Rabu, 29 Desember 2004
Kira-kira pukul 9 pagi. Pulang dari mengantar ibu ke bandara, kegiatan rutinku hampir setiap pagi adalah mengecek e-mail yang masuk. Telepon rumah tiba-tiba berbunyi. Seorang perawat LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhu’afa Republika)—tempat aku bekerja—yang menelepon.
“Dokter Apin, kata Dokter Joe, antum berminat pergi ke Aceh. Bisa pergi?”
“Kapan?”
“Sore ini.”
Setelah menerima informasi “gagal” pergi ke Nangroe Aceh Darussakam dengan sebuah lembaga non pemerintah (NGO), muncul tawaran ini. Tanpa butuh berpikir lama, aku terima saja.
“Kita pergi dengan apa?”
“Dengan ambulans, lewat jalan darat.”
Sore itu, tepat sebelum maghrib, LKC melepas kepergian kami. Sebuah tim gabungan yang terdiri atas tim LKC dan tim ACT (Aksi Cepat Tanggap) DD REPUBLIKA. LKC dan ACT memang lembaga yang berada di bawah bendera DD REPUBLIKA. Tim LKC terdiri atas empat orang: 1 dokter—aku sendiri, seorang perawat, satu orang driver, dan seorang relawan, yang aku kenal kemudian sebagai kader DPC Kebayoran Baru. Sedangkan tim ACT terdiri atas 5 orang. Mereka menggunakan satu buah kijang hijau yang bercatkan nama lembaga ini. Sebuah spanduk lebar dipasang di atas kap mobil “Bantuan Kemanusiaan Gempa dan Tsunami Aceh-Sumut”.
Aku mulai saja dengan hal menarik pertama yang kudapatkan. Akh relawan kami ternyata meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua, dan diperkirakan anak keduanya akan lahir tanggal 7 Januari lalu. Pasangan suami-istri mujahid ini rela saling mengikhlaskan kepergian sang suami untuk sebuah misi kemanusiaan. Ikhwan satu ini memang sudah mempersiapkan dirinya untuk tidak melihat kelahiran si bayi, karena merencakan kepergiannya di Aceh memakan waktu beberapa pekan. Subhanalloh.
Malam harinya kami menyeberang dari Merak hingga Belawan, Lampung. Melewati waktu subuh di sekitar Bandar Lampung, kami segera meneruskan perjalanan setelah beristirahat sejenak.
Kamis, 30 Desember 2004
Saat kami beristirahat di sebuah rumah makan di Lampung, kami bertemu dengan rombongan 30 mobil polisi pengangkut yang dibawa beriringan langsung dari Kelapa Dua, Jakarta. Kami meminta izin kepada beberapa personil polisi untuk bisa melakukan perjalanan konvoi dengan mereka, dengan alasan keamanan (melewati jalan-jalan lintas Sumatra) dan memang kami belum merencanakan rute perjalanan dengan baik. Kami pun menjadi rombongan ekor mereka. Dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam, kami mengikuti rombongan panjang mobil polisi ini. Beberapa kali kami memang sengaja memisahkan diri dengan mereka, untuk makan dan istirahat, namun segera bisa menyusulnya begitu mendengar suara sirine panjang di kejauhan. Sampai akhirnya sore hari kami terpisah di daerah Sumatra Selatan. Jalur yang kami tempuh adalah Lintas Timur.
Jum’at 31 Desember 2004
Tidak banyak hal istimewa yang bisa diceritakan dalam perjalanan darat menuju NAD selama 3 hari 3 malam ini. Yang jelas pada tanggal ini kami melewati Jambi, Riau, hingga Sumatra Utara di malam harinya. Alhamdulillah perjalanan kami aman-aman saja. Tidak sampai menemui begal di tengah-tengah perjalanan, walaupun kami tetap meneruskan perjalanan sekalipun malam hari. Untungnya dari dua mobil yang kami bawa ini, kami mempunyai 4 orang driver yang saling bergantian mengemudi, sehingga perjalanan tidak banyak terhenti. Buatku pribadi, ini adalah perjalanan pertama kalinya melintasi Pulau Sumatra dari ujung ke ujung via jalan darat. Aku bisa merasakan panjangnya jalan di pinggir hutan Sumsel dan Jambi, jalanan naik-turun sepanjang Riau, kilang dan pipa-pipa minyak besar milik Caltex di sepanjang Riau, dan banjir yang cukup menegangkan di daerah Sei Rokan. Pengalaman menyenangkan lain untukku adalah bisa mencicipi masakan khas daerah bersangkutan setiap kali kami berhenti untuk makan. Malamnya kami melewatkan pergantian tahun baru masehi menuju kota Medan.
Sabtu, 1 Januari 2005
Pagi hari kami tiba di Medan. Kota yang utamanya menjadi transit bagi para relawan sebelum memasuki Aceh. Kami beristirahat sebentar di sebuah rumah yang katanya sekretariat HMI, sambil membersihkan diri dan membeli beberapa kebutuhan logistik untuk dibawa ke Aceh. Karena informasi yang kami terima menyebutkan sulitnya mendapatkan bahan bakar dan makanan di sana.
Selepas waktu dzuhur, kami melaju menuju Aceh. Melewati perbatasan Sumut-NAD, kami mulai memasuki Aceh Timur. Subhanalloh, sepanjang perjalanan di kiri-kanan jalan, mudah sekali ditemui masjid besar di pinggir jalan yang tampaknya sudah lama berdiri. Jika dirata-rata, mungkin setiap 5 kilometer. Inilah daerah seribu masjid, demikian yang terlintas dalam benakku. Aceh adalah daerah yang luar biasa subur, dengan sawah menghijau terhampar di kiri-kanan, dan di kejauhan dikelilingi oleh barisan pegunungan. Namun rakyatnya miskin-miskin, rawan konflik, dan penuh dengan militer. Adalah pemandangan yang amat biasa melihat panser-panser melintasi jalanan dengan senapan mesin yang diacungkan lurus ke depan. Setiap beberapa kilometer mudah ditemui posko-posko angkatan darat di pinggir jalan, dengan beberapa orang berseragam hijau-hijau berkelompok berjalan-jalan dengan senapan laras panjang terisi. Untungnya kami tidak mendapatkan inspeksi-inspeksi yang mengharuskan berhenti sejenak di pinggir jalan. Ada sedikit perasaan tidak nyaman pula melewati jalanan sepanjang Aceh Timur ini. Sering kita dengar dari media massa, tidak mustahil GAM muncul tiba-tiba.
Syari’at Islam memang tampak dijalankan dari penampakan luar Aceh. Para wanitanya mengenakan kerudung atau jilbab. Tidak satu pun wanita mengenakan pakaian pendek. Di beberapa papan billboard pinggir jalan dijelaskan bahwa mereka yang tidak berbusana Islam akan dikenai hukuman ta’dzir. Jadi tampaknya masyarakat Aceh menjalankan syari’at dengan setengah hati, karena paksaan. Sebelum bencana, razia pakaian ini diketatkan, sehingga wanita takut terkena. Namun setelah bencana menjadi lebih longgar. Sehingga masih ada wanita yang tidak mengenakan kerudung. Nuansa Islami lainnya adalah tulisan-tulisan Arab gundul berbahasa Indonesia yang menyertai setiap nama tempat-tempat umum.
Malamnya, sekitar ba’da maghrib, kami tiba di kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, tempat posko ACT DD REPUBLIKA berada. Kami menempati beberapa kamar dalam sebuah wisma di tengah kota. Mulai beristirahat, besok pagi misi akan dimulai.
Ahad, 2 Januari 2005
Kami mulai perjalanan menggunakan mobil ACT menuju kota Sigli, Kabupaten Pidie. Waktu yang ditempuh sekitar 3 jam perjalanan. Rute perjalanannya adalah: Lhokseumawe, Kab. Aceh Utara—Kab. Bireuen—Sigli, Kab.Pidie. Memasuki daerah Bireuen, tampak tenda-tenda pos pengungsi tersebar di kiri-kanan jalan. Mereka kebanyakan menggunakan masjid dan sekolah, atau lapangan besar sebagai tempat pengungsian. Tidak sedikit tentara yang menjaga pos-pos pengungsi tersebut. Di beberapa ruas jalan tampak retakan yang menandakan bekas gempa tektonik. Namun jalanan masih mudah untuk dilalui. Memasuki Kabupaten Pidie, tampak pinggir laut berada beberapa kilometer di sebelah kanan. Kerusakan bekas Tsunami terlihat begitu nyata. Rumah-rumah yang rata dengan tanah, sawah-sawah dan tambak yang rusak, bahkan kapal nelayan yang terlempar melintasi jalan raya hingga ke seberangnya! Namun kebesaran Alloh masih tampak di sini. Tidak satu pun jembatan-jembatan yang menghubungkan jalan utama rusak. Terlintas di benakku, Alloh memerintahkan kepada para malaikat untuk menjaga jalan-jalan penghubung utama ini, agar kelak memudahkan mengirim bantuan.
Pemandangan lain adalah iring-iringan truk dan mobil PKS yang bergantian melintasi membawa bantuan di sepanjang jalan. PKS memang raja jalanan!
Setibanya di Posko ACT di Sigli, tepat di seberang Posko Darurat Bantuan Aceh DPD PKS Kota Sigli, tim LKC menggabungkan diri dengan tim kesehatan DPD yang juga gabungan dengan ikhwah BSMI Sumatra Utara, untuk segera mengadakan bakti sosial kesehatan di pos-pos pengungsi. Kawan-kawan dari BSMI Sumut ini sudah tiba sejak sehari pasca bencana. Menariknya, tidak satu pun dari mereka adalah dokter. Pemimpin pasukannya bahkan seorang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat USU yang mengaku sebagai dokter. Pasukannya adalah 5 orang akhwat dari berbagai fakultas di USU. Tapi pasukan ini sudah melewati perjalanan cukup berat mengadakan baksos di tempat pengungsian sebelumnya. Salah satu yang paling rawan adalah mereka pernah mengadakan perjalanan menuju pos pengungsi untuk mengadakan baksos di sebuah daerah pegunungan yang rawan GAM, yakni di derah Batee. Akhwatnya harus jatuh bangun mendaki gunung yang cukup licin. Subhanalloh. Mereka tim yang cukup berani. Pos pengungsian yang ada memang berada dekat Posko Marinir. Tetapi seharusnya lebih rawan kontak senjata dengan demikian.
Tim dari DPD Kota Sigli sendiri dipimpin oleh sang istri Ketua DPD, seorang mahasiswa kedokteran Unsyiah Banda Aceh. Mereka pasangan baru menikah. Rumah pasangan suami-istri ini sendiri sebenarnya rusak terkena bencana, namun mereka tidak larut dalam kesedihan itu, dan segera bergerak mengkoordinir bantuan untuk daerah mereka. Tim gabungan ini bergerak menggunakan ambulans LKC dan mobil kijang ACT menuju pos-pos pengungsian di Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie. Navigator kami adalah sang ketua DPC Kec. Meureudu, seorang Bapak berusia 45 tahun yang tidak kenal lelah mengantarkan para relawan setiap harinya.
