Tampilkan postingan dengan label THT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label THT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Mei 2012

Kenapa Pilek Tak Kunjung Sembuh?


Tanya:

Saya punya anak lelaki usia 10 thn.Sepanjang hari sepertinya Dia terus menerus pilek ( hidung berair ) dan sering disertai batuk berdahak. Dan anak saya juga punya asma, bahkan kalau tidur malam hari dia sering mengeluarkan bunyi seperti orang sesak. Tolong Dok…. obat apa yang cocok untuk dia ? Saya suka sedih melihat dan mendengar keadaannya, terutama sekarang – sekarang ini, penyakitnya sedang kambuh.

Jawab:

Pilek yang dikeluhkan sepanjang hari dan terus menerus bisa disebabka oleh antara lain: Rinitis alergika (alergi karena udara dingin, debu, asap, atau kelelahan), atau bisa juga disebabkan oleh tulang hidung yang bengkok (tidak lurus sebagaimana mestinya), atau bisa karena ada sinusitis (radang di daerah sinus/ rongga di sekitar tulang hidung).

Kebetulan ananda juga menderita sakit asma, kalau ada asma biasanya keluhan pileknya disebabkan oleh rinitis alergika. Sebab pasien asma seringkali juga menderita rinitis alergika (radang di hidung akibat alergi).
Untuk mengetahui lebih jelas apa penyakit ananda disarankan segera berobat ke dokter spesialis THT, untuk dievaluasi secara lebih teliti apa yang menyebabkan pilek yang tidak kunjung sembuh.

Bila benar pileknya karena rinitis alergika, maka langkah pencegahan yang bisa diambil untuk menghindari terjadinya pilek tersebut adalah dengan berusaha menghindari keadaan yang memudahkan munculnya alergi, seperti menghindari udara dingin, jauhi debu atau tempat yang mudah menyimpan debu rumah seperti kursi sofa, kasur tradisional, karpet, juga dihindari terjadinya kelelahan baik fisik maupun psikis.

Jadi, segera periksakan ke dokter spesialis THT terdekat ya.

Senin, 20 Februari 2012

Rhinitis Alergi

 
A. DEFINISI
Rinitis alergi adalah penyakit/ kelainan yang merupakan manifestasi klinik reaksi hipersensitiv tipe I (Gell & Coombs) dengan mukosa hidung sebagai organ sasaran.
 
B. KLASIFIKASI
Berdasarkan sifat berlangsungnya, rinitis alergi dibedakan atas :
1. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, pollinosis). Hanya ada dinegara yang memiliki 4 musim. Alergen penyebabnya spesifik, yaitu tepung sari dan spora jamur.
2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial)
Gejala keduanya hampir sama, hanya sifat berlangsungnya yang berbeda.
Gejala rinitis alergi sepanjang tahun timbul terus-menerus atau intermiten. Meskipun lebih ringan dibandingkan rinitis musiman, tapi karena lebih persisten, komplikasinya lebih sering ditemukan. Dapat timbul pada semua golongan umur, terutama anak dan dewasa muda, namun berkurang dengan bertambahnya umur. Faktor herediter berperan, sedangkan jenis kelamin, golongan etnis dan ras tidak berpengaruh.


 

C. ETIOLOGI

Penyebab tersering adalah alergen inhalan (dewasa) dan ingestan (anak-anak). Pada anak-anak sering disertai gejala alerhi lain, seperti urtikaria dan gangguan pencernaan.
Diperberat oleh faktor non spesifik, seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban yang tinggi.
 

D. PATOFISIOLOGI

Pada reaksi alergi ini dilepaskan berbagai zat mediator yang akan menimbulkan gejala klinis. Zat mediator utama dan terpenting adalah histamin yang memiliki efek dilatasi pembuluh darah, peningkatan permeabilitas kapiler, iritasi ujung-ujung saraf sensoris dan aktivasi sel-sel kelenjar sehingga sekret diproduksi lebih banyak.
 

E. DIAGNOSIS BANDING

Rinitis non alergi, rinitis infeksi dan commond cold.
 

F. MANIFESTASI KLINIS

Serangan bersin berulang lebih dari lima kali dalam satu serangan. Rinorea yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, kadang disertai lakrimasi. Tidak ada demam. Gejala sering tidak lengkap.
Gejala spesifik lain pada anak-anak bila penyakit telah berlangsung lama (>2 tahun) adalah bayangan gelap didaerah bawah mata (allergic shinner) akibat stasis vena sekunder karena obstruksi hidung. Anak sering menggosok-gosok hidung dengan punggung tangan (allergic salute). Lama-lama akan mengakibatkan timbul garis melintang di dorsum nasi sepertiga bawah (allergic crease).
Sering disertai penyakit alergi lainnya seperti asma, urtikaria atau eksim.
Pada rinoskopi anterior didapatkan mukosa edema, basah, pucat atau livid, disertai banyak sekret encer. Diluar serangan, mukosa kembali normal, kecuali bila telah berlangsung lama.
 

G. KOMPLIKASI

Polip hidung, otitis media dan sinusitis paranasal.
 

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaaan sitologi hidung sebagai pemerikasaan penyaring atau pelengkap. Ditemukan eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan, basofil kemungkinan alergi ingestan dan sel polimorfonuklear menunjukan infeksi bakteri.
Pada pemeriksaan darah tepi, hitung eosinofil dan IgE total serum dapat normal atau meningkat.
Yang lebih bermanfaat tes IgE spesifik dengan RAST (radio immunosorbent test) atau ELISA (enzyme linked immuno assay).
Dapat juga dicari secara in vivo dengan uji intrakutan yang tunggal atau berseri, uji tusuk (prick test), uji provokasi hidung/ uji inhalasi dan uji gores. Dilakukan diet eliminasi dan provokasi untuk aleri makanan.
 

I. PENATALAKSANAAN

Terapi ideal adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eliminasi. Terapi simtomatis dilakukan melalui pemberian antihistamin dengan atau tanpa vasokonstriktor atau kortikosteroid per oral atau lokal. Preparat yang dipakai adalah agonis alfa adrenoreseptor, terutama untuk mengatasi sumbatan hidung. Diberikan peroral, biasanya dalam kombinasi dengan antihistamin seperti pseudoefedrin fenilpropanolamin. Pemberian topikal harus hemat dan jangka pendek (4-10 ahri). Efek kortikosteroid baru terasa setelah pemakaian agak lama. Pemakaian lokal dengan preparat baru, seperti beklometason, flunisolid, dan budesonid untuk jangka panjang cukup aman. Pemakaian peroral dengan pemberian intermiten atau tapering off hanya untuk kasus berat, diberikan 2 minggu sebelum pemberian topikal agar pemberian topikal efektif.
Dapat diberikan natrium kromolat dalam bentuk inhalasi untuk pencegahan.
Untuk hipertropi konka, pasien harus dirujuk agar dapat dilakukan kauterisasi konka inferior dengan nitras agenti atau triklor asetat. Jika hipertropi sudah berat dapat dilakukan konkotomi.
Untuk gejala yang berat dan lama serta bila terapi lain tidak memuaskan, dilakukan imunoterapi melalui desensitisasi dan hiposensitisasi atau netralisasi.

Otitis Eksterna

Otitis eksterna adalah penyakit yang dapat diderita oleh semua orang dan berbagai usia. Otitis eksterna biasanya ditunjukkan dengan adanya infeksi bakteri pada kulit liang telinga tetapi dapat juga disebabkan oleh infeksi jamur. Meskipun demikian Otitis eksterna jarang menyebabkan komplikasi yang serius. Infeksi ini ditandai dengan rasa nyeri yang hebat (Waitzman, 2004).

Otitis eksterna juga sering dihubungkan dengan adanya proses dematologi lokal atau non infeksius. Gejala-gejala yang khas pada otitis externa adalah rasa tidak nyaman pada liang telinga yang ditandai dengan eritema dan discharge yang bervariasi (Sander, 2001).

Istilah otitis eksterna telah lama dipakai untuk menjelaskan sejumlah kondisi. Spektrum infeksi dan radang mencakup bentuk-bentuk akut atau kronis. Dalam hal infeksi perlu dipertimbangkan agen bakteri, jamur dan virus. Radang non-infeksi termasuk pula dermatosis, beberapa diantaranya merupakan kondisis primer yang langsung menyerang liang telinga. Shapiro telah menegaskan bahwa perbedaan antara otitis eksterna yang berasal dari dermatosis dengan otitis eksterna akibat infeksi tidak selalu jelas. Suatu dermatosis dapat menjadi terinfeksi setelah beberapa waktu, sementara pada infeksi kulit dapat terjadi reaksi ekzematosa terhadap organisme penyebab. Sekali lagi, anamnesis dan pemeriksaan yang cermat seringkali akan memberi petunjuk kearah kondisi primernya (Boies, 1997).

Di Amerika Serikat, otitis eksterna merupakan penyakit yang sering terjadi di semua negara bagian. Infeksi dapat disebabkan oleh kondisi yang panas dan lembab. Otitis eksterna dapat menyerang semua ras manusia dan mempunyai perbandingan yang sama antara perempuan dan laki-laki serta dapat dialami oleh berbagai usia (Waitzman, 2004).

Di Amerika Serikat sekitar 98% otitis eksterna disebabkan aleh P. aeruginosa. Kasus sisanya mungkin disebabkan oleh Proteus vulgaris, Escherichia coli, S. aureus dan jamur seperti Candida albicans, Aspergillus sp dan Mucor sp. Pada kasus Otitis eksterna bakterialis, kulit liang telinga berwarna merah dan biasanya edamatosa kadang-kadang sampai tingkat yang menyumbat total liang tersebut (Cody, 1997).

Infeksi dan radang liang telinga merupakan suatu masalah THT yang paling serius. Pasien dengan gangguan aurikula atau liang telinga sering kali datang dengan keluhan otalgia, gatal, pembengkakan, perdarahan dan perasaan tersumbat. Pemeriksaan daerah telinga dan sekitarnya dengan cermat biasanya dapat mengungkapkan masalah yang spesifik. Namun perlu ditekankan pemeriksaan THT lainnya. Hal-hal yang perlu ditanyakan dalam riwayat pasien antara lain : riwayat infeksi telinga luar, berenang, gangguan kulit, alergi, trauma dan pemakaian perhiasan telinga khususnya yang mengandung nikel (Boies, 1997).

 

Anatomi-Fisiologi Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 – 3 cm ( Soetirto dkk, 2001).

Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kalenjar serumen (modifikasi kalenjar keringat = kalenjar serumen) dan rambut. Kalenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai serumen (Soetirto dkk, 2001).

Telinga luar termasuk aurikula atau pinna dan liang telinga. Telinga luar berfungsi mengumpulkan dan menghantarkan gelombang bunyi ke struktur-struktur telinga tengah. Karena keunikan anatomi aurikula serta konfigurasi liang telinga yang melengkung atau seperti spiral maka telinga luar mampu melindungi membrana timpani dari trauma, benda asing dan efek termal (Boies, 1997).

