Rabu, 03 Agustus 2005

Setiap Pasien adalah Sebuah Pelajaran

Tiba-tiba pintu ruang praktik menjeblak terbuka.

“Dok, tolong! Kenapa anak saya ini?” Wanita berusia menjelang tiga puluhan tahun itu berlari menggendong anaknya. Menghampiriku.

Anak perempuan kecil dalam gendongannya tampak kaku dengan mata setengah terbuka. Kadua kakinya bergerak-gerak teratur. Terdengar rintihan pelan.

“Ya Alloh, astaghfirulloh, kenapa kau, Nak..” tangis ibunya yang tengah hamil 32 minggu.

Jari telunjuk dan tengah perempuan ini terjepit erat di antara gigi-geligi anaknya yang baru berusia 15 bulan. Ia khawatir anaknya yang tengah kejang tanpa sadar menggigit lidahnya.

“Tenang Bu, tenang. Ia kejang karena demam. Tidak akan lama berhenti sendiri,” sahutku berusaha menenangkannya.

Otakku terus berputar. Tenang Pin, tenang, ujarku menenangkan diri sendiri. Aku tidak suka keadaan ini. Selama ini jika menghadapi pasien kejang, selalu tersedia obat kegawatdaruratan untuk menghentikan kejangnya. Tabung diazepam rektal satu buah. Tapi di klinik kecil tempatku bekerja ini, obat itu tidak tersedia. Poliklinik salah satu pool perusahaan taksi ini memang tidak dipersiapkan untuk keadaan gawat seperti ini. Tak ada cara lain. Aku yakin dengan diagnosisku, dan berdasarkan teori, kejangnya akan segera berhenti. Amati saja keadaan anak ini. Miringkan posisi tubuhnya agar jika muntah tidak masuk ke saluran napasnya. Hitung berapa lama kejangnya. Pastikan tidak terjadi keadaan kekurangan oksigen.

***

Sekitar 15 menit sebelumnya, sepasang suami-istri membawa anak perempuannya yang berumur 15 bulan, dengan keluhan demam tinggi sejak siang hari.

“Tadi diukur di rumah, suhunya 40 derajat selsius,” kisah si istri.

Aku senang mendengarnya. Kenapa? Karena ibu ini tampaknya memiliki pengetahuan yang cukup, sehingga merasa perlu untuk menggunakan termometer dalam mengukur suhu tubuh. Hasilnya tentu objektif. Kita tahu persis apakah seseorang demam atau tidak. Tidak bisa mengandalkan perabaan tangan di dahi yang sangat subjektif.

Menghadapi klien seperti ini, membuatku senang dan perlu untuk mengedukasinya. Meluangkan waktu sedikit lebih lama untuk memberikan informasi, apa yang orangtua harus lakukan jika menghadapi anaknya demam. Bukan sekedar mendengarkan keluhan, dan menuliskan resep, selesai! Hmm, I’m not that type of doctor.

Kebetulan sekali di mejaku tersedia lembaran-lembaran mading edukasi untuk orangtua. Isinya mengenai ‘demam’, dan ‘kejang demam’. Apa yang harus orangtua pahami mengenai kedua kondisi ini, dan apa yang harus mereka lakukan jika menghadapinya pada anak mereka. Thanks to milis SEHAT yang telah menyediakan bahan mading ini.

Aku minta mereka untuk memfotokopinya, segera mengembalikannya padaku, dan mempelajarinya di rumah.

Si Kecil di hadapanku memang tampak lemas. Ia menggigil. Aku tegaskan pada orangtuanya, bahwa keadaan yang perlu diperhatikan saat ini jika sampai terjadi kejang. Aku tak pernah menyangka jika 15 menit kemudian ini akan terjadi. Tepat di hadapanku. Dan aku tak punya obat yang tepat untuk mengatasi keadaan ini.

Alhamdulillah, tak sampai lima menit, kejang mereda dengan sendirinya. Namun si Ibu justru bertambah keras tangisnya. Apa yang terjadi? Kedua jari tangan kanannya yang dimasukkan ke dalam mulut si kecil, tidak bisa dikeluarkan. Gigitan si anak selama hampir lima menit membuatnya kesakitan. Wanita ini menangis sejadi-jadinya, meluapkan rasa sakitnya tergigit.

“Aduh, Nak, tangan Ibu dilepaskan dong,” erangnya.

“Sini Bu, ganti saja dengan kapas perban ini,” sodorku. Sebenarnya tidak boleh memasukkan benda apapun ke dalam mulut anak yang kejang. Dikhawatirkan justru jalan napasnya akan tersumbat. Kejadian lidah tergigit sangat kecil.

Si ibu menatapku dengan ragu. Ia memang kesakitan luar biasa. Tapi ia lebih khawatir lidah anaknya akan tergigit. Inilah kasih seorang ibu.

Dalam waktu kejangnya ini, ayahnya mengurus transportasi yang bisa membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Minimal untuk mendapatkan diazepam rektal lah. Observasi selama beberapa saat, sambil memasang selang oksigen pada si anak. Setelah kendaraan operasional pool siap, mereka menuju RS terdekat. Aku harus menyelesaikan beberapa pasien dulu, untuk kemudian menyusul mereka ke RS.

***

“Tadi waktu sudah di atas motor untuk dibawa pulang, saya melihatnya kejang. Padahal di luar itu gelap. Segera saja saya berlari membawanya kembali ke dalam,” kisah si Ibu padaku di ruang Gawat Darurat RS. Si Kecil sudah sadar. Ia menangis keras. Sudah masuk diazepam rektal satu tabung, untuk mengantisipasi terjadinya kejang ikutan. Walaupun kemungkinannya sangat kecil pada kejang demam.

“Diminta rawat inap, Dok,” lapor si Ayah padaku sambil membawa secarik kertas bertuliskan rincian uang muka yang harus dibayar. Besarnya Rp. 250 ribu.

Aku menggelengkan kepala tidak setuju. “Tidak perlu rawat inap,” jawabku singkat. Kejang demam memang tidak perlu dirawat. Hanya saja orangtua harus dibekali pengetahuan penanganannya, dan mereka sudah punya bahan tertulisnya. Mereka juga harus tetap tenang dan rasional menghadapi keadaan yang tampaknya menakutkan ini, padahal tergolong penyakit ringan yang tidak menyebabkan kerusakan otak.

Jangan sampai mereka juga ‘memperkaya’ RS ini, untuk kondisi yang sama sekali tidak perlu.

Jujur, harus kukatakan, inilah yang terjadi di dunia kedokteran. Banyak uang masuk ke RS, melalui rawat inap, untuk penyakit-penyakit yang tidak diindikasikan rawat. Mereka memanfaatkan ketidaktahuan dan kepanikan pasien yang meminta rawat inap. Bisa jadi juga karena dokter atau RS-nya ‘nakal’. Ya, darimana RS swasta dapat untung kalau tidak ada pasiennya.

Kebetulan sebagai dokter perusahaan, aku biasa memantau klaim penggantian yang masuk dari karyawan sakit dan dirawat. Sebagian besar dari RS swasta kecil ini, karena lokasinya yang dekat dengan pool taksi kami. Sering sekali penyakit-penyakit tanpa indikasi rawat yang akhirnya dirawatinapkan. Toh, biayanya akan diganti oleh perusahaan. Mungkin begitu pikir mereka. Aku sampai hapal dokter mana saja yang biasa bermain ‘tidak cantik’ ini.

Ayah si anak hanyalah seorang pegawai bengkel. Tempat kerjanya pun bukan di pool kami. Hanya saja lokasi klinik pool yang terdekat dari rumahnya adalah di tempatku. Sehingga untuk meminta pinjaman uang, prosedurnya agak rumit. Untuk membayar uang muka saja ia tidak sanggup. Untungnya ia berhasil dimotivasi untuk tidak perlu rawat inap. Bekal pengetahuan dan ketenangan adalah yang terpenting. Jika panik, hubungi saja dokter pool.

***

Sambil menyetir mobil pulang ke rumah, aku merenung. Kasus ini sangat ‘menarik’. Ketika aku membawa bahan dengan topik kejang demam, ada seorang anak yang mengalami kejang demam tepat di hadapanku, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa melainkan mengamatinya hingga berakhir, dan menenangkan orangtuanya. Belum pernah aku menghapi keadaan ‘tidak berdaya’ ini. Apakah ini pelajaran yang Alloh berikan khusus untukku, dengan mendatangkan pasangan suami-istri dan anaknya yang sakit padaku? Dalam pikiran seorang dokter, every patient is a lesson. Astaghfirullah, masak sedangkal ini aku menjadikan mereka sekedar bahan pelajaran? Aku memang senang berpikir ilmiah. But being a doctor isn’t just a scientist. They are the people who understand other people’s suffer, pain, and give them help. Being emphatic, not symphatetic.

Kalau diperhatikan, selama hampir setahun ini, orang-orang yang aku hadapi adalah mereka dari golongan dhu’afa, berpenghasilan dan berpendidikan rendah. Ini tampaknya pelajaran kemanusiaan yang Alloh berikan padaku. Dengan menjadi dokter. Profesi yang sangat aku hindari saat selepas SMU.

Senin, 25 Juli 2005

Detik-detik yang Sangat Berharga di Madrasah Malam

Sujud di mihrab, istighfar di penghujung malam, dan air mata munajat merupakan ciri khas orang-orang mukmin.

Jika ahli dunia mengira, bahwa surganya terletak pada materi, wanita, dan gedung yang mewah, maka sesungguhnya surga orang mukmin terletak pada mihrabnya.

Meneladani Siroh Nabawiyah (perjalanan hidup Nabi) Rasululloh saw., kita akan menemukan beberapa tahapan dalam perjalanan da'wah beliau.

Salah satu literatur yang sangat baik menjelaskan hal ini adalah buku karangan Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban, berjudul "Manhaj Haraki, Strategi Pergerakan dan Perjuangan Politik dalam Sirah Nabi saw." Yang akan dipaparkan di sini adalah salah satu karakteristik pada periode kedua--jahriyatud da'wah wa sirriyatut tandzim--"Berda'wah secara Terang-terangan dan Merahasiakan Struktur Organisasi", yaitu Menekankan Aspek Spiritual.

Pada tahapan pembinaan, tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya dalam jiwa, selain daripada menekankan ibadah, ketaatan, dan amalan-amalan sunnah. Ibadahlah yang menghubungkan hati dengan Alloh, meneguhkan jiwa dalam menghadapi segala penderitaan, lulus menghadapi fitnah, dan teguh di atas jalan kebenaran.

Ia adalah tahapan ibadah, tabattul, qiyamul lail...

Al-Bazzar meriwayatkan dari Muhammad bin Aqil bin Jabir, ia berkata, "Quraisy bermusyawarah di Darun Nadwah. Berkatalah sebagian mereka, 'Berilah nama kepada orang ini (Nabi saw.) dengan suatu nama yang akan menghalangi orang darinya.'
Sebagian mereka berkata, 'Tukang ramal.' Sebagian yang lain menjawab, 'Dia bukan tukang ramal.'
Yang lain berkata, 'Orang gila.' Sekelompok yang lain menukas, 'Dia bukan orang gila.'
Sebagian mereka berkata, 'Tukang sihir.' Sebagian yang lain membantah, 'Dia bukan tukang sihir.'
Kemudian orang-orang musyrik itu bubar dalam keadaan demikian. Mendengar peristiwa ini, Nabi saw. langsung berselimut dan berkemul dalam pakaiannya. Kemudian Jibril datang kepada beliau dan berseru, 'Wahai orang-orang yang berselimut, wahai orang-orang yang berkemul...!'" --Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Muzammil, III/562

Imam Ahmad meriwayatkan perkataan Aisyah radhiyallahu 'anha, "Sesungguhnya Alloh mewajibkan qiyamul lail pada awal surat ini. Kemudian Rasulullah saw. dan para sahabatnya melaksanakannya selama satu tahun sampai kaki-kaki mereka bengkak. Alloh menahan penutup surat itu di langit selama dua belas bulan, kemudian Alloh menurunkan keringanan di akhir surat sehingga qiyamul lail menjadi sunnah setelah diwajibkan." --Ibid., III/564

"Hai orang-orang yang berselimut, bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan, bacalah al-qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya, Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya, bangun di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya, kamu pada waktu siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)" (al-Muzammil [73]: 1-7)

Seluruh malam kecuali sedikit darinya harus dipergunakan untuk qiyamul lail.