Kami memulai mendirikan posko untuk pemeriksaan kesehatan di sebuah sekolah di Kecamatan Ulim, sekitar pukul 11.00 WIB. Jumlah pasien yang dilayani sekitar 50-60 orang, mulai dari balita hingga dewasa. Untungnya kami membawa ambulans LKC dari Ciputat. Sehingga kami bisa membawa pasien untuk dirujuk ke RSUD Sigli yang alhamdulillah tetap berfungsi penuh. Mayoritas penghuni ini berasal dari daerah tepat di pinggir pantai, dan sebagian berprofesi sebagai nelayan. Latar belakang ekonomi dan pendidikan mereka memang kurang. Sedikit sekali yang bisa berbahasa Indonesia. Untungnya kami membawa kader-kader PKS yang bisa menjadi penerjemah. Berbekalkan pendidikan yang minim, mereka juga tidak mengetahui kesehatan dengan baik. Kami merujuk seorang anak berusia sekitar 6 tahun yang terkena tetanus. Kerana ketidaktahuan si Ibu, anaknya yang sudah mengalami kejang hingga leher dan tidak dapat menggerakan mulutnya ini, dibiarkan saja. Untungnya kami bisa membawanya ke RS. Pasien lain yang kami rujuk adalah kakak anak laki-laki ini yang menderita gejala serupa namun tidak khas, dan anak lain yang mengalami kesulitan buang air kecil karena penyakit batu di saluran kemihnya.
Sebenarnya kami tidak puas dengan pelayanan kesehatan macam ini, karena sifatnya hit and run. Selesai mengadakan baksos sementara, kami meninggalkan tempat ini untuk mencari titik lain yang belum tersentuh pelayanan kesehatan. Idealnya dalam satu pos pengungsian terdapat satu posko kesehatan yang standby setiap harinya. Tugasnya tidak hanya mengobati pasien dengan penyakit khas seperti infeksi saluran napas atas (ISPA), diare, atau penyakit kulit saja, tetapi juga memberikan penyuluhan higiene dan sanitasi lingkungan yang baik, agar tidak terjadi wabah penyakit setelah beberapa lama berada di pengungsian. Kami juga tidak membawa persediaan susu bayi dan balita yang sesuai umur. Padahal mereka sangat membutuhkannya.
Titik kedua yang kami tuju adalah sebuah Sekolah Dasar yang dijadikan tempat pengungsian. Kegiatan kami tidak berbeda dengan pos sebelumnya. Sebagai titik terakhir hari itu kami mendatangi satu pos di Kecamatan Jangkabuya, masih di Pidie. Alhamdulillah, dua orang perawat dari Puskesmas setempat telah mendirikan posko kesehatan dan tinggal hingga sore hari. Kami sangat bersyukur, akhirnya ada kader kesehatan setempat yang telah bergerak. Kami tidak mengadakan pengobatan. Hanya mengunjungi seorang pengungsi yang berada di sebuah rumah penduduk, dan menjanjikan untuk dapat dirujuk keesokan harinya. Sudah hampir maghrib. Aku hanya teringat ketika menjumpai seorang bapak tua saat pengobatan di SD Kec. Ulim, ia menyampaikan dengan nada haru bahwa mungkin saat itu adalah saat pertama sekaligus terakhir kami bertemu.
Malam hari sekitar pukul 22.00, dengan sebuah perjalanan yang tidak direncanakan sebelumnya, kami bergerak menuju kota Banda Aceh. Ditemani tiga orang kader Kepanduan DPW Sumut yang telah direkrut ACT, kami melaju dalam mobil kijang di tengah kegelapan malam. Lewat tengah malam kami tiba di Lambaro, sekitar 3 km menuju Banda Aceh. Inilah tempat hampir semua relawan dari berbagai daerah berkumpul. Posko-posko berserakan di ruko-ruko yang ada. Mulai dari DPD PKS setempat yang menampung ratusan kader dari berbagai daerah termasuk dari Jakarta yang diberangkatkan dengan Hercules sore harinya, tenda-tenda BSMI yang berada di lapangan samping DPD tempat sekitar seratusan pengungsi berada, posko BAZNAS, PKPU, ACT, dan banyak lagi. Tidak lama berdiam diri, kami meneruskan perjalanan ke RS KESDAM Banda Aceh, satu-satunya RS di kota Banda yang berfungsi saat itu, untuk menemui pimpinan LKC yang sudah berada di sini sejak beberapa hari sebelumnya. Ia adalah seorang spesialis anak yang berangkat bersama rombongan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Depkes. Kembali ke Lambaro, kami melepas lelah di tenda posko PKS di lapangan.
Senin, 3 Januari 2005
Bangun saat subuh, kami melaksanakan sholat berjama’ah di masjid tepat di lapangan. Ba’da subuh, Ust. Zufar Bawazier memberikan kultum. Saat matahari telah bersinar cukup terang, kami mulai menyusuri kota Banda Aceh.
Itulah saat pertama kalinya aku melihat keadaan kota Banda yang rusak berat. Seminggu setelah bencana, Masjid Baiturrahman sudah bersih dari jenazah. Sehingga kami tidak mencium bau mayat. Memang Alloh menjaga masjid ini. Tidak tampak satu kerusakan pun pada masjid. Hanya menara yang berjarak kira-kira 20 meter di depannya yang retak seakan hendak runtuh karena gempa tektonik, dan tempat wudhu tidak bisa digunakan. Masjid ini sudah agak sepi. Mereka yang menempati bagian dalam masjid adalah kawan-kawan FPI. Mereka juga mengadakan apel pagi di depan masjid. Beberapa tenda terletak di samping kanan masjid, namun tidak ada satu pengungsi pun, hanya relawan. Tepat di samping kiri masjid terdapat kompleks Pasar Atjeh yang belum dibersihkan. Puing-puing masih memenuhi jalan sepanjang pasar ini.
Aku tidak mencatat jalan-jalan yang kami lalui. Yang jelas kami meneruskan perjalanan ke arah timur masjid, melewati kompleks ruko di kiri jalan. Satu deretan ruko yang terdiri atas tiga rumah bahkan tampak amblas ke tanah. Sehingga yang telihat hanya mulai lantai dua dan tiganya saja. Mudah-mudahan tidak ada yang terkurung di dalam lantai satu yang masuk ke tanah itu. Kami melewati Plaza Pante Perak, satu-satunya mal terbesar di kota Banda, yang runtuh terkena gempa tektonik. Kami juga melintasi jalanan di depan RSU Zainal Abidin yang saat itu masih belum berfungsi, PLN Kota Banda, sampai daerah Asrama BRIMOB yang terletak di pinggir pantai. Memang kami tidak menemukan mayar berserakan di pinggir jalan, dan jalan-jalan yang kami lalui relatif mudah karena sudah dibersihkan. Sekitar dua jam kami berputar-putar, akhirnya kami memutuskan kembali ke Sigli.
Melewati jalan berliku-liku tajam di Pegunungan Seulawah, memasuki batas dengan Pidie, kami dicegat oleh TNI AD bersenjata. Ereka mengadakan razia dan meminta setiap orang yang berada dalam mobil untuk keluar, dan mereka mencoba menggeledah seisi tubuh untuk mencari adakah barang-barang berbahaya. Rupanya baru terjadi kontak senjata antara GAM dengan TNI di daerah tersebut. Lolos melewati pemeriksaan, kami meluncur menuju posko yang berseberangan dengan DPD. Hari ini kami kembali melakukan pengobatan di Kec. Meureudu, tempat asal Ketua DPC sang navigator kami. Seperti sehari sebelumnya, hanya hit and run di sebuah lokasi panti asuhan yatim-piatu. Hal menggembirakan yang kami temui adalah banyak pos pengungsi yang tidak jadi kami lakukan pengobatan di dalamnya, karena telah terisi oleh Posko Kesehatan lain, khususnya dari Puskesmas setempat. Sepertinya mulai hari Senin ini, Dinas Kesehatan telah mengerahkan perangkat-perangkat Puskesmasnya untuk aktif bergerak di pos-pos pengungsian. Alhamdulillah. Malamnya kami kembali ke Posko Utama ACT di kota Lhokseumawe.
Perjalananku sejauh ini cukup menarik, karena ditemani orang-orang yang “unik”. Ada seorang fotografer khas “peliputan konflik dan bencana” juara pertama lomba foto Suara Surabaya. Ia telah menemani perjalanan ACT saat konflik di Ambon, gempa Nabire, dan tempat-tempat lain. Sehingga Akhi satu ini bisa bercerita pengalamannya di tengah-tengah hujan peluru kota Ambon, gempa berulang di Nabire, informasi dari rekan-rekan wartawan, dan bagaimana cara membedakan senapan terisi peluru karet atau tajam. Lainnya adalah beberapa orang pemuda kepanduan terlatih dari DPW Sumut. Kemudian markas kami yang cukup canggih, dilengkapi dua perangkat komputer lengkap, peta daerah yang cukup mendetil, penguasaan navigasi lapangan, perangkat komunikasi, dan transportasi “cepat-tanggap” yang menunjang.
Selasa, 4 Januari 2005
Kali ini kami menyusuri daerah sekitar Lhokseumawe, yakni menuju Lok Sukan, Aceh Utara. Kebetulan tim kami telah diperkuat oleh dua orang dokter spesialis anak dari IDAI yang tiba dari RS KESDAM malam sebelumnya. Kami menuju pos pengungsi yang terkonsentrasi di Kec. Seunuddon. Lokasi ini berada tepat di depan Puskesmas dan beberapa kantor instansi pemerintahan lain, sehingga pendataan dan bantuan cukup baik. Dokter-dokter anak kami sempat membantu seorang balita yang menderita diare akut dengan dehidrasi sedang-berat. Alhamdulillah, akhirnya infus bisa terpasang. Setelah memberikan bantuan dari IDAI beberapa dus sarung, pembalut wanita, dan pakaian lain, kami menuju pantai Seunuddon.
Di sepanjang kiri-kanan jalan, banyak ditemui bendera merah-putih terpasang. Sepertinya ini adalah hasil ‘pemaksaan’ TNI kepada penduduk setempat untuk memasang bendera. Meneruskan perjalanan, Masya Alloh, daerah penduduk yang berada di sekitar pantai ini memang rusak dan sepi. Kami masih mencium bau busuk di beberapa tempat, namun tidak melihat adanya mayat. Jalan menuju daerah ini memang dijaga marinir, tetapi kami diijinkan lewat. Saat menyentuh pasir pantai, kawan navigator dari kepanduan menjelaskan bahwa ini bukanlah pasir pantai, tetapi pasir yang berasal dari laut dalam. Hal unik lain yang kami temukan adalah banyaknya kucing lucu berkeliaran di tempat ini. Tampaknya mereka kehilangan majikannya. Dan… jangan-jangan mereka makan mayat manusia selama ini?