Panjang liang telinga kira-kira 2,5 cm, membentang dari bibir depan konka hingga membrana timpani. Bagian tersempit dari liang telinga adalah dekat perbatasan tulang dan tulang rawan. Hanya sepertiga bagian luar atau bagian kartilaginosa dari liang telinga yang dapat bergerak. Jika menggunakan otoskop, aurikula biasanya harus ditarik ke posterolateral untuk dapat melihat bagian tulang dan membran timpani. Bersama dengan lapisan luar membran timpani, liang telinga membentuk suatu kantung berlapis epitel yang dapat merangkap kelembaban sehingga daerah ini menjadi rentan infeksi pada keadaan tertentu (Boies, 1997).

Kulit yang melapisi bagian kartilaginosa lebih tebal daripada kulit bagian tulang, selain itu juga mangandung folikel rambut yang banyaknya bervariasi antar individu namun ikut membantu menciptakan suatu sawar dalam liang telinga. Anatomi liang telinga bagian tulang sangat unik karena merupakan satu-satunya tempat dalam tubuh dimana kulit langsung terletak di atas tulang tanpa adanya jaringan subkutan. Dengan demikian daerah ini sangat peka dan tiap pembengkakan akan sangat nyeri karena tidak terdapat ruang untuk ekspansi (Boies, 1997).

Salah satu cara perlindungan yang diberikan telinga luar adalah pembentukan serumen. Sebagian struktur kalenjar terletak pada bagian kartilaginosa. Eksfoliasi sel-sel stratum korneum ikut pula berperan dalam pembentukan materi yang membentuk suatu lapisan pelindung penolak air pada dinding kanalis ini. pH gabungan pada bagian ini adalah sekitar 6, suatu faktor tambahan yang berfungsi mencegah infeksi lagipula migrasi sel-sel epitel yang terlepas membentuk suatu mekanisme pembersihan sendiri dari membran timpani kearah luar (Boies, 1997).

Struktur yang unik dari canalis auditoris eksterna memudahkan terjadi otitis eksterna. Canalis auditoris eksterna lembab, hangat dan gelap, hal ini merupakan lingkungan yang bagus untuk perkembangan jamur dan bakteri. Kulit sangat tipis dan miskin jaringan lunak subkutis sehingga akan terjadi penekanan langsung pada perikondrium. Canalis auditoris externa mempunyai pertahanan yang spesifik. Serumen berubah menjadi asam yang mengandung lisozim dan substansi lain yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Selain itu juga adanya epitelial yang unik juga dapat memberikan perlindungan pada kanalis auditoris eksterna. Ketika pertahanan itu terganggu atau rusuk maka dapat menyebabkan otitis eksterna (Sander, 2001).

 

Definisi

Otitis eksterna adalah inflamasi atau radang pada canalis auditoris eksterna yang dapat mengenai pinna, jaringan lunak periaurikula dan dapat juga mengenai tulang temporal (Carr, 1998). Otitis eksterna juga dapat diartikan sebagai radang liang telinga akut dan kronis yang dapat disebabkan oleh bakteri. Di klinik sukar sekali dibedakan peradangan yang disebabkan oleh penyebab lain seperti jamur, alergi atau virus karena sering kali timbul bersama-sama (Sosialisman dan Helmi, 2001).

 

Etiologi

Pada umumnya penyebab dari otitis eksterna adalah infeksi bakteri seperti Staphyilococcus aureus, Staphylococcus albus, E. colli. Selain itu juga dapat disebabkan oleh penyebaran yang luas dari proses dermatologis yang non-infeksius (Sander, 2001).

 

Patofisiologi

Otitis eksterna adalah penyakit yang sering diderita oleh semua orang. Otitis eksterna seringkali ditunjukkan adanya infeksi bakteri akut dari kulit canalis auricularis tapi juga dapat disebabkan adanya infeksi jamur. Adanya lekukan pada liang telinga dan adanya kelembaban dapat menyebabkan laserasi dari kulit dan merupakan media yang bagus untuk pertumbuhan bakteri. Hal ini sering terjadi setelah berenang dan mandi. Otitis eksterna ini sering terjadi jika suasana panas dan lembab (Waitzman, 2004).

Faktor lain yang dapat menyebabkan otitis eksterna adalah adanya trauma pada liang telinga yang diikuti invasi bakteri kedalam kulit yang rusak trauma ini sering terjadi akibat dari pembersihan liang teling dengan cotton bud ataupun alat lain yang dimasukkan ke dalam telinga. Selain itu masuknya air atau bahan iritan atau hair spray atau cat rambut dapat menyebabkan otitis eksterna (Anonim, 2003).

Sebagai akibatnya terjadi respon inflamasi, edema dan pembengkakan liang telinga yang akan menyebabkan visualisasi menbran timpani terganggu. Eksudat dan pus dapat terproduksi di liang telinga. Pada keadaan yang berat, infeksi dapat meluas pada wajah dan leher. Kuman pathogen yang sering kali menyebabkan otitis eksterna adalah Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus dan bakteri gram negatif lainnya. Meskipun demikian, jamur, seperti Candida atau Aspergilus sp dapat menyebabkan otitis eksterna (Waitzman, 2004).

Hal ini terjadi karena adanya penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen yang menumpuk didaerah dekat gendang telinaga menyembabkan penimbunan air yang masuk ke liang telinga ketika mandi atau berenang sehingga kulit pada liang telinga basah dan lembut (Anonim, 2003)

Otitis eksterna maligna merupakan komplikasi dari otitis eksterna yang terjadi pada pasien yang mengalami imunocompresi atau pasien yang mendapatkan radioterapi pada tulang kepala. Pada kondisi ini bakteri akan meninvasi jaringan lunak yang dalam dan menyebabkan oeteomielitis pada os temporal (Waitzman, 2004).

 

Manifestasi Klinik

Pasien dengan otitis eksterna biasanya mengeluh adanya nyeri telinga (otalgia) dari yang sedang sampai berat, berkurangnya atau hilangnya pendengaran, tinnitus atau dengung, demam, discharge yang keluar dari telinga, gatal-gatal (khususnya pada infeksi jamur atau otitis eksterna kronik), rasa nyeri yang sangat berat (biasanya pada pasien yang imunocompopromais, diabetes, otitis eksterna maligna). Selain itu juga ditemukan adanya tanda nyeri tekan pada tragus (Waitzmann, 2004).

Pada keadaan yang berat, penderita sering mengeluh sakit pada saat mengunyah atau membuka mulut (Sander, 2001).

 

Klasifikasi

Otitis Eksterna Akut

Terdapat 2 kemungkinan otitis eksterna akut yaitu otitis eksterna sirkumskripta dan otitis eksterna difus.

1. Otitis Eksterna Sirkumskripta (Furunkel = Bisul)

Oleh karena kulit di sepertiga luar liang telinga mengandung adneksa kulit seperti folikel rambut, kalenjar sebasea dan kalenjar serumen maka di tempat itu dapat terjadi infeksi pada pilosebaseus sehingga membentuk furunkel. Kuman penyebabnya biasanya Staphylococcus aureus atau Staphylococcus albus (Sosialisman dan Helmi, 2001).

Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar dibawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul spontan pada waktu membuka mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat juga gangguan pendengaran bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga (Sosialisman dan Helmi, 2001).

Terapinya tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan antibiotika dalam bentuk salep, seperti polymixin B atau bacitrasin atau antiseptic (asam asetat 2-5% dalam alcohol 2%). Kalau dinding furunkel tebal, dilakukan incise kemudian dipasang drain untuk mengalirkan nanahnya. Biasanya tidak perlu diberikan obat simtomatik seperti analgetik dan obat penenang (Sosialisman dan Helmi, 2001).

2. Otitis Eksterna Difus

Biasanya mengenai kulit liang telinga duapertiga dalam. Tampak kulit liang telinga dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema dengan tidak jelas batasnya serta terdapat furunkel. Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis (Sosialisman dan Helmi, 2001).

Gejalanya sama dengan otitis eksterna sirkumskripta. Kadang-kadang terdapat sekret yang berbau. Sekret ini tidak mengandung lendir (musin) seperti sekret yang ke luar dari cavum timpani pada otitis media. Pengobatannya ialah dengan memasukkan tampon tampon yang mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan antibiotika sistemik (Sosialisman dan Helmi, 2001).

 

Otomitosis

infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di daerah tersebut. Yang tersering ialah jamur aspergilus. Kadang-kadang ditemukan juga kandida albicans atau jamur lain. Gejalanya biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga tetapi sering pula tanpa keluhan (Sosialisman dan Helmi, 2001).

Pengobatannya ialah dengan membersihkan liang telinga. Larutan asam asetat 2-5% dalam alcohol yang diteteskan ke liang telinga. Kadang-kadang diperlukan obat antijamur sebagai salep yang diberikan secara topical (Sosialisman dan Helmi, 2001).

 

Infeksi Kronis Liang Telinga

Infeksi bakteri maupun jamur yang tidak diobati dengan baik, trauma berulang, adanya benda asing, penggunaan cetakan (mould) pada alat Bantu dengar (hearing aid) dapat menyebabkan radang kronis. Akibatnya terjadi penyempitan liang telinga oleh pembentukan jaringan parut atau sikatriks. Pengobatannya memerlukan operasi rekonstruksi liang telinga (Sosialisman dan Helmi, 2001).

 

Keratosis Obliteran dan Kolesteatoma Externa

Keratosis obliterans adalah kelainan yang jarang terjadi. Biasanya secara kebetulan ditemukan pada pasien dengan rasa penuh di telinga. Penyakit ini ditandai dengan penumpukan deskuamasi epidermis di liang telinga sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar. Bila tidak ditanggulangi dengan baik akan terjadi erosi kulit dan bagian tulang liang telinga yang sering disebut sebagai kolesteatoma yang disertai dengan rasa nyeri yang hebat akibat peradangan setempat. Etiologinya belum diketahui, sering terjadi pada pasien dengan kelainan paru kronik seperti bronkiektasis juga pada pasien sinusitis (Sosialisman dan Helmi, 2001).

Pemberian obat tetes telinga campuran alkohol atau gliserin dalam peroksida 3% selama 3 kali seminggu merupakan pengobatan dari penyakit ini. Pada pasien yang telah mengalami erosi dilakukan tindakan bedah (Sosialisman dan Helmi, 2001).

 

Otitis Externa Maligna

Otitis eksterna maligna merupakan tipe dari infeksi akut yang difus yang biasanya terjadi pada penderita penyakit diabetes mellitus. Radang dapat meluas secara progresif ke lapisan subkutis dan organ sekitarnya sehingga dapat menimbulkan kelainan berupa kondritis, oeteitis, dan osteomielitis yang mengakibatkan kehancuran tulang temporal. Gejalanya rasa gatal yang diikuti nyeri yang hebat dan sekret yang banyak serta pembengkakkan liang telinga (Sosialisman dan Helmi, 2001).

