Selasa, 15 Mei 2012
Kenapa Pilek Tak Kunjung Sembuh?
Tanya:
Saya punya anak lelaki usia 10 thn.Sepanjang hari sepertinya Dia terus menerus pilek ( hidung berair ) dan sering disertai batuk berdahak. Dan anak saya juga punya asma, bahkan kalau tidur malam hari dia sering mengeluarkan bunyi seperti orang sesak. Tolong Dok…. obat apa yang cocok untuk dia ? Saya suka sedih melihat dan mendengar keadaannya, terutama sekarang – sekarang ini, penyakitnya sedang kambuh.
Jawab:
Pilek yang dikeluhkan sepanjang hari dan terus menerus bisa disebabka oleh antara lain: Rinitis alergika (alergi karena udara dingin, debu, asap, atau kelelahan), atau bisa juga disebabkan oleh tulang hidung yang bengkok (tidak lurus sebagaimana mestinya), atau bisa karena ada sinusitis (radang di daerah sinus/ rongga di sekitar tulang hidung).
Kebetulan ananda juga menderita sakit asma, kalau ada asma biasanya keluhan pileknya disebabkan oleh rinitis alergika. Sebab pasien asma seringkali juga menderita rinitis alergika (radang di hidung akibat alergi).
Untuk mengetahui lebih jelas apa penyakit ananda disarankan segera berobat ke dokter spesialis THT, untuk dievaluasi secara lebih teliti apa yang menyebabkan pilek yang tidak kunjung sembuh.
Bila benar pileknya karena rinitis alergika, maka langkah pencegahan yang bisa diambil untuk menghindari terjadinya pilek tersebut adalah dengan berusaha menghindari keadaan yang memudahkan munculnya alergi, seperti menghindari udara dingin, jauhi debu atau tempat yang mudah menyimpan debu rumah seperti kursi sofa, kasur tradisional, karpet, juga dihindari terjadinya kelelahan baik fisik maupun psikis.
Jadi, segera periksakan ke dokter spesialis THT terdekat ya.
Senin, 20 Februari 2012
Rhinitis Alergi
C. ETIOLOGI
D. PATOFISIOLOGI
E. DIAGNOSIS BANDING
F. MANIFESTASI KLINIS
G. KOMPLIKASI
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
I. PENATALAKSANAAN
Otitis Eksterna
Otitis eksterna adalah penyakit yang dapat diderita oleh semua orang dan berbagai usia. Otitis eksterna biasanya ditunjukkan dengan adanya infeksi bakteri pada kulit liang telinga tetapi dapat juga disebabkan oleh infeksi jamur. Meskipun demikian Otitis eksterna jarang menyebabkan komplikasi yang serius. Infeksi ini ditandai dengan rasa nyeri yang hebat (Waitzman, 2004).
Otitis eksterna juga sering dihubungkan dengan adanya proses dematologi lokal atau non infeksius. Gejala-gejala yang khas pada otitis externa adalah rasa tidak nyaman pada liang telinga yang ditandai dengan eritema dan discharge yang bervariasi (Sander, 2001).
Istilah otitis eksterna telah lama dipakai untuk menjelaskan sejumlah kondisi. Spektrum infeksi dan radang mencakup bentuk-bentuk akut atau kronis. Dalam hal infeksi perlu dipertimbangkan agen bakteri, jamur dan virus. Radang non-infeksi termasuk pula dermatosis, beberapa diantaranya merupakan kondisis primer yang langsung menyerang liang telinga. Shapiro telah menegaskan bahwa perbedaan antara otitis eksterna yang berasal dari dermatosis dengan otitis eksterna akibat infeksi tidak selalu jelas. Suatu dermatosis dapat menjadi terinfeksi setelah beberapa waktu, sementara pada infeksi kulit dapat terjadi reaksi ekzematosa terhadap organisme penyebab. Sekali lagi, anamnesis dan pemeriksaan yang cermat seringkali akan memberi petunjuk kearah kondisi primernya (Boies, 1997).
Di Amerika Serikat, otitis eksterna merupakan penyakit yang sering terjadi di semua negara bagian. Infeksi dapat disebabkan oleh kondisi yang panas dan lembab. Otitis eksterna dapat menyerang semua ras manusia dan mempunyai perbandingan yang sama antara perempuan dan laki-laki serta dapat dialami oleh berbagai usia (Waitzman, 2004).
Di Amerika Serikat sekitar 98% otitis eksterna disebabkan aleh P. aeruginosa. Kasus sisanya mungkin disebabkan oleh Proteus vulgaris, Escherichia coli, S. aureus dan jamur seperti Candida albicans, Aspergillus sp dan Mucor sp. Pada kasus Otitis eksterna bakterialis, kulit liang telinga berwarna merah dan biasanya edamatosa kadang-kadang sampai tingkat yang menyumbat total liang tersebut (Cody, 1997).
Infeksi dan radang liang telinga merupakan suatu masalah THT yang paling serius. Pasien dengan gangguan aurikula atau liang telinga sering kali datang dengan keluhan otalgia, gatal, pembengkakan, perdarahan dan perasaan tersumbat. Pemeriksaan daerah telinga dan sekitarnya dengan cermat biasanya dapat mengungkapkan masalah yang spesifik. Namun perlu ditekankan pemeriksaan THT lainnya. Hal-hal yang perlu ditanyakan dalam riwayat pasien antara lain : riwayat infeksi telinga luar, berenang, gangguan kulit, alergi, trauma dan pemakaian perhiasan telinga khususnya yang mengandung nikel (Boies, 1997).
Anatomi-Fisiologi Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 – 3 cm ( Soetirto dkk, 2001).
Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kalenjar serumen (modifikasi kalenjar keringat = kalenjar serumen) dan rambut. Kalenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai serumen (Soetirto dkk, 2001).
Telinga luar termasuk aurikula atau pinna dan liang telinga. Telinga luar berfungsi mengumpulkan dan menghantarkan gelombang bunyi ke struktur-struktur telinga tengah. Karena keunikan anatomi aurikula serta konfigurasi liang telinga yang melengkung atau seperti spiral maka telinga luar mampu melindungi membrana timpani dari trauma, benda asing dan efek termal (Boies, 1997).
Panjang liang telinga kira-kira 2,5 cm, membentang dari bibir depan konka hingga membrana timpani. Bagian tersempit dari liang telinga adalah dekat perbatasan tulang dan tulang rawan. Hanya sepertiga bagian luar atau bagian kartilaginosa dari liang telinga yang dapat bergerak. Jika menggunakan otoskop, aurikula biasanya harus ditarik ke posterolateral untuk dapat melihat bagian tulang dan membran timpani. Bersama dengan lapisan luar membran timpani, liang telinga membentuk suatu kantung berlapis epitel yang dapat merangkap kelembaban sehingga daerah ini menjadi rentan infeksi pada keadaan tertentu (Boies, 1997).
Kulit yang melapisi bagian kartilaginosa lebih tebal daripada kulit bagian tulang, selain itu juga mangandung folikel rambut yang banyaknya bervariasi antar individu namun ikut membantu menciptakan suatu sawar dalam liang telinga. Anatomi liang telinga bagian tulang sangat unik karena merupakan satu-satunya tempat dalam tubuh dimana kulit langsung terletak di atas tulang tanpa adanya jaringan subkutan. Dengan demikian daerah ini sangat peka dan tiap pembengkakan akan sangat nyeri karena tidak terdapat ruang untuk ekspansi (Boies, 1997).
Salah satu cara perlindungan yang diberikan telinga luar adalah pembentukan serumen. Sebagian struktur kalenjar terletak pada bagian kartilaginosa. Eksfoliasi sel-sel stratum korneum ikut pula berperan dalam pembentukan materi yang membentuk suatu lapisan pelindung penolak air pada dinding kanalis ini. pH gabungan pada bagian ini adalah sekitar 6, suatu faktor tambahan yang berfungsi mencegah infeksi lagipula migrasi sel-sel epitel yang terlepas membentuk suatu mekanisme pembersihan sendiri dari membran timpani kearah luar (Boies, 1997).
Struktur yang unik dari canalis auditoris eksterna memudahkan terjadi otitis eksterna. Canalis auditoris eksterna lembab, hangat dan gelap, hal ini merupakan lingkungan yang bagus untuk perkembangan jamur dan bakteri. Kulit sangat tipis dan miskin jaringan lunak subkutis sehingga akan terjadi penekanan langsung pada perikondrium. Canalis auditoris externa mempunyai pertahanan yang spesifik. Serumen berubah menjadi asam yang mengandung lisozim dan substansi lain yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Selain itu juga adanya epitelial yang unik juga dapat memberikan perlindungan pada kanalis auditoris eksterna. Ketika pertahanan itu terganggu atau rusuk maka dapat menyebabkan otitis eksterna (Sander, 2001).
Definisi
Otitis eksterna adalah inflamasi atau radang pada canalis auditoris eksterna yang dapat mengenai pinna, jaringan lunak periaurikula dan dapat juga mengenai tulang temporal (Carr, 1998). Otitis eksterna juga dapat diartikan sebagai radang liang telinga akut dan kronis yang dapat disebabkan oleh bakteri. Di klinik sukar sekali dibedakan peradangan yang disebabkan oleh penyebab lain seperti jamur, alergi atau virus karena sering kali timbul bersama-sama (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Etiologi
Pada umumnya penyebab dari otitis eksterna adalah infeksi bakteri seperti Staphyilococcus aureus, Staphylococcus albus, E. colli. Selain itu juga dapat disebabkan oleh penyebaran yang luas dari proses dermatologis yang non-infeksius (Sander, 2001).
Patofisiologi
Otitis eksterna adalah penyakit yang sering diderita oleh semua orang. Otitis eksterna seringkali ditunjukkan adanya infeksi bakteri akut dari kulit canalis auricularis tapi juga dapat disebabkan adanya infeksi jamur. Adanya lekukan pada liang telinga dan adanya kelembaban dapat menyebabkan laserasi dari kulit dan merupakan media yang bagus untuk pertumbuhan bakteri. Hal ini sering terjadi setelah berenang dan mandi. Otitis eksterna ini sering terjadi jika suasana panas dan lembab (Waitzman, 2004).
Faktor lain yang dapat menyebabkan otitis eksterna adalah adanya trauma pada liang telinga yang diikuti invasi bakteri kedalam kulit yang rusak trauma ini sering terjadi akibat dari pembersihan liang teling dengan cotton bud ataupun alat lain yang dimasukkan ke dalam telinga. Selain itu masuknya air atau bahan iritan atau hair spray atau cat rambut dapat menyebabkan otitis eksterna (Anonim, 2003).
Sebagai akibatnya terjadi respon inflamasi, edema dan pembengkakan liang telinga yang akan menyebabkan visualisasi menbran timpani terganggu. Eksudat dan pus dapat terproduksi di liang telinga. Pada keadaan yang berat, infeksi dapat meluas pada wajah dan leher. Kuman pathogen yang sering kali menyebabkan otitis eksterna adalah Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus dan bakteri gram negatif lainnya. Meskipun demikian, jamur, seperti Candida atau Aspergilus sp dapat menyebabkan otitis eksterna (Waitzman, 2004).