Hingga menjelang maghrib, kami meninggalkan tempat ini. Namun sebelum pulang, seorang pria berkendaraan motor meminta kami menuju rumahnya, untuk menjemput seorang kerabatnya yang terkena musibah dan saat ini tidak sadarkan diri. Sampai di rumahnya, kami agak sulit mendiagnosis penyakit sesungguhnya yang diderita, antara tetanus tidak khas dengan stroke hemoragik. Yang jelas ditemukan adalah penurunan kesadaran dan ileus paralitik. Ini adalah kegawatan. Ambulans segera meluncur membawa pasien menuju RS Cut Meutia Lhokseumawe yang berfungsi penuh. Sayangnya sesampai di IGD, tidak satu pun dokter nampak, baik triase, apalagi spesialisnya. Akhirnya kami merujuk untuk pemeriksaan radiologi, dan setiba dokter triase, seorang wanita, kami pamit dari IGD RS. Kabar yang kami terima keesokan harinya, pasien laki-laki berusia sekitar 60 tahun ini meninggal dunia dini hari. Tidak jelas apa diagnosisnya.
Rabu, 5 Januari 2005
Tidak banyak yang kami lakukan hari ini. Pagi hari hanya mengunjungi lokasi pengungsi yang terpusat di pusat Kota Lhokseumawe, yakni Lapangan Hiraq. Tampak satu Posko Kesehatan melayani pasien mengantri yang umumnya terdiri dari wanita dan anak-anak. Dua dokter anak kami membantu melayani beberapa puluh pasien anak. Posko ini dibuka oleh Dinas Kesehatan setempat. Kondisi pengungsi juga sudah berangsur-angsur kembali ke daerahnya masing-masing, sehingga lapangan tidak sepadat hari-hari sebelumnya. Dua hari sesudahnya lapangan ini sudah bersih dari pengungsi. Kami hanya mendapatkan fakta dari seorang pengungsi yang mengeluh ketika kerabatnya dibawa ke RS Militer setempat, ia harus menebus obat dengan sejumlah uang. Padahal kebijakan saat itu di seluruh Aceh (seharusnya), semua pengungsi mendapatkan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di RS. Ini yang kami jumpai di RS Sigli dan Cut Meutia. Seharusnya RS Militer memberlakukan hal serupa. Berarti masih ada oknum nakal yang berkeliaran.
Sampai malam hari kami tidak melakukan banyak aktivitas berarti. Hanya makan siang, makan malam, dan beristirahat di kota Lhokseumawe.
Kamis, 6 Januari 2005
Kami kembali bergerak! Paginya kami menuju lokasi masih di sekitar Lhokseumawe, tepatnya di sebuah penjara tidak terpakai. Kami bertemu dengan tim fresh graduated doctors dari Universitas Trisakti Jakarta yang siap mengadakan pengobatan di tempat itu. Kami pun meneruskan perjalanan ke Kabupaten Bireuen, siap untuk mengadakan pengobatan untuk pertama kalinya di daerah ini. Sesampai di Posko ACT di Kec. Matanggleumpang Dua, kami meminta data-data pos pengungsi dari DPD PKS setempat, dan meminta salah seorang kader untuk menjadi navigator perjalanan menuju kecamatan terujung sebelum Pidie. Setibanya di sebuah posko yang cukup besar, kami turun dan mendapati Posko Kesehatan terbesar yang pernah kami temui untuk ukuran sebuah pos pengungsi. Di posko ini, sudah dibagi-bagi poli untuk dewasa dan anak-anak. Saat itu relawan kesehatan yang mengisi berasal (tampaknya) dari Taiwan. Seorang laki-laki dan wanita menghibur pasien yang sedang mengantri giliran dengan lagu-lagu berbahasa Mandarin. Mereka membawa penerjemah untuk mengadakan pengobatan tentunya. Beberapa hari kemudian, aku melihat relawan kesehatan dari Palang Merah Prancis. Posko ini mungkin menjadi favorit relawan asing.
Setelah fotografer kami mengambil beberapa foto, kami menuju pos pengungsi yang tidak terisi tim medis di sebuah lumbung padi tidak terpakai. Kami melayani sekitar 80 pasien sore itu. Dilakukan rujukan ke RS Sigli terhadap pasien anak laki-laki dengan abses terinfeksi di lengan dan tangannya, dan anak perempuan dengan kelenjar getah bening leher membentuk abses.
Malamnya kami kembali ke Posko.
Jum’at, 7 Januari 2005
Hari ini kami sangat santai. Kami merasa nanggung jika harus bepergian, karena ingin melaksanakan sholat Jum’at di masjid. Kami hanya menginventaris obat yang tersisa, dan membuat form resep baru yang sudah habis, juga mendata penyakit pasien dalam pengobatan-pengobatan sebelumnya.
Namun kami punya kisah menarik malam harinya. Relawan kami yang di awal ceritaku ini meninggalkan istrinya tengah hamil tua, melahirkan dengan selamat lewat tengah malam di Puskesmas Manggarai, Jakarta Selatan. Sang suami yang berada ribuan kilometer jauhnya membimbing sang istri. Untungnya pulsa SIMPATI TELKOMSEL digratiskan selama beberapa hari di kawasan Aceh ini, menelepon kemanapun. MENTARI SATELINDO hanya memberikan diskon hingga 75% sampai akhir Januari 2005.
Ternyata bukan relawan kami saja yang mendapatkan buah hati baru saat berada di sini. Seorang anggota Kepanduan yang menjadi relawan ACT juga dikaruniai seorang bayi wanita pada Selasa malam. Dan ia baru mengetahui bahwa istrinya telah melahirkan pada hari Jum’atnya, dengan telepon genggam yang dipinjamkan kawannya, karena Akh Kepanduan DPW Sumut ini tidak memiliki ponsel. Sama-sama anak kedua, sama-sama anak perempuan. Subhanalloh, alhamdulillah. Mereka adalah pasangan da’I-da’iyah yang saling merelakan kepergian sang suami untuk tujuan da’wah. Pelajaran sangat berharga bagiku.
Sabtu, 8 Januari 2005
Mengikuti rombongan ACT, kami singgah sebentar di Kota Sigli, dan meneruskan perjalanan hingga Banda Aceh. Tidak ada aksi sosial yang kami lakukan. Bagiku hanya mengunjungi Kota Banda untuk kedua kalinya. Tidak ada yang istimewa. Namun aku senang bisa bertemu kawan-kawan sejawatku dari FKUI angkatan ’98 yang pergi bersama PMI, di jalanan kota Lambaro. Malamnya menginap di Posko DD di Banda Aceh.
Ahad, 9 Januari 2005
Kembali ke Lhokseumawe. Siap-siap kembali ke Jakarta keesokan harinya dengan pesawat dari Medan. Maka aku dan seorang kawan kepanduan yang rumahnya di Medan menempuh perjalanan ke Medan menggunaan minibus L-300 carteran. Sampai malam hari di Medan, aku menginap di rumah. Keesokannya aku bisa melihat anak keduanya yang baru lahir Selasa lalu.
Senin, 10 Januari 2005
Mengambil tiket yang dititipkan pada salah seorang aleg DPRD Prov. Sumut. Pengalaman bisa mengunjungi kantor Fraksi PKS DPRD Sumut, dan bertemu para ikhwah pejuang. Menuju Bandara Polonia, terbang dengan Adam Air, sampai di Soekarno-Hatta pukul 14 lewat. Alhamdulillah.
Rancananya tim dokter LKC akan diteruskan oleh dr. Yahmin Setiawan.
Beberapa Pesan untuk Perjalanan ke Depan
Bisa dikatakan fase emergency telah terlalui. Kini kita memasuki fase recovery di NAD. Butuh waktu cukup lama untuk fase ini. Masalah koordinasi dan komunikasi antar elemen bantuan di Aceh belum terlaksana baik sampai saat ini. Satu hal yang menjadi perhatian kami adalah terpusatnya para relawan di kota Banda Aceh dan sekitarnya (Kab. Aceh Besar). Padahal para pengungsi justru menyebar keluar Kota Banda, khususnya di Pidie dan Bireuen. Sehingga diharapkan para lembaga baik pemerintah maupun NGO bisa melakukan pemerataan bantuan. Kami dari LKC-ACT DD REPUBLIKA bersyukur memiliki kendaraan sendiri, yang sangat memudahkan dalam menjelajahi ratusan kilometer setiap harinya, sebagai mobile medical unit. Kami pun mengisi kekosongan daerah-daerah yang tidak terjelajah oleh kawan-kawan di Banda Aceh, bekerja sama dengan ikhwah setempat.
PKS memegang peranan penting dalam hal ini. Jaringan PKS tersebar sangat rapi dan meratanya di seluruh daerah NAD, mulai dari Aceh Timur, Utara, sampai Aceh Besar. Dalam sebuah kolom khusus Harian Serambi Jum’at lalu, dijelaskan bahwa banyak lembaga yang mengirimkan bantuannya ke Aceh akhirnya menyalurkan bantuannya untuk sampai langsung ke tangan masyarakat lewat PKS. Jika melintasi jalan lintas Sumatra mulai dari Medan sampai Banda Aceh, akan terlihat jenis kendaraan terbanyak yang lewat adalah yang menggunakan bendera PKS. Adanya kader-kader yang asli daerah setempat juga memudahkan komunikasi denagn penduduk.
Kini tinggal disusun langkah jangka panjang ke depan. Khusus untuk masalah kesehatan yang menjadi profesi saya, mengusulkan untuk mengaktifkan kembali semua infrastruktur kesehatan yang ada, dan alhamdulillah pada kenyataan di lapangan berangsur-angsur mulai pulih. Upaya pencegahan wabah masih harus menjadi prioritas pada saat ini, sampai fase kritis terlalui.
Di masyarakat Aceh sendiri, lebih aman dikenali oleh GAM sebagai PKS, dibandingkan sebagai pro-RI. GAM tidak akan menyerang PKS, karena mereka tahu siapa PKS. Ini adalah keunggulan tersendiri.
Wallahu a’lam.
Penulis adalah Kader DPC Cempaka Putih, saat ini tinggal di Serpong, Tangerang. Memiliki blog pribadi di http://arifianto.blogspot.com dan administrator pada website http://www.asysyifaa.uni.cc
Rabu, 12 Januari 2005
Sabtu, 20 November 2004
Rumitnya Jadi Dokter di Indonesia…
Dokter pelit bicara? Terlalu sibuk dan menerima pasien terlalu banyak?
Seorang dokter mengajak kita menggunakan teropong yang lebih jernih dengan perspektif yang lebih luas. Mari mulai dengan sekolah dokter saja dulu. Seorang profesional pada usia 31 tahun mungkin sudah jadi lawyer sukses, manager di posisi kunci, atau konsultan di international firm yang jam bicaranya dibayar sudah dalam hitungan ratusan dolar. Diperlukan waktu 6 hinnga 7 tahun untuk menamatkan sekolah dokter. Ditambah dengan wajib kerja sosial untuk dokter umum sebelum buka praktik sendiri.
Kalau dia mau melanjutkan ke spesialis, perlu biaya tingi dan mungkin akan selesai dalam waktu 4 sampai 6 tahun. Rata-rata waktu yang dibuang untuk ‘membeli’ ilmu spesialis adalah 12 tahun.