Saraf fasial dapat terkena sehingga dapat menimbulkan paresis atau paralysis facial. Pengobatan tidak boleh ditunda-tunda yaitu dengan pemberian antibiotic dosis tinggi yang dikombinasi dengan amino glikosid. Disamping obat-obatan, juga diperlukan tindakan debrideman (Sosialisman dan Helmi, 2001).

 

DAFTAR PUSTAKA

Tumor Laring

Latar Belakang
Di Indonesia , tumor laring di pita suara suara mencapai 1 % dari semua keganasan. Selain rokok faktor resiko lain adalah alkohol, paparan radiasi, paparan bahan industri, faktor kekebalan tubuh serta faktor genetik.( 1 )
Seperti dikemukakan oleh dr Sri Susilawati memaparkan data di RS Ciptomangunkusumo, selama 5 tahun terakhir ada sekitar 144 kasus kanker laring. Penyakit itu telah menjadi pembunuh nomor tiga setelah nasofaring dan hidung atau sinus. Perbandingan antara pasien pria dan wanita adalah tujuh banding satu. Usia terbanyak 51 sampai 60 tahun.( 2 )
 
 
Embriologi
Faring, laring, trakea dan paru – paru merupakan derivat foregut embrional yang terbentuk sekitar 18 hari setelah konsepsi. Tak lama sesudahnya, terbentuk alur faring median yang berisi petunjuk – petunjuk pertama sistem pernafasan dan benih laring. Sulkus atau alur laringotrachea menjadi nyata pada sekitar hari ke 21 kehidupan embrio. Perluasan alur kearah kaudal merupakan primordial paru. Alur menjadi lebih dalam dan berbentuk kantung dan kemudian menjadi dua lobus pada hari ke 27 atau ke 28. bagian yang paling proksimal dari tuba yang membesar ini akan menjadi laring. Pembesaran aritenoid dan lamina epithelial dapat dikenali menjelang 33 hari, sedangkan kartilago, otot dan sebagian besar pita suara ( korda vokalis ) terbentuk dalam tiga atau empat minggu berikutnya.( 3 )
Hanya kartilago epiglottis yang tidak terbentuk hingga masa midfetal. Karena perkembangan laring berkaitan erat dengan perkembangan arkus brankialis embrio, maka banyak struktur laring merupakan derivat dari apparatus brankialis. ( 3 )
Gangguan perkembangan dapat berakibat kelainan yang dapat didiagnosis melalui pemeriksaan laring secara langsung. Laring sendiri mungkin kecil atau mungkin terdapat berbagai tingkatan selaput diantara korda vokalis sejati. Jarang, lengan posterior dari sulcus laringotrachea yang berbentuk T dapat menetap, meninggalkan celah laring terbuka antara esofagus dan trakea. Laringomalasia suatu tingkat abnormal flasiditas pada kerangka laring, sehingga laring menjadi kolaps pada waktu respirasi, merupakan kelainan kongenital laring yang paling sering tampak sebagai penyebab untuk stridor pada neonatus. Hal ini hampir selalu merupakan kondisi jinak yang sembuh spontan dengan pertumbuhan dan perkembangan.(3 )
 
Anatomi Laring
Struktur penyangga
Struktur kerangka laring terdiri dari satu tulang dan beberapa kartilago yang berpasangan ataupun tidak . Disebelah superior terdapat os hioideum, struktur yang berbentuk U dan dapat dipalpasi di leher depan dan lewat mulut pada dinding faring lateral. Meluas dari masing – masing sisi bagian tengah atau os atau korpus hioideum adalah suatu prosesus panjang dan pendek yang mengarah ke posterior dan suatu prosesus pendek yang mengarah ke superior.tendon dan otot – otot lidah, mandibula , dan kranium, melekat pada permukaan superior korpus kedua prosesus. Saat menelan kontraksi otot – otot ini mengangkat laring . Namun bila laring dalam keadaan stabil, maka otot – otot tersebut akan membuka mulut dan akan berperan dalam gerakan lidah. Di bawah os hioideum dan menggantung pada ligamentum tirohioideum adalah dua alae atau sayap kartilago tiroidea (perisai). Ke dua alae menyatu di garis tengah pada sudut yang lebih dulu dibentuk pada pria, lalu membentuk “jakun” (Adam apple). Pada tepi masing – masing alae, terdapat kornu superior dan inferior. Artikulasio kornu inferius dan kartilago krikoidea, memungkinkan sedikit pergeseran atau pergerakan antara kartilago tiroidea dan krikodea.(3 )
Kartilago krikoidea yang juga mudah teraba dibawah kulit, melekat pada kartilago tiroidea lewat ligamentum krikotiroideum. Tidak seperti struktur penyokong lainnya dari jalan pernapasan, kartilago krikoidea berbentuk lingkaran penuh dan tak mampu mengembang. Permukaan posterior atau lamina krikoidea cukup lebar, sehingga kartilago ini tampak seperti signet ring. Intubasi endotrakea yang lama sering kali merusak lapisan mukosa cincin dan dapat menyebabkan stenosis subglotis, didapat disebelah inferior, kartilago trakealis pertama melekat pada krikoid lewat ligamentum interkartilaginosa.(3)
Pada permukaan superior lamina terletak pasangan kartilago aritenoidea masing – masing berbentuk sepertipiramid berisi tiga. Basis piramidalis berartikulasi dengan krikoid pada artikulasio krikoatenoidea, sehingga dapat terjadi gerakan meluncur dari medial ke lateral dan rotasi. Tiap kartilago aritenoidea mempunyai dua prosesus , prosesus vokalis anterior dan prosesus muskularis lateralis. Ligamentum vokalis meluas ke anterior dan masing – masing prosesus vokalis dan berisensi ke dalam kartilago tiroidea di garis tengah. Prosesus membentuk dua perlima bagian belakang dari korda vokalis. Sementara ligamentum vokalis membentuk bagian membranosa atau bagian pita suara yang dapat bergetar. Ujung bebas dan permukaan superior korda vokalis suara membentuk glotis. Bagian laring diatasnya disebut supraglotis dan dibawahnya subglotis. Terdapat dua pasang kartilago kecil didalam laring yang tidak memiliki fungsi. Kartilago kornikulata terletak dalam jaringan diatas menutupi aritenoid. Disebelah lateralnya, yaitu didalam plika ariepiglotika terletak kartilago kuneiformis.(3)
Kartilago epiglotika merupakan struktur garis tengah tunggal yang berbentuk seperti bat pingpong. Pegangan atau petiolus melekat melalui suatu ligamentum pendek pada kartilago tiroidea tepat diatas korda vokalis, sementara bagian racquet meluas keatas dibelakang korpus hioideum ke dalam lumen faring, memisahkan pangkal lidah dan laring. Epiglotis dewasa umumnya sedikit cekung pada bagian posterior. Namun pada anak dan sebagian orang dewasa, epiglotis jelas melengkung dan disebut epiglottis omega atau juvenilis. Fungsi epiglottis sebagai lunas yang mendorong makanan yang ditelan ke samping jalan napas laring. Selain itu, laring juga disokong oleh jaringan elastik. Di sebelah superior, pada ke dua sisi laring terdapat membran kuadrangularis yang meluas ke belakang dari tepi lateral epiglotis hingga tepi lateral kartilgo aritenoidea. Dengan demikian, membran ini membagi dinding antara laring dan sinus piriformis, dan batas superiornya disebut plika ariepiglotika. Jaringan pasangan elastik lainnya adalah konus elastikus ( membrana krikovokalis). Jaringan ini jauh lebih kuat daripada membran kuadrangularis, dan meluas keatas dan medial dari arkus kartilaginis krikoidea untuk bergabung dengan ligamentum vokalis pada masing – masing sisi. Jadi konus elaktikus terletak dibawah mukosa di bawah permukaan korda vokalis sejati.(3)
 
