Tampilkan postingan dengan label HAMIL RISIKO TINGGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HAMIL RISIKO TINGGI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Februari 2011

Non Stres Tes = NST (Tes Tanpa Beban)

Tes ini bersifat non-invasif dan dilakukan untuk menilai keadaan bayi. Bisa dilakukan sebagai rutinitas pada setiap pasien hamil yang hendak bersalin (admission test).Denyut jantung bayi di monitor dan direkam. Tes ini terutama dilakukan jika usia kehamilan melewati tanggal perkiraan taksiran persalinan (due date)atau ibu hamil dengan hamil berisiko tinggi.
Berikut ini kondisi dimana tes ini dilakukan:
  • Ibu yang diabetes.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Gangguan pertumbuhan bayi.
  • Bayi kurang aktif bergerak.
  • Air ketuban terlalu banyak atau terlalu sedikit.
  • Hamil lewat waktu.
  • Ada riwayat kematian janin dalam rahim di trimester 2 pada kehamilan sebelumnya.

Sebelum dilakukan pemeriksaan, makan terlebih dahulu supaya bayinya ter-stimulasi untuk bergerak. Saat dilakukan tes, ibu berbaring miring kiri. Dua buah (bisa juga tiga) alat dipasang pada perut ibu. Fungsi masing2 alat adalah untuk memonitor denyut jantung bayi, gerak bayi dan kontraksi rahim. Ketiga aktifitas ini direkam.

Jika bayi tidak bergerak, ada kemungkinan bayinya sedang tidur. untuk itu perut bumil akan ditempelkan bel/buzzer agar bayinya terbangun. Tes biasanya memakan waktu 20-60 menit.



Gambar hasil pemeriksaan CTG

Hasil pemeriksaan ini dikatakan reaktif (normal)jika : Jika denyut jantung dalam batas normal, ada akselerasi (reaksi peningkatan denyut), tidak ada deselerasi (penurunan denyut jantung yang tajam) dan ada gerak bayi. Tes biasanya diulangi seminggu kemudian.

Berlawanan dengan hasil diatas, hasil tesnya tidak normal (non-reaktif), denyut jantung melewati batas normal (tinggi atau rendah), tidak ada akselerasi, ada deselerasi dan atau gerak bayi tidak ada.

Hasil yang non-reaktif bisa merupakan petunjuk bahwa bayi tidak mendapatkan cukup oksigen (asfiksia)atau ada gangguan pada plasenta. Jika ditemukan kondisi ini maka bayi harus segera dilahirkan.

Selasa, 23 Desember 2008

Primigravida Tua


Primigravida Tua adalah wanita yang hamil untuk pertama kali dengan usia diatas 30 tahun (dalam bahasa inggrisnya : elederly primigravida). Terbagi lagi menjadi dua yg pertama adalah nikah lambat tetapi cepat hamil yang kedua nikah cepat tetapi lambat hamil, yang terakhir ini lebih kurang menguntungkan dari segi obstetrinya dan mendapat perhatian ekstra. :D

Selama kehamilan terdapat/terjadi insiden yang lebih tinggi dari: abortus, Preeklampsia, Solutio Plasenta, mioma uteri, kecendrungan prematuritas, serta gangguan pertumbuhan janin.

Komplikasi persalinan juga lebih tinggi, berupa : persalinan kurang bulan, persalinan yg memanjang (prolonged labor), maternal dan fetal distress, meningkatnya persalinan dengan tindakan, dan retensi plasenta. Sedangkan pada masa nifas terjadi infeksi serta kegagalan laktasi.

Mengingat banyaknya komplikasi yg mungkin terjadi maka kelompok ini dimasukkan kedalam kehamilan risiko tinggi. Sejak antenatal diperlukan supervisi terhadap kehamilannya. Berikut prinsip2nya yag sebaiknya diikuti: pertama induksi sering kurang memuaskan maka sebaiknya pertimbangkan cesar. Kedua USG dan Rontgen harus dilakukan sebelum cesar untuk memastikan kelainan congenital tulang pada bayi Ketiga pertimbngkan adanya komplikasi lain dari kehamilannya.