Berapa tarif bicara ketika ia lulus? Bergantung tempatnya praktik. Dokter umum paling-paling menetapkan Rp20.000 hingga Rp25.000, bahkan hanya Rp5.000 di klinik-klinik kecil di pinggiran kota atau kota kecil. Untuk spesialis, sekitar Rp40.000 hingga termahal Rp250.000 per pasien untuk suatu konsultasi yang memakan waktu bervariasi dari 5 menit hingga 1 jam bicara. Konon, ini adalah tarif termurah di Asia. Belum lagi bila Anda memilih jadi dokter spesialis tertentu yang membutuhkan waktu pemeriksaan relatif lama, mendalam, dan menghadapi penyakit berisiko tinggi seperti spesialis penyakit dalam, jantung, atau saraf. Tarifnya akan sama saja dengan spesialis lain yang bersifat lebih ‘enteng’ dalam hal risiko namun ‘basah’ dalam hal jumlah pasien yang membutuhkan seperti dokter spesialis kulit kosmetik. Dokter penyakit dalam, yang sekolahnya lebih lama, ilmunya lebih kompleks, serta memerlukan waktu lebih lama untuk memeriksa, akan sama saja dihargai dengan dokter spesialis kulit kosmetik atau dokter gigi spesialis yang mendapat honor dua sekaligus: konsultasi dan tindakan.
Pendek cerita, bila seorang dokter spesialis hendak menampung honor konsultasi yang memadai, dia harus banyak menerima konsultasi. Tidak mungkin ia praktik 24 jam sehari. “Menerima 6 sampai 7 pasien saja sudah lelah bukan main,” ujar seorang dokter spesialis penyakit dalam. Dapat dimaklumi bila ada oknum dokter yang seolah-olah dikejar setoran dan kemudian kehilangan kontak intim dengan pasiennya.
Namun, minimnya waktu untuk berkomunikasi bukan satu-satunya masalah. Mahalnya harga obat pun ditudingkan kepada dokter (konon 245% dari harga obat adalah untuk komisi dokter) dan harga obat di Indonesia dihitung tertinggi di Asia Tenggara. Namun, berapa pun mahalnya, konsumen tetap menebusnya. Sementara di sisi lain, proses panjang untuk mendapatkan profesi dokter jarang dimaklumi dan tarif mereka rentan kritikan.
Padahal, yang juga perlu dikritisi adalah regulasi yang membuat harga obat melangit. Jarang ada pihak yang menyadari mengapa sampai terjadi situasi yang keruh ini. “Regulasi pemerintah membiarkan perusahaan farmasi bebas memproduksi berbagai jenis obat membuat setiap perusahaan bersaing ketat untuk setiap brand. Usaha mereka tidak akan jalan tanpa usaha-usaha komisi kepada siapa lagi kalau bukan kepada dokter yang meresepkan obat,” tambah dokter di atas.
Sebab, beda dengan obat bebas (OTC), larangan beriklan bagi obat-obat yang diresepkan membuat para pemasar mengincar dokter sebagai media untuk memperkenalkan brand mereka. Untuk satu jenis antibiotik saja, jumlah brand yang beredar sampai belasan. Beda dengan regulasi di negara seperti Australia dan Belanda, misalnya, yang hanya memberikan izin kepada satu perusahaan (satu brand) untuk memproduksi satu jenis obat sehingga persaingan tidak sehat dengan memberi komisi kepada dokter tidak perlu terjadi.
Padahal, masalah klasik yang masih berlaku di masyarakat adalah tetap memiliki harapan tinggi terhadap profesi ini. Dokter diharapkan bisa menjadi guru, mitra, sekaligus pelindung konsumen dari penyakit dan berbagai risiko medis. Dokter adalah manusia biasa, bukan dewa, yang juga punya keterbatasan sebagaimana manusia lain. Mereka tidak kebal terhadap godaan-godaan untuk memenuhi harapan lingkungannya. “Apakah masyarakat bisa menerima bila dokter naik bus? Bisa-bisa mereka dikira tidak pintar sehingga tidak laku.”
Diketik ulang dari artikel dalam rubrik “Healthy Trend” Majalah HEALTHY LIFE edisi 5/III, Mei 2004, dengan ijin tertulis dari pihak redaksi majalah Healthy Life via e-mail.
Seorang dokter mengajak kita menggunakan teropong yang lebih jernih dengan perspektif yang lebih luas. Mari mulai dengan sekolah dokter saja dulu. Seorang profesional pada usia 31 tahun mungkin sudah jadi lawyer sukses, manager di posisi kunci, atau konsultan di international firm yang jam bicaranya dibayar sudah dalam hitungan ratusan dolar. Diperlukan waktu 6 hinnga 7 tahun untuk menamatkan sekolah dokter. Ditambah dengan wajib kerja sosial untuk dokter umum sebelum buka praktik sendiri.
Kalau dia mau melanjutkan ke spesialis, perlu biaya tingi dan mungkin akan selesai dalam waktu 4 sampai 6 tahun. Rata-rata waktu yang dibuang untuk ‘membeli’ ilmu spesialis adalah 12 tahun.
Berapa tarif bicara ketika ia lulus? Bergantung tempatnya praktik. Dokter umum paling-paling menetapkan Rp20.000 hingga Rp25.000, bahkan hanya Rp5.000 di klinik-klinik kecil di pinggiran kota atau kota kecil. Untuk spesialis, sekitar Rp40.000 hingga termahal Rp250.000 per pasien untuk suatu konsultasi yang memakan waktu bervariasi dari 5 menit hingga 1 jam bicara. Konon, ini adalah tarif termurah di Asia. Belum lagi bila Anda memilih jadi dokter spesialis tertentu yang membutuhkan waktu pemeriksaan relatif lama, mendalam, dan menghadapi penyakit berisiko tinggi seperti spesialis penyakit dalam, jantung, atau saraf. Tarifnya akan sama saja dengan spesialis lain yang bersifat lebih ‘enteng’ dalam hal risiko namun ‘basah’ dalam hal jumlah pasien yang membutuhkan seperti dokter spesialis kulit kosmetik. Dokter penyakit dalam, yang sekolahnya lebih lama, ilmunya lebih kompleks, serta memerlukan waktu lebih lama untuk memeriksa, akan sama saja dihargai dengan dokter spesialis kulit kosmetik atau dokter gigi spesialis yang mendapat honor dua sekaligus: konsultasi dan tindakan.
Pendek cerita, bila seorang dokter spesialis hendak menampung honor konsultasi yang memadai, dia harus banyak menerima konsultasi. Tidak mungkin ia praktik 24 jam sehari. “Menerima 6 sampai 7 pasien saja sudah lelah bukan main,” ujar seorang dokter spesialis penyakit dalam. Dapat dimaklumi bila ada oknum dokter yang seolah-olah dikejar setoran dan kemudian kehilangan kontak intim dengan pasiennya.
Namun, minimnya waktu untuk berkomunikasi bukan satu-satunya masalah. Mahalnya harga obat pun ditudingkan kepada dokter (konon 245% dari harga obat adalah untuk komisi dokter) dan harga obat di Indonesia dihitung tertinggi di Asia Tenggara. Namun, berapa pun mahalnya, konsumen tetap menebusnya. Sementara di sisi lain, proses panjang untuk mendapatkan profesi dokter jarang dimaklumi dan tarif mereka rentan kritikan.
Padahal, yang juga perlu dikritisi adalah regulasi yang membuat harga obat melangit. Jarang ada pihak yang menyadari mengapa sampai terjadi situasi yang keruh ini. “Regulasi pemerintah membiarkan perusahaan farmasi bebas memproduksi berbagai jenis obat membuat setiap perusahaan bersaing ketat untuk setiap brand. Usaha mereka tidak akan jalan tanpa usaha-usaha komisi kepada siapa lagi kalau bukan kepada dokter yang meresepkan obat,” tambah dokter di atas.
Sebab, beda dengan obat bebas (OTC), larangan beriklan bagi obat-obat yang diresepkan membuat para pemasar mengincar dokter sebagai media untuk memperkenalkan brand mereka. Untuk satu jenis antibiotik saja, jumlah brand yang beredar sampai belasan. Beda dengan regulasi di negara seperti Australia dan Belanda, misalnya, yang hanya memberikan izin kepada satu perusahaan (satu brand) untuk memproduksi satu jenis obat sehingga persaingan tidak sehat dengan memberi komisi kepada dokter tidak perlu terjadi.
Padahal, masalah klasik yang masih berlaku di masyarakat adalah tetap memiliki harapan tinggi terhadap profesi ini. Dokter diharapkan bisa menjadi guru, mitra, sekaligus pelindung konsumen dari penyakit dan berbagai risiko medis. Dokter adalah manusia biasa, bukan dewa, yang juga punya keterbatasan sebagaimana manusia lain. Mereka tidak kebal terhadap godaan-godaan untuk memenuhi harapan lingkungannya. “Apakah masyarakat bisa menerima bila dokter naik bus? Bisa-bisa mereka dikira tidak pintar sehingga tidak laku.”
Diketik ulang dari artikel dalam rubrik “Healthy Trend” Majalah HEALTHY LIFE edisi 5/III, Mei 2004, dengan ijin tertulis dari pihak redaksi majalah Healthy Life via e-mail.
Selasa, 02 November 2004
2010: The Odyssey Continues
Bagi yang pernah membuka blog-ku sebelumnya di http://spaceodyssey.blogspot.com (blog ini sudah tidak pernah di-update lagi sejak berbulan-bulan lalu), mungkin bisa menebak arah pembahasan judul di atas. Ini adalah kelanjutan atau sekuel dari film arahan Stanley Kubrick, “2001: A Space Odyssey”. Sebuah film klasik produksi MGM tahun 195.. Film yang sangat menakjubkan dalam pandanganku, karena aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, Amerika sudah mampu membuat film dengan teknologi seperti ini pada tahun lima puluhan. Sedikit menceritakan, film yang diangkat dari novel karya Arthur C. Clarke ini berkisah tentang perjalanan pesawat luar angkasa “Discovery” menuju planet Jupiter. Pengarang cerita ini membayangkan (waktu itu) pada tahun 2001, manusia sudah mampu menerbangkan pesawat berawak manusia ke planet Jupiter. Sedangkan kita tahu sendiri, saat ini untuk mendarat di Mars saja, NASA hanya mampu menurunkan robot dalam pesawat tanpa awak. Sedangkan pesawat tanpa awak “Voyager” yang diluncurkan 40-an tahun lalu, kalau tidak salah, sudah melewati Jupiter. Inilah impian manusia sejak puluhan tahun lalu.
Film “2001: A Space Odyssey” sudah mampu memperlihatkan efek spesial visualisasi tokoh utama cerita yang melakukan jogging dalam 360 derajat ruang gravitasi. Aku membayangkan tekniknya mungkin dibuat dengan ruang berputar seperti “roda sangkar tikus” (rat race). Hanya saja kameranya dibuat berputar mengikuti si tokoh. Bisa membayangkan, kan? Imajinasi-imajinasi fiksi ilmiah dalam film ini antara lain perjalanan ruang angkasa yang sudah dibuat komersial pada masa itu, stasiun ruang angkasa yang menjadi pemberhentian sementara para penumpang yang sedang mengadakan perjalanan antar planet, komunikasi antar planet melalui telepon dan layar monitor yang memvisualisasikan orang-orang yang bercakap-cakap, dan last but not least: artificial intelligence.