Otot – otot laring
Otot – otot laring dapat dibagi dalam dua kelompok. Otot ekstrinsik yang terutama bekerja pada laring secara keseluruhan, sementara otot intrinsik menyebabkan gerakan antara struktur – struktur laring sendiri. Otot ekstrinsik dapat digolongkan menurut fungsinya. Otot depresor atau otot- otot leher ( omohioideus, sternotyroideus, sternohyoideus ) berasal dari bagian inferior. Otot elevator ( milohyoideus, geniohyoideus, genioglosus, hyoglosus, digastrikus dan stilohyoideus ) meluas dari os hyoideum ke mandibula, lidah dan prosessus stiloideus pada kranium. Otot tirohioideus walaupun digolongkan sebagai otot – otot leher, terutama berfungsi sebagai elevator. Melekat pada os hioideum dan ujung posterior alae kartilago tiroidea adalah otot konstriktor medius dan inferior yang melingkari faring disebelah posterior dan berfungsi pada saat menelan. Serat – serat paling bawah dari otot konstriktor inferior berasal dari krikoid, membentuk krikofaringeus yang kuat, yang berfungsi sebagai sfingter esophagus superior.(3)
Anatomi otot – otot intrinsik laring paling baik dimengerti dengan mangaitkan fungsinya. Serat – serat otot interaritenoideus ( aritenoideus ) tranversus dan oblikus meluas antara kedua kartilago aritenoidea. Bila berkontraksi, kartilago aritenoidea akan bergeser kearah garis tengah, mengaduksi korda vokalis. Otot krikoaritenoideus posterior meluas dari permukaan posterior lamina krikoidea untuk berinsersi kedalam procesus muskularis aritenoidea; otot ini menyebabakan rotasi aritenoid kearah luar dan mengaduksi korda vokalis. Antagonis utama otot ini, yaitu otot krikoaritenoideus lateralis berorigo pada arkus krikoidea lateralis; insersinya juga pada prosesus muskularis dan menyebabakan rotasi aritenoid ke medial, menimbulkan aduksi. Yang membentuk tonjolan korda vokalis adalah otot vokalis dan dan tiroaritenoideus yang hampir tidak dapat dipisahkan; kedua otot ini ikut berperan dalam membentuk tegangan korda vokalis. Pada individu lanjut usia, tonus otot vokalis dan tiroaritenoideus agak berkurang; korda vokalis tampak membusur keluar dan suara menjadi lemah dan serak. Otot – otot laring utama lainnya adalah pasangan otot krikotiroideus, yaitu otot yang berbentuk kipas berasal dari arkus krikoidea disebelah anterior dan berinsersi pada permukaan lateral alae tiroid yang luas. Kontraksi otot ini menarik kartrilago tiroidea kedepan, meregang dan menegangkan korda vokalis. Kontraksi ini secara pasif juga memutar aritenoid ke medial, sehingga otot krikotiroideus juga dianggap sebagai otot abduktor. Maka secara ringkas dapat dikatakan terdapat satu otot abduktor, tiga aduktor dan tiga otot tensor seperti yang diberikan berikut ini :
2012-02-20 11h07_35
Persarafaan, Perdarahan dan Drainase limfatik
Dua pasangan saraf mengurus laring dengan persarafan sensorik dan motorik. Dua saraf laringeus superior dan dan dua inferior atau laringeus rekurens saraf laringeus merupakan cabang – cabang saraf vagus. Saraf laringeus superior meninggalkan trunkus vagalis tepat dibawah ganglion nodusum melengkung ke anterior dan medial dibawah arteri karotis eksterna dan interna, dan bercabang dua menjadi suatu cabang sensorik interna dan cabang motorik eksterna. Cabang interna menembus membrana tirohioidea untuk mengurus persarafan sensorik valekula, epiglottis, sinus piriformis dan seluruh mukosa laring superior interna tepi bebas korda vokalis sejati. Masing – masing cabang eksterna merupakan suplai motorik untuk satu otot saja, yaitu otot krikotiroideus. Disebelah inferior, saraf rekurens berjalan naik dalam alur diantara trakea dan esofagus, masuk kedalam laring tepat dibelakang artikulasio krikotiroideus, dan mengurus persarafan motorik semua otot interinsik laring kecuali krikotiroideus. Saraf rekurens juga mengurus sensasi jaringan dibawah korda vokalis sejati ( regio subglotis ) dan trakea superior.(3)
Karena perjalan saraf inferior kiri yang lebih panjang serta hubungannya dengan aorta, maka saraf ini lebih rentan cedera dibanding saraf kanan.(3)
Suplai arteri dan drainase venosus dari laring paralel dengan suplai sarafnya. Arteri dan vena laringea superior merupakan cabang – cabang arteri dan vena tiroidea superior, dan keduanya bergabung dengan cabang interna saraf laringeus superior untuk membentuk pedikulus neurovaskuler superious. Arteri dan vena laringea inferior berasal dari pembuluh tiroidea inferior dan masuk ke laring bersama saraf laringeus rekurens.(3)
Pengetahuan mengenai drainase limfatik pada laring adalah penting pada terapi kanker. Terdapat dua system drainase terpisah, superior dan inferior, dimana garis pemisah adalah korda vokalis sejati. Korda vokalis sendiri mempunyai suplai limfatik yang buruk. Disebelah superor, aliran limfe menyertai pedikulus neurovaskuler superior untuk bergabung dengan nodi limfatisis superior dari rangkaian servikalis profunda setinggi os hioideus. Drainase subglotis lebih beragam, yaitu ke nodi limfatisi pretrakeales ( satu kelenjar terletak tepat didepan krikoid dan disebut nodi Delphian ), kelenjar getah bening servikalis profunda inferior, nodi supraklavikularis dan bahkan nodi mediastinalis superior.(3)
Struktur Laring Dalam
Sebagian besar laring dilapisi oleh mukosa toraks bersilia yang dikenal sebagai epitel respiratorius. Namun, bagian – bagian laring yang terpapar aliran udara yang terbesar, misalnya permulaan lingua pada epiglottis, permukaan superior plika ariepiglotika, dan permukaan superior serta tepi batas korda vokalis sejati, dilapisi epitel gepeng yang lebih keras. Kelenjar penghasil mukus banyak ditemukan dalam epitel respiratorius.(3)
Struktur pertama yang diamati pada pemeriksaan memakai kaca adalah epiglottis. Tiga pita mukosa ( satu pita glosoepiglotika mediana dan dua plika glosoepiglotika lateralis ) meluas dari epiglottis ke lidah. Diantara pita median dan setiap pita lateral terdapat suatu kantong kecil, yaitu valekula. Dibawah tepi bebas epiglotis, dapat terlihat aritenoid sebagai dua gundukan kecil yang dihubungkan oleh otot interaritenoid yang tipis. Perluasan dari masing – masing aritenoid ke anterolateralis menuju tepi lateral bebas dari epiglottis adalah plika ariepiglotika, merupakan suatu membran kuadragularis yang dilapisi mukosa. Dilateral plika ariepiglotika terdapat sinus atau resesus piriformis. Struktur ini bila dilihat dari atas, merupakan suatu kantung berbentuk segitiga dimana tidak memiliki dinding posterior. Dinding medialnya dibagian atas adalah kartilago kuadrangularis dan dibagian bawah kartilago aritenoidea dengan otot – otot lateral yang melekat padanya, dan dinding lateral adalah permukaan dalam alae tiroid. Disebelah posterior sinus piriformis berlanjut sebagai hipofaring. Sinus piriformis dan faring bergabung ke bagian inferior, ke dalam introitus esofagi yang dikelilingi oleh otot krikofaringeus yang kuat.(3)
Dalam laring sendiri, terdapat dua pasang pita horizontal yang berasal dari aritenoid dan berinsersi kedalam kartilago tiroidea bagian anterior. Pita superior adalah korda vokalis palsu atau pita ventricular, dan lateral terhadap kda vokalis sejati. Korda vokalis palsu terletak tepat di inferior tepi bebas membrane kuadrangularis. Ujung korda vokalis sejati ( plika vokalis ) adalah batas superior konus elastikus. Otot vokalis dan tiroaritenoideus membentuk massa dari korda vokalis ini. Karena permukaan superior korda vokalis adalah datar, maka mukosa akan memantulkan cahaya dan tampak berwarna putih pada laringoskopi indirek. Korda vokalis palsu dan sejati dipisahkan oleh ventrikulus laringis. Ujung anterior ventrikel meluas ke superior sebagai suatu divertikulum kecil yang dikenal sebagai sakulus laringis, dimana terdapat sejumlah kelenjar mucus yang diduga melumasi korda vokalis. Pembesaran sakulus secara klinis dikenal sebagai laringokel.(3)
Struktur disekitarnya
Disebelah anterior terdapat ismus kelenjar tiroid yang menutup beberapa cincin trakea pertama, sementara lobus tiroid terletak diatas dinding lateral trakea dan dapat meluas hingga ke alae tiroid. Ismus perlu diangkat dan terkadang diinsisi saat melakukan trakeostomi menembus cincin kartilaginus trakealis yang ketiga. Otot – otot leher menutup laring dan kelenjar tiroid, kecuali digaris dimana raphe median menyebabkan struktur – struktur laring terletak dalam posisi subkutan. Membrana krikotiroidea mudah dipalpasi dan dalam keadaan darurat, dapat dengan cepat diinsisi unutk membuat jalan napas, arteri inominata tidak jarang melewati didepan trakea servikalis, sehingga perlu dilakukan palpasi yang cermat dalam pelaksanaan trakeostomi. Dilateral dan posterior terhadap laring adalah selubung karotis yang masing – masing berisi arteri karotis, vena jugularis dan saraf vagus.(3)
Pembagian tumor
1. Tumor jinak laring.
Tumor jinak laring tidak banyak ditemukan, hanya kurang dari 5 % dari senua jenis tumor laring.
Tumor jinak laring dapat berupa (4)
1. Papiloma laring ( terbanyak frekuensinya ).
2. Nodulus vokal.
3. Kondroma.
4. Mieloblastoma sel granuler.
5. Hemangioma.
6. Poliposis korda vokalis difus.
7. Ulkus kontak.
8. Leukoplakia dan eritroplakia
2. Tumor ganas laring
Sebagai gambaran perbandingan, diluar negeri karsinoma laring menempati urutan pertama dalam urutan keganasan dibidang THT, sedangkan di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, karsinoma laring menduduki urutan ketiga setelah karsinoma nasofaring dan tumor ganas hidung dan sinus paranasal.(4)
Etiologi karsinoma laring belum diketahui dengan pasti. Dikatakan oleh para ahli bahwa perokok dan peminim alkohol merupakan kelompok orang – orang dengan resiko tinggi terhadap karsinoma laring.(4)
Yang terpenting pada penanggulangan karsinoma laring ialah diagnosis dini dan pengobatan / tindakan yang tepat dan kuratif, karena tumornya masih terisolasi dan dapat diangkat secara radikal. Tujuan utama ialah mengeluarkan bagian laring yang terkena tumor dengan memperhatikan fungsi respirasi, fonasi serta fungsi sfingter laring.(4)
Klasifikasi Tumor Ganas Laring ( AJCC dan UICC 1988 )
clip_image001 Tumor primer ( T )
Supraglotis
Tis : karsinoma insitu
T1 : tumor terdapat pada satu sisi suara / pita suara palsu ( gerakan masih baik ).
T2 : Tumor sudah menjalar ke 1 dan 2 sisi daerah supraglotis dan glotis masih bisa bergerak ( tidak terfiksir ).
T3 :tumor terbatas pada laring dan sudah terfiksir atau meluas ke daerah ke krikod bagian belakang, dinding medial dari sinus piriformis, dan kearah rongga preepiglotis.
T4 : Tumor sudah meluas keluar laring, menginfiltrasi orofaring jaringan lunak pada leher atau sudah merusak tulang rawan tiroid.
Glotis
Tis : karsinoma insitu.
T1 : Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan pita suara masih baik, atau tumor sudah terdapat pada kommisura anterior atau posterior.
T2 : Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir ( impaired mobility ).
T3 : Tumor meliputi laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau sudah keluar dari laring.
Subglotis
Tis : Karsinoma insitu.
T1 : Tumor terbatas pada daerah subglotis.
T2 : Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir.
T3 : Tumor sudah mengenai laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau perluasan ke luar laring atau dua – duanya.

clip_image001[1] Penjalaran ke kelenjar limfe ( N )
Nx : Kelenjar limfe tidak teraba.
N0 : Secara klinis kelenjar tidak teraba.
N1 : Secara klinis teraba satu kelenjar limfe dengan ukuran diameter 3 cm homolateral.
N2 : Teraba kelenjar limfe tunggal, ipsilateral dengan ukuran diameter 3-6 cm.
N2a : Satu kelenjar limfe ipsilateral, diameter lebih dari 3 cm tapi tidak lebih dari 6 cm.
N2b : Multipel kelenjar limfe ipsilateral, diameter tidak lebih dari 6 cm.
N2c : Metastasis bilateral atau kontralateral, diameter tidak lebih dari 6 cm.
N3 : Metastasis kelenjar limfe lebih dari 6 cm.

clip_image001[2] Metastasis jauh ( M )
Mx : Tidak terdapat / terdeteksi.
M0 : Tidak ada metastasis jauh.
M1 : Terdapat metastasis jauh.
Staging (Stadium)
ST1 : T1 N0 M0
ST II : T2 N0 M0
ST III : T3 N0 M0, T1/T2/T3 N1 M0
ST IV : T4 N0/N1 M0
T1/T2/T3/T4 N2/N3
T1/T2T3/T4 N1/N2/N3 M1
 