Qiyamul lail itu sendiri bukanlah sasaran dan bukan pula hukuman Alloh terhadap hamba-Nya, tetapi merupakan tarbiyah imaniyah 'pembinaan keimanan' untuk mewujudkan hubungan yang kuat dengan Alloh. Ia adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Sarana untuk dzikrullah, tabattul, dan tawakkal kepada-Nya.

"Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. dialah Rabb masyrik dan maghrib, tiada ilah melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung" (al-Muzammil [72]: 8-9)

Dzikrullah, tabattul, tawakkal, dan ibadah kepada-Nya adalah senjata satu-satunya dalam pertarungan. Ialah yang membekali kaum mu'minin dengan kesabaran dalam menghadapi cobaan, penyiksaan, dan penghinaan. Ialah senjata satu-satunya dalam periode ini, periode yang tidak membolehkan konfrontasi langsung.

"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan, dan beri tangguhlah mereka barang sebentar" (al-Muzammil [73]: 10-11)

***

Para penyeru di jalan Alloh sangat memerlukan senjata ini, dalam menjalankan tugas da'wah yang selalu menghadapi berbagai rintangan dan gangguan. Jika pada tahapan seperti ini gerakan Islam tidak memperhatikan aspek ibadah, aspek ruhiyah, qiyamul lail yang rutin dan berkesinambungan, dan dauroh-dauroh secara berulang-ulang untuk "hidup terus", pasti akan menyaksikan para prajuritnya berjatuhan satu demi satu dan rontok oleh benturan tribulasi.

Perlu diingat, qiyamul lail hanya menjadi sekedar teori yang tidak dapat diaplikasi, apabila simpanan hafalan al-qur'an para ikhwah da'iyah sangat minim. Sebab, ikhwah yang tidak memiliki hafalan al-Qur'an, kecuali beberapa ayat, akan terpaksa mengulang-ulang ayat tersebut di dalam shalatnya. lantas bagaimana ia akan melaksanakan qiyamul lail? Bagaimana hatinya akan tergerak dengan khusyu'? Bagaimana ia akan merasakan lezatnya taat dan ibadah jika kelezatan al-Qur'an tidak terintegrasi dalam hatinya, serta memenuhi kehidupan, ruh, pendengaran, dan penglihatannya? Sampai "cahaya" al-Qur'an memancar dengan deras dari hatinya?

***

Pada masa-masa sekarang ini, qiyamul lail di kalangan para pemuda dan aktivis Islam menjadi acara bulanan, musiman, atau tahunan. Itu pun berjalan denga surat-surat pendek. Sesungguhnya manhaj tarbiyah yang harus diterapkan pada para pemuda di tingkat permulaan adalah manhaj Qur'ani sebagaimana kami sebutkan di atas. Tidaklah cukup al-Qur'an ini hanya dijadikan sebagai pokok pangkal manhaj secara keseluruhan dan tsaqafah (pengetahuan) yang disajikan kepada para ikhwah. Tetapi di samping itu, hafalan al-Qur'an juga harus dijadikan sebagai sasaran utama di antara sasaran manhaj, terutama bagi ikhwan dan akhwat yang masih muda dan memiliki kemampuan hafalan secara baik.

Manhaj tarbiyah harokiyah yang dibuat oleh jama'ah harus berhasil membuat para pemuda hapal banyak dari ayat-ayat al-Qur'an tatkala mereka memasuki usia dua puluh tahun, sehingga menjadi bekalnya dalam ketaatan, gerakan, tahajjud, dan ibadah. Pada saat itu, ia akan merasakan lezatnya ibadah, taat, dan qiyamul lail, menikmati lezatnya dzikir dan tawakkal.

Selain itu, manhaj tarbiyah pada tahapan ini juga harus menekankan dzikrullah, tahlil (membaca laa ilaaha il), takbir, tahmid, tasbih, shalawat kepada Nabi saw., membaca wirid yang ma'tsur dan dzikir-dzikir secara mutlak, berkesinambungan, siang dan malam.

***


Sesungguhnya pemuda muslim yang menjalani masa mudanya dengan tekun beribadah dan taat, rutin, dan kontinu untuk membaca al-Qur'an; kedua kakinya letih karena qiyamul lail, dzikrullah di tempat sunyi hingga kedua matanya meneteskan air mata, hatinya selalu terpaut dengan masjid, selalu membasahi bibirnya dengan adzkar dan ayat-ayat al-Qur'an siang dan malam, hati, dan pikirannya dibentuk oleh al-Qur'an, adalah pemuda ideal yang harus diwujudkan oleh gerakan Islam. Jika masalah ini tidak mendapatkan perhatian yang memadai, maka akan mengakibatkan bangunan menjadi rapuh dan rontok oleh pukulan-pukulan pertama para thaghut.

Itulah manhajul bina' 'sistem pembinaan' pertama melalui surat al-Muzammil. Panasnya konfrontasi dengan para thaghut akan mencair di hadapan kehangatan ibadah dan tabattul kepada Alloh, serta keyakinan akan pertolongan Alloh dan pembalasan-Nya kepada orang-orang kafir.

Penyair Iqbal menuturkan pengalamannya dalam bait-bait syair berikut:

Aku menangis manakala malam hari menurunkan tirai kegelapannya, dan manusia lelap dalam tidurnya, sedang air mataku bercucuran dengan derasnya.
Jiwaku terbakar oleh kesedihan dan kepedihan, dan kalimat yang menghiburku dalam kegelapan malam adalah 'Ya Qayyum'.
Aku bagaikan lilin, aku bermandikan air mata, di kegelapan malam aku nyalakan pelitaku.
Leramaian orang-orang adalah berkat cahayaku yang meneranginya, aku pancarkan cahayaku (buat mereka), sedang diriku sendiri terbakar.
--Diwanul Asrar war Rumuuz, hlm. 79

Sesungguhnya peran da'wah Islam di masa sekarang, tidak akan meraih keberhasilannya sebelum para da'inya menyalakan pelita mereka di malam hari. Cahaya da'wahnya tidak akan mampu mengusir kegelapan jahiliyah abad dua puluh satu selama pengembannya tidak menjadikan 'Yaa Qayyuum' sebagai wirid mereka

Kami katakan hal ini bukan untuk pertama kalinya, melainkan sebagai petikan dari wasiat (pesan) Imam al-Banna ketika berbicara di hadapan pada da'i. Beliau mengatakan:
"Detik-detik malam hari itu sangat berharga, maka janganlah kamu menyia-nyiakan dengan kelalaian."

Sesungguhnya pembelaan terhadap da'wah bukan dengan cara menebarkan banyak kalimat yang melembutkan hati, akan tetapi dengan mengumandangkan seruan nasihat untuk kembali kepada tradisi ulama terdahulu (salaf). Manakala hati telah menjadi bersih berkat taubat, dan himbauan ini telah terdengar oleh orang yang menaatinya, maka akan terpecahkanlah kesulitan masa sekarang akibat kelalaian yang berkepanjangan.

Wallahu a'lam.

Maraji':
Muhammad Ahmad ar-Rasyid, Pelembut Hati (Ar-Raqa'iq), Robbani Press, 2003
Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban, Manhaj Haraki, Strategi Pergerakan dan Perjuangan Politik dalam Sirah Nabi saw, Robbani Press, Agustus 2003

--menyambut Munas PKS 27-31 Juli 2005 di Jakarta
PROFIL KADER PKS 2009:
(1) Kokoh dan Mandiri
(2) Dinamis, kreatif, dan inovatif
(3) Spesialis yang berwawasan global
(4) Murobbi produktif
(5) Mahir beramal jama'i
(6) Pelopor pengubahan
(7) Kepemimpinan masyarakat

Kamis, 30 Juni 2005

Menangis Saja Tak Bisa, Apalagi Tertawa

Begitulah kira-kira judul sebuah artikel berita di harian Pos Kota Selasa 28 Juni ini. Seorang wanita muda berusia 23 tahun menunjukkannya padaku, saat praktik sore di LKC kemarin. Isinya menceritakan satu kasus busung lapar yang ditemukan di Bekasi. Tidak hanya itu penyakit yang diderita bocah perempuan berusia dua tahun dua bulan dalam berita ini, anak yang berat badannya hanya 4,5 kilogram ini juga menderita hidrosefalus sejak lahir. Inilah kisah nyata yang dialami perempuan yang menyodorkan potongan koran itu padaku. Dan si bocah terbaring di tempat periksa di hadapanku.

"Waktu itu pintu rumah diketok-ketok. Ada wartawan Pos Kota yang datang. Saya hanya memakai daster saja. Saat mereka mau memotret, saya bilang mau ganti baju dulu. Mereka bilang tidak usah, Bu. Nanti yang masuk cuma gambar anaknya saja. Eh, ternyata foto saya juga masuk. Mereka bohong, " komentar si ibu yang memakai kerudung itu menunjukkan fotonya di koran. Aku hanya tersenyum geli melihat kepolosannya.
"Setelah itu ada banyak wartawan yang datang ke rumah. Kemarin sebelum saya ke sini, diwawancara dulu oleh TransTV, untuk acara 'Jeritan Hati'."
"Untuk yang akan diputar kapan, Bu?" tanyaku.
"Nggak tahu, tapi sepertinya cepat, tidak lama."
"Mereka kasih uang ke Ibu, nggak?" tanyaku lagi.
"Enggak."
"Tahu nggak, Bu," timpalku, "Mereka justru dapat duit dari Ibu lho. Ya, mereka kan jual berita yang memuat Ibu, dan dapat duit dari situ. Tapi mereka nggak kasih duit ke Ibu."

Sekilas kubaca berita yang dimuat di Pos Kota itu memang berkesan 'tidak cerdas'. Ya... khas Pos Kota dan koran-koran semacamnya lah. Dari paragraf pembukanya saja sudah merendahkan. Kurang lebih bunyinya 'malang benar nasib keluarga ini', dan seterusnya (aku tidak bisa mencari link berita ini di website-nya Pos Kota). Mengenai keadaan si balita yang 'tidak bisa menangis, apalagi tertawa' ini, bukan akibat busung laparnya, melainkan hidrosefalus-nya. Dan sebagian penderita hidrosefalus yang tidak disertai gizi buruk pun mengalami keadaan ini, akibat kerusakan di saraf otaknya. Makanya berita di koran ini yang intinya pada kasus gizi buruk jadi berkesan agak menyesatkan. Belum lagi nama si balita dan ayahnya yang salah ditulis.

"Dulu waktu dia dioperasi hidrosefalus di RSUD Bekasi, juga didatangi oleh RCTI. Tapi juga tidak diberikan bantuan," cerita si Ibu lagi.
Mungkin waktu itu memang hanya liputan saja, karena beberapa pasien kami di LKC yang menjalani operasi juga didanai oleh program-program macam Indosiar Peduli Kasih dan Jalinan Kasih RCTI.
"Yang mengoperasi dulu siapa, Bu?" tanyaku lebih lanjut. Si balita memang telah dua kali menjalani operasi untuk hidrosefalusnya, dan satu kali pembukaan selang di kepalanya. Berat badan lahirnya cukup baik, meskipun lahir prematur melalui operasi cesaria, karena janinnya kembar. Sang kembaran meninggal dalam kandungan. Dan sampai umur satu tahunan berat badannya masih normal, kemudian mengalami penurunan drastis. Nampaknya hidrosefalusnya lah salah satu pencetus gizi buruknya.
"Dokternya baik sekali, " komentar si Ibu akan dokter bedah saraf yang pernah mengoperasi anaknya, "waktu saya nangis karena bosan berada di rumah sakit terus-terusan. Terus dia nanya, Ibu kenapa menangis? Dia juga menanyakan Ibu butuh apa. Saya jadi curhat sama dia. Dokternya juga cerita, kalau dia mu'allaf, ikut istrinya yang hajjah."
"Ibu lulusan apa?"
"SMA. Suami saya lulusan SD. Dia cuma bisanya (jadi buruh) bangunan aja. Saya sendiri sudah kenyang di berbagai tempat. Di pabrik, jadi pelayan di Pizza Hut. Pernah juga ditawari kerja di RSUD Bekasi karena saya lama menunggu anak dirawat di sini. Bagian laundry-nya. Tapi saya tolak."
"Terus kenapa berhenti? Kan gajinya lumayan," tanyaku.
"Ya ngurus anak," jawabnya singkat.

