keluarga terdekat yang sewaktu-waktu dapat dihubungi.
  • Tanggal dan waktu terdaftar di tempat penerimaan pasien rawat inap/rawat jalan/ gawat darurat.
  • Nama rumáh sakit (tertera pada kop formulir: nama, alamat, telepon, kota).
  • Tujuan dan pengumpulan informasi demografi ini adalah untuk menginformasikan
    identitas pasien secara lengkap. Rumah sakit dan organisasi pelayanan kesehatan yang
    terkait juga menggunakan informasi demografi pasien sebagai basis data statistik, riset dan sumber perencanaan.
Data administratif lainnya adalah data keuangan (financial) yang biasanya dikaitkan dengan asuransi. Beberapa sarana pelayanan kesehatan akut, bahkan ada yang mencantumkan biaya perawatan pasien pada lembar ringkasan masuk dan keluar (lembar pertama dalam rekam medis). Namun cara ini bukan menjadi suatu keharusan. Umumnya data administratif adalah data identifikasi yang dapat dihubungkan dengan pasien (patient identifiable information) yang digunakan bagi kepentingan administratif, regulasi, operasional pelayanan kesehatan dan penggantian biaya pengobatan. Meskipun data administratif termasuk konfidensial namun data administratif tidak menjadi bagian resmi (legal) rekam kesehatan. Hal ini beda dengan data kilnis. Dengan demikian tidak perlu disertakan ke pengadilan bila ada kasus permintaan pengadilan (subpoena) dengan bukti rekaman medis (kecuali bila memang ada permintaan tersendiri). Contoh data administratif yaitu:
  • Lembaran pengesahan untuk melepaskan informasi.
  • Formulir pengesahan (otorisasi) pelaksanaan pelayanan.
  • Beberapa formulir pemberian izin (consent), seperti implied dan expressed consents
  • Lembar hak kuasa (persetujuan dirawat di sarana pelayanan kesehatan).
  • Lembar pulang paksa.
  • Sertifikat kelahiran atau kematian.
  • Formulir pembebasan sarana pelayanan kesehatan dan tuntutan kehilangan atau kerusakan barang pribadi pasien.
  • Korespondensi yang berkaitan dengan permintaan rekaman.
  • Kejadian tentang riwayat atau audit.
  • Klaim yang dapat dihubungkan dengan pasien.
  • Menelaah kualitas data yang dapat dihubungkan dengan pasien (menjaga mutu, manajemen utilisasi).
  • Tanda identitas pasien (nomor rekam medis, biometrik).
  • Protokol klinis (clinical protocols), jalur klinis (clinical pathways), pedoman praktek dan pengetahuan lain (clinical practice guidelines) yang tidak melekat dengan data pasien.
Subpoena adalah perintah untuk datang ke pengadilan pada waktu dan tempat yang ditetapkan untuk memberikan kesaksian tentang suatu hal.

Jumat, 29 April 2011

Buku Terminologi Medis

Buku ini membahas dan memahami sejarah dari terminologi medis yang meliputi asal istilah medis, yang mana sebagian besar istilah medis berasal dari bahasa Yunani Kuno dan Latin. contohnya "ALOPECIA" yang berasal dari zaman ARISTOTELES (385-322 SM)istilah ini digunakan kepada serigala yang terkena infeksi kulit yang menyebabkan rontoknya bulu dan kebotakan, istilah tersebut masih digunakan sampai sekarang untuk menandakan kondisi "Botak".







Dalam pembahasan topik ini akan disampaikan macam macam root, prefik dan surffiks yang disertai dengan arti bahasa indonesia sehingga dapat menjadi panduan bagi mahasiswa kesehatan ( Mahasiswa kedokteran, Perekam Medis dan kesehatan Masyarakat) serta petugas yang berkecimpung dalam bidang kesehatan dalam memahami unsur istilah medis.