Tokoh utama dalam cerita fiksi ini memang bukan sekedar sang awak yang salah satunya bernama David Bowman, diperankan oleh Keir Dullea, yang akhirnya diceritakan menghilang dalam perjalanan dengan kata-kata terakhirnya: “My God, it’s full of stars”. Tapi juga superkomputer dengan kecerdasan buatan yang mengendalikan seluruh sistem dan perjalanan “Discovery”, bernama: HAL-9000. O iya, sebelum lupa, karena perjalanan dari bumi menuju Jupiter yang memakan waktu dua tahunan, dan keterbatasan cadangan energi dan oksigen dalam pesawat, maka seluruh awaknya dibuat mengalami hibernasi, dan akan dibangunkan oleh HAL-9000 saat sudah mendekati Jupiter. Tokoh utama adalah dua orang yang dibangunkan terlebih dahulu. Sedangkan tiga awak lainnya mengalami pemutusan sistem kehidupan oleh HAL-9000 saat mereka dalam hibernasi. Satu hal menarik lagi dalam cerita ini: Arthur C. Clarke membayangkan suatu saat ini akan ditemukan teknologi untuk membuat makhluk hidup seperti manusia mengalami hibernasi buatan. Yakni dengan menekan serendah-rendahnya seluruh metabolisme, namun seluruh sistem vital tubuh masih dalam kendali.
HAL-9000 menjadi tokoh cerita yang sangat penting, karena artificial intelligence-nya digambarkan memiliki perasaan juga. Akhirnya HAL jugalah yang membunuh hampir seluruh awak manusia.
Film ini masuk dalam posisi teratas top ten film science fiction yang digemari oleh para ilmuwan, dalam sebuah polling di Inggris tahun ini. Posisi kedua adalah film Blade Runner yang dibintangi Harrison Ford (aku belum pernah menontonnya).
Nah, itu tadi “2001: A Space Odyssey”. Sedangkan “2010: The Odyssey Continues”, atau yang ada yang menuliskan juga “2010: The Year We Make Contact”, dibuat beberapa dekade sesudahnya, yakni pada tahun 1984. Film ini menceritakan perjalanan pesawat Rusia (di film ini masih disebut Uni Soviet, karena mereka belum membayangkan USSR akan pecah pada tahun 1991, dan tidak lagi menjadi negara adidaya menyamai USA) “Leonov” yang membawa tiga awak astronot: si pemimpin program perjalanan Discovery sembilan tahun sebelumnya, pencipta HAL-9000, dan seorang teknisi yang memahami seluk beluk Discovery yang digambarkan hilang dalam lintasan dekat Jupiter pada tahun 2001.
Misi pasukan ini adalah menemukan Discovery, mengaktifkan kembali HAL-9000 yang sempat dimatikan oleh astronot David Bowman pada perjalanan tahun 2001, dan mencari tahu sebab-sebab kejanggalan yang terjadi. O iya, satu faktor cerita yang masih menghubungkan dua sekuel ini adalah sebuah materi menyerupai batu hitam bernama monolith. Mengenai hal ini, aku tidak bercerita lebih dalam.
Pada akhirnya. Penonton bisa menyimpulkan sisi-sisi perasaan yang dimiliki artificial intelligence bisa sangat menyerupai manusia. Ketika akan dimatikan fungsi dan sistemnya, HAL dan SAL (satu komputer lagi yang dimiliki Dr. Chandra, pembuat HAL-9000, di ruang kantornya), bisa mengajukan pertanyaan, “Dr. Chandra, will I dream?”.
Inilah satu impian manusia yang masih terus dikembangkan hingga saat ini, yakni menciptakan kecerdasan buatan yang bisa menyamai pikiran manusia, lengkap dengan respon dan perasaannya. Dalam film buatan tahun 2001, lagi-lagi diinspirasikan oleh mendiang Stanley Kubrick sang sutradara Space Odyssey yang keburu meninggal, Steven Spielberg menyutradarai “AI: Artificial Intelligence”. Film yang menceritakan masa depan saat manusia mampu menciptakan robot-robot dengan kecerdasan buatan, bahkan memiliki bentuk fisik dan perasaan yang sangat mirip dengan manusia. Tokoh utamanya Haley Joel Osment yang terkenal pada awalnya melalui “The Sixth Sense”, adalah robot berwujud anak berumur 6-7 tahun, tinggal dalam sebuah keluarga pasangan yang telah kehilangan anak laki-laki satunya. Film ini akhirnya menyimpulkan “his love is real, but he is not”. Dan jika berbicara mengenai robot, aku juga teringat dengan film “The Animatrix”, yang menceritakan di masa depan bumi akan diisi oleh robot-robot berdampingan dengan manusia.
Tidak habis-habisnya memang membicarakan kecerdasan buatan. Dan jika Anda mengunjungi situs AI, di http://www.aimovie.com, pengunjung akan menikmati chatting dengan chatbot yang menggunakan artificial intelligence language yang sudah bisa dikembangkan saat ini, yaitu ALICE.
Film “2001: A Space Odyssey” sudah mampu memperlihatkan efek spesial visualisasi tokoh utama cerita yang melakukan jogging dalam 360 derajat ruang gravitasi. Aku membayangkan tekniknya mungkin dibuat dengan ruang berputar seperti “roda sangkar tikus” (rat race). Hanya saja kameranya dibuat berputar mengikuti si tokoh. Bisa membayangkan, kan? Imajinasi-imajinasi fiksi ilmiah dalam film ini antara lain perjalanan ruang angkasa yang sudah dibuat komersial pada masa itu, stasiun ruang angkasa yang menjadi pemberhentian sementara para penumpang yang sedang mengadakan perjalanan antar planet, komunikasi antar planet melalui telepon dan layar monitor yang memvisualisasikan orang-orang yang bercakap-cakap, dan last but not least: artificial intelligence.
Tokoh utama dalam cerita fiksi ini memang bukan sekedar sang awak yang salah satunya bernama David Bowman, diperankan oleh Keir Dullea, yang akhirnya diceritakan menghilang dalam perjalanan dengan kata-kata terakhirnya: “My God, it’s full of stars”. Tapi juga superkomputer dengan kecerdasan buatan yang mengendalikan seluruh sistem dan perjalanan “Discovery”, bernama: HAL-9000. O iya, sebelum lupa, karena perjalanan dari bumi menuju Jupiter yang memakan waktu dua tahunan, dan keterbatasan cadangan energi dan oksigen dalam pesawat, maka seluruh awaknya dibuat mengalami hibernasi, dan akan dibangunkan oleh HAL-9000 saat sudah mendekati Jupiter. Tokoh utama adalah dua orang yang dibangunkan terlebih dahulu. Sedangkan tiga awak lainnya mengalami pemutusan sistem kehidupan oleh HAL-9000 saat mereka dalam hibernasi. Satu hal menarik lagi dalam cerita ini: Arthur C. Clarke membayangkan suatu saat ini akan ditemukan teknologi untuk membuat makhluk hidup seperti manusia mengalami hibernasi buatan. Yakni dengan menekan serendah-rendahnya seluruh metabolisme, namun seluruh sistem vital tubuh masih dalam kendali.
HAL-9000 menjadi tokoh cerita yang sangat penting, karena artificial intelligence-nya digambarkan memiliki perasaan juga. Akhirnya HAL jugalah yang membunuh hampir seluruh awak manusia.
Film ini masuk dalam posisi teratas top ten film science fiction yang digemari oleh para ilmuwan, dalam sebuah polling di Inggris tahun ini. Posisi kedua adalah film Blade Runner yang dibintangi Harrison Ford (aku belum pernah menontonnya).
Nah, itu tadi “2001: A Space Odyssey”. Sedangkan “2010: The Odyssey Continues”, atau yang ada yang menuliskan juga “2010: The Year We Make Contact”, dibuat beberapa dekade sesudahnya, yakni pada tahun 1984. Film ini menceritakan perjalanan pesawat Rusia (di film ini masih disebut Uni Soviet, karena mereka belum membayangkan USSR akan pecah pada tahun 1991, dan tidak lagi menjadi negara adidaya menyamai USA) “Leonov” yang membawa tiga awak astronot: si pemimpin program perjalanan Discovery sembilan tahun sebelumnya, pencipta HAL-9000, dan seorang teknisi yang memahami seluk beluk Discovery yang digambarkan hilang dalam lintasan dekat Jupiter pada tahun 2001.
Misi pasukan ini adalah menemukan Discovery, mengaktifkan kembali HAL-9000 yang sempat dimatikan oleh astronot David Bowman pada perjalanan tahun 2001, dan mencari tahu sebab-sebab kejanggalan yang terjadi. O iya, satu faktor cerita yang masih menghubungkan dua sekuel ini adalah sebuah materi menyerupai batu hitam bernama monolith. Mengenai hal ini, aku tidak bercerita lebih dalam.
Pada akhirnya. Penonton bisa menyimpulkan sisi-sisi perasaan yang dimiliki artificial intelligence bisa sangat menyerupai manusia. Ketika akan dimatikan fungsi dan sistemnya, HAL dan SAL (satu komputer lagi yang dimiliki Dr. Chandra, pembuat HAL-9000, di ruang kantornya), bisa mengajukan pertanyaan, “Dr. Chandra, will I dream?”.
Inilah satu impian manusia yang masih terus dikembangkan hingga saat ini, yakni menciptakan kecerdasan buatan yang bisa menyamai pikiran manusia, lengkap dengan respon dan perasaannya. Dalam film buatan tahun 2001, lagi-lagi diinspirasikan oleh mendiang Stanley Kubrick sang sutradara Space Odyssey yang keburu meninggal, Steven Spielberg menyutradarai “AI: Artificial Intelligence”. Film yang menceritakan masa depan saat manusia mampu menciptakan robot-robot dengan kecerdasan buatan, bahkan memiliki bentuk fisik dan perasaan yang sangat mirip dengan manusia. Tokoh utamanya Haley Joel Osment yang terkenal pada awalnya melalui “The Sixth Sense”, adalah robot berwujud anak berumur 6-7 tahun, tinggal dalam sebuah keluarga pasangan yang telah kehilangan anak laki-laki satunya. Film ini akhirnya menyimpulkan “his love is real, but he is not”. Dan jika berbicara mengenai robot, aku juga teringat dengan film “The Animatrix”, yang menceritakan di masa depan bumi akan diisi oleh robot-robot berdampingan dengan manusia.
Tidak habis-habisnya memang membicarakan kecerdasan buatan. Dan jika Anda mengunjungi situs AI, di http://www.aimovie.com, pengunjung akan menikmati chatting dengan chatbot yang menggunakan artificial intelligence language yang sudah bisa dikembangkan saat ini, yaitu ALICE.