"Dulu ketemu suami di mana, Bu?" sambungku mencari bahan pembicaraan, sambil menunggu si anak dinaikkan ke ruang rawat inap kami di lantai dua.
"Wah, dulu kami di kampung. Aneh deh. Nikahnya nggak pakai pacaran dulu."
"Lho, kok aneh?" timpalku, "teman-teman saya di LKC juga kebanyakan nikah tanpa pacaran," lanjutku ngalor-ngidul.
"Ih, dokter, jadi buat saya curhat aja."
Hehehe, tampaknya aku pandai membuat wanita mencurahkan isi hatinya

Inilah kasus gizi buruk kedua dari pinggiran Jakarta yang kami rawat. Yang pertama dari daerah Ciputat, sudah lebih dari dua pekan dirawat. Kasus dalam ceritaku ini berasal dari Bekasi. Menambah deretan kisah busung lapar di kawasan Jabotabek.

Banyak media massa yang memberitakan lambannya pemerintah menangani masalah ini. Makanya banyak lembaga swadaya masyarakat semacam Dompet Dhuafa yang berinisiatif menangani busung lapar. ACT dan LKC sebagai jejaring Dompet Dhuafa bekerja sama memberikan penanganan langsung terhadap penderita gizi buruk yang ditemui. Sebenarnya pasien yang kami tangani ini mendapat jaminan Gakin dari RSUD Bekasi, sehingga bisa berobat untuk penyakitnya. Anak ini pun bisa dioperasi dua kali di RS ini atas jaminan Gakin. Tapi kami tetap merasa perlu untuk begerak membantunya.

Sebuah tulisan di Kompas bertajuk 'Busung Lapar Bukan Kecelakaan'. Isinya menceritakan anggaran kesehatan pemerintah yang tidak mencukupi itu pun, masih ditambah dengan pelaksanaan program promotif dan preventif yang tidak seharusnya. Kejadian gizi buruk ini adalah dampak jangka panjang daripadanya. Dalam tulisan lain pun, audit biaya pada jaminan kesehatan masyarakat miskin juga menjadi masalah.

Gizi buruk bukanlah penyakit infeksi. Melainkan suatu keadaan yang sebenarnya sudah lama ada, namun tersembunyi dari liputan media massa. Akibat rendahnya pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat kita akan gizi yang harus diberikan pada anak-anaknya, meskipun secara ekonomi berkemampuan, akibat kemiskinan rakyat yang tidak mampu, tidak mau, dan tidak mau tahu untuk membeli makanan tinggi protein, dan akibat pemerintah yang tidak pernah menjadikan sektor kesehatan dan pendidikan sebagai prioritas. Lihat saja berapa besar anggaran kesehatan dan pendidikan dalam APBN. Aku masih ingat kasus gizi buruk yang merebak pasca krisis ekonomi tahun 1997. Media massa mem-blow up-nya. Kemudian pemberitaan kasus ini hilang. Padahal sampai tahun 2002 saat aku masih menjalani pendidikan kedokteran di UI, masih bisa kujumpai kasus gizi buruk di bangsal rawat Anak RSCM.

Behkan satu jam sebelum pasien ini tiba di LKC, ada bayi kecil lainnya berusia enam bulan dengan gizi buruk juga, yang datang dengan keadaan gawat darurat: kejang yang kemudian dicurigai sebagai ensefalitis setelah kami rujuk ke RS Fatmawati, dan harus masuk High Care Unit (HCU) yang biayanya Rp. 80 ribu semalam. Padahal sebelumnya ia pernah berobat ke RS, namun karena dalam sehari sudah keluar Rp. 300 ribu, bayi dari ayah yang bekerja sebagai pengamen jalanan ini minta pulang saja. Keadaan si anak semakin buruk, dan dibawalah ke LKC.

Jika melintas di jalanan Sudirman-Thamrin, dari kaca jendela Patas AC 76 sulit kutemukan mobil yang tidak mewah. Tentunya dalam sehari bisa puluhan ribu mobil yang melintas. Artinya puluhan ribu orang Jakarta berpenghasilan dan berpendidikan menengah ke atas. Namun di luar itu, berkali-kali lipat lagi hanya mampu makan sekali dua kali sehari, tidak mampu berobat ke RS, dan meregang nyawanya akibat mati sakit.

Arifianto,
Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC)
Jl. Ir. H. Juanda no.34,
Ciputat Megamal D-01
Ciputat 15412
(021) 7416262

Minggu, 26 Juni 2005

Coba-coba pakai 'Mandarin Design'

Ini asli langsung copy-paste aja dari Mandarin Design.


Full instructions
for making the first letter big are in the Drop Cap copy and paste style tutorial. For this one we forced the first big letter to span more than five lines. The font-size is adjusted to exactly 100 pixels while the line height is 80 pixels.



Trus ini juga...







Lumayan... Hmmm...


This text scrolls up.


Apalagi niy?


This text is a simple scrolling
marquee that only works in Internet Explorer and Mozilla.
It's simple HTML, no script needed.


Waduh, aneh jadinya??!


MandarinDesign
BLOG



"For People Who Make Mistakes" ...


Udah ah, tidur dulu aja..

Selasa, 10 Mei 2005

The Fabric of The Cosmos: Space, Time, and The Texture of Reality

Awalnya membaca resensi buku ini di TIME edisi Maret kalau tidak salah. Edisi tersebut meresensi beberapa buku bestseller tahun 2004, yang awalnya hanya terbit edisi hardcover-nya saja, namun kini sudah ada paperback edition-nya. Tentunya lebih murah. Ada lima buku yang diresensi seingatku. Selain buku ini, sisanya novel fiksi. Kebetulan Tante ada kunjungan beberapa hari ke Amrik awal April kemarin, sekalian saja minta dibelikan. Sepertinya ia membelinya di Barnes and Noble dilihat dari plastik pembungkusnya yang diantar langsung oleh Om ke rumahku.

Buku ini secara umum berisi tentang fisika, suatu hal yang menarik minatku sejak SMP (dulu pernah bercita-cita masuk MIT, tapi tidak kesampaian :(). Kalau melihat dari koleksi buku-buku fisika populerku, mulai dari tiga buku tulisan Stephen Hawking (salah satunya tentunya “Riwayat Sang Kala”—terjemahan “A Brief History of Time” yang pernah menjadi international bestseller), seri terjemahan ‘for beginners’ yang memuat tema biografi Newton, Hawking, Teori Kuantum, sampai Chaos Theory (salah satu ide dalam Jurassic Park-nya Michael Crichton), dan beberapa buku astronomi-kosmologi Carl Sagan, orang tentunya mengira aku adalah penggemar fisika. Ya, sekedar suka dan punya minat saja, tapi tidak jago (dulu waktu kelas 3 SMU pengen banget ikut seleksi TOFI, tapi ga kepilih :(). Hanya seorang pemuda yang masih suka terbawa dengan khayalan masa kecilnya (penggemar serial TV Star Trek—dan punya buku terjemahan Fisika Star Trek-nya Lawrence M. Krauss, suka juga dengan Trilogi Star Wars serta film-film fiksi ilmiahnya Steven Spielberg macam “Close Encounters of The Third Kind” dan “E.T” serta “A.I”).

The Fabric of The Cosmos yang juga national bestseller ini (belum international bestseller macam “Da Vinci Code” lho) mungkin bisa disetarakan dengan ‘A Brief History of Time’-nya versi awal Milenium, dan Brian Greene juga bisa disejajarkan dengan Stephen Hawking. Dengan bahasa yang mudah dipahami oleh awam dan analoginya menggunakan tokoh-tokoh dalam serial TV populer (The Simpsons, The X-Files), buku ini memang benar-benar ditujukan untuk kalangan masyarakat umum, yang bahkan buta fisika sama sekali sebelumnya. Sampai saat ini aku belum selesai membaca buku setebal 569 halaman (termasuk indeks) ini. Tapi dari 100-an halaman yang sudah kubaca, isinya menjelaskan perkembangan ilmu fisika mulai dari jaman fisika klasiknya Newton, dilanjutkan oleh Einstein, Mekanika Kuantum, sampai akhirnya Superstring Theory. Greene yang juga seorang pakar teori adidawai (superstring) ini benar-benar mampu memaparkan ilustrasi yang sangat logis, sehingga pembaca dapat memahami (dalam bahasa Inggris tentunya :)). Fenomena satu keadaan pun dijabarkan mengikuti perkembangan teori fisika. Misalnya bagaimana perbedaan pandangan Newton dan Einstein terhadap sebuah ember yang terikat dalam seutas tali, dan dibiarkan berputar dalam ruang kosong. Newton menanggap ruang dan waktu adalah keadaan terpisah yang statis, dan Einstein memandangnya satu kesatuan space-time. Sampai akhirnya penulis menyimpulkan teori mana yang berlaku saat ini, dengan bukti-bukti ilmiah dan pemahaman logika sederhana yang ada.

Melihat dari beberapa babnya, ada beberapa judul yang cukup menarik para penggemar fiksi ilmiah. Semisal “Teleporters and Time Machines—Traveling Through Space and Time” (jadi ingat novel Timeline-nya Michael Crichton, yang mesin waktunya bisa men-scan manusia jadi semacam gambaran *.jpeg, dan mengirimnya melintasi waktu), dan menantang logika macam “Is Space a Human Abstraction or a Physical Entity”.

Overall, buku ini sangat menarik dan mencerdaskan. Aku masih berharap ada penerbit yang mau menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia (atau sudah ada yang sedang dalam proses ini?). Dari harganya pun lumayan murah, $ US 15.95 dengan stiker 20% off di sampulnya. Setidaknya aku menganggap buku ini birthday present dua hari lagi :).

Penutup, aku kutipkan sedikit pertanyaan menarik dari Brian Greene, yang profilnya bisa dicari di Google: “What is reality? We humans only have access to the internal experiences of perception and thought, so how can we be sure they truly reflect an external world?” Well, bagiku, sebagian jawabannya ada dalam otak kita. The mysterious brain. Lihat saja dalam VCD BBC Series’ “Brain Story”-nya Prof. Susan Greenfield (ini harus diresensi secara terpisah tampaknya :)). Ilmu manusia memang hanya seujung celupan jari ke dalam lautan ilmu Alloh yang tidak terhingga.

Image hosted by Photobucket.com

http://drarifianto.multiply.com

Sakaratul Maut

Pernahkah Anda mendampingi seseorang yang sedang menghadapi ajalnya?

Saya pernah, dan cukup sering, mendampingi mereka yang menghadapi saat-saat terakhir hidupnya, karena sakit yang dialami.

Pertama kali saya menghadapi kematian seperti ini saat masih kuliah dulu. Ketika dinas di bangsal atau Instalasi Gawat Darurat RS, pemandangan ini mulai menjadi sesuatu yang harus dibiasakan. Bahkan akhirnya menjadi sangat biasa. Dan seringkali—khawatirnya—membuat kita sebagai seorang muslim menjadi terlupa kan satu aspek paling penting: mengingat kematian. Dzikrul Maut. Penghancur segala kesenangan dunia.



Inilah yang paling dikhawatirkan. Ketika melihat orang sekarat dan meninggal menjadi suatu hal yang biasa, dzikrul maut bisa menjadi terlupakan. Padahal sepatutnya orang-orang yang dekat dengan kematian inilah yang paling mudah diingatkan akan kematian, yang kelak akan menjemputnya.

Mungkin ibaratnya sama dengan para penggali kubur. Dalam sehari bisa jadi mereka berulang kali memasukkan jasad kaku tak bernyawa, menjadikannya sebagai rutinitas belaka. Atau bagi mereka di kamar jenazah dan bagian Kedokteran Forensik.



Ketika kami melewati stase Forensik saat ko ass, tugas yang minimal dikerjakan saat jaga malam adalah menerima mayat yang masuk ke Ruang Jenazah RSCM, dan mencatat semua luka-lukanya. Tak jarang di antara kami mengerjakannya dengan perasaan dingin, tanpa perasaan sama sekali bahkan, menghadapi tubuh kaku yang masih segar. Meneliti setiap inci tubuh telanjang itu, membolak-balikkannya, dan sesekali menggoreskan pena di atas clipboard sambil mengeluh dalam hati

“Huh, mengganggu tidurku saja”.

Sama sekali tak terlintas dalam pikiran, mereka dahulunya adalah manusia sama seperti kita, dan kelak kita pun akan menjadi sama seperti mereka.