Rabu, 06 Agustus 2008

Persalinan Normal Pada Bekas Cesar

Persalinan Pervaginam Pada Bekas Cesar dalam bahasa Inggerisnya Vaginal Birth After Caesarean Section (VBAC). Dari data CDC (Amrik) tahun 2005, angka kelahirn dengan operasi cesar mencapai 29 %. Dari seluruh angka cesar tersebut, 90% nya bisa dicoba untuk melahirkan normal (VBAC) dan angka keberhasilan lahir normal (VBAC) sekitar 60-70%. Sebetulnya angka persalinan dengan Cesar yang wajar menurut WHO adalah 5-10 % dari seluruh kelahiran (Althabe and Belizan The Lancet 2006;368:1472-3).

Ternyata diseluruh dunia angka bedah cesar meningkat dengan pesat. Data dari RS Fatmawati Jakarta tahun 2002 angka Cesar nya 29.9 %. Sepertinya angka ini cukup menggambarkan keadaan Indonesia secara umum. Itu angka tahun 2002. Bagaimana sekarang ? Sepertimya nggak ada penurunan (yang berarti). Aku pernah membaca suatu survey angkanya masih segitu2 juga (lupa sumbernya).




Di Amerika berikut ini alasan kenapa angkanya tetap tinggi:
1) Rendahnya usaha untuk meningkatkan kemampuan wanita melahirkan normal.
2) Akibat tindakan obstetri seperti induksi pada serviks yang belum matang
3) Tidak mau memberikan informed tentang pilihan persalinan misalnya pada bekas Cesar lalu dicesar lagi
4) Kurang ngerti unggulnya persalinan normal dan bahayanya cesar
5) Dokter takut dituntut pasien (main amannya aja, walaupun cesar sebetulnya lebih berisiko)
6) Adanya tanggungan asuransi, sehingga dengan mudah mau di cesar (coba bayar sendiri! mikir2 nya pasti banyak)
7) Permintaan sendiri untuk di cesar karena nggak tahan sakit(hubungan erat dg no 6 & 1)

Persalinan pada bekas operasi dapat dilakukan dengan syarat:
1) Indikasi operasi sebelumnya bukan karena panggul sempit (indikasi tidak menetap)
2) Bayi nggak ada kelainan letak (letak kepala)
3) Janin Tunggal
4) Insisi non-klasik (sayatan di dinding rahim tidak boleh tegak lurus)
5) Penyembuhan luka operasinya baik (nggak pakai lama)
6) Berat bayi nggak boleh lebih 4 kg

Proses persalinannya disebut : TRIAL OF SCAR = Nyoba Jaringan Parut. Dimana proses mengedannya saat buka-an lengkap hanya boleh 2x 15 menit. Kalau nggak lahir juga harus dibantu dengan Vakum atau Forseps. Perlu diingat disini bahwa persalinan pervaginam adalah the best dari segi manapun. (ibu dan bayi, cost, risk)

Berapa lama jarak yang aman antara satu persalinan dengan berikutnya? Tidak ada ketentuan di textbook. Secara POGI sepakat jaraknya minimal 2 tahun baru boleh hamil lagi. Bagaimana jika sudah hamil lagi sebelum 2 tahun (kebobolan kb)...lanjutkan, nggak masalah. Jarak dua tahun ini tujuannya agar tumbuh kembang bayi sebelumnya dapat berlangsung dengan baik.

Nah satu lagi yang mungkin nggak diketahui orang awam, jangan dikira melahirkan kepala pada cesar gampang, apalagi pada bekas cesar sering dijumpai perlengketan. Kadang pada proses cesar dibutuhkan forseps atau vakum untuk mengeluarkan kepala.

Sekarang tren-nya malah inisisi seminimal mungkin lalu bayi dilahirkan dengan forceps. Luka operasi yang nggak terlalu lebar akan mempercepat proses penyembuhan operasi. Berapa sih sebetulnya lebar luka sayatan dikulit? Penelitian di amerika rata-rata 14 cm. Dengan melahirkan bayi pakai forseps maka sayatan kulit bisa lebih kecil dari 14 cm. Nah sekarang coba periksa berapa panjangnya sayatan kulit masing-masing.