Hal ini terjadi karena adanya penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen yang menumpuk didaerah dekat gendang telinaga menyembabkan penimbunan air yang masuk ke liang telinga ketika mandi atau berenang sehingga kulit pada liang telinga basah dan lembut (Anonim, 2003)
Otitis eksterna maligna merupakan komplikasi dari otitis eksterna yang terjadi pada pasien yang mengalami imunocompresi atau pasien yang mendapatkan radioterapi pada tulang kepala. Pada kondisi ini bakteri akan meninvasi jaringan lunak yang dalam dan menyebabkan oeteomielitis pada os temporal (Waitzman, 2004).
Manifestasi Klinik
Pasien dengan otitis eksterna biasanya mengeluh adanya nyeri telinga (otalgia) dari yang sedang sampai berat, berkurangnya atau hilangnya pendengaran, tinnitus atau dengung, demam, discharge yang keluar dari telinga, gatal-gatal (khususnya pada infeksi jamur atau otitis eksterna kronik), rasa nyeri yang sangat berat (biasanya pada pasien yang imunocompopromais, diabetes, otitis eksterna maligna). Selain itu juga ditemukan adanya tanda nyeri tekan pada tragus (Waitzmann, 2004).
Pada keadaan yang berat, penderita sering mengeluh sakit pada saat mengunyah atau membuka mulut (Sander, 2001).
Klasifikasi
Otitis Eksterna Akut
Terdapat 2 kemungkinan otitis eksterna akut yaitu otitis eksterna sirkumskripta dan otitis eksterna difus.
1. Otitis Eksterna Sirkumskripta (Furunkel = Bisul)
Oleh karena kulit di sepertiga luar liang telinga mengandung adneksa kulit seperti folikel rambut, kalenjar sebasea dan kalenjar serumen maka di tempat itu dapat terjadi infeksi pada pilosebaseus sehingga membentuk furunkel. Kuman penyebabnya biasanya Staphylococcus aureus atau Staphylococcus albus (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar dibawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul spontan pada waktu membuka mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat juga gangguan pendengaran bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Terapinya tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan antibiotika dalam bentuk salep, seperti polymixin B atau bacitrasin atau antiseptic (asam asetat 2-5% dalam alcohol 2%). Kalau dinding furunkel tebal, dilakukan incise kemudian dipasang drain untuk mengalirkan nanahnya. Biasanya tidak perlu diberikan obat simtomatik seperti analgetik dan obat penenang (Sosialisman dan Helmi, 2001).
2. Otitis Eksterna Difus
Biasanya mengenai kulit liang telinga duapertiga dalam. Tampak kulit liang telinga dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema dengan tidak jelas batasnya serta terdapat furunkel. Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Gejalanya sama dengan otitis eksterna sirkumskripta. Kadang-kadang terdapat sekret yang berbau. Sekret ini tidak mengandung lendir (musin) seperti sekret yang ke luar dari cavum timpani pada otitis media. Pengobatannya ialah dengan memasukkan tampon tampon yang mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan antibiotika sistemik (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Otomitosis
infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di daerah tersebut. Yang tersering ialah jamur aspergilus. Kadang-kadang ditemukan juga kandida albicans atau jamur lain. Gejalanya biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga tetapi sering pula tanpa keluhan (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Pengobatannya ialah dengan membersihkan liang telinga. Larutan asam asetat 2-5% dalam alcohol yang diteteskan ke liang telinga. Kadang-kadang diperlukan obat antijamur sebagai salep yang diberikan secara topical (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Infeksi Kronis Liang Telinga
Infeksi bakteri maupun jamur yang tidak diobati dengan baik, trauma berulang, adanya benda asing, penggunaan cetakan (mould) pada alat Bantu dengar (hearing aid) dapat menyebabkan radang kronis. Akibatnya terjadi penyempitan liang telinga oleh pembentukan jaringan parut atau sikatriks. Pengobatannya memerlukan operasi rekonstruksi liang telinga (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Keratosis Obliteran dan Kolesteatoma Externa
Keratosis obliterans adalah kelainan yang jarang terjadi. Biasanya secara kebetulan ditemukan pada pasien dengan rasa penuh di telinga. Penyakit ini ditandai dengan penumpukan deskuamasi epidermis di liang telinga sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar. Bila tidak ditanggulangi dengan baik akan terjadi erosi kulit dan bagian tulang liang telinga yang sering disebut sebagai kolesteatoma yang disertai dengan rasa nyeri yang hebat akibat peradangan setempat. Etiologinya belum diketahui, sering terjadi pada pasien dengan kelainan paru kronik seperti bronkiektasis juga pada pasien sinusitis (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Pemberian obat tetes telinga campuran alkohol atau gliserin dalam peroksida 3% selama 3 kali seminggu merupakan pengobatan dari penyakit ini. Pada pasien yang telah mengalami erosi dilakukan tindakan bedah (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Otitis Externa Maligna
Otitis eksterna maligna merupakan tipe dari infeksi akut yang difus yang biasanya terjadi pada penderita penyakit diabetes mellitus. Radang dapat meluas secara progresif ke lapisan subkutis dan organ sekitarnya sehingga dapat menimbulkan kelainan berupa kondritis, oeteitis, dan osteomielitis yang mengakibatkan kehancuran tulang temporal. Gejalanya rasa gatal yang diikuti nyeri yang hebat dan sekret yang banyak serta pembengkakkan liang telinga (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Saraf fasial dapat terkena sehingga dapat menimbulkan paresis atau paralysis facial. Pengobatan tidak boleh ditunda-tunda yaitu dengan pemberian antibiotic dosis tinggi yang dikombinasi dengan amino glikosid. Disamping obat-obatan, juga diperlukan tindakan debrideman (Sosialisman dan Helmi, 2001).