Kamis, 28 Oktober 2004
Nano teknologi: Teknologi Terkini Menyambut Masa Depan
Inilah judul buku yang aku beli seminggu yang lalu. Teknologi nano atau nanotechnology memang telah menarik perhatianku sejak lama. Awalnya aku pernah membaca sekilas artikel mengenai hal ini dalam majalah Scientific American edisi spesial tahun 2001, kalau tidak salah. Michael Crichton juga mendasari teknologi ini sebagai cerita utama dalam novel terbarunya Prey, yang belum sempat aku baca.
Aku memang memiliki ketertarikan khusus terhadap fisika, dan teknologi yang berkaitan dengannya. Ada beberapa buku yang menjadi koleksi perpustakaanku, seperti tiga buku karangan Stephen Hawking, buku-buku mengenai relativitas, teori kuantum, Chaos Theory (salah satu yang mendasari ide Jurassic Park, selain masalah DNA), sampai astronomi.
Dalam satuan, satu nano sama dengan sepuluh pangkat minus sembilan. Satu nanometer sama dengan sepersatu milyar meter, dan satu nanodetik sama dengan sepersatu milyar detik.
Nanotechnology adalah teknologi yang mengembangkan dan memanfaatkan semua yang berhasil dipelajari dalam nanoscience. Ilmu nano ini mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan materi berukuran 0,1 nm sampai 100 nm.
Lalu apa kelebihan nano teknlogi ini? Well, tanpa perlu menjelaskan panjang lebar mengenai definisi atom, molekul, susunan dan strukturnya, juga bagaimana teknologi mampu membaca serta memanipulasi susunan materi super kecil ini (hey, ini bukan resensi buku lho. Find the basic science yourself, from the articles, books, or the internet!), komputer yang bisa dibuat berdasarkan teknologi ini memiliki ukuran sangat kecil, dengan menggunakan molekul-molekul DNA dan enzim-enzimnya dalam satu tetes air saja sebagai sarana input, output, software, dan hardware. Coba cari informasi mengenai hal ini menggunakan keyword “the smallest biological computing device” di Google, jika Anda sedang online. Komputer ini juga memiliki kecepatan 100 ribu kali lebih cepat dari komputer konvensional tercanggih saat ini.
Dengan nanotechnology: mampu diciptakan pakaian yang dapat menolak molekul pengotor pakaian; bisa mengubah grafit menjadi berlian; dapat terbang tanpa menggunakan alat bantuan (karena terdapat atom-atom kasat mata yang menopang tubuh, dan bisa dikendalikan sesuai keinginan kita); hologram di mana-mana; penyakit disembuhkan dengan mengirimkan robot nano ke dalam jaringan tubuh dan mencari sumber penyakit, untuk menghancurkannya; kulit senantiasa awet muda karena molekul-molekul kulit senantiasa diatur ulang (rearranged); kursi yang diduduki secara otomatis menyesuaikan bentuk tubuh kita; bisa berjalan-jalan ke planet-planet lain, dan lain-lain, dan lain-dan lain.
Kuncinya adalah karena teknologi mampu memanipulasi atom dan molekul.
And the father of nanotechnology is Richard Feynman, yang salah satu bukunya “Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika” menjadi salah satu koleksiku juga.
Aku memang memiliki ketertarikan khusus terhadap fisika, dan teknologi yang berkaitan dengannya. Ada beberapa buku yang menjadi koleksi perpustakaanku, seperti tiga buku karangan Stephen Hawking, buku-buku mengenai relativitas, teori kuantum, Chaos Theory (salah satu yang mendasari ide Jurassic Park, selain masalah DNA), sampai astronomi.
Dalam satuan, satu nano sama dengan sepuluh pangkat minus sembilan. Satu nanometer sama dengan sepersatu milyar meter, dan satu nanodetik sama dengan sepersatu milyar detik.
Nanotechnology adalah teknologi yang mengembangkan dan memanfaatkan semua yang berhasil dipelajari dalam nanoscience. Ilmu nano ini mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan materi berukuran 0,1 nm sampai 100 nm.
Lalu apa kelebihan nano teknlogi ini? Well, tanpa perlu menjelaskan panjang lebar mengenai definisi atom, molekul, susunan dan strukturnya, juga bagaimana teknologi mampu membaca serta memanipulasi susunan materi super kecil ini (hey, ini bukan resensi buku lho. Find the basic science yourself, from the articles, books, or the internet!), komputer yang bisa dibuat berdasarkan teknologi ini memiliki ukuran sangat kecil, dengan menggunakan molekul-molekul DNA dan enzim-enzimnya dalam satu tetes air saja sebagai sarana input, output, software, dan hardware. Coba cari informasi mengenai hal ini menggunakan keyword “the smallest biological computing device” di Google, jika Anda sedang online. Komputer ini juga memiliki kecepatan 100 ribu kali lebih cepat dari komputer konvensional tercanggih saat ini.
Dengan nanotechnology: mampu diciptakan pakaian yang dapat menolak molekul pengotor pakaian; bisa mengubah grafit menjadi berlian; dapat terbang tanpa menggunakan alat bantuan (karena terdapat atom-atom kasat mata yang menopang tubuh, dan bisa dikendalikan sesuai keinginan kita); hologram di mana-mana; penyakit disembuhkan dengan mengirimkan robot nano ke dalam jaringan tubuh dan mencari sumber penyakit, untuk menghancurkannya; kulit senantiasa awet muda karena molekul-molekul kulit senantiasa diatur ulang (rearranged); kursi yang diduduki secara otomatis menyesuaikan bentuk tubuh kita; bisa berjalan-jalan ke planet-planet lain, dan lain-lain, dan lain-dan lain.
Kuncinya adalah karena teknologi mampu memanipulasi atom dan molekul.
And the father of nanotechnology is Richard Feynman, yang salah satu bukunya “Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika” menjadi salah satu koleksiku juga.
Senin, 25 Oktober 2004
Succes Seminar: The MLM’s Rifle
Sabtu siang kemarin, seorang kawan mengajak pergi ke sebuah gedung di bilangan Thamrin untuk mengikuti acara yang bertajuk ‘Succes Seminar’. Beberapa waktu sebelumnya ia hanya mengatakan bahwa acara ini bagus, dan tiketnya tidak begitu mahal menurut penilaianku. Aku mencoba menebak kira-kira seminar ini macam apa.
Ternyata dugaanku tepat. Sebuah perusahaan MLM yang perkembangannya cukup pesat dan luas di Indonesia, dan katanya masuk dalam ‘Top Five’, penyelenggara acara ini. Ini adalah bagian dari program dua bulanan mereka bagi para pesertanya, dan khususnya ditujukan untuk menarik minat calon anggota baru, yang diharapkan bisa mereka rekrut.
Teknis pelaksanaan acaranya cukup menarik, menurutku. Ruangan yang disewa untuk pelaksanaan acara ini sudah dilengkapi dengan tata cahaya layaknya konser musik besar. Sound effect-nya pun sangat mendukung. Dua layar besar ditempatkan di sisi kiri-kanan panggung, untuk membantu visualisasi penonton yang duduk di deretan kursi atas.
Acara ini menampilkan pembicara utama seorang pria berusia 29 tahun yang menduduki salah satu posisi tertinggi dalam perusahaan. Di akhir acara, peserta yang hadir akan mendapatkan informasi yang sama, bahwa pria ini mendapatkan segala kekayaan materi yang ia inginkan, waktu luang untuk keluarganya, dan kesempatan mengunjungi banyak negara, dengan mengikuti bisnis jaringan ini.
Aku cukup tertarik dengan penataan acara dan tata panggungnya. Di deretan kursi bawah yang langsung menghadap ke panggung utama, undangan khusus untuk peserta MLM yang sudah menduduki posisi ‘bintang’ ke sekian. Deretan terdepan adalah para pemimpin bisnis jaringan ini. Dan seluruh peserta acara ini dibuat mengelu-elukan para pimpinan, yang telah menyukseskan hidup mereka. Ya, inilah bisnis jaringan, dengan adanya upline dan downline, keberhasilan materi melalui perusahaan sangat ditentukan oleh jaringan yang terbentuk. Dan umumnya, setiap peserta yang ingin mencapai posisi tertentu di perusahaan, harus membentuk jaringan solid di bawahnya. Hingga pada akhirnya nanti, seorang yang telah mencapai posisi yang diinginkannya, akan merasa berterima kasih kepada atasan yang telah membesarkannya.
Seluruh pembicara yang maju ke depan mendapat iringan musik yang tertata baik. Mereka pun menunjukkan gaya berjoget seenaknya. Seolah-olah mereka sangat menikmati penampilan mereka maju ke depan. Dari lagu-lagu yang aku kenali, bervariasi mulai dari house music, lagu-lagunya Bon Jovi, Avril Lavigne, Queen, dan Bobby Brown. Visualisasi dalam layar LCD raksasanya pun cukup baik. Setidaknya mereka pasti menguasai Adobe Premiere atau sejenisnya.
Inilah pengalaman pertamaku menghadiri acara semacam ini. Cukup memberikan wawasan baru untukku. Aku juga menyaksikan banyaknya ikhwan-akhwat yang hadir dalam acara ini. Menunjukkan banyak ikhwah yang mengikuti bisnis jaringan ini. Aku membayangkan, sepuluh tahun lalu, belum ada kondisi seperti ini. Ikhwan-akhwat bercampur dalam satu ruangan, bertepuk tangan mengiringi musik dan para ‘pemimpin’ perusahaan, dan hal-hal lain yang pastinya jauh berbeda dari komunitas da’wah mereka sehari-hari. Ada seorang akhwat yang maju ke depan dan menyatakan, ia telah melakukan sekian puluh kali presentasi dalam tiga bulan berturut-turut, untuk mengembangkan bisnis ini. Dan tentunya akan membesarkan ma’isyah-nya pula.
Aku pun teringat pada adik-adik kelasku yang sedang semangat-semangatnya menjalankan bisnis jaringan lain. Beberapa bulan lalu, saat mereka baru mengenal bisnis jaringan, hampir tiada hari tanpa presentasi dan mencoba merekrut sebanyak mungkin orang lain, dari berbagai kalangan, tidak hanya mahasiswa saja. Setiap peluang acara yang bisa meningkatkan keterampilan bisnis pun akan mereka ikuti, walau lokasinya tidak dekat. Karena banyak di antara mereka aktivis masjid, maka Masjid ARH pun menjadi satu tempat yang sering digunakan untuk mengajak calon-calon peserta baru.
Aku merenung, seandainya da’wah fardiyah berjalan dengan cara seperti ini. Mungkin akan banyak kader baru yang terekrut dalam waktu singkat. Tapi memang yang dijanjikan lain. Hanya saja seorang kader harus mampu membedakan kapan harus menarik orang untuk mengetahui kebesaran agama ini, dan kapan mencukupi nafkah diri dan keluarganya.
Memang kuakui, bisnis jaringan ini sangat menarik. Da’wah butuh ditunjang oleh orang-orang yang mandiri secara ekonomi. Dan kebutuhan akan hal ini sangat besar. Menyambung tulisanku yang terdahulu, dokter pun butuh sumber penghasilan lain dari profesinya. Dan mungkin bisnis macam ini bisa menjadi salah satunya.