4. Tumor Jinak laring
4.1. Papiloma laring
Tumor ini dapat digolongkan dalam 2 jenis :
1. Papiloma laring juvenil, ditemukan pada anak, biasanya berbentuk multiple dan mengalami regresi pada waktu dewasa.
2. Pada orang dewasa biasanya berbentuk tunggal , tidak akan mengalami resolusi dan merupakan prekanker.
Bentuk Juvenil
Tumor ini dapat tumbuh pada pita suara bagian anterior atau daerah subglotik. Dapat pula tumbuh di plika ventrikularis atau daerah subglotik. Dapat pula tumbuh di plika ventrikularis atau aritenoid.
Secara makroskopik bentuknya seperti buah murbei, berwarna putih kelabu dan kadang – kadang kemerahan. Jaringan tumor ini sangat rapuh dan kalau dipotong tidak menyebabkan perdarahan. Sifat yang menonjol dari tumor ini ialah sering tumbuh lagi setelah diangkat, sehingga operasi pengangkatan harus dilakukan berulang – ulang.
Gejala
Gejala papiloma laring yang utama ialah suara parau. Kadang – kadang terapat pula batuk. Apabila papiloma telah menutup rima glotis maka timbul sesak nafas dengan stridor.
Diagnosis
Diagnosis berdasarkan anamnesis, gejala klnik, pemeriksaan laring langsung,biopsi, serta pemeriksaan patologi – anatomik.
Terapi
- Ekstirpasi papiloma dengan bedah mikro atau juga dengan sinar laser. Oleh karena sering tumbuh lagi, maka tindakan ini diulamh berkali –kali. Kadang – kadang dalam seminggu sudah tampak papiloma yang tumbuh lagi.
- Terapi terhadap penyebabnya belum memuaskan, karena sampai sekarang etiologinya belum diketahui dengan pasti.
Sekarang tersangka penyebabnya ialah virus, tetapi pada pemeriksaan dengan mikroskop elektron inclusion body tidak ditemukan.
Untuk terapinya diberikan juga vaksin dari massa tumor, obat anti virus, hormon, kalsium atau ID methionin ( essential aminoacid ).
Tidak dianurkan memberikan radioterapi, oleh karena papiloma dapat berubah menjadi ganas.(4)
4.2. Nodulus Vokal
Terdapat berbagai sinonim klinik untuk polip nodular vokalis, termasuk screamer’s nodule, singer’s node atau teacher’s node. Nodulus jinakdapat unilateral dan timbul akibat penggunaan korda vokalis yang tidak tepat atau berlangsung lama. Seringkali bilamana disertai peradangan, maka korda vokalis akan saling melekat kuat, sehingga terbentuk suatu polip atau nodul. Nodul dapat bervariasi secara histologis dari suatu tumor edematosa yang longgar dan lunak, hingga massa fibrosa yang padat, atau suatu lesi vascular dengan banyak pembuluh kecil sebagai gambaran utamanya. Beberapa pasien berespon baik dengan pembatasan dan re – edukasi vokal, namun banyak juga yang memerlukan pembedahan endoskopik.( 3 )
4.3. Kondroma
Kondroma merupakan tumor kartilago hialin yang tumbuh lambat, dapat berasal dari kartilago krikoidea, tiroidea, aritenoidea dan epiglotika. Suara serak akibat keterbatasan gerak korda vokalis dan dispnea disebabkan obstruksi jalan nafas merupakan gejala utama. Banyak tumor kemudian mengalami klasifikasi dan dapat dicurigai melalui pemeriksaan radiografik. Terapi bersifat bedah, di mana asal dan besarnya tumor menentukan teknik bedah. Karena tumor ini tumbuh lambat, maka terkadang dapat diangkat sebagai guna meringankan gejala penderita, tanpa perlu mengorbankan laring.(3)
4.4. Mioblastoma Sel Granular
Tumor ini cenderung timbul pada lidah dan laring. Suara serak merupakan gejala utama tumor kecil ini, dan tidak sering rekurens setelah pengangkatan secara endoskopis. Mukosa yang menutup mioblastoma sel granular dapat memperlihatkan hiperplasi pseudoepitelial, yang dapat dikelirukan dengan karsinoma.
4.5. Hemangioma
Hemangioma pada daerah subglotis pada laring dibicarakan di sini karena merupakan suatu tumor yang terjadi pada bayi dibawah usia enam bulan. Separuh penderita hemangioma laring juga memiliki suatu hemangioma eksterna pada kepala atau leher. Stridor plus hemangioma yang nyata sangat kuat menyokong diagnosis. Tumor-tumor ini bukanlah neoplasma sejati namun lebih merupakan kelainan vascular, tumor cenderung beregresi biasanya menjelang usia 12 bulan. Gejala hemangioma tidak berupa perdarahan, namun berupa sumbatan jalan nafas. Suara dan proses menelan biasanya normal. Hemangioma terletak sangat dekat dengan korda vokalis, yaitu diatas lokasi trakeotomi dan benar-benar subglotis. Radiogram lateral dapat memperlihatkan suatu massa dalam jalan nafas. Secara endoskopis, ditemukan massa yang licin dan dapat ditekan, seringkali pada dinding posterior atau lateral. Terapi seringkali dengan trakeotomi dan membutuhkan waktu untuk regresi. Eksisi laser kini dilakukan. Radiasi dosis rendah juga telah dilakukan, namun kini dihindari karena kekhawatiran akan timbulnya karsinoma tiroid lanjut.(3)
4.6. Poliposis Korda Vokalis
Degenerasi polipoid di sepanjang korda vokalis biasanya berkaitan dengan penggunaan vokal yang lama, merokok, dan radang yang menetap. Pengangkatan bedah harus dilakukan pada satu sisi berturut-turut, untuk mencegah pembentukan sinekia pada komisura anterior. Pembedahan harus diikuti menghentikan merokok dan re-edukasi vokal. Jika tidak demikian, mungkin akan terjadi kekambuhan jaringan polipoid yang tebal sepanjang korda vokalis.(3)
4.7. Ulkus Kontak
Kerja mekanis korda vokalis terhadap pasangannya lebih cenderung membentuk nodulus vokalis pada wanita dan anak-anak, sedangkan pada pria kemungkinan besar membentuk ulkus kontak. Gerakan korda vokalis pria yang kuat menyebabkan kedua kartilago aritenoidea bersentuhan, dan iritasi yang terjadi membentuk suatu granuloma yang disebut ulkus kontak. Secara khas, pasien mengeluh nyeri dan namun perubahan suara hanya ringan. Ulkus kontak menyembuh dengan lambat, biasanya dalam dua hingga tiga bulan. Terapi bicara lazimnya dapat membantu kesembuhan. Biopsi berguna untuk mengurangi jaringan granulasi yang berlebihan dan memberi keyakinan pada pasien bahwa granuloma tersebut tidak ganas.(3)
4.8. Leukoplakia dan Eritroplakia
Iritasi laring yang menetap terutama akibat merokok, dapat berakibat timbulnya suatu daerah keputih-putihan. Secara klinis, daerah putih ini disebut sebagai leukoplakia. Sebaliknya, daerah dengan makna klinis dan histology seringkali tampak kemerahan(eritroplakia). Tiap daerah laring dapat terlihat, namun biasanya korda vokalis paling sering terserang. Keluhan umumnya berupa suara serak. Biopsi daerah ini memperlihatkan hyperkeratosis, karsinoma in situ atau karsinoma sejati. Hiperkeratosis ditemukan pada hampir seluruh biopsy. Terapinya adalah dengan pengangkatan total secara endoskopis, dan pengawasan pasien dengan cermat. Merokok harus dikurangi. Hiperkeratosis dapat menjadi karsinoma invasif setelah beberapa waktu, namun hal ini tidak sering terjadi, kebanyakan ahli memperlihatkan angka insidens sebesar 15 persen atau kurang.(3)
II.5. Tumor ganas laring
Dalam periode 6 tahun ( 1980 – 1985 ), di bagian THT RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta didapatkan 14 penderita karsinoma laring dengan perbandingan laki – laki dan perempuan sebanyak 7 : 1. perbandingan ini agak tinggi diluar negeri, mungkin karena ada kecendrungan meningkatnya kebiasaan kaum wanita diluar negeri ( negeri barat ) untuk merokok dan minum alkihol.
Karsinoma laring terbanyak didapatkan pada pasien yang berumur menjelang tua, dengan usia antara 50 – 60 tahun.
 
Epidemiologi
Kebanyakan ( 70 – 90 % ) karsinoma laring ditemukan pada pria usia lanjut. Tipe glotik merupakan 60 – 65 %, supraglotik 30 – 35 %, dan infraglotik hanya 5 %. Merokok merupakan penyebab utama.(5)
 
Diagnosis
Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan suara parau yang diderita sudah cukup lama, tidak bersifat hilang - timbul meskipun sudah diobati dan bertendens makin lama menjadi berat. Penderita kebanyakan adalah seorang perokok berat yang juga kadang – kadang adalah seorang yang juga banyak memakai suara berlebihan dan salah ( vocal abuse ), peminum alkohol atau seorang yang sering atau pernah terpapar sinar radioaktif, misalnya pernah diradiasi didaerah lain. Pada anamnesis kadang – kadang didapatkan hemoptisis, yang bisa tersamar bersamaan dengan adanya TBC paru, sebab banyak penderita menjelang tua dan dari sosial - ekonomi yang lemah.
Sesuai pembagian anatomi, lokasi tumor laring dibagi menjadi 3 bagian yakni supraglotis, glottis dan subglotis, dan gejala serta tanda – tandanya sesuai dengan lokasi tumor tersebut.
Gejala yang sering dijumpai adalah suara parau, yang disebabkan oleh lesi yang mengenai daerah pita suara. Disusul oleh sesak nafas yang disebabkan oleh tertutupnya jalan nafas oleh tumor, dan batuk yang kadang – kadang dengan reak yang bercampur darah yang dikarenakan adanya ulserasi pada tumor tersebut, serta penurunan berat badan sebagai gejala umum.
Dari pemeriksaan fisik sering didapatkan tidak adanya tanda yang khas dari luar, terutama pada stadium dini / permulaan, tetapi bila tumor sudah menjalar ke kelenjar limfe leher, terlihat perubahan kontur leher, dan hilangnya krepitasi tulang rawan – tulang rawan laring.
Pemeriksaan untuk melihat kedalam laring dapat dilakukan dengan cara tak langsung maupun langsung dengan menggunakan laringoskop unutk menilai lokasi tumor, penyebaran tumor yang terlihat ( field of cancerisation ), dan kemudian melakukan biopsi.
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan selain pemeriksaan laboratorium darah, juga pemeriksaan radiologik. Foto toraks diperlukan untuk menilai keadaan paru , ada atau tidaknya proses spesifik dan metastasis diparu. Foto jaringan lunak ( soft tissue ) leher dari lateral kadang – kadang dapat menilai besarnya dan letak tumor, bila tumornya cukup besar. Apabila memungkinkan, CT scan laring dapat memperlihatkan keadaan tumor dan laring lebih seksama, misalnya penjalaran tumor pada tulang rawan tiroid dan daerah pre-epiglotis.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologi-anatomik dari bahan biopsi laring, dan biosi jarum-halus pada pembesaran kelenjar limf dileher. Dari hasil patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa.
Dari semua hasil pemeriksaan, dirangkum dalam penentuan stadium tumor, yang didasari dari klasifikasi menurut UICC.
Staging ( = Stadium )
ST1 : T1 N0 M0
STII : T2 N0 M0
STIII : T3 N0 M0, T1/T2/T3 N1 M0
STIV :T4 N0/N1 Mo
T1/T2/T3/T4 N2/N3
T1/T2/T3/T4 N1/N2/N3 M1
 