Tumor Laring
Tinitus
Latar Belakang
Tinnitus adalah bunyi abnormal yang didengar oleh penderita yang berasal dari dalam kepala.1 Menurut Tungland tinnitus adalah persepsi suara ketika tidak ada sumber suara.2 Menurut Richard kata tinnitus berasal dari kata latin tinnere yang berarti berdering atau deringan, sehingga disimpulkan tinnitus adalah persepsi suara yang tidak diinginkan dengan penyebab dari dalam kepala, biasanya terlokalisasi, dan jarang didengar oleh orang lain.3 Tinnitus dapat digambarkan sebagai telinga yang “berdering” dan berbagai suara didalam kepala yang terdengar tanpa adanya sumber suara dari luar.4 Tinnitus dapat didengar pada satu atau kedua telinga atau ditengah-tengah kepala ataupun bisa juga digambarkan tidak jelas lokasinya. Suara dapat terdengar lemah, sedang ataupun keras, dapat terdengan satu jenis atau pun lebih, dan serangan dapat terus menerus ataupun hilang timbul.5
Tinnitus dapat menyerang siapa saja dan semua umur. Kurang lebih 24 juta orang mengalami tinnitus, orang-orang tersebut terutama menndengar deringan atau suara lain paling tidak satu kali atau lebih dalam suatu waktu dan dapat berulang pada lain waktu.6 Menurut tungland rata-rata 5% populasi dewasa di Inggris pernah mengalami tinnitus.2 Sedangkan di AS tinnitus dilaporkan oleh Richard menyerang 10% populasi umum usia 40-70 tahun.4
Tinnitus dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu tinnitus subjektif dan tinnitus objektif. Tinnitus subjektif biasanya terjadi pada gangguan pendengaran sensorineural, intoksikasi obat, sedangkan pada tinnitus objektif biasanya terjadi pada gangguan vaskuler, gangguan mekanis seperti terbukanya tuba eustakius, kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius serta otot-otot palatum.4
Tinnitus biasanya dihubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga karena tuli konduksi. Tinnitus merupakan kelainan pada telinga dengan banyak penyebab. Pada banyak kasus terutama terjadi tinnitus subjektif, tetapi terkadang keluhan ini dapat didengar oleh pemeriksa. Gangguan telinga, terutama gangguan pendengan merupakan penyebab utama terjadinya tinnitus subjektif. Gangguan telinga bilateral dengan tinnitus harus dicurigai adanya neuroma akustik.1
Pengobatan tinnitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan fenomena psiko-akustik murni, seringkali penyamaran tinnitus merupakan pilihan yang praktis untuk menghilangkan gangguan ini. Penderita ini juga perlu diberi penjelasan yang baik, sehingga rasa takut tidak memperberat keluhan. Obat penenang atau obat tidur dapat diberikan menjelang tidur pada penderita yang tidurnya terganggu.1
Definisi
Kata tinnitus berasal dari kata latin tinnire yang berarti berdering atau deringan, tinnitus berarti persepsi pendengaran yang tidak diinginkan akibat masalah didalam kepala, umumnya terlokalisasi, dan jarang didengar orang lain.3 Tinnitus adalah bunyi abnormal yang didengar oleh penderita yang berasal dari dalam kepala.1 Menurut Tungland tinnitus adalah persepsi suara ketika tidak ada sumber suara.2 Suara yang terdengar oleh penderita tinnitus digambarkan bervariasi dari suara berdering, berdengung, berbisik, melengking dan lain-lain.5
Tinnitus bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan sebuah gejala yang berhubungan dengan lintasan pendengaran penderita. Meskipun terkadang tinnitus dihubungkan sebagai hasil dari penyakit pada telinga, tetapi hal ini bukanlah suatu hasil ataupun outcome. Penyebab yang pasti terjadinya tinnitus masih belum di mengerti sepenuhnya tetapi biasanya berhubungan dengan gangguan pendengaran.5
Klasifikasi Tinnitus
Klasifikasi tinnitus dapat dibagi berdasarkan tekanan menjadi tinnitus jenis bergetar dan jenis yang tidak bergetar.3 Sedangkan berdasarkan jenis suaranya dibedakan menjadi tinnitus subjektif dan tinnitus objektif.1,2,3,4,5 Klasifikasi yang sering digunakan adalah pembagian klasifikasi yang kedua.