Telah terbit buku:
"Terminologi Medis (Pengenalan Istilah Medis)"

...(vi + 134 hlm)

Penyusun : Nuryati, MPH
Penerbit : Quantum Sinergis Media, 2011
ISBN : 978-602-98339-0-4

Harga : Rp 35.000,-

Sudah bisa didapatkan di toko-toko buku atau pesan melalui telp/sms ke 0818464494, melalui fb/ email ke: nur3yati@yahoo.com (ongkos kirim oleh pemesan)

Sabtu, 21 Maret 2009

Golongan Narkoba

Golongan Psikotropika
Menurut undang-undang RI No.5/1997 psikotropika dibedakan dalam 4 golongan sebagai berikut:
  • Psikotropika golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan, contoh: MDMA, ekstasi, LSD, ST
  • Psikotropika golongan II : Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan atau tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan, contoh: Amfetamin, fesiklidin, sekobarbital, metakualon,metilfenidat (Ritalin)
  • Psikotropika golongan III : Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindrom ketergantungan, contoh : Fenobarbital, flunitrazepam
  • Psikotropika golongan III : Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan, contoh: Diazepam, klobazam, bromazepam, klonazepam, khlordiazepoxide, nitrazepam (BK, DUM, MG).
Bentuk psikotropika
a. Ekstasi Ekstasi adalah salah satu obat bius yang di buat secara ilegal di sebuah laboratorium dalam bentuk tablet atau kapsul.Ekstasi dapat membuat tubuh si pemakai memiliki energi yang lebih dan juga bisa mengalami dehidrasi yang tinggi. Sehingga akibatnya dapat membuat tubuh kita untuk terus bergerak.
b. Amfetamin Nama aslinya methamphetamine. Berbentuk kristal seperti gula atau bumbu penyedap masakan. Jenisnya antara lain yaitu gold river, coconut dan kristal. Sekarang ada yang berbentuk tablet.Obat ini dapat di temukan dalam bentuk kristal dan obat ini tidak mempunyai warna maupaun bau, maka ia di sebut dengan kata lain yaitu Ice. Obat ini juga mempunyai pengaruh yang kuat terhadap syaraf.
c. Diazepam Sedatif (obat penenang) dan hipnotikum (obat tidur). Nama jalanan BDZ antara lain BK, Lexo, MG, Rohip, Dum. Cara pemakaian BDZ dapat diminum, disuntik intravena, dan melalui dubur.


Nama jalanan
a. Ekstasi Ekstasi dikenal dengan sebutan inex, I, kancing, dll
b.Amfetamin Nama lain fantacy pils,inex,glass,quartz,hirropon,shabu,SS,ice dll.
c. Diazepam Nama jalanan BDZ antara lain BK, Lexo, MG, Rohip, Dum.
Cara pemakaian
a.Ekstasi Cara penggunaan dalam bentuk pil diminum.
b.Amfetamin Cara penggunaan dalam bentuk pil diminum. Dalam bentuk kristal dibakar dengan menggunakan kertas alumunium foil dan asapnya dihisap melalui hidung, atau dibakar dengan memakai botol kaca yang dirancang khusus (bong). Dalam bentuk kristal yang dilarutkan dapat juga melalui suntikan ke dalam pembuluh darah (intravena).
c.Diazepam Pemakaian BDZ dapat diminum, disuntik intravena, dan melalui dubur. Ada yang minum BDZ mencapai lebih dari 30 tablet sekaligus. Dosis mematikan/letal tidak diketahui dengan pasti. Bila BDZ dicampur dengan zat lain seperti alkohol, putauw bisa berakibat fatal karena menekan sistem pusat .
Efek yang ditimbulkan
a. Ekstasi Efek yang ditimbulkan oleh ekstasi adalah: o Diare o Rasa haus yang berlebihan o Hiperaktif o Sakit kepala dan pusing o Menggigil yang tidak terkontrol o Detak jantung yang cepat dan sering o Mual disertai muntah-muntah atau hilangnya nafsu makan 0 Gelisah/tidak bisa diam o Pucat & keringat o Dehidrasi o Mood berubah.. o Kadang-kadang lengan, kaki dan rahang terasa kaku, serta mulut rasanya kering. o Akan timbul perasaan seolah-olah kita menjadi hebat dalam segala hal dan segala perasaan malu menjadi hilang. o Kepala terasa kosong, rileks dan "asyik". Dalam keadaan seperti ini, kita merasa membutuhkan teman mengobrol, teman bercermin, dan juga untuk menceritakan hal-hal rahasia o Akibat jangka panjangnya adalah kecanduan, syaraf otak terganggu, gangguan lever, tulang dan gigi kropos.Beberapa pemakai ekstasi yang akhirnya meninggal dunia karena terlalu banyak minum akibat rasa haus yang amat sangat..
b. Amfetamin Efek yang ditimbulkan amfetamin adalah: o Menjadi bersemangat o Gelisah dan tidak bisa diam o Tidak bisa tiduri o Paranoid o Lever terganggu o Jantung terasa sangat berdebar-debar (heart thumps). o Suhu badan naik/demam. o Tidak bisa tidur. o Merasa sangat bergembira (euforia). o Menimbulkan hasutan (agitasi). o Banyak bicara (talkativeness). o Menjadi lebih berani/agresif. o Kehilangan nafsu makan. o Mulut kering dan merasa haus. o Berkeringat. o Tekanan darah meningkat. o Mual dan merasa sakit. o Sakit kepala, pusing, tremor/gemetar. o Timbul rasa letih, takut dan depresi dalam beberapa hari. o Gigi rapuh, gusi menyusut karena kekurangan kalsium o Efek jangka panjang: fungsi otak terganggu dan bisa berakhir dengan kegilaan.
c. Diazepam Efek yang ditimbulkan oleh diazepam adalah: o Akan mengurangi pengendalian diri dan pengambilan keputusan. o Menjadi sangat acuh atau tidak peduli dan bila disuntik akan menambah risiko terinfeksi HIV/AIDS dan hepatitis B & C akibat pemakaian jarum bersama. o Terjadi gangguan konsentrasi dan keterampilan yang berkepanjangan. o Menghilangkan kekhawatiran dan ketegangan (tension). o Perilaku aneh atau menunjukkan tanda kebingungan proses berpikir. o Nampak bahagia dan santai. o Bicara seperti sambil menelan (slurred speech). o Jalan sempoyongan. o Tidak bisa memberi pendapat dengan baik.
Gejala putus obat
a. Ekstasi o Depresi o Rasa lelah berlebihan o Ganguan tidur o Mimpi bertambah b. Amphetamin o Cepat marah o Tidak tenang o Cepat lelah o Tidak bersemangat/ingin tidur terus o Kecenderungan untuk bunuh diri c. Diazepam o Perasaan ketagihan o Gelisah o Susah tidur o Halusinasi