Penanggulangan
Setelah diagnosis dan stadium tumor ditegakkan, maka ditentukan tindakan yang akan diambil sebagai penanggulangannya.
Ada 3 cara penanggulangan yang lazim dilakukan, yakni pembedahan, radiasi, obat sitostatika ataupun kombinasi daripadanya, tergantung pada stadium penyakit dan keadaan umum pasien.
Sebagai patokan dapat dikatakan stadium 1 dikirim untuk mendapatkan radiasi, stadium 2 dan 3 dikirim untuk dilakukan operasi, stadium 4 dilakukan operasi dengan rekonstruksi, bila masih memungkinkan atau dikirim untuk mendapatkan radiasi.
Jenis pembedahan adalah laringektomia totalis atau pun parsial, tergantung lokasi dan penjalaran tumor, serta dilakukan juga diseksi leher radikal bila terdapat penjalaran ke kelenjar limf leher. Dibagian THT RSCM tersering dilakukan laringektomi totalis, karena beberapa pertimbangan, sedangkan laringektomi parsial jarang dilakukan, karena teknik sulit untuk menentukan batas tumor.
Pemakaian sitostatika belum memuaskan, biasanya jadwal pemberian Sitostatika tidak sampai selesai karena, keadaan umum memburuk, di samping harga obat ini yang relative mahal, sehingga tidak terjangkau oleh pasien.
Para ahli berpendapat, bahwa tumor laring ini mempunyai prognosis yang paling baik diantara tumor-tumor daerah traktus aero-digestivus, bila dikelola dengan tepat, cepat dan radikal.
 
Rehabilitasi suara
Laringektomi total yang dikerjakan untuk mengobati karsinoma laring menyebabkan cacat pada penderita. Dengan dilakukannya pengangkatan laring beserta pita-suara yang ada dalamnya, maka penderita akan menjadi afonia dan bernafas melalui stoma permanent di leher.
Untuk itu diperlukan rehabilitasi terhadap pasien, baik yang bersifat umum, yakni agar pasien dapat memasyarakat dan mandiri kembali, maupun rehabilitasi khusus yakni rehabilitasi suara (voice rehabilitation), agar penderita dapat berbicara (bersuara), sehingga berkomunikasi verbal. Rehabilitasi suara dapat dilakukan dengan pertolongan alat bantu suara, yakni semacam vibrator yang ditempelkan di daerah submandibula, ataupun dengan suara yang dihasilkan dari esophagus (eso-phageal speech) melalui proses belajar. Banyak faktor yang mempengaruhi suksesnya proses rehabilitasi suara ini, tetapi dapat disimpulkan menjadi 2 faktor utama, ialah faktor fisik dan faktor psiko-sosial.(4)
Suatu hal yang sangat membantu adalah pembentukan wadah perkumpulan guna menghimpun pasien-pasien tuna-laring guna menyokong aspek psikis dalam lingkup yang luas dari pasien, baik sebelum maupun sesudah operasi.(4)

Tinitus

Latar Belakang

Tinnitus adalah bunyi abnormal yang didengar oleh penderita yang berasal dari dalam kepala.1 Menurut Tungland tinnitus adalah persepsi suara ketika tidak ada sumber suara.2 Menurut Richard kata tinnitus berasal dari kata latin tinnere yang berarti berdering atau deringan, sehingga disimpulkan tinnitus adalah persepsi suara yang tidak diinginkan dengan penyebab dari dalam kepala, biasanya terlokalisasi, dan jarang didengar oleh orang lain.3 Tinnitus dapat digambarkan sebagai telinga yang “berdering” dan berbagai suara didalam kepala yang terdengar tanpa adanya sumber suara dari luar.4 Tinnitus dapat didengar pada satu atau kedua telinga atau ditengah-tengah kepala ataupun bisa juga digambarkan tidak jelas lokasinya. Suara dapat terdengar lemah, sedang ataupun keras, dapat terdengan satu jenis atau pun lebih, dan serangan dapat terus menerus ataupun hilang timbul.5

Tinnitus dapat menyerang siapa saja dan semua umur. Kurang lebih 24 juta orang mengalami tinnitus, orang-orang tersebut terutama menndengar deringan atau suara lain paling tidak satu kali atau lebih dalam suatu waktu dan dapat berulang pada lain waktu.6 Menurut tungland rata-rata 5% populasi dewasa di Inggris pernah mengalami tinnitus.2 Sedangkan di AS tinnitus dilaporkan oleh Richard menyerang 10% populasi umum usia 40-70 tahun.4

Tinnitus dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu tinnitus subjektif dan tinnitus objektif. Tinnitus subjektif biasanya terjadi pada gangguan pendengaran sensorineural, intoksikasi obat, sedangkan pada tinnitus objektif biasanya terjadi pada gangguan vaskuler, gangguan mekanis seperti terbukanya tuba eustakius, kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius serta otot-otot palatum.4

Tinnitus biasanya dihubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga karena tuli konduksi. Tinnitus merupakan kelainan pada telinga dengan banyak penyebab. Pada banyak kasus terutama terjadi tinnitus subjektif, tetapi terkadang keluhan ini dapat didengar oleh pemeriksa. Gangguan telinga, terutama gangguan pendengan merupakan penyebab utama terjadinya tinnitus subjektif. Gangguan telinga bilateral dengan tinnitus harus dicurigai adanya neuroma akustik.1

Pengobatan tinnitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan fenomena psiko-akustik murni, seringkali penyamaran tinnitus merupakan pilihan yang praktis untuk menghilangkan gangguan ini. Penderita ini juga perlu diberi penjelasan yang baik, sehingga rasa takut tidak memperberat keluhan. Obat penenang atau obat tidur dapat diberikan menjelang tidur pada penderita yang tidurnya terganggu.1

 

Definisi

Kata tinnitus berasal dari kata latin tinnire yang berarti berdering atau deringan, tinnitus berarti persepsi pendengaran yang tidak diinginkan akibat masalah didalam kepala, umumnya terlokalisasi, dan jarang didengar orang lain.3 Tinnitus adalah bunyi abnormal yang didengar oleh penderita yang berasal dari dalam kepala.1 Menurut Tungland tinnitus adalah persepsi suara ketika tidak ada sumber suara.2 Suara yang terdengar oleh penderita tinnitus digambarkan bervariasi dari suara berdering, berdengung, berbisik, melengking dan lain-lain.5

Tinnitus bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan sebuah gejala yang berhubungan dengan lintasan pendengaran penderita. Meskipun terkadang tinnitus dihubungkan sebagai hasil dari penyakit pada telinga, tetapi hal ini bukanlah suatu hasil ataupun outcome. Penyebab yang pasti terjadinya tinnitus masih belum di mengerti sepenuhnya tetapi biasanya berhubungan dengan gangguan pendengaran.5

 

Klasifikasi Tinnitus

Klasifikasi tinnitus dapat dibagi berdasarkan tekanan menjadi tinnitus jenis bergetar dan jenis yang tidak bergetar.3 Sedangkan berdasarkan jenis suaranya dibedakan menjadi tinnitus subjektif dan tinnitus objektif.1,2,3,4,5 Klasifikasi yang sering digunakan adalah pembagian klasifikasi yang kedua.

A. Tinnitus Subjektif1,2,3,4,6

Penyebab utama terjadinya tinnitus ini adalah penyakit telinga. Yang paling banyak adalah penyebab terjadinya gangguan pendengaran, baik yang konduktif maupun yang sensorineural.3

Gangguan konduktif dapat disebabkan oleh sumbatan oleh serumen, otitis eksterna, perforasi membrane timpani, ataupun anomaly cincin tulang ossikular atau otosklerosis. Sedangkan ganguan sensorineural terjadi karena abnormalitas inner ear atau lesi nervus yang mempersarafi telinga terutama N.IX. Etiologi utama terjadinya gangguan ini adalah noise induced hearing loss (NIHL), dan prekusbiakusis.3

B. Tinnitus Objektif

Tinnitus jenis ini jarang dijumpai, biasanya disebabkan oleh gangguan vaskuler, penyakit neurologik, ataupun disfungsi tuba eustakius. Gangguan vaskuler akan menunjukkan keluhan tinnitus pulsatil, dimana bising arteri ditransmisikan ke arteri yang berdekatan dengan tulang temporal.3

 

Etiologi

1. Reaksi Alergi 4

a. Obat

Obat-obat terutama yang bersifat ototoksik, dimana obat tersebut akan mempengaruhi sel-sel rambut, N.IX, atau hantaran saraf pusat. Penggunaan obat-obat ototoksik harus dengan pengawasan ketat, terutama pada penderita dengan faktor resiko, yaitu penderita anak kecil, gangguan hepar dan ginjal, hamil, riwayat gangguan pendengaran atau NIHL.3

b. Makanan dan Minuman

Makanan seperti keju, daging, sayuran, ikan, serta minuman seperti alkohol, anggur, koffein, dan lain-lain dapat menyebabkan tinnitus atau memperberat terjadinya tinnitus. Tetapi tidak semua orang yang mengkonsumsi makanan dan minuman tersebut terjadi tinnitus, kemungkinan ini dapat terjadi akibat reaksi orang tersebut terhadapt makanan dan minuman, hal ini seperti halnya personal idiosyncratic reaction. Sayangnya tidak terdapat pemeriksaan atau tes yang khusus untuk memeriksa reaksi ini. Satu-satunya cara adalah untuk menentukan adalah dengan memisahkan jenis makanan tersebut dari diet dan melakukan challage test.4

c. Tembakau, Mariyuana dan Recreational Drug

Tidak terdapat data yang pasti mengenai tembakau, mariyuana, ekstasi, kokai, dan obat rekreasional lainnya dapat menyebabkan atau memperberat tinnitus.7 Tetapi Tinnitus FAQ menyatakan bahwa mariyuana dapat memperberat tinnitus.4

2. Penyakit 3,4

a. Lime Disease

b. Infeksi telinga berat

c. Hiperkolesterolemia

d. Abnormalitas vaskuler

e. Hipertensi intracranial

f. Meniere’s sindrom

g. Temporomandibular sindrom

h. Stress

i. Diet dan lifestyle

3. Trauma dan terapi pembedahan4

a. Trauma kepala akibat kecelakaan

b. Operasi gigi dan Mercury amalgam thooth filling

c. Chocklear implant atau operasi tulang kepala lain

d. Arnold Chiari Malformation (AMC)

4. Paparan bising berlebihan.4

 
Diagnosis

Diagnosis tinnitus ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesis

melalui anamnesis ditanyakan waktu permulaan munculnya gejala, lokasi bunyi apakah uni atau bilateral, durasi, jenis bunyi, keluhan yang menyertai, riwayat penyakit sebelumnya, dan riwayat penyakit yang lain yang mungkin dapat berhubungan.3


Tinnitus and Significant Medical History


History

Comments

Onset

Progressive hearing loss with tinnitus and advancing age suggests presbycusis. Precipitous onset can be linked to excessive or loud noise exposure or head trauma.