A. Tinnitus Subjektif1,2,3,4,6
Penyebab utama terjadinya tinnitus ini adalah penyakit telinga. Yang paling banyak adalah penyebab terjadinya gangguan pendengaran, baik yang konduktif maupun yang sensorineural.3
Gangguan konduktif dapat disebabkan oleh sumbatan oleh serumen, otitis eksterna, perforasi membrane timpani, ataupun anomaly cincin tulang ossikular atau otosklerosis. Sedangkan ganguan sensorineural terjadi karena abnormalitas inner ear atau lesi nervus yang mempersarafi telinga terutama N.IX. Etiologi utama terjadinya gangguan ini adalah noise induced hearing loss (NIHL), dan prekusbiakusis.3
B. Tinnitus Objektif
Tinnitus jenis ini jarang dijumpai, biasanya disebabkan oleh gangguan vaskuler, penyakit neurologik, ataupun disfungsi tuba eustakius. Gangguan vaskuler akan menunjukkan keluhan tinnitus pulsatil, dimana bising arteri ditransmisikan ke arteri yang berdekatan dengan tulang temporal.3
Etiologi
1. Reaksi Alergi 4
a. Obat
Obat-obat terutama yang bersifat ototoksik, dimana obat tersebut akan mempengaruhi sel-sel rambut, N.IX, atau hantaran saraf pusat. Penggunaan obat-obat ototoksik harus dengan pengawasan ketat, terutama pada penderita dengan faktor resiko, yaitu penderita anak kecil, gangguan hepar dan ginjal, hamil, riwayat gangguan pendengaran atau NIHL.3
b. Makanan dan Minuman
Makanan seperti keju, daging, sayuran, ikan, serta minuman seperti alkohol, anggur, koffein, dan lain-lain dapat menyebabkan tinnitus atau memperberat terjadinya tinnitus. Tetapi tidak semua orang yang mengkonsumsi makanan dan minuman tersebut terjadi tinnitus, kemungkinan ini dapat terjadi akibat reaksi orang tersebut terhadapt makanan dan minuman, hal ini seperti halnya personal idiosyncratic reaction. Sayangnya tidak terdapat pemeriksaan atau tes yang khusus untuk memeriksa reaksi ini. Satu-satunya cara adalah untuk menentukan adalah dengan memisahkan jenis makanan tersebut dari diet dan melakukan challage test.4
c. Tembakau, Mariyuana dan Recreational Drug
Tidak terdapat data yang pasti mengenai tembakau, mariyuana, ekstasi, kokai, dan obat rekreasional lainnya dapat menyebabkan atau memperberat tinnitus.7 Tetapi Tinnitus FAQ menyatakan bahwa mariyuana dapat memperberat tinnitus.4
2. Penyakit 3,4
a. Lime Disease
b. Infeksi telinga berat
c. Hiperkolesterolemia
d. Abnormalitas vaskuler
e. Hipertensi intracranial
f. Meniere’s sindrom
g. Temporomandibular sindrom
h. Stress
i. Diet dan lifestyle
3. Trauma dan terapi pembedahan4
a. Trauma kepala akibat kecelakaan
b. Operasi gigi dan Mercury amalgam thooth filling
c. Chocklear implant atau operasi tulang kepala lain
d. Arnold Chiari Malformation (AMC)
4. Paparan bising berlebihan.4
Diagnosis tinnitus ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
melalui anamnesis ditanyakan waktu permulaan munculnya gejala, lokasi bunyi apakah uni atau bilateral, durasi, jenis bunyi, keluhan yang menyertai, riwayat penyakit sebelumnya, dan riwayat penyakit yang lain yang mungkin dapat berhubungan.3
|
| ||||||||||||||||||||
|
1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis tinnitus dapat dilakukan dengan tes-tes antara lain
1. Baer Test/ uji Baer
Uji ini dilakukan untuk mencatat respon gelombang elektroda di tulang kepala pada 0-10 msec (potensial awal), 10-50 msec (potensial tengah), dan 50-500 msec( potensial akhir). Uji pada akhirnya dapat untuk menentukan adanya gangguan pendengaran sensorineural dan penyebabnya, apakah akibat kelainan koklea, N.VIII, atau lesi di susunan saraf pusat.8
2. Bedside Test.8,9,10
Bedside test digunakan untuk analisis awal suatu gangguan pada telinga, yang terdiri dari 4 jenis tes, antara lain
a. Tes menggunakan suara dari pemeriksa sendiri dengan menggunakan intensitas yang berbeda-beda (misalnya berbisik, berbicara biasa, berbicara keras dan berteriak).
b. Tes schwabach :dengan membandingkan hantaran suara dari penala di tulang mastoideus dan dibandingkan antara penderita dan pemeriksa.
c. Tes Rinne : saraf konduksi dibandingkan antara hantaran udara dan hantaran tulang mastoideus. Tes ini digunakan untuk membandingkan antara hantaran melalui udara dan melalui tulang. Normalnya hantaran udara dua kali lebih lama daripada hantaran tulang
d. Tes Weber : penala diletakkan di garis tengah kepala (dahi, vertex, pangkal hidung, ditengah-tengah gigi seri atau di dagu). Tes ini digunakan untuk membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan telinga kanan.4,8,9,10
3. Audiometri
Semua pasien dengan tinnitus dianjurkan untuk diperiksa dengan audiometri karena keluhan yang subjektif biasanya berhubungan dengan alat-alat pendengaran.3,8,10
|
Terapi
Pengobatan tinnitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan fenomena psiko-akustik murni, sehingga tidak dapat diukur. Perlu diketahui penyebab tinnitus supaya dapat dihilangkan dengan cara mengobati penyebabnya tetapi kadang-kadang penyebabnya itu sukar diketahui.1
1. Terapi Penyamaran
Terapi penyamaran merupakan pilihan praktis untuk menghilangkan gangguan tinnitus, diantaranya dengan cara menyamarkan suara menggunakan kipas angin dan atau radio.1,6