Ternyata dugaanku tepat. Sebuah perusahaan MLM yang perkembangannya cukup pesat dan luas di Indonesia, dan katanya masuk dalam ‘Top Five’, penyelenggara acara ini. Ini adalah bagian dari program dua bulanan mereka bagi para pesertanya, dan khususnya ditujukan untuk menarik minat calon anggota baru, yang diharapkan bisa mereka rekrut.
Teknis pelaksanaan acaranya cukup menarik, menurutku. Ruangan yang disewa untuk pelaksanaan acara ini sudah dilengkapi dengan tata cahaya layaknya konser musik besar. Sound effect-nya pun sangat mendukung. Dua layar besar ditempatkan di sisi kiri-kanan panggung, untuk membantu visualisasi penonton yang duduk di deretan kursi atas.
Acara ini menampilkan pembicara utama seorang pria berusia 29 tahun yang menduduki salah satu posisi tertinggi dalam perusahaan. Di akhir acara, peserta yang hadir akan mendapatkan informasi yang sama, bahwa pria ini mendapatkan segala kekayaan materi yang ia inginkan, waktu luang untuk keluarganya, dan kesempatan mengunjungi banyak negara, dengan mengikuti bisnis jaringan ini.
Aku cukup tertarik dengan penataan acara dan tata panggungnya. Di deretan kursi bawah yang langsung menghadap ke panggung utama, undangan khusus untuk peserta MLM yang sudah menduduki posisi ‘bintang’ ke sekian. Deretan terdepan adalah para pemimpin bisnis jaringan ini. Dan seluruh peserta acara ini dibuat mengelu-elukan para pimpinan, yang telah menyukseskan hidup mereka. Ya, inilah bisnis jaringan, dengan adanya upline dan downline, keberhasilan materi melalui perusahaan sangat ditentukan oleh jaringan yang terbentuk. Dan umumnya, setiap peserta yang ingin mencapai posisi tertentu di perusahaan, harus membentuk jaringan solid di bawahnya. Hingga pada akhirnya nanti, seorang yang telah mencapai posisi yang diinginkannya, akan merasa berterima kasih kepada atasan yang telah membesarkannya.
Seluruh pembicara yang maju ke depan mendapat iringan musik yang tertata baik. Mereka pun menunjukkan gaya berjoget seenaknya. Seolah-olah mereka sangat menikmati penampilan mereka maju ke depan. Dari lagu-lagu yang aku kenali, bervariasi mulai dari house music, lagu-lagunya Bon Jovi, Avril Lavigne, Queen, dan Bobby Brown. Visualisasi dalam layar LCD raksasanya pun cukup baik. Setidaknya mereka pasti menguasai Adobe Premiere atau sejenisnya.
Inilah pengalaman pertamaku menghadiri acara semacam ini. Cukup memberikan wawasan baru untukku. Aku juga menyaksikan banyaknya ikhwan-akhwat yang hadir dalam acara ini. Menunjukkan banyak ikhwah yang mengikuti bisnis jaringan ini. Aku membayangkan, sepuluh tahun lalu, belum ada kondisi seperti ini. Ikhwan-akhwat bercampur dalam satu ruangan, bertepuk tangan mengiringi musik dan para ‘pemimpin’ perusahaan, dan hal-hal lain yang pastinya jauh berbeda dari komunitas da’wah mereka sehari-hari. Ada seorang akhwat yang maju ke depan dan menyatakan, ia telah melakukan sekian puluh kali presentasi dalam tiga bulan berturut-turut, untuk mengembangkan bisnis ini. Dan tentunya akan membesarkan ma’isyah-nya pula.
Aku pun teringat pada adik-adik kelasku yang sedang semangat-semangatnya menjalankan bisnis jaringan lain. Beberapa bulan lalu, saat mereka baru mengenal bisnis jaringan, hampir tiada hari tanpa presentasi dan mencoba merekrut sebanyak mungkin orang lain, dari berbagai kalangan, tidak hanya mahasiswa saja. Setiap peluang acara yang bisa meningkatkan keterampilan bisnis pun akan mereka ikuti, walau lokasinya tidak dekat. Karena banyak di antara mereka aktivis masjid, maka Masjid ARH pun menjadi satu tempat yang sering digunakan untuk mengajak calon-calon peserta baru.
Aku merenung, seandainya da’wah fardiyah berjalan dengan cara seperti ini. Mungkin akan banyak kader baru yang terekrut dalam waktu singkat. Tapi memang yang dijanjikan lain. Hanya saja seorang kader harus mampu membedakan kapan harus menarik orang untuk mengetahui kebesaran agama ini, dan kapan mencukupi nafkah diri dan keluarganya.
Memang kuakui, bisnis jaringan ini sangat menarik. Da’wah butuh ditunjang oleh orang-orang yang mandiri secara ekonomi. Dan kebutuhan akan hal ini sangat besar. Menyambung tulisanku yang terdahulu, dokter pun butuh sumber penghasilan lain dari profesinya. Dan mungkin bisnis macam ini bisa menjadi salah satunya.
Kamis, 21 Oktober 2004
Kesehatan Milik Semua Orang!
Saat ini aku memiliki pandangan, profesi dokter adalah pengabdian, bukan lahan mencari uang. Jika ingin mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, ya melalui bisnis. Dokter yang bekerja keras mencari uang sebanyak-banyaknya—menurutku—akan sulit sekali menjaga idealismenya untuk menangani pasien sebaik-baiknya secara optimal, misalnya tidak apa-apa mendapatkan jumlah pasien yang sedikit dalam setiap kali praktik—karena membutuhkan waktu ideal untuk memeriksa setiap pasien—asalkan pasien puas dan dapat tertangani dengan baik.
Dari yang aku pahami dari Robert T. Kiyosaki pun, tetap jalankan profesi, dan lakukan pula bisnis. Sayangnya kemampuan bisnis ini tidak dimiliki semua orang, salah satunya profesi dokter.
Ketika aku menanyakan kepada seorang kawan: kira-kira bisnis apa yang cocok saya jalankan? Saat itu aku berpikir untuk mencari peluang bisnis (non profesi tentunya), selain berpraktik sebagai dokter. Jawaban yang aku dapat lebih dari seorang kurang lebih sama: membuat Rumah Sakit, atau Klinik 24 Jam. Jadi kita berbisnis dari lahan-lahan ini.
Dalam sebuah artikel yang aku anggap cukup menarik di Media Indonesia Rabu 20 Oktober 2004 kemarin, dr. Hasbullah Thabrany dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI menerangkan bahwa negara Eropa Barat seperti Inggris menjaminkan biaya kesehatan ke dalam anggaran negaranya. Jadi penduduknya mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Biaya ini dibebankan ke dalam pajak penduduknya yang tinggi. Ia juga memberikan contoh negara berkembang, bahkan miskin, yang memberikan pelayanan kesehatan gratis adalah Sri Lanka. Thailand dan Malaysia membebankan biaya pelayanan kesehatan yang sangat murah kepada warganya. Sedangkan yang kita lihat di Indonesia: kesehatan menjadi lahan bisnis. Sebuah negara dengan penduduk yang kebanyakan miskin. Ironis memang.
Padahal investasi kesehatan yang memang mahal di awalnya adalah sebuah investasi jangka panjang, Tidak langsung dinikmati begitu saja hasilnya.
Lebih lanjutnya, aku kutipkan saja beberapa potongan kalimat dalam artikel tulisan dr. Thabrany:
Secara ekonomis perhitungan kebijakan publik model Inggris tersebut sungguh sederhana. Jeffry Sach, ekonom kaliber dunia dari Universitas Harvard, telah melakukan penelitian di berbagai negara, menyimpulkan bahwa investasi kesehatan berupa penjaminan kesehatan seperti di atas, menghasilkan keuntungan ekonomis 600%.
Keuntungan ekonomis ini diukur dengan peningkatan produktivitas penduduk, berkurangnya hari sakit, dan tercegahnya kematian dini. Dengan temuan itu, WHO (Organisasi Kesehatan Sedunia) mendorong agar seluruh negara miskin meningkatkan pendanaan kesehatannya, paling sedikit US$34/kapita/tahun. Sementara Indonesia (gabungan penduduk dan pemerintah), saat ini hanya mengeluarkan sekitar US$20/kapita/tahun.
WHO, sesungguhnya mengatakan, ''Hei pemerintah di negara miskin dan berkembang, mendanai pelayanan kesehatan rakyat sesungguhnya investasi jangka panjang.'' Sama dengan membangun jalan tol, keuntungan baru bisa dinikmati 10-20 tahun kemudian. Jangan lihat pendanaan kesehatan rakyat sebagai belas kasih belaka!
Belum pro publik
Suka atau tidak suka, harus diakui, banyak kebijakan publik di Indonesia belum pro publik atau rakyat. Jangan heran kalau banyak kebijakan, lebih berfokus pada kepentingan jangka pendek pengelola/pemerintah.
Dalam bidang kesehatan misalnya, banyak pemerintah daerah (pemda) melihat RS sebagai alat prestise pemegang kekuasaan, dan sebagai pelayanan yang mudah mendapatkan uang.
Tentu saja, karena untuk pelayanan rumah sakit, tidak ada yang pernah menawar atau menunda 'pembelian', dengan tanda kutip. Di Indonesia memang pelayanan kesehatan 'diperdagangkan' bahkan oleh RS pemerintah.
Secara konseptual, sangatlah aneh sebuah rumah sakit yang dibangun dari dana publik, tetapi ketika rakyat sakit dan tidak mampu, mereka harus bayar dulu. Bahkan tidak jarang bila tak ada uang, pelayanan tak diberikan hingga nyawa lewat.
Di DKI Jakarta bahkan beberapa rumah sakit daerah yang bernilai ratusan miliar, dibangun atas dana publik, kini dijadikan PT (perseroan terbatas). Sebagai sebuah PT, tentu tujuannya mencari untung. Meskipun kelak keuntungan itu kembali ke kas daerah. Tetapi, untuk mendapatkan untung, pengelola harus menarik biaya lebih mahal dari investasinya. La..., investasinya uang rakyat, kini RS tersebut mau cari untung dari yang memiliki uang!
Jika saja Pemda kemudian membayar semua tagihan RS kepada rakyat yang berobat, tidak hanya mereka yang miskin, karena yang tidak miskin bisa jadi miskin akibat harus membayar biaya berobat. Maka hal itu tidak ada masalah. Tetapi, kebijakan transformasi RS tersebut dilakukan sebelum ada sistem penjaminan bagi seluruh rakyat.
Tentu ada yang berargumen bahwa pemerintah sudah menyelenggarakan program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK Gakin) yang didanai dari dana kompensasi subsidi BBM. Akan, tetapi program JPK Gakin masih jauh dari memadai.
Jumlah yang dijamin dan programnya belum menjadi program tetap, sangat bergantung dari kemauan pemerintah membagi-bagi dana kompensasi subsidi BBM. Pemda DKI memang sudah lebih maju, menyediakan dana JPK Gakin cukup memadai dari APBD; tetapi toh belum ada jaminan bahwa program itu terus berlanjut.