Location

Unilateral tinnitus can be caused by cerumen impaction, otitis externa, and otitis media. Tinnitus associated with unilateral sensorineural hearing loss is the hallmark of acoustic neuroma.

Pattern

Continuous tinnitus accompanies hearing loss. Episodic tinnitus suggests Meniere's disease. Pulsatile tinnitus suggests a vascular origin.

Characteristics (i.e., pitch, complexity)

Low-pitched rumbling pattern suggests Meniere's disease, high-pitched pattern suggests sensorineural hearing loss.

Associated vertigo, aural fullness, hearing loss

Meniere's disease

Exposure to ototoxic medications/factors

Noise-induced or medication-induced hearing loss

Exacerbating/alleviating factors

Tinnitus of patulous eustachian tube is alleviated by lying down with head in dependent position.

Hyperlipidemia, thyroid disorder, vitamin B12 deficiency, anemia

Can be potential contributing causes.

Other

Significance to the patient. Management depends on how the tinnitus affects the patient's quality of life.

1. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis tinnitus dapat dilakukan dengan tes-tes antara lain

1. Baer Test/ uji Baer

Uji ini dilakukan untuk mencatat respon gelombang elektroda di tulang kepala pada 0-10 msec (potensial awal), 10-50 msec (potensial tengah), dan 50-500 msec( potensial akhir). Uji pada akhirnya dapat untuk menentukan adanya gangguan pendengaran sensorineural dan penyebabnya, apakah akibat kelainan koklea, N.VIII, atau lesi di susunan saraf pusat.8

2. Bedside Test.8,9,10

Bedside test digunakan untuk analisis awal suatu gangguan pada telinga, yang terdiri dari 4 jenis tes, antara lain

a. Tes menggunakan suara dari pemeriksa sendiri dengan menggunakan intensitas yang berbeda-beda (misalnya berbisik, berbicara biasa, berbicara keras dan berteriak).

b. Tes schwabach :dengan membandingkan hantaran suara dari penala di tulang mastoideus dan dibandingkan antara penderita dan pemeriksa.

c. Tes Rinne : saraf konduksi dibandingkan antara hantaran udara dan hantaran tulang mastoideus. Tes ini digunakan untuk membandingkan antara hantaran melalui udara dan melalui tulang. Normalnya hantaran udara dua kali lebih lama daripada hantaran tulang

d. Tes Weber : penala diletakkan di garis tengah kepala (dahi, vertex, pangkal hidung, ditengah-tengah gigi seri atau di dagu). Tes ini digunakan untuk membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan telinga kanan.4,8,9,10

3. Audiometri

Semua pasien dengan tinnitus dianjurkan untuk diperiksa dengan audiometri karena keluhan yang subjektif biasanya berhubungan dengan alat-alat pendengaran.3,8,10

Diagnostic Approach to Tinnitus

clip_image001[14]

FIGURE 1. A proposed algorithm for diagnostic approach to tinnitus. (CT = computed tomography; MRA = magnetic resonance angiography; MRI = magnetic resonance imaging)

Adapted with permission from Collins RD. Algorithmic diagnosis of symptoms and signs: a cost-effective approach. 2d ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2003:568-9. Referensi 3

 

Terapi

Pengobatan tinnitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan fenomena psiko-akustik murni, sehingga tidak dapat diukur. Perlu diketahui penyebab tinnitus supaya dapat dihilangkan dengan cara mengobati penyebabnya tetapi kadang-kadang penyebabnya itu sukar diketahui.1

1. Terapi Penyamaran

Terapi penyamaran merupakan pilihan praktis untuk menghilangkan gangguan tinnitus, diantaranya dengan cara menyamarkan suara menggunakan kipas angin dan atau radio.1,6

Yang termasuk terapi ini antara lain:

a. Biofeedback

Biasanya digunakan untuk mengurangi stress.1,11,12

b. Sound terapi

Metode terapi ini diindikasikan untuk tinnitus, vertigo. Metode ini dipublikasikan pada tahun 2000 di st. James, Australia.11

2. Terapi Farmakologi Kausatif

a. Alprazolam (Xanax)

Merupakan traquilizer golongan benzodiazepin, pada suatu penelitian double-blind dengan dosis 0,5 mg sebelum tidur, dapat mengurangi rata-rata tinnitus dari 7,5 dB menjadi 2,3 dB.11

b. Klonopin

Obat sejenis xanax, tetpi tidak sekuat xanax, dan belum dilakukan penelitian untuk pengobatan tinnitus.11

c. Antikonvulsan

Obat seperti carbamazepin ( tegretol), fenitoin (Dilantin), Primidon (Mysoline), asam Valproat (Depakene), dapat mengurangi tinnitus, tetapi tidak ada dosis standar untuk terapi tinnitus. Beberapa obat ini dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya, antara lain sindrom steven jonhson, diskrasia darah dan hipertrofi ginggiva sehingga dalam memberikan terapi ini dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kimia darah dan pemeriksaan lainnya. Obat-obat ini belum dilakukan penelitian untuk mengurangi tinnitus.11

d. Vasodilator

Secara teoritis, dilatasi dapat mengalirkan darah lebih banyak ke daerah yang kekurangan,, tetapi penelitian terakhir menyatakan bahwa pada banyak kasus, vasodilator menyebabkan kondisi lebih parah. Sehingga dapat disimpulkan tinnitus dengan gangguan vaskuler akan bertambah parah jika diberikan vasodilator.11

e. Diuretik

Diuretic bias digunakan pada meniere’s sindrom, dilaporkan dengan pemberian Dyazyde tinnitus dapat dikurangi. Tetapi perlu diingat bahwa beberapa diuretic merupakan obat ototoksik dan dapat memperburuk tinnitus.11

f. Betahistine hydrochloride (SERC)

Obat ini diyakini dapat mengurangi tekanan di dalam telinga dan meningkatkan aliran darah menuju ke pembuluh darah kecil. Obat ini dapat mengurangi tinnitus selama 6-12 jam dengan dosis 24-48 mg per hari.11

g. Lidokain

Injeksi intravena lidokain diikuti dengan IV drip dapat mengurangi kesakitan akibat tinnitus, dimana suatu penelitian pada 26 probandus, 23 orang merasakan efek obat setelah lebih dari 30 menit setelah penyuntikan obat.11 Penelitian yang dilakukan Lenarz menyatakan bahwa lidokain intra vena mengurangi lebih dari 50% gejala tinnitus, sedangkan lidokain oral dianjurkan bila sudah dilakukan tes sensitivitas terhadap lidokain.13

h. Tocainide Hydrochloride

Obat untuk antiaritmia ini diberikan per oral dan mempunyai efek seperti lidokain, tetapi obat ini mempunyai efek samping yang berat.11 penelitian Lenarz menyimpulkan hanya pemberian oral tocainide hanya dapat mengurangi gejala sebanyak 35% dari seluruh probandus, tetapi dengan pemberian intra vena dapat mengurangi sampai dengan 55% pasien.13 Tetapi perlu diingatkan bahwa pamberian tocainide mempunyai efek samping yang berat, sehingga pemberiannya hanya diberkan pada pasien yang sangat menderita akibat tinnitus.13

i. Histamin

Efek yang diambil dari histamine adalah sebagai vasodilator, pada suatu penelitian yang belum dipublikasikan, hampir 70% pasien dengan pengobatan histamin mendapatkan perbaikan sempurna ataupun setengah dari keluhan tinnitus.11

j. AntiHistamin

Secara teori, antihistamin mempunyai efek sedative ringan yang dapat menghilangkan kecemasan, mengurangi sekresi mukus sehingga rongga telinga tetap kering, dan ini akan mengurangi tekanan koklear.11

Meclizine, adalah obat antihistamin yang digunakan untuk mual dan motion sickness serta anti vertigo yang disertai meniere’s sindrom. Tetapi pada suatu laporan dari penderita tinnitus tanpa gejala vertigo, meclize dapat mengurangi tinnitusnya.11

3. Terapi adjuvan

a. Hydergin

Hydergin kemungkinan mempunyai efek yang dilaporkan sebagai berikut: meningkatkan suplai darah dan oksigen ke otak, memperbaiki metabolisme otak, melindungi otak dari radikal bebas, meningkatkan ingatan, menormalkan tekanan sitolik, menurunkan kadar kolesterol, mengurangi kelelahan, mengurangi gejala pusing dan tinnitus.11

b. Vinpocetine dan Vincamine

Vincamine telah banyak digunakan untuk keadaan kekurangan aliran darah ke otak, termasuk vertigo dan meniere’s sindrom, susah tidur, masalah pendengaran, hipertensi.11

c. Sodium Flouride

Kristal garam yang tidak berwarna, dapat membantu ketika tinnitus disebabkan oleh otosklerosis koklear.11

d. Niasin

Merupakan suatu kristal garam, komponen pembentuk vitamin B, diharapkan dapat memacu supply oksigen ke dalam telinga melalui vasodilatasi. Niasin lebih cepat bekerja pada saat perut kosong. Belum ada percobaan klinik yang membuktikan keefektifan niasin untuk mengatasi tinnitus, dan niasin dalam dosis besar dapat merusak hepar.11

e. Zinc

Konsentrasi zinc di dalam koklea merupakan konsentrasi terbesar di dalam tubuh, sehingga pemberian zinc 90-150 mg per hari dapat bermanfaat. Tetapi zinc dosis tinggi lebih dari 150 mg dapat menyebabkan anemia dan keracunan.11,14

f. Magnesium

Magnesium dapat bermanfaat untuk mencegah terjadinya kehilangan pendengaran.11

g. Ginkgo Biloba

Tahun 1990, Swart Davis menyatakan ginkgo biloba tidak mempunyai efek terapeutik terhadap tinnitus, tetapi jurnal Lancet volume 340 tahun 1992 menyatakan dengan dosis 120-160 mg setelah makan dapat menurunkan symptom sebesar 30-70%.11

Pada suatu penelitian yang dilakukan Hobbs pada tahun 1992, menyatakan bahwa;(1)tinnitus dihilangkan seluruhnya sebesar 35% dari seluruh pasien yang di uji.(2) pasien dengan usia tua sebanyak 350 orang dengan gangguan pendengaran yang di terapi ginkgo berhasil sebanyak 82 %. (3) sebanyak 137 pasien yang di ikuti, 67 % masih memiliki pendengaran yang baik setelah 5 tahun kemudian.11