Jumat, 20 Maret 2009

Jenis Narkoba

Jenis Narkoba menurut efeknya
Dari efeknya, narkoba bisa dibedakan menjadi tiga:

Depresan, yaitu menekan sistem sistem syaraf pusat dan mengurangi aktifitas fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri. Bila kelebihan dosis bisa mengakibatkan kematian. Jenis narkoba depresan antara lain opioda, dan berbagai turunannya seperti morphin dan heroin.

Contoh yang populer sekarang adalah Putaw.
Stimulan, merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran. Jenis stimulan: Kafein, Kokain, Amphetamin. Contoh yang sekarang sering dipakai adalah Shabu-shabu dan Ekstasi.
Halusinogen, efek utamanya adalah mengubah daya persepsi atau mengakibatkan halusinasi. Halusinogen kebanyakan berasal dari tanaman seperti mescaline dari kaktus dan psilocybin dari jamur-jamuran. Selain itu ada jugayang diramu di laboratorium seperti LSD. Yang paling banyak dipakai adalah marijuana atau ganja.
Penyalahgunaan Narkoba Kebanyakan zat dalam narkoba sebenarnya digunakan untuk pengobatan dan penefitian. Tetapi karena berbagai alasan - mulai dari keinginan untuk coba-coba, ikut trend/gaya, lambang status sosial, ingin melupakan persoalan, dll. maka narkoba kemudian disalahgunakan. Penggunaan terus menerus dan berianjut akan menyebabkan ketergantungan atau dependensi, disebut juga kecanduan. Tingkatan penyalahgunaan biasanya sebagai berikut:
coba-coba
senang-senang
menggunakan pada saat atau keadaan tertentu
penyalahgunaan
ketergantungan

Dampak narkoba

Dampak penyalahgunaan Narkoba
Bila narkoba digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal.
Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat tergantung pada jenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.

Dampak Fisik:
o Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi
o Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah
o Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim
o Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru
o Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur
o Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual
o Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid)
o Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya
o Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian

Dampak Psikis:
1. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
2. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
3. Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal
4. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
5. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri

Dampak Sosial:
1. Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
2. Merepotkan dan menjadi beban keluarga
3. Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram

Dampak fisik, psikis dan sosial berhubungan erat. Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengkonsumsi obat pada waktunya) dan dorongan psikologis berupa keinginan sangat kuat untuk mengkonsumsi (bahasa gaulnya sugest). Gejata fisik dan psikologis ini juga berkaitan dengan gejala sosial seperti dorongan untuk membohongi orang tua, mencuri, pemarah, manipulatif, dll.