Karena saking biasanya kah?

Astaghfirullah.



Pernah pula saat aku masih mahasiswa tk. V di RSU Tangerang, saat itu Sabtu siang, seharusnya aku sudah bisa menikmati istirahat di kamar ko ass Rumah Mahasiswa FKUI. Tapi keadaan yang aku hadapi saat itu berkata sebaliknya.

Pasien wanita tua yang tidak sadar selama berhari-hari sejak aku menginjakkan kakiku di bangsal perawatan Penyakit Dalam, mengalami henti napas. Ia meninggal. Sesuai standar penanganan, aku harus melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) terhadapnya. Melakukan kompresi dada, sambil sesekali memberikan napas buatan lewat oxygen mask. Sungguh melelahkan, melakukan hal itu hingga belasan menit, belum bisa dihentikan, karena EKG masih menunjukkan aktivitas listrik jantung.

Tanpa kusadari aku ngedumel dalam hati. Astaghfirullah, aku lupa akan dzikrul maut. Karena aku mulai terbiasa?



Sekitar dua minggu lalu, selama dua malam berturut-turut, aku mendapat giliran jaga malam di LKC. Dan lumayan, tiga kematian dalam dua hari.

Setelah cukup lama tidak menemui kematian, kini aku menghadapinya lagi.



Beberapa hari sebelumnya, seorang perempuan muda yang mengalami komplikasi di paru-parunya—salah satu bagian paru-parunya sudah tidak berfungsi lagi—akibat TB paru, mengalami gagal napas. Kami membuat analisa, tampaknya inilah masa-masa terakhir hidupnya. Tidak ada yang bisa kami lakukan lagi.

Jika Anda pernah menyaksikan orang yang mengalami sakaratul maut dalam keadaan sesak napas, tampaknya sangat berat sekali. Seluruh otot napas tambahannya bekerja. Napasnya memburu, tidak habis-habisnya berusaha mengkompensasi kebutuhan oksigen. Berat sekali.

“Aduuuhh, mendingan mati saja daripada merasakan seperti ini… Capeek..,” erangnya. Astaghfirullah. Aku berdoa kepada Alloh agar menjauhkan dari sekarat seperti ini.



Lainnya adalah seorang pria tua yang kesadarannya menurun, dengan muntah dan BAB darah. Hemoglobinnya rendah. Ia meninggal saat sedang menjalani transfusi kantong darah pertamanya.



Pada malam terakhir, kembali waktu istirahatku diusik oleh kedatangan pria usia 30-an dengan kesadaran menurun dan sesak napas. Wajah dan tubuhnya tampak sianosis, membiru, menunjukkan kadar oksigen yang jauh berkurang. Tekanan darahnya sangat rendah. Ia mengalami syok. Segera kami melakukan tindakan pemberian cairan via infus, sambil memastikan diagnosis pada riwayat kelainan katup jantung.

Istrinya yang tampak tidak begitu panik aku berikan penjelasan.

Inilah masalah yang sering dihadapi dokter. Akibat komunikasi yang kurang baik, atau informed consent, seringkali keluarga pasien menyalahkan jika orang yang mereka cintai meninggal akhirnya. Apalagi terhadap pasien-pasien LKC yang seluruhnya adalah dhu’afa dan mengenyam pendidikan sangat rendah. Harus diberikan penjelasan sampai benar-benar mengerti. Suaminya saat ini sangat kritis.



“Ibu, tolong dibimbing suaminya. Asyhadu allaa ilaaha illallah, laa ilaa ha illallah.”

Perempuan tidak berkerudung yang membawa anak-anaknya yang masih kecil ini tampak ragu membacakan kalimat-kalimat ini di samping telinga suaminya. Suaranya sangat lirih, menyerupai bisikan.

Bagaimana sih ini Ibu, suaminya sedang sekarat kok ragu-ragu untuk dibimbing, gerutuku dalam hati. Aku benar-benar ingin bisa memanfaatkan momen ini sebagai dzikrul maut bagiku, dan membimbing orang lain sesuai Sunnah Rasul dalam menghadapi orang yang sekarat.



Beberapa upaya telah dilakukan. Konsul ke seniorku yang di Penyakit Dalam. Mengguyur dengan NaCl 0,9%, memasukkan dobutamin, oksigen senantiasa terpasang… Ia masih tampak sesak. Ya Alloh, berat sekali orang yang sekarat dalam keadaan sesak napas.

Kateter urin harus dipasang, agar imbang cairan bisa diukur.

Tidak berapa lama kemudian, pasien yang telah bertahun-tahun menderita kelainan jantung ini tiba-tiba memaksakan diri untuk bangkit. Ajaib, keadaan yang sewajarnya tidak terjadi. Ia malah kemudian terus mengoceh dan minta selang kencingnya dilepaskan sambil terus memprotes.

“Ya Alloh, ampun Dok, tolong dilepas, pegal sekali rasanya,” keluh laki-laki ini sambil berdiri.



Sampai kira-kira lebih dari sejam ia terus mengeluhkan masalah ini. Aneh juga, tadi dikira sudah hampir ‘pergi’, eh, kini malah ;menyusahkan’ saja. Astaghfirullah, kembali aku beristighfar. Luruskan niatmu menolong orang. Sudah konsekuensinya jaga malam tidak tidur karena pasien. Memang ini sudah tugasmu.



Detik terus berjalan. Sampai akhirnya ia tiba-tiba tidak sanggup lagi berdiri. Laki-laki ini berusaha keras agar matanya tidak terpejam, dan memaksakan untuk duduk. Tetapi kondisinya memang sudah lemah.



Tiba-tiba napasnya berhenti. O oh, saatnya RJP. Oke, kita mulai bagging dan kompresi dada. Tanpa aku ingat, si perawat membawakan set intubasi. A ha, mari amalkan ilmu ACLS-mu. Kucoba berulang kali memasukkan endotracheal tube ke dalam trakea pasien, mencoba mencari epiglotisnya. Jelas terlihat, tetapi ternyata mandrain-nya tidak ada! Lagi-lagi masuk esofagus, dan selalu regurgitasi tiap kali kompresi dada. Aduh, aspirasi nih. Suction…



Usaha kami tidak mengembalikan pasien. Alloh telah memanggilnya. Meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil, para pengamen cilik jalanan.



Ya Alloh, dengan keadaan seperti apa kelak aku menghadapi sakaratul mautku nanti?



Jadi ingat dengan do’a yang dibaca tiap habis sholat, …“Allohumma hawwin ‘alaina fii sakaarootil mauut, wannajaati minannaar, wal ‘afwi ‘indal hisab”…

Dan do’a Rabithah …”wa amithaa ‘alasysyahaadati fii sabiilik”… Ya Alloh, matikan kami dalam syahid di jalan-Mu.



Kalau tidak salah, pernah membaca hadits yang menceritakan bahwa saat seseorang menghadapi sakaratul maut-nya, maka syaitan akan berusaha mengajaknya kembali kepada kekafiran. Sehingga orang yang sholeh selama hidupnya pun akan bisa terbongkar pertahanan keimanannya.



Dari potongan hadits keempat dalam hadits ‘Arbain:

“Demi Alloh, Dzat yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya setiap kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya sehasta (dari siku sampai ke ujung jari). Lalu suratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka.

Ada juga di antara kalian yang beramal dengan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dia dan neraka hanya sehasta. Lalu suratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli surga, maka ia pun masuk surga (Riwayat Bukhari-Muslim)



Semoga Alloh swt. memberikan husnul khotimah untuk kita semua. Amin.

http://drarifianto.multiply.com

Kamis, 14 April 2005

Catatan Perjalanan Nias: 30 Maret -7 April 2005

Kembali terjadi bencana alam di negeri ini. Senin malam 28 Maret lalu, gempa tektonik berkekuatan 8,4-8,6 SR mengguncang Kepulauan Nias di Sumatra Utara dan Pulau Simeuleu di NAD. Aku mengetahui berita ini Selasa paginya di televisi selepas jogging, sesuatu yang amat jarang kulakukan. Segera browsing di situs earthquake.usgs.gov setelah membaca detik dot com, dan memang getaran ini terdeteksi hingga di Amrik sono. Dalam hati sempat terlintas, sepertinya sebentar lagi akan ada yang meminta aku segera pergi ke lokasi bencana. Ya, tiga bulan sebelumnya aku sempat diminta pergi ke NAD tiga hari setelah tsunami. Dan… aku melewati lebih kurang 10 hari melintasi Lhokseumawe-Banda Aceh sebagai tim kesehatan sebuah LSM. Kini, tiga bulan berselang, bencana kembali terjadi, firasat aku akan segera menuju lokasi bencana menguat.

Benar juga. Sekitar pukul 10.00 aku menerima SMS dari LKC, tempat aku bekerja sebagai dokter praktik, menanyakan apakah aku bersedia pergi sebagai relawan medis ke lokasi bencana di Nias. Koordinator Layanan Luar Gedung lembaga ini juga menanyakan apakah aku bisa mencari seorang kawan dokter lagi yang bisa diajak ikut serta.

Keesokan harinya, pergilah aku dan dr. Anjas Asmara, sejawat sejak melewati masa-masa studi di FKUI selama 6 tahun ke Medan, Sumatra Utara, untuk kemudian menuju Pulau Nias. Setelah malamnya aku masih sempat dinas di LKC. Inginnya bisa istirahat agar paginya memiliki cukup energi untuk melakukan perjalanan. Tapi seorang pasien dengan muntah darah cukup menghabiskan waktu, sehingga tidak sempat beristirahat banyak.

Rabu pagi 30 Maret, aku, Anjas, dan Adi seorang perawat LKC, menuju bandara Soekarno-Hatta, untuk lepas landas ke Medan. Sebelumnya, minum klorokuin dua tablet dulu, karena Nias endemi malaria. Sesampainya di Bandara Polonia pukul 09.00, menunggu sebentar jemputan dari kawan-kawan ACT—Aksi Cepat Tanggap—DD Republika, yang mengirim kami bertiga ke tempat ini. Sebenarnya LKC hanyalah lembaga yang menyalurkan tenaga kesehatan saja, sedangkan ACT-lah yang memiliki core competence untuk disaster management. Jadi kami bergerak selaku ACT-Medis. Sebuah mobil kijang ACT dengan plat B menjemput kami hampir sejam sesudahnya. Ikun dan Pak Hendra, dua orang anggota ACT yang sudah berangkat dari Jakarta sehari sebelumnya, menjemput kami. Kami bertiga sudah bertemu saat penanganan bencana di Aceh sejak berangkat dari Jakarta. Pengemudi mobil ini adalah sopir handal dari Medan, Bapak Yono, yang setia menemani kami sejak dari Aceh. Dua orang penumpang lainnya adalah relawan ACT Medan yang bertugas di Sigli dalam program WAKALA (Wanita Kepala Keluarga), ialah Lita, seorang akhwat lulusan Sastra Arab USU. Dia ditemani adiknya Yeni yang masih kuliah di Akuntansi Univ. Muhammadiyah Medan. Dua orang akhwat Padang ini kebetulan lahir dan besar di Nias. Kedua orangtua mereka pun berada di sini. Sejak kejadian bencana dua malam sebelumnya, mereka belum berhasil mengontak sang ayah-ibu. Tapi mereka optimis kedua orangtuanya di Kota Gunung Sitoli selamat dari bencana. Tujuan kami membawa mereka juga untuk mengatasi kendala bahasa dan lokasi nantinya.