Pada tahun 1994, Holger menyimpulkan bahwa ekstrak ginkgo biloba tidak mempunyai efek terhadap tinnitus.15

Tetapi pada akhirnya, lucy menyatakan jika tetap menggunakan ekstrak ginkgo biloba, harus diperhatikan efek samping dan inform concern kepada penderita.14

4. Non Invasif Laser

Terapi ini menggunakan laser yang tidak invasive pada procesus mastoideus dengan energi 90 J/cm2, dilanjutkan 45 J/cm2 dengan frekuensi 5 Hz 2 kali seminggu sebanyak 8 sampai 10 seri, hasilnya 36% tinnitus berkurang, dan 26% tinnitus menghilang sama sekali.16

5. Hearing Aid (Alat Bantu Dengar)

Alat Bantu dengar dapat diberikan untuk pasien dengan gangguan pendengaran disertai dengan tinnitus yang berat. Karena dapat membantu menormalkan kecepatan suara, juga berguna untuk mencegah suara bising dari luar yang tidak diinginkan.6,11,13

6. Electrical Stimulation

Penempatan berbagai elektroda dengan berbagai volume frekuensi sudah terbukti dapat mengurangi tinnitus. Penempatan elektroda si luar, liang telinga, telinga tengah, dan koklea. Efek samping yang terjadi adalah rasa sakit, perubahan sensasi bau. Pada suartu penelitian, 3 dari 5 orang mengalami perbaikan dengan frekuensi 40 Hz atau kurang.11,13

7. Terapi oksigen hiperbarik/ terapi ozonisasi

Terapi ini dapat bermafaat jika dicurigai adanya kekurangan oksigen pada mekanisme pendengaran. Terapi ini bermanfaat pada kasus akut daripada kasus kronis.11

8. hypnoterapi

Terapi ini dilaporkan dapat memperbaiki keadaan tinnitus sebesar 68%.11,17

9. TMD Terapi.11

10. Audio Integration Therapy.11

11. Pembedahan

Tindakan pembedahan dapat dilakukan untuk tinnitus yang diakibatkan oleh neuroma akustik, abnormalitas vaskuler, dan TMJ sindrom.11

Salah satu bentuk tindakan ini adalah implant koklear.13

Neurotomi merupakan tindakan pembedahan pilihan terakhir, dengan melakukan pembedahan N.VIII, tetapi hati-hati, jika penyebab tinnitus akibat sesuatu di dalam otak, pasien akan tuli permanen dan tinnitus masih dapat terjadi.11

12. Terapi alternative

a. Akupungtur

Akupuntur merupakan pengobatan tradisional cina kuno. Tujuan pengobatan ini adalah untuk mengembalikan keseimbangan alami tubuh dan meningkatkan ketahanan seluruh tubuh.17

b. Aromaterapi

Pengobatan dengan menggunakan minyak yang penting dari bunga, tumbuh-tumbuhan, pohon dan buah sudah banyak dikenal sejak berabad-abad lalu di banyak Negara. Aromaterapi menggunakan minyak untuk membantu relaksasi dan kesehatan, dengan cara pemijatan pada tubuh, meskipun juga dapat dilakukan dengan cara lain. Banyak penderita tinnitus yang terbantu dengan aromaterapi.17

c. Chiropractic

Prinsip dasar dari chiropractic adalah untuk mengembalikan susunan tulang belakang dan sambungannya, sehingga mengembalikan fungsi saraf untuk bekerja secara tepat.17

d. terapi kraniosakral

Terapi relaksasi yang dalam dimana terapis menggunakan tangannya untuk menemukan dan menghilangkan tahanan pada otot, tulang dan cairan tubuh.17

e. Herbal Medicine

Dengan menggunakan trial and error, ditemukan bahwa untuk menghilangkan penyakit, maka tanaman merupakan metode yang paling efektif.17

f. Pemijitan.17

g. Homeophaty.17

h. Osteophaty.17

i. Refrexology.17

j. Reiki.17

k. Shiatsu.17

l. Tai Chi.17

m. Yoga.17

n. Alexander Technique.17

Epistaksis

PENDAHULUAN

Epistaksis atau perdarahan hidung sering ditemukan sehari-hari, dan hampir 90% dapat berhenti sendiri. Epistaksis bukan merupakan suatu penyakit, melainkan sebagai gejala dari suatu kelainan.3

Perdarahan dari hidung dapat merupakan gejala yang sangat menjengkelkan dan mengganggu. Ia dapat pula mengancam nyawa. Faktor etiologi harus dicari dan dikoreksi untuk mengobati epistaksis secara efektif. Perdarahan hidung tampak lebih sering terjadi pada masa awal kanak-kanak sampai pubertas. Walaupun pada kelompok usia tersebut biasanya tidak serius. Epistaksis berat atau yang mengancam jiwa tampaknya meningkat dengan bertambahnya usia.4

Epistaksis adalah masalah klinis yang berbahaya, terutama bila berasal dari posterior. Sembilan puluh persen epistaksis berasal spontan dari pleksus pembuluh darah superfisialis didalam septum anterior inferior, dan lebik mudah ditangani dibandingkan epistaksis posterior, yang 10% pasien dari pembuluh darah di dalam dinding hidung lateral dekat nasofaring dan disertai dengan mortalitas 4% sampai 5%.7

 

A. Definisi

Epistaksis adalah perdarahan dari hidung yang dapat terjadi akibat sebab lokal atau sebab umum (kelainan sistemik).6

B. Etiologi

Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab lokal dan sistemik.

1. penyebab local :

- Idopatik (85% kasus) biasanya merupakan epistaksis ringan dan berulang pada anak dan remaja.

- Trauma ; epistaksis dapat terjadi setelah trauma ringan misalnya mengorek hidung, bersin, mengeluarkan ingus dengan kuat, atau sebagai akibat trauma yang hebat seperti terpukul, jatuh, kecelakaan lalu lintas.

- Iritasi ;epistaksis juga timbul akibat iritasi gas yang merangsang, zat kimia, udara panas pada mukosa hidung.

- Pengaruh lingkungan, misalnya tinggal di daerah yang sangat tinggi, tekanan udara rendah atau lingkungan udaranya sangat kering.

- Benda asing dan rinolit, dapat menyebabkan epistaksis ringan unilateral disertai ingus yang berbau busuk.

- Infeksi, misalnya pada rhinitis, sinusitis akut maupun kronis serta vestibulitis.

- Tumor, baik jinak maupun ganas yang terjadi di hidung, sinus paranasal maupun nasofaring.

- Iatrogenic, akibat pembedahan atau pemakaian semprot hidung steroid jangka lama.

2. penyebab sistemik :

- Penyakit kardiovaskular, misalnya hipertensi dan kelainan pembuluh darah, seperti yang dijumpai pada arteriosclerosis, nefritis kronis, sirosis hepatic, sifilis dan diabetes mellitus. Epistaksis juga dapat terjadi akibat peninggian tekanan vena seperti pada emfisema, bronchitis, pertusis, pneumonia, tumor leher dan penyakit jantung. Epistaksis juga dapat terjadi pada pasien yang mendapat obat anti koagulan (aspirin, walfarin, dll).

- Infeksi, biasanya infeksi akut pada demam berdarah, influenza, morbili, demam tifoid.

- Kelainan endokrin misalnya pada kehamilan, menarche, menopause.

- Kelainan congenital, biasanya yang sering menimbulkan epistaksis adalah hereditary haemorrhagic teleangiectasis atau penyakit Osler-Weber-Rendu.

C. Patofisiologi

Terdapat dua sumber perdarahan yaitu bagian anterior dan posterior. Pada epistaksis anterior, perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach (yang paling sering terjadi dan biasanya pada anak-anak) yang merupakan anastomosis cabang arteri ethmoidakis anterior, arteri sfeno-palatina, arteri palatine ascendens dan arteri labialis superior.

Pada epistaksis posterior, perdarahan berasal dari arteri sfenopalatina dan arteri ethmoidalis posterior. Epistaksis posterior sering terjadi pada pasien usia lanjut yang menderita hipertensi, arteriosclerosis, atau penyakit kardiovaskuler. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti spontan.

Perdarahan yang hebat dapat menimbulkan syok dan anemia, akibatnya dapat timbul iskemia serebri, insufisiensi koroner dan infark miokard, sehingga dapat menimbulkan kematian. Oleh karena itu pemberian infuse dan tranfusi darah harus cepat dilakukan.

D. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk menilai keadaan umum penderita, sehingga pengobatan dapat cepat dan untuk mencari etiologi.

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan darah tepi lengkap, fungsi hemostatis, uji faal hati dan faal ginjal.

Jika diperlukan pemeriksaan radiologik hidung, sinus paranasal dan nasofaring dapat dilakukan setelah keadaan akut dapat diatasi.

E. Penatalaksanaan

Pertama-tama keadaan umum dan tanda vital harus diperiksa. Anamnesis singkat sambil mempersiapkan alat, kemudian yang lengkap setelah perdarahan berhenti untuk membantu menentukan sebab perdarahan.

Penanganan epistaksis yang tepat akan bergantung pada suatu anamnesis yang cermat. Hal-hal penting adalah sebagai berikut :

  1. riwayat perdarahan sebelumnya
  2. lokasi perdarahan
  3. apakah darah terutama mengalir ke dalam tenggorokan (ke posterior) ataukah keluar dari hidung depan (anterior) bila pasien duduk tegak
  4. lama perdarahan dan frekuensinya
  5. kecenderungan perdarahan
  6. riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga
  7. hipertensi
  8. diabetes mellitus
  9. penyakit hati
  10. gangguan anti koagulan
  11. trauma hidung yang belum lama
  12. obat-obatan misalnya aspirin, fenilbutazon (butazolidin).1

Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis, yaitu menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi dan mencegah berulangnya epistaksis. Kalau ada syok, perbaiki dulu keadaan umum pasien.2

Dampak hilangnya darah harus ditentukan terlebih dahulu sebelum melakukan usaha mencari sumber perdarahan dan menghentikannya. Walaupun sudah dihentikan, kemungkinan fatal untuk beberapa jam kemudian untuk seorang pasien tua yang mengalami perdarahan banyak akibat efek kehilangan darahnya adalah lebih besar jika disbanding dengan akibat perdarahan (yang terus berlangsung) itu sendiri. Penilaian klinis termasuk pengukuran nadi dan tekanan darah akan menunjukkan apakah pasien berada dalam keadaan syok. Bila ada tanda-tanda syok segera infuse plasma expander.5

Menghentikan perdarahan

Menghentikan perdarahan secara aktif, seperti kaustik dan pemasangan tampon, lebih baik daripada pemberian obat hemostatik sambil menunggu epistaksis berhenti dengan sendirinya.2

Posisi penderita sangat penting, sering terjadi pasien dengan perdarahan hidung harus dirawat dengan posisi tegak agar tekanan vena turun.