Yang termasuk terapi ini antara lain:
a. Biofeedback
Biasanya digunakan untuk mengurangi stress.1,11,12
b. Sound terapi
Metode terapi ini diindikasikan untuk tinnitus, vertigo. Metode ini dipublikasikan pada tahun 2000 di st. James, Australia.11
2. Terapi Farmakologi Kausatif
a. Alprazolam (Xanax)
Merupakan traquilizer golongan benzodiazepin, pada suatu penelitian double-blind dengan dosis 0,5 mg sebelum tidur, dapat mengurangi rata-rata tinnitus dari 7,5 dB menjadi 2,3 dB.11
b. Klonopin
Obat sejenis xanax, tetpi tidak sekuat xanax, dan belum dilakukan penelitian untuk pengobatan tinnitus.11
c. Antikonvulsan
Obat seperti carbamazepin ( tegretol), fenitoin (Dilantin), Primidon (Mysoline), asam Valproat (Depakene), dapat mengurangi tinnitus, tetapi tidak ada dosis standar untuk terapi tinnitus. Beberapa obat ini dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya, antara lain sindrom steven jonhson, diskrasia darah dan hipertrofi ginggiva sehingga dalam memberikan terapi ini dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kimia darah dan pemeriksaan lainnya. Obat-obat ini belum dilakukan penelitian untuk mengurangi tinnitus.11
d. Vasodilator
Secara teoritis, dilatasi dapat mengalirkan darah lebih banyak ke daerah yang kekurangan,, tetapi penelitian terakhir menyatakan bahwa pada banyak kasus, vasodilator menyebabkan kondisi lebih parah. Sehingga dapat disimpulkan tinnitus dengan gangguan vaskuler akan bertambah parah jika diberikan vasodilator.11
e. Diuretik
Diuretic bias digunakan pada meniere’s sindrom, dilaporkan dengan pemberian Dyazyde tinnitus dapat dikurangi. Tetapi perlu diingat bahwa beberapa diuretic merupakan obat ototoksik dan dapat memperburuk tinnitus.11
f. Betahistine hydrochloride (SERC)
Obat ini diyakini dapat mengurangi tekanan di dalam telinga dan meningkatkan aliran darah menuju ke pembuluh darah kecil. Obat ini dapat mengurangi tinnitus selama 6-12 jam dengan dosis 24-48 mg per hari.11
g. Lidokain
Injeksi intravena lidokain diikuti dengan IV drip dapat mengurangi kesakitan akibat tinnitus, dimana suatu penelitian pada 26 probandus, 23 orang merasakan efek obat setelah lebih dari 30 menit setelah penyuntikan obat.11 Penelitian yang dilakukan Lenarz menyatakan bahwa lidokain intra vena mengurangi lebih dari 50% gejala tinnitus, sedangkan lidokain oral dianjurkan bila sudah dilakukan tes sensitivitas terhadap lidokain.13
h. Tocainide Hydrochloride
Obat untuk antiaritmia ini diberikan per oral dan mempunyai efek seperti lidokain, tetapi obat ini mempunyai efek samping yang berat.11 penelitian Lenarz menyimpulkan hanya pemberian oral tocainide hanya dapat mengurangi gejala sebanyak 35% dari seluruh probandus, tetapi dengan pemberian intra vena dapat mengurangi sampai dengan 55% pasien.13 Tetapi perlu diingatkan bahwa pamberian tocainide mempunyai efek samping yang berat, sehingga pemberiannya hanya diberkan pada pasien yang sangat menderita akibat tinnitus.13
i. Histamin
Efek yang diambil dari histamine adalah sebagai vasodilator, pada suatu penelitian yang belum dipublikasikan, hampir 70% pasien dengan pengobatan histamin mendapatkan perbaikan sempurna ataupun setengah dari keluhan tinnitus.11
j. AntiHistamin
Secara teori, antihistamin mempunyai efek sedative ringan yang dapat menghilangkan kecemasan, mengurangi sekresi mukus sehingga rongga telinga tetap kering, dan ini akan mengurangi tekanan koklear.11
Meclizine, adalah obat antihistamin yang digunakan untuk mual dan motion sickness serta anti vertigo yang disertai meniere’s sindrom. Tetapi pada suatu laporan dari penderita tinnitus tanpa gejala vertigo, meclize dapat mengurangi tinnitusnya.11
3. Terapi adjuvan
a. Hydergin
Hydergin kemungkinan mempunyai efek yang dilaporkan sebagai berikut: meningkatkan suplai darah dan oksigen ke otak, memperbaiki metabolisme otak, melindungi otak dari radikal bebas, meningkatkan ingatan, menormalkan tekanan sitolik, menurunkan kadar kolesterol, mengurangi kelelahan, mengurangi gejala pusing dan tinnitus.11
b. Vinpocetine dan Vincamine
Vincamine telah banyak digunakan untuk keadaan kekurangan aliran darah ke otak, termasuk vertigo dan meniere’s sindrom, susah tidur, masalah pendengaran, hipertensi.11
c. Sodium Flouride
Kristal garam yang tidak berwarna, dapat membantu ketika tinnitus disebabkan oleh otosklerosis koklear.11
d. Niasin
Merupakan suatu kristal garam, komponen pembentuk vitamin B, diharapkan dapat memacu supply oksigen ke dalam telinga melalui vasodilatasi. Niasin lebih cepat bekerja pada saat perut kosong. Belum ada percobaan klinik yang membuktikan keefektifan niasin untuk mengatasi tinnitus, dan niasin dalam dosis besar dapat merusak hepar.11
e. Zinc
Konsentrasi zinc di dalam koklea merupakan konsentrasi terbesar di dalam tubuh, sehingga pemberian zinc 90-150 mg per hari dapat bermanfaat. Tetapi zinc dosis tinggi lebih dari 150 mg dapat menyebabkan anemia dan keracunan.11,14
f. Magnesium
Magnesium dapat bermanfaat untuk mencegah terjadinya kehilangan pendengaran.11
g. Ginkgo Biloba