Image hosted by Photobucket.com

Pukul 10.00 segera kami melaju ke arah Sibolga dengan kecepatan tinggi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan laut menuju Pulau Nias. Aku benar-benar menikmati perjalanan darat ini. Inilah untuk pertama kalinya aku melintasi daratan Sumatra Utara. Mulai dari ibukota Medan, terus ke arah Selatan, melewati Danau Toba yang subhanalloh indahnya, lika-liku Tarutung menuju Sibolga yang medannya lumayan berat. Kami harus melewati jalan sempit dengan tikungan terjal diapit jurang dan pegunungan selama hampir dua jam. Sampai salah seorang dari anggota rombongan harus mengeluarkan isi lambungnya (not me, of course). Di daerah Tapanuli dan Batak Karo kami melihat banyak kuburan-kuburan Kristen yang besar-besar di kiri-kanan jalan, gereja-gereja yang dapat ditemui pada hampir setiap kilometernya, dan melewati satu upacara tradisional kematian penduduk Batak Kristen di salah satu tepi jalan, yang tentunya tidak dapat kita temui di kota seperti Jakarta. Sangat menarik. Sampai akhirnya kami tiba agak terlambat dari waktu yang direncanakan sebelumnya, sekitar pukul 19.30 di Sibolga. Kami berencana mengejar keberangkatan kapal laut jam 20.00 dari Pelabuhan Sibolga menuju Pulau Nias, dengan membawa satu mobil kijang yang kami harapkan bisa diangkut dengan kapal feri. Namun ternyata Alloh berkehendak lain. Tidak ada kapal feri yang berlabuh malam itu. Karena situasi bencana yang cukup dahsyat, transportasi laut ke Pulau Nias juga mengalami masalah. Setelah sedikit berembuk, kami putuskan untuk menaiki kapal penumpang saja, yang tidak bisa mengangkut mobil. Terpaksa Pak Yono dan mobilnya harus ditinggal di Sibolga dan kembali ke kantor ACT Medan. Kami mendapatkan tiket keberangkatan kapal kayu—istilah kapal penumpang yang menuju Nias, dan memang benar-benar terbuat dari kayu—yang dijadwalkan berangkat pukul 01.00 dini hari. Tapi katanya kapal akan berangkat jam 23.00, sehingga waktu menunggunya semakin singkat. Adanya sisa waktu ini kami manfaatkan untuk bebelanja kebutuhan pribadi, karena berdasarkan informasi yang kami dapatkan, sulit sekali mendapatkan beras dan bahan bakar di Nias.

Kapal laut ternyata mengalami keterlambatan keberangkatan. Aku sempat khawatir kapal ini tidak jadi berangkat, karena hingga pukul 01.00 masih belum berlayar juga. Sampai-sampai satu rombongan penumpang beretnis Cina meninggalkan kapal ini untuk mencari kapal lain yang katanya pergi lebih dulu. Informasi apakah kapal ini akan berangkat atau tidak benar-benar tidak jelas. Rombongan kami sendiri awalnya tidak mendapatkan ‘kursi’ di kapal ini, meskipun telah membayar karcis normal. Jadi penumpang yang menaiki kapal ini tampaknya memang sedikit melebihi muatan. Dengan adanya sekelompok orang yang pindah dari kapal ini, tanpa pikir panjang kami segera menempati jatah mereka untuk bisa berbaring.

Tiba-tiba sekitar pukul 03.00 kapal kayu ini berangkat. Inilah pengalaman pertamaku naik kapal kayu. Kendaraan ini adalah kapal yang sepenuhnya terbuat dari kayu, tapi cukup besar. Memuat penumpang sekitar 200-an orang. Ruangan terdiri atas ruang atas dan bawah, berupa bilik-bilik tidur berukuran kira-kira satu meter kali 175 cm yang dibatasi dengan nomor di kiri-kanan sisi kapal. Jadi untuk duduk tegak saja sulit di bilik-bilik ini, yang memang khusus dirancang untuk tidur saja, dengan risiko menyenggol penumpang lainnya di sebelah kita. Normalnya kapal memang berlayar malam hari, dan sampai di Pelabuhan Gunung Sitoli, Nias keesokan paginya. Jadi apalagi yang bisa dilewati si kapal penumpang seperti ini selain tidur saja? Di tengah lautan Samudera Hindia ini, goncangan ombak juga sangat terasa. Jadi posisi berbaring jauh lebih nyaman dibandingkan duduk, apalagi berdiri. Khususnya sangat terasa bagi mereka yang mabuk laut. Yah, sesekali terdengar suara orang muntah di satu sisi kapal. Benar-benar perjalanan pertama yang mengesankan.

Bersama kami di kapal ini ada serombongan Polisi BRIMOB berpangkat paling rendah, sekitar 20 orang. Tampaknya mereka diperbantukan dalam bencana di Pulau Nias. Terkadang lantunan lagu-lagu Peterpan dan Doddy Dores terdengar keras dari speaker dan TV karaoke dalam kapal. Hiburan yang tidak begitu menyenangkan. Dan yang paling membuatku muak dan mual adalah: asap rokok yang dihembuskan di mana-mana. Baik oleh penumpang pria maupun polisi-polisi prajurit itu. Hanya bisa bersabar dan beristighfar saja. Kapal ini juga memuat banyak karung beras di dek bawah. Apakah beras-beras ini memang ditujukan sebagai bantuan untuk bencana di sini, atau memang sengaja akan ditimbun dulu, wallahu a’lam.

***

Setelah melewati perjalanan tanpa banyak hal yang bisa dibincangkan, sampailah kami di Pulau Nias pukul 12.00. Tetapi kapal tidak bisa segera merapat. Hujan pun turun cukup deras. Dari kejauhan, kami melihat pinggiran pantai pelabuhan Gunung Sitoli yang subhanalloh indahnya. Dasarnya masih tampak biru, meskipun ada sedikit sampah yang mengambang. Sama sekali tidak bisa dibandingkan pelabuhan Tanjung Priok saat aku pernah mengunjungi Kepulauan Seribu. Sampai akhirnya pukul 13.00 kami merapat, dan ditimpa derasnya hujan, kami menurunkan muatan kami yang agak banyak, baik bekal pribadi maupun obat-obatan yang dibawa dari LKC Ciputat, dengan harus memasuki kapal kayu lain yang merapat di sebelahnya. Di pelabuhan cukup banyak tentara yang terlihat. Mereka berasal dari BRIMOB, ZENI, dan AL. Setelah mendapatkan ojek ‘kereta’, sebutan untuk sepeda motor di sini, untuk mengangkut kami, dan becak kayuh untuk mengangut barang-barang bawaan, kami menuju lokasi rumah Lita, sekitar pukul 13.30.

Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Gunung Sitoli, kehancuran tampak di mana-mana. Sebuah masjid dengan kubah hijau yang besar ambruk ke tanah. Pendopo di kanan jalan hanya tampak atap besanya saja. Sebuah bangunan pertokoan hampir rata dengan tanah, padahal katanya sebelumnya itu adalah bangunan delapan lantai. Masya Alloh, aku tidak bisa membayangkan jika bencana seperti ini menimpa pusat kota Jakarta. Na’uudzu billaahi min dzaalika. Melewati sebuah jembatan besar di Jl. Sudirman, kehancuran besar-besaran tampak lebih nyata. Hanya satu traktor sebagai alat berat yang bekerja mengangkat puing-puing. Upaya pencarian korban baik hidup maupun mati akan sangat sulit dan lama di tengah-tengah kehancuran seperti ini. Bangunan-banguan besar dan banyak, kekurangan alat berat, mempersulit evakuasi korban. Bau mayat masih belum begitu menyengat untuk ukuranku yang pernah terbiasa satu bulan lamanya di Bagian Forensik RSCM. Namun penduduk yang melintas sebagian mengenakan masker. Relawan-relawan dari berbagai LSM lokal maupun asing banyak terlihat. Tidak kalah banyaknya tentara yang memanggul AK-47. Mengevakuasi korban menggunakan AK-47? Oh, ternyata, kabarnya SBY datang ke Nias siang itu.

Image hosted by Photobucket.com

Kira-kira sejak kemudian sampailah kami di rumah orangtua Lita dan Yeni, setelah sebelumnya sempat singgah di kedai milik abang mereka, Bang Mendra. Ternyata kedua orangtua Lita sudah tidak berada di rumah, yang untungnya selamat dari bencana. Ayah-Ibu Lita ternyata baru saja meninggalkan pulau menuju Medan, untuk bertemu dengan kedua putrinya. Ya, tanpa kami sadari, sebenarnya kami berpapasan di pelabuhan.

Rumah yang dihuni orangtua Lita dan Yeni adalah sebuah rumah petak dengan satu ruang tamu, satu kamar tidur, dan kamar mandi sekaligus tempat mencuci. Rumah kontrakan ini berukuran kira-kira delapan kali 2,5 meter persegi, berada satu deret dengan sekitar total 10 rumah kontrakan berukuran sama lainnya. Semua rumah ini kosong ditinggalkan penghuninya yang mengungsi. Hanya rumah-rumah di seberang jalan yang masih dihuni. Lokasi perumahan ini tepat berbatasan dengan pantai, kira-kira hanya 10 meter dari laut. Jadi, kami sempat membayangkan jika tsunami menerjang, segera tersapulah kami! Tepat sekitar lima meter di hadapan perumahan ini, terdapat sebuah gedung sekolah swasta yang separuhnya sudah ambruk, dan tanah di depannya jelas tampak terbelah.

Image hosted by Photobucket.com

Sore harinya kami menjamak sholat dzuhur dan ashar. Untuk berwudhu, kami harus menggunakan kamar mandi milik tetangga yang memiliki sumur. Karena rumah yang kami tempati ini menggunakan air PAM, sedangkan instalasi air dan listrik tidak berfungsi sama sekali. Untuk mandi, kami bisa menimba air terlebih dahulu di sebuah sumur milik penduduk yang sebagian dinding ruangannya sudah roboh, namun untungnya sumur tidak tertimbun. Dalam keadaan seperti ini, penduduk desa saling membantu satu sama lain. Siapa saja boleh mengambil air dari sumur ini. Kami bisa mandi menggunakan air sumur, setelah menimba dan membawa air dengan ember, berjalan kaki sekitar 20 meter. Suara helikopter Chinook milik Singapura dan helikopter lain milik PBB tidak henti-hentinya mengusik keheningan.

Malamnya kami semua—laki-laki—beristirahat di lantai ruang tamu, dengan sedikit kekhawatiran jika terjadi gempa besar susulan. Alhamdulillah kami bisa menikmati nasi yang beras dan minyak tanahnya, serta sedikit lauk-pauk, telah kami bawa sejak dari Sibolga. Malam tanpa listrik sama sekali. Langit begitu indah dengan taburan bintangnya yang tampak jelas. Sesuatu yang tidak dapat ditemui di Jakarta. Mudah-mudahan tidak ada nyamuk malaria yang menggigit kami.

***

Jum’at, 1 April 2005

Alhamdulillah, semalam kami semua bisa beristirahat dengan baik. Walaupun sempat satu kali kami merasakan gempa ringan, mungkin sekitar 3-4 SR. Sholat subuh kami pun agak terlambat. Paginya kami kembali bisa menikmati sarapan, yang dimasak oleh kakak-beradik Lita-Yeni. Banyak kisah beredar. Lita menceritakan satu keluarga orang Padang yang seluruhnya meninggal terhimpit bangunan rumahnya. Anak yang selamat karena ia sedang kuliah di UISU. Pak Hendra yang kembali dari berjalan-jalan maghrib sebelumnya mengabarkan satu keluarga yang ditemuinya di tenda pengungsi daerah alun-alun dekat pendopo. Ia menemui seorang ibu dengan bayinya yang berumur 10 hari, dengan total enam anaknya, belum mendapatkan makanan. Padahal ini adalah pusat kota, dengan banyak LSM berkumpul. Apa saja yang telah mereka lakukan? Mungkinkah demikian sulitnya bantuan makanan sampai ke kota ini? Bagaimana dengan berton-ton beras yang kami lihat di kapal kayu? Ditimbun saja?

Bang Mendra datang dengan membawa cerita yang tidak kalah serunya. Kota ini memang sedang mengalami krisis bahan pangan. Gudang beras dijaga tentara bersenjata lengkap, karena khawatir akan dijarah warga. Warga kota tidak membutuhkan pakaian, mereka butuh makanan! Di tengah-tengah masyarakat juga telah tersiar berita, bahwa menurut BMG Jepang, bentuk Pulau Nias ini mirip jamur jika dilihat dari dasar laut. Ditopang oleh ‘tiang’. Jika terjadi satu kali lagi gempa berkekuatan besar seperti sebelumnya, dikhawatirkan ‘tiang’ ini akan patah, dan Nias terperosok ke dalam lautan, tenggelam! Kini posisi Pulau Nias sudah miring. Jadi satu ujungnya semakin tenggelam ke dalam lautan, sedangkan satu ujung lainnya mendangkal. Sehingga kapal-kapal tidak bisa mendekat ke pesisir pantai, karena akan menabrak bebatuan karang pantai yang relatif meninggi. Kabar seperti inilah yang membuat banyak warga memutuskan untuk meninggalkan Nias.