Sabtu, 14 Maret 2009

NARKOBA

Narkoba (singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif berbahaya lainnya) adalah bahan/zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia, baik secara oral/diminum, dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) fisik dan psikologis.
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat. menimbulkan. Ketergantungan (Undang-Undang No. 22 tahun 1997). Yang termasuk jenis Narkotika adalah :

a.Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja.
b.Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas.
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku (Undang-Undang No. 5/1997). Zat yang termasuk psikotropika antara lain:
a.Sedatin (Pil BK)
b.Rohypnol
c.Magadon
d.Valium
e.Mandarax
f.Amfetamine
g.Fensiklidin
h.Metakualon
i.Metifenidat
j.Fenobarbital
k.Flunitrazepam
l.Ekstasi
m.Shabu-shabu
n.LSD (Lycergic Alis Diethylamide)
Bahan Adiktif berbahaya lainnya adalah bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang dapat mengganggu sistim syaraf pusat, seperti:
a.Alkohol yang mengandung ethyl etanol
b.inhalen/sniffing (bahan pelarut) berupa zat organik (karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang dihasilkan oleh minuman yang beralkohol atau obat anaestetik jika aromanya dihisap. Contoh: lem/perekat, aceton, ether, dsb.



Sabtu, 30 Agustus 2008

Risiko Diabetes Ancam Bayi Caesar

SEJUMLAH riset telah mengungkap bahwa persalinan melalui bedah caesar dapat menimbulkan risiko lebih besar bagi bayi, terutama ancaman mengidap beragam penyakit, mulai dari gangguan pernapasan hingga alergi.

Kini, sebuah penelitian terbaru di Eropa yang dimuat jurnal PubMed mengindikasikan, bayi yang lahir melalui proses bedar caesar berisiko 20 persen lebih besar mengidap diabetes tipe 1 di bandingkan bayi yang lahir lewat persalinan normal.

Penyakit diabetes tipe 1, yang dapat muncul sejak usia dini, saat ini tengah meningkat prevalensinya di Eropa dan para ahli belum bisa memastikan penyebabnya.

"Akhir-akhir ini diabetse tipe 1 pada anak-anak saat ini meningkat prevalensinya di Eropa, dan tingginya rata-rata ini mengidikasikan bahwa faktor-faktor lingkungan dapat menjadi penyebabnya," ungkap Dr Chris Cardwell dari Queen's University Belfast.

Fenomena itu lalu membuat Cardwell dan timnya kemudian melakukan kajian terhadap 20 penelitian yang telah dilakukan. Hasil kajian mengindikasikan bahwa kontak awal bayi terhadap bakteri di rumah sakit saat tindakan operasi caesar mungkin bisa menjadi penyebabnya. Padahal, bila bayi lahir secara normal, maka tubuh mereka akan melakukan kontak di jalan lahir dengan bakteri menguntungkan yang berasal dari ibu untuk pertama kalinya.

Tak heran bila risiko bayi lahir normal mengidap diabetes, menurut kajian studi Cardwell, hanya sekitar 0,3 persen saja. Sedangkan pada bayi yang di-caesar risikonya meningkat hingga 20 persen meskipun angka ini belum dapat dijelaskan atau dikaitkan dengan faktor lain, seperti berat bayi saat lahir, asupan ASI, usia ibu, atau kondisi-kondisi lain seperti diabetes gestasional atau meningkatnya gula darah saat hamil pada ibu yang sebelumnya tak mengidapnya.

"Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan yang konsisten risiko diabetes sebanyak 20 persen. Penting untuk diingat bahwa penyebab meningkatnya risiko ini belum diketahui meski ada kemungkinan bahwa bedah caesar bukan satu-satunya yang bertanggung jawab. Mungkin karena bayi yang lahir melalui metode ini terpapar bakteri yang berasal dari lingkungan rumah sakit untuk pertama kalinya ketimbang kontak dengan bakteri dari ibu," ungkapnya.

Sementara itu, Dr Iain Frame dari Diabetes UK berpendapat bahwa faktor genetik dan infeksi di masa kanak-kanak bisa berperan dalam timbulnya penyakit diabetes tipe 1. Namun, riset lebih mendalam perlu dilakukan untuk mencari hubungannya dengan operasi caesar.

"Temuan dari riset ini mengindikasikan bahwa cara bayi dilahirkan dapat memengaruhi bagaimana mereka tumbuh dan berkembang di kemudian hari. Tak semua wanita punya pilihan apakah mereka dapat melakukan caesar atau tidak. Tetapi, bagi mereka yang berharap menjalaninya seharusnya memperhitungkan risiko ini," paparnya.

(Dikutip dari KompasKAMIS, 28 AGUSTUS 2008 )