Tahun 1990, Swart Davis menyatakan ginkgo biloba tidak mempunyai efek terapeutik terhadap tinnitus, tetapi jurnal Lancet volume 340 tahun 1992 menyatakan dengan dosis 120-160 mg setelah makan dapat menurunkan symptom sebesar 30-70%.11
Pada suatu penelitian yang dilakukan Hobbs pada tahun 1992, menyatakan bahwa;(1)tinnitus dihilangkan seluruhnya sebesar 35% dari seluruh pasien yang di uji.(2) pasien dengan usia tua sebanyak 350 orang dengan gangguan pendengaran yang di terapi ginkgo berhasil sebanyak 82 %. (3) sebanyak 137 pasien yang di ikuti, 67 % masih memiliki pendengaran yang baik setelah 5 tahun kemudian.11
Pada tahun 1994, Holger menyimpulkan bahwa ekstrak ginkgo biloba tidak mempunyai efek terhadap tinnitus.15
Tetapi pada akhirnya, lucy menyatakan jika tetap menggunakan ekstrak ginkgo biloba, harus diperhatikan efek samping dan inform concern kepada penderita.14
4. Non Invasif Laser
Terapi ini menggunakan laser yang tidak invasive pada procesus mastoideus dengan energi 90 J/cm2, dilanjutkan 45 J/cm2 dengan frekuensi 5 Hz 2 kali seminggu sebanyak 8 sampai 10 seri, hasilnya 36% tinnitus berkurang, dan 26% tinnitus menghilang sama sekali.16
5. Hearing Aid (Alat Bantu Dengar)
Alat Bantu dengar dapat diberikan untuk pasien dengan gangguan pendengaran disertai dengan tinnitus yang berat. Karena dapat membantu menormalkan kecepatan suara, juga berguna untuk mencegah suara bising dari luar yang tidak diinginkan.6,11,13
6. Electrical Stimulation
Penempatan berbagai elektroda dengan berbagai volume frekuensi sudah terbukti dapat mengurangi tinnitus. Penempatan elektroda si luar, liang telinga, telinga tengah, dan koklea. Efek samping yang terjadi adalah rasa sakit, perubahan sensasi bau. Pada suartu penelitian, 3 dari 5 orang mengalami perbaikan dengan frekuensi 40 Hz atau kurang.11,13
7. Terapi oksigen hiperbarik/ terapi ozonisasi
Terapi ini dapat bermafaat jika dicurigai adanya kekurangan oksigen pada mekanisme pendengaran. Terapi ini bermanfaat pada kasus akut daripada kasus kronis.11
8. hypnoterapi
Terapi ini dilaporkan dapat memperbaiki keadaan tinnitus sebesar 68%.11,17
9. TMD Terapi.11
10. Audio Integration Therapy.11
11. Pembedahan
Tindakan pembedahan dapat dilakukan untuk tinnitus yang diakibatkan oleh neuroma akustik, abnormalitas vaskuler, dan TMJ sindrom.11
Salah satu bentuk tindakan ini adalah implant koklear.13
Neurotomi merupakan tindakan pembedahan pilihan terakhir, dengan melakukan pembedahan N.VIII, tetapi hati-hati, jika penyebab tinnitus akibat sesuatu di dalam otak, pasien akan tuli permanen dan tinnitus masih dapat terjadi.11
12. Terapi alternative
a. Akupungtur
Akupuntur merupakan pengobatan tradisional cina kuno. Tujuan pengobatan ini adalah untuk mengembalikan keseimbangan alami tubuh dan meningkatkan ketahanan seluruh tubuh.17
b. Aromaterapi
Pengobatan dengan menggunakan minyak yang penting dari bunga, tumbuh-tumbuhan, pohon dan buah sudah banyak dikenal sejak berabad-abad lalu di banyak Negara. Aromaterapi menggunakan minyak untuk membantu relaksasi dan kesehatan, dengan cara pemijatan pada tubuh, meskipun juga dapat dilakukan dengan cara lain. Banyak penderita tinnitus yang terbantu dengan aromaterapi.17
c. Chiropractic
Prinsip dasar dari chiropractic adalah untuk mengembalikan susunan tulang belakang dan sambungannya, sehingga mengembalikan fungsi saraf untuk bekerja secara tepat.17
d. terapi kraniosakral
Terapi relaksasi yang dalam dimana terapis menggunakan tangannya untuk menemukan dan menghilangkan tahanan pada otot, tulang dan cairan tubuh.17
e. Herbal Medicine
Dengan menggunakan trial and error, ditemukan bahwa untuk menghilangkan penyakit, maka tanaman merupakan metode yang paling efektif.17
f. Pemijitan.17
g. Homeophaty.17
h. Osteophaty.17
i. Refrexology.17
j. Reiki.17
k. Shiatsu.17
l. Tai Chi.17
m. Yoga.17
n. Alexander Technique.17
Epistaksis
PENDAHULUAN
Epistaksis atau perdarahan hidung sering ditemukan sehari-hari, dan hampir 90% dapat berhenti sendiri. Epistaksis bukan merupakan suatu penyakit, melainkan sebagai gejala dari suatu kelainan.3
Perdarahan dari hidung dapat merupakan gejala yang sangat menjengkelkan dan mengganggu. Ia dapat pula mengancam nyawa. Faktor etiologi harus dicari dan dikoreksi untuk mengobati epistaksis secara efektif. Perdarahan hidung tampak lebih sering terjadi pada masa awal kanak-kanak sampai pubertas. Walaupun pada kelompok usia tersebut biasanya tidak serius. Epistaksis berat atau yang mengancam jiwa tampaknya meningkat dengan bertambahnya usia.4
Epistaksis adalah masalah klinis yang berbahaya, terutama bila berasal dari posterior. Sembilan puluh persen epistaksis berasal spontan dari pleksus pembuluh darah superfisialis didalam septum anterior inferior, dan lebik mudah ditangani dibandingkan epistaksis posterior, yang 10% pasien dari pembuluh darah di dalam dinding hidung lateral dekat nasofaring dan disertai dengan mortalitas 4% sampai 5%.7
A. Definisi
Epistaksis adalah perdarahan dari hidung yang dapat terjadi akibat sebab lokal atau sebab umum (kelainan sistemik).6
B. Etiologi
Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab lokal dan sistemik.