Hujan rintik-rintik terus membasahi. Kami membahas bagaimana cara ideal mendistribusikan beras di sini. Kami memutuskan untuk bergerak aktif ke kantong-kantong penduduk muslim yang bisa dijangkau melalui jalan darat dari daerah ini. Kami memang belum membawa bantuan pangan, karena masih tertahan di Sibolga, menunggu transportasi yang mampu membawa bantuan berton-ton beratnya. Setidaknya kami saat ini membawa obat-obatan, sehingga minimal kami bisa melakukan pengobatan di desa-desa yang membutuhkan. Pukul 10.00 kami berangkat dengan menggunakan mobil carteran L-300 dari penduduk setempat.

Ternyata ACT telah mendapatkan lokasi sebagai posko tetap, yakni di Jl. Patimura, tidak jauh dari kantor DPD PKS. Beberapa terpal yang kami bawa sejak perjalanan Medan-Sibolga disusun menjadi sebuah tenda. Kami berhenti sebentar di Posko untuk mendapatkan relawan lokal yang bersedia menjadi pemandu perjalanan. Sempat pula kami mengambil gambar sesosok mayat yang tertindih separuh tubuhnya di pinggir jalan tidak jauh dari posko. Diiring rintik hujan, kami menuju ke lokasi pertama, di Desa Foa, sekitar 10 km dari Gn. Sitoli. Membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mencapai tempat ini. Di tengah-tengah perjalanan, kami melewati sebuah lokasi wisata indah, yakni Pantai Lao Maru. Tepat di salah satu sudut pesisir pantai, di tebing yang cukup curam, sebagian jalan menjadi sangat sempit, karena sebagiannya runtuh akibat gempa. Lintasan ini hanya bisa dilewati satu mobil saja. Cukup riskan. Bila tidak hati-hati, akan jatuh ke kedalaman yang cukup tinggi. Pemandangan di daerah ini luar biasa indahnya. Namun kini keadaannya sangat sepi. Entah dengan sebelum gempa.

Sepanjang perjalanan menuju Foa ini, terlihat jelas kerusakan banguan yang merata. Tempat-tempat ibadah, baik masjid maupun gereja, tidak luput dari kehancuran. Sekitar pukul 11, kami tiba di lokasi pertama, yakni Desa Tete Hesi, Kecamatan Gido. Lokasi ini bisa dikatakan terbagi dua, yakni penduduk yang mayoritas Kristen, dan mayoritas Islam. Tokoh masyarakat muslim yang kami temui menekankan agar kami melakukan pengobatan di kedua daerah, agar tidak terjadi kecemburuan masyarakatnya. Maka sekitar pukul 11.15, kami melakukan pengobatan pertama di desa berpenduduk mayoritas Nasrani. Kendala utama dalam melakukan pengobatan tentunya adalah bahasa. Peran penerjemah lokal, seperti Lita dan relawan pria lokal yang kami bawa, menjadi sangat penting. Anjas melakukan satu tindakan wound toilet di sini. Sebagian besar penduduk mengeluh jantungnya selalu berdebar-debar sejak kejadian gempa. Tepat satu jam, kami segera pamitan, karena mengejar waktu sholat Jum’at. Kami bergegas menuju masjid di perkampungan pesantren Hidayatullah, Desa Siwalabanua. Untuk mencapai tempat wudhu saja, di sebuah mata air kecil, kami harus menuruni dataran curam yang cukup licin, dengan kemiringan sekitar 45 derajat, 10 meter ke bawah, untuk kemudian bergegas naik lagi. Di dalam ‘masjid’ yang sangat sederhana, sholat Jum’at sudah dimulai. Aku tidak sempat mengikuti khutbah Jum’at. Jumlah jama’ahnya sekitar 20 orang saja. Selepas Jum’atan, kami menggelar pengobatan di depan ruang kelas berukuran delapan kali enam meter persegi yang berperan sebagai masjid. Lagi-lagi Anjas cukup ‘beruntung’ mendapatkan tindakan jahit-menjahit, bahkan sampai dua pasien. Salah satunya luka robek di kepala, dengan dasar luka jaringan lunak. Anjas sudah khawatir saja, tengkorak orang ini tidak menyatu sempurna. Segera saja ia menjahitnya, dibantu Adi. Sekitar dua jam kami melakukan pengobatan di tempat ini. Masyarakatnya lebih baik dalam berbahasa Indonesia. Selepasnya, pimpinan pesantren menjamu kami dengan nasi, mie, tempe, dan air putih hangat. Aku sangat terkesan dengan para asatidz di sini, khas Hidayatullah. Mereka bisa merintis sebuah pusat Islam di daerah yang mayoritas non muslim. Pimpinannya adalah seorang pria Jawa yang sebelumnya lama tinggal di Bengkulu, dan baru dua tahun ditugaskan di pesantren ini. Pesantren ini sendiri baru dirintis dan berdiri tahun 1998. Subhanalloh, perjuangan para da’I Hidayatullah.

Image hosted by Photobucket.com

Pukul 15.30 sampai 17.30 kami meneruskan pengobatan di Desa Umene Satua. Rasanya pasien di sini tidak habis-habisnya. Sampai akhirnya kami menyadari bahwa sebagian obat esensial telah habis terpakai. Kami sempat mengunjungi satu masjid lagi, tapi tidak bisa memberikan kontribusi apa-apa, karena persediaan obat sudah tidak memadai lagi. Kami hanya bisa menjanjikan kepada penduduk setempat, bahwa kami akan kembali. Kesimpulan yang kami dapatkan di sini, sebagian besar pasien mengeluhkan sakit ‘jantung’, maksudnya mereka selalu berdebar-debar sejak kejadian gempa. Hal ini aku interpretasikan sebagai semacam stres pasca trauma. Kasus hipertensi juga cukup banyak di sini. Sepertinya hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan kaum pria yang mayoritas perokok berat, dan mengkonsumsi makanan tinggi garam. Ketika aku minta agar mereka mengurangi konsumsi garam, ternyata sulit juga, karena makanan yang tersedia sebagian besar adalah ikan asin sebagai lauk. Penyakit-penyakit tertentu yang membutuhkan terapi jangka panjang di Puskesmas pun, tidak dapat ditindaklanjuti dengan baik, karena Puskesmas yang juga ditinggalkan petugasnya. Menjelang maghrib kami kembali ke Posko di kota.

Hari ini juga kami bertemu dengan kawan-kawan Kepanduan PKS DPW Sumut dan Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI) Sumut, bersama seorang relawan dari Portal Infaq yang sempat kami temui dalam perjalanan pesawat Jakarta-Medan. Seharusnya rombongan ini telah berangkat sejak hari Rabu menggunakan helikopter. Namun Alloh bekehendak lain. Mereka justru menempuh perjalanan laut menggunakan kapal ikan yang berkapasitas kecil, mengangkut sekitar belasan orang, dan mampu membawa muatan total sampai 10 ton. Lama perjalanan mereka 12 jam, diterpa hempasan ombak yang keras terasa, dan dilewati dengan kepasrahan total kepada Alloh saja. Khususnya bagi mereka yang tidak biasa menempuh perjalanan laut, dan tidak bisa berenang! Mereka membawa satu buah gen-set. Sehingga malam itu, kantor DPD PKS Kabupaten Nias di Gunung Sitoli adalah satu dari sedikit bangunan yang bersinar terang oleh cahaya lampu.

Sampai hari ini, transportasi menuju pulau masih demikian sulitnya, sampai-sampai bantuan yang disalurkan swadaya masyarakat seperti PKS menggunakan kapal yang disewa sendiri selama satu bulan, dengan segala keterbatasannya. Pemerintah tampaknya tidak berpikir untuk memudahkan transportasi penyakuran bantuan ke Nias. Justru transportasi udara banyak datang dari asing.

Malam itu kami tidur beratapkan terpal dan beralaskan tikar di posko. Mudah-mudahan kondisi badanku senantiasa terjaga sampai akhir tugas kami di sini.

***

Sabtu, 2 April 2005

Kisah Lita
Persediaan obat menipis, bantuan sembako masih tertahan di Sibolga, entah kapan bisa mencapai Pulau ini. Kabarnya beras beberapa ton, minyak goreng, dan beberapa kebutuhan pokok lain sudah dimasukkan ke dalam truk, tinggal dibawa oleh kapal feri menuju Nias. Tapi sampai hari ini masih belum bisa berangkat juga. Sehingga praktis tidak ada kegiatan yang bisa kami lakukan hari ini. Dengan semangat juang, Lita berangkat seorang diri menuju Medan untuk menemui kedua orangtuanya yang seharusnya sudah berada di sini, sekaligus membeli obat-obatan yang sudah habis. Mantan caleg PKS yang mewakili Pulau Nias untuk daerah pemilihan Sumut ini adalah akhwat tangguh bertenaga ikhwan. Berbekal sebuah ransel 60 liter, satu tas jinjing, dan rompi ACT, anak kelima dari tujuh bersaudara ini diantar abangnya, Bang Mendra, menuju bandara. Sebagai seorang relawan, Lita berpikir selayaknya ia bisa mendapatkan transportasi gratis keluar pulau untuk mendapatkan bantuan. Namun hari itu ia tidak berhasil mendapatkan penerbangan bebas biaya. Lita harus membayar 500 ribu rupiah untuk sebuah tiket pesawat Merpati, yang ternyata diganti dengan pesawat Angkatan berkapasitas 10 orang. Tampaknya ada deal-deal bisnis antara perusahaan penerbangan Merpati dengan Angkatan Darat.

Sesampainya di Medan sekitar pukul 14.00, dengan keluwesannya bergaul, Lita mendapatkan kenalan baru di Polonia, yang menjanjikannya pesawat gratis kembali ke Medan sore itu. Tapi karena belanjaan yang cukup banyak, khususnya obat-obatan, ia baru menyelsaikan berbelanja pukul 18.00. Bawaan yang sangat banyak ini dibawanya dengan becak motor menuju rumahnya. Sempat juga Lita bertemu dengan kawan-kawan KKI Medan. Malam harinya Lita berhasil bertemu dengan kedua orangtuanya, yang ternyata baru tiba dari Sibolga. Alhamdulillah mereka selamat. Hanya saja sang Bunda kurang sehat, karena harus tidur di luar rumah bersama pengungsi lain malam-malam sebelumnya. Kisah Lita selanjutnya diteruskan esok hari.

Aku, Adi, Anjas, Ikun, dan Pak Hendra praktis tidak memiliki kegiatan berarti sejak pagi hingga siang itu. Kecuali menunggu Lita kembali dari Medan membawa obat-obatan. Kebetulan kawan-kawan BSMI pusat datang siang harinya, bersama ketua umumnya dr. Basuki S, SpBO, dan beberapa dokter lainnya dari Aceh dan Surabaya. Aku berkenalan dengan sejawat dari FK Unair yang seangkatan, dr. Fahmi. Mereka mendapatkan rumah sangat berdekatan dengan posko kami, sebagai sekretariat BSMI di Nias. Rombongan ini tiba dengan pesawat dari Medan.

Eksodus Besar-besaran
Untung bagiku, sore harinya ada sebuah peristiwa besar yang bisa aku ikuti. Eksodus besar-besaran penduduk Nias ke luar pulau! Pak Hendra yang mendapatkan informasi ini, sekaligus menunggu bantuan yang akan disalurkan Elshinta, mendahului menuju Pelabuhan G. Sitoli bersama Bapak Yorhamun dengan ‘kereta’ alias motor. Beberapa SMS ditujukan bagiku dan Ikun, meminta agar kami dapat meliput peristiwa ini. Kami berdua bergegas menumpang mobil angkutan umum menuju pelabuhan.

Image hosted by Photobucket.com

Luar biasa, pelabuhan begitu ramai sora itu. Sebuah kapal kayu dengan jenis sama seperti yang kutumpangi dalam perjalanan Sibolga-Nias, nyaris tenggelam di dermaga karena kelebihan penumpang! Ribuan orang lainnya yang tidak memiliki tiket dengan tidak sabar berusaha memasuki kapal feri besar, Jatra III dari Jakarta, yang memuat puluhan mobil dari berbagai lembaga pembawa bantuan. Termasuk dua mobil ambulans BSMI yang diangkutnya. Berbekalkan sebuah kamera digital Sony Cybershot, handycam Mini DV Sony, dan kamera otomatis berlensa tele Canon, aku dan Ikun mengambil dokumentasi sebanyak-banyaknya. Kami sempat berbincang-bincang dengan beberapa pengungsi. Mereka tidak memiliki biaya sama sekali untuk melakukan perjalanan, sehingga berusaha mencari tumpangan gratis keluar pulau. Isu akan terjadinya gempa susulan yang akan menenggelamkan Nias membulatkan tekad meninggalkan pulau ini.