Program bantuan jaminan bagi orang miskin saja belum mencukupi, karena kebutuhan kesehatan sangat tidak pasti. Yang tidak miskin, banyak sekali yang tidak mampu membiayai perawatan dan pengobatan yang dibutuhkannya. Bahkan sesungguhnya lebih dari 90% penduduk Indonesia terancam jadi miskin jika menderita sakit berat.
Data-data laporan maupun survei menunjukkan, memang lebih dari 90% bantuan JPK Gakin sampai pada orang tepat, alias miskin. Sesungguhnya tidak sulit mencari orang miskin di Indonesia, sebab jika kriteria miskin yang digunakan adalah pendapatan US$2 per hari, standar untuk negara berkembang yang digunakan Bank Dunia, maka lebih dari 60% penduduk Indonesia tergolong miskin.
Sementara ukuran miskin yang kita gunakan adalah miskin untuk makan, bukan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan (medically poor). Tukang ojek yang berpenghasilan Rp600 ribu/bulan tidak tergolong miskin. Karena itu, tidak bisa mendapatkan kartu JPK Gakin. Sementara untuk berobat karena sakit tifus atau infeksi usus buntu di RS pemerintah di Jakarta bisa menghabiskan lebih dari Rp1 juta.
Yang menjadi pertanyaan, apakah si tukang ojek mampu bayar segitu? Untuk makan bergizi saja, ia dan keluarganya tidak cukup. Toh, orang seperti ini tidak tergolong miskin dan tidak ada jaminan.
Data menunjukkan bahwa kurang dari 5% pasien yang dirawat inap di RS pemerintah yang merupakan pemegang kartu JPK Gakin atau mendapat keringanan atau pembebasan biaya. Apa artinya ini? Bukan mereka memiliki kemampuan membayar (ability to pay), tetapi mereka terpaksa membayar alias forced to pay.
Apakah pantas pemerintah memaksa rakyatnya yang sakit, yang tidak bisa lagi narik ojek atau angkot atau bertani, membayar di RS yang dibangun atas uang rakyat? Apakah pemerintah tidak punya duit untuk membantu?
Sungguh mengherankan jika setiap tahun, pemerintah memberikan subsidi BBM paling tidak Rp30 triliun (bahkan tahun ini bisa menjadi Rp63 triliun), sementara untuk membayar semua tagihan rawat inap RS kelas III di seluruh Indonesia tidak akan menghabiskan lebih dari Rp15 triliun. Yang pasti, subsidi BBM lebih menggemukkan mereka yang berada. Pemerintah juga masih menerima cukai rokok sekitar Rp30 triliun.
Sekian kutipannya dr. Thabrany. Kembali ke opiniku. Masih berpikir mendirikan rumah sakit komersial dan klinik-klinik turunannya?
Dari yang aku pahami dari Robert T. Kiyosaki pun, tetap jalankan profesi, dan lakukan pula bisnis. Sayangnya kemampuan bisnis ini tidak dimiliki semua orang, salah satunya profesi dokter.
Ketika aku menanyakan kepada seorang kawan: kira-kira bisnis apa yang cocok saya jalankan? Saat itu aku berpikir untuk mencari peluang bisnis (non profesi tentunya), selain berpraktik sebagai dokter. Jawaban yang aku dapat lebih dari seorang kurang lebih sama: membuat Rumah Sakit, atau Klinik 24 Jam. Jadi kita berbisnis dari lahan-lahan ini.
Dalam sebuah artikel yang aku anggap cukup menarik di Media Indonesia Rabu 20 Oktober 2004 kemarin, dr. Hasbullah Thabrany dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI menerangkan bahwa negara Eropa Barat seperti Inggris menjaminkan biaya kesehatan ke dalam anggaran negaranya. Jadi penduduknya mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Biaya ini dibebankan ke dalam pajak penduduknya yang tinggi. Ia juga memberikan contoh negara berkembang, bahkan miskin, yang memberikan pelayanan kesehatan gratis adalah Sri Lanka. Thailand dan Malaysia membebankan biaya pelayanan kesehatan yang sangat murah kepada warganya. Sedangkan yang kita lihat di Indonesia: kesehatan menjadi lahan bisnis. Sebuah negara dengan penduduk yang kebanyakan miskin. Ironis memang.
Padahal investasi kesehatan yang memang mahal di awalnya adalah sebuah investasi jangka panjang, Tidak langsung dinikmati begitu saja hasilnya.
Lebih lanjutnya, aku kutipkan saja beberapa potongan kalimat dalam artikel tulisan dr. Thabrany:
Secara ekonomis perhitungan kebijakan publik model Inggris tersebut sungguh sederhana. Jeffry Sach, ekonom kaliber dunia dari Universitas Harvard, telah melakukan penelitian di berbagai negara, menyimpulkan bahwa investasi kesehatan berupa penjaminan kesehatan seperti di atas, menghasilkan keuntungan ekonomis 600%.
Keuntungan ekonomis ini diukur dengan peningkatan produktivitas penduduk, berkurangnya hari sakit, dan tercegahnya kematian dini. Dengan temuan itu, WHO (Organisasi Kesehatan Sedunia) mendorong agar seluruh negara miskin meningkatkan pendanaan kesehatannya, paling sedikit US$34/kapita/tahun. Sementara Indonesia (gabungan penduduk dan pemerintah), saat ini hanya mengeluarkan sekitar US$20/kapita/tahun.
WHO, sesungguhnya mengatakan, ''Hei pemerintah di negara miskin dan berkembang, mendanai pelayanan kesehatan rakyat sesungguhnya investasi jangka panjang.'' Sama dengan membangun jalan tol, keuntungan baru bisa dinikmati 10-20 tahun kemudian. Jangan lihat pendanaan kesehatan rakyat sebagai belas kasih belaka!
Belum pro publik
Suka atau tidak suka, harus diakui, banyak kebijakan publik di Indonesia belum pro publik atau rakyat. Jangan heran kalau banyak kebijakan, lebih berfokus pada kepentingan jangka pendek pengelola/pemerintah.
Dalam bidang kesehatan misalnya, banyak pemerintah daerah (pemda) melihat RS sebagai alat prestise pemegang kekuasaan, dan sebagai pelayanan yang mudah mendapatkan uang.
Tentu saja, karena untuk pelayanan rumah sakit, tidak ada yang pernah menawar atau menunda 'pembelian', dengan tanda kutip. Di Indonesia memang pelayanan kesehatan 'diperdagangkan' bahkan oleh RS pemerintah.
Secara konseptual, sangatlah aneh sebuah rumah sakit yang dibangun dari dana publik, tetapi ketika rakyat sakit dan tidak mampu, mereka harus bayar dulu. Bahkan tidak jarang bila tak ada uang, pelayanan tak diberikan hingga nyawa lewat.
Di DKI Jakarta bahkan beberapa rumah sakit daerah yang bernilai ratusan miliar, dibangun atas dana publik, kini dijadikan PT (perseroan terbatas). Sebagai sebuah PT, tentu tujuannya mencari untung. Meskipun kelak keuntungan itu kembali ke kas daerah. Tetapi, untuk mendapatkan untung, pengelola harus menarik biaya lebih mahal dari investasinya. La..., investasinya uang rakyat, kini RS tersebut mau cari untung dari yang memiliki uang!
Jika saja Pemda kemudian membayar semua tagihan RS kepada rakyat yang berobat, tidak hanya mereka yang miskin, karena yang tidak miskin bisa jadi miskin akibat harus membayar biaya berobat. Maka hal itu tidak ada masalah. Tetapi, kebijakan transformasi RS tersebut dilakukan sebelum ada sistem penjaminan bagi seluruh rakyat.
Tentu ada yang berargumen bahwa pemerintah sudah menyelenggarakan program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK Gakin) yang didanai dari dana kompensasi subsidi BBM. Akan, tetapi program JPK Gakin masih jauh dari memadai.
Jumlah yang dijamin dan programnya belum menjadi program tetap, sangat bergantung dari kemauan pemerintah membagi-bagi dana kompensasi subsidi BBM. Pemda DKI memang sudah lebih maju, menyediakan dana JPK Gakin cukup memadai dari APBD; tetapi toh belum ada jaminan bahwa program itu terus berlanjut.
Program bantuan jaminan bagi orang miskin saja belum mencukupi, karena kebutuhan kesehatan sangat tidak pasti. Yang tidak miskin, banyak sekali yang tidak mampu membiayai perawatan dan pengobatan yang dibutuhkannya. Bahkan sesungguhnya lebih dari 90% penduduk Indonesia terancam jadi miskin jika menderita sakit berat.
Data-data laporan maupun survei menunjukkan, memang lebih dari 90% bantuan JPK Gakin sampai pada orang tepat, alias miskin. Sesungguhnya tidak sulit mencari orang miskin di Indonesia, sebab jika kriteria miskin yang digunakan adalah pendapatan US$2 per hari, standar untuk negara berkembang yang digunakan Bank Dunia, maka lebih dari 60% penduduk Indonesia tergolong miskin.
Sementara ukuran miskin yang kita gunakan adalah miskin untuk makan, bukan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan (medically poor). Tukang ojek yang berpenghasilan Rp600 ribu/bulan tidak tergolong miskin. Karena itu, tidak bisa mendapatkan kartu JPK Gakin. Sementara untuk berobat karena sakit tifus atau infeksi usus buntu di RS pemerintah di Jakarta bisa menghabiskan lebih dari Rp1 juta.
Yang menjadi pertanyaan, apakah si tukang ojek mampu bayar segitu? Untuk makan bergizi saja, ia dan keluarganya tidak cukup. Toh, orang seperti ini tidak tergolong miskin dan tidak ada jaminan.
Data menunjukkan bahwa kurang dari 5% pasien yang dirawat inap di RS pemerintah yang merupakan pemegang kartu JPK Gakin atau mendapat keringanan atau pembebasan biaya. Apa artinya ini? Bukan mereka memiliki kemampuan membayar (ability to pay), tetapi mereka terpaksa membayar alias forced to pay.
Apakah pantas pemerintah memaksa rakyatnya yang sakit, yang tidak bisa lagi narik ojek atau angkot atau bertani, membayar di RS yang dibangun atas uang rakyat? Apakah pemerintah tidak punya duit untuk membantu?
Sungguh mengherankan jika setiap tahun, pemerintah memberikan subsidi BBM paling tidak Rp30 triliun (bahkan tahun ini bisa menjadi Rp63 triliun), sementara untuk membayar semua tagihan rawat inap RS kelas III di seluruh Indonesia tidak akan menghabiskan lebih dari Rp15 triliun. Yang pasti, subsidi BBM lebih menggemukkan mereka yang berada. Pemerintah juga masih menerima cukai rokok sekitar Rp30 triliun.
Sekian kutipannya dr. Thabrany. Kembali ke opiniku. Masih berpikir mendirikan rumah sakit komersial dan klinik-klinik turunannya?
Selasa, 19 Oktober 2004
Mukaddimah
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Setelah memiliki blog pribadi di http://spaceodyssey.blogspot.com dan website dengan free hosting di http://www.asysyifaa.uni.cc, aku ingin mempunyai personal weblog yang memang benar-benar sesuai tujuan blog pada awalnya, yakni: semacam daily journal atau buku harian.
Langganan:
Postingan (Atom)