1. penyebab local :
- Idopatik (85% kasus) biasanya merupakan epistaksis ringan dan berulang pada anak dan remaja.
- Trauma ; epistaksis dapat terjadi setelah trauma ringan misalnya mengorek hidung, bersin, mengeluarkan ingus dengan kuat, atau sebagai akibat trauma yang hebat seperti terpukul, jatuh, kecelakaan lalu lintas.
- Iritasi ;epistaksis juga timbul akibat iritasi gas yang merangsang, zat kimia, udara panas pada mukosa hidung.
- Pengaruh lingkungan, misalnya tinggal di daerah yang sangat tinggi, tekanan udara rendah atau lingkungan udaranya sangat kering.
- Benda asing dan rinolit, dapat menyebabkan epistaksis ringan unilateral disertai ingus yang berbau busuk.
- Infeksi, misalnya pada rhinitis, sinusitis akut maupun kronis serta vestibulitis.
- Tumor, baik jinak maupun ganas yang terjadi di hidung, sinus paranasal maupun nasofaring.
- Iatrogenic, akibat pembedahan atau pemakaian semprot hidung steroid jangka lama.
2. penyebab sistemik :
- Penyakit kardiovaskular, misalnya hipertensi dan kelainan pembuluh darah, seperti yang dijumpai pada arteriosclerosis, nefritis kronis, sirosis hepatic, sifilis dan diabetes mellitus. Epistaksis juga dapat terjadi akibat peninggian tekanan vena seperti pada emfisema, bronchitis, pertusis, pneumonia, tumor leher dan penyakit jantung. Epistaksis juga dapat terjadi pada pasien yang mendapat obat anti koagulan (aspirin, walfarin, dll).
- Infeksi, biasanya infeksi akut pada demam berdarah, influenza, morbili, demam tifoid.
- Kelainan endokrin misalnya pada kehamilan, menarche, menopause.
- Kelainan congenital, biasanya yang sering menimbulkan epistaksis adalah hereditary haemorrhagic teleangiectasis atau penyakit Osler-Weber-Rendu.
C. Patofisiologi
Terdapat dua sumber perdarahan yaitu bagian anterior dan posterior. Pada epistaksis anterior, perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach (yang paling sering terjadi dan biasanya pada anak-anak) yang merupakan anastomosis cabang arteri ethmoidakis anterior, arteri sfeno-palatina, arteri palatine ascendens dan arteri labialis superior.
Pada epistaksis posterior, perdarahan berasal dari arteri sfenopalatina dan arteri ethmoidalis posterior. Epistaksis posterior sering terjadi pada pasien usia lanjut yang menderita hipertensi, arteriosclerosis, atau penyakit kardiovaskuler. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti spontan.
Perdarahan yang hebat dapat menimbulkan syok dan anemia, akibatnya dapat timbul iskemia serebri, insufisiensi koroner dan infark miokard, sehingga dapat menimbulkan kematian. Oleh karena itu pemberian infuse dan tranfusi darah harus cepat dilakukan.
D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk menilai keadaan umum penderita, sehingga pengobatan dapat cepat dan untuk mencari etiologi.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan darah tepi lengkap, fungsi hemostatis, uji faal hati dan faal ginjal.
Jika diperlukan pemeriksaan radiologik hidung, sinus paranasal dan nasofaring dapat dilakukan setelah keadaan akut dapat diatasi.
E. Penatalaksanaan
Pertama-tama keadaan umum dan tanda vital harus diperiksa. Anamnesis singkat sambil mempersiapkan alat, kemudian yang lengkap setelah perdarahan berhenti untuk membantu menentukan sebab perdarahan.
Penanganan epistaksis yang tepat akan bergantung pada suatu anamnesis yang cermat. Hal-hal penting adalah sebagai berikut :
- riwayat perdarahan sebelumnya
- lokasi perdarahan
- apakah darah terutama mengalir ke dalam tenggorokan (ke posterior) ataukah keluar dari hidung depan (anterior) bila pasien duduk tegak
- lama perdarahan dan frekuensinya
- kecenderungan perdarahan
- riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga
- hipertensi
- diabetes mellitus
- penyakit hati
- gangguan anti koagulan
- trauma hidung yang belum lama
- obat-obatan misalnya aspirin, fenilbutazon (butazolidin).1
Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis, yaitu menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi dan mencegah berulangnya epistaksis. Kalau ada syok, perbaiki dulu keadaan umum pasien.2
Dampak hilangnya darah harus ditentukan terlebih dahulu sebelum melakukan usaha mencari sumber perdarahan dan menghentikannya. Walaupun sudah dihentikan, kemungkinan fatal untuk beberapa jam kemudian untuk seorang pasien tua yang mengalami perdarahan banyak akibat efek kehilangan darahnya adalah lebih besar jika disbanding dengan akibat perdarahan (yang terus berlangsung) itu sendiri. Penilaian klinis termasuk pengukuran nadi dan tekanan darah akan menunjukkan apakah pasien berada dalam keadaan syok. Bila ada tanda-tanda syok segera infuse plasma expander.5
Menghentikan perdarahan
Menghentikan perdarahan secara aktif, seperti kaustik dan pemasangan tampon, lebih baik daripada pemberian obat hemostatik sambil menunggu epistaksis berhenti dengan sendirinya.2
Posisi penderita sangat penting, sering terjadi pasien dengan perdarahan hidung harus dirawat dengan posisi tegak agar tekanan vena turun.