Banyak sekali ibu-ibu yang membawa anaknya, ditingkahi suara tangisan tidak mengerti, mengiringi pengungsian besar-besaran itu. Setelah semua mobil dan kendaraan bermotor, termasuk alat berat, dikeluarkan dari feri, ribuan orang berlarian merangsek memasuki kapal. Dengan membawa handycam, aku ikuti rombongan ini sampai dalam dek kapal, merekam ekspresi kepanikan dalam wajah para pengungsi. Sampai-sampai jembatan kapal hampir diangkat, aku berlari keluar dari kapal, agar tidak ikut terbawa. Antrian motor di luar yang menunggu diijinkan masuk, dan penduduk yang tidak henti-hentinya berusaha memasuki kapal, terus berlangsung sampai pukul 18.00. Kami berdua akhirnya memutuskan meninggalkan pelabuhan. Semoga mereka semua selamat tiba di tempat tujuan di Sibolga.

Malamnya kami kembali beristirahat di tenda Posko. Terdengar suara anak-anak batuk dari kemah kecil dekat terpal kami. Kemah kecil berukuran sekitar 1,5 kali 1,5 meter persegi ini ditinggali Bapak Yorhamun, relawan kami dari Waspada Peduli Umat yang merelakan madrasahnya sebagai posko, bersama istri dan tiga anaknya yang balita. Semoga anak-anak kecil ini sehat-sehat saja.

***

Ahad, 3 April 2005

Kisah Lita Episode 2
Pagi harinya, Lita mencarikan kontrakan untuk kedua orangtuanya, dengan bantuan biaya dari ACT. Tidak banyak waktu yang ia habiskan bersama ayah-ibunya. Ia harus segera kembali bekerja. Jam 10.00, Pak Hendra menghubungi untuk segera kembali ke Nias. Dengan membawa barang yang sangat banyak untuk dibawa seorang diri, sebuah box besar berisi obat-obatan seberat kira-kira 20 kg, dan satu tas carrier, Lita berangkat menggunakan taksi menuju Polonia. Hanya keyakinan atas pertolongan Alloh sajalah yang menguatkan akhwat ini untuk membawa bantuan yang demikian banyak. Jam 13.00, dengan seseorang yang baru dikenalnya, Lita mengangkasa dengan pesawat CASA TNI AL. Sebelumnya barang bawaan Lita yang terlalu banyak ini sempat dipermasalahkan sebelum naik pesawat. Tetapi ia bersikeras bantuan ini untuk pengobatan. Lagi-lagi di pesawat ia mendapatkan kenalan baru yang menjanjikan akan membantu, jika ada relawan ACT yang membutuhkannya. Jam 14.30 Lita sampai di bandara Binaka, Nias. Selanjutnya ia segera kembali ke Posko.

Pagi itu juga, sambil menunggu kedatangan Lita, kami berbincang-bincang dengan seorang pria Nias di Posko. Ia menjelaskan bahwa Nias adalah pulau yang cukup besar. Panjang pulau ini sekitar 200 km, dan lebarnya antara 80 sampai 120 km. Kami banyak menyebut-nyebut lokasi yang cukup banyak dihuni umat Islam, namun masih sulit dijangkau hingga saat itu, yakni Lahewa di sebelah utara pulau, dan Teluk Dalam di selatan. Jumlah penduduk beragama Islam di pulau ini tidak sampai 10 persen, dan banyak di antara mereka yang menjadi korban. Pria ini juga menjelaskan bahwa Nias adalah daerah yang terdiri dari beragam etnis pendatang sejak dahulu kala. Bugis, Makasar, Aceh, Padang, Cina dan lainnya. Nama marga di pulau ini juga khas, seperti Zebua, Harefa, Zega. Lita pernah menjelaskan bahwa marga asli Nias tidak ada yang berakhiran konsonan, semuanya vokal. Begitu juga dengan kata-katanya. Kata serapan konsonan akan dibuat menjadi vokal, misalnya mobil menjadi mobi. Satu hal yang unik bagiku adalah cara mereka mengucapkan huruf f dan r. Seperti aksen Prancis. Mereka juga tampaknya tidak mengenal huruf p.

Pada pukul 10.13, terjadi gempa yang cukup besar dan lama, sekitar 1 menit. Getarannya sangat terasa. Untungnya tidak ada barang yang jatuh atau bangunan roboh. Kami sedang berada di Posko. Di jalanan tampak sedikit kepanikan. Orang-orang sebagian berlarian, para pengendara motor menghentikan kendaraannya.

Sekitar pukul 10.20, mobil truk tanki air dari PAM datang. Sejak kedatanganku di pulau ini, air dan listrik masih belum berfungsi. Untuk mandi pagi, aku dan kawan-kawan sengaja berjalan agak jauh ke rumah Lita, untuk mengambil air sumur. Dan.. cukup mandi sekali saja sehari. Mobil berhenti tepat di sekretariat BSMI, sekitar 15 meter dari posko kami. Anak-anak perempuan, laki-laki, semuanya mengambil ember dan alat apapun yang bisa menampung air, bolak-balik dari posko ke mobil tanki, menampung air yang dikucurkan dari selang besar. Mereka tampak kepayahan ketika membawa ember menuju rumahnya, namun ekspresi kepuasaan terlihat di wajah. Subhanalloh, inilah rasanya kondisi sulit air. Sekitar 20 menitan mobil memberikan airnya bagi penduduk sekitar yang berdatangan dari segala penjuru, kemudian pergi menuju daerah lain, agar pembagian air merata.

Sore itu kami menjama’ sholat dzuhur dan ashar di Panti Asuhan Al-Washliyah, sekitar 500 meter dari posko kami. Berangkat menggunakan satu becak kayuh dinaiki berempat, sempat becak ini terjungkal. Untungnya tidak ada yang terluka. Kami hanya tertawa saja membayangkan kekonyolan ini. Tidak tega juga sih, melihat para pengayuh becak di kota ini. Medannya sangat berliku-liku, naik-turun, dengan para pengemudi yang kurus-kurus dan selalu tampak kepayahan. Cukup nyaman beristirahat di ruang sholat panti asuhan ini, sambil berkenalan dengan anak-anak SD penghuni panti, sedikit belajar bahasa Nias dengan mereka. Mereka suka sekali difoto. Setelah Lita datang, kami mengadakan pengobatan di satu daerah saja, tidak jauh dari desa yang kami kunjungi dua hari lalu, sampai maghrib tiba.

Malam ini gen-set sudah menyala di posko kami, sehingga lapangan madrasah yang kami tinggali cukup terang. Kami tidak perlu lagi menumpang di tempat lain untuk men-charge batere HP. Tapi instalasi air masih belum berfungsi.

***

Senin, 4 April 2005

Hari ini Pak Hendra harus kembali ke Jakarta, membawa laporan, dan foto-foto yang belum dicetak dalam rol-rol film kamera otomatis. Ia meminta Lita mengurus keberangkatannya, sedangkan Lita juga harus mengurus adiknya Yeni, yang harus kembali ke Medan untuk mengurusi ayah-ibunya. Dengan mengendarai motor, Lita dan Yeni berangkat ke rumah mereka untuk mengemas pakaian orangtuanya. Mereka kemudian menuju bandara. Atas bantuan Bayu, seorang polisi muda baik hati yang dikenal Lita saat di Polonia, Pak Hendra berangkat ke Medan menggunakan pesawat polisi. Yeni berangkat menggunakan pesawat AL atas bantuan Pak Firman, kenalan Lita yang lain.

Dalam perjalanan pulang, Lita kembali menemui sedikit masalah. Ia pulang mengendarai motor sendirian. Di tengah-tengah perjalanan, motornya berhenti karena kehabisan bensin. Untungnya ia berhasil mendapatkan tumpangan untuk minta diantar mendapatkan bensin lima liter. Lita harus mengangkat ember berisi bensin seorang diri. Kemudian ia kembali ke DPD PKS, dan bertemu dengan seorang wanita yang menceritakan desanya sebagian terendam air, dan sebagian lagi belum pernah mendapatkan bantuan. Sore harinya ia menuju posko ACT dan menekankan agar ACT bisa membantunya, dengan membawa peta Nias. Lita bersikeras agar kami semua bisa pergi ke Teluk Dalam yang jaraknya “hanya” 120 km saja. Padahal saat itu untuk mencapai Teluk Dalam di Kabupaten Nias Selatan, belum bisa ditempuh melalui perjalanan darat biasa, setidaknya menggunakan mobil. Akhwat yang pernah berkampanye puluhan kilometer jauhnya menggunakan motor saat Pemilu tahun lalu itu mengatakan kami semua bisa menggunakan beberapa motor untuk mencapai Teluk Dalam bersamanya. Tapi karena pertimbangan lokasi yang terlalu jauh, memakan waktu, dan medan yang berat, rencana itu diurungkan.

Hari itu juga, setelah kepergian Pak Hendra dan Lita ke bandara, kami mengadakan pengobatan ke arah utara, sampai 12 km dari Gunung Sitoli, kalau sebelumnya kami mengarah ke selatan ke Desa Foa, 16 km dari Gn. Sitoli. Inilah medan tersulit yang aku rasakan setelah beberapa hari berada di sini. Menggunakan minibus Suzuki Carry lama dengan pengemudi lokal, kami melewati sekurangnya dua jembatan kayu dan dua jembatan beraspal dengan patahan jalan yang cukup besar. Salah satunya patah tepat di antara jalan mendaki beraspal yang menghubungkan dengan jembatan kayu. Sehingga ban mobil sulit mendapatkan pijakan. Untuk melintasi jembatan ini, kami dibantu beberapa penduduk setempat yang mengatur gundukan tanah, batu-batuan, dan pasir di dalam patahan, sehingga bisa dilewati mobil. Itupun harus didorong juga. Sungguh menegangkan. Belum lagi jalanan desa yang berkerikil dan berlubang-lubang, sejak sebelum gempa. Ditambah lagi satu bagian jalan yang terbelah cukup besar di tengah-tengah jalan. Hanya pengemudi handal saja yang bisa melewati tipe jalanan seperti ini.

Kami menghabiskan hari ini dengan pengobatan di dua tempat sampai sore hari. Desa Mboe, yang kami kunjungi pertama kali, sudah mendapatkan bantuan medis asing beberapa hari sebelumnya. Kemudian kami lanjutkan ke Kec. Tuhemberua, dan Desa Afiat. Lagi-lagi kendala terbesar kami adalah penduduk yang sebagian besar tidak bisa berbahasa Indonesia. Keluhan mereka sama: jantung berdebar-debar, batuk-pilek, lemah, dan gatal-gatal. Pasien yang kami tangani total kira-kira mencapai 200-an. Ingin sekali kami bisa memberikan bantuan makanan ke daerah-daerah ini. Mereka lebih butuh makanan, dibandingkan obat-obatan. Namun apa daya, bantuan makanan kami belum tiba.

Hari ini mobil tanki air tidak datang. Persediaan air di Posko kami menipis. Malamnya kami berempat, aku, Ikun, Lita, dan Anjas mendiskusikan apa yang bisa kami lakukan esok hari.

***

Selasa, 5 April 2005

Tadi malam masih terdengar suara anak kecil terbatuk-batuk dari kemah kecil keluarga Pak Yorhamun. Mungkin itu suara Afni, Rais, atau Akbar, yang berusia 3-4 tahunan. Kasihan sekali mereka, harus merasakan dinginnya udara malam selama berhari-hari, karena tidak berani tidur di dalam rumah.

Pagi ini aku kedatangan seorang laki-laki berusia 30 tahun yang meminta obat-obatan untuk istrinya yang sedang hamil 5 bulan. Ia menceritakan tentang dirinya, seorang tukang kayu keturunan Nias-Jawa yang merantau dari Medan dua tahun silam. Saat ini istrinya sedang mengandung anak ketiganya, dengan anak pertamanya yang meninggal saat usia 7 bulan karena kelainan jantung, dan anak keduanya yang kini masih berusia 8 bulan. Pria ini mengeluhkan minimnya bantuan sampai saat ini. Ia juga menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat muslim Nias, yang menurutnya kurang membantu antara yang kaya dan miskin. Misalnya saat pembagian daging kurban, yang dirasakannya tidak merata.

Selama beberapa hari sejak terjadinya bencana, bapak ini sehari-harinya berkeliling dengan berjalan kaki dari satu posko ke posko lain, mencari bantuan makanan bagi dirinya dan keluarganya. Pernah ia mendapatkan tawaran bantuan makanan dari gereja, namun ia ragu-ragu menerimanya, karena khawatir akan status kehalalannya. Maka bantuan dari sesama muslim sangat ia butuhkan. Pria ini juga pernah mencoba meminta bantuan ke tentara. Bukannya beras yang ia terima, tetapi bentakan dan ancaman untuk segera meninggalkan tempat itu. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apa yang TNI lakukan dengan bantuan sebanyak itu? Bukankah seharusnya mereka menyalurkannya? Atau mereka memperjualbelikannya? Sudah menjadi rahasia umum bahwa bencana seperti ini adalah bisnis bagi tentara.

Kami berbincang-bincang agak lama. Aku memberikan beberapa tablet vitamin dan zat besi bagi istrinya yang hamil di rumah, dan menyampaikan agar ia bisa kembali lagi besok, dengan harapan bantuan kami dari Sibolga sudah tiba. Siang ini bantuan air PAM datang agak terlambat, pukul 11.45. Kemarin air tidak datang sama sekali. Rupanya bantuan air hanya tiap dua hari sekali.

Tampaknya tetangga kami, BSMI, juga tidak banyak melakukan kegiatan pengobatan lapangan beberapa hari ini. Mereka lebih berkonsentrasi untuk mendirikan rumah sakit lapangan. Sedangkan PKS, dari informasi yang kami dapatkan malam harinya, menuju sebuah daerah di Botohaenga. Tim dari Kepanduan DPW PKS bersama dr. Kuspriyadi dari PKPU, seniorku angkatan ’88 yang menemani pengobatan kami dua hari lalu, menempuh perjalanan laut selama empat jam untuk mencapai daerah ini, yang normalnya bisa ditempuh lewat darat. Mereka menggunakan kapal nelayan. Tiba di tempat, sungguh mengenaskan, sebagian daerah ini sudah terendam oleh laut, bukan oleh tsunami, melainkan daratannya yang melesak ke bawah akibat gempa! Tentunya keadaan ini akan bersifat permanen. Kawan-kawan PKS menceritakan sempat terjadi sedikit keributan di sini, antara penduduk dua desa yang terkena musibah. Pasalnya satu desa yang merasa mendapatkan kerusakan lebih parah menginginkan bantuan pangan lebih banyak dibandingkan desa lainnya, sedangkan satu desa lain menginginkan bantuan yang merata antara keduanya. Reaksi mereka bagaikan orang-orang tidak makan selama berhari-hari. Ketika sore menjelang, air laut mulai pasang. Para relawan yang saat datang masih bisa melangkah biasa, saat pulang sudah terendam kakinya sampai sebatas lutut. Mereka kemudian pulang menaiki kapal yang sama, tiba di DPD malam harinya. Aku menemui dr. Kus untuk melakukan kegiatan rutin malam hari: memindahkan gambar dari kamera digital ke laptop-nya.

Sore hari ini aku, Ikun, Anjas, Adi, dan Lita memutuskan berjalan-jalan di sekitar kota mencari suvenir untuk oleh-oleh. Ikun ingin sekali membeli kaos bertuliskan “Nias”. Sekaligus kami ingin mencari tambahan bahan makanan yang bisa disalurkan dari toko lokal, sambil menunggu bantuan yang kabarnya datang dari Sibolga malam ini. Hujan turun agak deras ketika kami menggunakan dua becak kayuh untuk menuju lokasi toko. Sekitar 10 menit, kami tiba di sebuah toko yang menjual beberapa jenis kerajinan khas Nias. Karena harga yang terlalu mahal, Ikun hanya membeli gantungan kunci sebuah saja. Lainnya hanya membeli minuman. Bayangkan saja, harga Aqua botol Rp. 3500 sebuahnya, dan minuman seperti Fanta dan Sprite Rp. 4000. Kami kemudian berjalan kaki menuju pusat pemerintahan. Sempat berhenti sebentar dan melihat-lihat keadaan RSUD Gn. Sitoli. Rumah sakit ini diaktifkan oleh banyak elemen seperti BSMI, Mercy Malaysia, PMI, FK Unhas, IDI, BSB, dan lainnya, sehingga menjadi pusat rujukan pasien-pasien yang membutuhkan perawatan. Instalasi gawat daruratnya juga berfungsi dan penuh oleh pasien. Aku bertemu dengan Fahmi dari BSMI di sini. Ia mendapat giliran dinas RS hari itu. Sampai pusat pemerintahan, kami tidak mendapatkan apa yang kami cari, kemudian kami pulang ke posko menggunakan becak kayuh lagi. Kami juga kesulitan membeli beras di sini. Maksimal katanya hanya dibatasi 50 kg saja. Padahal niat kami semata hanyalah untuk disalurkan lagi.

Malam ini sekitar pukul 21.00, kami mendengar kabar bahwa kapal yang membawa bantuan pangan segera tiba di pelabuhan. Kapal sewaan PKS ini membawa hampir 10 ton beras yang dibeli oleh PKS, PKPU, dan ACT. Belanjaan kami hanya 1 ton saja, meliputi beras satu ton, ditambah ikan asin, susu balita, telor, dan minyak. Sekitar pukul 23.00, aku, Ikun, Anjas, dan Adi meluncur menuju pelabuhan dengan menumpang mobil pick up yang disewa PKS, langsung dari kantor DPD. Udara malam langsung menerpa kami yang duduk di bak belakang. Sementara beberapa anggota Kepanduan PKS menggunakan motor trail mencapai pelabuhan.

Ditunggu sampai pukul 01.00 dini hari, kapal masih belum bisa merapat juga, karena ada feri besar yang belum berangkat, sehingga harus mengantri masuk dermaga. Kami akhirnya pulang, dan langsung tergeletak di lantai ruang utama DPD untuk tidur sebentar.

***

Rabu, 6 April 2005

Dokter Multi Fungsi
Paginya selepas subuh, kami kembali menuju pelabuhan. Alhamdulillah kapal bisa merapat di sini, sekitar pukul 06.00. Terdiri dari dari seorang anggota Kepanduan, dan tiga ABK, kapal membawa berton-ton beras dan barang lainnya, termasuk dua gen set tambahan, dan bensin. Mulailah pekerjaan berat ini: memindahkan hampir seluruh isi muatan kapal ke dua mobil pick up, untuk diangkut ke kantor DPD bolak-balik. Butuh waktu sekitar empat jam untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Dokter Anjas dan Ikun beralih fungsi menjadi kuli pelabuhan, melempar ratusan kilo beras dari kapal ke atas. Beberapa anggota Kepanduan dan relawan dari DPD juga mengerjakan hal ini. Sementara aku mencari yang ringannya saja: mengambil dokumentasi kegiatan. Dokter Kuspriyadi beralih fungsi menjadi sopir pick up yang bolak-balik mengantarkan berton-ton muatan. Kulit kami semua benar-benar terbakar pagi itu.

Sesampainya di Posko, tanpa banyak beristirahat, kami memindahkan satu ton beras dari kantor DPD, kemudian mengepaknya dalam tas-tas kresek, masing-masing seberat 3,5 kg, untuk bisa didistribusikan ke beberapa desa sore itu. Kami benar-benar mengejar target. Karena kalau bisa, besok sudah kembali ke Jakarta!

Sore hari kami menyelesaikan mengemas 70-an kantong beras dan ikan asin, kemudian membersihkan diri di DPD. Menjelang maghrib kami membawa bantuan ke dua desa menuju arah Foa, berisi kantong-kantong beras, ikan asin, dan susu balita. PKS dan PKPU tentunya juga melakukan hal yang sama, dengan distribusi lokasi yang berbeda. Malam hari kami menyelesaikan pekerjaan melelahkan ini. Ya Alloh, senantiasa jagalah niat kami melakukan ini untuk mengharap ridho-Mu semata.

Anjas dan Adi menggunakan motor untuk mengantar kami, sedangkan yang lainnya menggunakan mobil. Saat perjalanan pulang, sudah gelap karena malam, mereka tidak mengetahui bahwa daerah yang mereka lalui di sekitar Lao Maru rawan akan pembunuhan. Pernah terjadi beberapa peristiwa perampokan dan pemenggalan kepala beberapa tahun silam. Saat kami ceritakan di Posko, mereka menjadi demikian paniknya dan mengomel.

Malam itu juga sempat terbersit gagasan untuk kembali ke Sibolga menggunakan feri, agar besoknya bisa kembali ke Jakarta. Namun kemudian Lita mendapat konfirmasi dari Bayu, bahwa besok kami bisa menggunakan pesawat Polisi dari Bandara Binaka untuk menuju Medan. Alhamdulillah. Kami pun beristirahat di bawah terpal malam itu. Malam terakhir kami di pulau indah ini.

***

Kamis, 7 April 2005

Hujan turun deras pagi itu. Aku dan kawan-kawan berwudhu langsung dari curahan hujan yang turun. Air di tempat penampungan di Posko sudah sangat sedikit. Kami bisa mandi di kantor DPD PKS pagi itu, dan diantar oleh dr. Kus menggunakan kijang PKPU sampai bandara Binaka.

Saat berpamitan dengan kawan-kawan di DPD, aku sempat bingung.
“Sampai ketemu… kapan ya?”
“Sampai ketemu di bencana berikutnya,” Aminullah dari Kepanduan DPW menimpali dengan nada gurauan.
Ya, aku sedih juga, pertemuan dengan kawan-kawan ini hanya bisa terjadi pada keadaan yang menyedihkan, yakni bencana. Tentunya tidak ada seorang pun yang menginginkan bencana. Mudah-mudahan Alloh mempertemukan kami kembali pada suasana yang menyenangkan di kesempatan lain.

Perjalanan gratis dengan pesawat Polisi ternyata tidak begitu mulus. Hanya separuh rombongan yang diijinkan masuk pesawat berkapasitas, mungkin, maksimal 20 orang itu plus barang bawaan. Kami memutuskan untuk membagi jumlah enam orang ini menjadi dua. Ikun, kakak ipar Lita yang tengah hamil tua, dan Anjas berangkat duluan. Karena Ikun harus memberi laporan ke kantor Waspada di Medan, dan setidaknya ada seorang dokter seperti Anjas yang ikut seandainya sesuatu terjadi pada wanita yang hamil tua ini. Pesawat berangkat sekitar pukul 10.00.

Bandara Binaka tidak ubahnya bandara internasional. Relawan asing dari berbagai negara, pesawat dan helikopter asing milik PBB, Singapura, dan negara lain, serta pesawat dari TNI AD, AL, AU, dan Polisi, singgah dan pergi di tempat ini. Satu-satunya penerbangan komersial yang ada adalah Merpati, dengan tiket mencapai Rp.500 ribu untuk mencapai Medan saja!

Aku, Lita, dan Adi, tetap menunggu sampai ada penerbangan gratis, khususnya dari pesawat angkatan yang bisa dinaiki. Ternyata sampai pukul 14.00, harapan ini pupus. Kami harus segera kembali ke Medan, karena tiket pesawat Medan-Jakarta sudah dipesan, dan pesawat berangkat sekitar pukul 16.30. Akhirnya kami bertiga memesan tiga tiket Merpati yang mahalnya luar biasa itu, dan dengan pesawat Fokker ini, pada pukul 14.15, kami meninggalkan Nias. Bisa dikatakan, untuk menikmati segelas air putih di pesawat ini, kami harus membayar 500 ribu!

Begitu pesawat mengangkasa, aku bisa melihat lautan Nias yang begitu biru dan indahnya. Satu jam kemudian kami sampai di Polonia. Bergegas mencari rombongan yang telah tiba lebih dulu, dan memastikan keberangkatan kami ke Jakarta.

Untungnya kami mempunyai “orang dalam” di bandara, sehingga bisa memesan tiket tepat sebelum pesawat berangkat. Pesawat Wings Air yang dijadwalkan berangkat pukul 16.40, molor menjadi pukul 17.20, dikarenakan kami baru check in pukul 17 lewat! Aku jadi teringat film Home Alone 2.

Dan… kembalilah kami ke Jakarta.